Rekomendasi Video

Ada banyak bahan bacaan dan bahan tontonan di luar sana. Mana saja yang bagus? Dibutuhkan waktu dan usaha untuk memilah-milah. Nah, ini saya menemukan video yang bagus. Yang sangat disarankan untuk ditonton.

Video ini adalah kuliah terakhir dari Randy Pausch. Pasalnya, Randy mengidap kanker dan diberi waktu 3 sampai dengan 6 bulan lagi. Dia bukan orang yang pesimistik, maka dia membuat video ini untuk anaknya. Namun video kuliah ini sangat bermanfaat bagi banyak orang. Termasuk saya.

Bagi saya, video ini sangat menginspirasi. Banyak hal yang bersinggungan atau sejalan dengan prinsip hidup saya. Asyik. Ternyata saya tidak sendirian dalam “kegilaan” atau keanehan pilihan hidup.

Untuk tidak berpanjanglebar, mari kita saksikan videonya.

Hidup Berdampingan dengan Virus Corona

Nampaknya solusi untuk virus corona (covid-19) ini belum dapat ditemukan dalam waktu dekat. Vaksin dan obat membutuhkan waktu untuk dibuat. Memangnya sulap? Salah kita – warga seluruh dunia – sendiri kenapa tidak mengucurkan dana yang banyak untuk penelitian. Sudahlah kita hentikan saling menyalahkan. Faktanya demikian. Artinya apa? Artinya kita harus dapat hidup berdampingan dengan virus corona ini.

Tentu saja kehidupan tidak akan sama seperti dahulu. Kita tidak bisa serta merta kembali dengan kelakuan seperti dahulu. Ini sangat berbahaya. Kita ingin kembali seperti dahulu tetapi tidak boleh dengan cara yang ngawur atau sembrono. Itu akan membahayakan kita semua. Maka kita harus cari cara yang aman tetapi kehidupan dapat berlangsung (hampir) seperti semula.

Ada yang mengatakan bahwa hal yang utama adalah testing. Pengujian. Apakah seseorang itu aman untuk keluar rumah dan bekerja. Aman di sini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi aman juga bagi orang lain. Bagian yang terakhir itu yang penting. Itulah sebabnya saya tulis dengan huruf tebal. Banyak orang yang merasa sehat dan kemudian tidak peduli dengan kesehatan orang lain. Ini salah.

Masalah pengujian (testing) adalah alat & caranya masih belum baik, dalam artian alas tes masih mahal dan hasilnya membutuhkan waktu yang lama. Itulah sebabnya di Indonesia jumlah yang dites masih sedikit. (Pada saat tulisan ini ditulis baru ada sekitar 49767 yang sudah dites. Dari 250 juta orang warga Indonesia, baru 50 ribu. Di Amerika juga sedang ribut warga tidak ingin lockdown dan ingin kembali bekerja, tetapi tidak ada alat test-nya juga. Alat test tersebut masih dibutuhkan di rumah sakit-rumah sakit. Masih kekurangan.

Singkatnya, dibutuhkan sebuah cara untuk menguji yang murah dan cepat. Ayo para inventor. Ini sebuah tantangan.

Karena hal di atas belum ada solusi, maka dicari cara terdekat. Asosiasi. Bahwa kalau orang sedang bermasalah dengan covid-19, suhu tubuhnya meningkat. Tentu saja ini pendekatan kasar, tetapi dapat dilakukan untuk skala masif dan cepat. Itulah yang sekarang dilakukan di tempat-tempat umum. Maka mungkin di kemudian hari, salah satu prosedur sehari-hari kita adalah; pagi hari cek temperatur tubuh (sebelum pergi kerja), pulang dari tempat kerja (sampai rumah?) cek kembali. Catat ini. (Perlu diingat yang penting sebetulnya bukan angkanya tetapi perubahannya. Ini pendapat beberapa rekan peneliti.) Semua ini harus diotomatisasi. Kalau tidak, maka kita akan repot dan kita tidak akan melakukannya. Di belakang layar ada aplikasi (berbasis artificial intelligence dan big data) yang melakukan pemantauan. Berarti harus ada alat seperti ini. (Saya sudah kepikiran idenya dan bahkan sesungguhnya sudah mulai mengembangkan ini sebelum kejadian virus corona ini. Sekarnag terpaksa terhenti karena semua bekerja di rumah dan pendanaan juga berhenti.)

Hal lain yang kita harus berubah adalah cara pandang kita terhadap kesehatan. Jangan lagi meludah sembarangan. Kalau ada yang meludah sembarangan, perlu kita tegur. Jangan buang sampah sembarangan. Cuci tangan secara berkala. (Agak terpisah, saya sering melihat orang keluar dari wc umum tanpa cuci tangan! Kesel ngelihatnya.) Jaga kebersihan. Tingkatkan kebersihan dan kesehatan. Ini tidak mudah memang karena yang namanya kebiasaan itu tidak mudah untuk diubah, tetapi kalau kita tidak berubah ya kita akan tetap seperti ini; terkurung di rumah.

Apa yang saya ceritakan di atas baru satu hal saja. Satu upaya untuk kita dapat hidup di tengah-tengah virus corona ini. Perlu diingat, bahwa di sekitar kita ini ada banyak bakteri dan virus. Lihatlah kasus demam berdarah dan TBC yang masih ada di Indonesia. Kita sudah “dapat” hidup di tengah-tengah mereka. (Dari segi angka, mereka mengerikan, tetapi kita sudah tahu cara melawannya. Kita aja yang tetap sembrono. Covid-19 ini berbeda karena kita belum tahu saja.) Ini juga akan kita lawan. Sekarang kita belum menemukan cara melawannya.

Manusia adalah spesies yang tangguh. Man against nature. We will prevail! Kita akan muncul sebagai pemenang. Harus. Semangaaattt!!!

Baret dan Benjut Itu Biasa

Saya penggemar olah raga. Maniak, bahkan, untuk jenis olah raga tertentu. Penggemar di sini bukan hanya sekedar menjadi penonton, melainkan ikut memainkan olah raga tersebut. Sejak dari kecil. Ada olah raga yang jenisnya jalan (naik gunung, jalan Bandung Lautan Api), Tae Kwon Do, Sepak Bola, Rugby, Hockey, Futsal, … apa lagi ya?

Dalam melakukan olah raga, pasti ada luka-luka. Jalan ada kesleo. Bela diri, kepukul, ketendang, patah tulang, dan seterusnya. Saya pernah pingsan dari harus dijahit gara-gara tidak serius dalam latihan bela diri. Main bola pasti ada baret, benjut, terkilir. Rubgy apa lagi, pasti baret dan benjutlah. he he he. Yang perlu kita perhatikan adalah agar cedera itu minimal dan cepat pulih. Juga agar cedera tidak terulang lagi. Hal lain yang penting juga adalah bagaimana agar kita tidak mencederai orang lain.

Agak aneh kalau kita ingin dunia yang ideal dan steril. Dunia tanpa baret dan benjut. Tidak ada!

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berinteraksi dengan manusia lain, tentunya kita akan mengalami “baret” dan “benjut” dalam bentuk yang berbeda. Kata-kata dan tingkah laku juga menimbulkan baret dan benjut juga, meskipun tidak terlihat secara fisik. Nah, yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menangani baret dan benjut ini serta tidak membuat baret dan benjut bagi orang lain.

[ditulis sambil tulang kering agak ngilu karena kemarin beradu pas futsal]

Bermanfaat Bagi Orang Lain

Baru saja saya selesai menonton acara TV, “The Secret Millionaire.” Acara ini berisi tentang seorang yang kaya raya, jutawan (dalam poundsterling karena acaranya di Inggris), yang tinggal beberapa hari di sebuah tempat dan mencari siapa / organisasi apa yang dapat dia bantu. Pada akhir kunjungannya dia akan memberikan uang kepada pihak yang dibantu ini. Selama berinteraksi dia berpura-pura membuat dokumenter sebagai orang yang mencari kerja.

Acara ini banyak membuka mata saya. Sebagai contoh, saya jadi lebih tahu bahwa di Inggris banyak orang yang hidupnya susah. Sama susahnya dengan kita-kita yang tinggal di Indonesia. Ternyata di bagian manapun di dunia ini tetap saja banyak orang yang hidupnya susah. Namun yang menarik adalah selalu ada orang yang mencoba meringankan penderitaan orang lain. Yang lebih menariknya, orang-orang yang membantu ini juga bukanlah orang kaya tetapi orang yang hidupnya juga susah. Mereka hanya sedikit lebih baik dari yang dibantu, tetapi tetap orang yang susah. Mungkin karena rasa kesetiakawanan? Atau rasa pernah melalui kesusahan yang dialami?

Untuk membantu orang lain, kita tidak harus kaya dahulu atau mapan dahulu. Kita selalu dapat membantu orang lain dengan berbagai cara. Tentu saja cara yang kita lakukan tidak merisikokan kehidupan kita juga. Selalu ada cara. Paling sedikit adalah atensi. (Mungkin yang paling sedikit lagi adalah dengan berdoa.) Kita selalu mencari-cari alasan untuk menunda membantu orang lain. Shame on us.

Poin yang selalu saya dapatkan adalah bahwa kita harus dapat bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baiknya orang adalah orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain.