Tag Archives: kreatif

Tentang Kota Bandung

Sebetulnya saya ingin membuat tulisan yang lebih terstruktur tentang kota Bandung dilihat dari kacamata kreativitas. Pas hari Senin lalu sempat diskusi soal ini dengan mahasiswa yang sedang mengambil topik ini sebagai disertasi. Hari ini juga ada tulisan di web tentang orang yang tidak setuju Bandung sebagai kota kreatif. Kembali ke soal tulisan. Kalau mau buat tulisan yang bagus kayaknya lama dan bakalan terlupakan. Kalau begitu buat tulisan seadanya saja ya. he he he.

Bagi saya Bandung adalah kota yang kreatif. Eh, tapi kita harus sepakati dulu definisi dari “kreatif” dan “kota kreatif”. Saya sendiri belum punya definisinya. Jadi apa yang saya tulis ini boleh jadi ngawur.

Saya besar di Bandung. Sejak sebelum sekolah TK sekalipun. Wah, itu tahun berapa ya? Akhir 60-an mendekati 1970. (Now you know how old I am. Ouch.) Besar di Bandung saya melihat adanya jaman celana cut bray. Itu lho, “bell bottom”. Jalan Braga waktu itu adalah tempat yang keren. Bahkan sering lihat “Braga Stone“, seorang pemain kecapi yang sering memainkan lagu-lagu barat; Rolling Stones. Ada juga jalan Dago tempat mobil balapan dan zig-zag. (Kebetulan rumah kami dulu di Dago situ. Jadi tinggal nongkrong di depan rumah saja. he he he.) Bandung juga mengalami kampus (ITB) diduduki tentara. Depan rumah saya (dan SMA) nongkrong panser. Pokoknya “warna warni” dalam artian tidak membosankan.

Sekarang bagaimana? Sedikit banyak, Bandung masih menjadi tempat berkumpulnya orang-orang “kreatif” (baca: aneh? gila? he he he).

Soal musik. Ada banyak artis musik dari kota Bandung. (Meskipun sekarang surut ya?) Dahulu ada Harry Roesli yang nyleneh. Eh, kalau sekarang siapa? Burger Kill? Metal juga di Bandung – eh, Ujung Berung ding. Deketlah dengan Bandung. (Boleh juga didaftar musikus dari Bandung yang masih aktif ya.) Saya sudah lama tidak ke Auditorium RRI. Katanya sebetulnya kualitasnya sama seperti di Abbey Road (?). Seriously? Perlu dicoba nih mangung di sana. Kelompok penggemar musik Koes Plus di Bandung ada dan rajin kumpul-kumpul. Demikian pula keroncong. (Bahkan malam ini saya dapat undangan untuk kumpul-kumpul komunitas Dangdut. Seriously!)

Arts. Pernah ke tempatnya Nyoman Nuarte? Atau Selasar Sunaryo Art Space? Yang di kampus ITB juga ada, Galeri Soemardja. Atau yang lebih belum/tidak terkenal lagi? (Eh, tempatnya Aan itu namanya apa ya?) Itu soal tempatnya. Orang-orangnya juga banyak. Di ITB ada FSRD yang banyak menghasilkan seniman. (Kalau desainer, komikus, dll. itu masuk kategori seniman bukan ya?) Saya juga sering ketemu dengan seniman.

Teater. Nah, yang ini saya sudah lost contact. Sudah tidak mengikuti. Eh, Rumentang Siang masih ada acara? Yang saya tahu sih ada kawan yang rajin membina teater anak-anak muda. (Hallo, pak Bambang – Roemah Creative.) Dulu sih (SMA?) masih tertarik teater-teater-an lah.

Tradisional arts. Di dekat rumah saya, kelihatannya calung mau dihidupkan lagi. Tapi saya lihat masih kembang kempis nih. Hanya untuk 17-Agustusan saja. Mereka kayaknya belum banyak ditanggap di acara-acara. Kalau Angklung sih dekat sini. Jaipongan juga sudah jarang terdengar ya? di-banned kali ya. hi hi hi.

Software & Hardware. Ini juga bisa masuk ke kategori kreatif. Wah ini ada banyak. Ada banyak software & hardware house. Yang membuat handphone saja ada. Tempat kumpul anak-anak kecil untuk coding juga ada. (Lihat blog procodecg.) Secara rutin, seminggu sekali, kami juga kumpul-kumpul dalam acara CodeMeetUp(). Iya seminggu sekali. Edan gak? Di tempat lain paling-paling sebulan sekali. Itu pun gak gak banyak. Di Bandung ada!

Kuliner. Ha ha ha. Jangan tanya lah. Soal NAMA makanan saja di Bandung setiap minggu kayaknya ada yang baru. Belum soal resepnya. Kreatif-kreatif. Atau kadang aneh, menurut saya. Mosok ada mie+telor+keju+dll. Dan itu POPULER! Edan gak? Entah sekarang apa yang sedang ngetop. (Silahkan didaftar / dibuatkan list apa-apa yang menurut Anda sedang ngetrend di Bandung.) Yang selalu ngetop ya kopi Aroma, (berbagai tempat makan mie yang bisa bikin orang berantem saling mengatakan enak), cilok, batagor. Yang sempat ngetop; mak Icih (dan keripik2 lain), rainbow cake, brownies, keripik2, …

Fasihon. Bandung identik dengan “factory outlet”. Selalu ada desain yang baru dari kota Bandung. Baik yang bersifat “butik” ataupun “grosiran”. he he he. Bandung adalah Milan-nya daerah sini.

Oh ya, saya menjadi mentor dari beberapa calon entrepreneur yang bidangnya adalah kuliner dan fashion. Jadi saya tahu mereka kreatif! (Ini tadi pulang juga nenteng contoh makanan dari mahasiswa yang baru buka tempat makan. Makan siang tadi juga “sego njamoer”. Sementara saya sedang kerajingan “cold brew” coffee.) Kuliner dan fashion yang bikin Bandung menjadi tujuan wisata (dan menjadikan macetnya kota Bandung – ugh).

Tempat kumpul-kumpul orang Bandung yang aneh-aneh juga bermacam-macam. Ada BCCF (Bandung Creative City Forum), ada Common Room, dan masih banyak lagi. Sekarang sedang menjamu co-working places juga.

(Saya ingin menambahkan ITB. Eh, tapi apa hubungannya ITB dengan kreativitas? Ada banyak, tapi itu tulisan lain kali saja.)

Soal kotanya. Nah memang ada semacam hilang jati diri kota Bandung. Kalau dahulu, ada taste. Dulu pernah disebut Parisnya Java juga bukan karena ngasal. Tapi perlu diakui Bandung kemudian menjadi semrawut. Nah, sekarang sudah menuju ke “jalan yang benar”. Perlu waktu tentunya. Tapi coba saja sekarang datang ke Bandung. Asyik. Eh, jangan ding. Bikin macet kota Bandung saja.

[update]: Museum. Ini daftarnya. Yang paling sering dikunjungi oleh siswa-siswa dari luar kota sih yang museum Geologi.

Ada “pengamat” yang mengukur kreativitas sebuah kota dengan adanya arts building, theater, dan seterusnya. Kalau ukurannya *gedung* – physical building – dan infrastruktur fisik lainnya, boleh jadi memang Bandung kalah dengan kota-kota lain. Kalau ukurannya adalah orang dan aktivitasnya, Bandung tidak kalah. Kalau kata orang Sunda: loba nu garelo. he he he. Mungkin pengamat itu harus keluyuran di kota Bandung dulu. Jangan hanya tinggal di hotel saja. Punten ah.

Jadi, menurut saya Bandung masih dapat disebut kota kreatif.


Superhero Cyber

Superhero – di komik – muncul karena ketidakmampuan penegak hukum dalam menegakkan keadilan. Maka muncullah orang-orang swasta yang menegakkan hukum sendiri. Vigilante. Tentu saja dalam keadaan normal, hal ini tidak dibenarkan. Tapi, ini kan keadaan abnormal. Maka muncullah superhero.

Dunia maya – cyber – sama seperti dunia nyata. Penegak hukum masih tertatih-tatih dalam menegakkan keadilan di dunia maya. Maka semestinya muncul juga superhero dunia maya. Cyber vigilante.

Saat ini sudah ada beberapa cerita tentang superhero di dunia cyber. Baru-baru ini saya melihat ada film seri yang berjudul Mr. Robot. Saya baru melihat satu episode. Belum tahu episode selanjutnya. Mungkin ada film-film yang sejenis ini.

Sayangnya karakter superhero cyber ini belum dikembangkan secara lebih sempurna seperti halnya karakter para superhero di dunia komik (dan sekarang menjadi film). Nampaknya ini membutuhkan story teller kawakan untuk mengembangkannya.

Atau kita buat yuk? Kita kembangkan karakternya secara keroyokan. Kita jadikan sebuah proyek.


Takut Kreatif

Dalam diskusi bebas di acara CodeMeetUp() tadi siang, terlontar pertanyaan bagaimana membuat tulisan yang baru dan rutin (banyak) di blog. Bagaimana mendapatkan topik untuk bahan tulisan? Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan ini terkait dengan kreativitas.

Sebetulnya untuk menjadi kreatif itu mudah. Modalnya hanya mengkhayal. Selain mudah, murah juga. Tidak ada biaya. Masalahnya, kebanyakan orang ragu bahwa dia bisa kreatif. Takut kreatif. Untuk mengatasi takut kreatif ini ada beberapa latihan yang dapat dilakukan. Mari kita coba.

Ambil selembar kertas dan pensil (atau ballpoint juga boleh). Tuliskan sepuluh hal atau obyek yang muncul di kepala kita saat ini. Ayo. Dicoba … Hasilnya seperti apa?

Jika Anda tidak dapat membuat list 10 hal itu, bagaimana mau membuat tulisan di blog. ha ha ha. Saya yakin Anda pasti bisa menuliskan 10 hal tersebut. Ada yang membutuhkan waktu yang singkat, ada yang butuh waktu sedikit lebih lama. Jika Anda lakukan ini setiap hari, maka brainstorming seperti akan menjadi mudah bagi Anda. Tidak percaya? Coba lakukan dalam waktu satu minggu. Nah, yang ini bukan masalah bisa atau tidak. Ini hanya masalah mau atau tidak saja.

Latihan kedua terkait dengan daftar yang Anda buat itu. Perhatikan apakah hal-hal atau obyek-obyek yang Anda tuliskan itu biasa, aneh, atau terkait dengan sebuah situasi (misal Anda di kantor, kemungkinan obyek-obyek yang ada di seputaran Anda yang akan Anda tuliskan). Menurut Anda, apakah hal-hal yang ada di daftar tersebut menarik atau tidak? Latihan selanjutnya – setelah Anda menguasai brainstorming ini untuk beberapa hari – Anda dapat lebih memaksakan diri untuk membuat topik yang bertema tertentu atau justru tidak boleh terkait antara satu hal dengan hal lainnya.


Komentar Itu Mudah, Berkarya Itu Susah

Hal yang paling menyolok dari media sosial saat ini adalah banyaknya komentar, copy-paste berita, retweet, dan sejenisnya. Yang membuat tulisan / foto / video sendiri itu jarang. Pelajaran apa yang dapat ditarik dari fenomena ini? Ya seperti judul dari tulisan ini.

Membuat komentar itu mudah.
Berkarya itu susah.

Mengurutkan dua huruf sudah jadi komentar; “wk wk wk” atau “hi hi hi”. Mungkin kalau kita ketikkan dua huruf secara random-pun dapat menjadi komentar yang sah.

Saya khawatir kalau kebiasaan tidak berkarya ini diteruskan dia akan menjadi kebudayaan. Budaya tidak kreatif. Padahal katanya kita sudah masuk ke era ekonomi kreatif. Kalau kita tidak kreatif, kita bakalan dibantai lagi secara ekonomi. Penjajahan 3.0.

Untuk menjadi kreatif modalnya tidak susah kok. Murah. Hanya sekedar mengkhayal. Eh, jangan-jangan untuk sekedar mengkhayalpun kita tidak sanggup. Hadoh. Pingsan saya …


Distractions

Kecepatan membaca buku saya sekarang sangat lambat. Seringkali saya mengalami kejadian seperti ini. Ketika membaca buku ada ide yang menarik. Pikiran saya kemudian melayang untuk mengimplementasikan ide tersebut di bidang atau masalah lain. Akibatnya membaca jadi terhenti. Tergantikan dengan mengkhayal. hi hi hi.

Di satu sisi buku tidak selesai dibaca, tetapi di sisi lain kreatifitas menjadi terlatih. Saya pilih yang terakhir saja. Efek sampingannya adalah buku yang sedang dan yang mau dibaca menjadi menumpuk. Tidak mengapa.

Atau, ini sebenarnya adalah alasan saya untuk banyak mengkhayal dan tidak menyelesaikan bacaan. hi hi hi.


(ini) Kreatif!

Di media sosial, saya menemukan foto ini. Kreatif banget orang yang buat ini di mobilnya. Siapa dia ya? (Yang motretnya juga siapa?)

wayang abbey road

Pertama, bagi yang belum tahu, gambar itu terinspirasi dari sampul album the Beatles – Abbey Road. Dalam gambar aslinya, anggota the Beatles sedang menyeberang jalan Abbey Road itu. Ada banyak cerita dan conspiracy theory tentang sampul itu. Misalnya, mengapa Paul nyeker. he he he. Perhatikan juga dalam lukisan itu, justru Petruk (di tempat Paul) yang pakai sepatu sementara yang lainnya tidak. Negasi. Keren detail pemahamannya. Mengambil “topik” ini saja sudah menunjukkan taste yang tinggi.

Kedua, dia tidak nyontek persis tetapi diambilnya dalam konteks Indonesia. Wayang! Wayang kulit. Menggabungkan dunia 2D dan 3D. Keren. Punakawan pula. hi hi hi. Lucu banget.

Ketiga, dalam menggambarkan jalan “Abbey Road” itu dia tidak mengambil persis gambarnya tetapi juga menyesuaikannya. Saya tersenyum melihat mobil parkir sedikit di trotoar. Kemudian tanda marka jalan (di tengah) yang dibuat zig-zag. ha ha ha. Ini lagi mabok kali yang membuat markanya ya? wk wk wk.

Genius! Itu yang dapat saya katakan kepada pembuat gambar itu.


Kurang Content

Tantangan pengembangan internet di Indonesia – dan mungkin di tempat lain juga – ada dua; (1) infrastruktur (terutama last mile) dan (2) kurang content. Akibatnya kita menjadi frustasi dan bosan. Akhirnya banyak juga yang terjerumus ke konten negatif.

Untuk masalah infrastruktur kita bahas lain kali ya. Kali ini saya ingin menyoroti masalah yang kedua, kurangnya content. Masalah infrastruktur itu masalah penyedia jasa atau pemerintah yang di luar jangkauan kita, tetapi masalah content adalah masalah yang dapat kita pecahkan.

Setelah sekian belas tahun, pertanyaan saya tetap sama;

  • situs apa saja yang Anda kunjungi secara rutin?
  • situs apa yang cocok untuk anak SMA? SMP? SD?

Situasi sekarang masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Kita masih mengandalkan platform dari luar negeri, seperti facebook dan twitter. Bahkan yang baru-baru pun, seperti path, juga masih dari luar negeri. Akibat dari itu maka bandwidth kita ke luar negeri butuh banyak. (Eh kok ke masalah infrastruktur lagi.)

Content yang kita lihat kebanyakan berupa “repost”, “retweet”, re-re lainnya. Kita comot berita atau foto dari sebuah tempat (katakanlah media massa) kemudian kita buat link-nya di halaman media sosial kita. Itu nampaknya yang terbanyak. Tidak banyak yang membuat tulisan / gambar / karya yang “orisinal”. (Saya beri tanda kutip “orisinal” karena sebetulnya tidak harus orisinal amat.)

Ketika kita mencoba mengarah kepada industri kreatif, maka mesin-mesin penghasil karya kreatif harus kita buat. Demikian pula sumber daya manusianya harus kita siapkan. Harus diajari dan harus praktek; menulis, menggambar, bermusik, bercerita, dan masih banyak lainnya lagi.

Hambatan (barier) untuk membuat sebuah karya sebetulnya sangat rendah. Untuk menulis, ya tinggal mengurutkan huruf-huruf saja bukan? Setidaknya, mulai dari sana. Kemudian mengurutkan kata-kata dan membuatnya menjadi alur yang menyejukkan seperti gemericiknya air sungai. Susah? Iya susah … he he he, tetapi bukan hal yang super susah sehingga tidak mungkin kita lakukan. Kalau harus membuat pesawat terbang mungkin tidak untuk kita semua, tetapi membuat tulisan ya semestinya kita bisalah.

Oleh sebab maka dari itu … mari kita menulis! Mari kita kreatif membuat karya-karya. Jreng!

 


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.619 pengikut lainnya