Tag Archives: kreatif

Takut Kreatif

Dalam diskusi bebas di acara CodeMeetUp() tadi siang, terlontar pertanyaan bagaimana membuat tulisan yang baru dan rutin (banyak) di blog. Bagaimana mendapatkan topik untuk bahan tulisan? Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan ini terkait dengan kreativitas.

Sebetulnya untuk menjadi kreatif itu mudah. Modalnya hanya mengkhayal. Selain mudah, murah juga. Tidak ada biaya. Masalahnya, kebanyakan orang ragu bahwa dia bisa kreatif. Takut kreatif. Untuk mengatasi takut kreatif ini ada beberapa latihan yang dapat dilakukan. Mari kita coba.

Ambil selembar kertas dan pensil (atau ballpoint juga boleh). Tuliskan sepuluh hal atau obyek yang muncul di kepala kita saat ini. Ayo. Dicoba … Hasilnya seperti apa?

Jika Anda tidak dapat membuat list 10 hal itu, bagaimana mau membuat tulisan di blog. ha ha ha. Saya yakin Anda pasti bisa menuliskan 10 hal tersebut. Ada yang membutuhkan waktu yang singkat, ada yang butuh waktu sedikit lebih lama. Jika Anda lakukan ini setiap hari, maka brainstorming seperti akan menjadi mudah bagi Anda. Tidak percaya? Coba lakukan dalam waktu satu minggu. Nah, yang ini bukan masalah bisa atau tidak. Ini hanya masalah mau atau tidak saja.

Latihan kedua terkait dengan daftar yang Anda buat itu. Perhatikan apakah hal-hal atau obyek-obyek yang Anda tuliskan itu biasa, aneh, atau terkait dengan sebuah situasi (misal Anda di kantor, kemungkinan obyek-obyek yang ada di seputaran Anda yang akan Anda tuliskan). Menurut Anda, apakah hal-hal yang ada di daftar tersebut menarik atau tidak? Latihan selanjutnya – setelah Anda menguasai brainstorming ini untuk beberapa hari – Anda dapat lebih memaksakan diri untuk membuat topik yang bertema tertentu atau justru tidak boleh terkait antara satu hal dengan hal lainnya.


Komentar Itu Mudah, Berkarya Itu Susah

Hal yang paling menyolok dari media sosial saat ini adalah banyaknya komentar, copy-paste berita, retweet, dan sejenisnya. Yang membuat tulisan / foto / video sendiri itu jarang. Pelajaran apa yang dapat ditarik dari fenomena ini? Ya seperti judul dari tulisan ini.

Membuat komentar itu mudah.
Berkarya itu susah.

Mengurutkan dua huruf sudah jadi komentar; “wk wk wk” atau “hi hi hi”. Mungkin kalau kita ketikkan dua huruf secara random-pun dapat menjadi komentar yang sah.

Saya khawatir kalau kebiasaan tidak berkarya ini diteruskan dia akan menjadi kebudayaan. Budaya tidak kreatif. Padahal katanya kita sudah masuk ke era ekonomi kreatif. Kalau kita tidak kreatif, kita bakalan dibantai lagi secara ekonomi. Penjajahan 3.0.

Untuk menjadi kreatif modalnya tidak susah kok. Murah. Hanya sekedar mengkhayal. Eh, jangan-jangan untuk sekedar mengkhayalpun kita tidak sanggup. Hadoh. Pingsan saya …


Distractions

Kecepatan membaca buku saya sekarang sangat lambat. Seringkali saya mengalami kejadian seperti ini. Ketika membaca buku ada ide yang menarik. Pikiran saya kemudian melayang untuk mengimplementasikan ide tersebut di bidang atau masalah lain. Akibatnya membaca jadi terhenti. Tergantikan dengan mengkhayal. hi hi hi.

Di satu sisi buku tidak selesai dibaca, tetapi di sisi lain kreatifitas menjadi terlatih. Saya pilih yang terakhir saja. Efek sampingannya adalah buku yang sedang dan yang mau dibaca menjadi menumpuk. Tidak mengapa.

Atau, ini sebenarnya adalah alasan saya untuk banyak mengkhayal dan tidak menyelesaikan bacaan. hi hi hi.


(ini) Kreatif!

Di media sosial, saya menemukan foto ini. Kreatif banget orang yang buat ini di mobilnya. Siapa dia ya? (Yang motretnya juga siapa?)

wayang abbey road

Pertama, bagi yang belum tahu, gambar itu terinspirasi dari sampul album the Beatles – Abbey Road. Dalam gambar aslinya, anggota the Beatles sedang menyeberang jalan Abbey Road itu. Ada banyak cerita dan conspiracy theory tentang sampul itu. Misalnya, mengapa Paul nyeker. he he he. Perhatikan juga dalam lukisan itu, justru Petruk (di tempat Paul) yang pakai sepatu sementara yang lainnya tidak. Negasi. Keren detail pemahamannya. Mengambil “topik” ini saja sudah menunjukkan taste yang tinggi.

Kedua, dia tidak nyontek persis tetapi diambilnya dalam konteks Indonesia. Wayang! Wayang kulit. Menggabungkan dunia 2D dan 3D. Keren. Punakawan pula. hi hi hi. Lucu banget.

Ketiga, dalam menggambarkan jalan “Abbey Road” itu dia tidak mengambil persis gambarnya tetapi juga menyesuaikannya. Saya tersenyum melihat mobil parkir sedikit di trotoar. Kemudian tanda marka jalan (di tengah) yang dibuat zig-zag. ha ha ha. Ini lagi mabok kali yang membuat markanya ya? wk wk wk.

Genius! Itu yang dapat saya katakan kepada pembuat gambar itu.


Kurang Content

Tantangan pengembangan internet di Indonesia – dan mungkin di tempat lain juga – ada dua; (1) infrastruktur (terutama last mile) dan (2) kurang content. Akibatnya kita menjadi frustasi dan bosan. Akhirnya banyak juga yang terjerumus ke konten negatif.

Untuk masalah infrastruktur kita bahas lain kali ya. Kali ini saya ingin menyoroti masalah yang kedua, kurangnya content. Masalah infrastruktur itu masalah penyedia jasa atau pemerintah yang di luar jangkauan kita, tetapi masalah content adalah masalah yang dapat kita pecahkan.

Setelah sekian belas tahun, pertanyaan saya tetap sama;

  • situs apa saja yang Anda kunjungi secara rutin?
  • situs apa yang cocok untuk anak SMA? SMP? SD?

Situasi sekarang masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Kita masih mengandalkan platform dari luar negeri, seperti facebook dan twitter. Bahkan yang baru-baru pun, seperti path, juga masih dari luar negeri. Akibat dari itu maka bandwidth kita ke luar negeri butuh banyak. (Eh kok ke masalah infrastruktur lagi.)

Content yang kita lihat kebanyakan berupa “repost”, “retweet”, re-re lainnya. Kita comot berita atau foto dari sebuah tempat (katakanlah media massa) kemudian kita buat link-nya di halaman media sosial kita. Itu nampaknya yang terbanyak. Tidak banyak yang membuat tulisan / gambar / karya yang “orisinal”. (Saya beri tanda kutip “orisinal” karena sebetulnya tidak harus orisinal amat.)

Ketika kita mencoba mengarah kepada industri kreatif, maka mesin-mesin penghasil karya kreatif harus kita buat. Demikian pula sumber daya manusianya harus kita siapkan. Harus diajari dan harus praktek; menulis, menggambar, bermusik, bercerita, dan masih banyak lainnya lagi.

Hambatan (barier) untuk membuat sebuah karya sebetulnya sangat rendah. Untuk menulis, ya tinggal mengurutkan huruf-huruf saja bukan? Setidaknya, mulai dari sana. Kemudian mengurutkan kata-kata dan membuatnya menjadi alur yang menyejukkan seperti gemericiknya air sungai. Susah? Iya susah … he he he, tetapi bukan hal yang super susah sehingga tidak mungkin kita lakukan. Kalau harus membuat pesawat terbang mungkin tidak untuk kita semua, tetapi membuat tulisan ya semestinya kita bisalah.

Oleh sebab maka dari itu … mari kita menulis! Mari kita kreatif membuat karya-karya. Jreng!

 


Tetap Kreatif

Sebuah poster tentang tetap kreatif muncul di pinterest; 29 ways to stay creative. Menarik juga.

Bagi saya, salah satu cara agar saya tetap kreatif adalah dengan ngeblog di tempat ini. Saya berusaha menulis *setiap hari*. Artinya saya ditantang untuk mencari sebuah topik setiap hari dan kemudian menuliskan sesuatu tentang topik itu. Harapannya topiknya yang menarik dan tulisannya menarik juga.

Kadang memang harapan ini belum menjadi kenyataan. hi hi hi. Yang penting sudah usaha. Oh ya, jangan lupa, tujuannya adalah tetap kreatifnya. Menarik atau tidak itu urusan ke-73.


Mari Kreatif

Saya merasa (belum punya data yang benar, maka saya tulis “merasa”) mahasiswa saya kurang kreatif. Sebagai contoh, kalau saya ajak brainstorming, maka kebanyakan hanya terdiam karena bingung. Ini tanda-tanda kurang kreatif. he he he. Mari kita coba brainstorming sedikit.

Saya ingin menamai komputer desktop saya yang berbasis Linux ini. Coba usulkan namanya. Kenapa Anda mengusulkan nama tersebut? Maknanya apa? Syaratnya adalah nama komputer ini harus satu kata. Silahkan. Saya ingin tahu apakah Anda-Anda ini kreatif. he he he.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.380 pengikut lainnya.