Perbaharui Materi Kuliah?

Jawaban singkatnya adalah, maaf tidak sempat. Ha ha ha. Langsung to the point.

Baru saja saya selesai memberikan kuliah. Di beberapa slide – mungkin lebih tepatnya hampir di semua slide – ada perbaikan atau pembaharuan (update) yang harus saya lakukan. Karena kelas sedang berlangsung, maka saya catat itu di kertas. Kadang juga perbaikan saya catat di kepala saja. Diingat-ingat. Setelah selesai kuliah harusnya itu langsung diperbaiki, tetapi seringkali ada kesibukan lain yang harus dilakukan sehingga akhirnya perbaikan tidak terjadi juga. Hadoh.

Sekarang saya mencoba cara yang berbeda. Ketika ada yang harus diperbaiki, maka di kelas pun saya langsung update slide tersebut. Sambil berhenti sejenak, saya langsung perbaiki slidenya. Ternyata ini tidak terlalu mengganggu flow dari kelas. Hanya saja pebaikan yang dapat dilakukan adalah perbaikan yang sifatnya minor. Kalau perbaikannya cukup besar, misalnya mengubah diagram atau menambahkan diagram baru, ini belum saya coba. Rasanya ini akan membuat flow dari kelas terganggu. Jadi untuk yang ini masih belum dapat saya lakukan.

Jadi, jangan marah-marah dulu ke dosen yang materi kuliahnya itu-itu saja. Mungkin dia mengalami masalah yang sama dengan saya, tidak ada kesempatan untuk memperbaharui.

Permasalahan Sekolah dari Rumah (2)

Tulisan terdahulu (bagian 1) tentang akses dan materi (content) dapat dilihat pada tautan ini (https://rahard.wordpress.com/2020/08/25/permasalahan-sekolah-dari-rumah/). Pada bagian ini kita bahas satu masalah lagi, yaitu perangkat.

PERANGKAT

Ada perangkat yang dibutuhkan untuk akses ke internet. Perangkat ini dapat berupa handphone (yang dilengkapi dengan layanan internet, baik yang berlangganan via operator atau via WiFi). Perangkat dapat juga berupa perangkat khusus seperti Access Point, (WiFi) router, dan seterusnya. Untuk masyarakat umum, perangkat yang digunakan untuk ini biasanya adalah handphone.

Perangkat handphone umumnya cocok untuk dipakai oleh satu orang. Bagaimana untuk keluarga dengan dua anak dan orang tua yang bekerja? Maka seringkali perangkat akses handphone ini tidak cukup. Maka perangkat akses internet di rumah harus yang lebih baik. Untuk sementara ini ini katakanlah kita anggap handphone.

Untuk akses kepada layanan 3G, 4G, WiFi, ada banyak handphone yang harganya sudah terjangkau untuk orang kota. Yang perlu dicarikan adalah perangkat yang murah meriah untuk seluruh Indonesia.

TO DO: ketersediaan perangkat akses yang murah

Perangkat kedua adalah perangkat untuk mengerjakan tugas. Bagusnya ini adalah komputer atau laptop (notebook). (Untuk selanjutnya saya akan menggunakan istilah laptop saja.) Idealnya satu orang (satu anak, satu siswa) satu laptop. Apakah ini masuk akal? Untuk itu harus disediakan laptop dengan harga yang murah.

Alternatif dari laptop adalah tablet. Namun penggunaan tablet membutuhkan akses ke cloud untuk menyimpan data yang jumlah dan ukurannya banyak. Ini kembali menjadi masalah akses yang sudah dibahas pada tulisan sebelumnya.

TO DO: ketersediaan laptop yang murah

Terkait dengan perangkat ini adalah perangkat lunaknya (software). Ada banyak perangkat lunak yang dibutuhkan; untuk menulis (word processing), untuk menggambar (drawing, painting), dan seterusnya. Ada banyak perangkat lunak yang berbayar dan ada pula alternatifnya yang tidak berbayar (freeware, open source). Jika dahulu ini masalah, saat ini bukan masalah lagi. Hanya perlu dilakukan pendataan saja sehingga masyarakat tahu alternatif-alternatifnya.

TO DO: dibuat daftar perangkat lunak yang gratis atau murah

Kebanyakan Mengajar

Dalam satu semester biasanya saya mengajar 3 mata kuliah. Itu maksimal. Untuk kasus-kasus tertentu kadang bisa 4 mata kuliah. Nah, sekarang saya mengajar … (eng, ing, eng) … 6 mata kuliah! Gila!

Mengapa ini bisa terjadi? Saya berpikir keras.

Ah, baru kebayang. Biasanya mata kuliah dibuka oleh kampus setelah melakukan optimasi terhadap ketersediaan sumber daya, khususnya ruangan. Karena jumlah ruangan terbatas, maka jumlah mata kuliah yang dapat dilayani terbatas. Sekarang, gara-gara covid-19 ini, semua kuliah dilakukan secara daring (online). Maka batas ruang (dan waktu) hilang! Maka kampus dapat memberikan semua mata kuliah bersamaan. Terserah kepada dosen dan mahasiswanya saja.

Bodohnya, saya sebagai dosen mengiyakan saja. Maka terjadilah 6 mata kuliah itu. Hayah. Semester depan saya akan ngerem lagi ah.

Sebetulnya ini bisa saya atasi juga. Jika semua mata kuliah saya sudah tersedia secara elektronika, misalnya sudah saya rekam dalam bentuk video, maka kelas saya juga dapat saya ajarkan secara daring. Jadi saya dapat mengajar beberapa kelas secara paralel. Toh mahasiswa tinggal nonton video, membaca buku dan bahan bacaan lainnya (makalah, standar), dan mengerjakan tugas-tugas (quiz, pekerjaan rumah) yang juga sudah dapat dibuat secara elektronik. Artinya, batas waktu juga bisa saya jebol. Nah, sekarang masalah berpindah ke mahasiswa.

(Catatan: itulah sebabnya dosen dan guru, mari kita buat versi elektronik dari kuliah / kelas kita.)

Sulit bagi mahasiswa untuk mengambil beberapa mata kuliah secara paralel. Saat ini tidak mungkin. Suatu saat mungkin ditemukan cara untuk melakukannya. Maka pada saat itu, batas ruang dan waktu sudah bisa kita libas. Whoah!

Oh ya. Ini ada versi video dari tulisan ini.

Tercapai 1000 YouTube Subscribers

Akhir tahun lalu saya mencanangan akan memiliki 1000 YouTube subscribers (pelanggan?) di kanal YouTube saya. Pada waktu itu saya memulai dengan sekitar 100-an orang saja. Maklum, pada waktu itu saya belum tertarik kepada YouTube. Sekarang saya harus melihat kepada YouTube karena saya memberikan pekerjaan rumah kepada mahasiswa saya (terkait dengan membuat video pitching start-up). Jadi terpaksa saya sendiri juga harus mencoba.

Tentu saja target pada akhir tahun lalu tidak tercapai. Gagal. Memang saya tidak melakukan hal yang khusus untuk meningkatkan jumlah subscribers saya. Saya ingin melakukannya secara organik, tidak pakai pura-pura atau menggunakan trick-trick yang nakal.

Awal tahun saya mulai mencoba menambahkan jumlah video di kanal YouTube saya. Teori saya – seperti yang sudah-sudah – adalah kuantitas lebih penting dari kualitas. Maka saya akan memperbanyak jumlah video dahulu. Inipun bukan hal yang mudah. Membuat video yang asal-asalan pun tidak mudah. ha ha ha. Tadinya ingin membuat satu video setiap minggunya, tetapi target ini juga tidak terkejar. Jangankan membuat video – menulis di blog ini saja juga sudah mulai keteteran. (Semakin banyak kegiatan-kegiatan saya. Harusnya saya tuliskan juga di blog ini ya? Hmm…)

Akhirnya beberapa hari yang lalu jumlah subscribers kanal YouTube saya sudah melewati 1000 orang. Target tercapai.

Target berikutnya adalah membuat video yang lebih banyak (dan lebih bagus) agar semakin banyak orang yang menonton dan semakin banyak orang yang belajar. Ya, saya ingin mengajari orang melalui YouTube.

Ayo, yang belum berlangganan, daftar di sana ya. Jangan lupa ya. Ini channelnya.

https://www.youtube.com/BudiRahardjoBandung

Kuliah Pagi Ini: Hash

Pagi ini seharusnya adalah waktunya UTS, tetapi di kelas saya tidak ada UTS. Adanya makalah di akhir kelas. Term paper. Maka pagi tadi saya memilih untuk mengajar.

Kuliah tadi pagi melanjutkan kuliah sebelumnya yang menyisakan bagian akhir dari kriptografi. Mulailah saya menjelaskan tentang message digest dan fungsi hash. Untuk menjelaskannya saya langsung membuat kode singkat di depan kelas. Live coding. Sebetulnya saya tidak berencana untuk langsung membuat kode di depan kelas karena seingat saya kodenya sudah ada di komputer. Baru teringat bahwa kode tersebut ada di komputer saya di rumah. Yang ada adalah screenshot yang saya ambil. Yaaah. Tapi saya teringat kodenya (karena gampang kok). Langsung saya kodekan. Lima menit selesai.

Kode singkat BR1-hash

Intinya adalah saya menunjukkan bahwa fungsi hash itu dapat dibuat dengan menjumlahkan karakter-karakter yang membentuk sebuah kata. Misalnya kata yang ingin kita hash-kan adalah “BUDI”, maka kita ambil nilai ASCII dari ‘B’, ‘U’, ‘D’, ‘I’ dan dijumlahkan. Hasil perjumlahannya adalah 292. Jadi nilai hash-nya adalah 292. Ketika ada orang yang mengubah kata tersebut menjadi “RUDI”, maka nilai hash-nya menjadi tidak cocok.

Kemudian saya cerita tentang pemanfaatan hash ini dalam pemrograman database sampai ke Blockchain. Untuk yang ini, ceritanya lain kali saja ya. Sudah kepanjangan.

Kehadiran di Dunia Siber

Salah satu tugas yang saya berikan kepada mahasiswa MBA saya adalah melakukan pencatatan kehadiran kita di dunia siber – atau lebih tepatnya di media sosial. “Kita” yang dimaksud di sini boleh berarti akun pribadi, boleh jadi akun bisnis yang ingin kita kembangkan. Keberadaan ini dapat kita anggap sebagai salah satu tolok ukur kepopuleran yang nantinya dapat digunakan sebagai bagian dari marketing. Itu pelajaran berikutnya (yang nanti juga akan saya coba tampilkan).

Mencatat adalah salah satu kegiatan awal yang harus dilakukan sebelum kita dapat melakukan pengelolaan. Bagaimana kita dapat meningkatkan keberadaan kita di dunia siber jika kita tidak mencatat? Maka kebiasaan mencatat merupakan kegiatan yang baik.

Apa yang dicatat? Kita mulai dari yang umum saja, media sosial. Pada saat tulisan ini dibuat, media yang paling banyak digunakan adalah Instagram. Oleh sebab itu, itu yang akan dijadikan patokan. Media sosial lainnya, seperti Facebook dan Twitter, sempat lebih populer tetapi sekarang Instagram-lah rajanya. Gambar berikut ini merupakan salah satu contoh catatan yang saya buat. (Catatan: akun-akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”.)

Beberapa catatan:

  • Akun saya biasanya menggunakan nama “rahard”;
  • Facebook page berbeda dengan akun Facebook yang biasa. Akun Facebook biasa saya sudah mencapai batas atas, yaitu 5000 orang. Tidak dapat menambah teman lagi. Ada lebih dari 1000 orang yang menanti untuk diterima pertemanannya. Facebook Page lebih fleksibel, tetapi ternyata lebih sedikit followers-nya. Ini karena tidak saya promosikan;
  • LinkedIn jarang saya gunakan. Ada banyak permintaan untuk disambungkan tetapi karena saya tidak kenal, jadi belum saya terima. Ada sekitar 300-an yang belum saya proses.

Nantinya pencatatan yang kita lakukan secara manual ini dapat diotomatisasi dengan menggunakan program. Ada juga perusahaan yang menyediakan layanan untuk memantau keberadaan kita ini, tetapi kita perlu tahu cara manualnya dahulu.

Data ini akan kita jadikan dasar (baseline) sebelum kita melakukan kegiatan pemasaran. Berbagai aktivitas dapat kita lakukan dan nantinya kita ukur keberhasilannya (efektivitasnya) berdasarkan data kita ini. Nanti akan kita bahas setelah saya memberikan tugas kepada mahasiswa.

Tunggu tanggal mainnya…

Brand Image

Dalam kuliah “New Venture Management” (NVM), saya mengangkat topik Key Performance Indicators (KPI). Bahwa setelah melewati proses inisiasi bisnis dan bisnis sudah berjalan dengan baik, maka mulai masuklah kita ke tahap pengelolaan bisnis dengan menerapkan manajemen yang baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencatat dan mengukur berbagai indikator dari usaha kita.

Ada beberapa indikator yang dapat dicatat dan diukur, antara lain:

  1. Jumlah produk atau servis;
  2. Brand Image;
  3. Jumlah pelanggan (the number of customers);
  4. Penjualan (sales);
  5. Keuntungan (profit);
  6. Indikator keuangan lainnya (saham, nilai investasi);
  7. dan hal-hal yang terkait dengan organisasi (jumlah karyawan).

Tulisan kali ini akan menyoroti aspek “brand image saja”. Kalau menurut Anda, apa yang dimaksud dengan “brand image”?

Jawaban dari pertanyaan di atas bergantung kepada kapan dan kepada siapa ada bertanya. Saat ini, ketika saya tanyakan kepada mahasiswa, maka jawabannya terkait dengan Instagram dan YouTube. Seberapa populernya Anda di instagram. Kalau dahulu yang lebih banyak digunakan adalah Facebook dan/atau Twitter.

Ada banyak indikator kepopuleran seseorang pada instagram; jumlah pengikut (follower), jumlah yang menyukai (like) (untuk sebuah foto atau cerita), engagement, dan seterusnya. Ini masih dapat kita bahasa lebih panjang lebar lagi.

Pertanyaannya adalah apakah kepopuleran kita di instagram dapat dianggap sebagai salah satu tolok ukur dari brand image? Artikel jurnal mana yang menyatakan demikian? (Kebanyakan yang menyatakan demikian berasal dari artikel populer yang diragukan nilai akademiknya.) Dalam beberapa diskusi dengan kawan, brand image di dunia siber (misal di instagram) belum tentu sama dengan kepopuleran di dunia nyata. Nah lho.

[Saya potong dulu ya tulisannya. Nanti saya tambahkan]

Pekerjaan rumah saya kepada mahasiswa adalah mencatat kondisi media sosial masing-masing mahasiswa dan peningkatannya secara berkala (bulan depan). Kondisi saya saat ini (21 Januari 2019):

  • Instagram: 1881 followers
  • YouTube (rahard): 412 subscribers
  • WordPress: views/day atau views/month
  • Twitter: 4526 followers
  • Facebook: 5000+ followers (yang ini akan digantikan dengan Facebook Page saja)
  • Facebook Page: 1543 (like), 1539 (followers)

Data di atas akan saya pantau. Nanti pekerjaan rumah berikutnya adalah melakukan sesuatu dan melihat efeknya pada indikator-indikator tersebut.

Minggu Pertama Perkuliahan

Minggu lalu adalah minggu pertama perkuliahan semester ini di ITB. Sebagaimana sudah saya antisipasi, jadwal saya kacau balau. hi hi hi. Berikut ini adalah daftar kuliah yang saya ajar semester ini.

BR kuliah 2018

Terlalu banyak bukan? Biasanya dalam satu semester saya hanya mengajar dua mata kuliah. Jadwal di atas belum pasti karena ada dua mata kuliah yang hanya dua orang pesertanya. Kuliah tersebut juga sebenarnya harusnya diberikan semester depan. Ada kemungkinan kedua kuliah tersebut saya batalkan.

Untuk kuliah yang bisnis, itu dijalankan oleh tiga orang dosen beserta beberapa mentor. (Mentornya hebat-hebat.) Jadi saya tidak harus selalu berada di kelas pada hari itu. (Biasanya ada pertemuan – mentoring – di luar jam kelas tersebut,)

Mudah-mudahan minggu ini sudah lebih jelas lagi jadwal perkuliahannya.

Indonesia Darurat Menulis

(Hampir) setiap minggu, di kantor kami ada acara sesi berbagi dimana topik yang ditampilkan sangat bervariasi. Minggu lalu saya mengangkat topik “Menulis”. Ini adalah sedikit cerita tentang itu, meskipun judulnya agak sedikit bombastis.

menulisSebagai seorang dosen, salah satu pekerjaan saya adalah memeriksa tugas mahasiswa. Tugas yang saya berikan kebanyakan adalah membuat makalah. Menulis. Hasilnya? Sudah dapat ditebak, sangat tidak memuaskan. Ternyata mahasiswa Indonesia tidak dapat menulis! Hadoh.

Di luar kampus, saya terlibat dalam berbagai perusahaan (yang umumnya bernuansa teknologi). Lagi-lagi saya melihat sulitnya mencari sumber daya manusia yang dapat menulis. Padahal salah satu aspek utama di dalam perusahaan adalah adanya tulisan; antara lain berupa proposal, laporan pekerjaan, paten, dan seterusnya. Bahkan salah satu bottleneck di perusahaan kami adalah penulisan laporan.

Menulis itu pada dasarnya adalah menyampaikan gagasan kepada pembaca. Ada beberapa kata kunci di sana. Yang pertama adalah pembaca. Kita harus tahu siapa yang akan membaca tulisan kita. Untuk tulisan yang terkait dengan urusan akademik, pembacanya adalah peneliti lain atau dosen penguji. Untuk tulisan yang terkait dengan bisnis, pembacanya adalah calon klien (bohir). Untuk tulisan di majalah atau surat kabar, pembacanya adalah orang awan. Untuk tulisan dalam buku cerita anak-anak, pembacanya adalah anak-anak. Dan seterusnya.

Perbedaan pembaca inilah yang membuat tulisan kita juga berbeda-beda. Untuk tulisan yang akademik, adanya rumus matematik merupakan hal yang penting (dan menguntungkan bagi penulis). Sementara itu jika tulisan yang akan kita berikan ke surat kabar ternyata ada rumus matematiknya, kemungkinan besar akan ditolak.

Kata kunci kedua adalah gagasan. Apa yang ingin kita sampaikan? Seringkali ada banyak gagasan yang ingin dituangkan sekaligus. Hasilnya? Ya membingungkan. Batasi gagasan yang ingin kita sampaikan. Biasanya maksimal dalam satu tulisan ada tiga (3) gagasan. Lebih dari itu sebaiknya dipecah menjadi beberapa tulisan saja.

Kata kunci ketiga adalah menyampaikan. Bagaimana cara menyampaikannya lagi-lagi terkait dengan media yang digunakan oleh pembaca. Jika medianya adalah jurnal akademik, maka cara penyampaiannya juga sanga formal dan bahkan harus sesuai dengan standar yang ada. Seringkali mahasiswa tidak mengetahui hal ini. Ketika ditanya “mengapa format judul seperti itu” mereka tidak dapat menjawab. Kalaupun menjawab adalah karena perkiraan mereka atau karena melihat yang lain, tapi mau mencaritahu standar yang sesungguhnya digunakan.

Demikian pula ketika kita menulis di surat kabar, maka ada tata cara penyampaiannya. Ada batasan jumlah kata yang diperkenankan dalam satu artikel. Penggunaan bahasanya pun juga lebih luwes.

Menulis merupakan sebuah kemampuan (skill) yang harus dilatih. Dia harus dilatih secara rutin dan sering. Ketika kita memulai latihan menulis, pasti kualitasnya jelek. Namanya juga baru latihan. Sama seperti kalau kita mulai belajar naik sepeda. Tidak bisa langsung bisa. Ada jatuh bangunnya. Demikian pula dalam menulis. Maka salah satu pekerjaan rumah (PR) yang saya berikan kepada peserta kemarin (dan Anda juga) adalah berlatih menulis SETIAP HARI. (Terpaksa itu saya tulis dalam huruf besar dan cetak tebal.) Mari kita menulis satu paragraf setiap hari. Mari kita mulai dari kuantitas dahulu. Setelah itu tercapai, barulah kita bicara soal kualitas.

Ada satu hal lagi yang harus dibahas, yaitu penggunaan Bahasa Indonesa yang baik dan benar. Ah, ini sebaiknya menjadi topik yang terpisah. Sudah terlalu banyak gagasan yang ingin saya sampaikan. Nah.

a day in the life …

Ini bukan tentang lagunya the Beatles, meskipun judulnya sama. Ini adalah tentang keseharian saya. Untuk apa diceritakan ya? Kepo? Ha ha ha. Namanya juga “blog”. Jadi sekali-sekali mencatatan (log) kegiatan sehari-hari. Seperti kegiatan sehari-harinya di pesawat ruang angkasa. Ciyeh.

Okay. Kemarin saya melakukan banyak hal. Catat dulu.

  1. Mewawancarai calon mahasiswa untuk CCE MBA SBM ITB. (Iya, singkatan semua.)
  2. Memberi mentoring entrepreneurship (selama 1 jam saja)
  3. Futsal (1 jam saja juga)
  4. Latihan band bersama BANDOS (Band Dosen ITB)

Itu garis besarnya. Tentu saja ada hal-hal lain. Ternyata sibuk juga saya untuk hari yang tidak saya ramalkan sebagai sibuk. Hmm…

interview CCE MBA SBM ITB

28619378_10155353991686526_2245848601284629566_o
Latihan BANDOS

Berburu Hash

Ini cerita tentang tugas atau pekerjaan rumah mahasiswa saya. Ceritanya saya mengajar kuliah keamanan informasi (information security). Salah satu bagian dari materinya adalah tentang kriptografi dan minggu lalu kami membahas fungsih hash.

Apa itu fungsi hash? Bisa panjang lagi ceritanya. (Nambah daftar topik yang perlu diceritakan.) Singkatnya fungsi hash adalah fungsi satu arah yang dapat memberikan ciri atau tanda-tanda (signature) dari data digital (stream of data, files, dan-lain-lain). Contoh fungsi hash yang terkenal adalah MD5 dan SHA256.

Misal ada sebuah berkas (bernama “pesan1.txt”) yang berisi “beli 10000”. Maka hasil SHA 256 (algoritma SHA dengan panjang bit 256) dari teks tersebut dapat dilihat pada contoh di bawah ini.

unix$ echo "beli 10000" | shasum -a 256
375a6c46228994656932f4aa17d9ae50f21da75a31ff17f8517c255c06cba809 -

unix$ cat pesan1.txt
beli 10000
unix$ shasum -a 256 pesan1.txt
375a6c46228994656932f4aa17d9ae50f21da75a31ff17f8517c255c06cba809 pesan1.txt

unix$ cat pesan2.txt
beli 1000
unix$ shasum -a 256 pesan2.txt
5901bccc6a0556fac2b4a164ef831a7ed4ceddeb60c6ddde1162f5a40b9d2917 pesan2.txt

Pada contoh di atas ditunjukkan jika kita memiliki data yang berbeda – dicontohkan dengan berkas “pesan2.txt” yang berisi “beli 1000” (hilang satu angka nolnya) – maka hasil hash-nya pun berbeda. Bahkan, sangat jauh berbeda.

Hal lain dari fungsi hash adalah, jika kita diberikan sebuah hasil hash, maka akan sangat sulit bagi kita untuk merekonstruksi ulang berkas aslinya.

Kebetulan saat ini yang sedang ngetop adalah blockchain. Atau lebih ngetopnya adalah Bitcoin-nya. Salah satu dasar dari blockchain adalah fungsi hash. Maka salah satu tugas mahasiswa di kelas saya adalah berburu (hasil) hash.

Skenarionya adalah kita memiliki sebuah pesan “A>B,5000” (tanpa tanda kutip). Pesan ini ditambahkan nonce, sebuah angka (data, string) yang diambil “dari langit”, dan kemudian keduanya di-hash-kan dengan SHA256.

A>B,5000
NONCE

Ada sedikit “perlombaan” di kelas, yaitu siapa yang berhasil menghasilkan hash terkecil adalah pemenangnya. Cara menguji angka hash yang kecil adalah dengan melihat jumlah “0” di depannya. Yang perlu dicari adalah nonce-nya tersebut. Jadi carilah nonce yang menghasilkan nilai hash paling kecil. Silahkan diperlombakan. Kalau di kelas diberi waktu satu minggu. Pemenangnya akan saya beri hadiah buku.

[Catatan: konsep ini mirip dengan konsep “miner” di bitcoin.]

Memulai Perkuliahan Lagi

Hari ini sebetulnya sudah merupakan minggu kedua dari perkuliahan di ITB. Semester ini saya mengajar tiga (3) mata kuliah. Semuanya di bidang information security:

  • II3230 – Keamanan Informasi (Information Security)
  • EL5215 – Keamanan Perangkat Lunak (Software Security)
  • EL6115 – Secure Operation and Incident Handling

Ini potret yang saya ambil di kelas Keamanan Informasi minggu lalu.

ITB information security class 2018

Kelasnya dimulai pagi sekali, pukul 7 pagi. Ayo semangat! Semoga tetap bersemangat sampai akhir semester.

Serius Dalam Mengajar dan Membimbing

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada banyak dosen yang tidak serius dalam mengajar dan membimbing. Banyak orang yang menjadi dosen hanya untuk mendapatkan statusnya atau agar supaya dapat disekolahkan ke luar negeri melalui beasiswa. Setelah menjadi dosen tidak benar dalam mengajar dan membimbing karena memang alasannya menjadi dosen bukan itu.

Proses rekrutmen untuk menjadi dosen juga nampaknya kurang memperhatikan aspek passion dalam mengajar dan membimbing. Ada yang guyon bahwa mau memilih bagaimana, wong yang mendaftarkan jadi dosen adalah sisa-sisa yang tidak dapat pekerjaan di luar sana. Aduh. Mak jleb!

Saya tidak tahu apakah saya bagus dalam mengajar atau membimbing (karena yang dapat menilai adalah mahasiswanya), tetapi saya sangat serius dalam mengajar dan membimbing. Eh, setidaknya saya jauh lebih serius dari kolega-kolega saya.

Banyak dosen yang menelantarkan kuliahnya karena ada tawaran pekerjaan ini dan itu atau harus memberikan presentasi di sana dan di sini. Saya membatasi tawaran-tawaran seperti itu. (Ada BANYAK SEKALI.) Kalau tidak percaya, tanya kepada pihak-pihak yang terpaksa saya tolak undangan untuk berbicara di kampus-kampusnya. Mohon maaf. Bukannya saya tidak mau, tetapi jika saya harus pergi ke sana maka kuliah saya banyak bolongnya.

(Bagi yang ingin mengundang saya menjadi pembicara, keynote speaker, dan seterusnya, inilah alasan saya kenapa saya menolak undangan bapak dan ibu. Ini sebabnya saya juga tidak tertarik untuk menjadi pejabat di sana sini.)

Saya termasuk yang rajin memberikan kuliah. Biasanya sebelum mahasiswa hadir di kelas, saya sudah duluan ada di sana. Untuk kelas jam 7 pagi pun, saya yang nomor satu hadir. Ada banyak foto di facebook saya yang menunjukkan hal ini. ha ha ha. (Semester ini ada satu kelas yang saya telat terus hadirnya, karena saya harus kembali ke kantor untuk makan siang, shalat, meeting dan kembali lagi ke kelas. Jadinya terlambat terus. Maaaaappp.)

17758256_10154430056911526_3438788283222184741_o
hadir di kelas sebelum mahasiswa hadir. berbekal kopi

Konsisten dalam mengajar itu tidak mudah. Memberikan satu presentasi itu tidak susah. Yang susah itu hadir secara rutin dalam 15 kali pertemuan perkuliahan. Silahkan dicoba. Konsistensi itu susah. (Ada banyak orang yang baru sekali memberikan presentasi di sebuah seminar kemudian merasa bisa mengajar di perkuliahan. hi hi hi.)

Menjadi pembimbing juga sama saja. Banyak dosen yang tidak dapat ditemui oleh mahasiswa bimbingannya karena kesibukannya. Membimbing bagi mereka mungkin sebuah beban. Tugas yang terpaksa dilakukan. Makanya tidak serius dalam membimbing. Hasilnya adalah bimbingan yang acak adut ketika sidang.

Ada sebuah kasus mahasiswa maju sidang dengan kondisi penelitian yang kacau balau. Mengapa dia diijinkan oleh pembimbingnya untuk maju? Ternyata pembimbingnya sibuk sehingga menelantarkan mahasiswanya (sampai batas waktu). Sebagai pengobat rasa bersalahanya (karena jarang di tempat), maka mahasiswanya diijinkan maju sidang. Mau seperti apa dunia penelitian Indonesia kalau seperti ini kejadiannya?

Mahasiswa bimbingan saya banyak. Bukan karena saya gampang, tetapi karena saya ada di tempat untuk berdiskusi. Mahasiswa membutuhkan arahan dan diskusi (dalam thesis dan disertasi). Kadang saya kasihan lihat mahasiswa bimbingan saya yang harus bergantian bimbingan. Antri. Seperti ke dokter saja. Mau bagaimana lagi? Waktu yang ada pun terbatas. Namun saya selalu serius dalam membimbing.

Sering saya hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan dosen-dosen yang mengabaikan tugasnya. Ada yang rajin menjabat di sana sini. Ada yang hobbynya presentasi sana sini juga. hi hi hi. Saya bukan atasan mereka yang dapat menegur. Kalau saya tegur nanti gak terima. Orang Indonesia mana bisa terima kritikan. ha ha ha.

Oh ya, sebetulnya saya adalah seorang profesional yang super sibuk. Ada banyak tanggung jawab yang harus saya lakukan. Jadi sesungguhnya saya bukan dosenĀ  yang hanya mengajar saja. Demikian sibuknya pun saya selalu memprioritaskan mengajar dan membimbing.

Semua yang saya lakukan ini tidak untuk mencari pujian. Tidak juga untuk mendapatka gaji yang lebih besar. (Kalau tahu status saya, mungkin terkejut. Ada masanya beberapa tahun saya mangajar tanpa digaji. ha ha ha. Saya membuktikan kepada diri sendiri bahwa rejeki itu sudah ada yang ngatur.) Tidak juga saya lakukan ini untuk mendapatkan penghargaan atau medali. (Sombongnya sih sudah terlalu banyak plakat di rumah. ha ha ha.)

Jadi saya melakukan ini semua untuk apa? Karena memang saya suka mengajar. Menjadi guru. Berbagi pengalaman di industri dan menyederhanakan masalah sehingga mahasiswa dapat menangani topik-topik mereka di kemudian hari. As simple as that.

(PGP) Key-Signing Party

Salah satu aktivitas dalam rangka menjalankan sistem teknologi informasi yang aman (secure IT operation) adalah proses pertukaran kunci publik. Sistem kunci publik yang digunakan biasanya berbasis kepada PGP (Pretty Good Privacy) atau Gnu Privacy Guard (GPG). Maka di kelas saya, dilakukan key-signing party.

P_20170214_134309-01 keysigning

Para mahasiswa diminta membuat kunci publiknya, mengunggah kuncinya ke sebuah keyserver, dan kemudian menunjukkan identitasnya (KTP, kartu mahasiswa). Saya unduh kunci mereka dan saya tandatangani (signed) kunci mereka itu setelah melihat dan memastikan bahwa identitas mereka itu benar. Inilah kegiatan key-signing party yang sesungguhnya.

P_20170214_134545_BF keysigning

Di atas beberapa foto proses tersebut. Seru. Untuk memproses seluruh kunci di kelas ini dibutuhkan lebih dari 1 jam.

Semester Baru

 

Semester baru sudah dimulai di ITB hari-hari kemarin. Kelas sudah mulai. Saya mengajar tiga kelas semester ini. Semuanya berhubungan dengan keamanan informasi (information security). Ini foto kelas Keamanan Informasi (7:00 s/d 9:00), dipotret di akhir kelas. Masih pada segar.

P_20170118_083618_BF-01 kelas

Selain mengajar, saya juga membimbing S2 dan S3. Lupa jumlah mahasiswa bimbingannya. ha ha ha. Ini foto ketika bimbingan dengan sebagian mahasiswa.

P_20170118_111302_BF bimb

Waktunya memperbaharui halaman web juga. (Belum sempat euy.) Demikian pula masih ada setumpuk makalah (perbaikan) mahasiswa yang harus saya koreksi lagi. Ballpoint sudah disiapkan.

p_20170117_114824-01-ballpoint

Ayo semangat!