Menulis Setiap Hari

Baru-baru ini saya mendengarkan cerita tentang bagaimana lagu “Human Nature” dibuat. Ini lagu yang dibawakan oleh Michael Jackson. Lagu ini dikarang oleh Steve Porcaro (salah satu pemain keyboards group band Toto) dan kemudian liriknya dipermak oleh John Bettis. Kesemua orang yang saya sebut di atas sangat luar biasa kemampuannya. Tulisan kali ini terinspirasi oleh kata-kata John Bettis.

Jadi ceritanya lagu tersebut sudah luar biasa bagus, tapi liriknya belum ada. Sang produser dari album Michael Jackson itu, Quincy Jones, kemudian menelepon John Bettis yang sangat piawai dalam membuat lirik. Mengapa dia sangat piawai, karena dia selalu siap dalam membuat lirik. Dia menulis lirik SETIAP HARI selama belasan tahun (atau bahkan lebih). Bayangkan, setiap hari! Itu sebabnya dia selalu siap. Itu sebabnya saya tidak dapat membuat lirik lagu, karena tidak pernah berlatih.

Mengenai menulis setiap hari, sebetulnya tidak susah secara teknis tetapi susah dilakukan. Ini masalah keteguhan diri saja. Masalah kemauan saja. Saya sudah pernah melakukannya.

Pada awal-awal blog ini dibuat, saya memaksakan diri untuk menulis setiap hari. Betul. Saya tantang diri saya sendiri untuk melakukannya. Mantra yang saya pakai adalah “kuantitas lebih penting daripada kualitas”. Yang penting menulis tiap hari. Dahulu saya dapat melakukan hal tersebut. Sekarang terlalu banyak alasan yang saya gunakan untuk tidak melakukannya. Alasan yang paling klasik, ya sibuk. (Padahal sibuk sungguhan.)

Nampaknya saya harus mulai kembali memaksa diri untuk menulis setiap hari. Bahkan mau saya coba untuk menulis lirik setiap hari. Hmm. Mikir dulu ya. Ha ha ha. Ini komitmen yang berat.

your name

SeBaru beres nonton film “your name”. Bagus atau tidak? Lumayanlah menurut saya. Tapi, tulisan ini tidak bermaksud untuk membuat resensi film itu. Film ini mengingatkan saya akan beberapa hal.

Hal yang pertama – kok seperti tulisan formal? hi hi hi – adalah film ini mengingatkan saya akan cerita pendek yang bersambung karangan saya yang merupakan awal-awal dari ngeblog ini; “Aku Tak Tahu Namamu“. Whoa, baru sadar bahwa cerita itu saya buat tahun 2007. Sembilan tahun yang lalu. (Waktunya melanjutkan? Hadoh.)

Hal yang kedua, film ini mengingatkan saya akan inti dari lagu Johnny Hates Jazz – Magentized. Lihat YouTube-nya di bawah ini. Kebetulan ini adalah salah satu lagu come back dari JHJ setelah sekian tahun menghilang. (Ada versi parodi anak-anak juga.)

Hal yang ketiga. Eh, tidak ada yang ketiga. Kembali ke filmnya. Seperti halnya film Jepang yang saya tonton, biasanya romatik. hi hi hi. Selamat menonton film “your name”. Ceritakan pengalaman Anda.

Platform Distribusi Lagu Digital

Kadang saya bingung melihat banyak artis musik dan asosiasi (artis) musik yang ribut soal pembajakan. Mereka telah menghasilkan karya dan kemudian meras bahwa dunia digital memudahkan orang untuk “membajak” lagu mereka. Terminologi “membajak” di sini adalah mengambil (download atau sejenisnya) lagu (karya) mereka tanpa membayar.

Ok lah pembajakan digital ini tidak benar secara hukum dan etika. Lantas apa solusinya? Sebagian besar tidak membicarakan solusi. Hanya berkeluh kesah tentang pembajakan itu. Iya, lantas apa solusinya? Pokoknya nggak mau dibajak. Iyaaaa … apa solusinya?

logo-insan-musicDahulu saya dapat memahami tentang sulitnya mengatakan solusi karena belum tersedia layanan / aplikasi / teknologi / framework / platform untuk itu. Sekarang sudah banyak. Kami, salah satunya, membuat platform distribusi lagu digital di Insan Music Store. Silahkan lihat ke toko digital kami di toko.insanmusic.com. Anda bisa langsung membuat akun manager dan kemudian membuat channel musik digital Anda (sebagai artis, atau sebagai manager artis musik).

Seharusnya keluh kesah mengenai “pembajakan” ini dapat berkurang. Eh, saya lihat tidak juga. Para artis musik ini masih tetap saja melihat ke belakang, yaitu masih berkeluh kesah tentang pembajakan tanpa mau mencoba platform tersebut. Ya, mana bisa selesai masalah dengan berkeluh kesah saja.

Semakin Boros Penggunaan Disk: FLAC vs MP3

Saya lihat sekarang ada trend baru dalam format digital untuk lagu, yaitu FLAC. FLAC merupakan singkatan dari Free Lossless Audio Codec. Dari namanya bisa disimpulkan bahwa format FLAC ini mencoba mengecilkan berkas audio tapi tanpa menghilangkan data, yang artinya tanpa menurunkan kualitas. Kira-kira seperti format ZIP atau RAR untuk mengecilkan data. Format MP3 yang lazim kita kenal untuk format lagu sebetulnya mengurangi kualitas dari audio (lagu).

Akibat dari pendekatan yang lossless ini maka ukuran berkasnya menjadi membengkak! Biasanya satu lagu MP3 ukuran berkasnya hanya 3 MB sampai 5 MB, ukuran satu lagu di format FLAC antara 20 MB sampai 50 MB. Hampir sepuluh kali lipat lebih besar! Uedhan.

Nah, pemutar lagu MP3 yang umum saat ini memiliki memori antara 1 GB sampai 4 GB. (Tentu saja ada yang lebih besar tetapi harganya juga lebih mahal dan kurang lazim saat ini. Entah tahun-tahun ke depan.) Mungkin nanti kalau ada pemutar FLAC maka ukuran memorinya harus sepuluh (10) kali lipatnya ya? Hadoh. Sekarang saja penggunaan disk komputer saya sudah mulai menipis dengan mulainya saya menggunakan format FLAC ini.

Apakah format FLAC ini akan menjadi populer? Saya kok agak ragu. Pasalnya, apakah kita bersedia menambah memori (yang berarti harga lebih mahal) demi kualitas? Saya kira kok tidak ya. Kualitas lagu dalam format MP3 bagi sebagian besar orang sudah cukup.

Tidak banyak orang yang cerewet soal kualitas suaranya. MP3 is good enough. Bahkan kalau saya amati, pemutar MP3 yang ada saat ini kualitasnya juga buruk (software nya?). Itu yang membedakannya dengan iPod (yang kualitas audionya bagus). Ditambah lagi earphone yang digunakan juga tidak bagus. Tidak akan terdengar bedanya antara format FLAC dan MP3. Bahkan mungkin di komputer pun tidak terasa beda format FLAC dan MP3. Malahan FLAC menghabiskan disk saja.

Jadi dugaan saya orang akan tetap menggunakan format MP3.

Bagaimana menurut Anda?

Koleksi Beatles Saya Amburadul

Ada waktu sedikit untuk membereskan files lagu-lagu. Pas kebetulan baca email dari sebuah milis tentang Peny Lane. Nah, sekalian saja membereskan direktori Beatles. Awalnya sih itu saja.

Wah, ternyata saya baru nyadar bahwa koleksi lagu-lagu Beatles saya ternyata amburadul. Tidak tertata. Maksudnya apa adanya saja campur aduk. Ada satu direktori yang isinya banyak lagu yang terurut berdasarkan abjad saja.

Biasanya kalau saya ingin mendengarkan lagu Beatles, ya serabutan saja. Lagu apa yang diinginkan, langsung dimainkan itu saja. Sekarang saya ingin mendengarkan dengan terstruktur, misalnya per-album. Ternyata struktur yang ada tidak begitu. Semua lagu Beatlesnya campur aduk.

Saya ingin membereskannya tapi ini nampaknya perlu banyak upaya dan waktu. Misalnya, saya harus menstrukturkan (mengurutkan) dulu urusan albumnya. Kemudian nanti setiap album diurutkan lagunya dan juga discan cover albumnya. Duh. Kan ini harus baca-baca sana dan sini dulu. Bisa-bisa berhari-hari nih. Hadoh.

Ada yang sudah punya koleksi Beatles yang tertata dengan rapi? Mau nyontek.

Mengelola Lagu (di iTunes)

Saya menggunakan iTunes sebagai pemutar lagu utama di komputer saya. Pada mulanya saya hanya memasukkan lagu yang ingin saya putar (atau sering saya dengar) ke dalam iTunes. Lagu yang tidak pernah (belum pernah) saya putar tidak saya masukkan ke dalam daftar lagunya.

Lama kelamaan saya sering mencoba mencari lagu di iTunes dan tidak ada. Saya kemudian harus mencari di harddisk untuk mencaritahu apakah sebetulnya saya punya lagu yang ingin saya putar tersebut atau tidak. Kalau ternyata ada dan belum dimasukkan ke iTunes, maka saya tambahkan ke iTunes. Melelahkan.

Sekarang, sebagian besar lagu saya masukkan ke dalam iTunes. Toh tinggal saya geret saja daftar lagunya ke dalam iTunes. Repotnya (entah ini perasaan saya atau memang benar fakta), saya merasa iTunes lebih lambat dalam memulai (start-up) ketika dijalankan pertama kali. Mungkin karena dia harus memuat daftar lagu yang lebih banyak? Entahlah. Saya jadi ragu apakah seharusnya saya memasukkan daftar lagu yang sering saya putar saja.

Bagaimana dengan Anda (khususnya bagi yang menggunakan iTunes)? Apakah Anda memasukkan semua lagu yang Anda miliki ke dalam iTunes Anda? Ataukah Anda hanya memasukkan lagu yang sudah/sering Anda putar saja?

Lagu Selingkuh

Kemarin pas lagi makan siang, ada teman (pak Joko S atau siapa ya? kok lupa) yang komentar

lagu selingkuh kok selalu enak ya?

Ha ha ha. Gedubrak.

Memang kalau diperhatikan, banyak lagu yang bercerita tentang selingkuh. Bahkan mungkin ini jadi trend? Kalau menurut Anda, lagu selingkuh yang paling bagus atau paling berkesan apa?

Malam minggu, enakan ngomongin yang ginian ya? Lagian, kalian malam minggu ngapain nongkrong di depan komputer? hi hi hi

Hari Ibu

Tanggal 22 Desember katanya adalah hari ibu. Masih inget? Atau terlupa? Lewat lagi … he he he.

Kalau hari ibu, perayaannya apa ya?

Untuk menghargai para ibu, silahkan download dan dengarkan lagu buatan saya dengan judul (apa lagi) “Untuk Ibu“. Silahkan ambil di sini:

http://rahard.multiply.com/music/item/1/Stranded_Somewhere

Lagu ini saya buat sekitar tahun 1988. Liriknya dibuat roomate saya, Khir, yang berasal dari Malaysia. Sekarang entah dia ada dimana? Di KL mungkin? Semuanya (musik, nyanyi) saya mainkan ala kadarnya. Direkam juga pakai walkman. he he he. Maklum, mahasiswa … Tapi lagunya bagus lho. Top markotop. (Maklum, harus muji sendiri. he he he.)

Selamat menikmati dan terima kasih untuk para ibu …

Lagu Cinta

Kenapa banyak lagu dengan tema cinta ya? Apakah karena dia paling mudah dibuat? Ataukah topik itu paling mengena untuk setiap orang? Atau karena paling mudah dijual?

Tapi, apakah memang tidak boleh atau salah membuat lagu dengan tema cinta?

Saya jadi teringat lagunya Paul McCartney, Silly Love Song, yang cuplikannya seperti ini

You’d think that people
Would have had enough
Of silly love songs
I look around me and I see it isn’t so
Some people wanna fill the world
With silly love songs
And what’s wrong with that?
I’d like to know
’cause here I go again
I love you, I love you

Nah begitulah. Ndak salah, kan?

Kenapa menulis topik ini? Saya perhatikan lagu-lagu yang saya putar kebanyakan memiliki tema ini, meskipun dengan kadar yang berbeda. Ada lagu tentang putus cinta, ada lagu tentang kecintaan kepada alam, dan seterusnya – tidak semua harus cinta kepada diri sendiri kan? Seperti kata McCartney, what’s wrong with that?

Lirik Lagu Yang Jelek

Dari milis sebelah saya menemukan tulisan ini; “Top 40 Worst Lyricists in Rock“. Waduh! Banyak musisi favorit saya di daftar itu. Bagaimana ini? Pikir-pikir, memang saya (dan mungkin orang banyak) menyukai para komposer yang terdapat di daftar di atas tersebut bukan semata-mata dari liriknya, tetapi dari lagu secara keseluruhan. Sebagai contoh, banyak orang yang menyukai lagu band Genesis (yang lama) dari sisi melodinya, bukan dari liriknya. (Phil Collins pun pernah mengeluh karena cerita dalam lagu buatan Peter Gabriel kadang “nggak karuan” – cerita tentang tikus lah. he he he. Kebanyakan menghayal.)

Kalau dibandingkan dengan lagu-lagu Indonesia bagaimana ya? Apakah lirik-liriknya lebih bagus? Atau lebih jelek. Siapa yang bagus kalau membuat lirik lagu ya? Atau, lirik siapa yang paling “kacau”?

Bagaimana ini? Saya paling tidak bisa menulis lirik. Sudah bolak balik, tahunan, nyoba. Hasilnya? Sampah. Malu saya untuk membacanya. (Apa lagi orang lain ya?)

Nah, orang yang sudah jago bikin lagu (dan lirik) saja masih dikritik habis-habisan. Walah. Tulisan itu bukan menambah semangat, tapi membuat patah semangat. Menyerah saja ya? Kalau memang sudah tidak punya bakat, bagaimana lagi?

Ada orang yang mengatakan bahwa tulisan saya sering menghayal. Hah? Bandingkan dengan para penulis lirik di atas, yang katanya jelek tersebut. Luar biasa khayalan mereka. Nah, saya ingin bisa membuat tulisan / lirik khayalan seperti mereka. Is that so bad?

Wah, kalau begitu, kalau membuat lagu lebih baik lagu yang instrumental saja. Tanpa lirik!