Diperpanjang: Linux Challenge Competition

Ayo mana software buatan kamu. Batas waktu memasukkan IBM Linux Challenge 2016 diperpanjang sampai tanggal 8 Juni.

photo442376168745838510

Iklan

Let’s Do Linux

Saya ingin kembali mengajak rekan-rekan untuk menggunakan Linux. Bagi yang sudah menggunakan Linux, tulisan ini boleh diloncat. Bagi yang belum menggunakan Linux, apa masalah yang Anda hadapi untuk tidak pindah ke Linux?

Saya sendiri sekarang puas dengan menggunakan Linux Mint untuk komputer desktop saya. Untuk server saya masih menggunakan Debian dan kalau terpaksa menggunakan Ubuntu.

Memasang Linux Mint

Komputer baru sudah datang. Dia datang kosong, tanpa sistem operasi. Sekarang kan toko komputer sudah tidak boleh lagi memasang sistem operasi bajakan. Hal ini tidak terlalu masalah dengan saya karena saya sendiri akan memasang sistem operasi Linux. Tinggal memilih Linux yang mana.

Ada tiga pilihan saya; Debian, Ubuntu, atau Linux Mint. Sebetulnya ada banyak Linux yang lain. Hanya tiga itu yang menarik bagi saya. Masing-masing punya alasan tersendiri. Sebelumnya saya hampir selalu menggunakan Debian. Untuk server, saya masih menggunakan Debian. Untuk desktop saya kemudian menggunakan Ubuntu. Nah, kali ini saya ingin mencoba Linux Mint.

Sebelumnya saya sudah memasang Linux Mint melalui virtual box di Macbook saya. Kelihatannya tampilannya lebih menarik dibandingkan Ubuntu. Saya hanya khawatir masalah dukungan (support) saja. Karena semua sebetulnya berbasis Debian, saya tidak terlalu khawatir kalau ada masalah. Worst case, saya bisa kembalikan ke Debian. Itulah sebabnya saya putuskan untuk memasang Linux Mint saja kali ini.

Pemasangan Linux Minta saya lakukan dengan menggunakan flashdisk. Komputer di-boot dengan menggunakan flashdisk melalui USB. Langsung Linux Mint hidup secara live. Kemudian saya tinggal memilih “Install Linux Mint” dan semuanya selesai.

Saya hanya menemukan satu masalah dalam instalasi Linux Mint ini, yaitu dia langsung menggunakan seluruh partisi hardisk saya (500 GB). Wah. Padahal biasanya saya mempartisi disk tersebut menjadi beberapa partisi. Alasan saya adalah kalau ada masalah (crash, tidak konsisten, dan sejenisnya) maka memperbaikinya (melalui fsck) maka tidak semua disk yang harus dibenahi. Paling-paling partisi yang bermasalah saja yang perlu di-fsck dan ini menghemat waktu.

Setelah terpasang, saya hanya perlu kembali memboot komputer dengan flashdisk instalasi lagi dan mengubah (resize) partisi dengan menggunakan program GParted yang sudah ada di menu Linux Mint. Beres.

Yang saya sukai dari pemasangan Linux Mint adalah kemudahan dan kecepatannya. Biasanya untuk memasang Debian atau Ubuntu saya harus mengambil (download) ini dan itu. Akibatnya proses instalasi dapat berlangsung semalaman. Maklum link internet saya kan terbatas. Linux Mint tidak demikian. Semuanya sudah terpasang. Tentunya nanti akan ada software yang akan saya pasang lagi, tetapi ini tidak dilakukan secara default. Setidaknya, saya sekarang sudah dapat bekerja. Ini saya langsung ngeblog 🙂

Jika tidak ada masalah dalam satu dua hari ke depan, maka saya akan menggunakan ini sebagai OS default. Data dari disk yang lama akan saya pindahkan ke sini. Saya mulai bekerja dengan menggunakan ini.

Kesimpulan, saya menyukai Linux Mint ini.

Ngoprek (Linux) Lagi Ah

Karena mengajar kuliah security dan kebetulan ada notebook yang bisa saya pasangi Linux Ubuntu, saya mau ngoprek Linux lagi ah. Sebetulnya bukan hanya Linux yang saya oprek tetapi Mac OS X juga.

Yang pertama, Mac OS X dulu. Saya sedang mencoba untuk menyalakan servis echo, chargen, dan sejenisnya. Ternyata untuk menjalankan servis ini tidak mudah. Kalau dulu di generic unix sih tinggal edit /etc/inetd.conf dan restart inetd. Sekarang ternyata caranya macam-macam. Setelah baca sana sini, ternyata Mac OS X (Leopard) menggunakan launchd. Konfigurasinya ternyata tersebar di berbagai berkas dan tidak semudah mengedit /etc/inetd.conf. Sampai sekarang saya belum tahu bagaimana menjalankan echo, chargen, dan sejenisnya 🙂 tapi malah bisa jalankan ftp server 🙂

Tujuan saya menjalankan servis-servis itu adalah untuk menunjukkan bagaimana mengeksploitasi jaringan, seperti misalnya membanjiri jaringan. Jadi saya harus bisa menghidupkan dan mematikan echo dan chargen, misalnya. Ternyata tidak mudah melakukan ini di Mac OS X. Oh well.

Berikutnya lagi saya pasang wireshark, yaitu program yang dapat digunakan untuk menyadap paket di jaringan, di Macbook saya. Ternyata aplikasi ini adalah aplikasi X11, bukan native Mac OS X. Tidak mengapa. Yang penting jalan dulu.

Nah, kebetulan ada notebook yang bisa saya pasangi Ubuntu. Sekarang saya sedang pasang berbagai program networking dan security di Ubuntu ini. (Sedang download-download.)

Berikutnya … entah kenapa resolver di DNS server kami mati atau tidak berfungsi. Sekarang saya sedang baca berbagai sumber di internet. Belum menemukan jawaban yang tuntas. Server menggunakan bind9. Jadi tertarik untuk ngoprek lightweight resolver, lwresd.

Langsung tancap gak ngoprek …

Ubuntu di atas Mac OS X

Asal mulanya saya ingin menjalankan beberapa aplikasi UNIX di Macbook saya. Ternyata aplikasi yang saya inginkan belum ada yang dalam bentuk jadi (termasuk di fink juga). Terpaksa saya harus merakit (compile) sendiri dari source code-nya.

Sebetulnya merakit sendiri itu tidak terlalu masalah. Saya bisa (dan biasa setelah sekian belas tahun, oh mungkin lebih) melakukannya. Sebelnya itu adalah dia memakan waktu.

Ambil source code ini, kemudian dikonfigurasi. Ternyata dia membutuhkan library tertentu yang harus saya rakit juga. Source code dari library tersebut sudah saya download dan ketika dikonfigurasi, dia membutuhkan library yang lain. Begitulah seterusnya. Lama kelamaan Mac OS saya jadi “kotor” oleh tangan saya sendiri.

Pikir-pikir dari pada begitu, lebih baik saya pasang Linux di atas Mac OS ini. Sayang juga kalau harus merusak konfigurasi yang sudah ada. Akhirnya saya putuskan untuk memasang Sun xVM atau VirtualBox, yaitu virtual machine yang dikeluarkan oleh Sun Microsystems. Ide ini muncul setelah melihat Yan melakukan itu di notebooknya.

Maka … saya pasanglah VirtualBox dan Linux Ubuntu di Macbook saya. Hasilnya … silahkan lihat di skrinsut berikut.

Asyik. Sekarang bisa ngoprek kode di Ubuntu, di dalam Mac OS 🙂 Clean…