Tidak Suka Melihat Makanan Bersisa

Pernahkah Anda pergi ke suatu tempat – biasanya acara kondangan – kemudian melihat orang mengambil makanan yang terlalu berlebihan dan tidak dihabiskan? Makanan yang banyak tersebut teronggok di piring dan ditumpuk. Pastinya makanan ini akan dibuang karena sebagian besar orang tidak tertarik untuk mengambil makanan bekas prasmanan ini. Kesal sekali melihatnya. Ya mbok kalau ambil makanan itu secukupnya. Kalau nanti sudah habis mau ambil lagi ya silahkan antri lagi.

Foto Opor Lebaran …

Kalau di rumah masalahnya berbeda lagi. Sisa makanan biasanya harus ditumpuk lagi dan dimasukkan ke lemari es. Nah repotnya kalau sisa makanannya itu tinggal sedikit dan rasanya kerepotan untuk menyimpan di lemari es itu terasa membebani. Jadi bagaimana? Insting pertama yang muncul adalah, mari kita makan. Kita habiskan. Ha ha ha. Akibatnya, saya khawatir nanti berat badan naik.

Sifat kurang suka melihat makanan bersisa ini mungkin terbawa dari kecil. Waktu kecil, di rumah kami banyak anggota keluarga. Orang tua saya sering menerima keponakan yang bersekolah di Bandung. Jadi rumah kami ini seperti tempat penampungan saudara-saudara. Jadinya orangnya banyak. Ya tentu saja, makanan hanya ada secukupnya. Dibagi-bagi. Saya tidak perlu menceritakan keterbatasannya sampai seberapa. he he he. Pokoknya cukup untuk membuat saya sangat menghargai makanan. Susah ketika masih kecil atau muda memang merupakan pelajaran terbaik.

Bagaimana dengan Anda?

Review Kopi

Banyak yang meminta saya untuk membuat review tentang berbagai jenis kopi. Ini disebabkan saya sering mendapatkan kiriman kopi. Ini benar, setiap minggu saya mendapatkan berbagai jenis kopi sehingga koleksi kopi saya mungkin cukup untuk 1 tahun ke depan. Itu kalau semuanya saya minum sendiri. Kalau saya bagi-bagian tentunya lebih cepat habis. Saya juga penggemar kopi, sehingga katanya cocok juga lah untuk menjadi orang yang membuat review kopi.

Ini contoh kopi yang datang ke saya minggu ini

Masalahnya adalah saya tidak punya ilmu coffee tasting. Saya hanya penggemar kopi. Bagi saya kopi itu hanya ada dua kategori; enak dan enak sekali. Ha ha ha. Prinsip ini saya curi dari mantan mahasiswa saya, Andhi, yang bilang bahwa selain racun tikus, makanan itu hanya dua jenis; enak dan enak sekali. Jadinya nantinya isi review saya ya hanya bilang enak atau enak sekali.

Oke lah karena banyak yang memaksa, nanti akan saya coba buatkan review kopi yang lebih rutin. Selain itu juga mungkin akan saya coba buat content yang sama untuk kanal YouTube saya. Baiklah.

GO-JEK dan Uber Adalah Solusi

Kami tinggal di dekat kota Bandung. Maksudnya “dekat” di sini, adalah 500 meter dari batas kotamadya Bandung. Dari batas kotamadya ke rumah hanya 2 menit lah. Menariknya adalah hampir semua restoran tidak ada yang mengantar ke tempat kami. Hanya ada satu, restoran 449, yang mau. he he he. (Apa mereka tidak kenal kota Bandung?)

Adanya GO-JEK merupakan solusi bagi kami. Sebetulnya persisnya adalah GO-FOOD, bukan ojek untuk ditunggangi. Kalau mau naik ojek, saya masih pakai ojek biasa. Sejak ada GO-JEK kami jadi mudah memesan makanan apa saja. Mereka mau mengantar ke tempat kami, yang sebetulnya tidak jauh berbeda dari tempat lainnya.

Demikian pula dengan Uber. Kalau pesan taksi konvensional, sudah nunggu lama tidak ada kabar kemudian ada kabar bahwa taksinya tidak ada. Pusing. Padahal mau ke bandara atau ke stasiun kereta api. Dengan Uber, kami dapat memastikan ada atau tidaknya kendaraan. Kalau ada, kami juga tahu kapan perkiraan datangnya. (Saya sudah tuliskan tentang ini ya.) Kepastian.

Sebetulnya saya tidak fanatik sekali dengan GO-JEK atau Uber. Hanya saja, alternatif lain tidak ada. Maka mereka merupakan solusi bagi kami. Mungkin bagi orang lain layanan GO-JEK atau Uber dipilih karena murahnya. Bagi saya bukan itu. Saya masih menggunakan taksi biasa dan ojek biasa bila memungkinkan (ada). Lagi-lagi, saya menggunakan GO-JEK atau Uber karena alternatif lain tidak ada.

Mau nggojek makanan dulu ah. (Sekarang masalahnya adalah sinyal operator saya sering jelek di sini.)

Nyobain Bebek Kaleyo

Kemarin saya diundang untuk mencoba makan bebak di rumah makan Bebek Kaleyo yang baru buka di Bandung. Saya sendiri bukan penggemar bebek. Beberapa kali nyoba makan bebek kok rasanya kurang pas. hi hi hi. Maka kali ini pun saya agak was-was. Tapi, dasar hobby makan … dijabanin juga.

Lokasi restoran Bebek Kaleyo yang di Bandung itu di jalan Pasir Kaliki, tepat di perempatan dengan jalan Pasteur. Dekat dengan flyover itu. Tempatnya ternyata bagus juga. Tempat parkirnya luas sekali. Tempatnya juga luas.

IMG_7460 bebek kaleyo parkir

Akhirnya saya pesan bebek keremes dengan nasi uduk. Kelihatannya menarik dan memang rasanya … ENAK! Saya bakalan kembali ke tempat ini lagi.

IMG_7459 bebek kaleyo

Oh ya, selain menu bebek masih ada menu-menu lainnya lagi. Saya nyoba dim sum-nya. Enak juga. Halah. Kayaknya makanan itu memang hanya dua; enak dan enak sekali.

Apa Makanan Yang Enak?

Saya: apa makanan yang enak?
Kawan: minyak!
Saya: maksudnya???

Begitulah kira-kira dialog yang terjadi. Saya tidak mengerti maksud kawan tersebut. Ternyata yang dia maksud adalah ternyata makanan yang digoreng itu enak. Dia mencoba menurunkan berat badan dengan tidak makan masakan yang dimasak dengan menggunakan minyak. Hasilnya luar biasa. Berat badannya turun dengan luar biasa.

Tapi … ternyata makan makanan yang tidak mengandung minyak itu penderitaan karena … gak enak. he he he. Jadi memang benar yang membuat makanan enak itu minyak!

Kopi Dan Donat

Tadi pagi melihat mahasiswa bawa tempat plastik yang isinya donat. Mungkin ini pesanan teman-teman sekelasnya dan untuk sarapan pagi bagi yang tidak sempat sarapan di rumah. (Benarkah demikian?)

Memang sangat susah mencari sarapan yang cepat di pagi hari. Kadang saya juga ingin kopi dan makanan sesuatu di kampus, katakanlah jam 6.45 pagi. Franchise kopi (yang itu tuh) belum ada yang buka. Mereka buka jam 8 pagi. Jadi saya mengandalkan pak Parmis (theparmis)  untuk buat kopi atau teh. Hanya donatnya yang gak ada. he he he.

Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu (light years ago, like in 1987), ketika masih mengambil S2 di Kanada. Masih teringat saya harus masuk ke kelas pagi hari. Sampai di kampus, kafetaria sudah buka. Langsung saya sambar kopi dan donat. (Biasanya kami bertiga yang satu kelas – my classmates; Jay and Tawfik – bergantian membelinya.) Lumayan … gula dari donat dan kopi langsung masuk ke darah membuat mata terbelalak menatap rumus matematik di papan tulis. Hi hi hi. Those were the days.

Nyam … nyam … nyam …

Sopan gak ya kalau bulan puasa posting makanan? hi hi hi …

Ini gambar bungkus Cokelat Monggo yang dibeli dari Yogyakarta. Cokelatnya enak, tidak terlalu manis. Atau bahkan mungkin agak pahit. Pokoknya enak aja. Awas… dilarang batal puasa karena cerita ini.

Untung yang diposting ini hanya bungkusnya saja, bukan sama isinya. Kalau ditampilkan dengan isinya, mungkin ada yang bisa batal puasanya. he he he …

Notebook dan Kawannya

Sudah lama nggak buat tulisan iseng. … 😀 Iseng sedikit di hari Jum’at ini. Di luar hujan. Untung sholat Jum’at sudah selesai. Kalau belum, kembali ke tulisan (tepatnya pertanyaan) saya tentang sholat Jum’at dan hujan itu. he he he.

Ok. Ini tulisan iseng saja.

Di tempat kami, notebook kadang ada temannya. Dia tidak bisa sendirian. Ini foto-fotonya.

Foto di bawah ini menunjukkan notebook Andika (AT) dengan kawannya. (Foto diambil ketika Andika sedang tidur. he he he.)

Sementara itu, foto di bawah menunjukkan notebook saya (BR) dengan (sebagian dari … halah …) kawan-kawannya. [Yang kuning gold itu Silverqueen. waaaa jadi pengen coklat!]

Ha ha ha … kawan-kawannya notebook itu memang benar mencerminkan pemiliknya. hi hi hi. Gambar-gambar ini asli lho, tanpa rekayasa.