Kebanyakan Mengajar

Dalam satu semester biasanya saya mengajar 3 mata kuliah. Itu maksimal. Untuk kasus-kasus tertentu kadang bisa 4 mata kuliah. Nah, sekarang saya mengajar … (eng, ing, eng) … 6 mata kuliah! Gila!

Mengapa ini bisa terjadi? Saya berpikir keras.

Ah, baru kebayang. Biasanya mata kuliah dibuka oleh kampus setelah melakukan optimasi terhadap ketersediaan sumber daya, khususnya ruangan. Karena jumlah ruangan terbatas, maka jumlah mata kuliah yang dapat dilayani terbatas. Sekarang, gara-gara covid-19 ini, semua kuliah dilakukan secara daring (online). Maka batas ruang (dan waktu) hilang! Maka kampus dapat memberikan semua mata kuliah bersamaan. Terserah kepada dosen dan mahasiswanya saja.

Bodohnya, saya sebagai dosen mengiyakan saja. Maka terjadilah 6 mata kuliah itu. Hayah. Semester depan saya akan ngerem lagi ah.

Sebetulnya ini bisa saya atasi juga. Jika semua mata kuliah saya sudah tersedia secara elektronika, misalnya sudah saya rekam dalam bentuk video, maka kelas saya juga dapat saya ajarkan secara daring. Jadi saya dapat mengajar beberapa kelas secara paralel. Toh mahasiswa tinggal nonton video, membaca buku dan bahan bacaan lainnya (makalah, standar), dan mengerjakan tugas-tugas (quiz, pekerjaan rumah) yang juga sudah dapat dibuat secara elektronik. Artinya, batas waktu juga bisa saya jebol. Nah, sekarang masalah berpindah ke mahasiswa.

(Catatan: itulah sebabnya dosen dan guru, mari kita buat versi elektronik dari kuliah / kelas kita.)

Sulit bagi mahasiswa untuk mengambil beberapa mata kuliah secara paralel. Saat ini tidak mungkin. Suatu saat mungkin ditemukan cara untuk melakukannya. Maka pada saat itu, batas ruang dan waktu sudah bisa kita libas. Whoah!

Oh ya. Ini ada versi video dari tulisan ini.

Duduk Mengajar

Dikarenakan wabah virus corona, maka perkuliahan di ITB (dan dimana-mana) terpaksa harus dilakukan secara daring (online). Saya sendiri sebetulnya sudah terbiasa mengajar kelas secara online. Ada kelas saya yang dilakukan di dua tempat bersamaan; di kampus Ganesha (ITB) dan di kampus ITB yang di Jatinangor. Ada kelas yang dilakukan secara online tetapi tidak real-time, dalam artian saya tidak langsung mengajar pada saat yang besamaan, misalnya yang di IndonesiaX. Ada juga kelas yang memang benar-benar saya lakukan secara menyeluruh online seperti yang saya lakukan di President University. Ada juga channel YouTube, tetapi ini cerita yang berbeda. Intinya, mengajar online bukan hal yang baru bagi saya, Hanya kali ini sedikit berbeda karena semua kegiatan ajar-mengajar dilakukan secara online.

Ternyata salah satu hal yang melelahkan bagi saya adalah duduk mengajar. Kalau di kelas biasa, kelas tatap muka secara fisik, saya biasanya mengajar sambil berdiri dan berjalan di depan kelas. Melakukan ini juga melelahkan, tetapi ternyata duduk itu lebih membuat badan ini pegal-pegal. Sebelum tulisan ini ditulis, saya baru beres mengajar dua kelas dan melakukan satu rapat secara online. Terus menerus dari pukul 9 pagi sampai pukul 15 sore. Bayangkan. Ternyata pegel linux juga. Ha ha ha.

Situasi ketika mengajar online

Kursi yang saya gunakan sudah cukup bagus. Bagus. Jadi ini bukan salah kursinya, tetapi memang bekerja secara online itu tetap melelahkan. Hmm. Mungkin saya yang salah. Mungkin seharusnya cara saya mengajar online-pun harus saya lakukan dengan berdiri ya? Hmmm. Nampaknya saya akan mencoba ini. Saya harus membuat dudukan untuk webcam yang lebih fleksibel. Akan dicoba di skedul kelas berikutnya. Sementara itu, sekarang saya mau istirahat dulu. Nonton TV (dokumenter) dulu ah.

Serius Dalam Mengajar dan Membimbing

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada banyak dosen yang tidak serius dalam mengajar dan membimbing. Banyak orang yang menjadi dosen hanya untuk mendapatkan statusnya atau agar supaya dapat disekolahkan ke luar negeri melalui beasiswa. Setelah menjadi dosen tidak benar dalam mengajar dan membimbing karena memang alasannya menjadi dosen bukan itu.

Proses rekrutmen untuk menjadi dosen juga nampaknya kurang memperhatikan aspek passion dalam mengajar dan membimbing. Ada yang guyon bahwa mau memilih bagaimana, wong yang mendaftarkan jadi dosen adalah sisa-sisa yang tidak dapat pekerjaan di luar sana. Aduh. Mak jleb!

Saya tidak tahu apakah saya bagus dalam mengajar atau membimbing (karena yang dapat menilai adalah mahasiswanya), tetapi saya sangat serius dalam mengajar dan membimbing. Eh, setidaknya saya jauh lebih serius dari kolega-kolega saya.

Banyak dosen yang menelantarkan kuliahnya karena ada tawaran pekerjaan ini dan itu atau harus memberikan presentasi di sana dan di sini. Saya membatasi tawaran-tawaran seperti itu. (Ada BANYAK SEKALI.) Kalau tidak percaya, tanya kepada pihak-pihak yang terpaksa saya tolak undangan untuk berbicara di kampus-kampusnya. Mohon maaf. Bukannya saya tidak mau, tetapi jika saya harus pergi ke sana maka kuliah saya banyak bolongnya.

(Bagi yang ingin mengundang saya menjadi pembicara, keynote speaker, dan seterusnya, inilah alasan saya kenapa saya menolak undangan bapak dan ibu. Ini sebabnya saya juga tidak tertarik untuk menjadi pejabat di sana sini.)

Saya termasuk yang rajin memberikan kuliah. Biasanya sebelum mahasiswa hadir di kelas, saya sudah duluan ada di sana. Untuk kelas jam 7 pagi pun, saya yang nomor satu hadir. Ada banyak foto di facebook saya yang menunjukkan hal ini. ha ha ha. (Semester ini ada satu kelas yang saya telat terus hadirnya, karena saya harus kembali ke kantor untuk makan siang, shalat, meeting dan kembali lagi ke kelas. Jadinya terlambat terus. Maaaaappp.)

17758256_10154430056911526_3438788283222184741_o
hadir di kelas sebelum mahasiswa hadir. berbekal kopi

Konsisten dalam mengajar itu tidak mudah. Memberikan satu presentasi itu tidak susah. Yang susah itu hadir secara rutin dalam 15 kali pertemuan perkuliahan. Silahkan dicoba. Konsistensi itu susah. (Ada banyak orang yang baru sekali memberikan presentasi di sebuah seminar kemudian merasa bisa mengajar di perkuliahan. hi hi hi.)

Menjadi pembimbing juga sama saja. Banyak dosen yang tidak dapat ditemui oleh mahasiswa bimbingannya karena kesibukannya. Membimbing bagi mereka mungkin sebuah beban. Tugas yang terpaksa dilakukan. Makanya tidak serius dalam membimbing. Hasilnya adalah bimbingan yang acak adut ketika sidang.

Ada sebuah kasus mahasiswa maju sidang dengan kondisi penelitian yang kacau balau. Mengapa dia diijinkan oleh pembimbingnya untuk maju? Ternyata pembimbingnya sibuk sehingga menelantarkan mahasiswanya (sampai batas waktu). Sebagai pengobat rasa bersalahanya (karena jarang di tempat), maka mahasiswanya diijinkan maju sidang. Mau seperti apa dunia penelitian Indonesia kalau seperti ini kejadiannya?

Mahasiswa bimbingan saya banyak. Bukan karena saya gampang, tetapi karena saya ada di tempat untuk berdiskusi. Mahasiswa membutuhkan arahan dan diskusi (dalam thesis dan disertasi). Kadang saya kasihan lihat mahasiswa bimbingan saya yang harus bergantian bimbingan. Antri. Seperti ke dokter saja. Mau bagaimana lagi? Waktu yang ada pun terbatas. Namun saya selalu serius dalam membimbing.

Sering saya hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan dosen-dosen yang mengabaikan tugasnya. Ada yang rajin menjabat di sana sini. Ada yang hobbynya presentasi sana sini juga. hi hi hi. Saya bukan atasan mereka yang dapat menegur. Kalau saya tegur nanti gak terima. Orang Indonesia mana bisa terima kritikan. ha ha ha.

Oh ya, sebetulnya saya adalah seorang profesional yang super sibuk. Ada banyak tanggung jawab yang harus saya lakukan. Jadi sesungguhnya saya bukan dosen  yang hanya mengajar saja. Demikian sibuknya pun saya selalu memprioritaskan mengajar dan membimbing.

Semua yang saya lakukan ini tidak untuk mencari pujian. Tidak juga untuk mendapatka gaji yang lebih besar. (Kalau tahu status saya, mungkin terkejut. Ada masanya beberapa tahun saya mangajar tanpa digaji. ha ha ha. Saya membuktikan kepada diri sendiri bahwa rejeki itu sudah ada yang ngatur.) Tidak juga saya lakukan ini untuk mendapatkan penghargaan atau medali. (Sombongnya sih sudah terlalu banyak plakat di rumah. ha ha ha.)

Jadi saya melakukan ini semua untuk apa? Karena memang saya suka mengajar. Menjadi guru. Berbagi pengalaman di industri dan menyederhanakan masalah sehingga mahasiswa dapat menangani topik-topik mereka di kemudian hari. As simple as that.

Tidak Perlu Membagi Materi Presentasi

Kegiatan yang paling sering saya lakukan adalah memberikan presentasi. Sebagai seorang dosen atau guru – formal atau informal – memang bercerita merupakan kegiatan utama. Dalam satu minggu kadang saya harus memberikan presentasi setiap hari. Hadoh.

Biasanya panitia atau penyelenggara acara meminta saya memberikan materi presentasi. Katanya untuk dibagikan kepada peserta. Sebetulnya menurut saya ini tidak perlu dilakukan. Memang ada peserta yang membaca atau mempelajari materi presentasi sebelum presentasi? Rasanya tidak ada. Kebanyakan peserta mengumpulkan materi presentasi untuk jaga-jaga saja. Kalau-kalau materi presentasi itu diperlukan. Padahal pada kenyataannya materi presentasi itu pun hanya menyemak. Menjadi tumpukan kertas yang terbuang percuma.

Untuk kasus perkuliahan, pembagian materi presentasi sebelum kuliah justru malah membahayakan. Mahasiswa malah kemudian mengabaikan isi kuliah karena merasa dapat membaca materi tersebut di lain waktu. Maksudnya pas lagi mau ujian dibaca lagi. he he he. Mereka jadi tidak memperhatikan dosen pas kuliah. Jadi, jangan bagikan materi kuliah sebelum kuliah.

Materi presentasi mungkin dibutuhkan oleh penyelenggara untuk memastikan bahwa materinya sesuai dengan topik dari presentasi. Itu saja yang mungkin alasan yang paling tepat.

Khusus untuk saya, ada masalah tambahan. Cara saya membuat materi presentasi berbeda dengan umumnya, yaitu saya hanya menampilkan kata kunci (keywords) saja. Bagi yang tidak hadir ke presentasi saya akan kebingungan dengan potongan kata-kata tersebut. Memang kunci utama dari presentasi adalah HADIR. Untuk yang tidak hadir, ya sebetulnya  yang dibutuhkan adalah makalah rinci. Bukan materi presentasi.

Jadi, kalau saya akan memberikan presentasi, jangan ditanya materi presentasinya ya. hi hi hi

Dongeng Kesukaan Mahasiswa

Tadi siang, saya memberikan presentasi mengenai teknik mengajar saya. Dalam diskusi dibahas mengenai cara untuk memulai kelas dengan mendongeng dulu. Ternyata topik yang disukai oleh mahasiswa adalah dongeng tentang hantu dan cerita-cerita motivasi. Hantu? Iya. hi hi hi. Tipikal orang Indonesia ya?

Nah, kayaknya saya harus mengumpulkan humor-humor tentang hantu nih. hi hi hi.

Menjelaskan Itu Harus Sabar

Menjelaskan sesuatu – termasuk juga mengajarkan sebuah topik – ternyata membutuhkan kesabaran, yang kadang kadarnya harus luar biasa. Seringkali kita tidak dapat menjelaskan sekali saja langsung dapat dimengerti. Kadang-kadang setelah berkali-kali mencoba menjelaskan ternyata tetap tidak dimengerti. Kalau sudah begini, seringkali kita  malah jadi frustasi dan marah-marah. he he he.

Ada beberapa alasan mengapa orang tidak dapat menerima apa yang kita sampaikan: (1) belum cukup ilmu untuk dapat memahami / mengerti pentingnya apa yang kita ajarkan, (2) penjelasan kita kurang baik, dan (3) memang yang bersangkutan tidak mau mengerti (misalnya, karena sudah punya pemahaman yang berbeda). Ketika kita  mengajar, mungkin yang paling sering dihadapi adalah yang nomor satu. Dulu ketika saya belajar Fourier Transform (dan Fast Fourier Transform, FFT), saya tidak tahu untuk apa. Ilmu saya belum cukup. Setelah lulus, bertahun-tahun kemudian, baru mengerti untuk apa dan mengapa itu penting. ha ha ha.

Yang paling repot adalah yang nomor tiga, tidak mau mengerti. Yang ini malah kadang orangnya sudah memiliki ilmu yang cukup tinggi. Mestinya sih dia dapat mengerti, tapi tidak mau ajsa. Kalau sudah begini ya kita punya dua pilihan, menyerah atau menambahkan tingkat kesabaran. hi hi hi.

Sabar, sabar, sabar.