Budaya Disuapin dan Belagak Pilon?

Jangan bosan dengan tulisan saya yang mengangkat topik ini lagi ya, karena untuk menjelaskan itu harus dilakukan berkali-kali dengan cara yang (sedikit banyak) berbeda. Siapa tahu penjelasan yang ini lebih dapat dipahami daripada yang sebelumnya.

Ini masih cerita tentang budaya disuapin. Maksudnya bagaimana? Begini.

Kadang saya melihat ada orang-orang (banyak) yang merasa harus menjelaskan secara eksplisit dan rinci. Contohnya di dalam film (atau sinetron) untuk menunjukkan bahwa seseorang itu menunggu lama dia berkata, “saya sudah lama menunggu di sini”. Padahal ada cara lain untuk menjelaskan itu, misalnya di depannya ada asbak yang berisi banyak puntung rokok dan beberapa cangkir kopi di depannya. Tidak perlu dijelaskan bahwa dia menunggu lama. Berikan kepada pemirsa untuk mengambil kesimpulan atau interpretasi sendiri.

Hal-hal seperti ini istilahnya adalah patronizing. Menganggap pemirsa tidak memiliki kemampuan untuk menyimpulkan sendiri. Dengan kata lain, pemerisa itu bodoh. Harus diberitahu.

Nah, di sisi lain ada juga orang yang menulis dengan menyiratkan sebuah hal tetapi ketika ditanyakan (atau dikonfrontasi) dia mengelak. Ngeles. Kan saya tidak menuliskan hal itu (secara eksplisit). Memang tidak secara tersurat, tetapi itu tersirat. Misal kalau di Amerika ditampikan foto 7-eleven dan kemudian ditampilkan gambar orang India. Memang stereotype di sana adalah penunggu 7-eleven adalah orang keturunan India. Silahkan juga tonton film seri The Simpsons. Apu, sang penunggu 7-eleven, adalah orang India. Tentu saja dia tidak perlu menuliskan secara eksplisit, “penunggu 7-eleven adalah orang India”. Pemirsa cukup cerdas untuk melihat arah penulis cerita tersebut.

Oh ya, ketika seorang tersebut ditanyakan tentang maksudnya tulisannya, gambarnya, videonya, atau opininya dalam bentuk apapun, maka orang tersebut ngeles. Belagak pilon. Saya kan tidak menulis itu. Mereka pikir kita ini bodoh. Ha ha ha.

Ada yang tersurat dan ada yang tersirat.

Berpikir itu tertanya harus diajarkan.

Penyerahan Beasiswa Program Perempuan dan Guru Menulis Buku (gelombang 1)

Seperti sudah saya tuliskan sebelumnya di sini, ada program untuk mengajari Perempuan dan guru dalam menulis buku, menerbitkan buku, dan menjual buku. Tugas saya adalah mencarikan donatur yang bersedia mendukung program ini. Link mengenai caranya ada di bawah.

Gelombang pertama, 20 orang sudah dipilih. Masing-masing mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 100.000,-. Berikut ini adalah video serah terimanya.

Video Serah Terima Beasiswa

Semoga beasiswa ini dapat mencapai tujuannya. Terima kasih kepada para donatur. Semoga ini dapat menjadi amal yang terus mengalir. Kegiatan tersebut akan kami laporkan perkembangannya.

Tautan Terkait

Donasi Untuk Program 10.000 Perempuan dan Guru Menulis Buku 2022

Program PEREMPUAN & GURU MENULIS BUKU ini dimotori oleh mbak Indari Mastuti, seorang penulis buku yang telah menerbitkan banyak buku. (Tentang mbak Indari Mastuti dapat dilihat pada tautan ini.) Peserta akan diajarkan cara (1) menulis buku, (2) menerbitkan buku, dan (3) menjual buku.

Kenapa perempuan dan guru harus menulis?

  1. Menulis membuat hati lebih bahagia, bahagia membuat orang bisa lebih berpikir jernih dan cerdas.
  2. Menulis buku sendiri membuat orang lebih menghargai buku yang ditulis orang lain, mereka akan menjadi suka baca.
  3. Menulis menjadi terapi jiwa yang trauma atau tak bahagia, energi negatif tersalurkan melalui tulisan.

Tiga alasan itu menjadi pendorong gerakan 10.000 perempuan dan guru menulis buku. Mereka akan menulis, membaca, lalu menjadi lebih cerdas dan bahagia. Kalau begitu siapa yang diuntungkan? Generasi di masa selanjutnya di Indonesia karena kecerdasan berawal dari rumah dan sekolahan dari IBU dan GURU.

Upaya untuk mencetak 10.000 penulis dari kalangan perempuan dan guru sudah dimulai dari akhir Oktober 2021 dan akan berakhir di akhir 2022. Saat ini sudah terbit 9 buku karya perempuan dan guru tersebar di seluruh Indonesia. Ini akan dilanjutkan. (Contoh buku tersebut dapat dilihat pada tautan berikut: https://tokopedia.link/indscriptcreative)

Bersediakah Anda menjadi bagian dari gerakan ini? Mengalokasikan sebagian rezeki agar lebih banyak perempuan dan guru ikut dalam gerakan ini? Cukup dengan memberikan sebesar 100 ribu rupiah per-orang saja, mereka akan menjadi perempuan dan guru yang lebih cerdas dan bahagia. Semoga Indonesia semakin kuat dengan semakin cerdasnya perempuan dan para guru melalui aktivitas menulis buku.

Donasi dapat dikirimkan ke rekening:

BCA DIGITAL 0086-3422-2886 atas nama Budi Rahardjo

(Catatan: Perhatikan bahwa ini adalah rekening BCA Digital – Blu Digital. Di beberapa aplikasi bank, ada beda antara BCA dan BCA Digital sehingga kalau dipilih BCA saja maka rekening ini tidak muncul. Pilih BCA DIGITAL untuk bank tujuannya.)

Berikan konfirmasi pengiriman donasi (transfer uang) ke email: bungbr@gmail.com

Secara berkala, informasi penggalang dana dan kegiatan ini akan kami publikasikan secara berkala sehingga Anda dapat memantau kemajuannya.

Tautan Terkait

Kebiasaan Mencatat

Kemarin di sebuah acara diskusi daring (online) saya menantang peserta. Tantangan saya adalah apakah mereka sanggup membuat tulisan tentang apa saja setiap hari selama setahun. Jadi dalam satu tahun akan ada 365 tulisan. Bahkan saya menawarkan hadiah 500 ribu rupiah jika mereka dapat melakukannya. Kenapa saya berani memberikan tantangan ini? Ini disebabkan saya tahu bahwa orang Indonesia sulit untuk membiasakan diri dalam mencatat. Konsistensi untuk mendokumentasikan berbagai hal itu tidak ada.

Mendokumentasikan itu tentunya tidak harus dengan mencatat yang notabene menulis. Mendokumentasikan dapat dilakukan dengan foto dan video. Kalau dahulu ini susah dilakukan karena tidak ada perangkatnya, atau karena fasilitasnya mahal. Sekarang dengan menggunakan handphone semua ini dapat dilakukan. Jadi sekarang masalah adalah kemauan.

Hal berikutnya adalah masalah apa yang dituliskan. Saya katakan apa saja. Silahkan mencoba menulis apa saja setiap hari dalam waktu satu tahun. Ternyata ini sudah susah, apalagi jika harus menuliskan satu bidang tertentu. Ini membutuhkan kreativitas (dan konsistensi).

Silahkan dicoba tantangan saya ini, sanggupkah Anda menulis satu topik setiap hari selama satu tahun?

Mr. GBT

Waktunya menghidupkan kembali Mr. GBT. Apa itu? Nah, silahkan lihat blog saya yang pernah kondang di gbt.blogspot.com. Ini blog pertama saya. (Rasanya? Sebelum ini apa saya sudah punya blog lagi ya? Rasanya tidak.)

Ceritanya beberapa hari yang lalu saya secara tidak sengaja sekelebat saya melihat foto 10 blog terbaik Indonesia versi majalah Tempo. Lagi-lagi kalau tidak salah ini tahun 2005. Saya ada di daftar itu di urutan ke-4 dengan blog GBT itu. GBT itu singkatan dari Gerakan Bawah Tanah. Nah, ini ceritanya lebih panjang lagi. Bisa dijadikan satu tulisan tersendiri atau satu video tersendiri. Nanti lah. Intinya saya jadi ingin menulis lagi di sana.

Dahulu saya pindah ke wordpress ini karena UI/UX-nya lebih enakeun. Terus statistiknya juga sangat bagus. Jadi saja, saya mulai rajin menulis di sini dan melupakan yang di sana. Sebetulnya saya sudah mulai memisahkan jenis tulisan di sini dan di GBT. Di sini cerita dalam bahasa Indonesia dan di sana cerita dalam bahasa Inggris. Sebetulnya yang bahasa Inggris, saya sudah memulai juga di Medium.com. Medium ini enakeun juga lho. Jadi yang di Blogspot ini bakalan punya tantangan juga. Repot juga kalau harus nulis di dua tempat dengan cerita yang sama.

Anyway. Sekarang saya mau nulis di gbt.blogspot.com dulu ah. Selamat datang kembali, Mr. GBT.

Membaca

Dahulu salah satu pekerjaan yang kami lakukan adalah membantu perusahaan dalam melakukan rekrutmen pegawai baru. Membaca biografi calon pekerja kadang lucu juga. Salah satu kolom yang biasanya ditanyakan adalah hobi. Banyak orang yang menuliskan “membaca” menjadi salah satu hobi-nya. Benarkan mereka menyukai membaca?

Dalam bayangan saya, kalau yang namanya “membaca” itu adalah membaca buku. Bahkan buku yang dibacanyapun adalah buku-buku yang “berat” atau bermutu. Eh, ternyata sebagian besar kenyataannya berbeda dengan yang saya bayangkan. Apa lagi kalau yang bersangkutan merasa telah keren karena membaca buku tertentu, semakin menyakitkan faktanya. Ketika saya ajak diskusi tentang isi dari buku tersebut, gelagepan. Apalagi kalau saya tanya apakah buku yang dibacanya itu merupakan buku terjemahan atau buku aslinya (yang biasanya dalam bahasa Inggris), maka mereka tambah gelagepan.

Baiklah. Saya harus menerima bahwa membaca itu bukan kultur bangsa Indonesia. Terimalah itu. Seingat saya, saya pernah buat video (di YouTube channel saya) yang mengatakan lebih baik kita buat video saja. Soalnya budaya kita adalah budaya menonton. Ha ha ha. Buktikan bahwa saya salah.

Jadi, tidak usahlah gagah-gagahan menunjukkan bahwa Anda senang membaca seperti yang saya lakukan dalam tulisan ini. Hi hi hi.

Saya yakin tulisan ini jarang ada yang membaca! Tapi kalau yang ini karena memang tulisannya tidak terlalu menarik untuk dibaca. Lain masalah.

Menulis Setiap Hari

Baru-baru ini saya mendengarkan cerita tentang bagaimana lagu “Human Nature” dibuat. Ini lagu yang dibawakan oleh Michael Jackson. Lagu ini dikarang oleh Steve Porcaro (salah satu pemain keyboards group band Toto) dan kemudian liriknya dipermak oleh John Bettis. Kesemua orang yang saya sebut di atas sangat luar biasa kemampuannya. Tulisan kali ini terinspirasi oleh kata-kata John Bettis.

Jadi ceritanya lagu tersebut sudah luar biasa bagus, tapi liriknya belum ada. Sang produser dari album Michael Jackson itu, Quincy Jones, kemudian menelepon John Bettis yang sangat piawai dalam membuat lirik. Mengapa dia sangat piawai, karena dia selalu siap dalam membuat lirik. Dia menulis lirik SETIAP HARI selama belasan tahun (atau bahkan lebih). Bayangkan, setiap hari! Itu sebabnya dia selalu siap. Itu sebabnya saya tidak dapat membuat lirik lagu, karena tidak pernah berlatih.

Mengenai menulis setiap hari, sebetulnya tidak susah secara teknis tetapi susah dilakukan. Ini masalah keteguhan diri saja. Masalah kemauan saja. Saya sudah pernah melakukannya.

Pada awal-awal blog ini dibuat, saya memaksakan diri untuk menulis setiap hari. Betul. Saya tantang diri saya sendiri untuk melakukannya. Mantra yang saya pakai adalah “kuantitas lebih penting daripada kualitas”. Yang penting menulis tiap hari. Dahulu saya dapat melakukan hal tersebut. Sekarang terlalu banyak alasan yang saya gunakan untuk tidak melakukannya. Alasan yang paling klasik, ya sibuk. (Padahal sibuk sungguhan.)

Nampaknya saya harus mulai kembali memaksa diri untuk menulis setiap hari. Bahkan mau saya coba untuk menulis lirik setiap hari. Hmm. Mikir dulu ya. Ha ha ha. Ini komitmen yang berat.

Gara-gara Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi ternyata bikin saya pusing. Begini. Saya kan menulis cerita tentang “Jek dan Sar” (linknya nanti saya pasang di sini). Cerita ini terhenti cukup lama. Tahunan. Terus apa hubungannya dengan teknologi?

Dalam cerita “Jek dan Sar” itu mereka berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Nah, jaman sekarang siapa yang menggunakan SMS? Anak-anak milenial pasti akan tertawa sampai sakit perut kalau masih ada orang berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Tidak masuk akal. Hanya teks saja dan bayar pula!

Kalau cerita saya itu mau kekinian, maka semuanya harus saya tulis ulang dengan menggunakan WA/Telegram (atau apapun program messaging yang sedang populer saat ini). Bahkan akan lucu kalau Jek dan Sar tidak saling kirim foto lewat Instagram, misalnya. Nah lho.

Kalau cerita saya tulis dengan setingan lama – jama SMS itu – maka saya yang pusing karena saya harus terbang ke waktu jaman itu. Beban ada di saya. Meskipun ini mungkin adalah pilihan yang paling logis. Toh cerita-cerita yang mengambil setingan waktu jaman dahulu pun masih tetap mungkin. Lah Dilan saja mengambil setingan waktu tahun 1990-an. Berarti saya saja yang kurang kreatif. Ha ha ha.

Jadi bagaimana bagusnya?

Indonesia Darurat Menulis

(Hampir) setiap minggu, di kantor kami ada acara sesi berbagi dimana topik yang ditampilkan sangat bervariasi. Minggu lalu saya mengangkat topik “Menulis”. Ini adalah sedikit cerita tentang itu, meskipun judulnya agak sedikit bombastis.

menulisSebagai seorang dosen, salah satu pekerjaan saya adalah memeriksa tugas mahasiswa. Tugas yang saya berikan kebanyakan adalah membuat makalah. Menulis. Hasilnya? Sudah dapat ditebak, sangat tidak memuaskan. Ternyata mahasiswa Indonesia tidak dapat menulis! Hadoh.

Di luar kampus, saya terlibat dalam berbagai perusahaan (yang umumnya bernuansa teknologi). Lagi-lagi saya melihat sulitnya mencari sumber daya manusia yang dapat menulis. Padahal salah satu aspek utama di dalam perusahaan adalah adanya tulisan; antara lain berupa proposal, laporan pekerjaan, paten, dan seterusnya. Bahkan salah satu bottleneck di perusahaan kami adalah penulisan laporan.

Menulis itu pada dasarnya adalah menyampaikan gagasan kepada pembaca. Ada beberapa kata kunci di sana. Yang pertama adalah pembaca. Kita harus tahu siapa yang akan membaca tulisan kita. Untuk tulisan yang terkait dengan urusan akademik, pembacanya adalah peneliti lain atau dosen penguji. Untuk tulisan yang terkait dengan bisnis, pembacanya adalah calon klien (bohir). Untuk tulisan di majalah atau surat kabar, pembacanya adalah orang awan. Untuk tulisan dalam buku cerita anak-anak, pembacanya adalah anak-anak. Dan seterusnya.

Perbedaan pembaca inilah yang membuat tulisan kita juga berbeda-beda. Untuk tulisan yang akademik, adanya rumus matematik merupakan hal yang penting (dan menguntungkan bagi penulis). Sementara itu jika tulisan yang akan kita berikan ke surat kabar ternyata ada rumus matematiknya, kemungkinan besar akan ditolak.

Kata kunci kedua adalah gagasan. Apa yang ingin kita sampaikan? Seringkali ada banyak gagasan yang ingin dituangkan sekaligus. Hasilnya? Ya membingungkan. Batasi gagasan yang ingin kita sampaikan. Biasanya maksimal dalam satu tulisan ada tiga (3) gagasan. Lebih dari itu sebaiknya dipecah menjadi beberapa tulisan saja.

Kata kunci ketiga adalah menyampaikan. Bagaimana cara menyampaikannya lagi-lagi terkait dengan media yang digunakan oleh pembaca. Jika medianya adalah jurnal akademik, maka cara penyampaiannya juga sanga formal dan bahkan harus sesuai dengan standar yang ada. Seringkali mahasiswa tidak mengetahui hal ini. Ketika ditanya “mengapa format judul seperti itu” mereka tidak dapat menjawab. Kalaupun menjawab adalah karena perkiraan mereka atau karena melihat yang lain, tapi mau mencaritahu standar yang sesungguhnya digunakan.

Demikian pula ketika kita menulis di surat kabar, maka ada tata cara penyampaiannya. Ada batasan jumlah kata yang diperkenankan dalam satu artikel. Penggunaan bahasanya pun juga lebih luwes.

Menulis merupakan sebuah kemampuan (skill) yang harus dilatih. Dia harus dilatih secara rutin dan sering. Ketika kita memulai latihan menulis, pasti kualitasnya jelek. Namanya juga baru latihan. Sama seperti kalau kita mulai belajar naik sepeda. Tidak bisa langsung bisa. Ada jatuh bangunnya. Demikian pula dalam menulis. Maka salah satu pekerjaan rumah (PR) yang saya berikan kepada peserta kemarin (dan Anda juga) adalah berlatih menulis SETIAP HARI. (Terpaksa itu saya tulis dalam huruf besar dan cetak tebal.) Mari kita menulis satu paragraf setiap hari. Mari kita mulai dari kuantitas dahulu. Setelah itu tercapai, barulah kita bicara soal kualitas.

Ada satu hal lagi yang harus dibahas, yaitu penggunaan Bahasa Indonesa yang baik dan benar. Ah, ini sebaiknya menjadi topik yang terpisah. Sudah terlalu banyak gagasan yang ingin saya sampaikan. Nah.

Menulis Secara Rutin

Dalam bimbingan (mentoring) kemarin, saya mengingatkan kembali kepada mahasiswa mentoring saya untuk menulis secara rutin. Topik yang ditulis bebas saja dan formatnyapun juga bebas. Untuk yang ingin menulis thesis, disertasi, dan sejenisnya harus dibiasakan menulis yang agak formal karena bahasa tulisan buku-buku tersebut memang harus formal. Ada penggunaan kata-kata yang tidak lazim dalam buku tersebut.

Untuk yang sedang membuat usaha – start-up – maka topik tulisannya juga berbeda. Topik tulisannya lebih singkat tetapi dapat lebih informal. Media yang digunakannyapun sekarang lebih banyak menggunakan media sosial. Bahkan media seperti instagram dan twitter tidak cocok untuk tulisan yang panjang lebar. Tulisannya harus singkat, padat, dan mudah dipahami. Bahkan kadang harus lucu. Melanggar aturan bahasapun diperkenankan.

Blog merupakan media pertengahan. Dia dapat digunakan untuk hal yang formal maupun yang informal. Tulisan di blogpun dapat lebih panjang dari media sosial lainnya.

Yang menjadi masalah dalam hal menulis secara rutin adalah keteguhan. Kemauan. Seringkali yang dipermasalahkan adalah “apa yang mau ditulis?”. Nah, kalau ini adalah masalah kreativitas. Ini dapat dilatih. Cara paling gampang adalah melakukan brainstorming dengan menuliskan topik-topik di secarik kertas. Mosok tidak bisa menuliskan tiga topik? Pasti bisalah. Setelah itu, coba cari 10 topik. (Ini belum menuliskannya tetapi baru memilih topiknya saja. Mudah kan?) Tapi, ya itu dia, mau berlatih atau tidak.

Kalau alasan tidak ada waktu, itu sih alasan klasik. Itu alasan saya! Sudah saya klaim duluan. Anda tidak boleh pakai alasan itu. [meringis]

Berita Yang Terlalu Wah

Coba perhatikan berita yang muncul di media massa konvesional; baik yang berbentuk cetak maupun online. (Online seperti detik.com sudah saya anggap sebagai media konvensional.) Berita yang ditampilkan umumnya terlalu wah. Yang saya maksudkan dengan “wah” di sini adalah terlalu dibesar-besarkan.

Bagaimana saya tahu ini? Saya tahu karena ada berita yang saya tahu aslinya dan yang ditampilkan terlalu wah. Misalnya, si Fulan jagoan ini dan itu. Padahal saya tahu si Fulan ini biasa-biasa saja. Saya duga si Fulan tidak berniat untuk menyombongkan diri atau membesar-besarkan. Medialah yang melakukannya. Berita lain yang sejenis adalah startup ini luar biasa. Padahal saya tahu ada banyak yang lebih hebat tetapi tidak muncul di media. Jangan salah, saya suka berita yang bagus. Good news. Tetapi yang tidak saya suka adalah berita yang tidak benar. Berita yang terlalu dibesar-besarkanpun menurut saya bukan berita benar.

Pada awalnya saya tidak terlalu peduli, tetapi kalau ini dibiarkan terus menerus maka apa jadinya dunia jurnalisme Indonesia? Apakah ini didorong oleh bisnis? Bahwa berita yang heboh lebih menarik sehingga lebih banyak dibaca dan akhirnya dapat dijual kepada pihak yang tertarik untuk pasang iklan. Uang yang berbicara. Parah.

Sekarang saya lebih suka dan lebih mengandalkan berita yang ditulis oleh orang bisa. Citizen journalism. Tadinya saya mengira bahwa media massa konvensional masih akan mendominasi. Setidaknya, mendominasi bahan bacaan saya. Ternyata sekarang tidak. Berita dari orang biasa memang masih harus dipertanyakan juga keabsahannya. Take it with a grain of salt, kata orang Barat. Sekarang berita dari media konvensionalpun tidak dapat diandalkan keabsahannya.

Artinya kita harus belajar untuk membedakan mana berita atau tulisan yang sesungguhnya dan mana yang sudah penuh dengan bumbu.

Ada MSG?

Presentasi Tentang Blogging

Ini adalah blog tentang blogging. Rekursif. Ha ha ha. Seriously, pagi ini saya akan presentasi tentang bagaimana memanfaatkan blog untuk mendiseminasikan ilmu pengetahuan dan teknologi.

blogging-2018

Sebetulnya sekarang masih berpikir apa-apa yang ingin saya sampaikan. Masih campur aduk dan belum tertata dengan rapih. Ada hal terkait dengan menulis, ngeblog, dan tentang topik yang akan ditulis.

Kemampuan menulis ternyata merupakan barang yang langka. Padahal kemampuan ini tidak dapat muncul dengan tiba-tiba. Dibutuhkan latihan yang rutin. Dahulu untuk melatih dan mendapatkan tanggapan (feedback) dari pembaca, kita harus mencari media. Surat kabar merupakan media yang memiliki pembaca sangat banyak, tetapi sulit untuk menembus surat kabar. Untuk hal yang lebih teknis, jurnal merupakan target media, tetapi ini lebih sulit lagi. Akibatnya kita kekurangan penulis yang handal.

Saat ini sudah ada blog seperti ini. Blog ini mudah digunakan dan murah (dan bahkan gratisan seperti yang ini). Pembacanya juga tidak terbatas. Siapapun yang memiliki akses internet merupakan potensi pembaca. Tinggal bagaimana kita membuat tulisan yang bagus sehingga banyak pembacanya.

Jadi apa lagi alasan untuk tidak berlatih menulis?

Menjadi Blogger

Tanggal 27 Oktober kemarin adalah hari blogger nasional. Dampaknya apa ya? Soalnya banyak teman-teman blogger saya yang sudah tidak ngeblog lagi. Alasannya banyak, tetapi umumnya adalah alasan klasik, sibuk. hi hi hi.

Saya pun punya masalah dengan kesibukan. Edun lah sibuknya, tetapi tetap berusaha ngeblog karena ini merupakan salah satu cara saya untuk belajar menulis. Ide ada banyak, tetapi waktu yang tidak ada. Ini saja sudah gagal ngeblog beberapa hari (minggu) ke belakang. Semoga saya dapat lebih sering ngeblog lagi ah.

Kere Penjelajah Waktu (2)

Sebentar, sebentar. Kucek-kucek mata dulu. Tempat ini kok seperti tidak berubah tapi seperti ada yang aneh juga. Melihat ke kiri. Ke kanan. Ah, tidak ada yang berubah. Ini masih tempat yang sama, halaman tetangga.

Perlahan cengkeraman tangan mulai mengendor. Aku masih terduduk di becak tetangga. Tadi itu kenapa sih? Ada cahaya yang berlalu dengan cepat di kiri dan kanan. Mungkin hanya kelelahan dari membaca semalaman? Mungkin mata masih mencoba menyesuaikan diri. Ah itu.

Perlahan aku bangkit dan turun dari becak. Melihat ke sekeliling. Mudah-mudahan tidak ada yang melihat. Eh, nampaknya pak Asep yang biasa jaga malam di sekitar koskosan sudah bangun. Pelan-pelan aku berjalan kembali ke koskosan. Berpapasan dengan pak Asep yang sedang mengaduk kopi.

Good morning,” kata pak Asep.

Walah. Edun sekali pak Asep ini. Menyapa dalam bahasa Inggris. Aku meringis. Tidak menjawab. Senyum sedikit saja sambil terus ngeloyor ke kamar. Eh, sebentar. Mau iseng ah. Aku kembali lagi menengok ke pak Asep.

“Belajar bahasa Inggris dimana, pak?” tanyaku.

Excuse me?” kata pak Asep mengagetkanku. Tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Pak Asep terlihat seperti bingung. Bentar, bentar. Ini bingung ketemu bingung.

“Iya, pak. Pak Asep belajar bahasa Inggris dimana?” kuulangi pertanyaanku.

I am sorry, I don’t understand,” jawab pak Asep dengan wajah yang tulus. Kini aku yang bingung. Ini gimana? Apa aku sedang kena prank, atau gimana nih? Ini apa sih? Dari pada melanjutkan pembicaraan yang tambah bingung, akhirnya kuputuskan untuk berjalan ke depan saja. Membiarkan pak Asep yang masih menatapku dengan pandangan bingung.

Ada warung agak sebelah kanan yang sudah mulai buka. Lapar. Mau beli sesuatu dulu ah. Aku berjalan ke warung sambil tetap memikirkan kejadian barusan. Pasti ada penjelasan yang logis.

Di depan warung, aku terhenyak. Tulisan-tulisan di depan warung terlihat sama, tetapi kok dalam bahasa Inggris. Ada iklan rokok dalam bahasa Inggris. Kemarin rasanya bukan itu deh tulisannya.

Morning,” ibu penjaga warung menyapa. Aku kaget. Berdiri terdiam. Menatap penjaga warung yang terlihat masih seperti orang Indonesia normal. Dia menatap balik. Heran melihat aku yang terdiam.

“Ada roti, bu?” tanyaku dengan sedikit was-was.

I am sorry?” jawab si ibu penjaga warung sambil mengerinyitkan dahinya. Lengkaplah sudah kebingunganku.

Do you have bread?” tanyaku sambil mengingat-ingat pelajaran bahasa Inggris.

Those are the ones we have,” entengnya jawaban si ibu penjaga warung sambil menunjukkan tumpukan roti buatan “lokal” sambil terus menata barang-barang dagangannya. Kuambil satu roti isi sambil memperhatikan tulisan yang ada di roti itu. Bahasa Inggris. Hmm…

Bentar. Untuk memastikan bahwa ini bukan orang yang mau ngerjain aku, kurogoh dompet. Mau melihat kartu-kartu yang ada di dompet. Mari kita lihat SIM. Kartu kukeluarkan. Wharakadah … tulisannya dalam bahasa Inggris.

Baru kusadari bahwa ini nyata. Semuanya – fisik – masih tetap, tetapi nampaknya orang-orang menggunakan bahasa Inggris. Apakah ini tadi gara-gara becak itu? Dunia apa ini? Harus kucari tahu. Nanti. Sekarang sarapan dulu.

Coffee, please,” kataku kepada si ibu penjaga warung.

Coming,” jawabnya sambil mengambil satu sachet kopi. Menggunting ujungnya. Hmm… dalam dunia aneh ini pun kopinya masih kopi gunting. hi hi hi.

[Bagian 1]