Tag Archives: Menulis

Kotretan

Di luar negeri ada istilah “the back of napkin”, di belakang kertas tissue. Konteksnya begini. Seringkali orang bertemu di kantin atau kafetaria atau restoran untuk membicarakan sebuah prospek bisnis atau penelitian. Nah, mereka membutuhkan kertas untuk corat-coret, tetapi yang ada hanya kertas tissue (napkin). Maka corat-coret dilakukan di sana; in the back of a napkin.

Bongkar-bongkar tumpukan kertas yang mau dibuang, saya menemukan ini.

BR back of napkin

Ini adalah corat-coret saya ketika mendiskusikan pembentukan salah satu start-up saya. Hi hi hi. Beginilah bentuknya. Tidak dibuat formal dalam bentuk materi presentasi atau dokumen yang tercetak rapi. Corat-coret ini dilakukan di kertas yang ada pada saat itu. Meskipun bukan napkin, tapi ini masih satu kategori.

Sudah banyak saya melakukan hal seperti ini. Jadi, ketika kalian memulai usaha (starting up) dan corat-coretnya seperti ini (bukan dalam materi yang rapi), jangan khawatir. Memang banyak orang (sukses) yang melakukannya seperti itu.


Tidak Suka Membaca

Saya suka membaca, tetapi mengapa judul dari tulisan ini adalah tidak suka membaca? Sebenarnya saya juga tidak suka membaca. Lho? Kok? Yang tidak suka saya baca adalah tulisan saya sendiri. Jadi saya suka membaca tulisan orang lain, tetapi saya tidak suka membaca tulisan sendiri.

Saya tidak tahu apa alasannya. Seringnya saya merasa tulisan saya kok hanya segitu saja. Jelek. Merendahkan diri sendiri. he he he. Mungkin saya terlalu berat dalam mengkritik diri sendiri. Entahlah. Yang pasti, saya tidak suka membaca tulisan saya sendiri. Titik.

Lucunya, saya suka menulis. Nah lho. Akibatnya, yang saya lakukan adalah menulis dan kemudian melupakannya.


Superhero Cyber

Superhero – di komik – muncul karena ketidakmampuan penegak hukum dalam menegakkan keadilan. Maka muncullah orang-orang swasta yang menegakkan hukum sendiri. Vigilante. Tentu saja dalam keadaan normal, hal ini tidak dibenarkan. Tapi, ini kan keadaan abnormal. Maka muncullah superhero.

Dunia maya – cyber – sama seperti dunia nyata. Penegak hukum masih tertatih-tatih dalam menegakkan keadilan di dunia maya. Maka semestinya muncul juga superhero dunia maya. Cyber vigilante.

Saat ini sudah ada beberapa cerita tentang superhero di dunia cyber. Baru-baru ini saya melihat ada film seri yang berjudul Mr. Robot. Saya baru melihat satu episode. Belum tahu episode selanjutnya. Mungkin ada film-film yang sejenis ini.

Sayangnya karakter superhero cyber ini belum dikembangkan secara lebih sempurna seperti halnya karakter para superhero di dunia komik (dan sekarang menjadi film). Nampaknya ini membutuhkan story teller kawakan untuk mengembangkannya.

Atau kita buat yuk? Kita kembangkan karakternya secara keroyokan. Kita jadikan sebuah proyek.


Takut Kreatif

Dalam diskusi bebas di acara CodeMeetUp() tadi siang, terlontar pertanyaan bagaimana membuat tulisan yang baru dan rutin (banyak) di blog. Bagaimana mendapatkan topik untuk bahan tulisan? Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan ini terkait dengan kreativitas.

Sebetulnya untuk menjadi kreatif itu mudah. Modalnya hanya mengkhayal. Selain mudah, murah juga. Tidak ada biaya. Masalahnya, kebanyakan orang ragu bahwa dia bisa kreatif. Takut kreatif. Untuk mengatasi takut kreatif ini ada beberapa latihan yang dapat dilakukan. Mari kita coba.

Ambil selembar kertas dan pensil (atau ballpoint juga boleh). Tuliskan sepuluh hal atau obyek yang muncul di kepala kita saat ini. Ayo. Dicoba … Hasilnya seperti apa?

Jika Anda tidak dapat membuat list 10 hal itu, bagaimana mau membuat tulisan di blog. ha ha ha. Saya yakin Anda pasti bisa menuliskan 10 hal tersebut. Ada yang membutuhkan waktu yang singkat, ada yang butuh waktu sedikit lebih lama. Jika Anda lakukan ini setiap hari, maka brainstorming seperti akan menjadi mudah bagi Anda. Tidak percaya? Coba lakukan dalam waktu satu minggu. Nah, yang ini bukan masalah bisa atau tidak. Ini hanya masalah mau atau tidak saja.

Latihan kedua terkait dengan daftar yang Anda buat itu. Perhatikan apakah hal-hal atau obyek-obyek yang Anda tuliskan itu biasa, aneh, atau terkait dengan sebuah situasi (misal Anda di kantor, kemungkinan obyek-obyek yang ada di seputaran Anda yang akan Anda tuliskan). Menurut Anda, apakah hal-hal yang ada di daftar tersebut menarik atau tidak? Latihan selanjutnya – setelah Anda menguasai brainstorming ini untuk beberapa hari – Anda dapat lebih memaksakan diri untuk membuat topik yang bertema tertentu atau justru tidak boleh terkait antara satu hal dengan hal lainnya.


Ngeblog Amatiran Saja

Membaca koran Pikiran Rakyat hari ini (Minggu, 17 Mei 2015), ceritanya tentang ngeblog. Judulnya “Bisnis manis menulis blog”. Hmmm…

IMG_8408 bisni blog

Mungkin saya agak berbeda pandangan dengan mereka yang menulis blog untuk tujuan komersial ya. Saya sih menulis blog untuk tujuan lain – salah satunya adalah belajar menulis dengan baik – bukan semata untuk berbisnis. Kalau ada duitnya ya bagus tetapi bukan itu tujuan utamanya.

Sudah ada banyak orang yang bertanya mengapa blog ini tidak saya komersialkan, mislnya dengan memasang iklan secara pribadi atau melalui Google. Jawaban saya adalah saya belum tertarik. Jawaban sebetulnya adalah karena males aja. Ngeblog amatiran saja ah.

Kalau menulis seperti sekarang ini bebas tanpa tekanan (dari diri sendiri). Tidak ada aturan atau targetan khusus yang ingin saya capai. Topik atau judul tulisan juga sesuka saya. Tidak perlu dikemas sedemikian rupa sehingga ramai dikunjungi orang (SEO stuff). Ada banyak yang baca ya Alhamdulillah. Tidak ada yang baca, juga tidak masalah. Entah ini baik atau buruk, yang pasti menyenangkan bagi saya. he he he. Itu yang penting, bukan?


Terlalu Banyak Berencana

Rencana saya pagi ini adalah ingin membuat dokumentasi program twitter crawler yang saya buat. Membuat dokumentasi merupakan pekerjaan yang kurang disukai oleh engineer. Tahu, dokumentasi itu penting, tetapi tetap saja prioritas dari upaya dan daya untuk mendokumentasi itu rendah.

Masalah saya adalah di kepala saya sudah ada rencana mau nulis ini dan itu. Untuk itu dibutuhkan waktu sekian lama. Oke, harus menyiapkan meja. Musik siap. Kopi harus buat dulu. Dan seterusnya. Kebanyakan berencana sehingga waktu yang sesunguhnya digunakan untuk menulis menjadi sedikit. Begitu mikir bahwa waktu menulisnya sedikit, maka mood turun lagi. Wah, males deh. Ngopi dan mendengarkan musik iya, menulis tidak. he he he.

Ngeblog dulu ah … Woles weh …


Ke(tidak)percayaan Kepada Berita Online

Dulunya citizen journalism digembar-gemborkan akan “membunuh” surat kabar konvensional. Akan banyak orang menulis di internet – melalui blog, web site, portal, dan kawan-kawannya – sehingga surat kabar akan mati. Ternyata ini tidak (belum?) terjadi.

Salah satu permasalahan yang muncul adalah ternyata banyak tulisan (berita?) di internet itu yang bohong. Jurnalisme? Wah, nampaknya jauh dari itu.

Lucunya, banyak orang yang terlalu percaya kepada “berita” di internet. Atau lebih tepatnya, mereka mencari “berita” yang sesuai dengan cara pandang mereka dan kemudian inilah yang dipercaya sebagai “kebenaran”. Sementara itu berita yang lain (yang boleh jadi benar atau tidak benar) dianggap sebagai bukan berita.

Jika ini dibiarkan, maka ketidakpercayaan kepada tulisan atau berita online akan terjadi. Untuk membangun kepercayaan itu tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Wah.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.634 pengikut lainnya