Topik Tulisan di Blog

Bolak-balik saya menuliskan tentang hal ini, (mencari) topik tulisan di blog. Tadi pagi ketika presentasi saya juga bercerita tentang program (skrip perl) yang saya buat untuk menghasilkan topik (topic generator). Sebetulnya program ini memilih secara random data topik yang saya simpan di dalam database. Jadi sesungguhnya topik-topik tersebut sudah saya buat duluan. ha ha ha.

Rencana saya adalah tiap hari melakukan brainstorming sendiri, mencari topik tulisan dan memasukkannya ke dalam database tersebut. Ternyata ini tidak kejadian. Update database tersebut mungkin saya lakukan beberapa bulan sekali dengan memasukkan beberapa topik sekaligus. Jadi sifatnya batch tidak rutin. Ini buruk.

Ada ide juga untuk membuat sistem yang online, mengajak Anda untuk memasukkan topik ke dalam database tersebut. Tidak susah membuat aplikasi online ini, tetapi ini membutuhkan waktu, yang mana saya justru waktu senggang ini yang tidak saya miliki. Nah, bagaimana jika Anda-Anda menyumbangkan topik-topik tersebut melalui komentar di tulisan ini saja? Jika ada 365 komentar usulan topik, maka itu topik-topik ini bisa digunakan untuk menulis blog selama satu tahun. ha ha ha.

Saya mulai dengan beberapa usulan topik untuk tulisan di blog Anda. Ini dia.

  1. Jika Anda menjadi seekor binatang, binatang apakah Anda? Ceritakan tentang mengapa Anda memilih binatang itu. (Ternyata untuk menjawab ini tidak gampang ya? Jangan-jangan gara-gara sulit untuk menjawab pertanyaan ini maka Anda tidak menulis di blog. ha ha ha. Harus buat topik yang lebih gampang.)
  2. Ceritakan salah satu pengalaman lucu atau aneh yang Anda alami ketika Anda masih sekolah SD. (Saya punya banyak cerita. Salah satunya adalah di SD saya dahulu, kami tiap hari upacara. Bukan hanya hari Senin saja, tapi betul-betul *TIAP HARI*. Tapi seingat saya, itu tidak masalah kok. Tidak menjadi sesuatu yang memberatkan. Hasilnya, kami lebih disiplin.)
  3. Ceritakan tentang salah satu kejadian yang memalukan bagi Anda. (Ini pasti banyak, tapi mosok hal-hal yang memalukan diceritakan di blog??? No way! Next topik! hi hi hi)
  4. … [nanti saya tambahkan lagi]

Nah, sekarang giliran Anda untuk menyumbangkan usulan topik-topik. Mari kita lihat apakah tulisan ini bisa meghasilkan komentar-komentar dengan total topik sampai 365 topik.

Mencari Topik Itu Gampang

Salah satu alasan yang paling banyak digunakan untuk tidak menulis blog adalah kesulitan mencari topik. Bagi saya ini justru yang paling gampang. Yang paling susah adalah mencari waktu untuk menulisnya itu lho.

Untuk membuktikan bahwa mencari topik itu gampang, coba jawab pertanyaan berikut:

  • sebutkan gambar (image) yang ada di pikiran Anda saat ini;
  • apakah Anda mudik (karena 2 hari lagi Lebaran) dan kalau tidak, mengapa?
  • adakah hal yang aneh-aneh atau menarik dalam Lebaran (atau mudik) kali ini?

Ada banyak pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kemudian dapat dijadikan topik tulisan blog. Sebagai contoh, dari tadi pagi saya masih tetap terbayang gambar yang ada di halaman Google. Ini gambarnya.

mudik-2016-5638818859319296-hp

Ternyata Google mengetahui bahwa orang Indonesia sedang sibuk-sibuknya terima bingkisan (parcel) dan juga mudik. hi hi hi. Lucu juga. Google tahu bahwa banyak orang Indonesia yang menjadi pengguna internet – dan tentunya pengguna Google juga. Makanya mereka membuat gambar ini.

Nah, ini hanya salah satu contoh untuk topik tulisan blog. hi hi hi. (Sekarang lagi musim buat tulisan yang isinya adalah CONTOH, seperti contoh undangan berbuka puasa. he he he.)

Yang menjadi masalah adalah bukan mencari topiknya, tetapi menceritakannya. Story telling. Yang ini masalah terpisah. Komentar singkat saya terhadap hal ini adalah banyak-banyak menulis saja. Lama kelamaan jadi kebiasaan bercerita dan mudah-mudahan makin menarik cara berceritanya.

Buku (Catatan) Teknis

Dalam keseharian  ada banyak hal yang harus saya lakukan, mulai dari menjadi administrator sistem sampai ke programmer. Ditambah lagi, saya sebagai pengguna. Ada beberapa banyak hal yang harus saya kuasai.

Selain membaca manual, saat ini banyak tempat di internet untuk mencari jawaban. Bahkan membuka situs “stackoverflow” sering dianggap sebagai cara standar untuk mencari jawabab, bukan membaca manual. ha ha ha.

Permasalahan saya adalah saya mudah lupa. Jadi, misalnya saya sudah bisa ngoprek database MongoDB kemudian beberapa waktu kemudian saya lupa apa yang saya lakukan. Hanya sekedar untuk membuka database saja saya sudah lupa. Untuk mencari tahu, bisa cari di internet lagi, tetapi ini butuh waktu dan internet yang bagus.

Nampaknya saya harus membuat buku catatan sendiri. Catatan sendiri ini bagusnya juga dibuat tersedia untuk orang lain agak dapat dimanfaatkan juga. Dengan kata lain, saya harus membuat buku. Nah ini dia masalahnya. Saya kebanyakan mikir untuk membuatnya. Misalnya, saat ini saya sedang mencari LaTeX styles yang pas untuk buku saya. Ini lagi baca-baca tanya jawab di internet (tex.stackexchange.com – ha ha ha). Soalnya kalau bukunya jelek juga nggak menarik untuk dibaca diri sendiri.

Sekarang lagi baca manual dari “memoir style”. Mau nulis mesti baca manual dulu. Kelamaan ya?

Jreng ah!

Kotretan

Di luar negeri ada istilah “the back of napkin”, di belakang kertas tissue. Konteksnya begini. Seringkali orang bertemu di kantin atau kafetaria atau restoran untuk membicarakan sebuah prospek bisnis atau penelitian. Nah, mereka membutuhkan kertas untuk corat-coret, tetapi yang ada hanya kertas tissue (napkin). Maka corat-coret dilakukan di sana; in the back of a napkin.

Bongkar-bongkar tumpukan kertas yang mau dibuang, saya menemukan ini.

BR back of napkin

Ini adalah corat-coret saya ketika mendiskusikan pembentukan salah satu start-up saya. Hi hi hi. Beginilah bentuknya. Tidak dibuat formal dalam bentuk materi presentasi atau dokumen yang tercetak rapi. Corat-coret ini dilakukan di kertas yang ada pada saat itu. Meskipun bukan napkin, tapi ini masih satu kategori.

Sudah banyak saya melakukan hal seperti ini. Jadi, ketika kalian memulai usaha (starting up) dan corat-coretnya seperti ini (bukan dalam materi yang rapi), jangan khawatir. Memang banyak orang (sukses) yang melakukannya seperti itu.

Tidak Suka Membaca

Saya suka membaca, tetapi mengapa judul dari tulisan ini adalah tidak suka membaca? Sebenarnya saya juga tidak suka membaca. Lho? Kok? Yang tidak suka saya baca adalah tulisan saya sendiri. Jadi saya suka membaca tulisan orang lain, tetapi saya tidak suka membaca tulisan sendiri.

Saya tidak tahu apa alasannya. Seringnya saya merasa tulisan saya kok hanya segitu saja. Jelek. Merendahkan diri sendiri. he he he. Mungkin saya terlalu berat dalam mengkritik diri sendiri. Entahlah. Yang pasti, saya tidak suka membaca tulisan saya sendiri. Titik.

Lucunya, saya suka menulis. Nah lho. Akibatnya, yang saya lakukan adalah menulis dan kemudian melupakannya.

Superhero Cyber

Superhero – di komik – muncul karena ketidakmampuan penegak hukum dalam menegakkan keadilan. Maka muncullah orang-orang swasta yang menegakkan hukum sendiri. Vigilante. Tentu saja dalam keadaan normal, hal ini tidak dibenarkan. Tapi, ini kan keadaan abnormal. Maka muncullah superhero.

Dunia maya – cyber – sama seperti dunia nyata. Penegak hukum masih tertatih-tatih dalam menegakkan keadilan di dunia maya. Maka semestinya muncul juga superhero dunia maya. Cyber vigilante.

Saat ini sudah ada beberapa cerita tentang superhero di dunia cyber. Baru-baru ini saya melihat ada film seri yang berjudul Mr. Robot. Saya baru melihat satu episode. Belum tahu episode selanjutnya. Mungkin ada film-film yang sejenis ini.

Sayangnya karakter superhero cyber ini belum dikembangkan secara lebih sempurna seperti halnya karakter para superhero di dunia komik (dan sekarang menjadi film). Nampaknya ini membutuhkan story teller kawakan untuk mengembangkannya.

Atau kita buat yuk? Kita kembangkan karakternya secara keroyokan. Kita jadikan sebuah proyek.

Takut Kreatif

Dalam diskusi bebas di acara CodeMeetUp() tadi siang, terlontar pertanyaan bagaimana membuat tulisan yang baru dan rutin (banyak) di blog. Bagaimana mendapatkan topik untuk bahan tulisan? Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan ini terkait dengan kreativitas.

Sebetulnya untuk menjadi kreatif itu mudah. Modalnya hanya mengkhayal. Selain mudah, murah juga. Tidak ada biaya. Masalahnya, kebanyakan orang ragu bahwa dia bisa kreatif. Takut kreatif. Untuk mengatasi takut kreatif ini ada beberapa latihan yang dapat dilakukan. Mari kita coba.

Ambil selembar kertas dan pensil (atau ballpoint juga boleh). Tuliskan sepuluh hal atau obyek yang muncul di kepala kita saat ini. Ayo. Dicoba … Hasilnya seperti apa?

Jika Anda tidak dapat membuat list 10 hal itu, bagaimana mau membuat tulisan di blog. ha ha ha. Saya yakin Anda pasti bisa menuliskan 10 hal tersebut. Ada yang membutuhkan waktu yang singkat, ada yang butuh waktu sedikit lebih lama. Jika Anda lakukan ini setiap hari, maka brainstorming seperti akan menjadi mudah bagi Anda. Tidak percaya? Coba lakukan dalam waktu satu minggu. Nah, yang ini bukan masalah bisa atau tidak. Ini hanya masalah mau atau tidak saja.

Latihan kedua terkait dengan daftar yang Anda buat itu. Perhatikan apakah hal-hal atau obyek-obyek yang Anda tuliskan itu biasa, aneh, atau terkait dengan sebuah situasi (misal Anda di kantor, kemungkinan obyek-obyek yang ada di seputaran Anda yang akan Anda tuliskan). Menurut Anda, apakah hal-hal yang ada di daftar tersebut menarik atau tidak? Latihan selanjutnya – setelah Anda menguasai brainstorming ini untuk beberapa hari – Anda dapat lebih memaksakan diri untuk membuat topik yang bertema tertentu atau justru tidak boleh terkait antara satu hal dengan hal lainnya.