Tag Archives: Musik

A Day in the Life

Saking sibuknya, sampai saya bolos ngeblog beberapa hari ini. (Wuih. Seminggu.) Ingin tahu kesibukan saya? Ini contohnya. Hari Kamis, 8 September 2016.

Hari itu, saya menjadi moderator di peluncuran “Connected Government Community“, yaitu sebuah portal untuk bertukar sesama penggiat atau pengamat eGovernment. Silahkan mendaftar di sana dan kita bisa langsung diskusi dan berbagi.

Acaranya dimulai pagi hari. Nah, saya berangkat dari Bandung pagi harinya. Karena khawatir kena macet, maka saya berangkat dari Bandung dengan mengendarai kendaraan sendiri pukul 3:30 pagi. Iya pagi sekali. (Bangunnya jam berapa coba?) Shalat Subuh dilakukan di rest area Km 42.

Sampai di Jakarta pukul 6:30 pagi. Jam segini belum banyak tempat yang buka (untuk sarapan). Jadinya saya ke McDonald’s Sarinah Thamrin. Sarapan di sana. (Foto sarapannya gak ada. Biasanya sih saya potret juga. hi hi hi.) Dari sana saya menuju tempat acara peluncuran di Bebek Bengil Menteng.

29561678755_40d5ef0f0d_o-0001

Talk show di peluncuran portal Connected Government Community

Setelah selesai acara dan makan siang, saya kembali menuju ke arah Sarinah. Sebetulnya ke jalan Sabang karena mau check in ke hotel dahulu. Mobil masih saya tinggal di Sarinah. Dari Bebek Bengil saya jalan kaki saja karena naik taksi terlalu dekat. Ojek juga ternyata gak ada. Setelah check in hotel, saya kembali menuju ke Sarinah untuk mengambil tas baju.

Sampai di Sarinah, kok haus. Ah, ke McDonald’s dulu aja beli minuman. Eh, begitu masuk terdengar nama saya dipanggil. Ternyata ada beberapa kawan yang tergabung dalam komunitas IoT (Internet of Things) Indonesia sedang berkumpul di sana. Langsung gabung jadinya.

p_20160908_142054_bf-iot

Sebetulnya saya janjian dengan kawan saya, Iman Fattah, untuk ngopi bersama. Saya dan Iman dulu menjalankan toko musik digital bersama. Selain itu kami juga punya selera musik yang aneh-aneh. he he he. Lagu-lagu karya Iman Fattah ada juga di Insan Music Store. Setelah kontak-kontakan, akhirnya Iman menuju coffee shop Excelso di sebelah. Jadinya saya ngopi dengan Iman.

28948378934_64593f1c46_o

Ngopi dengan Iman

Setelah dari sana saya baru masuk ke hotel. Setelah itu saya langsung ke Pacific Place karena janjian dengan mas Yockie Suryo Prayogo, sang maestro musik Indonesia. Lagi-lagi mau ngopi bersama. Akhirnya saya, mas Yockie, dan mbak Tiwie ketemuan di Coffee Bean di Pacific Place.

29480564971_6bebc42ae8_o

Ngopi dengan mas Yockie dan mbak Tiwie

Sebetulnya saya ke Pacific Place mau ke Hardrock Cafe. Ada cara Queen’s night, dan yang main adalah GOSS Band yang saya kenal lewat kang Diunk. Eh, ternyata sebelum ke sana ketemu dengan beberapa orang; mas Kadri, Once, Kelana. Akhirnya potret-potretan dulu dong.

28937799333_7920e93542_o

gerombolan apa ini?

Dari sana kami bersama menuju ke Hardrock Cafe. Nonton Queen’s night lah; Freddy for a day. Ini hari ulang tahun Freddy Mercury. Potretan dulu lagi dengan kang Diunk (Nur Sumintardja). Terima kasih, kang Diung, kami sudah diberi kesempatan ikutan nonton.

p_20160908_213648_bf-diunk

Yeah, yeah, yeah. Jreng!

Nonton acara Queen’s nightnya gak sempat sampai selesai karena saya besok paginya harus ke Bandung. Itu dari jam 3 pagi belum tidur. Jadi sekitar jam 11 malam saya balik ke hotel. Besok paginya, habis Subuh harus langsung menuju Bandung dan langsung menuju kelas di kampus ITB. Ngajar jam 8 pagi. hi hi hi.

Begitulah contoh kesibukan saya. Kali ini banyak ketemuan dengan orang-orang yang berhubungan dengan musik.

 

 


Checksound

Hari Senin kemarin, kami (BandIT) manggung lagi. Main band, maksudnya. Manggung di acara tertutup, closed group di Foodism (Jakarta).

Salah satu kegiatan yang penting sebelum manggung adalah checksound. Pada intinya, checksound adalah melakukan setup perangkat (gitar, bass, keyboards, drums, dll.) dengan sound system (amplifier) yang akan digunakan. Selain itu juga checksound digunakan untuk mengetahui setup mikropon (microphone).

Checksound merupakan salah satu aktivitas yang sangat penting. Pasalnya, setiap panggung memiliki konfigurasi yang berbeda. Luas panggung, ruangan (indoor atau outdoor), amplifier yang digunakan, letak speakers dan monitor, dan seterusnya. Perbedaan ini membuat setingan tidak sama. Suara gitar bisa terdengar kurang keras atau terlalu keras. Dari sisi penyanyi juga salah satu yang sangat penting adalah dapat mendengar suaranya sendiri via speaker monitor. Seringkali suara sendiri tidak terdengar sehingga kita tidak dapat mengontrol suara kita. Fals hasilnya.

Beberapa kali saya pernah manggung tanpa checksound. Hasilnya kacau. Oleh karena itu sekarang saya selalu memaksa melakukan checksound sebelum manggung.


Tentang Toko Musik Digital

Saya akan berada di UNPAD pada tanggal 24 Mei 2016 ini untuk acara ENHARMONICS.

BR enharmonics.jpeg

Saya akan cerita tentang perjalan toko musik digital kami, Insan Music Store. Sebelum hadir, silahkan daftar dulu di toko musik kami. Silahkan coba download. Nanti kami tunjukkan cara pembeliannya dengan menggunakan Mandiri e-cash.

Jreng ah!


Launching Insan Music Store

Hari Sabtu ini, 9 April 2016, Insan Music Store akan mengadakan acara launching di Bandung.

Tempat: Telkomsel Loopstation, Jl. Diponegoro 24, Bandung
Waktu: pukul 8:00 pagi s/d pukul 17:00

Launching ims spanduk

Pada acara ini, saya akan menjelaskan tentang apa itu “toko musik digital” dan dunia musik digital. Kita bisa lihat banyaknya toko musik konvensional (fisik) yang tutup. Demikian pula penjualan lagu yang jatuh. Bagaimana seharusnya para artis musik / musisi menyikapi hal ini? Pada awalnya tidak ada platform yang memudahkan bagi para artis musik Indonesia untuk mempromosikan dan menjual lagunya. Sekarang ada:

toko.insanmusic.com

Saya juga akan menjelaskan bagaimana proses pembelian lagu melalui Mandiri e-cash. Datang saja, nanti langsung dibuatkan akunnya dan langsung bisa membeli lagunya. Sudah pada punya akun di toko.insanmusic.com belum? Ayo buat. Gratis lho. Demikian pula buat (atau nanti kita buatkan akun Mandiri e-cash-nya).

Tentu saja acara akan diramaikan dengan band-band yang berada di Insan Music Store dan Roemah Creative Management.

Launching ims flyer

Ditunggu kedatangannya ya. Jreng!

Launching ims backdrop


Platform Distribusi Lagu Digital

Kadang saya bingung melihat banyak artis musik dan asosiasi (artis) musik yang ribut soal pembajakan. Mereka telah menghasilkan karya dan kemudian meras bahwa dunia digital memudahkan orang untuk “membajak” lagu mereka. Terminologi “membajak” di sini adalah mengambil (download atau sejenisnya) lagu (karya) mereka tanpa membayar.

Ok lah pembajakan digital ini tidak benar secara hukum dan etika. Lantas apa solusinya? Sebagian besar tidak membicarakan solusi. Hanya berkeluh kesah tentang pembajakan itu. Iya, lantas apa solusinya? Pokoknya nggak mau dibajak. Iyaaaa … apa solusinya?

logo-insan-musicDahulu saya dapat memahami tentang sulitnya mengatakan solusi karena belum tersedia layanan / aplikasi / teknologi / framework / platform untuk itu. Sekarang sudah banyak. Kami, salah satunya, membuat platform distribusi lagu digital di Insan Music Store. Silahkan lihat ke toko digital kami di toko.insanmusic.com. Anda bisa langsung membuat akun manager dan kemudian membuat channel musik digital Anda (sebagai artis, atau sebagai manager artis musik).

Seharusnya keluh kesah mengenai “pembajakan” ini dapat berkurang. Eh, saya lihat tidak juga. Para artis musik ini masih tetap saja melihat ke belakang, yaitu masih berkeluh kesah tentang pembajakan tanpa mau mencoba platform tersebut. Ya, mana bisa selesai masalah dengan berkeluh kesah saja.


Download Lagu Legal

Beberapa tahun yang lalu – sebetulnya sudah lamaaa banget, tahun 89? – saya membuat beberapa lagu. Lagu-lagu tersebut saya karang ketika saya berada di Kanada. Sayang juga kalau lagu tersebut hilang demikian saja. Lumayan kalau bisa didengarkan oleh orang lain. Saya yakin banyak dari Anda yang punya lagu dan punya masalah yang sama.

Selain itu mungkin juga Anda punya teman yang punya band tetapi tidak tahu harus diapakan lagu-lagunya. Mereka ingin mempromosikan lagunya. Bahkan lebih dari sekedar itu. Mereka ingin lagunya juga bisa diunduh (download) secara legal (dan berbayar).

Kalau dahulu belum banyak tempat untuk upload lagu-lagu. Sekarang sudah ada banyak tempat untuk upload lagu-lagu tersebut. Yang paling terkenal tentunya adalah iTunes. Hanya saja untuk upload ke iTunes tidak mudah. Itu juga tempatnya di luar negeri.

Nah, saya memiliki toko musik digital – Insan Music Store (IMS). Situsnya adalah toko.insanmusic.com. Beberapa hari yang lalu, saya nekad upload beberapa lagu saya. Sekarang lagu-lagu tersebut sudah dapat didownload di sini:

toko.insanmusic.com/artist/budi-rahardjo/

Ini screenshot-nya.

10623542_10153431155266526_5814226168791331358_o

Ayo download lagu-lagu saya secara legal. Untuk mencobanya, silahkan Anda bergabung (membuat akun, create account). Gratis kok. Ayo ceritakan pengalaman Anda setelah mencoba toko musik digital saya.

Oh ya, kalau Anda (atau teman Anda) punya band, silahkan bergabung juga.


Hilangnya Indra Sosial Musisi Indonesia

Salah satu musisi favorit saya saat ini adalah Steven Wilson (akun Facebook). Dia dikenal banyak orang melalui band Porcupine Tree yang beraliran progressive rock. Sekarang dia justru lebih produktif dengan karya-karya pribadinya. (Termasuk memproduksi band atau artis lainnya.)

Steven_Wilson_Hand_Cannot_Erase_coverAlbum besar Steven Wilson yang baru adalah “Hands. Cannot. Erase“. Album ini terinspirasi dari sebuah kejadian menyedihkan. Tersebutlah seorang perempuan muda bernama Joyce Carol Vincet yang tinggal di London. Joyce ditemukan meninggal di apartemennya. Yang menyedihkannya adalah jenasahnya baru ketahuan setelah lebih dari 2 tahun! Joyce ini adalah orang biasa seperti kita-kita. Mengapa temannya atau saudaranya tidak ada yang tahu? Tidak ada yang menanyakan keberadaan dia setelah sekian lama?

Baru-baru ini kejadian yang mirip juga terjadi di Xian, Cina. Ditemukan seorang yang meninggal di lift setelah terjebak selama sebulan. Sebulan! Bagaimana mungkin ini terjadi?

Mungkin ini adalah arah dari masyarakat kita? Makin tidak peduli. Ditambah lagi dengan gadget atau handphone. Semakin tidak peduli dengan sekeliling kita.

Yang ingin saya soroti dalam tulisan ini adalah kesensitifan dari Steven Wilson. Dia membuat karya musiknya bukan sekedar membuat bunyi-bunyian yang enak didengar, tetapi juga memiliki misi sosial. Dia memotret kondisi sosial – dalam hal ini kejadian di Inggris tempat dia berada – dan kemudian mencoba mengingatkan kita. Inikah yang kita inginkan?

Indra Steven Wilson untuk menangkap kondisi sosial ini masih berjalan dengan baik. Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Ah, kebanyakan karya yang diciptakan saat ini lebih ke arah “aku cinta aku”, “sedihnya aku”, dan sejenisnya. Aku, aku, dan aku. Mending kalau “Aku”-nya Chairil Anwar. Kemana karya atau lagu yang berisi kritik sosial? Sebagai contoh, lagu karya Yockie Suryo Prayogo – “Kehidupan” yang dikenal melalui band God Bless.

Semoga musisi Indonesia (yang masih muda) dapat mengasah indra sosialnya dan dapat memotret kondisi sosial bangsa Indonesia.