Tag Archives: Musik

Bongkar Gitar

Senar gitar putus. Terpaksa beli senar satu set. Sekalian waktunya untuk ganti seluruh senar. Bongkar gitar dulu.

IMG_8812 bongkar gitar

Ternyata salah satu masalahnya adalah mencabut pin yang digunakan untuk mengunci senar. Mungkin karena sudah lama belum ganti senar dan memang dia harus tertanam dengan baik sehingga sukar untuk dibukanya. Takut juga saya membukanya. Lihat-lihat dulu di internet tentang cara membukanya. Katanya pakai tang, tapi saya takut malah tang itu merusak pin-nya.

IMG_8815 ungkit pin 1000

Akhirnya saya putuskan untung mengungkit pin tersebut dengan obeng kecil. Eh, ternyata berhasil dengan mudah. (Lihat foto di atas.)

Sekalian juga waktunya untuk membersihkan kotoran (dekil) yang melekat di fretboard. Bingung juga pakai cairan apa. Takutnya malah ngerusak catnya. Akhirnya saya pakai cairan yang biasa digunakan untuk membersihkan keyboard komputer. Lancar jaya.

Terakhir, pasang senar lagi. Saya beli senar yang ukurannya 10. Eh, ternyata terlalu keras. Saya lupa. Kayaknya dahulu saya menggunakan senar yang ukurannya 9. Lebih kecil (light, enteng) dan lebih nyaman di jari. (Tapi jadi tidak terbiasa pakai gitar orang yang umumnya menggunakan ukuran 10.) Akhirnya terpaksa gitar distem turun satu kunci. Beres.

Jreng!


Produktif Karena Berisik

Tadinya saya merasa aneh sendiri karena sering membutuhkan noise (berisik) untuk bekerja secara produktif. Ternyata ini tidak aneh! Aneh juga. (Kok jadi mbulet begini.) Ada teorinya kah?

Kemarin saya memasang aplikasi “anoise” di komputer Linux saya. Aplikasi ini menghasilkan ambient noise dengan suara-suara yang berbeda. Standarnya adalah suara berisik dari kedai kopi (coffee shop). Kalau kita pasang, maka kita berasa bekerja di sebuah kedai kopi. Jadi tidak usah beli kopi mahal di kedai kopi yang terkenal itu. Pasang suara ini di kamar saja dan buat kopi sendiri. Berasa di coffee shop yang mahal. Sekarang tidak alasan untuk tidak produktif.

Yang lucunya, ada suara-suara yang memang berisik seperti orang ngebor jalan (atau pakai timbris?), orang membuat bangunan, suara perahu boat, dan seterusnya. Mungkin memang ada orang yang membutuhkan suara bising seperti itu untuk produktif. Siapa tahu?

Di youtube ada banyak lagu instrumental dengan suara air mengalir yang juga menenangkan hati. Silahkan cari dengan kata kunci “relaxing music” atau “relaxing music instrumental“. Kalau yang ini khawatirnya malah kita jadi ngantuk dan tidur melulu. Produktivitas malah hancur. hi hi hi.

Oh ya, ada juga yang streaming suara-suara coffeeshop seperti Coffitivity.

Semuanya ini sebetulnya memiliki nuansa “Barat”. Kalau yang khas Indonesia ada gak ya? Suara kodok ngorek kali ya? Beneran. Adakah ambient noise yang bernuansa Indonesia? Saya cuma menemukan satu dan itupun suara jalanan. Bukan suara hutan, sungai, air mengalir yang menyejukkan. Nah, siapa tahu ini bisa jadi ide start-up Anda.


Manggung

Bulan Mei kemarin manggung (ngeband) dua kali. Belum sempat saya tampilkan di sini. Eh, foto-fotonya juga saya gak punya. Jadi tidak ditampilkan di sini.

Bulan ini, Juni, baru manggung satu kali. Hari Sabtu kemarin saya manggung dengan anak saya (Luqman) di acara CCE Night (MBA ITB). Pagi harinya saya ada acara 40 hari meninggalnya ayah saya. Salah satu mata acara di CCE Night itu adalah in memoriam Nuri Annisa, mahasiswa penyelenggara CCE Night tahun lalu. Kebetulan Nuri ini juga adiknya Akmal, mahasiswa saya yang kemudian menjadi tim perusahaan saya. Anyway, bagi saya manggung ini juga sebagai bagian dari tribute untuk mereka yang sudah berada di tempat yang terbaik di sana.

Playlist lagunya adalah (1) Creed – One Last Breath, (2) Dream Theater – Wait for Sleep, dan (3) Foo Fighters – Everlong. Lagu terakhir saya pilih untuk menghormati salah satu mentor saya, David Letterman. (Sudah saya tuliskan di blog ini juga.) Kapan-kapan main dengan full band lagi.

Berikut ini cuplikan manggungnya … (Hasil tangkapan dari tabletnya Akmal.) Saya belum punya cuplikan manggung-manggung sebelumnya.

Selamat menikmati.


Masalah Band Amatiran

Ada dua hal yang paling susah dalam band amatir ketika manggung, yaitu (1) berhenti bersamaan di akhir lagu, dan (2) recover kalau ada kesalahan dalam memainkan lagu. Mari kita bahas yang pertama dahulu, berhenti bersamaan.

Dalam memainkan lagu, memulai secara bersamaan itu relatif lebih mudah. Cara paling gampang adalah kita menghitung, satu dua tiga dan jreng. Mulai. Namun kadang memulaipun bermasalah. Nah, kalau mulainya sudah bermasalah ini tanda-tanda akan bermasalah seterusnya. he he he. Biasanya sih ini tidak masalah.

IMG_7929

[Foto Gen81 Band manggung di Ganesha Night, 17 April 2015]

Lagu sudah mulai dimainkan. Kesulitan muncul pada saat akan berhenti. Bagaimana berhenti di akhir lagu? Ada banyak lagu yang aslinya berhenti dengan menggunakan fade out. Makin lama, makin kecil volume suaranya. Kalau manggung, ini tidak bisa dilakukan. Berhenti harus jreng! Harus bersamaan. Itu susahnya. Sering ada yang berhenti duluan dan ada yang masih mau terus. he he he. Kelihatan repotnya band amatiran itu di sini. hi hi hi.

Yang lebih repot lagi adalah kalau ada kesalahan dalam memainkan lagu. Misalnya ada bagian yang harus dimainkan 4 bar. Eh, ini baru 2 bar ada yang sudah pindah ke bagian lain. Nah lho. Bagaimana pemain musik lainnya? Apakah kemudian memaksa untuk memainkan 4 bar? Yang salah ngikut? Atau justru yang lainnya menjadi ngikut hanya 2 bar saja? Masalah recover kalau ada kesalahan itu merupakan yang sering dihadapi. Band yang baru, amatir, biasanya kacau balau kalau ini terjadi. hi hi hi.

Jika dua hal di atas bisa diatasi, maka band terlihat relatif bagus. Setidaknya, kompak! Dan kompak itu susah.


Biaya Akuisisi Pengguna Dalam Start-Up

Ketika kita mengembangkan sebuah usaha start-up, kita harus mendapatkan pelanggan atau pengguna (user) dari layanan atau produk kita. Akuisisi pengguna ini ada biayanya. Pengguna ini  dapat dianggap sebagai salag satu aset dari start-up kita.  Itulah sebabnya sebuah start-up dengan jumlah pengguna yang jutaan dapat bernilai mahal meskipun penghasilannya minim.

logo insan music storeNah, berapa biaya untuk akuisisi pengguna ini? Saya ambil contoh kasus usaha toko musik digital Insan Music Store kami. Dalam kasus kami, pengguna ada dua jenis; (1) artis / musisi / band yang memproduksi lagu-lagu, dan  (2) pembeli lagu-lagu tersebut. Sebetulnya ada juga orang-orang yang hanya mengunjungi situs kami tetapi tidak membeli. Untuk yang ini saya tidak memasukkan dalam hitungan.

Untuk bergabung dengan Insan Music Store, artis / musisi / band tidak dipungut biaya. Hanya saja, sebelum kami dapat melakukan promosi dan jualan, kami harus menandatangani kontrak. Ada meterai yang harus dipasang; 2 x Rp. 6000,-. Kalau ditambah ongkos kertas dan tinta printer untuk mencetak kontrak tersebut, maka biaya untuk satu artis katakanlah Rp. 15000,-. Jadi biaya untuk akuisisi pengguna (cost per acquisition / CPA) kami adalah US$ 1,5.

Biaya ini terlihat kecil ya, tetapi kalau nantinya kami memiliki 10000 artis (atau lebih) maka tinggal kita kalikan saja dengan 1,5 dollar itu. Banyak juga ya?

ims terdaftar

Untuk  akuisisi pembeli lagu saat ini kami belum bisa menghitungnya karena gratis. Jadi, untuk yang ini anggap saja gratis. Padahal sesungguhnya kami harus menyiapkan server untuk database dari pengguna ini. Selain itu, kami melakukan promosi yang ada pengeluaran uangnya. Dugaan saya sih biayanya pukul rata akan sama seperti biaya untuk akuisisi artis tersebut, 15 ribu rupiah juga. Jika kami memiliki satu juta anggota pembeli, maka sesungguhnya biayanya adalah … 15 milyar! Nah lho. hi hi hi

Demikian cerita tentang entrepreneurship, start-up bisnis digital. Semoga bermanfaat.


Kegiatan Insan Music Store

Tadi pagi (Minggu, 7 Desember 2014), Insan Music Store hadir di Bandung Car Free Day. Kali ini suasananya agak mendung. Eh, ternyata malah ada *banyak* stand yang menampilkan senam sehingga sound systemnya saling bersahut-sahutan. Berisik. Namun kami juga akhirnya membuka stand juga.

IMG_6963 insan music store

Hari ini kami juga menandatangani kontrak dengan O2 (Observed Observer) di sana. Semoga kami bisa sukses bersama!

IMG_6969

Saya juga sempat berbincang-bicang dengan kang Yosef (lupa nama belakangnya atau institusinya). Kami ngobrol soal musik, kota Bandung, pendidikan, dan seterusnya. Kebetulan jenis musik yang kami sukai agak mirip-mirip. Dia juga banyak main musik, menjadi music director, producer, dan mengajar kesenian kepada banyak anak-anak. Karena kami juga berlatar belakang Bandung, jadi banyak hal juga yang nyambung. Mudah-mudahan ada kerjasama yang dapat kami lakukan.

Setiap minggu kami mendapatkan artis/band-band baru. Bagus bagus! Sabar ya. Satu persatu akan kami proses. Jreng!


Manggung Di Pasar Seni

Hari ini Tanggal 23 November 2014, BanDos (Band Dosen ITB) manggung lagi di acara Pasar Seni ITB. Manggung kali ini penuh dengan perjuangan. Pertama, kami gagal melakukan checksound kemarin karena hujan! Checksound merupakan hal yang esensial dalam manggung. Ini dibutuhkan untuk mengetahui situasi, sound, setingan, dan seterusnya. Perangkat sound system (amplifier umumnya) dan suasana tempat berbeda sehingga konfigurasi dari amplifier dan efek gitar menjadi berbeda juga.

Masalah utama kali ini adalah panggung kami berada di ruang terbuka, di lapangan rumput Aula Timur ITB. Tanpa atap (tenda). November merupakan musim hujan di Bandung. Sebetulnya mungkin bukan hanya Bandung saja. Di tempat lain, November juga musim hujan. Kan ada lagu “November Rain”.Mari kita nyanyikan bersama.

Seperti sudah diduga, kemarin siang ketika kami ingin melakukan checksound, hujan turun. Tidak terlalu besar, tapi tetap saja hujan. Kami menunggu sampai hujan reda dan mulai setup perangkat. Pada saat yang sama sound system sedang dipasang. Nampaknya kami adalah band pertama yang akan melakukan checksound. Ya ampun.

IMGP0336 jarmadi 1000

[Pak Jarmadi sedang memasang perangkat]

Belum selesai pasang-pasang,eh, gerimis mulai turun lagi. Ugh. Terpaksa kami beberes perangkat. Ditunggu-tunggu, hujan tidak mereda juga. Akhirnya kami putuskan untuk tidak melakukan checksound. (Keesokan harinya kami baru tahu bahwa ada yang mencoba sound di malam harinya.)

IMGP0335 guitars 1000

[my guitar]

Hari H. Minggu pagi, kami sudah berada di tempat. Untung kami masih sempat untuk melakukan checksound secara sederhana, per alat saja. Masalahnya adalah acara sudah mau dimulai pagi itu sehingga kami tidak boleh melakukan checksound secara full. Terpaksa kami hanya sempat memasang alat dan memastikan keluar suaranya saja. Setelah itu kami pinggirkan alat dari panggung karena panggung akan digunakan oleh performance pertama yang mengambil semua panggung. Setelah itu band selanjutnya manggung.

Nah. Giliran kami manggung, kami bersiap-siap memasang alat kembail. Wah sudah mendung lagi. Begitu memperkenalkan para pemain, hujan turus. Hadoh! Kali ini hujannya cukup deras. Maka kami buru-buru menyelamatkan peralatan (keyboard, gitar, efek, colokan listrik) dari hujan. Pengelola sound system juga sibuk memasang plastik di atas amplifier, drums, dan semuanya. Derasnya hujan membuat kami khawatir ada yang korselet (short circuit). Pokoknya tegang saja. Kami sendiri menunggu di tenda belakang panggung yang ukurannya kecil dan padat dengan orang. Waduh. Untung akhirnya ada yang mematikan listrik dari genset sehingga kami mulai tenang.

Hujan berhenti. Kami menunggu sebentar. Setelah itu kami bersihkan air (lap-lap) di perangkat dan sedikit demi sedikit lagi kami naikkan listrik. Eh, baru mau mulai, gerimis lagi. Minggir lagi. Untung kali ini tidak terlalu lama dan tidak terlalu deras. Bahkan tiba-tiba super panas! Matahari mencorong. Saya dapat melihat uap keluar dari karpet di atas panggung. Sayangnya tidak bisa saya potret.

Cepat-cepat kami memasang alat kembali dan langsung jreng! Tanpa ba-bu. Minimal sekali persiapannya. Tapi menurut saya lumayan puas manggungnya. Given the condition, it was great!

Setelah selesai, kami buru-buru membereskan perangkat. Mendung lagi dan kemudian gerimis lagi. Ya ampun. Saya tidak tahu kondisi selanjutnya karena saya buru-buru membawa perangkat saya mengungsi ke lab.

Salah satu akar masalah dari manggung hari ini adalah panggung yang tanpa tenda / atap. Kami berdebat dengan panitia. Panitia tetap tidak mau pasang atap karena mempertahankan aspek artistik dari panggung. Hah!!! Artistik mengorbankan acara? Artistik dengan mengorbankan fungsi? Mungkin karena saya menggunakan kacamata orang teknis maka saya mempertanyakan ini. Seharusnya fungsi dan artistik harus menyatu. Produk dari Apple merupakan salah satu contoh bagaimana fungsi dan artistik yang menyatu. Menurut saya ini merupakan sebuah pelajaran. Lain kali harus diperhatikan situasi (hujan) dan antisipasi terhadap hal itu.

Anyway, lumayan puas manggung hari ini. Capek? Tentu saja. Kaos tadi basah karena sempat kehujanan dan juga keringatan (pas manggung). Phew … Sempat juga tercetus akan larisnya obat batuk dan kerokan. he he he. Semoga kita sehat selalu. Amiiinnn.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.394 pengikut lainnya.