Resensi: Spammer

Tidak banyak novel atau cerita di Indonesia yang bersifat agak teknis. Kebanyakan ceritanya adalah keseharian dan umum-umum saja. Maka adanya sebuah cerita yang teknis – seperti spammer (orang yang melakukan spamming) – sangat menarik bagi saya. Apa lagi latar belakang saya memang urusan komputer.

Saya menerima buku ini, sebuah novel thriller karangan Ronny Mailindra dengan judul “Spammer”. Begitu terima, tidak langsung saya baca karena kesibukan saya. Begitu ada waktu senggang, saya cicil bacanya.

p_20161209_132557-spammer-0001

Novel ini bercerita tentang seorang spammer (yang kerjanya mengirim spamming untuk mendapatkan keuntungan dari orang-orang yang kena spam) yang kena batunya. Tanpa sengaja, berkas yang dia curi dari sebuah komputer tenyata sebuah barang bukti kejahatan. Penjahatnya menyewa hacker untuk memastikan berkas tersebut musnah. Maka terjadilan perang antar kedua orang ahli komputer itu.

Awalnya ceritanya agak lambat (untuk selera saya). Kemudian mulai menjadi cepat dan seru sehingga saya harus menyelesaikannya dengan cepat. (Saya baca dalam dua hari. Bahkan ada yang sampai lewat tengah malam.)

Seringkali dalam film atau novel yang bercerita tentang teknis komputer (IT) ada hal-hal yang tidak akurat. Misal, nomor IP yang digunakan adalah 333.123.123.123. Padahal angka yang digunakan tidak boleh lebih dari 255 (karena 8-bit). Atau perintah-perintah yang diketik di layar salah atau tidak benar. Hal-hal seperti itu sering mengesalkan karena kita jadi tahu bahwa film/novel itu ngasal. Nah, buku ini tidak begitu. Sang pengarang memang punya latar belakang IT sehingga hal-hal yang teknis cukup akurat.

Nilai saya adalah 4,5 dalam skala 5. (Atau kalau dibuat skala 10 adalah 9. hi hi hi.) Recommended bagi orang teknis.

Menulis Novel Lagi?

Sejak dulu sampai sekarang nggak pernah berhasil menulis novel. Saya ingin buat novel untuk diri sendiri, tidak untuk orang lain. Kalau orang lain mau ikutan menikmati sih boleh saja, tapi tujuan saya memang bukan untuk mencari ketenaran atau popularitas.

Soal usaha, saya sudah berusaha keras. Beberapa buku sudah dibaca. Menulis sudah mencoba. Hasilnya setengah matang, bahkan cenderung mentah. Malu membacanya.

Nah, bulan November ini merupakan bulan latihan menulis lagi. Saya ikutan “National Novel Writing Month” (web di nanowrimo.org). Idenya adalah selama satu bulan penuh kami berusaha menuliskan tulisan (novel) secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya kata yang bisa ditulis. Targetnya adalah banyaknya kata. Kuantintas lebih penting dari kualitas. Lho? Serius. Beneran. Saya tidak berbohong. Memang begitu. Coba deh ikutan.

Ini tahun kedua (eh apa ketiga ya?) saya ikutan. Tahun lalu sangat mengecewakan bagi saya karena saya hanya bisa menulis 150 kata. Sisa waktu yang ada saya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Tentu saja pekerjaan masih lebih utama dari upaya menulis novel ini, tetapi setidaknya saya bisa menulis lebih dari 150 kata. Bah, kucing saja mungkin bisa nulis lebih banyak. he he he.

Tahun ini saya tidak berani membuat sebuah target, tetapi saya tetap mau ikutan. Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan dan semuanya membutuhkan waktu saya untuk membaca, berpikir, dan menulis. Agak susah juga membuat waktu untuk mencoba menulis novel. Tapi, saya mau nekad. Kalau tidak dipaksa begini kreatifitas tidka muncul.

Hmmm…. mau nulis tentang topik apa? Maybe a science fiction story? Sebentar, mau nonton Heroes dulu ah. (Mencari alasan pembenaran untuk nonton Heroes. he he he.)