Media Sosial Bukan Tempat Diskusi Serius

Perkembangan teknologi informasi menghasilkan produk (dan servis) yang luar biasa. Salah satu hasilnya adalah media sosial. Karena namanya ada kata “sosial”nya maka saya berasumsi bahwa itu adalah tempat untuk kita bersosialisasi. Salah satunya mungkin bisa jadi tempat untuk berdiskusi serius. Ternyata saya salah.

Media sosial ternyata tidak mampu untuk menjadi tempat diskusi secara serius. Coba saja kita bahas tentang Lapindo, misalnya. Ini salah satu topik berat. Pasti langsung sepi. Krik, krik, krik. Cari topik serius lainnya lagi, masalah pendidikan. Hasilnya juga bakalan sama. Sepi.

Kalau topiknya yang hahaha hihihi … langsung ramai.

Nampaknya memang media sosial itu seperti warung kopi, tempat ngobrol ngalor ngidul. Jangan berharap akan melakukan diskusi seperti seminar di kampus-kampus.

Tersadarlah saya. Apakah Anda masih pingsan?

Iklan

Grab vs. Go-Jek

Akhir-akhir ini saya perhatikan lebih banyak pengendara Grab dibandingkan dengan Go-Jek. Ini saya lihat dari atribut yang mereka gunakan; helm dan jaketnya. Apa benar demikian? Apakah ini hanya terlihat di daerah yang saya lalui saja, yaitu antara Taman Pahlawan Bandung sampai ke ITB?

Akhirnya beberapa hari lalu saya mulai menghitung jumlah pengendara Grab dan Gojek. Hari pertama menghitung hasilnya adalah 26 pengendara Grab dan 12 pengendara Go-Jek. Hari berikutnya hampir sama juga. Grab ada sekitar dua kali lipat dibandingkan Go-Jek.

Dua hari yang lalu saya di Jakarta dan mencoba mencari Go-Jek untuk ke statsiun Gambir. Ternyata tidak ditemukan. Aplikasinya muter terus. Saya tidak punya Grab. Untungnya ada yang membantu saya dengan mencarikan Grab. Setelah 10 menit, dapatlah Grab.

Mengapa Grab lebih (terlihat) banyak? Kata orang, diskon Grab saat ini sedang gila-gilaan. Lebih banyak diskonnya dibandingkan dengan Go-Jek. Dengan kata lain, harganya lebih murah. Jadi itukah yang membuat saya melihat lebih banyak Grab dibandingkan Go-Jek? Apakah ini akan bertahan? Bagaimana di tempat Anda?


Kesulitan Kerja Remote: Disiplin

Kemajuan teknologi informasi membuat orang dapat bekerja dari jarak jauh. Remote worker. Seseorang tidak perlu berada secara fisik di kantor, tetapi dapat mengerjakan tugas-tugas kantor yang harus dikerjakan. Secara teknis, tidak ada masalah yang signifikan. Tentu saja ada hal rinci yang harus dikerjakan atau dibereskan, tetapi ini ada solusinya.

Yang menjadi masalah adalah etos kerja. Disiplin. Setelah saya perhatikan ternyata banyak orang (mungkin malah sebagian besar?) orang Indonesia sulit memiliki disiplin dalam bekerja. Jangankan bekerja dari jarak jauh. Bekerja secara fisik di kantor pun sudah memiliki masalah.

Salah satu ujian yang saya berikan (meskipun tidak secara eksplisit saya katakan bahwa ini ujian) adalah kehadiran di kantor untuk 3 bulan pertama. Biasanya untuk pekerja baru, mahasiswa kerja praktek / magang, dan sejenisnya, saya haruskan mereka hadir setiap hari ke kantor. Ini untuk mengajari tentang disiplin. Jika disiplin ini sudah ada, maka bekerja di tempat lain merupakan langkah selanjutnya.

Ternyata hanya untuk hadir secara rutinpun sudah menjadi masalah. Seminggu rajin, minggu-minggu berikutnya mulai berat. Bulan kedua mulai terlihat mana yang memiliki disiplin dan mana yang tidak / belum.

Jadi, saya masih belum yakin bahwa bekerja dari jarak jauh (remote worker) akan dapat dilakuan di Indonesia. Ini pendapat umum. Tentu saja ada yang bisa. Di tempat saya, ada banyak yang memang dapat bekerja secara remote.

Ketekunan

Tidak ada bosannya saya menulis tentang topik ini. Ini sekedar mengingatkan bagi yang lupa atau malah belum tahu (kayaknya tidak mungkin ya?).

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah ketekunan dalam belajar, bekerja, berkarya, berolahraga, berkesenian. beragama, dan ber-ber lainnya lagi. Sebagian besar orang mudah menyerah dan menggunakan berbagai alasan untuk pembenaran. Padahal sesungguhnya tantangan terbesar adalah dalam diri kita sendiri.

Sebagai contoh, saya rajin berolahraga. Dalam hal ini saya memilih futsal. Seminggu setidaknya saya dua kali futsal. Sekarang malahan tiga kali seminggu futsalnya. Saya memang suka futsal, tetapi untuk berangkat ke tempat futsal selalu ada banyak tantangan. Kesibukan, ngantuk, hujan, dan banyak hal lainnya. Kadang ketika mau berangkat terasa sangat malas sekali. Kadang hujan besar. Ah, ada alasan untuk tidak futsal. Ketika dijalani, eh, ternyata tidak terlalu sulit. Semua ada di kepala. Seringkali saya melihat orang yang tidak hadir ke futsal karena banyak alasan. ha ha ha.

Belajar juga demikian. Saya termasuk yang selalu bersemangat belajar. Kepada siapapun saya belajar. Bahkan saya termasuk yang mengejar belajar. Ada yang mau mengajari ini atau itu, maka saya mencoba hadir ke sana. Biar jauh juga. Biar sudah lelah juga. Sementara itu banyak orang yang inginnya disuapi. Hanya bilang ingin belajar, tetapi ketika disediakan materinya dan pembicaranya, mereka tidak hadir dengan berbagai alasan. Jadi kalau ada orang yang ingin belajar kepada saya, saya hanya tertawa saja. ha ha ha. Serius? (Saya akan bahas topik ini dengan lebih panjang lebar lagi.)

Lantas kalau tidak tekun, mau jadi pandai / jagoan dari mana? Dari Hongkong? ha ha ha.

Pahlawan Musik Indonesia

Hari Pahlawan baru saja lewat beberapa hari yang lalu. Pahlawan tidak harus selalu identik dengan senjata dan perang fisik, tetapi dapat juga melakukan “pertempuran” di dunia yang berbeda. Di dunia musikpun ada pahlawan-pahlawannya.

Sehabis latihan band, kami (Insan Music Band) ngobrol-ngobrol. Topik yang kami angkat kali ini adalah tentang “Siapa Pahlawan Musik Indonesia” menurut pendapat masing-masing. Latar belakang yang berbeda – usia, pendidikan, kawan main, tempat tinggal – akan mengusung nama-nama yang berbeda pula. Karena namanya juga ngobrol-ngobrol santai, mohon dimaafkan guyonan kami (disambi makan dan ngopi pula). hi hi hi. Silahkan simak videonya.

Begitulah pahlawan musik Indonesia menurut kami. Kalau saya, sebetulnya ada banyak, tetapi yang melekat di kepala saya adalah Koes Plus. Maklum, saya besar dengan mendengarkan musik Koes Plus (dan progressive rock – ha ha ha).

Jadi, siapa pahlawan musik Indonesia menurut Anda?

Adab-beradab

Adab (Arabic: أدب‎) in the context of behavior, refers to prescribed Islamic etiquette: “refinement, good manners, morals, decorum, decency, humaneness”.

Apa itu adab? Kutipan di atas merupakan definisi yang dapat kita baca dari Wikipedia. Singkatnya adalah keluakuan baik.

Sayang sekali adab ini kok terlihat menurun ya? Banyak yang dapat dikatakan tidak beradab. Mungkin karena tidak pernah diajarkan dan diharapkan orang dapat beradab dengan sendirinya? Nampaknya ini tidak terjadi. Apa perlu diajarkan kembali di sekolahan? Mungkin, tetapi dengan sudah terlalu banyaknya yang harus dipelajari di sekolahan maka pelajaran adab ini sebaiknya dilakukan oleh keluarga dan masyarakat.

Ambil contoh. Semisal kita benar dalam satu hal, maka akan “kurang beradab” kalau kita memamerkan kebenaran kita itu di depan muka orang yang salah. “Saya benar kan? Kamu salah! Weee” (sambil menjulurkan lidah). Yang seperti ini menurut saya tidak beradab.

Saya sering melihat orang tua yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, tetapi menurut saya mereka lebih berpendidikan (educated) daripada mereka yang sekolahan. Banyak yang punya gelar tapi tidak berpendidikan (uneducated). Nampaknya definisi berpendidikan juga harus kita lihat ulang. Bukan dari gelar, tetapi dari tingkah lakunya.

Setuju?

Numerologi 4.0

Kalau kita perhatikan, saat ini ada banyak penggunakan istilah “4.0”. Dimulai dari “industry 4.0” kemudian melebar kemana-mana. Ada edukasi 4.0, pemerintahan 4.0, dan seterusnya. Pokoknya pakai “4.0” deh. Yang menjadi pertanyaan saya, mengapa angka “4.0” ini menjadi populer ya?

Di dalam tradisi China, angka 4 ini dianggap tidak bagus (tidak menguntungkan) karena sama dengan kata kematian (death). Biasanya angka 4 ini diloncati. Lihat saja bagaimana gedung-gedung – terutama hotel – yang tidak memiliki angka 4. Biasanya dari 1, 2, 3, terus 5, dan seterusnya.

Mungkin perlu kita langsung loncat ke “industry 5.0” saja agar menguntungkan?