Kematian Privasi?

Kematian Privasi ?
Yuk, simak ulasan dari pakarnya.
Buruan daftar, tempat terbatas

nyantrik BR

***
Budi Rahardjo adalah pendiri dan ketua ID-CERT (Indonesia Computer Emergency Response Team) yang berdiri tahun 1998. ID-CERT merupakan tim koordinasi teknis berbasis komunitas independen dan non profit. ID-CERT berawal dari “kenekatan”, karena belum ada CERT di Indonesia pada saat itu. ID-CERT bersama JP-CERT (Jepang) , AusCERT (Australia) dan CERT negara-negara lain di regional Asia Pacific adalah pendiri forum APCERT tahun 2001.

Beberapa insiden yang dilaporkan masyarakat ke ID-CERT antara lain pembajakan akun medsos, pembajakan pengelolaan nama domain, deface, Web/Phishing, spam dan aktivitas internet abuse lainnya. Sebagai pimpinan ID-CERT Budi Rahardjo melihat dan mengalami langsung pasang naik (dan tak pernah surut) beragam insiden keamanan internet di Indonesia.

Melihat ke belakang, Pak Budi, demikian para mahasiswa di ITB memanggilnya, adalah orang Indonesia pertama yang membuat website (dahulu disebut “homepage”) . “The Ultimate Indonesian homepage” adalah halaman web pertama tentang indonesia yang numpang di server University of Manitoba, Canada, tempat Pak Budi bersekolah dan bekerja di awal tahun 90-an. Sebagai informasi halaman web pertama di dunia dibuat oleh Tim Berners-Lee di Swiss pada 6 Agustus 1991 yang berjalan di atas komputer NeXT. Secara kebetulan komputer Pak Budi waktu itu juga NeXT. Singkat cerita, sampai sekarang, belajar dan ngoprek, adalah his way of life.

Malam ini, Kamis 06 Agustus 2020, Jam 19.30, Pak Budi akan mengajak kita untuk berdikusi tentang sesuatu yang (dulu?) menjadi barang berharga kita, yaitu privasi. Apakah benar privasi telah mati di era internet ini? Kami tunggu Anda.

Catatan: Kami membatasi jumlah peserta zoom sebanyak 50-an orang, agar setiap peserta punya kesempatan untuk berdiskusi. Namun jangan khawatir, Anda tetap bisa mengikuti keseruan diskusi secara LIVE di Youtube Channel Budi Rahardjo.

Era Pendidikan 1-on-1

Sekolah dari rumah (school from home) memaksa banyak orang untuk menggunakan teknologi informasi. Mulai ada “masalah” terkait dengan ujian. Kebanyakan guru atau dosen masih menggunakan ujian secara konvensional. Kasih soal yang sama, kemudian semua mahasiswa harus menjawab. Ada LMS (Learning Management System) yang membantu mengacak soal dan jawaban sehingga sedikit menyulitkan bagi mahasiswa yang ingin nyontek atau mengunakan joki, tetapi ini sulit dengan kondisi saat ini.

Saya mengambil pendekatan yang berbeda. Ujian yang saya berikan kepada mahasiswa saya biasanya adalah membuat makalah, yang notabene akan berbeda-beda antar mahasiswa. Dengan kata lain, saya tidak mempunyai masalah nyontek atau joki. Namun timbul “masalah” baru bagi saya, yaitu untuk memeriksanya tidak dapat dilakukan secara gelondongan. Harus satu persatu. Selamat datang di era pendidikan 1-on-1, atau saya terjemahkan 1-ke-1.

Jika digeneralisir, pendidikan jaman sekarang masih bersifat pabrik. Semua siswa dibuat sama. Semua harus bisa mengerjakan soal yang sama. Bahan pelajaran sama. Ujian juga sama. Memang tujuannya adalah lulusannya dapat bekerja di tempat yang sama. Pabrik. Untuk pekerjaan yang individual, pendidikan seperti ini tidak cocok.

Pendidikan 1-ke-1 memberikan perhatian yang spesifik ke satu siswa. Bahan yang diberikan ke satu siswa boleh jadi berbeda dengan siswa satunya lagi. Ada siswa yang mudah mengerti dengan tulisan, sementara ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan diagram. Kecepatan belajar siswa juga akan berbeda. Sekarang semua disamakan. Harus selesai pada saat yang sama. Pada pendidikan 1-ke-1, kecepatan belajar siswa dapat berbeda. Artinya, masuk sekolah dan selesainya pun dapat berbeda.

Dahulu hal semacam ini tidak memungkinkan karena kekurangan tenaga pengajar. Namun sekarang dengan bantuan teknologi informasi (aplikasi, database, big data, artificial intelligence) seharusnya ini dapat dilakukan. Namun memang harus ada upaya yang terstruktur dan terencana untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Ayo kita mulai.

Bugar Setelah Mandi

Salah satu tips bekerja di rumah dari saya adalah mandi sebelum bekerja. Biarpun di rumah, mandi dulu lah. Ini membuat kita segar dan bersemangat untuk bekerja.

Hari ini saya merasa kurang fit. Agak lemas. Dan memang semalam perut agak berontak. Puasa saat ini merupakan tantangan besar bagi saya. Setelah istirahat sejenak, saya memulai hari dengan mandi dulu. Segar. Semoga badan menjadi lebih fit lagi. Setidaknya, semangatnya sudah naik dahulu. Yihaaa…

Bagi saya, mandi membuat badan segar dan meningkatkan semangat. Jika saya ke Jakarta menggunakan kereta api dan kembali ke Bandung menggunakan kereta api lagi, saya mandi dulu di stasiun Gambir. Ada tempat mandi yang lumayan bagus. Bayar Rp. 75 ribu sih, tapi ini membuat saya segar kembali. Naik kereta api menuju Bandung tinggal tidur di kereta api. Segar.

Tapi ini kan opini saya. Ada banyak orang – malah mungkin lebih banyak – yang tidak suka mandi. Ha ha ha. Bagi mereka, mandi adalah hukuman. Oh well.

Hidup Berdampingan dengan Virus Corona

Nampaknya solusi untuk virus corona (covid-19) ini belum dapat ditemukan dalam waktu dekat. Vaksin dan obat membutuhkan waktu untuk dibuat. Memangnya sulap? Salah kita – warga seluruh dunia – sendiri kenapa tidak mengucurkan dana yang banyak untuk penelitian. Sudahlah kita hentikan saling menyalahkan. Faktanya demikian. Artinya apa? Artinya kita harus dapat hidup berdampingan dengan virus corona ini.

Tentu saja kehidupan tidak akan sama seperti dahulu. Kita tidak bisa serta merta kembali dengan kelakuan seperti dahulu. Ini sangat berbahaya. Kita ingin kembali seperti dahulu tetapi tidak boleh dengan cara yang ngawur atau sembrono. Itu akan membahayakan kita semua. Maka kita harus cari cara yang aman tetapi kehidupan dapat berlangsung (hampir) seperti semula.

Ada yang mengatakan bahwa hal yang utama adalah testing. Pengujian. Apakah seseorang itu aman untuk keluar rumah dan bekerja. Aman di sini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi aman juga bagi orang lain. Bagian yang terakhir itu yang penting. Itulah sebabnya saya tulis dengan huruf tebal. Banyak orang yang merasa sehat dan kemudian tidak peduli dengan kesehatan orang lain. Ini salah.

Masalah pengujian (testing) adalah alat & caranya masih belum baik, dalam artian alas tes masih mahal dan hasilnya membutuhkan waktu yang lama. Itulah sebabnya di Indonesia jumlah yang dites masih sedikit. (Pada saat tulisan ini ditulis baru ada sekitar 49767 yang sudah dites. Dari 250 juta orang warga Indonesia, baru 50 ribu. Di Amerika juga sedang ribut warga tidak ingin lockdown dan ingin kembali bekerja, tetapi tidak ada alat test-nya juga. Alat test tersebut masih dibutuhkan di rumah sakit-rumah sakit. Masih kekurangan.

Singkatnya, dibutuhkan sebuah cara untuk menguji yang murah dan cepat. Ayo para inventor. Ini sebuah tantangan.

Karena hal di atas belum ada solusi, maka dicari cara terdekat. Asosiasi. Bahwa kalau orang sedang bermasalah dengan covid-19, suhu tubuhnya meningkat. Tentu saja ini pendekatan kasar, tetapi dapat dilakukan untuk skala masif dan cepat. Itulah yang sekarang dilakukan di tempat-tempat umum. Maka mungkin di kemudian hari, salah satu prosedur sehari-hari kita adalah; pagi hari cek temperatur tubuh (sebelum pergi kerja), pulang dari tempat kerja (sampai rumah?) cek kembali. Catat ini. (Perlu diingat yang penting sebetulnya bukan angkanya tetapi perubahannya. Ini pendapat beberapa rekan peneliti.) Semua ini harus diotomatisasi. Kalau tidak, maka kita akan repot dan kita tidak akan melakukannya. Di belakang layar ada aplikasi (berbasis artificial intelligence dan big data) yang melakukan pemantauan. Berarti harus ada alat seperti ini. (Saya sudah kepikiran idenya dan bahkan sesungguhnya sudah mulai mengembangkan ini sebelum kejadian virus corona ini. Sekarnag terpaksa terhenti karena semua bekerja di rumah dan pendanaan juga berhenti.)

Hal lain yang kita harus berubah adalah cara pandang kita terhadap kesehatan. Jangan lagi meludah sembarangan. Kalau ada yang meludah sembarangan, perlu kita tegur. Jangan buang sampah sembarangan. Cuci tangan secara berkala. (Agak terpisah, saya sering melihat orang keluar dari wc umum tanpa cuci tangan! Kesel ngelihatnya.) Jaga kebersihan. Tingkatkan kebersihan dan kesehatan. Ini tidak mudah memang karena yang namanya kebiasaan itu tidak mudah untuk diubah, tetapi kalau kita tidak berubah ya kita akan tetap seperti ini; terkurung di rumah.

Apa yang saya ceritakan di atas baru satu hal saja. Satu upaya untuk kita dapat hidup di tengah-tengah virus corona ini. Perlu diingat, bahwa di sekitar kita ini ada banyak bakteri dan virus. Lihatlah kasus demam berdarah dan TBC yang masih ada di Indonesia. Kita sudah “dapat” hidup di tengah-tengah mereka. (Dari segi angka, mereka mengerikan, tetapi kita sudah tahu cara melawannya. Kita aja yang tetap sembrono. Covid-19 ini berbeda karena kita belum tahu saja.) Ini juga akan kita lawan. Sekarang kita belum menemukan cara melawannya.

Manusia adalah spesies yang tangguh. Man against nature. We will prevail! Kita akan muncul sebagai pemenang. Harus. Semangaaattt!!!

Kacamata Baca

Pas lagi seru-serunya mengurung diri di rumah – work from home, bekerja dari rumah – kacamata baca patah. Ini sudah yang kesekian kalinya. Maklum kacamata baca biasanya saya beli di depan masjid setelah selesai Jum’atan. (Pertanyaan: kenapa ya selalu ada yang jualan kacamata di emperan masjid setelah habis jumatan?)

Harga kacamata baca di emperan gini murah meriah, mulai dari Rp. 25 ribu sampai Rp. 50 ribu. Kalau beli di toko (yang bukan toko kacamata) harganya sekitar Rp. 50 ribu sampai Rp. 75 ribu. Kalau di optik, kacamata yang beneran ya harganya mahal. Saya pernah punya yang harganya Rp. 1 juta. Memang rasa dan kualitasnya beda. Ada harga, ada kualitas.

Saya dapat membeli kacamata baca dimana saja ini karena kemungkinan mata saya tidak ada silindris. Jadi tinggal dikonversi saja dengan usia. Saya tinggal sebutkan usia, penjualnya sudah tahu rentang ukuran kacamatanya. Sekarang saya menggunakan plus 2. Anda bisa menduga usia saya. Ha ha ha.

Karena sekarang sedang ada wabah virus corona, maka orang-orang diharapkan tetap tinggal di rumah. Jum’atan pun diharapkan tidak dilakukan di masjid dan dilakukan di rumah (dengan menggantinya menjadi shalat Dzuhur). Maka alternatif saya adalah mencari kacamata di toko seperti Borma atau Ace hardware. Tapi ya itu tadi, kalau boleh tidak bepergian lebih baik tidak pergi.

Belanja online! Ini adalah alternatif yang menarik. Maka mulailah kami melihat di berbagai situs online. Maka ketemu yang jualan kacamata baca yang harganya Rp. 22 ribu. Penjualnya kebetulan di Lembang. Jadi langsung kami pesan. Waktu itu weekend sehingga tidak dikirim dengan segera. Senin hari kacamata datang. Kami pesan tiga buah. Langsung saya cuci dengan sabun.

Kacamata baca murah meriah

Pagi ini saya coba. Hasilnya oke lah. Sesuai dengan harapan saya, yaitu tidak terlalu tinggi. Selama kacamata ini dapat dipakai dan dapat bertahan lebih dari sebulan, dia sudah bagus. Ini sama dengan kacamata yang biasanya saya beli di depan masjid. Jadi saya senang.

Kesimpulannya adalah … direkomendasikan. Recommended.

Kebanjiran Informasi

Salah satu masalah – di antara banyak masalah lainnya – pada masa kini adalah kebanjiran informasi. Saat ini setiap orang ingin meneruskan (forward, share) informasi-informasi yang terkait dengan virus korona dan penyakit yang terkait (corona virus, covid-19). Di setiap media sosial dan terutama group WA (WhatsApp) ada banyak informasi.

Ada beberapa group WA yang ketika saya membuka handphone terlihat lebih dari 300 pesan yang belum terbaca. Sebetulnya mungkin lebih dari 500 pesan. Saya buka group WA tersebut, bukan untuk membaca, tetapi untuk scroll sampai di akhir group supaya semua pesan ditandai sudah dibaca kemudian saya keluar. Sejam kemudian saya buka handphone lagi dan ada 300 pesan lagi yang belum dibaca dari group tersebut. Ini baru satu group WA. Bayangkan saya (dan Anda) masuk ke banyak group WA.

Idenya memang baik. Semua ingin berbagi informasi. Sayangnya informasi tersebut tidak disaring dengan baik. Begitu dapat sebuah informasi / pesan, langsung diteruskan ke berbagai group. Boleh jadi di group tersebut sudah ada pesan yang sama. Anggota dari group tersebut kemungkinan besar juga sudah mendapatkan pesan yang sama dari group-group lainnya.

Banjir informasi. Banjir, banjir, banjir. Yang namanya banjir tidak ada yang bagus.

Hari ini saya memutuskan untuk keluar dari berbagai group WA yang terlalu banyak memberikan pesan. Toh tidak manfaat juga bagi saya karena tidak saya baca pesan-pesannya.

Bagi Anda yang ingin berbagi pesan, sebaiknya tahan dulu satu atau dua hari (bahkan kalau pakem saya sih tunggu 3 hari) sebelum meneruskan pesan tersebut. Selektiflah dalam berbagi,

Duduk Mengajar

Dikarenakan wabah virus corona, maka perkuliahan di ITB (dan dimana-mana) terpaksa harus dilakukan secara daring (online). Saya sendiri sebetulnya sudah terbiasa mengajar kelas secara online. Ada kelas saya yang dilakukan di dua tempat bersamaan; di kampus Ganesha (ITB) dan di kampus ITB yang di Jatinangor. Ada kelas yang dilakukan secara online tetapi tidak real-time, dalam artian saya tidak langsung mengajar pada saat yang besamaan, misalnya yang di IndonesiaX. Ada juga kelas yang memang benar-benar saya lakukan secara menyeluruh online seperti yang saya lakukan di President University. Ada juga channel YouTube, tetapi ini cerita yang berbeda. Intinya, mengajar online bukan hal yang baru bagi saya, Hanya kali ini sedikit berbeda karena semua kegiatan ajar-mengajar dilakukan secara online.

Ternyata salah satu hal yang melelahkan bagi saya adalah duduk mengajar. Kalau di kelas biasa, kelas tatap muka secara fisik, saya biasanya mengajar sambil berdiri dan berjalan di depan kelas. Melakukan ini juga melelahkan, tetapi ternyata duduk itu lebih membuat badan ini pegal-pegal. Sebelum tulisan ini ditulis, saya baru beres mengajar dua kelas dan melakukan satu rapat secara online. Terus menerus dari pukul 9 pagi sampai pukul 15 sore. Bayangkan. Ternyata pegel linux juga. Ha ha ha.

Situasi ketika mengajar online

Kursi yang saya gunakan sudah cukup bagus. Bagus. Jadi ini bukan salah kursinya, tetapi memang bekerja secara online itu tetap melelahkan. Hmm. Mungkin saya yang salah. Mungkin seharusnya cara saya mengajar online-pun harus saya lakukan dengan berdiri ya? Hmmm. Nampaknya saya akan mencoba ini. Saya harus membuat dudukan untuk webcam yang lebih fleksibel. Akan dicoba di skedul kelas berikutnya. Sementara itu, sekarang saya mau istirahat dulu. Nonton TV (dokumenter) dulu ah.

Mengejar Belajar

Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka ingin (ikut) belajar ini dan itu. Ketika saya mengatakan bahwa saya memberikan pelajaran ini dan itu (dan itu terbuka untuk umum), banyak yang bilang ingin ikutan. Hampir semua hanya sekedar bicara saja, tetapi tidak ada aksinya. Jadi kalau ada yang bilang, pak saya ingin ikutan ini dan itu, saya hanya tertawa. Yeah, right.

Belajar itu susah. Belajar itu mahal. Belajar itu membutuhkan waktu. Belajar itu membutuhkan usaha. Masih ada hambatan lain (lebih tepatnya alasan) dalam berusaha untuk (tidak) belajar. Ini baru pada tahap berusahanya dulu lho, belum sampai pada hasilnya.

Ketika ada orang yang hebat, maka saya kejar mereka untuk belajar. Saya satroni. Saya sisihkan waktu saya untuk mendatangi yang bersangkutan. Alasan-asalan saya tebas, hanya untuk memastikan bahwa saya bisa belajar.

Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu saya mengundang beberapa orang yang jagoan dalam bidang perkopian (dalam artian mereka memiliki usaha di bidang tersebut) dan beberapa orang penggemar kopi. Tujuannya adalah untuk berdiskusi soal alat kopi. Kali ini memang topik utamanya adalah itu, meskipun pada kenyataannya ada banyak topik yang dibicarakan. Alhamdulillah ada banyak yang datang. Ini foto sebagian yang datang.

Bandung Connection: Coffee moguls in Bandung

Saya senang sekali dapat belajar ke mereka. Luar biasa ilmu-ilmunya.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah jika ingin belajar, ya harus mau usaha. Harus dikejar. Itu saja. Sebagian besar orang, tidak mau usaha.

Perlukah Kegilaan?

Jawaban singkatnya adalah perlu. Lah? Maksudnya bagaimana? Memang harus ada konteksnya dulu ya.

Jadi ceritanya saya mengajarkan entrepreneurship (apa terjemahannya betul kewirausahaan?). Salah satu sifat yang perlu dimiliki adalah tidak menyerah. Grit. Bahkan sifat ini dapat didorong lagi menjadi sedikit “gila” dalam arti nekad. Tetap teguh dalam menjalankan usahanya meskipun banyak tantangan.

Bagaimana caranya agar kita dapat tetap teguh meskipun dianggap gila? Salah satu solusinya adalah bergabung dengan orang gila lainnya. Ha ha ha. Jadinya kita merasa “normal”. Ternyata ada yang lebih gila dari kita.

Percakapan antara orang gila mungkin begini.

A: “Kamu mau kemana?”
B: “Saya tadi sudah makan kok”
A: “Oh yang di sana ya?”
B: “Iya enak”

Dan keduanya bahagia.

Belajar itu buang-buang waktu

Sudah lama saya ingin membahas tentang topik ini tetapi selalu tidak sempat karena saya sibuk “buang-buang waktu” untuk belajar. Ini semacam pembuktian bahwa belajar itu adalah “masalah”. Ha ha ha. Mungkin ini semua terlalu saya besar-besarkan. Mungkin. Tetapi ini sudah menjadi pertanyaan yang lama menghantui saja.

Saya ingin membuat tulisan (dan video) yang membahas tentang topik “belajar dan buang-buang waktu” ini secara tuntas dan baik, tetapi karena tidak punya waktu akhirnya tidak bakal selesai. Ya sudah, saya menyerah dan membuat tulisan ini yang mungkin tidak tuntas dan tidak sesuai dengan harapan saya. Mungkin hanya 60% dari yang saya harapkan. Tetapi baiklah, 60% ada sekarang lebih baik dari 90% tetapi entah kapan selesainya. Ini sesuai dengan motto saya.

Begini. Saya menyukai belajar. Ya, memang tidak semua orang suka belajar. Saya juga dulu tidak sesuka ini dalam belajar. Bahkan seringkali belajar merupakan sebuah kegiatan yang menyebalkan. Semakin berusia, saya semakin menyukai belajar. Belajar apa saja. Semakin saya banyak belajar semakin saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa. Akibatnya semakin ingin belajar saja. Hambatannya hanya satu, waktu. Waktu yang terbatas.

Cara kita – atau mungkin tidak perlu saya generalisir, saya saja – belajar adalah dengan membaca, melihat, mendengar, dan mengalami sendiri. Semuanya menggunakan indera kita. Cara yang paling lazim digunakan – dan yang saya gunakan – adalah dengan membaca. Ada banyak buku, majalah, jurnal, surat kabar, newsletter, surat, dan sekarang blog yang dapat dibaca. Membaca menggunakan mata. Ternyata kemampuan membaca saya sangat lambat. Selain mata, juga pemahaman memperlambat proses ini. Kecepatan datangnya buku (dan bahan bacaan lain) lebih cepat dari kecepatan saya membaca. Akibatnya terjadi tumpukan bahan bacaan – secara fisik dan elektronik. Tetapi yang menjadi masalah tetap sama, waktu adalah musuh utama.

Itu baru yang berbentuk bacaan. Sekarang saya juga senang melihat video-video di YouTube. Ada banyak video-video yang memberikan pencerahan. Saya belajar juga dari sana. Sama seperti membaca, untuk menonton video ini dibutuhkan waktu. Waktu juga yang menjadi musuh utama.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat video wawancara dengan Elon Musk. Pada satu segmen dia mengatakan bahwa yang menjadi masalah dengan kita (manusia) dibandingkan dengan mesin (AI, Artificial Intelligence) adalah keterbatasan “bandwidth” (lebar pita) dari transfer data kita. Wah. Benar juga. “Bandwidth” belajar kita terbatas. Lambat sekali.

Analogi yang dapat saya bagikan adalah “bandwidth” belajar kita saat ini seperti kecepatan komunikasi data jaman dahulu, 1200 bps. (Bagi yang belum tahu seperti apa lambatnya ini, silahkan lihat video-videonya di internet.) Dengan kecepatan seperti itu, untuk mengunduh sebuah lagu sebesar 3 MBytes saja sudah tidak manusiawi lambatnya. Waktu adalah musuh. Kita membutuhkan kecepatan Mbps (Mega bits per second) atau bahkan Gbps.

Jadi sebetulnya musuh kita bukanlah waktu, melainkan kita harus memiliki teknologi untuk melebarkan bandwidth penyerapan ilmu. Salah satu yang sedang diuji adalah Neurolink, yang mana ini diharapkan dapat menghubungkan otak kita dengan dunia luar dengan lebih cepat. Kita bypass mata dan telinga yang memiliki bandwidth kecil. Jadi belajar kita semacam mengirim data dari flashdisk ke otak kita. Tinggal copy saja. Itu kalau mau versi yang cepat tanpa perlu merasakan belajarnya. Mari kita tunggu hasil dari Neurolink. (Ada yang mau mencoba?)

Untuk sementara ini, selama “bandwidth” kita masih kecil maka belajar masih membutuhkan waktu yang lama. Nah, jadi saya masih terpaku kepada kesulitan ini, “belajar itu membuang-buang waktu”. Masalahnya, kalau saya tidak belajar maka saya tetap menjadi bodoh. Pilih mana?

Sukses Adalah Keberuntungan

Baru saja saya beres melihat film dokumenter tentang kesuksesan beberapa film, seperti Die Hard dan Home Alone. Salah satu kesamaan dari kesuksesan film-film tersebut adalah keberuntungan. Luck. Ada banyak kejadian yang dapat membuat film itu batal jadi atau gagal. Keberuntunganlah yang membuat mereka sukses.

Selain menonton film dokumenter tersebut, saya juga menonton film dokumenter tentang sejarah musik Hip Hop. Di sana juga banyak keberuntungan yang membuat seseorang atau sebuah usaha sukses. Sama juga ternyata.

Keberuntungan tidak datang begitu saja. Keberuntungan akan lebih mungkin datang kalau kita bekerja keras. Kesemua contoh yang saya sebutkan di atas dibarengi dengan kerja keras. Kerja keras di luar standar yang umum. Atau, jangan-jangan kerja keras inilah yang membuat sukses. Keberuntungan atau luck itu bukan penyebabnya. Mungkin juga. Namun kalau kita dengar komentar dari semua orang yang terlibat dalam kesuksesan tersebut, maka mereka semua sepakat mengatakan bahwa itu adalah sebuah keberuntungan. Nah.

Belajar Gagal

Ada sebuah cerita tentang seorang anak yang dalam perjalanan hidupnya selalu berhasil. Tidak pernah gagal. Sekolahnya bagus terus nilainya. Setelah selesai kuliah, kemudian dia bekerja. Maka mulailah terjadi masalah karena beberapa kali dia gagal. Singkat ceritanya, akhirnya dia bunuh diri. Hah??? Iya.

Akhir-akhir ini saya mendengar berbagai cerita yang mirip, yang pada intinya adalah banyak orang yang dalam perjalanan hidupnya tidak pernah atau jarang mengalami kegagalan. Semua harus berhasil. Tidak boleh salah. Akibatnya, dalam kehidupannya dia selalu merasa takut gagal dan takut salah. Orang seperti ini biasanya bersifat defensif. Begitu dikritik sedikit, maka dia akan ngamuk atau depresi.

Sekarang saya akan melihat ini dari kacamata saya sebagai seorang pendidik. Seorang dosen. Ada yang salah dalam pendidikan kita ini. Kita mengajari anak-anak untuk tidak boleh salah. Tidak boleh gagal. Mari kita ambil contoh. Dalam ulangan atau ujian, siswa dinilai. Ada yang nilainya bagus dan ada yang nilainya buruk dan bahkan ada yang tidak lulus. Setelah itu, ya sudah selesai.

Lah memangnya ada kelanjutannya lagi? Ada. Yang gagal seharusnya diberi kesempatan untuk memperbaiki. Ini tidak terjadi! Kenapa ini tidak terjadi? Karena ini merupakan beban tambahan bagi sang guru (dosen). Bagi dia, lebih baik memberi nilai dan sudah. Salah sendiri bagi yang nilainya buruk. Salah sendiri mengapa tidak belajar. Guru (dosen) tidak mau sibuk. Sistem di sekolahanpun memaksa guru (dosen) untuk memberikan nilai sekarang juga karena sekolahan dituntut untuk mengeluarkan nilai secara tepat waktu (peduli amat tentang masalah guru dan siswanya).

Saya mencoba memecahkan masalah ini dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa saya untuk memperbaiki nilai ujian (makalah) yang mereka kerjakan. Untuk itu memang saya menjadi kerja dua kali (atau lebih). Selain itu nilai yang saya berikan juga jadi terlambat. (Sebetulnya tidak terlambat, tetapi banyak mahasiswa yang nilainya T atau incomplete alias belum selesai.) Akibatnya saya sering ditegur. Mereka tidak tahu bahwa nilai saya lambat masuk bukan karena saya lalai, tetapi karena saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk gagal.

Pelajaran yang ingin saya berikan kepada mahasiswa saya adalah; (1) gagal adalah hal yang biasa, ulangi lagi, (2) yang tidak boleh adalah curang (misal plagiat, nyontek). Poin (2) itu, yaitu curang, dapat dilakukan oleh mahasiswa karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk memperbaiki. Dengan metoda saya, mereka tidak perlu curang. Kalaupun gagal dapat diulangi lagi. Lakukan dengan kemampuan diri sendiri.

Kembali ke poin utamanya adalah kita semua (apalagi anak-anak) harus diajari untuk gagal. Bahwa kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Lawan terus. Kita bisa!

Saya Akan Marah-marah

Nampaknya banyak orang yang membuka Facebook, Twitter, Instagram, WA, Telegram, atau aplikasi media sosial / chat dengan dimulai dengan perasaan tersebut; “saya akan marah-marah“. Maka, hasilnya adalah … marah-marah. Ini yang disebut dengan “self-fulfilling prophecy“. (Silahkan cari di internet apa maksudnya itu.)

Sementara itu saya memulainya dengan semangat ingin senang, bersahabat, berbahagia, dan berbagai emosi positif lainnya. Hasilnya adalah senang. ha ha ha.

Sebetulnya saya tidak menyadari hal ini sampai saya membaca sebuah cerita pengantar tentang brainstorming. Pada trik brainstorming yang diceritakannya itu, masing-masing peserta diminta untuk mengungkapkan hasil yang akan terjadi di akhir brainstorming. Ya, sebelum dimulai sudah diminta untuk mengungkapkan hasilnya. Ternyata hasilnya biasanya sesuai dengan yang dinginkan di depan. Kalau di awal kita katakan bahwa “kita akan hasilkan lima buah ide cemerlang”, maka akan dihasilkan ide-ide cemerlang. Entah kalau di awal kita mengatakan bahwa “kita akan sia-sia melakukan ini”. Ha ha ha.

Itulah sebabnya selalu berpikiran positif. Selalu!

(Kecuali memang Anda ingin menjadi negatif. Maukah?)

Pusing Dengan Bahasa Indonesia

Sudah berkali-kali saya mencoba membaca buku terjemahan dan gagal untuk memahaminya. Pusing. Bagi saya ternyata memang masih lebih mudah memahami buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa aslinya, bahasa Inggris maksudnya. Bukan maksud saya untu sok-sokan Ingris-Ingrisan, tapi kenyataannya memang demikian.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah buku terjemahan. Saya coba baca lagi. Dan hasilnya, pusing lagi. Ini bukunya.

photo6275926025779128563
Contoh buku terjemahan yang membingungkan

Begitu dimulai, di bagian awalnya (pada halaman “ucapan terima kasih”) ada tulisan seperti ini, “istri ahli dan putri tanpa sejawat“. Anda tahu itu maksudnya apa? Nampaknya saya harus cari tahu kalimat aslinya seperti apa.

Mungkin masalah sebenarnya adalah penerjemah terlalu harfiah dalam menerjemahkan sehingga makna aslinya hilang. Jadinya malah membingungkan. Ada banyak “idiom-idiom” dalam bahasa Inggris yang seharusnya tidak diterjemahkan begitu saja. Pusing.

Kembali ke buku-buku berbahasa Inggris deh.