Tag Archives: opini

Kapan Belajarnya? Sekarang!

Kalau saya tanya berapa di antara Anda yang bisa bahasa pemrograman Java dan punya pengalaman 5 tahun? Jawabannya mungkin beberapa. Bagaimana dengan yang juga bisa bahasa Python dan sudah 5 tahun pengalamannya? Tambah kurang (dan bahkan kemudian tidak ada). Biasanya ada yang berkata (keras-keras atau dalam hati), saya belajar dulu ya pak. Yaaah telatlah. Begitu Anda selesai belajar, kebutuhannya mungkin sudah lain lagi. Anda mau mulai belajar lagi setelah itu?

Kebanyakan orang maunya belajar secara berurutan (sekuensial). Setelah belajar A, baru B, kemudian C. Masalahnya kalau itu dilakukan, untuk menguasai C berarti harus menunggu dulu meskipun sesungguhnya dia tidak harus menunggu A dan B.

Dalam kasus mahasiswa, umumnya mahasiswa sekarang mau kuliah dulu. Belajar hal-hal di luar kuliah akan dipelajari setelah lulus. Ini menurut saya salah besar! Ketika Anda masih menjadi mahasiswa, tidak ada tekanan (pressure) dari luar untuk menghasilkan uang. Ketika Anda sudah lulus dan kemudian mau belajar ini dan itu maka dunia (orang, keluarga, calon keluarga) akan bertanya-tanya, kapan Anda kerjanya? Kapan Anda menghasilkan uangnya? Padahal lapangan pekerjaan menuntut Anda sudah bisa ini dan itu. Kalau Anda masih jadi mahasiswa, setidaknya Anda masih bisa menggunakan kartu truf bahwa “saya masih mahasiswa”. Jadi ketika masih menjadi mahasiswa, belajarlah banyak hal secara paralel.  Saya tahu, ada banyak teori yang mengatakan bahwa kalau hal-hal dilakukan secara paralel maka hasilnya tidak bagus. Menurut saya, biar. Lebih baik menguasai yang banyak dulu tetapi 70% dibandingkan menguasai 95% tetapi satu. Nanti ketika Anda sudah bekerja baru bisa lebih fokus kepada satu atau dua hal. (Itupun nanti ada masalah lain yang membutuhkan kemampuan secara paralel, misal kemampuan management.)

Jadi kapan belajar ini dan itu? Sekarang!


Kesungguhan Belajar

Di lingkungan saya ada beberapa (banyak) kegiatan pembelajaran. Bentuknya bisa berupa kelas formal, mentoring, kursus (formal), training, workshop, sharing session, dan seterusnya. Topik-topik yang dibahasnya pun bervariasi, mulai dari teknis (coding, electronics, animasi) sampai ke bisnis. Namun akhir-akhir ini saya melihat adanya pola yang terjadi berulang-ulang.

Ketika saya mengadakan sharing session soal animasi (misalnya, padahal saya gak ngarti apa-apa soal animasi) maka kemudian ada yang komentar “pengen ikutan”, “kami diberitahu dong”, “adakan lagi”, dan seterusnya. Ini adalah komentar-komentar dari orang yang tidak  bisa hadir di acara tersebut. Okelah. Maka pada kesempatan berikutnya, saya adakan lagi. Hasilnya juga sama, orang-orang tersebut (kebanyakan malahan) juga tidak datang dengan segudang alasan (sibuk, hujan, tidak sempat, lupa, dan seterusnya). Pada intinya adalah mereka tidak serius sungguh-sungguh ingin belajar. Atau, kalau mau belajar pun harus sesuai dengan skedul / kondisi / mood / … mereka. Tidak ada perjuangan untuk belajar.

Jika Anda sungguh-sungguh ingin belajar, buatlah waktu. Ya harus mau repot. Kejarlah sumber ilmunya itu. Kalau perlu harus merangkak bergurupun lakukanlah. Katanya, “kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Jika ada guru yang baik, datangilah. Jangan minta dia yang mendatangi Anda. Yang butuh belajar itukan Anda. Carilah waktu guru tersebut. Tunjukkanlah kesungguhan Anda. (Luke Skywalker juga harus berguru jauh ke Yoda. Tokoh-tokoh [super]hero lainnya dan juga cerita silat juga demikan. Silihakan tuliskan contoh-contoh lainnya yang Anda ketahui di bagian komentar.)

Sementara itu, biasanya saya hanya dapat meringis membaca tulisan orang yang berkata “adakan lagi dong” atau “beritahu kami kalau ada lagi”.


Salah Dimengerti

Tanpa kehadiran fisik, dunia online sering menimbulkan perkelahian. Bukan kelahi fisik, tetapi tetap saja perkelahian. Pasalnya kita tidak mendapatkan umpan balik (feedback) atas apa yang kita sampaikan. Seringkali, apa yang kita tuliskan salah dimengerti.

Boleh jadi kita sudah berhati-hati dalam mencari kata-kata untuk menyampaikan opini atau isi hati kita. Tetap saja salah pengertian juga terjadi. Mungkin saja lawan bicara kita atau pembaca memang mencari-mencari kesalahan atau tidak mau mengerti. Sangat mungkin. Namun tetap saja kita harus lebih berhati-hati dalam menulis.

Inilah sebabnya saya sering geleng-geleng kepala, tidak mengerti, akan orang-orang yang demikian mudahnya menuliskan apa saja di dalam status atau time line di akun media sosialnya. Lagi pula, tidak semua harus dituliskan. Mari menahan diri untuk menuliskan yang tidak penting.

Mungkin juga itu salah kita-kita. Kenapa pula naik darah dengan melihat tulisan seseorang yang disampaikan tanpa berpikir panjang.

eh, jangan-jangan tulisan ini juga salah dimengerti. hadoh.


Pengalaman Naik Uber di Bandung

Awalnya ketika orang berbicara tentang Uber, saya tidak begitu tertarik. Alasannya, di Bandung saya umumnya menggunakan kendaraan sendiri. Biasanya bawaan saya banyak; tas yang sudah sangat berat (entah apa saja sih isinya), jaket, buku-buku untuk show and tell di kuliah, sepatu + tas isi peralatan futsal + bola (kalau hari futsal), gitar dan efek (kalau latihan band), dan seterusnya. Ini membuat saya susah untuk naik kendaraan orang lain atau taksi. Memang tidak selamanya bawaan saya itu sebanyak itu, tetapi umumnya memang seperti itu. Itu kalau di Bandung.

Kalau di Jakarta, saya juga belum tertarik menggunakan Uber karena kalau di Jakarta saya lebih sering naik ojek. Maklum, Jakarta macet. he he he. Dari Bandung ke Jakarta bawa mobil, sampai di Jakarta dilanjutkan naik ojek. Ojeknya pun saya belum pernah pakai Go-Jek. Langsung saja saya cari ojek yang mangkal.

Nah, barulah kejadian saya naik Uber. Ceritanya dua minggu yang lalu kami ada acara keluarga di daerah Kanayakan Dago. Hari Minggu itu pula ada acara pemilu Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) untuk daerah Jawa Barat yang dilakukan di kampus ITB. Kemudian saya juga harus latihan band untuk acara hari Sabtu kemarin. Maka berangkatlah saya dan keluarga naik mobil. Acara keluarga berlangsung sampai sore. Saya harus duluan ke kampus ITB. Nah, ini kesempatan saya mencoba Uber.

Aplikasi Uber sudah lama saya pasang di iPhone saya. Nekad saya jalankan. Pertama kali saya pakai aplikasi ini. Tahu gak ya kemana Uber ngejemputnya? Salah satu masalah pertama saya adalah ngeset tempat saya dijemput. Entah karena GPS-nya kurang akurat atau bagaimana, susah untuk memasukkan alamat rumah saudara ini. Akhirnya pakai yang sudah ada di Uber itu, yaitu asrama putri ITB yang dekat dengan rumah saudara ini. Klik saja. Baru selesai saya klik, sudah ada jawaban yang menuju tempat saya. Whoa. Cepat banget.

Satu hal yang membantu bagi saya dari aplikasi Uber ini adalah adanya estimasi kapan mobil Uber datang. Bahkan di aplikasinya dapat kita lihat posisi mobil Uber itu ada dimana. Seru juga ngelihat dia jalan. Hanya yang jadi masalah adalah GPS di iPhone saya sangat menyedot batre. Untungnya saya bawa power bank raksasa (30.000 mAh!) jadi langsung saya colok.

Tidak berapa lama, sekitar belasan menit, muncul aja mobil Uber. Avanza. Langsung saya masukkan bawaan saya (tas ransel, gitar, tas kamera). Langsung menuju kampus ITB. Hari itu macet luar biasa. Jadi saya bisa ngobrol-ngobrol dengan driver dari Uber. Orangnya baik sekali. Dia cerita bagaimana dia memulai jadi driver Uber full time. (Ini bisa jadi tulisan sendiri.) Sampai lah ITB setelah berjuang melawan kemacetan kota Bandung!

Sampai di kampus, saya langsung menuju Aula Barat untuk ikutan pemilu IA-ITB Jabar. Prosesnya lumayan lama. Katanya terjadi kekacauan pula. (Ini juga bisa jadi cerita tersendiri.) Singkatnya saya mau kabur ke studio BanDos untuk latihan band. Masih macet pula. Saya berencana naik ojek saja untuk menembus macet ini. Eh … hujan! Ya sudah, Uber lagi. hi hi hi. Ada alasan naik Uber.

Saya pesan Uber lagi. Wow cepat juga jawabannya. Kebetulan ternyata ada mobil Uber sekitar rumah sakit Boromeus. Lagi-lagi waktu yang dibutuhkan belasan menit. Ini karena macet. Mobilnya datang. Avanza juga. Menuju ke studio BanDos.

Selesai latihan BanDos, saya cek keluarga saya sudah pulang. Tadinya saya pikir bisa dijemput. Lagi-lagi pilih Uber saja. hi hi hi. Jadinya dalam satu hari ini, dari belum pernah pakai Uber jadi pakai 3 kali!

Hari Minggu, kemarin, saya pakai Uber lagi. Ceritanya kami mau nonton konser LCLR Plus di Sabuga. Khawatir macet, bingung mau makan dimana, dan seterusnya, kami putuskan naik Uber saja. Lokasi kami yang di Kabupaten tapi pas di samping Kotamadya sering masalah untuk pesanan taksi. Begitu dijalankan Uber, dia bilang 29 menit lagi datangnya. Wah lama juga ya. Berarti ada kemacetan. Eh, tiba-tiba informasinya berubah jadi 3 menit lagi! Hah! Ternyata Ubernya datang sangat cepat karena mungkin data GPS-nya dia kurang akurat. Dia baru saja mengantar orang ke kafe di daerah rumah kami. Surprised yang menyenangkan. Yang tadinya dikira 29 menit malah jadi hanya 2 atau 3 menit. hi hi hi. Ternyata cari Uber yang ke rumah kami cepat sekali.

Hanya masalahnya, lagi-lagi, saya tidak bisa set lokasi penjemputan. Entah kenapa kami tidak bisa memasukkan alamat rumah kami. Jadinya mengambil lokasi yang dekat rumah. Jadi driver Uber harus nanya dulu tepatnya kami dijemput dimana. (Ini sampai sekarang saya belum tahu ngesetnya gimana.)

Nah, pengalaman saya naik Uber adalah sebagai berikut. Pertama, saya suka dengan adanya estimasi kedatangan mobilnya. Saya bisa lihat secara hampir real-time dia ada dimana. Ini yang membedakan dengan taksi biasa. Seringkali kalau pesan taksi, saya tidak tahu dia bakal datang berapa menit lagi. Ada juga kejadian setelah nunggu lama, ditelepon taksinya sibuk semua. Hayah! Jadi pakai Uber ini lebih predictable.

Kedua, mobilnya bagus-bagus. Lebih bagus dari mobil saya. ha ha ha. Bersih. Driver-nya ramah-ramah. Bawa mobilnya juga enak. Pokoknya dari sisi ini, nyaman.

Di sisi negatifnya, aplikasinya kalau dijalankan terus boros batre. Apalagi iPhone saya batrenya sudah mulai masalah. Harus ganti handphone ini. Yang paling mengganggu adalah set lokasi penjemputan. Ini sampai sekarang saya belum tahu bagaimana ngesetnya karena selalu tidak ada di pilihan. Jadinya saya selalu harus set di lokasi terdekat dan saya ke luar ketika Uber sudah dekat.

Secara umum, Uber memberikan solusi kepada kami. Saya yang tadinya skeptik, mungkin malah jadi kesenangan nih naik Uber di Bandung. hi hi hi. Gawat…


Kebahagiaan Itu Adalah …

Di halaman facebook saya, secara iseng saya menampilkan status berikut:

Mengapa masih mengukur kebahagiaan atau kesuksesan dengan uang? Sudah banyak riset dan fakta yang menunjukkan bukan itu.

Dan tentu saja banyak yang berkomentar. Banyak orang yang masih merasa yakin bahwa uang adalah alat ukur kebahagiaan. Semakin banyak uang, semakin bahagia kita. Terjadilah komentar setuju dan tidak setuju. (Bagaimana pendapat Anda?)

Saya termasuk yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu bukan uang. Ada banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang, contoh keluarga. Sebagai contoh, maukah Anda punya banyak uang tetapi tidak memiliki keluarga? Contoh lain adalah kesehatan.

Bukannya uang tidak penting. Penting. Ada semacam batas (threshold) bahwa uang itu penting, tetapi setelah melewati batas itu maka uang menjadi tidak penting lagi. Batasnya ini yang berbeda-beda.

Sebetulnya mengapa saya mengangkat topik ini? Kebetulan saya sedang membaca buku “Happy City: Transforming Our Lives Through Urban Design” karangan Charles Montgomery. Ini terkait dengan kebahagiaan. Sekalian saya sertakan videonya di TEDx Vancouver.

Selain itu saya juga melihat penduduk kota Bandung yang tingkat kebahagiaannya menaik sejak walikota kami, pak Ridwan Kamil, membenahi kota Bandung. Ada banyak taman yang direnovasi kembali. Bagus-bagus. Lucu juga, alun-alun yang dulunya kumuh sekarang menjadi ramai lagi dengan hanya meletakkan karpet rumput sintetis (seperti yang biasa dipakai untuk lapangan futsal) di lapangannya. Sekarang itu menjadi tempat keluarga berkumpul dan berfoto.

Seperti kata Charles Montgomery, “happy = social”. Kebahagiaan itu adalah fungsi dari interaksi sosial.

Update: Link terkait


Mengukur Kekuatan Diri

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki kelebihan (kekuatan) dan kelemahan sendiri-sendiri. Berbeda. Itulah sebabnya kita akan sulit meniru orang lain. Kita harus menjadi diri kita sendiri.

Sebagai contoh, saya tahu ada orang yang jam tidurnya sangat sedikit. Mungkin 3 atau 4 jam sehari? Atau mungkin itu yang terlihat oleh saya ya? Sebetulnya boleh jadi dia juga tidur 6 sampai 8 jam sehari. Ah, tidak. Dia jarang tidur kok. Kalau saya tiru, bisa terkaparlah saya.

Sementara itu saya juga punya pola tidur (dan pola bekerja) yang berbeda juga. Yang ini kalau ditiru orang lain juga bisa jadi terkapar. he he he.

Contoh. Entah kenapa, biasanya saya ngeblog menjelang tengah malam. Seperti saat tulisan ini dibuat. Mungkin itu waktu saya kreatif? Atau mungkin juga karena sempatnya jam segitu. Sementara orang lain sudah terlelap dengan tidurnya. Kalau dibangunin untuk ngeblog, bisa-bisa kita dilempar sandal. he he he.

Dalam pola bekerja, saya seorang hyper-multi-tasker. Sementara itu saya sadar ada banyak orang yang single tasker. Atau ada yang mampu mengerjakan beberapa pekerjaan pada satu saat tetapi masih dalam skala dua atau tiga. Tidak apa-apa. Itu normal untuk mereka. Kalau coba-coba hyper-multi-tasking, bakalan bubar semua pekerjaan.

IMG_0003 coffee latte
[coffee latte menemani kerja]

Kembali ke poin saya, bahwa setiap orang harus mengukur kekuatan dirinya. Kemudian mengatakan TIDAK untuk hal-hal yang di luar kemampuannya. Ingat bahwa mengatakan TIDAK itu ternyata tidak mudah.

(Soal untuk belajar agar dapat lebih multi-tasking lain kali ya.)

Kenali diri Anda.


(Tulisan) Optimisme

Barusan tidak sengaja membaca berita ini. “Jokowi: Kita Perlu Tulisan yang Timbulkan Rasa Optimis“. Nah, ini adalah tema yang selalu saya bawakan di blog ini. Eh, jangan-jangan pak Jokowi baca blog ini. ha ha ha. Ke-GR-an.

Sebetulnya ada alasan saya mengambil tema positif dan optimis di blog ini. Salah satunya adalah karena saya anti-mainstream dan sebagian besar (hampir semua?) situs berita lebih suka memberitakan hal-hal yang negatif. Bad news sells. Demikian pula status orang kebanyakan isinya keluh kesah, umpatan, dan teman-temannya. Pokoknya yang negatiflah. Maka di sini adalah anti-nya.

Saya lebih banyak melihat acara tv yang positif; channel-channel dari BBC, National Geographic, dan sejenisnya. Mereka membuat kita menjadi lebih optimis dalam menghadapi dunia.

Nah, apakah dengan membaca ini Anda menjadi semakin optimis?


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.628 pengikut lainnya