Tag Archives: opini

Realitas Penelitian

Baru-baru ini terjadi kasus dimana hasil penelitian dipertanyakan.

Setelah menghabiskan sekian milyar Rupiah, hasil penelitiannya kok hanya sebuah produk yang tidak jalan.

Nampaknya banyak orang yang tidak mengerti situasi penelitian, terlebih lagi penelitian di Indonesia. Mari kita coba bahas satu persatu. (Meskipun rasanya saya sudah pernah menuliskan hal ini, saya tuliskan lagi. Maklum. Kan selalu ada pembaca baru.)

Penelitian pada dasarnya bertujuan untuk mencari sesuatu atau membuktikan sesuatu. Sang peneliti memiliki sebuah keyakinan (hipotesa) akan sesuatu tetapi belum terbukti. Penelitian dilakukan untuk menunjukkan atau membuktikan bahwa apa yang diyakininya itu benar atau salah. Hipotesanya ada yang simpel sampai ke yang mengawang-awang. Sebagai contoh, dapatkah seseorang berkomunikasi melalui gelombang yang dikeluarkan oleh otak kita? Dapatkah orang hidup di Mars? Adakah batre yang dapat menyimpan energi cukup besar, tetapi ukurannya sangat kecil dan dapat diisi dengan sangat cepat (misal untuk handphone atau bahkan untuk mobil)?  Untuk menjawab ini maka kita melakukan penelitian.

Jangka waktu penelitian sangat bervariasi. Mungkin ada penelitian yang hanya memebutuhkan beberapa tahun saja tetapi ada yang membutuhkan ratusan tahun. Boleh jadi peneliti awalnya sudah meninggal dan diteruskan oleh peneliti selanjutnya dan seterusnya. (Ini sebabnya catatan penelitian sangat penting.)

Biaya? Tentu saja sangat bervariasi. Membuat sebuah particle accelerator tentunya bisa menghabiskan triliyunan rupiah dengan sangat mudah. Menurut Anda, berapa biaya untuk melakukan penelitian kehidupan di Mars?

Semua itu terkait dengan topik penelitian. Tidak semua topik penelitian harus menghasilkan produk yang dapat dibuat dalam jangka pendek. Memang ada topik-topik penelitian yang aplikatif, dalam artian dapat menghasilkan produk, tetapi tidak semua begitu. Suatu saat saya bertanya kepada seorang peneliti (dari bidang Matematika), apa keluaran penelitiannya? Teorema. Apakah teorema yang ditelitinya itu memiliki implementasi atau aplikatif? Kemungkinan tidak. Lantas apakah perlu ditolak? Perlu diingat bahwa handphone yang kita gunakan dapat terjadi karena adanya temuan seperti Fourier Transform. Itu full matematik. Demikian pula algoritma kriptografi RSA baru digunakan 15 tahun setelah dia ditemukan. Siapa yang menyangka?

Penelitian di Indonesia memiliki masalah yang lebih berat lagi. Ada BANYAK masalah. Contohnya, dana penelitian dari Pemerintah baru turun di tengah-tengah tahun sementara laporan harus masuk di akhir tahun. Lah, di awal tahun itu siapa yang mendanai penelitian? Para peneliti ini harus makan apa? Ini bukan masalah yang baru ada kemarin sore. Ini masalah yang sudah ada bertahun-tahun. Mosok sih tidak ada yang tahu? Saya yakin semuanya tahu tetapi tidak peduli atau tidak mau memperbaiki hal ini. Pihak kampus tidak mau atau tidak sanggup untuk menjadi buffer pendanaan karena meskipun sudah jelas dananya ada (hanya turun terlambat) nanti mereka disalahkan karena melanggar prosedur. Jangan-jangan malah mereka yang dituduh korupsi dan masuk penjara. Administratif mengalahkan substansi.

Belum lagi ada masalah dana penelitian yang tidak berkesinambungan. Bagaimana mau meneliti jangka panjang kalau baru satu tahun dana penelitian sudah dihentikan. Salah satu alasannya adalah tema atau topik yang berubah. Akhirnya peneliti ini juga harus mengubah penelitiannya sesuai dengan tema yang sedang ini. Itu kalau mau hidup. Kalau yang tetap tekun dengan topik penelitiannya malah kemungkinan mati. Di kita ini yang penting “ada penelitian”. Supaya kalau dicek ada. Peduli amat kalau penelitiannya itu jalan atau tidak. Terus kalau ada masalah, semua angkat tangan.

Dana penelitian dari industri? Di Indonesia, sebagian (besar?) “industri” sebetulnya adalah pedagang. Mereka hanya memasarkan produk yang sudah jadi dari luar negeri. Mencari dana penelitian dari mereka itu masih dapat dikatakan sulit bahkan impossible. Bertahun-tahun saya mencoba membujuk para Country Managers dari berbagai perusahaan dunia yang ada di Indonesia untuk melakukan sedikit penelitian di Indonesia. Belum pernah ada yang merespon dengan positif. Untuk apa susah-susah (dan malah meresikokan karir mereka)?

Akhirnya, banyak peneliti yang terpaksa mengeluarkan uang dari koceknya sendiri. Saya pun demikian. Malu menceritakannya. Mosok negara disubsidi oleh para peneliti yang kantongnya juga cekak. Hanya orang gila (yang memang mencintai bidangnya) yang mau melakukan penelitian yang benar di Indonesia ini.

Lantas para peneliti Indonesia dipaksa bersaing dengan peneliti di luar negeri? Mimpi. Maka jangan marah kalau ada banyak peneliti Indonesia yang berkiprah di luar negeri. Mereka memang HARUS berada di luar negeri. Kalau ada pemain sepak bola Indonesia yang kualitasnya luar biasa, apakah dia harus kita kerem (kurung) di Indonesia? Biarkan dia main di liga-liga dunia, bukan?

Ada banyak lagi yang dapat kita diskusikan. Oh ya, perlu diingat bahwa selain “Research” ada juga “Development“. Kan R&D. Kita harus dapat membedakan itu. Ini kita bahas di tulisan lain ya.

Oh ya, saya masih meneliti di Indonesia. Dasar orang gila. Dahulu juga sempat menjadi peneliti di Kanada. Just in case you are wondering.


Bacaan Yang Pantas Dibaca

Ada berapa buku yang diterbitkan setiap harinya? Saya tidak tahu statistiknya. Semestinya banyak. Dari buku-buku yang diterbitkan ini, berapa persen yang bagus dan layak untuk dibaca? Nah, ini lagi-lagi saya tidak tahu, tetapi saya menduga jumlahnya tidak banyak. Ini berdasarkan pengalaman pribadi dikecewakan membeli buku. Mungkin ketidaksukaan saya pada beberapa buku adalah masalah selera, tetapi saya yakin memang banyak buku yang tidak layak untuk dibaca. Memboroskan waktu saja.

Bagaimana mencari buku yang pantas dibaca? Untuk itu ada beberapa situs yang memberikan resensi dari para pembaca buku. Bukan dari penerbit / penjual buku. Review dari mereka dapat membantu kita memilih buku yang pantas dibaca.

Sekarang dengan teknologi informasi (IT) makin banyak bahan bacaan lagi. Ada banyak blog, situs, situs berita, dan juga media sosial. Dari ini semua, seberapa banyak yang memang pantas untuk ditukarkan dengan waktu kita? Saya yakin, tidak banyak. Lantas, mengapa kita masih membuang waktu kita untuk membaca, mengomentari, dan bahkan mencari bacaan yang tidak manfaat itu?

Carilah bacaan yang manfaat, yang membuat kita menjadi lebih baik dan bahagia. Bukan bacaan yang membuat kita marah-marah, meningkatkan tekanan darah, dan membuat permusuhan. Lebih baik cari bacaan yang positif lah. Memang tidak banyak, tetapi ada. Hargai waktu kita.


Pembatasan Waktu Kuliah di Perguruan Tinggi

Apakah perlu ada batas waktu di perguruan tinggi? Misalnya, setelah melewati waktu tertentu (x) maka yang bersangkutan di-DO (drop out). Alasannya kenapa ya?

Jaman dahuluuuu sekali tidak ada aturan ini. Jaman saya kuliah dulu ada yang kulihanya 10 tahun. Maka ada istilah “mahasiswa abadi”. hi hi hi. Waktu itu ini bisa terjadi karena tempat di perguruan tinggi masih banyak tersedia. Jadi tidak perlu ada pembatasan waktu kuliah. Toh mahasiswanya juga tidak menjadi membebani sumber daya (resources) perguruan tinggi. Dia hanya menjadi angka statistik saja (yang mana ini mungkin tidak disukai perguruan tinggi atau pemerintah).

Majukan waktu. Fast forward. Semakin banyak siswa yang ingin masuk ke perguruan tinggi sementara tempat tetap terbatas. Mulailah menjadi masalah. Maka mulailah dibatasi waktu studi di perguruan tinggi – meskipun waktunya masih agak longgar juga. Kalau lewat batas waktu itu, maka mahasiswa diancam DO juga.

Pada saat yang sama terjadi “inflasi” gelar. Kalau dahulu bergelar S1 sudah menjadi “jaminan” untuk mendapatkan pekerjaan, sekarang pekerjaan yang sama membutuhkan gelar S2. Apaan sih ini? Akibatnya gelar diperjualbelikan.

Majukan waktu lagi. Batas waktu diperketat lagi. Sekarang katanya kalau lewat dari 5 tahun di perguruan tinggi bakal kena DO. Nah, ini malah sumber masalah. Mahasiswa dan perguruan tinggi tidak mau terjadi DO. Ini mimpi buruk bagi keduanya. Bagi sang mahasiswa (dan orang tuanya) sudah jelas ini mimpi buruk. Bagi perguruan tinggi? Ini juga mimpi buruk. Mana ada perguruan tinggi yang mau menunjukkan statistik DO-nya. Bayangkan jika ada perguruan tinggi yang mengatakan bahwa 50% mahasiswanya drop out. Ada yang mau daftar? (Padahal ini seharusnya tidak masalah.)

Untuk menghindari DO ini maka muncullah upaya-upaya nakal. Salah satunya adalah menurunkan kualitas. Pokoknya kalau bisa seluruh mahasiswa lulus! Soal-soal ujian dipermudah. Everybody is happy. Ancur bukan? Dosen yang tidak meluluskan mahasiswa malah akan mendapat masalah, meskipun sang mahasiswa tidak layak untuk lulus. Biarkan saja nanti dunia bisnis / industri yang menerima akibatnya. Nah lho.

Atau, upaya nakal lain adalah berbuat curang. Bagi mahasiswa yang bermasalah ini adalah pilihan yang terpaksa mereka lakukan. Kalau tidak berbuat curang dan gagal, di-DO. Kalau berbuat curang dan ketahuan di-DO. Itu kalau ketahuan. Kalau tidak? Ya selamat. Kalau dilihat dari pertimbangan ini, maka melakukan kecurangan lebih prospektif daripada berbuat jujur. Padahal di perguruan tinggi satu hal yang justru TIDAK BOLEH dilakukan adalah curang. Gagal boleh. Curang tidak boleh. Nah perarturan ini menjadikan gagal tidak boleh. Maka curang menjadi alternatif yang lebih menjanjikan.

Bagi saya ada masalah yang lebih besar. Jika batas waktu itu semakin diperketat sehingga tidak ada ruang bagi mahasiswa untuk melakukan hal lain selain kuliah dan ujian saja. Padahal mahasiswa harus belajar untuk bersosialisasi, berinteraksi dengan masyarakat, berorganisasi, mencoba membuat usaha (startup), dan seterusnya. Alasan “saya masih mahasiswa” akan lebih mudah diterima ketika dia gagal dalam membuat usaha / berinteraksi, dan seterusnya. Kalau sudah lulus, tidak ada alasan untuk gagal. Masyarakat menuntut keberhasilan. Kapan dia belajar untuk gagal? Untuk jagoan dalam mengendarai sepeda pasti pernah jatuh. Lebih baik jatuh ketika sedang belajar naik sepeda daripada tidak pernah jatuh dan justru terjatuh ketika ngebut naik sepeda.

Saya sering menasihati mahasiswa saya untuk tidak cepat-cepat lulus. Buat apa cepat lulus dan setelah itu pusing cari kerjaan? Perusahaan pun pusing menerima lulusan yang tidak siap kerja. Bukankah lebih baik mencari pengalaman kerja ketika menjadi mahasiswa sehingga ketika lulus dia sudah siap.

Mahasiswa tetap berada di kampus pun sebetulnya tidak menambah beban kampus. Dia hanya menjadi tambahan entry di dalam database saja, bukan? Kalau dia mau mengambil kuliah, maka dia memang harus membayar sejumlah mata kuliah (SKS) yang dia ambil. Biaya (cost) terpenuhi sehingga tidak terlalu menjadi beban.

Singkatnya, saya melihat lebih banyak masalah atau mudarat daripada manfaat dalam pembatasan waktu kuliah yang terlalu ketat.


Seni Mengemudikan Kendaraan

Mengemudikan kendaraan – mobil, motor, bahkan sepeda – membutuhkan kemampuan. Tidak bisa seseorang yang bisa naik motor langsung turun ke jalan raya. Ada seni untuk mengemudikan kendaraan. The art of driving / riding.

Salah satu faktor yang harus dimiliki oleh seorang pengendara adalah kemampuan memprediksi perilaku pengendara dan pengguna jalan lainnya. Motor di depan ini mau terus atau belok. Atau bahkan berhenti. Mobil angkot (angkutan kota) di depan ini kayaknya akan berhenti menunggu calon penumpang. Ngetem.

Di sisi lain, kita sebagai pengendara juga memberi sinyal-sinyal kepada pengendara dan pengguna jalan lainnya. Ada tanda yang sangat eksplisit, misalnya dengan menyalakan tanda belok (kiri atau kanan). Ada juga dang gesture badan kalau mengendarai motor – misal menengok atau melihat kaca spion. Pokoknya ada indikasi-indikasi yang membuat orang lain tahu apa yang akan kita lakukan. Seperti menari mungkin? Atau kalau dalam musik jazz, memberikan tanda kepada pemain lain untuk masuk / berimproviasi.

Sekarang ini ada banyak pengemudi yang lempeng aja. Mungkin dia fokus kepada diri sendiri dan tidak peduli kepada orang lain. Kaca spion diarahkan kepada dirinya. Untuk ngaca? Tidak mau memperhatikan orang lain dan tidak memberikan tanda-tanda kepada orang lain. Tiba-tiba berhenti saja. ATau belok. Ini berbahaya. Membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

Kemampuan – skill & art – dari mengemudi kendaraan ini belum dimiliki oleh anak kecil. Itulah sebabnya anak-anak belum boleh mengendarai kendaraan di jalan raya.


Masalah Band Amatiran

Ada dua hal yang paling susah dalam band amatir ketika manggung, yaitu (1) berhenti bersamaan di akhir lagu, dan (2) recover kalau ada kesalahan dalam memainkan lagu. Mari kita bahas yang pertama dahulu, berhenti bersamaan.

Dalam memainkan lagu, memulai secara bersamaan itu relatif lebih mudah. Cara paling gampang adalah kita menghitung, satu dua tiga dan jreng. Mulai. Namun kadang memulaipun bermasalah. Nah, kalau mulainya sudah bermasalah ini tanda-tanda akan bermasalah seterusnya. he he he. Biasanya sih ini tidak masalah.

IMG_7929

[Foto Gen81 Band manggung di Ganesha Night, 17 April 2015]

Lagu sudah mulai dimainkan. Kesulitan muncul pada saat akan berhenti. Bagaimana berhenti di akhir lagu? Ada banyak lagu yang aslinya berhenti dengan menggunakan fade out. Makin lama, makin kecil volume suaranya. Kalau manggung, ini tidak bisa dilakukan. Berhenti harus jreng! Harus bersamaan. Itu susahnya. Sering ada yang berhenti duluan dan ada yang masih mau terus. he he he. Kelihatan repotnya band amatiran itu di sini. hi hi hi.

Yang lebih repot lagi adalah kalau ada kesalahan dalam memainkan lagu. Misalnya ada bagian yang harus dimainkan 4 bar. Eh, ini baru 2 bar ada yang sudah pindah ke bagian lain. Nah lho. Bagaimana pemain musik lainnya? Apakah kemudian memaksa untuk memainkan 4 bar? Yang salah ngikut? Atau justru yang lainnya menjadi ngikut hanya 2 bar saja? Masalah recover kalau ada kesalahan itu merupakan yang sering dihadapi. Band yang baru, amatir, biasanya kacau balau kalau ini terjadi. hi hi hi.

Jika dua hal di atas bisa diatasi, maka band terlihat relatif bagus. Setidaknya, kompak! Dan kompak itu susah.


Siapa Yang Mau Harga Naik?

Salah satu keluhan (kritikan) yang banyak muncul akhir-akhir ini adalah tentang kenaikan harga. Dan tentu saja yang disalahkan adalah pemerintah. Maklum, siapa lagi yang bisa disalahkan? hi hi hi.

Ada satu hal yang mungkin terlalu sepele sehingga terlupakan: tidak ada orang yang suka harga bahan pokok naik.

Jangankan orang yang gak punya duit, yang kaya dan punya duit sekalipun saya yakin tidak suka adanya kenaikan harga bahan-bahan pokok. Semua orang punya keluarga dan kadang pegawai (yang membantu pekerjaan). Pastinya semua orang akan merasakan dampak dari kenaikan harga. Jadi, orang yang kayapun akan pusing tujuh keliling.

Pilihan untuk menaikkan harga bukanlah pilihan yang mudah. Ini adalah pilihan yang tidak populer bagi para politisi dan sangat kritis. Jika ada pilihan lain, pastilah mereka akan pilih yang itu karena ini akan berimbas bagi kepopulerannya. Jadi, mengatakan bahwa menaikkan harga adalah jalan yang termudah menurut saya sebetulnya tidak demikian.

Saya juga yakin yang memberikan kritik juga tidak serta merta tidak berusaha. Usaha banyak dilakukan tetapi terkendala dengan kondisi ini. Harga yang naik.

Poin saya sebetulnya adalah ini, bahwa kita bersama-sama menghadapi masalah ini karena masalah ini bukan masalah Anda saja tetapi masalah kita semua. Semoga kita diberi kemudahan untuk melalui masalah ini.


Saya Bukan Seorang Oportunis

BR pilih 2Saat ini banyak yang bertanya-tanya, kemana para pendukung Jokowi? Ini di sini. Saya masih mendukung Jokowi. Saya bukan seorang oportunis, yang melarikan diri ketika masalah datang tetapi muncul terdepan ketika kemenangan hadir. Masalah harus dihadapi dan dipecahkan, bukan untuk dihindari (untuk kemudian muncul lagi bagi generasi berikutnya).

Saya tampilkan kutipan berikut:

penghuni tikungan jalanan, lenyap saat peristiwa, muncul paling depan setelah kejadian” (Yockie Suryo Prayogo)

Membangun negara yang sudah kocar-kacir membutuhkan waktu. Ada banyak hal yang harus dibenahi. Membangun infrastruktur tidak bisa instan. Butuh waktu dan pengorbanan. Sama seperti dengan menanam pohon (kelapa). Mungkin kita tidak sempat merasakan buahnya. Ini adalah untuk generasi berikutnya.

Oh ya, untuk pak Jokowi, tetaplah tegas dengan prinsip-prinsip bapak. Gantilah bawahan dengan orang-orang yang memegang visi dan cita-cita yang sama. Yang memiliki keberanian untuk menggapai cita-cita meskipun jalan menuju ke sana terjal dan berliku-liku. Saya paham bahwa ada manuver-manuver politik yang harus dilakukan. Ada risiko yang harus diambil. Namun, janganlah mengorbankan prinsip untuk jabatan. Paling-paling bapak ditendang seperti halnya Gus Dur, yang masih saya hargai (respect). You have to prove nothing to nobody, but yourself.

Mari kita tetap berjuang. Kerja, kerja, kerja. Mari kita kerja.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.381 pengikut lainnya.