Pembenaran 5 Detik

Sebenarnya yang kita cari dalam berdiskusi atau debat adalah pembenaran, bukan kebenaran. Kita mencari apa atau siapa yang dapat mendukung atau membenarkan pendapat kita. Kita mencari persetujuan.

Itu pula yang terjadi di media sosial. Kita mencari pembenaran atau persetujuan dari orang-orang dalam bentuk “like” (atau sejenisnya). Bagaimana orang bisa memberikan persetujuan dengan akal sehat kalau dia baru membaca (atau melihat) tulisan kita dan 5 detik kemudian menyatakan setuju dengan memberikan “like”? Coba cek, berapa waktu yang kita butuhkan untuk memberikan “like” di media sosial?

Jadi jangan dulu senang kalau banyak yang menyukai (like) tulisan atau foto Anda. Secara, 5 detik gitu lho.

Iklan

Berita Yang Terlalu Wah

Coba perhatikan berita yang muncul di media massa konvesional; baik yang berbentuk cetak maupun online. (Online seperti detik.com sudah saya anggap sebagai media konvensional.) Berita yang ditampilkan umumnya terlalu wah. Yang saya maksudkan dengan “wah” di sini adalah terlalu dibesar-besarkan.

Bagaimana saya tahu ini? Saya tahu karena ada berita yang saya tahu aslinya dan yang ditampilkan terlalu wah. Misalnya, si Fulan jagoan ini dan itu. Padahal saya tahu si Fulan ini biasa-biasa saja. Saya duga si Fulan tidak berniat untuk menyombongkan diri atau membesar-besarkan. Medialah yang melakukannya. Berita lain yang sejenis adalah startup ini luar biasa. Padahal saya tahu ada banyak yang lebih hebat tetapi tidak muncul di media. Jangan salah, saya suka berita yang bagus. Good news. Tetapi yang tidak saya suka adalah berita yang tidak benar. Berita yang terlalu dibesar-besarkanpun menurut saya bukan berita benar.

Pada awalnya saya tidak terlalu peduli, tetapi kalau ini dibiarkan terus menerus maka apa jadinya dunia jurnalisme Indonesia? Apakah ini didorong oleh bisnis? Bahwa berita yang heboh lebih menarik sehingga lebih banyak dibaca dan akhirnya dapat dijual kepada pihak yang tertarik untuk pasang iklan. Uang yang berbicara. Parah.

Sekarang saya lebih suka dan lebih mengandalkan berita yang ditulis oleh orang bisa. Citizen journalism. Tadinya saya mengira bahwa media massa konvensional masih akan mendominasi. Setidaknya, mendominasi bahan bacaan saya. Ternyata sekarang tidak. Berita dari orang biasa memang masih harus dipertanyakan juga keabsahannya. Take it with a grain of salt, kata orang Barat. Sekarang berita dari media konvensionalpun tidak dapat diandalkan keabsahannya.

Artinya kita harus belajar untuk membedakan mana berita atau tulisan yang sesungguhnya dan mana yang sudah penuh dengan bumbu.

Ada MSG?

Memperhatikan Lingkungan

Dalam sebuah wawancaa saya ditanya mengenai bagaimana cara saya mendapatkan ide-ide atau memprediksi sebuah teknologi atau kesempatan bisnis. Jawaban singkat saya adalah banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Yang saya maksudkan banyak membaca adalah membaca apa saja. Untuk bidang teknologi saya sering membaca majalah IEEE dan mendengarkan ulasan teknologi di berbagai sumber berita. (Membaca di sini juga termasuk melihat dan mendengar.) Untuk yang melihat, saya jarang nonton TV Indonesia karena saya tidak mendapatkan nilai tambah. Coba sebutkan channel TV yang banyak membahas teknologi.

Untuk dunia bisnis saya senang menonton TV berita luar negeri. Biasanya sering sekali dibahas soal tenologi terbaru dan kemungkinan bisnisnya. Untuk bahan bacaan, lebih menarik membaca majalah bisnis ketimbang membaca koran Indonesia. Lagi-lagi, perhatikan koran Indonesia yang isinya berita negatif semua.

Ketika membaca, melihat, dan mendengar, saya mencoba memperhatikan ini utamanya. Kemudian saya mencoba mengarang, melihat jauh ke depan. Tidak perlu jauh-jauh melihatnya, melihat satu dua langkah ke depan saja. Ternyata kemampuan ini tidak banyak dilatih oleh banyak orang.

Perhatikan pengemudi atau pengendara motor di Indonesia ini. Kebanyakan – atau mungkin sebagian besar? – hanya melihat apa yang ada di depannya saja. Dia tidak mencoba melihat situasi di depan kendaraan yang ada di depan dia. Dengan kata lain, untuk melihat satu (atau dua ya?) langkah ke depan dia sudah tidak berminat. Maka kemampuan untuk memprediksi situasi di jalanpun rendah. Ketika kendaraan kita berhenti, maka klakson di belakang mulai berbunyi. Dia tidak melihat kenapa kita berhenti. Padahal di depan kita ada kendaraan lain yang juga berhenti. Dengan hanya sedikit usaha, dia bisa tahu. Analogi melihat ke depan dalam dunia teknologi dan bisnispun mirip seperti itu.

Nah, untuk saat ini saya melihat beberapa topik menarik seperti Blockchain, Internet of Things (IoT), dan Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning. Dari mana saya tahu ini? Ya dari banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Semangat: Karena Hanya Itu Yang Kumiliki

Saya senang bermain futsal dan sepak bola. Khususnya untuk futsal, saya boleh dibilang suka sekali. Secara rutin saya bermain futsal dua kali seminggu, masing-masing 2 jam. Ini sudah saya lakukan sejak … hmm … lupa berapa tahun yang lalu. (5? 7? 10? Lupa. Pokoknya sudah lama sekalilah.) Alasan saya tetap tekun berolahraga futsal ini adalah untuk menjaga kesehatan. Tetapi tulisan ini bukan tentang itu.

Ketika bermain futsal, biasanya saya bermain dengan yang usianya lebih muda dari saya. Bahkan seringkali usia mereka dikali dua pun masih lebih muda dari usia saya. ha ha ha. Namun dari cara bermain mereka ada perbedaan yang mendasar.

Saya sadar bahwa saya kalah skill dari banyak orang. Yang saya miliki hanya semangat (dan biasanya juga stamina). Yang SERING SEKALI (sampai pakai huruf besar dan bold) saya lihat adalah anak muda cepat sekali kehilangan semangat. Kalau bermain dan pada posisi kalah, lantas hilang semangatnya. Pernah suatu kali di sebuah pertandingan, tim saya ketinggalan 0-4 di babak pertama untuk kemudian memenangkan pertandingan dengan skor 8-5. Masalahnya ya itu, begitu mereka disamakan kedudukan langsung hilang semangat mereka. Bubar jalanlah.

Skill dan stamina sangat sulit menjaga. Apalagi dengan bertambahnya usia. Tetapi, semangat? Ini tidak ada batasan usia.

Semangat atau hilang semangat itu menular. Jika kita bersemangat, maka yang lain terbawa bersemangat juga. Seringkali saya belum main dan tim mainnya buruk sekali. Begitu saya masuk dan menjadi bagian dari penyerang, permainan tim kami menjadi bagus sekali. Bahkan sering saya ikut menghasilkan gol. (Saya sering masuk ke jajaran top scorer, yang saya sendiri tidak mengerti kenapa kok bisa.) Padahal – sekali lagi – soal skill saya kalah jauh dari lawan main dan kawan-kawan satu tim. Saya sendiri sebetulnya tidak menyadari hal ini sampai salah seorang anggota tim mengatakan ini. Oh iya ya.

Sementara itu seringkali jika ada anggota tim yang hilang semangat, klemar kelemer, maka pemain lain pun akhirnya menjadi tidak semangat. Permainan tim langsung menjadi buruk juga. Bahkan ada pemain yang kalau pada posisi kalah, langsung mutung.  Keluar. Bahkan pulang duluan. Mental pecundang!

Saya tahu, hanya semangat yang saya miliki. Semangat tidak membutuhkan modal apa-apa, hanya keinginan diri untuk bersemangat saja.

Hal ini juga ternyata berlaku di luar lapangan. Dalam kehidupanpun demikian. Bersemangatlah dalam hidup. Apapun situasinya, bersemangatlah.

Jokowi dan 2019

Sesekali saya menemukan tulisan atau pertanyaan tentang bagaimana kans Jokowi menjadi presiden kembali di tahun 2019. Jawabannya tentu saja bergantung kepada siapa yang ditanya. ha ha ha. Secara, Indonesia begitu lho. Menjawab tanpa data. Itu yang pertama. Yang kedua adalah, mengapa sih tahun 2019 diributkan? Ini saja baru masuk ke tahun 2018. Bukannya lebih baik memikirkan tahun 2018? Tapi baiklah. Saya akan coba membuat opini saya. Tentu saja opini ini datang dari pengamat yang bukan bergerak di bidang ilmu Politik. Take it with a grain of salt.

Kalau saya ditanya tentang peluang Jokowi terpilih kembali pada tahun 2019 dengan kondisi saat ini, maka jawaban saya adalah bakal gagal. (Sebelum saya dituduh ini dan itu, saya sampaikan dahulu bahwa saya termasuk yang mendukung Jokowi menjadi presiden. Nah.) Lho?

Mengapa kok tidak bisa terpilih kembali? Bukankah sekarang ada kemajuan di banyak hal, khususnya di bidang infrastruktur? Jawaban saya adalah justru itu masalahnya! Maksudnya bagaimana sih?

Begini, infrastruktur di banyak tempat di Indonesia ini – khususnya di luar pulau Jawa – banyak yang terabaikan. Sekarang ada banyak pembangunan di sana sini sehingga luar pulau Jawa tidak lagi “dianaktirikan”. (To Do: data dan statistik tentang berbagai pembangunan tersebut perlu ditautkan di sini.) Permasalahannya adalah pembangunan ini membutuhkan dana yang luar biasa. Pasti menyedot banyak kas negara. Akibatnya semua warga negara harus memikul biaya ini.

Masalahnya adalah tidak semua orang Indonesia – khususnya yang berada di pulau Jawa – mau berbagi dengan penduduk di luar pulau Jawa. Mereka akan memikirkan dirinya sendiri. Sebagai contoh, ada perbandingan tentang harga bensin sekarang dan beberapa tahun yang lalu. Jika kita melihat harga di pulau Jawa, maka bisa dilihat bahwa harga naik. Tetapi kalau dilihat harga di Papua, misalnya, akan terlihat turun. Bagi orang yang berada di pulau Jawa – yang vokal dan jumlahnya banyak – peduli amat dengan Papua. Harga apa lagi yang dapat diperbandingkan ya? [Ada beberapa meme yang sudah beredar. Seperti misalnya “penak jamanku toh?”]

Penduduk Indonesia masih terfokus di pulau Jawa. Pemilupun akan didominasi dari suara di pulau Jawa. Dimana-mana juga, tempat yang populasinya padatlah yang menentukan hasil pemilihan suara. Itulah sebabnya jika masalah persepsi ini tidak ditangani, maka kans Jokowi di 2019 akan kecil.

Subsidi dikurangi. Selain BBM, biaya listrik contohnya. Bagi masyarakat yang sudah biasa ngempeng,  ini merupakan pukulan. Mereka masih tetap ingin seperti bayi. Tidak ingin dewasa kalau dilihat dari soal subsidi ini. Maka persepsi semuanya menjadi mahal menjadi bertambah. Padahal mereka tidak melihat perbaikan infrastruktur dan kemudahan-kemudahan yang sekarang mereka peroleh. Growing up is never easy.

Intinya: persepsi masalah ekonomi yang dilihat oleh penduduk pulau Jawa.

Oh ya, sekalian untuk pak Jokowi. Jangan hanya bangun infrastuktur saja pak. Suprastruktur juga harus dibenahi. Tapi yang lebih penting adalah manusianya yang harus dibenahi. (Apakah “Revolusi Mental” masih berjalan?) Banyak inisiatif yang “merendahkan” kemampuan manusia Indonesia. Patronizing. Semua harus disuapi. Dan sejenisnya. Yang ini tentu saja lebih susah dibenahi daripada infrastruktur fisik. Tapi, masalah infrastruktur yang sulit juga bisa dibenahi mengapa yang ini juga tidak dicoba?

Kembali ke soal pembangunan infrastruktur, siapa “Bapak Pembangunan” Indonesia? Yep. Itulah sebabnyak banyak orang yang khawatir pak Jokowi akan menjadi “Bapak Pembangunan Kedua”. Seingat saya ada karikatur yang dibuat oleh Kompas atau Tempo ya yang menampilkan hal ini? (Karikatur yang sama sempat saya lihat di sebuah presentasi tentang politik Indonesia di sebuah seminar di Australia.)

[Tulisan ini sudah lama ingin saya buat tetapi selalu tidak jadi saya lakukan karena saya membutuhkan data yang lebih banyak. Namun data tersebut tidak kunjung saya cari. ha ha ha. Akibatnya tidak jadi ditulis terus. Lha kapan jadinya. Ya sudah. Saya buat versi ini dulu yang nanti akan saya perbaharui dengan data dan analisis yang lebih baik. Oh ya, ini bukan parodi. Ini opini. Just in case you are wondering.]

Berkomentar

Sejalan dengan makin diterimanya sistem elektronik (blog, media sosial, dan sejenisnya) dalam berdialog, berkomentar atau mengomentari komentar-komentar lainnya (apa sih ini … hi hi hi) sudah menjadi kebiasaan. Nah, sebelum menjadi kebiasaan yang buruk, mari kita belajar untuk membuatnya menjadi yang baik.

Satu hal yang sering mengganggu bagi saya adalah adanya orang yang asal berkomentar tanpa memperhatikan yang dia komentari. (Mumet?) Contohnya begini, ada sebuah dikusi tentang teori relativitas dan kemudian ada komentar dari Einstein. (Iya, Einstein sudah tiada. Ini kan hanya contoh. Contoooohhhh ya.) Setelah itu ada orang yang komentar ngasal. Yang lebih “mengerikan” (lucu?) adalah sang komentator ini kemudian menyarankan Einstein untuk belajar Fisika dulu. “Makanya, belajar Fisika dulu bro“. Pakai “bro” pula. ha ha ha. Dia tidak tahu dan TIDAK MAU MENCARI TAHU bahwa lawan bicaranya adalah Einstein.

Di zaman internet saat ini, untuk mencari tahu tentang seseorang itu sangat mudah sekali. Ada Google (dan kawan-kawannya). Klik sedikit maka kita tahu bahwa Einstein itu paham soal Fisika. Masalahnya adalah mau atau tidak maunya.

make-a-comment-like-a-boss-done

Oh ya, saya pun beberapa kali pernah di-masbro-kan seperti contoh Einstein di atas (untuk bidang yang berbeda). Ha ha ha. (Bidang apa? Ya tinggal dicari sebagaimana dicontohkan tadi.)

Inti yang ingin saya sampaikan adalah ketika kita akan memberikan komentar maka ketahui dahulu lawan bicara kita. Itu saja.

Kemampuan Memahami Manusia

Sekarang sedang ramainya dibicarakan tentang Artificial Intelligence (AI) yang dimiliki oleh mesin atau komputer, tetapi tulisan ini malah akan membahas ke-tidak-mampuan manusia dalam memahami manusia lainnya. Manusia adalah makhluk yang berkomunikasi dengan manusia lainnya. (Eh, mungkin dengan non-manusia juga.) Namun kemampuan berkomunikasi ini tidak diajarkan. Seolah-oleh dia akan dimiliki secara otomatis. Berkomunikasi harus memahami lawan komunikasinya.

Masalah yang ada di lingkungan kita hari ini banyak yang berakar dari ketidakmampuan manusia untuk memahami manusia lainnya. Entah tidak mampu atau tidak peduli alias egois. Saya anggap tidak mampu, karena saya masih berasumsi baik. Contoh yang paling ekstrim adalah komunikasi di dunia siber, seperti di jejaring sosial. Banyak salah pengertian. Di jalan raya juga banyak kecelakaan yang terjadi karena pengemudi saling salah pengertian. (Itulah sebabnya anak-anak dilarang mengendarai motor karena kemampuan memahami pengendara yang lain dan memprediksi apa yang akan dilakukan oleh pengendara lain tersebut sangat minim atau belum ada.)

Di dunia nyata, ketika kita berbicara dengan seseorang maka kita dapat melihat gesture dari lawan bicara kita. Kita dapat melihat apakah dia bingung, marah, senang, sedih, bisan, dan seterusnya. Ketika kita berkata sesuatu dan lawan bicara kita melotot maka kita dapat langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dari kata-kata kita. Di dunia siber, ini sulit kita deteksi. Kita juga bisa melucu dan melihat lawan bicara kita tertawa atau terdiam (karena lawakan kita tidak lucu atau dia tidak dapat menangkap kelucuannya). Seketika itu juga. Nah, di dunia siber susah. Ada emoticons yang membantu kita untuk mengungkapkan perasaan kita, tetapi itu tidak cukup.

Akibatnya sering terjadi tulisan yang tujuannya sekedar gurauan, lawakan, parodi, dianggap sebagai sesuatu yang serius. Kacaulah hasilnya.

Bagaimana mengajarkan kemampuan untuk memahami manusia? Apakah perlu ada pendidikan formal? Atau informal? Nampaknya kita tidak pedulu tentang hal ini dan berharap bahwa manusia akan belajar dengan meniru manusia lainnya. Sialnya kalau manusia yang dia tiru adalah manusia yang tidak punya kemampuan (memahami manusia) itu. Wadaw …