Terburu-buru

Melihat media sosial saat ini, ada kesan bahwa banyak orang terlalu terburu-buru dalam membaca. Mungkin ini disebabkan karena emosi – rasa kebencian yang mendalam – yang menguburkan kesabaran. Padahal untuk memahami pesan yang tertulis, kadang kita harus membacanya berulang-ulang.

Ini baru untuk tulisan-tulisan yang relatif “mudah” dicerna. Bayangkan kalau kita harus membaca makalah yang lebih sulit untuk dimengerti. Masalah emosi juga mungkin ada, tetapi berupa rasa kesal karena tidak mengerti apa yang dibaca. (ha ha ha.) Inilah sebabnya banyak peneliti – terutama yang mengambil S3 – seringkali mengalami tekanan jiwa. Sudah susah memahami tulisan yang dibaca, orang-orang pun tidak bisa memahami. Apa susahnya sih membaca (makalah)?

Ada banyak tulisan yang membahas topik kontroversial; mulai dari masalah mistik, agama, extra terestrial (makhluk luar angkasa), dan hal-hal lain yang masih belum dimengerti secara teknis (scientific) oleh manusia. Untuk hal-hal seperti ini, belum apa-apa kita sering menghakimi bahwa tulisan atau pendapat tersebut adalah sampah.

Rasa keingintahuan (curious) seharusnya merupakan prinsip utama yang harus dipegang teguh. Disertai dengan kesabaran – tidak terburu-buru – ini adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dalam rangka mencari kebenaran.

(belajar) Santun

Budaya sebuah bangsa itu berbeda. Ada kaum yang kalau bicara agak teriak-teriak, bahkan tangannya juga main ke depan muka kita. Ada yang kalau bicara langsung to-the-point. Ada yang harus membutuhkan “intro” yang panjang untuk menyampaikan maksudnya. Ada yang tidak boleh langsung. Harus muter-muter dulu. Cara menyampaikan yang salah, bisa ribut. ha ha ha. (Bayangkan itu yang biasa teriak-teriak diajak diskusi dengan orang yang biasa lemah lembut. Langsung dikira marah-marah. hi hi hi.)

Perlu diingatkan bahwa ketika kita ingin menyampaikan pesan, maka kita perlu melihat budaya penerima pesan tersebut. Salah cara menyampaikannya, maka pesanpun tidak sampai.

Budaya Indonesia itu penuh dengan kesantunan, berbeda dengan budaya “Barat” yang sering langsung kepada intinya. Sebagai contoh, ketika kita menawakan makan/minum kepada orang Indonesia biasanya tidak dijawab langsung dengan “ya”. Biasanya jawabannya adalah “tidak” dulu, meskipun yang bersangkutan lapar atau haus. Setelah beberapa kali ditanya, barulah dijawab “ya”. Sementara itu dalam budaya Barat, begitu sekali dijawab tidak, ya sudah. Tidak ditawari lagi.

Saya termasuk yang “tercemar” oleh budaya Barat. Ketika kembali ke Indonesia, saya membawa budaya Barat ini dalam berkomunikasi. Sebagai contoh, kalau ada seseorang (atasan, pejabat) yang salah, saya akan katakan terus terang “bapak salah!”. Hasilnya, banyak orang yang “terluka”. Padahal maksud saya baik, tetapi akibatnya malah jadi negatif. Sudah pesan tidak sampai, malah suasana tidak nyaman dan hubungan jadi retak. Untuk kasus yang saya jadikan contoh tadi, kalau di Indonesia, yang lebih tepat adalah “bapak kurang tepat” (bukan salah, ha ha ha). Atau, “bapak kurang optimal”. Halah.

Di sebagian komunitas, berbahasa kasar juga wajar. Misal di beberapa daerah dan komunitas tertentu di Amerika, penggunaan kata “f***” (the word) dalam berbicara mungkin dianggap biasa. Tapi coba pakai kata ini di lingkungan lain. Orang-orang bakalan melotot dan menganggap kita tidak sopan. Bukan orang sekolahan.

Di kalangan anak muda di Indonesia juga ada yang terbiasa menggunakan kata “anjing” (dan variasinya seperti “anjrit”, “anjis”, dan seterusnya) dalam berkomunikasi. Bagi mereka ini adalah hal yang lumrah. Coba kalau mereka jadi ketua RT dan memberi sambutan dengan kata-kata ini. Ha ha ha. Bakalan dilempari oleh warga. Lagi-lagi perlu diperhatikan budaya setempat.

Belajar untuk lebih santun merupakan salah satu alasan saya membuat blog ini. Saya harus bisa lebih santun dalam menyampaikan pesan. Begitu.

Sesuai Pengalaman Hidup

Cara berpikir dan bertindak seseorang itu sesuai dengan standar yang dibentuk melalui perjalanan hidupnya. Sebagai contoh, seorang yang selalu berpikiran negatif itu boleh jadi dalam perjalanan hidupnya selalu dinilai negatif sehingga dalam kacamatanya semua pasti negatif. Sementara seseorang yang senang berbagi (memberi) itu mungkin dalam perjalanan hidupnya mengalami banyak kejadian yang menyenangkan ketika berbagi sehingga dalam standarnya, semua orang itu ya berbagi.

Sangat disayangkan adalah orang yang belum pernah melihat dan mengalami kebaikan, kesabaran, dan hal-hal yang positif lainnya. Dia belum pernah merasakan kenikmatan aksi positif. Mungkin perlu piknik?

Memang pengalaman hidup ini membentuk karakter seseorang. Nah, kita masih dapat membuat pengalaman-pengalaman hidup selanjutnya. Masih mau cari yang negatif? Atau mau mencoba yang positif? Pilihan ada pada kita. Makanya kita cari lingkungan yang membuat kita jadi positif. Eh, itu dengan asumsi kita ingin yang positif lho. (Agak aneh saja kalau ada orang yang ingin negatif melulu. heu heu heu.)

Akar Masalah Kemacetan (di Bandung)

Banyak orang Bandung yang kesal karena kemacetan di kota Bandung sudah semakin parah. Bahkan Bandung menduduki tempat yang dianggap parah dalam hal lalu-lintas.

Banyak orang yang menyalahkan kemacetan ini kepada hal-hal teknis, tetapi saya ingin mengingatkan bahwa ada aspek lain yang lebih penting. Aspek manusia.

Masalah kemacetan di kota Bandung (dan mungkin di kota-kota lainnya juga) adalah ketidaksabaran, egois, dan ketidakpatuhan terhadap peraturan. Mari kita bahas.

Banyak orang yang tidak sabar ketika mengendarai kendaraan. Mereka menyangka bahwa orang lain tidak ingin cepat sampai. Apakah hanya mereka saja yang ingin cepat sampai? Sehingga mereka buru-buru. Tidak sabar. Ada celah sedikit saja disosor. Sabar sedikit kek kenapa?

Egois. Mau menang sendiri. Tidak mau berbagi. Kadang saya bingung. Ketika saya memberi jalan ke orang lain, maka orang yang di belakang saya marah-marah. Padahal dengan memberi jalan ini membuat jalan mengalir. Tidak macet deadlock. Sering juga yang diberi jalan bingung karena biasanya mereka tidak pernah diberi jalan. Sayangnya kemurahan hati ini sering di-abuse oleh orang lain dengan tidak mau bergantian.

Ketidakpatuhan terhadap peraturan menjadi masalah terbesar. Begitu jalur terhenti, maka biasanya motor-motor (dan kadang mobil gila) masuk ke jalur lawan arah sehingga kendaraan dari arah yang berlawanan tidak bisa berjalan. Macetlah jadinya. Orang-orang ini tidak merasa bersalah telah melanggar peraturan. Saya pernah menegur orang yang seperti ini, eh malah galakan dia. ha ha ha. Kacau…

Solusi terhadap masalah ini, ya tentu lawan dari sifat-sifat yang sudah disebutkan di atas. Ayo bersabar, berbagi, patuh pada peraturan. Tidak mudah memang. Tapi jika kita ingin kemacetan berkurang, maka hal-hal ini harus diajarkan dan dilaksanakan. Sifat-sifat ini tidak dapat muncul demikian saja. Mungkin awalnya harus didisiplinkan! Kalau melanggar disuruh push-up dulu kali ya? he he he

Konsistensi (Futsal)

Saya penggemar olah raga futsal. Entah kapan mulainya saya menyukai olah raga ini (yang pasti lebih dari 7 atau 8 tahun yang lalu, mungkin 10 tahun yang lalu?). Pada mulainya sih saya hanya bisa main 5 atau 10 menit. Setelah itu berkunang-kunang. hi hi hi. Sekarang saya bisa bermain 2 jam full.

Sebetulnya yang membuat saya bisa bermain lama ada dua hal. Pertama, rutin melakukannya. Seminggu saya bermain futsal dua kali dan itu saya lakukan secara konsisten tahunan. Yang kedua, saya bermain futsal bukan untuk mencari prestasi tetapi untuk berolah raga. Sebagai orang yang sudah berusia, saya membutuhkan olah raga. Kebetulan cocoknya futsal. Karena tujuannya tidak untuk mencari prestasi, maka saya tidak menjadi sok jago. ha ha ha. Main menjadi lepas dan menyenangkan.

Sering saya melihat orang yang tidak konsisten. Dan ke futsal hanya sekali-sekali. Kemudian ingin menonjol pula. Ha ha ha. Yang ini menggelikan bagi saya.  Meskipun mungkin mereka lebih mahir dalam bermain, tetapi saya lebih menghargai orang yang konsisten hadir latihan secara rutin. Apa lagi yang berharap punya stamina tinggi tetapi datang sekehendak sendiri. Ha ha ha.

Team work itu sangat penting. Ini dapat terlihat di luar lapangan juga. Ini membentuk karakter seseorang. Tidak percaya?

Kewarganegaraan 1.0

Setiap bercerita di depan kelas, atau memulai presentasi, sering saya bercerita tentang perjalanan hidup saya. Saat ini saya sedang dalam versi “3.3”. Ha ha ha. Kayak software saja. Tapi begitulah. Penomoran ini sebetulnya terinsipirasi dari buku karangan Thomas Friedman. (Dia mengarang banyak buku, seperti “The World is Flat” and “The Lexus and Olive Tree”. Tentang globalisasi.)

Friedman bercerita bahwa globalisasi memiliki versi. Pada versi 1.0, globalisasi ditandai dengan keinginan orang untuk menjadi warga negara lain, yaitu warga negera besar seperti Amerika Serikat, Inggris, dan seterusnya. Ini jaman dahulu kala. Kalau kita baca sejarah Indonesia, ada banyak orang Indonesia yang ingin bergabung menjadi bangsa penjajah (“Londo”) karena sangat menyedihkan kalau kita menjadi warga negara terjajah. Ini kewarganegaraan 1.0.

Globalisasi 2.0 terjadi dan kewarganegaraan tidak penting lagi. Yang penting adalah tempat kita bekerja, yaitu multinational companies. Maka banyak mahasiswa yang ditanya kalau lulus mau kerja dimana, jawabannya adalah perusahaan besar seperti Schlumberger, IBM, Citibank, Microsoft, General Electric, dan seterusnya. Dalam perusahaan besar tersebut kewarganegaraan tidak penting lagi. Menjadi “warga negara” perusahaan besar menjadi lebih penting.

Globalisasi 3.0 terjadi karena adanya internet dan pemanfaatan teknologi informasi. Batas fisik dunia tidak ada lagi. Maka tidak penting lagi kewarganegaraan dan perusahaan tempat bekerja, tetapi yang penting adalah diri kita sendiri. You! Maknanya adalah yang lebih penting lagi adalah apa kontribusi Anda ke dunia. What’s your contribution to society.

Maka kalau sekarang kita masih meributkan tentang kewarganegaraan maka sebetulnya kita masih berada pada globalisasi 1.0. Sudah ketinggalan jaman.

Jangan Ingin Terkenal

Banyak orang yang melakukan sesuatu – apa saja, sekolah, kerja, bahkan menulis di blog – karena ingin terkenal. Tadi saya menemukan gambar ini di internet.

12672161_10156635370855411_1312928337569313377_o

Wah. Pas banget.

Kita melakukan sesuatu bukan karena ingin mendapat pujian. (Dalam bahasa Sunda, “pupujieun“.) Kita melakukannya karena memang ingin melakukannya. Seperti ilustrasi gambar di atas, kita ingin mendaki puncak gunung karena ingin meliha dunia. Bukan karena ingin dilihat oleh orang lain.

Itulah sebabnya saya sering menasihati anak-anak muda yang baru menjadi terkenal (mungkin karena karyanya atau presentasinya) untuk jangan sering-sering muncul di media. hi hi hi. Itu bakal menjadi distraction. Pengalih fokus kita. Akhirnya malah jadi sibuk dengan pencitraan.

Oh ya, banyak orang yang mengira saya menulis blog ini agar jadi terkenal. Salah. Sombongnya sih … saya sudah terkenal dulu, baru nulis blog. Ha ha ha. Anywaaayyy … Mari kita kembali ke topik.