Tag Archives: opini

Komitmen, Konsistensi, dan Ketekunan

Dalam berbagai kegiatan – baik itu pendidikan, olah raga, hobby – ada banyak inisiatif yang pada mulanya ramai namun akhirnya kendor. Pada mulanya yang hadir banyakan. Setelah beberapa kali pertemuan – jangankan beberapa kali, 2 atau 3 kali saja – jumlah yang hadir mulai menurun. Setelah itu yang hadir malah justru satu atau dua orang saja. Ha ha ha. (Saya pernah mengajar kuliah dengan jumlah mahasiswa yang menurun dengan drastis. Nama mata kuliahnya adalah “Metoda Formal” – Formal Methods. Jumlah yang mendaftar dapat dihiutung dengan jari tangan. Satu tangan saja.)

Komitmen pada kelompok (untuk ikut aktif), konsistensi dalam hal kehadiran, dan ketekunan untuk tetap menekuni ilmu dan skill tersebut merupakan hal yang ternyata langka. Instan memang lebih menarik.

Banyak yang bertanya mengapa blog saya ini ramai dikunjungi. Ya, karena ketiga hal di atas itu (dalam hal menulis di blog). Tidak terlalu susah secara teori, tetapi susah untuk dipraktekkan. Hal yang terlihat mudah dan sederhana sering diremehkan sehingga tidak dilakukan. Bagi yang terbiasa dengan hal-hal yang instan, ini merupakan hambatan yang luar biasa.

Bagi Anda-Anda yang aktif menyelenggarakan kegiatan, jangan kecewa atau putus asa jika kehadiran dari para peserta anjlok dan bahkan mungkin tinggal hanya Anda sendiri. hi hi hi. Anda tidak perlu membuktikan kepada orang lain. Anda hanya perlu meyakinkan kepada diri Anda sendiri.

Saya bermain futsal dengan kawan-kawan sudah bertahun-tahun (rasanya sudah lebih dari 7 atau 8 tahun). Saya futsal bukan untuk cari prestasi tapi cari olah raganya. Kadang yang datang belasan orang (cukup untuk 3 tim), kadang pernah hanya 3 orang – yang akhirnya harus bujukin orang-orang lain untuk bergabung. Saya mencoba untuk tetap rutin melakukannya.

Mengajar (atau presentasi) juga demikian. Mau yang datang 100 orang atau hanya 1 orang, tetapi saya layani dengan semangat yang sama. Bermain musik juga sama. Membuat dan menjalankan perusahaan (usaha) juga sama. Terlalu banyak tantangan untuk membuat kita berhenti. Terlalu banyak alasan atau pembenaran untuk membuat kita tidak tekun.


Mari Kita Blokir Memblokir

Sekarang sedang ramai dibicarakan tentang blokiran situs tertentu karena dianggap terkait dengan radikalisme(?) sesuai dengan permintaan dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). [Link Kominfo.] Riuh rendah pendapat dan komentar di media sosial (Facebook, Twitter). Ada yang menuduh pemerintah anti Islam. Padahal tuduhan ini tidak benar, tetapi begitulah pendapat yang ada di dunia siber Indonesia. Kominfo kurang public relation nampaknya. hi hi hi.

Tidak produktif. Sebetulnya blokir memblokir ini bukan untuk pertama kalinya. Sebelumnya sudah diterapkan  blokiran dengan alasan pornografi. Sekarang alasannya adalah terkait dengan radikalisme. Nanti lama kelamaan alasannya adalah tidak sesuai dengan budaya Indonesia atau bahkan beda cara pandang dengan Pemerintah. Ini berbahaya. Padahal jaman pak Harto-pun internet Indonesia tidak pernah ada blokir-blokiran.

Dari dahulu saya berpendapat bahwa blokir-memblokir yang dilakukan Pemerintah ini kurang tepat. Terlalu banyak cara untuk melewati pemblokiran tersebut. Ini menjadi kontraproduktif. Kita jadi sibuk memblokir dan membuat anti-blokir. (Nanti dilanjutkan dengan anti-anti-blokir dan anti-anti-anti-blokir … dan seterusnya.)

Cara terbaik untuk menangani kasus-kasus perbedaan pendapat dan sejenisnya adalah dengan pendidikan dan perbanyak konten positif. Cara ini lebih elegan dan berkesinambungan (long lasting).

Ayo kita perbanyak konten yang positif. Mosok kita hanya bisa berkeluh kesah?


Coba-coba Software: Web Browser

Sebagai penggemar komputer, salah satu hal yang saya sukai adalah mencoba-coba berbagai software. Sebetulnya kegiatan ini seringkali memboroskan waktu. Enaknya sih kalau sudah ada yang mereview berbagai software ini kemudian kita tinggal menggunakan yang paling bagus. Atau, setidaknya kita bisa mengurangi waktu yang habis untuk coba-coba ini.

Kali ini saya sedang mencoba berbagai web browser. Ini hasil sementara. Semoga bermanfaat.

Browser utama saya adalah Firefox. Ada beberapa alasan mengapa saya memilih Firefox. Pertama, dia dapat dikonfigurasi dengan menggunakan Stylish. Syarat utama saya dalam sebuah aplikasi adalah fonts-nya harus dapat diubah. Fonts bawaan dari software seringkali terlalu kecil (maklum mata saya semakin tidak bersahabat – masalah usia), jelek, atau membuat saya tidak mood untuk membaca. Dengan Stylish saya dapat menggunakan fonts yang berbeda untuk situs yang berbeda. Misal untuk Gmail saya menggunakan monospace fonts, untuk Facebook fonts yang sans serif, untuk situs berita fonts yang serif, dan seterusnya. Kedua, Firefox merupakan browser yang paling aktif dalam hal pengembangannya. Masalah (security misalnya) dapat lebih cepat ditangani.

Kekurangan (masalah) dari Firefox adalah ukurannya yang besar. Bloated. Awalnya sih kecil tetapi makin lama semakin besar sehingga terasa lambat. Akhir-akhir ini saya juga banyak mengalami masalah dengan Adobe Flash di Firefox. Dia crash. Untuk berbagai situs, misal yang memutar video atau interface yang interaktif (contoh: upload foto di Facebook), Flash sering crash sehingga tidak berfungsi. (Firefox sedang memilih alternatif untuk menggantikan flash. Namanya: Shumway. Mari kita tunggu perkembangannya.) Oh ya, ketika menulis ini, Firefox sempat hang juga. Untungnya tidak sempat crash. Hadoh. Saya belum sempat melakukan save ketika dia hang. Jadi, ngeri-ngeri bagaimana gitu. hi hi hi.

Browser pilihan kedua saya adalah Google  Chrome. Yang ini karena dia sebagai alternatif yang ada di berbagai platform. (Saya bekerja utamanya dengan sistem operasi Mac OS X dan Linux. Kadang saya masih menggunakan Microsoft Windows.) Masalah saya dengan Google Chrome adalah dengan Stylish. Kadang fonts tidak diproses dengan baik. Misalnya, fonts untuk tampilan sudah benar tetapi ketika kita pindah ke bagian forms atau sejenisnya dia balik ke fonts bawaannya yang kadang tidak saya sukai. Chrome ini pun makin lama – sama seperti Firefox – makin berat. Tambahan lagi saya juga pasang Chromium yang juga sebetulnya sih masih Chrome juga. Adanya dua Chrome-based browser ini kadang membingungkan komputer saya.

Selanjutnya browser saya di Macbook adalah Safari. Browser ini sayangnya hanya ada di Mac OS X. Jadi sangat spesifik. Terlebih lagi dia tidak memiliki fitur untuk dikonfigurasi sebagaimana halnya Firefox dan Chrome. Jadi saya terjerat dengan fonts bawaannya dia, misalnya. Saya gunakan Safari hanya sebagai alternatif saja kalau Firefox dan Chrome tidak bisa jalan.

Selain browser-browser di atas yang sudah stabil dan mainstream, saya sekarang sedang suka menggunakan browser Vivaldi. Ini adalah browser yang dikembangkan oleh pengembang Opera. Opera dahulu dikenal sebagai browser yang paling cepat responnya dan tersedia di handphone pula. Vivaldi terasa cepat dan juga Flash tidak crash di dalamnya. Hanya saja memang Vivaldi tidak memiliki fitur untuk dikonfigurasi dengan menggunakan Stylish. Ah.

Browser lain yang saya sedang coba juga adalah Midori. Yang ini baru tersedia di Linux saja. Rasanya juga cepat, mirip seperti Vivaldi. Masalahnya juga sama, yaitu tidak dapat dikonfigurasi. Mari kita lihat apakah saya akan suka dengan Vivaldi & Midori ini.


Internet Mengajari Budaya Instan?

Beberapa rekan berdiskusi mengenai efek (negatif) dari internet terhadap kebiasaan manusia. Salah satu yang muncul adalah dugaan bahwa internet mengajari kita untuk tidak sabar dalam membaca. Kalau dahulu kita membaca berita sampai habis. Kalau sekarang orang lebih senang membaca judulnya saja. Atau kalau dibaca tulisannya juga hanya halaman pertama yang dibaca. Jarang ada orang yang mau membaca tulisan yang panjang-panjang. Apakah benar demikian?

Terkait dengan hal ini akhirnya orang tidak mau mendiskusikan hal-hal yang rumit. Padahal ada banyak orang yang merasa telah membahas hal-hal yang penting, tetapi sesungguhnya hanya bagian kulitnya saja. Ketika intinya dibahas – dan tentunya berat, membutuhkan bacaan yang lebih dalam – maka banyak orang yang kemudian menghilang.

Orang juga diajari malas untuk mencari sumber bacaan (berita) sesungguhnya. Mereka ingin disuapi. Padahal sesungguhnya teknologi tersedia. Atau, mungkin justru karena teknologi tersebut maka orang kehilangan skill yang seharusnya simpel.

Hmm…


Menuju Bandung Smart(er) City

Hari Minggu lalu saya mengikuti pertemuan antara Dewan Smartcity Kota Bandung dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Bandung. Pertemuan ini pada intinya adalah melakukan kordinasi program-program yang sudah ada di SKPD, yang terkait dengan teknologi informasi.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, memberi arahan bahwa Bandung ini memiliki banyak layanan publik. Pemanfaatan teknologi informasi memungkinkan SKPD untuk memberikan layanan dengan lebih baik dan lebih cepat. Setiap SKPD diminta untuk mendata layanan-layanan apa saja yang mereka berikan dan berapa yang sudah dapat diakses secara online. Jika belum maka aplikasi-aplikasi apa saja yang akan dikembangan. Tahun ini, tahun 2015, adalah tahun untuk merealisasikan sebagian dari aplikasi tersebut.

Rapat kali ini membahas prioritas dari aplikasi yang akan dikembangkan di tahun 2015 oleh para SKPD tersebut. Tidak semua aplikasi harus dikembangkan saat ini juga, tetapi roadmapnya sudah harus jelas. Selain itu ada juga hal-hal yang mendasar bagi kebutuhan semua SKPD seperti misalnya infrastruktur internet.

Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah aplikasi-aplikasi ini seharusnya dapat digunakan oleh kota / kabupaten lainnya. Jika ada kota / kabupaten lain yang sudah mengembangkan aplikasi tertentu, maka kita dapat menggunakan aplikasi tersebut. Tidak perlu setiap kota / kabupaten mengembangkan sendiri-sendiri. Untuk itu mungkin perlu ada sebuah app store untuk aplikasi e-government kota / kabupaten. Hmmm.

Begitu laporan dari saya. Laporan selesai. Bubar jalan … grak!


Bagaimana Mempopulerkan Situs (How to Generate Traffic to Your Site)

Untuk ketigakalinya dalam minggu ini saya mendapat pertanyaan atau keluhan dari beberapa instansi tentang tidak populernya situs (portal, web site, blog) mereka. Ada yang aksesnya dalam satu bulan ini adalah … nol. hi hi hi. Mereka kemudian berencana untuk mendesain ulang situs mereka. Padahal menurut saya bukan di situ masalahnya.

Ada juga orang-orang yang ingin mempromosikan layanan mereka dengan menumpang (ndompleng) situs-situs yang rame, termasuk blog ini. hi hi hi. (Lihat saja ada yang komentarnya OOT.) Topik SEO (Search Engine Optimization) merupakan sebuah hal yang dicari-cari orang. Bahkan ada bisnisnya tersendiri. Jadi masalah mempopulerkan situs atau menghasilkan traffic pengunjung itu merupakan “masalah” bersama.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa masalah utama dari ketidakpopuleran sebuah situs itu adalah informasi (data) yang tersedia tidak berubah untuk waktu yang terlalu lama. Ada situs pemerintahan yang terakhir diperbaharui tiga tahun yang lalu. Tentu saja tidak ada yang ingin mengunjungi situs itu kembali. Sekali mengunjungi – tahun lalu, misalnya – sudah cukup.

Salah satu cara untuk mempopulerkan situs adalah memperbaharui informasinya (content) secara berkala. Sering! Setiap hari kalau bisa. Itulah sebabnya situs-situs berita mendapatkan banyak traffic karena setiap hari orang hadir untuk mendapatkan berita terbaru. Ini juga saya terapkan di blog ini. Saya berusaha untuk menulis *setiap hari* (meskipun akhir-akhir ini banyak terjadi kegagalan). Jadi rumus saya adalah:

Kuantitas lebih penting daripada kualitas

Oleh sebab maka daripada itu … (hi hi hi), sering perbaharui situs Anda. Setelah sering diperbaharui, mulai kita tingkatkan kualitasnya.

Rumus kedua saya adalah

Tulisan yang baru (bukan copy and paste) lebih menarik

Maksudnya begini. Tulisan Anda yang “ngaco” jauh lebih menarik daripada menuliskan ulang (copy and paste) karangan orang lain, meskipun karangan orang lain itu super bagus. Percayalah. Cobalah. Kenapa demikian? Karena orang dapat membaca tulisan tersebut dari sumber aslinya. Lah kalau tulisannya adalah tulisan asli Anda, maka tentu saja kembalinya ke Anda. Tentu saja tulisan Anda ini tidak serta merta langsung disukai orang tetapi ini membutuhkan waktu, tetapi prinsipnya adalah buatlah yang orisinal.

Begitulah tips saya untuk mempopulerkan situs. Semoga bermanfaat.


Terlalu Banyak Bicara

Melihat kondisi akhir-akhir ini di media sosial – terkait dengan berbagai kasus politik – saya jadi agak sedih, kesal, geram. Galau, kata anak-anak sekarang. Pasalnya banyak orang yang berkomentar, seperti yang paling tahu. Kemudian ada banyak organisasi yang mendukung ini dan itu dengan penyataan-pernyataan yang menurut saya normatif. Maksudnya begitu, “mari kita dukung pemberantasan korupsi”. Lah tentu saja. Pernyataan seperti itu tidak perlu harus keluar dari berbagai orang / organisasi.

Apakah mereka itu

  1. Mencari muka? Agar muncul (eksis)?
  2. Takut kalau dikatakan tidak ikutan (ketinggalan kereta)?
    [tuh mereka sudah membuat pernyataan. kita harus juga buat pernyataan. seperti begitu?]
  3. … [apa lagi ya]

Masalahnya, membuat pernyataan-pernyataan itu tidak memberikan solusi. Yang dibutuhkan oleh masyarakat itu adalah solusi. Jalan keluar. Bukan pernyataan. Anak kecil juga bisa buat pernyataan. hi hi hi.

Bikin pernyataan-pernyataan itu hanya memperkeruh suasana dan … bising. Berisik! Eh, jangan-jangan blog ini juga jadi berisik. hi hi hi.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.380 pengikut lainnya.