Tag Archives: opini

(Tulisan) Optimisme

Barusan tidak sengaja membaca berita ini. “Jokowi: Kita Perlu Tulisan yang Timbulkan Rasa Optimis“. Nah, ini adalah tema yang selalu saya bawakan di blog ini. Eh, jangan-jangan pak Jokowi baca blog ini. ha ha ha. Ke-GR-an.

Sebetulnya ada alasan saya mengambil tema positif dan optimis di blog ini. Salah satunya adalah karena saya anti-mainstream dan sebagian besar (hampir semua?) situs berita lebih suka memberitakan hal-hal yang negatif. Bad news sells. Demikian pula status orang kebanyakan isinya keluh kesah, umpatan, dan teman-temannya. Pokoknya yang negatiflah. Maka di sini adalah anti-nya.

Saya lebih banyak melihat acara tv yang positif; channel-channel dari BBC, National Geographic, dan sejenisnya. Mereka membuat kita menjadi lebih optimis dalam menghadapi dunia.

Nah, apakah dengan membaca ini Anda menjadi semakin optimis?


Prioritas Kerjaan

Saya termasuk orang yang multi-tasking. Malahan, hyper-multi-tasking person. Banyak kerjaan yang harus saya kerjaan pada satu saat. Tulisan ini juga diketik di sela-sela pekerjaan. Bagaimana saya memilih (prioritas) pekerjaan yang harus saya lakukan saat ini?

Apa yang saya lakukan sebetulnya ada teorinya, tetapi sesungguhnya saya tidak tahu teori itu. ha ha ha. Ternyata secara natural saya mengikuti teori itu.

Pada prinsipnya kita membagi mana pekerjaan yang “urgent” dan yang “tidak urgent”. Yang ini dikaitkan dengan waktu. Mana yang harus selesai sekarang juga dan mana yang “bisa agak sedikit molor”. Untuk memilah ini membutuhkan pengalaman juga karena semua pekerjaan maunya urgent. Semuanya harus selesai kemarin, bukan hari ini. he he he. Contoh hal yang urgen adalah misalnya naik transportasi umum yang ada jadwalnya dan di luar kendali kita. Lewat jadwal itu, ya lewat. Contoh lain adalah membuat materi presentasi untuk presentasi yang ada tanggalnya. Ya harus selesai sebelum presentasi dimulai. he he he.  Itu contoh sederhana. Selebihnya lebih susah dari itu karena sering abu-abu.

Kemudian kita mencari mana yang “penting” dan “tidak penting”. Yang ini berdasarkan isi / manfaat / content dari pekerjaan itu sendiri. Yan ini lebih susah lagi memilah-milahnya. Semua merasa penting. Aku penting. Aku juga lebih penting. Keplentingan

Setelah itu dimiliki, maka kita dapat menggambarkan keduanya dalam dua sumbu. Berikut ini adalah foto yang saya peroleh dari internet:

Urgent-vs-Important.indd

Nah urutan pekerjaan itu berdasarkan mana yang urgent dulu. Kalau dalam gambar di atas, yang nomor 1. Urgent dan Penting. Itu teorinya.

Repotnya adalah kita sering macet di situ saja. Tidak bergerak ke bagian nomor 2, “penting tapi tidak urgent”. Padahal, seperti namanya, mereka juga penting! Yang ini harus kita paksakan. Ambil sedikit-sedikit tugas (task) yang ada di nomor 2 itu. Curi-curi waktulah.

Begitu. Sekarang saya balik ke kerjaan lagi. Masih di nomor 1. Ugh.


Komentar Itu Mudah

Melihat komentar-komentar di timeline facebook, saya terpaksa harus mengelus dada. Ampun deh orang-orang. Ada banyak yang asal komentar saja. Ambil cerita (link) dari sebuah sumber, kemudian komenter. Entah sumbernya kredibel atau tidak, itu tidak penting. Bahkan, artikelnya pun tidak dibaca. Judul saja yang dibaca, kemudian komentar. Ada juga yang memang membaca dengan seksama kemudian komentar seakan topik yang dibahas itu masalah yang mudah.

Contoh orang-orangnya? Wah banyak banget. Mau disebutkan satu persatu nanti malah marah. he he he. Serunya, mereka juga tidak merasa. ha ha ha. Kacaw deh.

Saya ambil contoh lain. Soal musibah asap yang kita alami ini. (Entah ini dapat disebut musibah atau bukan karena pelakunya adalah manusia yang secara sadar membakar hutan atau ladang. Bukan karena tidak sengaja.) Banyak orang yang langsung memberikan komentar seolah-olah gampang memecahkan masalah ini. Kalau gampang, mungkin sudah dari dulu ini tidak masalah. Itulah sebabnya saya tidak terlalu banyak berkomentar tentang masalah asap ini, meskipun kesal. Ya, itu dia, saya belum bisa memberikan solusi yang lebih baik dari yang sudah dilakukan oleh orang-orang saat ini (dan waktu lalu). Semoga masalah asap dapat terselesaikan dengan cepat.

[By the way, katanya membakar ladang / hutan itu boleh secara undang-undang. Minta tautannya ya. Nanti saya pasang di sini.]

Saya paham memang membuat komentar itu mudah. Ya, mereka tidak boleh disalahkan juga. Kan orang juga hitung-hitungan. Mana yang lebih mudah, itu yang diambil. Mengapa pilih yang susah?

Eh, kalau komentar di sini boleh disamakan dengan komentar di facebook gak ya? ha ha ha


Jam Terbang

Ada istilah “jam terbang”, yang maknanya adalah seberapa sering kita sudah melakukan sesuatu. Semakin sering, tentunya semakin ahli kita dalam melakukan sesuatu tersebut. Di dalam bahasa Inggris ada pepatah; “practice makes perfect”. Saya percaya akan hal ini.

Malcom Gladwel, dalam bukunya “Outliers”, menjelaskan bahwa orang-orang yang hebat itu sesungguhnya tidak lahir hebat. Mereka mengalami masa latihan yang cukup lama, 10 ribu jam atau 10 tahun. Jagoan tidak hadir tiba-tiba seperti halnya diceritakan dalam dongeng. Tiba-tiba masuk ke hutan, ketemu kotak yang sakti, tiba-tiba jadi jagoan silat. hi hi hi.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga menerapkan hal ini. Saya main futsal, main musik, dan bahkan menulis di blog ini juga menerapkan hal ini. Saya mulai nge-blog sejak tahun 2002. Jadi sekarang sudah 13 tahun saya ngeblog. Wuih. Hanya saja, jumlah tulisan saya belum mencapai 10 ribu. Baru lebih dari 4000-an. Maka dari itu saya masih harus rajin menulis di blog ini.

Banyak orang yang heran kenapa saya lumayan bagus main futsalnya – dalam artian banyak mencetak gol – ya karena latihan. Seminggu dua kali. Itupun sebenarnya masih belum cukup, tapi karena usia ya saya anggap cukup. Sementara banyak anak-anak yang jauh lebih muda dari saya tidak mau latihan rutin.

Dalam bermusikpun saya baru pada tahap banyak manggung. Tadi siang juga manggung lagi dengan anak saya. Lagi-lagi menambah jam terbang. Terlalu banyak orang yang tidak mau berusaha untuk belajar. Saya kutipkan dari buku Gladwel:

“The Beatles ended up traveling to Hamburg five times between 1960 and the end of 1962. On the first trip, they played 106 nights, five or more hours a night. On their second trip, they played 92 times. On their third trip, they played 48 times, for a total of 172 hours on stage. The last two Hamburg gigs, in November and December of 1962, involved another 90 hours of performing. All told, they performed for 270 nights in just over a year and a half. By the time they had their first burst of success in 1964, in fact, they had performed live an estimated twelve hundred times”

Lihatlah bagaimana the Beatles berjuang dari bawah. Bayangkan 270 kali manggung dalam satu setengah tahun. Sepertinya manggung setidaknya dua hari sekali. Sementara itu saya mungkin baru manggung 30 s/d 40 kali setahun. Ini saja sudah lebih dari artis / band profesional. ha ha ha. Oh ya, kondisi panggung yang dialami oleh the Beatles juga sangat jauh dari sempurna. Panggung yang gak beres. Sound yang gak beres. Penonton yang gak beres. Pokoknya tidak seperti yang dibayangkan atau diinginkan oleh banyak orang. Tidak banyak alasan. Maka dapat dimengerti mengapa the Beatles menjadi sebuah band yang paling sukses.

DSC_0023 BR LR 0001

Mari menambah jam terbang terus …


Potret Kondisi SDM Indonesia

Tulisan ini merupakan dugaan saya – kalau tidak dapat dikatakan pengamatan – mengenai kondisi sumber daya manusia (SDM) di sekitar saya. Saya coba tampilkan ini dalam bentuk gambar dahulu.

IMG_9373 kenyataan sdm

Lulusan sekolahan (perguruan tinggi) atau calon pekerja merasa bahwa kemampuannya sudah bagus. Alasannya adalah dia membandingkan dirinya dengan kawan-kawan di sekitarnya. Karena kebanyakan kawan-kawannya biasa-biasa saja, maka dia merasa sudah jago. Hebat. Bahkan ada yang menjadi juara di kelasnya. Dia tidak membandingkan dirinya dengan “kawan-kawan” (peer) di luar negeri, yang sesungguhnya merupakan saingan dia.

Kenyataannya, industri atau tempat mereka akan bekerja membutuhkan kemampuan pekerja di atas itu. Para pekerja yang baru lulus dan baru mulai bekerja kaget dengan kebutuhan yang ada. Sebagai contoh, sering saya menanyakan kepada calon pekerja yang akan menjadi programmer mengenai bahasa (atau framework, tools, library) yang mereka kuasai. Banyak yang hanya berkutat di PHP saja. Tidak banyak yang pernah membuat skrip dalam bahasa Perl / Python / Ruby / sh / (dan bahasa interpreter lainnya). Barulah mereka sadar bahwa mereka itu kuper (kurang pergaulan) ketika menjadi mahasiswa. Itulah sebabnya ketika menjadi mahasiswa, jangan hanya kuliah saja.

Lebih parah lagi, kebutuhan di tempat saya lebih tinggi dari kebutuhan rata-rata di industri. Jangan ditanya kenapa. he he he. Jadi ekspektasi saya selalu meleset. Ugh!

Judul tulisan ini mungkin terlalu bombastis. Seharusnya saya tidak menyamaratakan dan membuat klaim “Indonesia”. Mungkin apa yang saya sampaikan ini hanya berlaku di lingkungan saya.


Tidak Perlu Membagi Materi Presentasi

Kegiatan yang paling sering saya lakukan adalah memberikan presentasi. Sebagai seorang dosen atau guru – formal atau informal – memang bercerita merupakan kegiatan utama. Dalam satu minggu kadang saya harus memberikan presentasi setiap hari. Hadoh.

Biasanya panitia atau penyelenggara acara meminta saya memberikan materi presentasi. Katanya untuk dibagikan kepada peserta. Sebetulnya menurut saya ini tidak perlu dilakukan. Memang ada peserta yang membaca atau mempelajari materi presentasi sebelum presentasi? Rasanya tidak ada. Kebanyakan peserta mengumpulkan materi presentasi untuk jaga-jaga saja. Kalau-kalau materi presentasi itu diperlukan. Padahal pada kenyataannya materi presentasi itu pun hanya menyemak. Menjadi tumpukan kertas yang terbuang percuma.

Untuk kasus perkuliahan, pembagian materi presentasi sebelum kuliah justru malah membahayakan. Mahasiswa malah kemudian mengabaikan isi kuliah karena merasa dapat membaca materi tersebut di lain waktu. Maksudnya pas lagi mau ujian dibaca lagi. he he he. Mereka jadi tidak memperhatikan dosen pas kuliah. Jadi, jangan bagikan materi kuliah sebelum kuliah.

Materi presentasi mungkin dibutuhkan oleh penyelenggara untuk memastikan bahwa materinya sesuai dengan topik dari presentasi. Itu saja yang mungkin alasan yang paling tepat.

Khusus untuk saya, ada masalah tambahan. Cara saya membuat materi presentasi berbeda dengan umumnya, yaitu saya hanya menampilkan kata kunci (keywords) saja. Bagi yang tidak hadir ke presentasi saya akan kebingungan dengan potongan kata-kata tersebut. Memang kunci utama dari presentasi adalah HADIR. Untuk yang tidak hadir, ya sebetulnya  yang dibutuhkan adalah makalah rinci. Bukan materi presentasi.

Jadi, kalau saya akan memberikan presentasi, jangan ditanya materi presentasinya ya. hi hi hi


Iming-iming Uang: Kasus Go-Jek

Berita yang hangat akhir-akhir ini adalah ada banyak orang yang ingin menjadi pengemudi (driver) Go-Jek (dan Grab Bike). Bahkan ada pemberitaan yang mengatakan ada sarjana yang melamar menjadi driver Go-Jek. Kemudian orang menyalahkan Go-Jek dan situasi saat ini. Lah?

Pertama, kenapa kok Go-Jek yang disalahkan? Bukankah mereka justru yang benar? Memanfaatkan teknologi yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup (bagi pengemudi ojek dan penumpangnya). Mereka yang harus diacungi jempol. Bukan disalahkan. Yang perlu disalahkan adalah kita-kita yang menyalahkan mereka. he he he. Ruwet bukan?

Kedua, banyak orang yang tergiur oleh cerita tentang penghasilan driver Go-Jek yang besar. Menurut saya ini ilusi. Bahkan ada banyak yang penghasilannya naik karena menjadi pengemudi Go-Jek itu sudah pasti. Namun ini bergantung kepada orangnya sendiri. Pendapatan banyak itu bukan karena pakai jaket dan helm Go-Jek. Itu seperti kita ingin pandai berbahasa Inggris dengan cara pakai jas dan dasi. he he he. Kalau tidak mau berusaha, ya bahasa Inggrisnya tetap belepotan.

Ketiga. Yang namanya bekerja itu tidak ada yang mudah. Dikiranya menjadi pengemudi ojek itu gampang. Padahal itu kerja keras juga. Ada panas dan hujan yang harus dilalui. Ada risiko keselamatan juga. Tidak mudah. Memang pekerjaan orang lain terlihat lebih mudah dari pekerjaan kita.

Apapun yang kita kerjakan, lakukan dengan sepenuh hati. Soal rejeki, itu sudah ada yang mengatur.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.635 pengikut lainnya