Belajar itu buang-buang waktu

Sudah lama saya ingin membahas tentang topik ini tetapi selalu tidak sempat karena saya sibuk “buang-buang waktu” untuk belajar. Ini semacam pembuktian bahwa belajar itu adalah “masalah”. Ha ha ha. Mungkin ini semua terlalu saya besar-besarkan. Mungkin. Tetapi ini sudah menjadi pertanyaan yang lama menghantui saja.

Saya ingin membuat tulisan (dan video) yang membahas tentang topik “belajar dan buang-buang waktu” ini secara tuntas dan baik, tetapi karena tidak punya waktu akhirnya tidak bakal selesai. Ya sudah, saya menyerah dan membuat tulisan ini yang mungkin tidak tuntas dan tidak sesuai dengan harapan saya. Mungkin hanya 60% dari yang saya harapkan. Tetapi baiklah, 60% ada sekarang lebih baik dari 90% tetapi entah kapan selesainya. Ini sesuai dengan motto saya.

Begini. Saya menyukai belajar. Ya, memang tidak semua orang suka belajar. Saya juga dulu tidak sesuka ini dalam belajar. Bahkan seringkali belajar merupakan sebuah kegiatan yang menyebalkan. Semakin berusia, saya semakin menyukai belajar. Belajar apa saja. Semakin saya banyak belajar semakin saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa. Akibatnya semakin ingin belajar saja. Hambatannya hanya satu, waktu. Waktu yang terbatas.

Cara kita – atau mungkin tidak perlu saya generalisir, saya saja – belajar adalah dengan membaca, melihat, mendengar, dan mengalami sendiri. Semuanya menggunakan indera kita. Cara yang paling lazim digunakan – dan yang saya gunakan – adalah dengan membaca. Ada banyak buku, majalah, jurnal, surat kabar, newsletter, surat, dan sekarang blog yang dapat dibaca. Membaca menggunakan mata. Ternyata kemampuan membaca saya sangat lambat. Selain mata, juga pemahaman memperlambat proses ini. Kecepatan datangnya buku (dan bahan bacaan lain) lebih cepat dari kecepatan saya membaca. Akibatnya terjadi tumpukan bahan bacaan – secara fisik dan elektronik. Tetapi yang menjadi masalah tetap sama, waktu adalah musuh utama.

Itu baru yang berbentuk bacaan. Sekarang saya juga senang melihat video-video di YouTube. Ada banyak video-video yang memberikan pencerahan. Saya belajar juga dari sana. Sama seperti membaca, untuk menonton video ini dibutuhkan waktu. Waktu juga yang menjadi musuh utama.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat video wawancara dengan Elon Musk. Pada satu segmen dia mengatakan bahwa yang menjadi masalah dengan kita (manusia) dibandingkan dengan mesin (AI, Artificial Intelligence) adalah keterbatasan “bandwidth” (lebar pita) dari transfer data kita. Wah. Benar juga. “Bandwidth” belajar kita terbatas. Lambat sekali.

Analogi yang dapat saya bagikan adalah “bandwidth” belajar kita saat ini seperti kecepatan komunikasi data jaman dahulu, 1200 bps. (Bagi yang belum tahu seperti apa lambatnya ini, silahkan lihat video-videonya di internet.) Dengan kecepatan seperti itu, untuk mengunduh sebuah lagu sebesar 3 MBytes saja sudah tidak manusiawi lambatnya. Waktu adalah musuh. Kita membutuhkan kecepatan Mbps (Mega bits per second) atau bahkan Gbps.

Jadi sebetulnya musuh kita bukanlah waktu, melainkan kita harus memiliki teknologi untuk melebarkan bandwidth penyerapan ilmu. Salah satu yang sedang diuji adalah Neurolink, yang mana ini diharapkan dapat menghubungkan otak kita dengan dunia luar dengan lebih cepat. Kita bypass mata dan telinga yang memiliki bandwidth kecil. Jadi belajar kita semacam mengirim data dari flashdisk ke otak kita. Tinggal copy saja. Itu kalau mau versi yang cepat tanpa perlu merasakan belajarnya. Mari kita tunggu hasil dari Neurolink. (Ada yang mau mencoba?)

Untuk sementara ini, selama “bandwidth” kita masih kecil maka belajar masih membutuhkan waktu yang lama. Nah, jadi saya masih terpaku kepada kesulitan ini, “belajar itu membuang-buang waktu”. Masalahnya, kalau saya tidak belajar maka saya tetap menjadi bodoh. Pilih mana?

Sukses Adalah Keberuntungan

Baru saja saya beres melihat film dokumenter tentang kesuksesan beberapa film, seperti Die Hard dan Home Alone. Salah satu kesamaan dari kesuksesan film-film tersebut adalah keberuntungan. Luck. Ada banyak kejadian yang dapat membuat film itu batal jadi atau gagal. Keberuntunganlah yang membuat mereka sukses.

Selain menonton film dokumenter tersebut, saya juga menonton film dokumenter tentang sejarah musik Hip Hop. Di sana juga banyak keberuntungan yang membuat seseorang atau sebuah usaha sukses. Sama juga ternyata.

Keberuntungan tidak datang begitu saja. Keberuntungan akan lebih mungkin datang kalau kita bekerja keras. Kesemua contoh yang saya sebutkan di atas dibarengi dengan kerja keras. Kerja keras di luar standar yang umum. Atau, jangan-jangan kerja keras inilah yang membuat sukses. Keberuntungan atau luck itu bukan penyebabnya. Mungkin juga. Namun kalau kita dengar komentar dari semua orang yang terlibat dalam kesuksesan tersebut, maka mereka semua sepakat mengatakan bahwa itu adalah sebuah keberuntungan. Nah.

Belajar Gagal

Ada sebuah cerita tentang seorang anak yang dalam perjalanan hidupnya selalu berhasil. Tidak pernah gagal. Sekolahnya bagus terus nilainya. Setelah selesai kuliah, kemudian dia bekerja. Maka mulailah terjadi masalah karena beberapa kali dia gagal. Singkat ceritanya, akhirnya dia bunuh diri. Hah??? Iya.

Akhir-akhir ini saya mendengar berbagai cerita yang mirip, yang pada intinya adalah banyak orang yang dalam perjalanan hidupnya tidak pernah atau jarang mengalami kegagalan. Semua harus berhasil. Tidak boleh salah. Akibatnya, dalam kehidupannya dia selalu merasa takut gagal dan takut salah. Orang seperti ini biasanya bersifat defensif. Begitu dikritik sedikit, maka dia akan ngamuk atau depresi.

Sekarang saya akan melihat ini dari kacamata saya sebagai seorang pendidik. Seorang dosen. Ada yang salah dalam pendidikan kita ini. Kita mengajari anak-anak untuk tidak boleh salah. Tidak boleh gagal. Mari kita ambil contoh. Dalam ulangan atau ujian, siswa dinilai. Ada yang nilainya bagus dan ada yang nilainya buruk dan bahkan ada yang tidak lulus. Setelah itu, ya sudah selesai.

Lah memangnya ada kelanjutannya lagi? Ada. Yang gagal seharusnya diberi kesempatan untuk memperbaiki. Ini tidak terjadi! Kenapa ini tidak terjadi? Karena ini merupakan beban tambahan bagi sang guru (dosen). Bagi dia, lebih baik memberi nilai dan sudah. Salah sendiri bagi yang nilainya buruk. Salah sendiri mengapa tidak belajar. Guru (dosen) tidak mau sibuk. Sistem di sekolahanpun memaksa guru (dosen) untuk memberikan nilai sekarang juga karena sekolahan dituntut untuk mengeluarkan nilai secara tepat waktu (peduli amat tentang masalah guru dan siswanya).

Saya mencoba memecahkan masalah ini dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa saya untuk memperbaiki nilai ujian (makalah) yang mereka kerjakan. Untuk itu memang saya menjadi kerja dua kali (atau lebih). Selain itu nilai yang saya berikan juga jadi terlambat. (Sebetulnya tidak terlambat, tetapi banyak mahasiswa yang nilainya T atau incomplete alias belum selesai.) Akibatnya saya sering ditegur. Mereka tidak tahu bahwa nilai saya lambat masuk bukan karena saya lalai, tetapi karena saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk gagal.

Pelajaran yang ingin saya berikan kepada mahasiswa saya adalah; (1) gagal adalah hal yang biasa, ulangi lagi, (2) yang tidak boleh adalah curang (misal plagiat, nyontek). Poin (2) itu, yaitu curang, dapat dilakukan oleh mahasiswa karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk memperbaiki. Dengan metoda saya, mereka tidak perlu curang. Kalaupun gagal dapat diulangi lagi. Lakukan dengan kemampuan diri sendiri.

Kembali ke poin utamanya adalah kita semua (apalagi anak-anak) harus diajari untuk gagal. Bahwa kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Lawan terus. Kita bisa!

Saya Akan Marah-marah

Nampaknya banyak orang yang membuka Facebook, Twitter, Instagram, WA, Telegram, atau aplikasi media sosial / chat dengan dimulai dengan perasaan tersebut; “saya akan marah-marah“. Maka, hasilnya adalah … marah-marah. Ini yang disebut dengan “self-fulfilling prophecy“. (Silahkan cari di internet apa maksudnya itu.)

Sementara itu saya memulainya dengan semangat ingin senang, bersahabat, berbahagia, dan berbagai emosi positif lainnya. Hasilnya adalah senang. ha ha ha.

Sebetulnya saya tidak menyadari hal ini sampai saya membaca sebuah cerita pengantar tentang brainstorming. Pada trik brainstorming yang diceritakannya itu, masing-masing peserta diminta untuk mengungkapkan hasil yang akan terjadi di akhir brainstorming. Ya, sebelum dimulai sudah diminta untuk mengungkapkan hasilnya. Ternyata hasilnya biasanya sesuai dengan yang dinginkan di depan. Kalau di awal kita katakan bahwa “kita akan hasilkan lima buah ide cemerlang”, maka akan dihasilkan ide-ide cemerlang. Entah kalau di awal kita mengatakan bahwa “kita akan sia-sia melakukan ini”. Ha ha ha.

Itulah sebabnya selalu berpikiran positif. Selalu!

(Kecuali memang Anda ingin menjadi negatif. Maukah?)

Pusing Dengan Bahasa Indonesia

Sudah berkali-kali saya mencoba membaca buku terjemahan dan gagal untuk memahaminya. Pusing. Bagi saya ternyata memang masih lebih mudah memahami buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa aslinya, bahasa Inggris maksudnya. Bukan maksud saya untu sok-sokan Ingris-Ingrisan, tapi kenyataannya memang demikian.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah buku terjemahan. Saya coba baca lagi. Dan hasilnya, pusing lagi. Ini bukunya.

photo6275926025779128563
Contoh buku terjemahan yang membingungkan

Begitu dimulai, di bagian awalnya (pada halaman “ucapan terima kasih”) ada tulisan seperti ini, “istri ahli dan putri tanpa sejawat“. Anda tahu itu maksudnya apa? Nampaknya saya harus cari tahu kalimat aslinya seperti apa.

Mungkin masalah sebenarnya adalah penerjemah terlalu harfiah dalam menerjemahkan sehingga makna aslinya hilang. Jadinya malah membingungkan. Ada banyak “idiom-idiom” dalam bahasa Inggris yang seharusnya tidak diterjemahkan begitu saja. Pusing.

Kembali ke buku-buku berbahasa Inggris deh.

Materi Presentasi

Banyak yang tidak tahu bahwa salah satu pekerjaan utama saya adalah memberikan presentasi. Jika tidak saya batasi, maka mungkin setiap hari kerjaan saya adalah memberikan presentasi dari satu seminar ke seminar berikutnya. Percayalah bahwa setiap minggu saya menolak beberapa tawaran untuk presentasi.

Mungkin bagi sebagian besar orang memberikan presentasi adalah kesempatan, tetapi bagi saya ini adalah kesempitan. ha ha ha.

Saya sudah melakukan presentasi ini sejak kapan ya? Mungkin sejak tahun 1998? Jadi kalau sekarang dihitung, sudah lebih dari 21 tahun saya memberikan presentasi. Kalau dalam satu tahun ada 50 minggu (pendekatan) dan setiap minggu saya memberikan 2 presentasi, maka dalam 1 tahun ada 100 presentasi. Dalam kurun 20 tahun ada 2000 presentasi!

Banyak juga pengelola acara (organizer) yang meminta materi presentasi saya di depan. Nampaknya mereka tidak kenal saya dan belum pernah datang ke acara presentasi saya sehingga mereka khawatir bahwa presentasi saya sama dengan presentasi orang-orang yang lain; membosankan, tidak fokus pada topik yang diberikan, dan hal-hal lainnya. Padahal kalau saja mereka mau melakukan sedikit “riset” (misal melihat web saya dan membaca CV saya) mereka akan tahu bahwa saya sudah banyak memberikan presentasi dan semuanya (?) bagus-bagus. Do a little home work, please.

Materi presentasi saya biasanya bukan handout. Bentuknya lebih ke arah “lessig-style”, yaitu kata kunci (keywords) saja. Akibatnya kalau hanya melihat materi presentasinya, maka Anda tidak akan tahu presentasi saya. You have to be there. Ini memang sengaja saya desain seperti ini. Jika materi presentasi saya persis dengan apa yang saya katakan, maka para pendengar (kalau di kelas adalah mahasiswa) tidak akan mendengarkan karena mereka akan bilang nanti akan saya baca di rumah. (Yang mana ini juga tidak bakal kejadian karena sudah ada kegiatan lain yang menunggu.) Dengan kata lain, kalau Anda meminta materi presentasi saya, ya percuma.

Berikutnya lagi adalah ada banyak “kejutan” dalam materi presentasi saya. Biasanya saya suka melawak dalam presentasi saya. Jika lawakan saya ini kemudian diberikan kepada peserta (bahkan dicetak) sebelum acaranya, maka lawakan saya menjadi tidak lucu lagi. Faktor “surprise”-nya tidak ada. Itulah sebabnya saya tidak dapat memberikan materi presentasi di depan.

Masih banyak lagi alasan saya untuk tidak memberikan materi presentasi di depan, tetapi tulisan ini sudah kepanjangan dan mungkin Anda sudah bosan. Jadi, kalau mau melihat (mendengarkan) saya presentasi ya harus datang. Saya tidak membagi materi presentasi.

Untuk para organizer di luar sana, silahkan resapi tulisan saya ini sebelum Anda mengundang saya menjadi pembicara.

Data BUKAN Minyak Terbaru

Banyak orang yang mengatakan bahwa “data is the new oil“. (Saya belum menemukan terjemahan yang pas sehingga judul dari tulisan ini seperti ini.) Alasan yang digunakan mereka adalah data dapat diperjualbelikan dan bahkan katanya harganya mahal. Itulah sebabnya banyak layanan (umumnya di internet) yang gratis dengan menukarkan dengan data pribadi kita.

Saya tidak sependapat dengan analogi data dengan minyak, karena bagi saya analogi yang lebih cocok adalah data sama dengan sampah. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan.

  • Data kita hasilkan secara rutin. Ini sama dengan kita menghasilkan sampah setiap hari. Mulai dari sampah makanan kita, sampai ke sampah dari pekerjaan kita sehari hari. Kita juga menghasilkan data setiap hari. Sebagai contoh sekarang hampir setiap handphone memiliki kamera, maka setiap orang memotret apa saja. Yang tidak penting-pentingpun dipotret. Demikian pula banyak orang yang ikut di dalam group (misal WA group) yang isinya chatting tidak penting. (Sekali-sekali lihat chat anak2 di bawah SMA. Chatnya lucu-lucu. Yang kadang-kadang hanya 1 huruf saja. “P”. Kemudian dibalas “T”. Kemudian dibalas “K”. Ini adalah data yang sama dengan sampah.)
  • Sampah juga dapat memiliki nilai (value). Misalnya, sampah plastik dapat didaur ulang menjadi plastik kembali. Ada harganya. Itulah sebabnya ada orang yang pekerjaannya adalah mengumpulkan plastik bekas minuman kemasan. Namun secara umum sampah tidak diminati orang. Sama dengan data yang kita hasilkan, mungkin saja setelah diolah dia akan memiliki nilai. (Catatan: menurut pendapat saya ini sudah berubah dari data menjadi informasi.) Namun secara umum data yang kita hasilkan juga tidak diminati oleh orang lain.
  • Kita pusing dengan sampah. Bagaimana mengolah limbah sampah? Saya pun pusing dengan data yang ada di komputer saya. Di depan saya ada 5 harddisk yang sudah saya copot dari komputer. (Di komputernya masih ada 2 disk lagi.) Di dalamnya banyak data yang mirip dengan sampah; berkas-berkas yang saya unduh dari internet, foto-foto jepretan saya, lagu-lagu, materi presentasi, tugas mahasiswa, dan seterusnya.

Selain hal-hal di atas, masih banyak poin lain yang menunjukkan bahwa data itu lebih mirip dengan sampah.

Saya ambil contoh. Saya memiliki daftar nama mahasiswa yang mengambil kuliah saya saat ini. Itu data. Apakah ada nilainya? Jangan cepat-cepat mengatakan iya. Jika memang data ini ada nilainya, maka apakah Anda mau membelinya dengan harga Rp. 5 juta? Kemungkinan besar, tidak. Bagaimana jika Rp. 500 ribu? Kemungkinan juga tidak. Kalau Rp. 50 ribu. Mulai Anda mikir. Kalau Rp. 5 ribu? Mungkin Anda berminat (karena gorenganpun harganya seperti itu.) Mungkin Anda berminat karena ingin menjukkan bahwa data itu ada harganya, tetapi jujur saja. Untuk apa data itu bagi Anda? Data tersebut tidak ada nilainya. Atau nilainya sangat kecil. Sama dengan sampah.

one man junk is another man’s treasure

Demikianlah pendapat saya, bahwa “Data is the new junk“.

Oh ya, ada versi video dari opini saya ini di YouTube channel saya.

Menjadi Rektor?

Menyambung tulisan sebelum ini (tentang rektor asing), saat ini sedang ada pendaftaran untuk menjadi Rektor ITB. Maka mulailah kawan-kawan kasak kusuk.

Kawan: “Mas, nggak daftar jadi Rektor ITB?”
Saya: “Untuk apa? Apa untungnya buat saya.”
Kawan: “Ya ngeramein aja.”
Saya (dengan percaya dirinya): “Lah, kalau kepilih gimana?”

Ha ha ha. Bagi yang sudah kenal dengan saya mungkin sudah tahu bahwa jabatan administratif tidak menarik bagi saya. Jangankan jadi rektor, jadi menteri pun saya tidak mau. (Memangnya ada yang nawarin jadi menteri? Ada lah. Meskipun saya yakin tawaran itu tidak serius.)

Kalau mau hitung-hitungan, jabatan-jabatan tersebut tidak bermanfaat bagi saya secara pribadi. Entah itu bermanfaat bagi orang lain (orang banyak), tetapi bagi saya ini tidak ada manfaatnya. Kalau saya mau sih sudah dari dulu bisa. Cieeehhh.

Begini. Seseorang itu harus tahu impiannya. Menjadi rektor – atau menjadi menteri – bukan impian saya. Bukan cita-cita saya. Itu hanya akan menjadi distraction bagi saya.

Lantas, cita-citanya apa dong? Menjadi entrepreneur. Technopreneur. Nah.

Rektor Asing?

Belakangan ini sedang ramai dibicarakan tentang kemungkinan menggunakan tenaga kerja asing untuk menjadi rektor di perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu alasannya adalah agar perguruan tinggi di Indonesia meningkat peringkatnya di dunia.

Pendapat saya soal hal ini adalah oke-oke saja, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Jadi saya sampaikan dahulu kontra-nya, baru nanti pro-nya.

Pertama, rektor asing belum tentu memahami situasi di Indonesia. Bagi yang pernah menggeluti perguruan tinggi di luar negeri dan kemudian kembali ke Indonesia di lingkungan perguruan tinggi lagi pasti dapat memahami perbedaan yang besar. (Saya cukup lama di Kanada sebagai mahasiswa dan juga sempat mengajar / jadi dosen di sana. Saat ini saya dosen di ITB.) Bagi orang asing yang ke Indonesia – atau bahkan orang Indonesia yang lama di luar negeri kemudian kembali ke Indonesia – pasti akan mengalami culture shock. Ada banyak hal di Indonesia yang “tertinggal” di bandingkan dengan kawannya di luar negeri. Kalau tidak dapat menyesuaikan diri, pasti frustasi.

Rektor (asing) ini menghadapi banyak dosen yang sesungguhnya tidak berniat mengajar atau meneliti. Banyak dosen yang hanya ingin statusnya saja, atau mengejar pangkat (gelar, ketenaran) saja. Eh, jangankan dosen, ada juga orang yang menjadi rektor karena merupakan batu loncatan untuk menjadi menteri. Dosen mengajar hanya untuk mendapatkan nilai (kum) saja. Bukan karena ingin mengajarkan ilmunya.

Penelitian yang dilakukan dosen pun banyak yang ngasal. Asal hanya mendapatkan dana saja. Menulis makalah-pun kebanyakan ngasal. Dana penelitian juga datangnya telat. Sebagai contoh, dana penelitian yang harusnya turun di awal tahun baru turun di bulan September. Sementara bulan November laporan hasil penelitian harus masuk. Bagaimana mau menjalankan penelitian model begini? Tahun depannya juga belum tentu ada dana penelitian. Topik penelitianpun berubah-ubah. Tidak ada konsistensi.

Itulah sebabnya tingkat penelitian di Indonesia rendah. Tidak aneh, bukan?

Mahasiswa yang ada juga tidak kalah kacaunya. Banyak mahasiswa yang sebetulnya tidak serius kuliah. Alasan mereka ke kampus adalah daripada nganggur di rumah. Tidak ada semangat untuk kuliah. Apa harapan Anda dengan perguruan tinggi yang mahasiswanya seperti ini?

Tingkat perguruan tinggi salah satunya diukur dengan jumlah penelitian yang dihasilkan oleh perguruan tinggi tersebut. Penelitian-penelitian seperti ini umumnya terjadi di tingkat S3 (dan juga S2), bukan S1. Maka seharusnya yang lebih ditekankan adalah mahasiswa S2 dan S3. Sayangnya di Indonesia fokusnya malah mendapatkan mahasiswa S1. Ya, tidak akan naik peringkatnya.

Berdasarkan itu semua, rektor asing mungkin tidak akan berpengaruh kepada peringkat perguruan tinggi di Indonesia.

Namun ada hal-hal yang mungkin dapat berubah dengan adanya rektor asing. Ini pro-nya.

Rektor asing tidak memiliki (conflict of) interest untuk menjadi menteri. Maka dia tidak menggunakan jabatannya ini sebagai batu loncatan. Mereka juga tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan banyak pihak di Indonesia sehingga hal-hal yang terkait dengan KKN (terutama aspek nepotisme-nya) tidak terjadi.

Rektor asing dapat membawa budaya pendidikan yang lebih baik. Dia dapat membawa koneksi-koneksi pendidikannya. Hubungan ke perguruan tinggi di luar negeri (misal dari tempat dia berasal) dan lembaga penelitian dapat diperbaiki. Kredibilitas dari perguruan tinggi dapat naik sehingga dipercaya oleh lembaga asing untuk melakukan penelitian, misalnya.

Jadi, mungkin saja rektor asing dapat memperbaiki kualitas perguruan tinggi di Indonesia.

Pakaian dan Perlakuan

Perlakuan seseorang terhadap kita bergantung pada pakaian yang kita pakai. Seharusnya sih tidak begitu banget, tetapi itulah kenyataan. Kalau kita pakai pakaian keren (baca: mahal), maka kita akan mendapatkan perlakuan spesial. Sementara itu kalau kita berpakaian gembel, maka kita akan mendapatkan perlakukan busuk juga. Itulah sebabnya banyak orang berpakaian keren-keren.

Saya melakukan yang sebaliknya. Saya sering berpakaian tidak terlalu keren. Apa adanya. Selama pakaian itu bersih, tidak masalah bagi saya. Bersih itu sebuah keharusan. Sisanya, optional. Ha ha ha. Dan tentu saja saya mendapatkan perlakukan yang berbeda.

Seringkali saya gunakan hal ini – berpakaian seadanya – untuk menguji layanan dari seseorang atau sebuah organisasi, saya berpakaian seadanya. Jika orang itu memang ramah, maka dia akan tetap ramah meskipun pakaian saya bukan pakaian mahal.

Berani mencoba?

Teknologi & Politik

Baru-baru ini beredar berita tentang Google yang membatasi akses Huawei terhadap kode Android dan layanan Google lainnya (Google Play, Gmail App). [Link berita akan saya kumpulkan dan letakkan di bagian akhir dari tulisan ini.] Ini berita yang cukup menggemparkan meskipun merupakan sesuatu yang sudah lama diduga oleh negara-negara yang bergantung kepada layanan sebuah perusahaan di sebuah negara tertentu. Mereka tidak mengira bahwa hal ini akan dieksekusi.

Sebagai sebuah perusahaan yang berdomisili di Amerika, Google harus taat kepada peraturan dari pemerintah Amerika Serikat. Maka ketika pemerintah Amerika Serikat memutuskan bahwa perusahaan Huawei melanggar berbagai keputusannya [dibutuhkan referensi di sini] maka pemerintah melarang perusahaan lain untuk melakukan bisnis dengan Huawei. Mau tidak mau Google (dan perusahaan Amerika lainnya) harus nurut.

source: https://www.theasset.com/belt-road-online/35604/us-warns-europe-against-using-huawei-

Ini merupakan contoh politik yang mempengaruhi bisnis. Sebetulnya kalau mau ditelaah lebih lanjut lagi, ini mempengaruhi teknologi. Sedemikian pentingnya teknologi sehingga menjadi salah satu penentu keputusan. Kali ini teknologi 5G yang menjadi perebutan. Setelah ini kemungkinan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence / AI) yang akan mendapat perhatian yang sama, karena AI ini sama pentingnya (bahkan dapat dikatakan lebih penting) dari teknologi 5G.

Berulangkali saya katakan kepada mahasiswa saya agar tidak buta politik, tetapi jangan terjun ke politik praktis. Pahamilah politik sehingga kita tidak tersesat atau bahkan ditunggangi oleh kepentingan politik (praktis).

Lantas bagaimana dengan kita di Indonesia?

Kasus ini membuka mata kita seberapa tergantungnya kita dengan teknologi asing. Begitu pihak asing menutup teknologi tersebut, matilah kita. Maka kemandirian teknologi bukanlah isapan jempol. Dia merupakan sebuah hal yang riil. Kedaulatan Teknologi.

Contoh yang riil. Beberapa waktu yang lalu (tahunan?), kami pernah mengusulkan adanya “app store” sendiri. Handphone yang beredar di Indonesia dapat menggunakan “app store” kita sendiri. Namun nampaknya ide ini belum mendapat dukungan dan bahkan tidak dimengerti. Sekarang semoga kita mengerti mengapa perlu ada “local app store“. (Rincian mengenai hal ini masih harus dibahas. The devils are in the details.)

Demikian pula kemampuan untuk membuat kernel dari sistem operasi (terutama untuk handphone) juga merupakan hal yang utama. Tidak banyak orang Indonesia yang ngoprek tentang hal ini. Saya hanya tahu beberapa orang saja. Apakah Anda pernah ngoprek kernel sebuah sistem operasi?

Kebutuhan SDM (sumber daya manusia) yang menguasai teknologi-teknologi ini secara mendalam dapat dikatakan sangat kritis. Darurat SDM teknologi. Apakah kita akan menunggu sampai kita diblokir dulu baru kemudian bergerak?

Tautan terkait berita Huawei

Anda Benar

Zaman sekarang sering kita berdebat dengan seseorang dan dia terus ngeyel. Sudah dijelaskan berkali-kali dengan berbagai cara, tetapi saja dia ngeyel. Untuk kondisi seperti ini, satu-satunya jalan adalah menyelesaikan perdebatan. Bagaimana caranya? Dengan mengatakan “Anda Benar“.

Penjelasan mengenai “Anda Benar” dapat dilihat pada gambar berikut. Mudah-mudahan Anda dapat memahaminya. hi hi hi.

Jadi ketika Anda sudah tidak dapat lagi menjelaskan, daripada debat kusir tidak berhenti, katakan “Anda Benar” saja.

Teknik Mengajari Seseorang

Pada suatu hari Hasan dan Husein sedang berada di masjid. Mereka melihat seorang tua yang sedang berwudhu. Diperhatikan, cara berwudhunya salah. Kemudian orang tua ini melakukan shalat, tata caranya pun shalat. Eh, salaaahhh. Hasan dan Husein ingin mengajari orang tua ini, tetapi mereka masih terlalu muda. Jika mereka menegur dan mengajari, kemungkinan besar orang tua ini akan marah dan tidak mau terima. Jadi harus bagaimana?

Mereka berdua akhirnya mencari cara yang lebih baik. Mereka pura-pura bertengkar tentang tata cara wudhu dan shalat mereka di depan sang orang tua tersebut. Mereka kemudian pura-pura minta tolong kepada orang tua tersebut untuk memberitahu mereka cara wudhu (dan shalat) mana yang lebih benar. Orang tua tersebut memberi tahu tata cara wudhu dan shalat yang benar. Ah, dia teringat kembali tata caranya yang benar. Pada saat yang sama dia tidak dipermalukan.

Ini adalah salah satu teknik untuk mengajari seseorang. Ada kalanya ego seseorang terlalu besar untuk diberitahu bahwa dia salah. Jika kita langung mengatakan bahwa Anda salah, ini yang benar maka kemungkinan besar dia tidak akan terima. Dia akan merasa malu dan akan mempertahankan pendapatnya (yang salah). Akhirnya tujuan untuk mengajari yang benar menjadi tidak tercapai. Ingat, tujuannya bukanlah untuk menunjukkan bahwa kita benar. Tidak penting “kita”nya. Jangan karena kita merasa ingin dikatakan benar maka kita memaksakan diri. Tahanlah ego.

Jadi ketika saya bertanya, mungkin sebetulnya saya sedang mengajari Anda. hi hi hi.

Banyak

Banyak orang senang menggunakan kata “banyak“. Lah, kalimat barusan juga. ha ha ha. Eh, tapi serius sedikit. Beberapa kali saya menguji mahasiswa dan menanyakan berapa kali pengujian yang sudah dia lakukan. Jawabannya adalah “banyak”. Maksudnya? Setelah saya tanya lebih jauh, ternyata dia melakukan percobaannya sepuluh kali. Wah, itu belum “banyak” menurut saya. Kalau 40 itu banyak, menurut saya. (sttt … jangan ditanya kenapa ya. hi hi hi.)

Kadang kata “banyak” cukup untuk menjelaskan sesuatu, tetapi ketika kita berbicara angka – kuantitatif – kata “banyak” itu harus digantikan dengan sebuah angka. 3? 7? 73?

Angka 12 dapat disebut banyak kalau terkait dengan jumlah anak. Banyak itu. Angka 12 disebut sedikit kalau dia menyatakan jumlah penduduk sebuah kota. Sedikit sekali, bahkan.

Seringkali kita tidak dapat menentukan angka persisnya, tetapi yang lebih penting adalah “ball of park”-nya. Apakah puluhan? Ratusan? Ribuan? Jutaan? Jadi ketika Anda menyatakan “banyak”, sebutkan juga perkiraan rentangnya.

7? 15? 75? 300? 2500? 64.000? 120.000? 1.000.000? 1 Milyar?

Menghadapi Orang Kalah dan Marah

Kalah itu tidak menyenangkan. Tidak ada orang yang senang kalau kalah. Kalau kalah pasti kesel. Maunya marah-marah. Nah bagaimana menghadapi orang yang kalah dan marah ini?

Misalnya Anda bermain sepak bola. Tim Anda menang (dan tentunya tim satunya kalah). Apa yang Anda lakukan? Melakukan selebrasi sah-sah saja, tetapi kalau berlebihan? Priiiit. Kartu kuning.

Apa yang Anda lakukan melihat lawan Anda yang terduduk. Menangis. Bahkan marah?

Jika Anda berjalan ke depannya dan mengatakan “saya menang, kamu kalah”, apa yang akan terjadi? Berantemlah jadinya. Memang apa yang Anda katakan itu adalah fakta, tetapi ini bukanlah waktu yang tepat.

Jadi apa yang Anda lakukan? Berempati. Pahami bahwa lawan Anda sedang bersedih (dan bahkan marah). Rangkullah mereka. Bantulah mereka untuk melewati kegalauan ini. Give them comforts.

Sportif!