Tag Archives: opini

Kekang Keinginan Berbagi Berita Negatif

Baru saja melihat sebuah berita di salah satu media sosial (Facebook). Beritanya tentang seseorang yang tidak mau patuh terhadap peraturan penerbangan. Dia merasa berkuasa. Akhirnya terpaksa pesawat diturunkan dan yang bersangkutan diamankan. Kesal juga melihat orang model begini. Ada keinginan untuk menceritakan hal ini kepada orang lain. Ingin membuat orang ini menjadi “terkenal” (buruk) sehingga dia jera.

Setelah saya pikir-pikir, akhirnya saya batalkan untuk melakukan share. Untuk apa? Apa manfaatnya? Setelah saya bagi (share), apakah yang bersangkutan akan berubah? Belum tentu. Bahkan kemungkinan juga tidak berubah. Malah kemudian ada orang (gila) yang senang dia menjadi terkenal. Halah. Serius. Beneran.

Yang terjadi kalau kita membagi berita negatif adalah membuat orang baik-baik menjadi naik pitam juga. Naik darah. Marah-marah. Tensi! Artinya saya justru membuat orang baik menjadi kurang baik kondisinya. Padahal orang-orang baik ini tidak perlu harus ikut menderita atas berita negatif itu.

Ada banyak berita-berita negatif yang beredar. Tidak usah dicari pun ada banyak. Apalagi kalau kita cari, tambah banyak saja. Ini bikin gara-gara saja.

Jadi, lupakan saja berbagi berita negatif itu. Lebih banyak buruknya daripada manfaatnya.


Debat Pembenaran

Melihat debat di media sosial, saya mengambil kesimpulan bahwa para pihak yang berdebat sesungguhnya tidak mencari kebenaran tetapi mencari pembenaran. Masing-masing sudah punya pendapat sendiri-sendiri (yang tidak mau diubah), kemudian mencari argumentasi yang mendukung pendapatnya. Mencari pembenaran.

Ambil contoh yang mendukung. Sembunyikan contoh yang tidak mendukung. Bahkan sekarang seringkali contoh atau argumentasi yang mendukungnya pun tidak diperiksa kebenarannya. Seakan, semakin banyak contoh, semakin benar. hi hi hi.

Ingin dilihat paling benar atau menang dalam perdebatan. Itu tujuannya. Lah, sudah salah.

Diskusi atau debat seperti itu tidak akan memiliki ujung karena yang dicari bukan kebenaran. Yang sama-sama niat untuk mencari kebenaran saja sudah susah untuk menemukannya, apalagi yang masing-masing niatnya bukan itu. Saran saya, untuk yang model debat seperti itu lebih baik tidak usah dilayani.

Atau mungkin masalahnya di medianya. Media sosial nampaknya belum cocok untuk menjadi media diskusi. Entah medianya yang perlu diperbaiki, atau orang-orang yang menggunakannya yang harus lebih banyak belajar untuk mengendalikan teknologi ini.


Membaca Itu Bukan Bekerja

Ada banyak orang yang berpendapat bahwa membaca itu bukan bekerja. Soalnya membaca itu tidak kelihatan hasilnya secara fisik. Kalau menebang pohon itu kelihatan hasilnya. Berarti menebang itu bekerja. Lah, kalau membaca?

Padahal dalam hal pekerjaan yang membutuhkan pemikiran biasanya dibutuhkan pengertian dan pemahaman. Keduanya diperoleh setelah melalui proses membaca (dan kemudian dilanjutkan dengan mencoba). Tanpa membaca, kita akan menjadi bodoh dan tidak dapat mencari solusi yang dibutuhkan dalam pekerjaan kita.

Yang paling repot adalah menjelaskan pekerjaan mahasiswa yang sedang mengambil S3 karena pekerjaan utama mereka adalah membaca dan menulis. Membacanya juga agak ekstrim, yaitu harus banyak sekali membaca. Ratusan makalah dan buku harus dibaca oleh seorang mahasiswa S3. Untuk membacanya saja sudah membutuhkan waktu, apalagi untuk mengerti atau memahami. Maka dari itu banyak orang yang tidak mengapresiasi kesulitan mahasiswa S3.Sesungguhnya membaca itu juga bekerja, tetapi dilakukan oleh otak. Mungkin karena otak juga tidak terlihat secara fisik, maka sulit menerima bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh otak sama pentingnya (bahkan sekarang lebih penting) daripada pekerjaan yang dilakukan oleh otot.Nah, kalau membaca status orang di Facebook atau Twitter itu bekerja juga atau bukan ya?


Adu Kemiskinan

Sekarang banyak orang yang menggunakan kemiskinan sebagai alasan; “kami rakyat kecil”, “kami orang miskin”, dan seterusnya. Seakan-akan kalau sudah miskin itu boleh melanggar hukum. Ini contohnya: karena saya tidak bisa buat garasi, maka mobil saya parkir di pinggir jalan (dan mengganggu lalu lintas, yang mana digunakan oleh orang yang lebih miskin – yang  tidak punya mobil). Apa “miskin”nya dari punya mobil ya?

Minta dikasihani. Itu intinya. Semakin miskin semakin harus dikasihani. Maka yang terjadi adalah adu kemiskinan. Bukan adu perjuangan.

Kemarin ada demo angkutan umum karena adanya peluncuran layanan bis gratis untuk siswa dan karyawan. Salah satu poster yang terpasang di angkot mengatakan bahwa mereka (angkot) ini adalah orang miskin, bis gratis ini menganggu pendapatan mereka. Mereka lupa bahwa orang yang dilayani oleh bis-bis ini ada banyak orang yang tidak punya kendaraan sendiri (sehingga harus naik bis itu). Apa harus diadu kemiskinan antar mereka?

Lihat juga pengamen yang memilih angkutan kota untuk meminta duit dari pengendara angkutan kota ini (yang mana duitnya cekak dulu). Aneh saja. Mosok minta ke orang yang sama-sama (atau malahan lebih) tidak punya uang. Adu kemiskinan lagi?

Kalau dilihat, malah orang yang betulan miskin tidak menggunakan alasan itu. Mereka lebih memiliki harga diri dan berjuang lebih keras. Sementara itu banyak orang yang merasa miskin.

Hadoh … Memalukan orang-orang yang menggunakan alasan kemiskinan ini.


Apakah Kita Bodoh?

Apakah orang Indonesia itu dianggap bodoh ya? Tidak cukup otaknya untuk berpikir sendiri sehingga harus dituntun. Patronized. Bahkan untuk hal-hal yang sederhana (trivial) sekalipun harus diberitahu.

Saya ambil contoh dalam cerita-cerita (film, sinetron, [entah apakah komik juga?]) di Indonesia. Misalnya ada seseorang yang menunggu lama sekali. Yang ditampilkan adalah seseorang yang berkata, “Duuuh. Saya sudah menunggu lama sekali”. Sementara itu kalau di luar negeri lain lagi. Untuk contoh yang sama – orang yang menunggu lama sekali – yang digambarkan adalah seseorang yang terdiam, di sekitarnya ada asbak dengan banyak puntung rokok. Atau di sekitarnya ada beberapa kaleng minuman atau piring yang menumpuk, banyak kertas diremas-remas berantakan, buku menumpuk, atau sejenisnya. Tidak perlu dikatakan “saya menunggu lama sekali”. Untuk contoh yang ini kita diajarkan untuk berpikir dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa orang tersebut sudah menunggu lama sekali.

Akibat dari pemikiran bawah orang lain itu bodoh, maka “mereka” (orang lain itu) harus diatur.

  • Internet harus diblokir karena “mereka” tidak dapat membedakan mana yang pantas dan tidak pantas.
  • Acara-acara digeruduk karena “mereka” tidak dapat membedakan acara yang baik dan benar.
  • Buku-buku, bacaan, diberangkus karena “mereka” tidak dapat berpikir dan mencerna mana yang baik/sesuai dan mana yang tidak. Mereka pasti akan terpengaruh. Mereka tidak cukup otaknya untuk memilah.
  • Acara yang berbeda keimanan digeruduk karena keimanan “mereka” masih lemah sehingga nanti pindah akidah.
  • dan seterusnya …

update.


Masih Soal Uber

Tadi seharusnya saya mengantar anak saya ke sebuah tempat, tetapi karena saya juga harus futsal maka kami mencari taksi. Puter-puter nggak ketemu taksi konvensional. Akhirnya kami berhenti dan memesan Uber.

Pulangnya anak saya juga mencari taksi konvensional tetapi lagi-lagi tidak ada. Dia kemudian memesan Uber lagi. Harganya kali ini 2,7x lebih mahal dari harga biasanya (karena peak hour?). Akhirnya yang dibayar menjadi Rp.70 ribu. Mungkin kalau naik taksi biasa hanya Rp. 40 ribu.

Banyak orang yang mengatakan bahwa kami menggunakan Uber karena murahnya. Bukan! Kami menggunakan Uber karena taksi konvensional tidak ada. Ini masalah kemudahan dan ketersediaan. Itu yang lebih utama menurut saya.


Tempat Koleksi Foto Online

Kehabisan disk melulu. Umumnya karena koleksi lagu dan foto. Nah, saya berniat untuk menghapus koleksi foto di komputer (disk) sendiri. Saya mau upload foto-foto saya ke tempat koleksi online (atau kalau terpaksa, disk online) kemudian saya HAPUS foto-foto itu dari disk saya.

Apakah langkah ini bijaksana?

Saya akan upload berkas-berkas foto tersebut ke beberapa tempat. Just in case. Khawatir kalau layanan tempat koleksi foto tersebut berubah atau malah tutup. Sementara ini saya mengandalkan layanan Google Photos dan Flickr. Ada juga sebagian yang saya upload ke Facebook. (Hanya kalau ke facebook, ukurannya jadi mengecil dan kualitasnya menjadi turun?) Memang yang saya cari adalah layanan yang gratisan. ha ha ha.

Apakah ada saran tempat upload foto lagi? Kalau bisa yang gratisan dan ukurannya bisa besar.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.885 pengikut lainnya