Tag Archives: opini

Sedikit Demi Sedikit

Semalam saya memperbaiki lagi web site saya yang di budi.rahardjo.id. Saya tambahkan beberapa baris tentang presentasi & tulisan-tulisan yang pernah saya buat dan tugas-tugas mahasiswa. Web ini merupakan versi entah-ke-berapa dari web sebelumnya. Web terdahulu banyak sekali informasi dan link-linknya. Yang ini, baru mulai lagi.

Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah semua  dilakukan sedikit demi sedikit. Sekarang web saya itu masih jauh dari populer. Trafficnya pun masih kecil. (Ini disebabkan karena datanya juga masih sedikit.) Nanti, nantiiii, web ini juga akan tinggi peringkatnya. Harus sabar menambahkan data. Tidak ada yang instan.

Dan tentu saja nanti akan ada orang-orang yang bertanya, bagaimana membuat web yang ramai pengunjung (seperti blog ini)? Jawabannya adalah sedikit demi sedikit.


Hilangnya Indra Sosial Musisi Indonesia

Salah satu musisi favorit saya saat ini adalah Steven Wilson (akun Facebook). Dia dikenal banyak orang melalui band Porcupine Tree yang beraliran progressive rock. Sekarang dia justru lebih produktif dengan karya-karya pribadinya. (Termasuk memproduksi band atau artis lainnya.)

Steven_Wilson_Hand_Cannot_Erase_coverAlbum besar Steven Wilson yang baru adalah “Hands. Cannot. Erase“. Album ini terinspirasi dari sebuah kejadian menyedihkan. Tersebutlah seorang perempuan muda bernama Joyce Carol Vincet yang tinggal di London. Joyce ditemukan meninggal di apartemennya. Yang menyedihkannya adalah jenasahnya baru ketahuan setelah lebih dari 2 tahun! Joyce ini adalah orang biasa seperti kita-kita. Mengapa temannya atau saudaranya tidak ada yang tahu? Tidak ada yang menanyakan keberadaan dia setelah sekian lama?

Baru-baru ini kejadian yang mirip juga terjadi di Xian, Cina. Ditemukan seorang yang meninggal di lift setelah terjebak selama sebulan. Sebulan! Bagaimana mungkin ini terjadi?

Mungkin ini adalah arah dari masyarakat kita? Makin tidak peduli. Ditambah lagi dengan gadget atau handphone. Semakin tidak peduli dengan sekeliling kita.

Yang ingin saya soroti dalam tulisan ini adalah kesensitifan dari Steven Wilson. Dia membuat karya musiknya bukan sekedar membuat bunyi-bunyian yang enak didengar, tetapi juga memiliki misi sosial. Dia memotret kondisi sosial – dalam hal ini kejadian di Inggris tempat dia berada – dan kemudian mencoba mengingatkan kita. Inikah yang kita inginkan?

Indra Steven Wilson untuk menangkap kondisi sosial ini masih berjalan dengan baik. Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Ah, kebanyakan karya yang diciptakan saat ini lebih ke arah “aku cinta aku”, “sedihnya aku”, dan sejenisnya. Aku, aku, dan aku. Mending kalau “Aku”-nya Chairil Anwar. Kemana karya atau lagu yang berisi kritik sosial? Sebagai contoh, lagu karya Yockie Suryo Prayogo – “Kehidupan” yang dikenal melalui band God Bless.

Semoga musisi Indonesia (yang masih muda) dapat mengasah indra sosialnya dan dapat memotret kondisi sosial bangsa Indonesia.


Mulai Dari Merangkak

Membaca berita akhir-akhir ini dan mengamati di sekeliling saya, fenomena ingin cepat sukses nampaknya kental sekali. Orang ingin bisa ini dan itu dalam waktu singkat. Banyak yang ingin sukses, sekarang juga! Ya, kalau sekedar ingin saja sih tidak apa-apa. Namun jangan kecewa jika keinginan dan kenyataan berbeda.

Memulai sebuah usaha harus dimulai dari bawah. Menguasai sebuah ilmu atau keahlian juga harus dimulai dari belajar. Untuk berlari harus dimulai dari berjalan. Sebelum itu harus merangkak dahulu. Dalam bidang apa saja sama juga. Mau jago main musik, olah raga, menulis, ngeblog, pidato, memimpin, kecuali tidur, semuanya harus dimulai dari “merangkak”.

Ini semua tentunya membutuhkan waktu dan usaha. Waktu untuk setiap orang berbeda. Ada yang ordenya harian atau bulanan. Ada yang tahunan dan bahkan belasan tahun. Namun soal usaha, semua orang yang sukses berusaha secara serius. Tanpa usaha, ya waktunya bisa molor sampai tiada ujungnya. Heran saja melihat orang yang maunya minimal dalam berusaha, tetapi mau dapat hasil maksimal. he he he.

(Catatan kaki. Kalau web Anda ingin populer, ya butuh waktu dan usaha. Tidak bisa dengan modal ndompleng saja.)


GO-JEK dan Uber Adalah Solusi

Kami tinggal di dekat kota Bandung. Maksudnya “dekat” di sini, adalah 500 meter dari batas kotamadya Bandung. Dari batas kotamadya ke rumah hanya 2 menit lah. Menariknya adalah hampir semua restoran tidak ada yang mengantar ke tempat kami. Hanya ada satu, restoran 449, yang mau. he he he. (Apa mereka tidak kenal kota Bandung?)

Adanya GO-JEK merupakan solusi bagi kami. Sebetulnya persisnya adalah GO-FOOD, bukan ojek untuk ditunggangi. Kalau mau naik ojek, saya masih pakai ojek biasa. Sejak ada GO-JEK kami jadi mudah memesan makanan apa saja. Mereka mau mengantar ke tempat kami, yang sebetulnya tidak jauh berbeda dari tempat lainnya.

Demikian pula dengan Uber. Kalau pesan taksi konvensional, sudah nunggu lama tidak ada kabar kemudian ada kabar bahwa taksinya tidak ada. Pusing. Padahal mau ke bandara atau ke stasiun kereta api. Dengan Uber, kami dapat memastikan ada atau tidaknya kendaraan. Kalau ada, kami juga tahu kapan perkiraan datangnya. (Saya sudah tuliskan tentang ini ya.) Kepastian.

Sebetulnya saya tidak fanatik sekali dengan GO-JEK atau Uber. Hanya saja, alternatif lain tidak ada. Maka mereka merupakan solusi bagi kami. Mungkin bagi orang lain layanan GO-JEK atau Uber dipilih karena murahnya. Bagi saya bukan itu. Saya masih menggunakan taksi biasa dan ojek biasa bila memungkinkan (ada). Lagi-lagi, saya menggunakan GO-JEK atau Uber karena alternatif lain tidak ada.

Mau nggojek makanan dulu ah. (Sekarang masalahnya adalah sinyal operator saya sering jelek di sini.)


Panci Halal

Dalam sebuah sesi mentoring entrepreneurship ada yang bertanya kepada saya.

Tanya (T): Bagaimana pendapat bapak tentang sertifikasi halal?
Saya (S): Baik-baik saja. [he he he. habis mau saya jawab apa?]
T: Maksud saya, apakah saya perlu melakukan sertifikasi halal untuk produk saya?
S: Apa produk kamu?

[Saya sudah membayangkan berbagai jenis makanan, siomay, tahu, juice, kopi, atau sejenisnyalah.]

T: Sandal, pak
S: (bengong)
T: Bagaimana, pak?

Hmmm… tidak terbayang oleh saya kenapa produk sandal perlu disertifikasi halal. Apa ada yang mau makan sandal ya? Ah, mungkin supaya dapat diyakinkan bahwa sandalnya terbuat dari kulit babi? Terus kalau tidak disertifikasi halal itu artinya haram?

S: Kalau menurut Anda, panci perlu disertifikasi halal tidak?
T: (setelah berpikir sejenak) Tidak, pak.
S: Nah.

Bisa kebayang oleh saya kalau ada panci yang memiliki sertifikasi halal. Apakah artinya panci yang lain tidak halal? Terus panci yang tidak disertifikasi halal itu tidak boleh dipakai memasak?

Bagaimana menurut Anda? Perlukah sandal (atau panci) ini disertifikasi halal?


Buku Bagus vs. Buku Kurang Bagus

Mumpung lagi rame-rame bahas tentang kurang baca buku, saya mau mengangkat topik tentang buku bagus lawan buku jelek. (Karena kata “jelek” itu jelek, maka saya ganti dengan kurang bagus. hi hi hi.)

Begini. Waktu untuk membaca kita sangat terbatas. Sementara itu jumlah buku yang dapat dibaca sangat banyak. Tidak mungkin kita bisa membaca semua buku. Maka kita harus melakukan optimasi; mencari buku-buku apa saja yang pantas dibaca.

Bagaimana cara Anda memilah buku-buku mana yang pantas untuk dibaca dan mana yang tidak pantas untuk menghabiskan waktu kita?


Dialektika

Dialektika (bisa juga “dialektik”) merupakan komunikasi dua arah. Secara teori ini merupakan hal yang biasa dan mudah. Namun pada kenyataannya ini merupakan hal yang sulit. Sangat sulit, bahkan.

Di dunia Timur, seperti kita di Indonesia (eh, kenapa kita masuk bagian Timur?), kebiasaan dialektika ini belum umum. Akibatnya, kemampuan untuk melakukan diskusi dua arah sangat terbatas. Kebanyakan orang ingin diberitahu (satu arah) dan kemudian tidak menjawab (namun ngedumel – he he he).

Masuk ke dunia maya atau dunia online. Wah, lebih parah lagi. Di dunia nyata kita masih bisa menyaksikan reaksi dari lawan bicara kita secara langsung. Dia mengerti? Tidak mengerti? Marah? Tertawa? Di dunia online, datar saja. Ada emoticons – itu gambar yang senyum atau ketawa – tetapi sangat terbatas sekali reaksi yang diberikan. Lambat pula reaksinya. Akibatnya dialektika melalui media online tidak terjadi. Yang terjadi adalah saling cela dan marah-marah.

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu menyarankan untuk melakukan pengajaran tentang bagaimana menguasai (pemanfaatan) teknologi informasi ini. Jika ini dibiarkan, maka akibatnya menjadi liar. Sama seperti tidak mengajari orang untuk mengendarai motor dan tiba-tiba langsung diberi motor. Ngacolah dia mengemudikannya karena tidak tahu tanda-tanda lalu lintas dan tidak dapat mengerti pengendara lainnya.

Media sosial dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik dan juga dapat membuat kita menjadi marah-marah. Nah.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.737 pengikut lainnya