Aku Tak Mau Melayani Kamu, Karena …

Mundur beberapa tahun. Flash back. Di sebuah tempat nun jauh di sana.

Ada sebuah kedai yang menjual makanan dan minuman. Pada suatu hari ada seseorang yang ingin membeli makanan di kedai tersebut. Dia sudah menyiapkan uangnya dan kemudian memasuki kedai tersebut. Pemilik kedai menyambutnya, tetapi bukan seperti yang dia perkirakan.

Pemilik kedai: “Maaf, kami tidak dapat melayani Anda”
Calon pembeli: “Lho? Kenapa?”

Awalnya pemilik kedai berkelit. Muter-muter. Mencari pembenaran. Namun akhirnya dia menjawab juga dengan alasan sebenarnya.

Pemilik kedai: “Maaf, kami tidak dapat melayani Anda karena warna kulit Anda”
Calon pembeli: “Memangnya kenapa warna kulit saya?”
Pemilik kedai: “Kulit Anda berwarna”

Ah … itu sebabnya. Ternyata kedai itu hanya melayani orang memiliki kulit yang sama. Apartheid. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di Afrika Selatan saja, tetapi di Amerika dan juga di Indonesia. Sejarah menceritakan bagaimana orang yang memiliki kulit berwarna tidak layak untuk menerima layanan. Salahkah sang pemilik kedai? Bukankah hak dia untuk menolak pembeli? Bagaimana menurut Anda?

Maju ke depan. Fast forward. Jaman sekarang banyak orang yang merasa bahwa penolakan memberikan layanan karena calon pembeli berbeda itu sudah tidak ada, tetapi ternyata ini adalah pendapat yang salah. Saat ini dapat kita temukan orang-orang yang tidak mau memberikan layanan kepada orang yang berbeda warna kulit, berbeda pandangan politik (atau klub sepak bola), berbeda agama, berbeda suku, dan seterusnya. Tanpa disadari dia melakukan apa-apa yang pernah dilakukan oleh bangsa penjajah kepada bangsanya.

Ah. Sadarkah kita?

Iklan

Analogi Bitcoin

Sekarang Bitcoin sedang ramai diperbincangkan. Sebetulnya apa itu Bitcoin? Daripada menjelaskan tentang Bitcoin (atau cryptocurrency lainnya), lebih baik saya buat analoginya.

Katakanlah sekolah Anda ingin mengadakan acara bazaar. Di acara tersebut ada penjualan makanan dan minuman. Agar penjualan makanan dan minuman terkendali maka panitia membuat aturan bahwa pembelian makanan dan minuman dilakukan dengan menggunakan kupon. Kupon dijual dalam pecahan Rp. 20.000,-. Maka mulailah orang yang hadir di bazaar tersebut membeli kupon.

Untuk menghindari terjadinya fraud, penipuan, kupon palsu dan sejenisnya maka jumlah penjualan kupon dibatasi. Hanya ada 500 kupon yang tersedia.

Eh, ternyata makanan dan minuman yang ada di sana enak-enak. Maka orang mulai mencari kupon. Walah. Jumlah kupon yang tersedia ternyata terbatas. Maka mulailah kupon dicari. Tiba-tiba ada orang yang menjual kuponnya. Kupon yang harganya Rp. 20.000,- dijual seharga Rp. 25.000,-. Lumayan, untung Rp. 5.000,-. Malah ada orang yang menjual kupon itu dengan harga Rp. 30.000,-.

Begitu melihat kupon dapat dijual lebih mahal dari harga belinya maka orang mulai memperjualbelikan kupon. Kupon lebih dicari lagi. Harga makin naik lagi. Sekarang harga kupon menjadi Rp. 100.000,-. Wow!!

Lucunya, orang-orang tidak menggunakan kupon itu untuk membeli makanan. Justru jual beli kuponnya yang menjadi fokus kegiatannya.

Lantas bagaimana nasib penjual makanan dan minuman itu? Hmm … sebentar kita cek dulu. Ternyata jual beli makanan dilakukan dengan uang Rupiah saja karena daripada tidak ada yang beli dan kupon malah disimpan (dan diperjualbelikan) oleh orang-orang. Kupon tidak jadi solusi.

Bazaar akan selesai. Bagaimana nasib harga kupon setelah bazaar selesai? Anda tahu sendiri.

Update: yang ini belum tentu benar, tapi lucu saja. hi hi hi.

bitcoin-mania

Punten … Permisi …

Bangsa Indonesia dikenal sebagai sebagai bangsa yang penuh dengan sopan santun. Eh, ini masih ya? Atau ini jaman dahulu? Mungkin ini bukan hanya Indonesia saja ya? Katanya sih ini salah satu karakteristik orang “Timur”.

Tinggal di luar negeri dalam waktu yang cukup lama, saya melihat bahwa budaya sopan santun (basa basi?) ternyata tidak dimonopoli oleh bangsa Timur saja, tetapi juga oleh orang Barat juga. Di Kanada, orang sangat sopan santun. Kalau pagi-pagi ketemu orang – yang tidak kita kenalpun – pasti dia akan bilang “Good morning“. Tapi ini mungkin juga Kanada yang memang dikenal banyak sopan santunnya. Bahkan salah satu guyonannya, kalau di Kanada ada maling masuk rumah dan ketahuan oleh yang punya rumah maka sang maling akan ditegur, “I am sorry, maybe you are in the wrong house?” ha ha ha.

Kembali ke topik utama, soal sopan santun. Saya melihat anak muda sekarang mulai kehilangan karakter itu. Sebagai contoh, saya melihat banyak anak muda yang kalau jalan dia tidak peduli dengan sekitarnya. Kalau ada pintu yang kita bukakan dan kita pegang (budaya Barat nih), dia tidak mengucapkan terima kasih. Lewat aja. Excuse me? Kalau ada orang-orang pun dia lewat aja.

Saya membiasakan diri untuk sopan. Ketika melewati orang – tua atau muda – saya selalu berusaha untuk mengatakan “Punten” (ini bahasa Sunda yang artinya “Permisi”). Gesture seperti ini harus diajarkan kepada generasi muda (yang tua juga sih). Itulah sebabnya saya merasa perlu untuk menuliskan topik ini.

Sudahkah Anda mengatakan “Punten” (Permisi) hari ini?

Jangan Menilai Dengan Kacamata Sendiri

Banyak orang – mungkin sebagian besar orang? – menilai atau mengukur orang lain dengan kacamatanya sendiri. Masuk akal sih. Habis, mau mengukur dengan apa? Hmm … Okelah, tetapi saya melihat ada banyak masalah dengan pendekatan ini.

Kalau saya menilai orang lain dengan kacamata saya, maka saya akan frustrasi sendiri karena kok jauh dari standar yang saya terapkan. Saya bukan seorang yang perfectionist, tetapi memang punya standar yang tinggi untuk berbagai hal. Sebagai contoh, kalau belajar ya saya belajar serius sekali. Serius di sini maksudnya bukan duduk di depan meja dan tidak peduli kepada hal lain, tetapi lebih ke menekuninya dengan hati. Maka saya kesal kalau melihat orang yang ngasal belajarnya. Tidak sesuai dengan standar saya.

Demikian pula saya adalah orang yang “multi dimensional” (for the lack of better words). Maksudnya saya menekuni berbagai bidang sekaligus; komputer, musik, olah raga, bisnis, entrepreneurship, pendidikan, kepemimpinan, dan seterusnya, dan seterusnya. Maka orang lain akan salah dalam menilai saya karena mereka hanya menilai dari satu dimensi saja. Sebagai contoh, yang tahunya saya di bidang pendidikan maka tahunya hanya saya sebagai dosen (banyak kuliah yang saya ajar dan saya sangat rajin dalam mengajar) dan peneliti (banyak penelitian saya lho – mahasiswa bimbingan saya juga banyak). Orang yang tahu kesibukan saya di bidang pendidikan tidak tahu kesibukan saya di bidang lain. Maka mereka akan tidak percaya kalau saya juga sibuk (dan berprestasi) di bidang olah raga, musik, bisnis, dst. dst. dst.

Inilah yang saya maksud dengan menilai orang lain dengan kacamata sendiri. Akan sulit menilai saya secara keseluruhan karena model yang ada di kebanyakan orang adalah satu dimensi.

Itulah sebabnya saya juga jarang (hampir tidak pernah?) menilai orang lain karena saya paham bahwa kacamata saya pasti tidak cocok untuk menilainya.

Mengirim Pesan Tengah Malam

“Apakah baik mengirimkan pesan (text, SMS, WA, Telegram) tengah malam?”

Ini adalah pertanyaan yang akan saya berikan pada kuliah Pengantar Teknologi Informasi. Pertanyaan ini muncul untuk melihat bagaimana orang merespon terhadap pemanfaatan handphone.

Apakah Anda mematikan atau mengecilkan volume handphone Anda pada malam hari? Bukankah salah satu manfaat adanya handphone adalah untuk keadaan darurat, yang mana pagi atau siang bukan masalah. Kalau malam hari handphone dimatikan, maka jika ada kondisi darurat tidak dapat ditelepon.

Sering saya baru teringat untuk membalas sebuah pesan di malam hari. Tengah malam, tepatnya. Wah, kalau saya balas sekarang dan sang pemilik handphone tidak mengecilkan volume handphonenya nanti “tang ting tung” suara pesan masuk ke handphonenya. Bagusan pagi hari saja dibalas pesannya ya?

Tentang Pemblokiran Telegram

Beberapa hari yang lalu dunia siber Indonesia dihebohkan oleh keputusan pemerintah Indonesia (dalam hal ini Kominfo) yang memblokir layanan telegram. (Yang diblokir adalah layanan via web dulu, kemudian akan diblokir yang aplikasi mobile-nya.) Pengelola telegram dianggap tidak kooperatif dalam memblokir layanan telegram untuk group-group yang terkait dengan terorisme.

Saya termasuk yang tidak setuju dengan keputusan pemerintah ini. Menurut saya cara ini tidak efektif. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, telegram bukan satu-satunya media komunikasi yang digunakan oleh teroris. WhatsApp dan aplikasi lain juga digunakan. Mengapa hanya telegram yang diblokir? Fitur yang ada di WA pun sama dengan yang ada di telegram. (Dahulu memang WA tidak memiliki fitur enkripsi sehingga mudah disadap, sekarang dia memiliki fitur itu.)

Kedua, keputusan pemerintah ini malah menunjukkan bahwa pemerintah tidak mampu melakukan (counter-)intelligence terhadap pengguna telegram. Ini makin menunjukkan bahwa telegram merupakan platform yang bagus untuk digunakan karena tidak bisa diatasi oleh pemerintah Indonesia. Wah.

Ketiga, banyak orang (perusahaan, organisasi, individu) yang mengembangkan aplikasi di atas telegram ini. Aplikasi tersebut berbentuk “bot” (robot, chat-bot) yang dapat diprogram sesuai dengan perintah (teks) yang diberikan oleh pengguna. (Machine learning / artificial intelligence) Contohnya antara lain, early warning system, help desk, payment chatbot, dan seterusnya. Inovasi-inovasi ini terbunuh begitu saja. Telegram sekarang dapat dianggap sebagai “infrastruktur” seperti halnya YouTube.

my students_0001
sebagian dari topik penelitian mahasiswa saya. yang paling bawah tentang enkripsi yang digunakan oleh berbagai aplikasi chat

Terakhir, kalau sedikit-sedikit blokir – trigger friendly – maka ada kekhawatiran akan apa saja yang akan dilakukan di kemudian hari. Ketidak pastian. Ini buruk bagi bisnis (dan penelitian).

Apakah Perlu Sekolah Formal?

Banyak orang yang mempertanyakan apakah masih perlu sekolah formal? Buktinya banyak orang yang dropout – gagal sekolah formal – yang sukses juga. Bahkan kalau di dunia IT banyak contohnya. Sekarang ditambah lagi dengan bisnis-bisnis online ada juga yang sukses. Jadi untuk apa sekolah?

Di saat yang sama, banyak orang yang menihilkan proses belajar. Ada yang kemudian menihilkan kemampuan seorang profesor yang telah puluhan tahun mendalami ilmunya. (Kebetulan kalau di Indonesia, ini kasus agama. ha ha ha. Misalnya ada yang meragukan keilmuan Prof. Quraish Shihab atau mas Nadirsyah Hosen. ha ha ha.) Banyak orang yang merasa kemudian sok bisa.

(Di bidang ilmu saya juga sama sih. Ada banyak yang tiba-tiba menjadi pakar security. he he he. Tapi kalau ini saya ambil sebagai contoh, jadi berkesan lebay. hi hi hi.)

Sekolah formal, jika dilakukan dengan benar, sangat dibutuhkan! Singkatnya demikian.

Mengapa ada embel-embel “jika dilakukan dengan benar”? Karena saat ini banyak orang yang sekolah bukan untuk mencari ilmu, tetapi hanya sekedar untuk menghabiskan waktu. Daripada anak ngganggur di rumah, lebih mereka disuruh sekolah saja. Jadinya di sekolah ya hanya sekedar membunuh waktu saja. Demikian pula yang menjadi pengajarnya, mereka bukan niat untuk menjadi guru (pengajar, dosen), tetapi hanya sekedar untuk bekerja dan menunaikan tugas administratif saja. Hasilnya menjadi buruk dan kemudian timbullah persepsi bahwa sekolah formal itu tidak penting.

Kan sudah ada buku-buku dan internet? Mengapa perlu sekolah formal?

Untuk sebagian kecil orang, belajar mandiri dapat dilakukan dan memang bagi mereka sekolah formal tidak begitu penting (selain dari ijasahnya). Tapi “sebagian kecil”nya itu sangat kecil sekali. Saya jarang menemukan orang yang dapat belajar mandiri seperti ini. Umumnya orang tidak sanggup belajar sendiri. Dibutuhkan kedewasaan dan ketekunan yang luar biasa.

Sedihnya banyak orang yang merasa dapat belajar sendiri dan kemudian mudah puas setelah mengetahui kulitnya. Padahal sesungguhnya mereka itu tidak mengerti, tapi kemudian paling vokal kalau berbicara. Ini gawat sekali.

Sekolah formal menunjukkan peta perjalanan atau tuntunan dalam belajar. Sebelum mempelajari B, sebaiknya belajar A dahulu sebagai dasarnya. Hal ini diperoleh dari pemahaman dan pengalaman sebelumnya. Maka sekolah formal dapat mempermudah proses belajar. Tanpa tuntunan tersebut, belajarnya boleh jadi nabrak ke sana sini sehingga memboroskan waktu yang semestinya tidak perlu terjadi.

Belajar dengan seorang guru yang memang gurunya dalam bidang itu membuat kita menjadi lebih mudah belajar. Guru ini biasanya ada di sekolah formal, meskipun ada juga yang informal. Yang terakhir ini jarang.

Kembali ke pokok pembicaraan, singkatnya, sekolah formal itu masih penting. Begitu.