Bumi Datar (Flat Earth)

Kemarin di dua tempat terjadi perdebatan tentang apakah bumi itu bulat atau datar. Mungkin juga perdebatan tidak hanya terjadi di dua tempat itu saja. Ya, topik sedang ngetrend. Jadi ingat cover album Kansas ini, Point of Know Return. (Sambil juga ingat bukunya Friedman, the World is Flat.)

kansas_-_point_of_know_return

Menurut Anda tentang bumi datar itu opini atau hoax? Ada yang berpendapat bahwa ini adalah hoax karena bukan fakta. Sementara itu ada yang berpendapat bahwa ini adalah opini dan itu sah-sah saja. Nah lho.

Kopi

Kalau diperhatikan, foto-foto yang saya ambil kebanyakan terkait dengan makanan. Lebih spesifik lagi, ada banyak foto terkait dengan kopi. Ya begitulah. Kopi yang sering saya temui, sehingga foto-fotonya pun banyak kopi.

dsc_0794-kopi

Ada yang bertanya di media sosial; “bapak suka kopi ya?”. Mau saya jawab, tidak. ha ha ha.

Saya lupa sejak kapan saya menyukai kopi. Seingat saya, saya mulai rutin minum kopi ketika menyelesaikan S2 dan S3 saya di Kanada. Itu adalah masanya saya harus begadang untuk membaca makalah, membuat program, dan seterusnya. Maka kopi adalah teman yang baik. Tapi pada masa itu saya belum terlalu spesifik kepada kopi tertentu. Asal kopi, cukup. (Dan masa itu, kopi harus ditemani dengan gula. Sekarang kopi saya  hitam tidak pakai gula.)

Sekembalinya ke Bandung pun saya masih biasa-biasa saja dengan kopi. Kalau ada ya terima kasih. Kalau tidak ada, ya biasa saja. Biasanya minum kopi juga kalau pas ada acara, seminar misalnya. Selebihnya masih jarang juga membeli kopi. Tapi, masa itu juga kayaknya kopi belum setenar sekarang. Sekarang, kopi sudah menjadi life style. Keren kalau ngopi. Mungkin ini gara-gara Starbucks ya?

Saya sekarang menyukai kopi karena ternyata di Indonesia ini ada berbagai macam kopi lokal. Kebetulan juga saya sukanya kopi-kopi Indonesia. Sekarang kalau mau ngopi milih-milih. he he he. Jadi sok-sok-an begini. Bukan saya mau ngesok, tetapi ternyata perut saya sensitif terhadap kopi tertentu. Ada kopi-kopi – terutama sachet – yang bikin saya sakit perut. Ini bukan mengada-ada, tapi betulan. Maka dari itu sekarang saya terpaksa pilih-pilih kopi.

dsc_0766-kopi

Alhamdulillah, Bandung ini surganya kopi. Di setiap pojok jalan ada kedai kopi. Lagian kopi-kopi-nya enak banget. Kopi lokal! Setelah jalan-jalan ke sana sini, kopi hitam Indonesia ini memang paling mantap. Ini masalah selera sih, tapi saya bilang boleh diadu. (Kalau kopi yang menggunakan susu, flatwhite coffee di Australia lebih mantap! Mungkin ini masalah susunya.)

Mari ngopi dulu …

Siapakah Saya?

Bagi banyak orang, menunjukkan eksitensi dirinya merupakan hal yang penting. Harus tampil. Harus mendapat acungan jempol. Harus diperhatikan atasan. Kalau di media sosial, harus mendapat banyak “like” atau acungan jempol.

Mungkin karena perjalanan hidup, bagi saya, approval dari banyak orang itu sudah tidak penting lagi. Saya cenderung tidak suka spotlight. Lebih baik tidak dikenali. Alhamdulillah ini sudah mulai berjalan dengan baik. hi hi hi. Banyak orang yang tidak tahu siapa saya. Padahal saya adalah adalah sebuah buku yang terbuka. An open book. It’s very easy to find who I am. Apalagi dengan adanya internet, semua dapat dicari dengan mudah.

Belajar untuk tidak egois. Nah itu dia. Belajar untuk mengendalikan diri sendiri merupakan hal yang sulit. Apalagi jika Anda dihina atau dibully oleh orang yang tidak tahu apa-apa. Panas. Emang ente itu siapa? hi hi hi. Ketika masih muda mungkin demikian jawaban saya. Kalau sekarang, tersenyum saja.

Keabaran ini yang saya pelajari dari para guru (yang sudah pada sepuh dan memiliki kesabaran yang luar biasa). Saya bukan apa-apa dibandingkan mereka jika diukur dari tingkat kesabarannya.

hiding …

Kasihan

Berantem di dunia maya bukan hal yang baru. Flame war sudah ada dari … hmm, entah kapan ya. Tahun 80-an pun saya sudah merasakan debat kusir di dunia internet. Ada banyak teori mengapa perdebatan di dunia maya lebih mudah terjadi. Salah satunya adalah karena kita tidak dapat melihat bahas tubuh dari lawan bicara. Tentu ada alasan-alasan lain.

Maju ke sekarang. Fast forward. Media sosial menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Sayangnya, cara berkomunikasi di media sosial tidak pernah diajarkan. Akibatnya banyak terjadi perdebatan yang tak berujung. Bagaimana menangani hal ini?

Salah satu cara yang saya ambil adalah menggunakan metodologi yang saya sebut “kasihan”. Iya, maksudnya kasihan kepada lawan diskusi.

Begini. Sangat mudah bagi kita untuk mencari kesalahan lawan bicara. Kita bisa mencari kesalahan dari argumentasinya, sampai kepada kesalahan pribadinya. Sangat mudah sekali. Yang susah adalah menahan diri untuk tidak menghina lawan bicara atu memicu kemarahan. Sangat mudah mengatakan “dasar goblok”. Dijamin langsung ribut. ha ha ha. Nah, bagaimana menahan diri itu? Ya kasihan.

Sering saya melihat betapa “lucunya” opini atau cara berpikir seseorang. Maka saya katakan dalam hati, “kasihan kalau saya kritik”. (Kasihan kalau disepet.) Ya sudahlah. Maka tidak terjadilah flame war.

Tidak mudah melakukan hal ini karena pada prinsipnya ini menekan ego kita, yang selalu ingin terlihat benar/hebat. Tidak mudah.

Silahkan dicoba. Membutuhkan latihan untuk mengasihani.

Mengenali Pahlawan Indonesia

Ketika jaman saya masih kecil, semua anak-anak diwajibkan mengetahui dan bahkan menghafalkan nama pahlawan-pahlawan Indonesia. Biasanya disebutkan mereka dari daerah mana. Ini mungkin bagian dari doktrinasi bernegara Indonesia? Hasilnya adalah kami jadi mengetahui pahlawan-pahlawan Indonesia.

Jaman dahulu memang belum ada internet, sehingga pengetahuan kami juga terbatas. Tetapi di sisi lain kami juga tahu bahwa kami tidak tahu semua. (Muter begini. hi hi hi.) Artinya, kami tidak sok tahu.

Baru saja Bank Indonesia menerbitkan uang baru. Uang baru ini menampilkan wajah pahlawan Indonesia. Sayangnya ketika membaca sebuah thread tulisan (post) di media sosial tentang uang ini, banyak yang menyikapinya dengan negatif. Sebagai salah satu contoh adalah banyak yang tidak tahu (dan saya pada awalnya) tentang Frans Kaisiepo yang ditampilkan pada pecahan uang 10.000 rupiah.

rupiah_10000
Tampilan uang 10.000 Rupiah yang baru [sumber sindonews]
Sedihnya banyak yang menyikapi ketidak tahuan ini dengan menghakimi. Saya tidak sampai hati untuk menuliskan komentar-komentar mereka di tulisan ini. (Dan ini juga dapat saya anggap sebagai ikut menyebarkan kebencian.) Padahal untuk memecahkan ketidaktahuan ini mereka dapat mencari informasi di internet. Ini salah satunya, “Biografi Pahlawan Nasional Frans Kaisiepo“. Sangat mudah sekali. (Coba bayangkan jaman dahulu sebelum ada internet!) Keberlimpahan informasi ini ternyata tidak menjadi jaminan orang menjadi lebih terdidik. Aneh. Apakah ini merupakan kegagalan pendidikan Indonesia?

Hal yang sama dapat juga dilakukan untuk mencari informasi mengenai pahlawan-pahlawan Indonesia lainnya yang diabadikan di uang baru kita. Ayo cari tahu.

your name

SeBaru beres nonton film “your name”. Bagus atau tidak? Lumayanlah menurut saya. Tapi, tulisan ini tidak bermaksud untuk membuat resensi film itu. Film ini mengingatkan saya akan beberapa hal.

Hal yang pertama – kok seperti tulisan formal? hi hi hi – adalah film ini mengingatkan saya akan cerita pendek yang bersambung karangan saya yang merupakan awal-awal dari ngeblog ini; “Aku Tak Tahu Namamu“. Whoa, baru sadar bahwa cerita itu saya buat tahun 2007. Sembilan tahun yang lalu. (Waktunya melanjutkan? Hadoh.)

Hal yang kedua, film ini mengingatkan saya akan inti dari lagu Johnny Hates Jazz – Magentized. Lihat YouTube-nya di bawah ini. Kebetulan ini adalah salah satu lagu come back dari JHJ setelah sekian tahun menghilang. (Ada versi parodi anak-anak juga.)

Hal yang ketiga. Eh, tidak ada yang ketiga. Kembali ke filmnya. Seperti halnya film Jepang yang saya tonton, biasanya romatik. hi hi hi. Selamat menonton film “your name”. Ceritakan pengalaman Anda.

Banjir Informasi

Membaca bagian awal dari buku Madilog-nya Tan Malaka, saya merasakan kegalauan Tan Malaka akan kesulitan mendapatkan sumber bacaan (buku). Saya juga sempat mengalami masa kesulitan mendapatkan sumber referensi ketika menempuh pasca sarjana saya. Untuk mendapatkan sebuah referensi, saya harus melakukan interlibrary loan, yaitu meminjam ke perpustakaan tempat lain. Dibutuhkan waktu berhari-hari (dan bahkan minggu) untuk referensi sampai di tempat saya. Itu di Kanada, sebuah negara yang sudah maju. Tidak terbayang oleh saya jika saya berada di tempat yang sistem perpustakaannya belum sebaik itu.

Ya itu jaman sebelum ada internet. Ketika akses kepada (sumber) informasi masih sangat terbatas. (Sebetulnya jaman itu sudah ada internet, tetapi akses kepada internet masih dibatasi untuk perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Juga, kecepatan akses internet masih sangat terbatas. Masih teringat saya harus mengakses jaringan kampus dengan menggunakan layar teks saja melalui modem 1200 bps.)

Internet (dan teknologi terkait) mendobrak akses kepada informasi. Sekarang – setidaknya di kota-kota besar di Indonesia – akses kepada informasi tidak ada batasnya. Seperti halnya aliran air dari sebuah sungai yang tadinya mampet, sekarang menjadi lancar.

Sayangnya air yang tadinya jernih sekarang berubah menjadi keruh. Terlalu banyak sampah. Ditambah lagi, air yang tadinya mengalir dengan baik sekarang menjadi banjir badang. Tanggul-tanggul bobol. Sekarang kita kebanjiran informasi.

Ketika banjir – dimana-mana ada banyak air – kita kesulitan mendapatkan air yang jernih untuk minum. Kondisi saat ini sama. Terlalu banyak informasi abal-abal, sehingga untuk mendapatkan informasi yang jernih tidak mudah. Dibutuhkan keahlian dan teknologi untuk menyaring informasi yang keruh menjadi informasi yang dapat kita teguk.

Sementara itu, kita jangan ikut serta memperkeruh “air informasi” ini dengan melemparkan “sampah informasi” yang tidak penting. Tahan diri untuk membuang “sampah informasi”. Maukah kita melakukannya?