Tag Archives: opini

Tanpa Perayaan Tahun Baru

Saya sudah terbiasa untuk tidak melakukan perayaan tahun baru. Bagi saya ini sama dengan hari libur lainnya saja. Jadi biasanya tahun baru ya tertidur seperti biasa. Kalaupun pas terbangun itu juga seperti terbangun biasa (karena tiba-tiba muncul ide di malam hari itu). Bagi banyak orang, terbangun malam hari dan melewati tengah malam untuk memasuki hari berikutnya bukanlah hal yang biasa. Jadi ini perlu dirayakan. hi hi hi. Bagi saya, ini sih sama dengan hari-hari biasa.

Bukan berarti saya anti perayaan tahun baru lho. Saya tidak anti. Hanya saja saya tidak melakukan perayaan tahun baru. Itu saja. (Bahkan perayaan ulang tahunpun kami tidak melakukan yang spektakuler. Paling-paling menu makanan lebih saja. Ataupun makan di luar pada kesempatan berikutnya, yang mana ini juga biasa juga. hi hi hi.) Setiap hari adalah perayaan.

Eh sebetulnya ada sebelnya juga dengan perayaan tahun baru, yaitu ada yang pasang petasan keras-keras sehingga menggangu tidur. Ini juga pas ngeblog ada suara petasan keras-keras. Grrr. Saya heran saja ada orang mau membakar uang begitu saja. Bukankah membeli petasan adalah sama dengan membakar uang?

Oh ya, kalau melewati pergantian hari itu membuat banyak orang menjadi gembira, maka saya usulkan agar lebih diperbanyak … begadang. ha ha ha.

Selamat tahun baru. Ngantuk. Zzz…


Menjadi Pemimpin

Menjadi pemimpin itu ternyata tidak mudah. Salah satunya adalah harus membuat keputusan. Padahal seringkali sebuah keputusan tidak dapat menyenangkan semua pihak. Pasti saja ada yang tidak suka, atau bermasalah dengan keputusan tersebut. Agar tidak salah mengambil keputusan, perlu mendengarkan masukan dari berbagai pihak. Namun pada akhirnya, pemimpinlah yang mengambil keputusan. Sayang sekali banyak “pemimpin” yang berusaha menyenangkan semua pihak sehingga malah tidak mengambil keputusan. Ini bukan ciri pemimpin yang baik.

Kesalahan pengambilan keputusan merupakan tanggung jawab seorang pemimpin. Pekerjaan dapat didelegasikan kepada bawahan, tetapi tanggung jawab tetap pada sang pemimpin.

Menjadi pemimpin itu pasti akan dikritik karena tidak dapat menyenangkan semua pihak. Bahkan, kadang bukan sekedar kritik, cacian dan bahkan fitnah pun dilayangkan kepada sang pemimpin itu. Dibutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk menjadi pemimpin.

Dengan tugas dan tanggung jawab yang besar, mengapa masih banyak orang yang ingin jadi pemimpin ya?


Lupakan Penilaian Orang

Bolak-balik cari judul yang pas untuk tulisan ini, belum nemu juga. Akhirnya saya putuskan pakai judul ini saja.

Ceritanya begini. Ada banyak orang yang terlalu ketakutan ketika mengerjakan tugas (pekerjaannya). Dia takut dinilai buruk oleh atasannya atau orang lain. Atau berharap dapat pujian. Akhirnya banyak waktu dan pikiran yang habis hanya untuk memikirkan bagaimana penilaian orang terhadap kita. Takut gagal dan seterusnya.

Saya punya pendekatan lain. Ketika mengerjakan sebuah tugas atau pekerjaan, saya kerjakan dengan komitmen penuh. Seratus persen. Saya tidak terlalu peduli tentang penilaian orang – bahkan atasan – terhadap pekerjaan saya tersebut. Yang penting bagi saya adalah pekerjaan selesai dengan kualitas yang super bagus. Analogi lain adalah kalau saya diminta untuk memimpin rombongan (tentara, anak buah) dari satu tempat ke tempat lain, maka saya fokus kepada tugas itu. Bagaimana untuk mengantarkan mereka ke tempat tersebut dengan selamat. Mengenai apa kata orang, saya tidak terlalu peduli. Dengan cara ini, saya bisa fokus kepada tugas tersebut.

Jadi jangan bekerja karena ingin dipuji atau karena ingin terlihat lebih baik dari yang lain. Bekerja itu karena kita memang harus menyelesaikan tugas kita. Kalau kita dapat menyelesaikannya dengan baik, asyiiik. Great! Kalau kita agak gagal dalam menyelesaikannya (padahal kita sudah melakukannya sebaik mungkin), ya sudah. Terimalah. Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari kegagalan tersebut? Lain kali harus lebih baik.

Yang lebih asyik lagi adalah kalau pekerjaan atau tugas tersebut dapat kita buat menarik sehingga kita tambah senang mengerjakannya. Bagaimana cara agar kerja menyenangkan? Nah, itu sih topik lain kali. hi hi hi.


Perlukah Diatur Sampai Rinci?

Gegap gempita dunia media sosial membahas peraturan-peraturan pemerintah yang baru; tentang PNS, dilarang membuat acara di hotel, usulan sajian makanan untuk rapat (yang katanya disarankan singkong – memangnya salah gitu?), dan sampai ke jumlah undangan jika membuat acara kondangan. Tentu saja ada yang pro dan kontra dalam setiap aturan yang dibuat. Dalam diri saya sendiripun ada pro dan kontra. Hi hi hi.

Di satu sisi, saya mempertanyakan mengapa yang begini mesti diatur sih? Apakah manusia Indonesia memang harus diatur sampai se-rinci begitu? Okelah kalau urusannya terkait dengan perkantoran. Kalau urusan pribadi, kondangan misalnya, mengapa mesti diatur? Nah itu dia. Saya juga ikut bertanya-tanya.

Di sisi lain. Sekembalinya dari luar negeri, saya mengalami culture shock juga. Terbiasa dengan keteraturan di luar negeri, balik ke Indonesia rasanya banyak yang chaos. Lama kelamaan saya dapat mengerti bahwa ini adalah budaya Indonesia. Mengerti belum tentu setuju lho. Perbedaan budaya itu sulit untuk dikatakan baik dan buruknya. Satu kata yang dapat kita sepakati, yaitu “beda“. Jambu dengan ayam tentu saja berbeda. he he he.

Saya melihat Indonesia yang sekarang berbeda dengan Indonesia yang dahulu. Entah karena kehidupan yang keras, maka manusia Indonesia yang sekarang lebih kurang ber-empati dan lebih mementingkan dirinya sendiri. Sebagai contoh, di musim kering banyak daerah yang susah air. Ada saja orang yang nyuci mobil dengan selang air yang berlebihan. Ketika ditegur, dia tidak terima. Lah ini air-air saya sendiri dan saya juga bayar. Dia kehilangan empati. Dia tidak dapat melihat tetangganya yang kesulitan air. Hal serupa juga terjadi di tempat umum, seperti misalnya toilet umum. Air dibiarkan mengalir. Mentang-mentang dia bukan yang membayar, maka dia tidak peduli. Contoh lagi, makan yang tidak dihabiskan. Ngambil makanan banyak, tapi tidak dihabiskan. Seharusnya mengambil secukupnya saja. Banyak orang yang kesulitan makanan. Buang sampah suka-suka dia. Dan seterunya. Maka untuk hal-hal seperti ini, perlulah aturan. Terlihat aneh, tapi begitulah.

Aturan-aturan yang baru muncul ini terlihat seperti itu. Terlalu mengatur. Untuk kondisi saat ini, nampaknya memang perlu aturan-aturan seperti itu. Nanti kalau kita sudah lebih “sadar”, lebih berempati, maka aturan-aturan tersebut tidak diperlukan lagi.


Homogenisasi Pandangan

Akhir-akhir ini saya jadi banyak melakukan “unfollow” dan “unfriend” di Facebook. Alasannya adalah karena orang-orang yang saya unfollow tersebut banyak menuliskan sumpah serapah di statusnya. Sebetulnya saya suka melihat sudut pandang lain, tetapi jika isinya sumpah serapah jadinya saya tidak dapat melihat sudut pandang lain tersebut. Ya terpaksa tidak dilihat.

Sebetulnya saya khawatir dengan melakukan self filtering semacam ini kita menjadi memiliki pandangan yang homogen. Yang kita baca adalah pendapat-pendapat dari orang-orang yang sama semua; lebih tepatnya sama dengan pandangan kita. Kita melakukan homogenisasi pandangan. Mungkin ini hal yang kurang baik. Tapi, bagaimana lagi? Apa yang harus kita lakukan agar ini – homogenisasi pandangan – juga tidak terjadi?


Blusukan

Ada pro dan kontra tentang blusukan. Blusukan sudah terbukti berjalan seperti yang dicontohkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ini bisa berjalan karena memang blusukan cocok dengan karakter dan latar belakang dari Jokowi.

Apakah blusukan dapat dilakukan oleh orang lain? Tentu saja dapat. Hanya saja hasilnya akan berbeda-beda, karena bergantung kepada orangnya. Kalau bentuknya persis seperti yang dilakukan oleh Jokowi, boleh jadi ada yang berhasil dan ada yang kurang berhasil.

Kesederhanaan dan kesamarataan. Itu kuncinya menurut saya. Tidak semua orang dapat melakukan hal tersebut. Mari kita ambil contoh. Berapa di antara kita yang kalau melewati seseorang – siapa pun dia – menyebutkan kata “permisi” atau “punten” (kalau dalam bahasa Sunda). Tidak banyak! Saya sudah (dan selalu) perhatikan ini. Saya membiasakan diri untuk mengatakan “punten” kepada siapapun. Perhatikan juga tingkah laku kita ketika memanggil pelayan di restoran / rumah makan, misalnya.

Bagi banyak orang, hal-hal yang kecil itu mungkin luput dari perhatian karena bagi mereka itu bukan hal yang penting. Bagi saya, itu menunjukkan karakter. (Bagaimana mengajarkan hal ini ya?)

Oh ya, di luar negeri pun ada bentuk manajemen yang mirip dengan blusukan. Beberapa tahun yang lalu saya melihat video tentang pengelolan sebuah organisasi pemadam kebakaran di sebuah daerah di Amerika. Mereka mendapat penghargaan karena jumlah kebakaran yang menurun. Salah satu hal yang saya ingat dari video itu adalah bagaimana sang pimpinan selalu mengunjungi kantor-kantor branch untuk sekedar mencari tahu masalah di lapangan. Pada intinya, ya blusukan juga. Sayang sekali saya lupa tempatnya dan sudah tidak punya videonya. (Sudah mencoba mencari di YouTube tapi belum ketemu. Kalau nanti ketemu akan saya pasang link-nya di sini.)

Jadi … menurut saya blusukan itu merupakan hal yang baik. Sesuaikan dengan karakter orang yang melakukannya.


Perlukah Sekolah?

Topik yang sedang hangat saat ini adalah “apakah sekolah itu perlu?”. Ini dipicu dari beberapa contoh orang yang gagal sekolah (baca: dropout) tetapi sukses. Sebetulnya topik ini bukan topik baru. Sudah ada banyak bahasan. Berikut ini adalah opini saya.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “apakah sekolah itu perlu” adalah YA. Bersekolah itu perlu. Dengan catatan bahwa yang bersekolah memang serius ingin bersekolah, bukan untuk sekedar mendapatkan selembar kertas ijazah. Banyak (kebanyakan?) mahasiswa yang saya temui pergi ke sekolah hanya karena (1) ingin mendapatkan selembar kertas itu atau (2) dari pada nganggur ya kuliah saja. Untuk yang seperti ini, menurut saya mau sekolah atau tidak sekolah menjadi tidak relevan. Kondisi ini, yang ngasal sekolah, itu nyata karena sebagai dosen sering saya temui fakta ini.

Mengapa bersekolah sampai tinggi itu penting? Mari kita ambil contoh. Kalau saya minta Anda untuk membangun sebuah garasi atau ruang tamu, saya yakin sebagian besar dari kita bisa. Tanpa sekolahanpun rasanya bisa. (Meskipun secara keilmuan tetap salah, tetapi secara kasat mata dapat ditunjukkan bahwa garasi atau ruang tamu itu bisa jadi.) Nah, sekarang saya minta Anda untuk membuat gedung 73 tingkat. he he he. Untuk yang ini yang membuat harus sekolahan.

Apakah lantas orang yang tidak sekolahan tidak bisa sukses? Oh bisa saja. Bahkan ada banyak contoh orang yang tidak sekolahan tetapi sukses. Hanya saja … yang sering dilupakan oleh orang … mereka harus bekerja 3, 4, 5 atau belasan kali lebih keras daripada kebanyakan orang. Saya ulangi lagi, MEREKA HARUS BEKERJA LEBIH KERAS untuk mencapai kesuksesan itu. Kebanyakan orang hanya melihat dari sisi hasilnya saja tanpa mau melihat betapa besarnya pengorbanan mereka untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Kalau saya tanya kepada Anda, berapa jam sehari Anda tidur? Maukah Anda tidur kurang dari 5 jam setiap hari selama 5 tahun? Saya yakin sebagian besar akan mengatakan tidak. Berapa jam sehari Anda habiskan waktu untuk mendalami keahlian tertentu? Sudah berapa lama Anda menekuni hal itu? Orang yang tidak sekolahan, tetapi sudah menghabiskan setidaknya 10000 jam (atau 10 tahun) menekuni bidang tersebut, saya yakin dia lebih kompeten dibandingkan anak yang baru lulus kuliah. Maka jangan heran kalau ada orang yang dropout tetapi sukses dalam bidangnya. Ini wajar saja.

Tidak perlu lagi kita berdebat perlu sekolah atau tidak. Yang lebih penting lagi adalah mari kita berkarya dan memberi manfaat bagi umat manusia. 3.0


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.112 pengikut lainnya.