Tag Archives: opini

Menuju Bandung Smart(er) City

Hari Minggu lalu saya mengikuti pertemuan antara Dewan Smartcity Kota Bandung dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Bandung. Pertemuan ini pada intinya adalah melakukan kordinasi program-program yang sudah ada di SKPD, yang terkait dengan teknologi informasi.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, memberi arahan bahwa Bandung ini memiliki banyak layanan publik. Pemanfaatan teknologi informasi memungkinkan SKPD untuk memberikan layanan dengan lebih baik dan lebih cepat. Setiap SKPD diminta untuk mendata layanan-layanan apa saja yang mereka berikan dan berapa yang sudah dapat diakses secara online. Jika belum maka aplikasi-aplikasi apa saja yang akan dikembangan. Tahun ini, tahun 2015, adalah tahun untuk merealisasikan sebagian dari aplikasi tersebut.

Rapat kali ini membahas prioritas dari aplikasi yang akan dikembangkan di tahun 2015 oleh para SKPD tersebut. Tidak semua aplikasi harus dikembangkan saat ini juga, tetapi roadmapnya sudah harus jelas. Selain itu ada juga hal-hal yang mendasar bagi kebutuhan semua SKPD seperti misalnya infrastruktur internet.

Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah aplikasi-aplikasi ini seharusnya dapat digunakan oleh kota / kabupaten lainnya. Jika ada kota / kabupaten lain yang sudah mengembangkan aplikasi tertentu, maka kita dapat menggunakan aplikasi tersebut. Tidak perlu setiap kota / kabupaten mengembangkan sendiri-sendiri. Untuk itu mungkin perlu ada sebuah app store untuk aplikasi e-government kota / kabupaten. Hmmm.

Begitu laporan dari saya. Laporan selesai. Bubar jalan … grak!


Bagaimana Mempopulerkan Situs (How to Generate Traffic to Your Site)

Untuk ketigakalinya dalam minggu ini saya mendapat pertanyaan atau keluhan dari beberapa instansi tentang tidak populernya situs (portal, web site, blog) mereka. Ada yang aksesnya dalam satu bulan ini adalah … nol. hi hi hi. Mereka kemudian berencana untuk mendesain ulang situs mereka. Padahal menurut saya bukan di situ masalahnya.

Ada juga orang-orang yang ingin mempromosikan layanan mereka dengan menumpang (ndompleng) situs-situs yang rame, termasuk blog ini. hi hi hi. (Lihat saja ada yang komentarnya OOT.) Topik SEO (Search Engine Optimization) merupakan sebuah hal yang dicari-cari orang. Bahkan ada bisnisnya tersendiri. Jadi masalah mempopulerkan situs atau menghasilkan traffic pengunjung itu merupakan “masalah” bersama.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa masalah utama dari ketidakpopuleran sebuah situs itu adalah informasi (data) yang tersedia tidak berubah untuk waktu yang terlalu lama. Ada situs pemerintahan yang terakhir diperbaharui tiga tahun yang lalu. Tentu saja tidak ada yang ingin mengunjungi situs itu kembali. Sekali mengunjungi – tahun lalu, misalnya – sudah cukup.

Salah satu cara untuk mempopulerkan situs adalah memperbaharui informasinya (content) secara berkala. Sering! Setiap hari kalau bisa. Itulah sebabnya situs-situs berita mendapatkan banyak traffic karena setiap hari orang hadir untuk mendapatkan berita terbaru. Ini juga saya terapkan di blog ini. Saya berusaha untuk menulis *setiap hari* (meskipun akhir-akhir ini banyak terjadi kegagalan). Jadi rumus saya adalah:

Kuantitas lebih penting daripada kualitas

Oleh sebab maka daripada itu … (hi hi hi), sering perbaharui situs Anda. Setelah sering diperbaharui, mulai kita tingkatkan kualitasnya.

Rumus kedua saya adalah

Tulisan yang baru (bukan copy and paste) lebih menarik

Maksudnya begini. Tulisan Anda yang “ngaco” jauh lebih menarik daripada menuliskan ulang (copy and paste) karangan orang lain, meskipun karangan orang lain itu super bagus. Percayalah. Cobalah. Kenapa demikian? Karena orang dapat membaca tulisan tersebut dari sumber aslinya. Lah kalau tulisannya adalah tulisan asli Anda, maka tentu saja kembalinya ke Anda. Tentu saja tulisan Anda ini tidak serta merta langsung disukai orang tetapi ini membutuhkan waktu, tetapi prinsipnya adalah buatlah yang orisinal.

Begitulah tips saya untuk mempopulerkan situs. Semoga bermanfaat.


Terlalu Banyak Bicara

Melihat kondisi akhir-akhir ini di media sosial – terkait dengan berbagai kasus politik – saya jadi agak sedih, kesal, geram. Galau, kata anak-anak sekarang. Pasalnya banyak orang yang berkomentar, seperti yang paling tahu. Kemudian ada banyak organisasi yang mendukung ini dan itu dengan penyataan-pernyataan yang menurut saya normatif. Maksudnya begitu, “mari kita dukung pemberantasan korupsi”. Lah tentu saja. Pernyataan seperti itu tidak perlu harus keluar dari berbagai orang / organisasi.

Apakah mereka itu

  1. Mencari muka? Agar muncul (eksis)?
  2. Takut kalau dikatakan tidak ikutan (ketinggalan kereta)?
    [tuh mereka sudah membuat pernyataan. kita harus juga buat pernyataan. seperti begitu?]
  3. … [apa lagi ya]

Masalahnya, membuat pernyataan-pernyataan itu tidak memberikan solusi. Yang dibutuhkan oleh masyarakat itu adalah solusi. Jalan keluar. Bukan pernyataan. Anak kecil juga bisa buat pernyataan. hi hi hi.

Bikin pernyataan-pernyataan itu hanya memperkeruh suasana dan … bising. Berisik! Eh, jangan-jangan blog ini juga jadi berisik. hi hi hi.


Diam Adalah Emas

Riuh rendah di dunia media {konvensional, sosial}. Kesannya, semua ingin bicara. Ingin tampil. Ingin eksis. Ingin jadi jagoan. Padahal mereka belum tahu apa yang terjadi dan mengapa terjadi. Apalagi mengetahui langkah selanjutnya.

Diam …

Mungkin diam adalah hal yang terbaik untuk kita lakukan. Saya akan diam dan kembali ke pojokan tempat saya bersembunyi.

We can be so violent with our silence …


Ke(tidak)percayaan Kepada Berita Online

Dulunya citizen journalism digembar-gemborkan akan “membunuh” surat kabar konvensional. Akan banyak orang menulis di internet – melalui blog, web site, portal, dan kawan-kawannya – sehingga surat kabar akan mati. Ternyata ini tidak (belum?) terjadi.

Salah satu permasalahan yang muncul adalah ternyata banyak tulisan (berita?) di internet itu yang bohong. Jurnalisme? Wah, nampaknya jauh dari itu.

Lucunya, banyak orang yang terlalu percaya kepada “berita” di internet. Atau lebih tepatnya, mereka mencari “berita” yang sesuai dengan cara pandang mereka dan kemudian inilah yang dipercaya sebagai “kebenaran”. Sementara itu berita yang lain (yang boleh jadi benar atau tidak benar) dianggap sebagai bukan berita.

Jika ini dibiarkan, maka ketidakpercayaan kepada tulisan atau berita online akan terjadi. Untuk membangun kepercayaan itu tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Wah.


Tanpa Perayaan Tahun Baru

Saya sudah terbiasa untuk tidak melakukan perayaan tahun baru. Bagi saya ini sama dengan hari libur lainnya saja. Jadi biasanya tahun baru ya tertidur seperti biasa. Kalaupun pas terbangun itu juga seperti terbangun biasa (karena tiba-tiba muncul ide di malam hari itu). Bagi banyak orang, terbangun malam hari dan melewati tengah malam untuk memasuki hari berikutnya bukanlah hal yang biasa. Jadi ini perlu dirayakan. hi hi hi. Bagi saya, ini sih sama dengan hari-hari biasa.

Bukan berarti saya anti perayaan tahun baru lho. Saya tidak anti. Hanya saja saya tidak melakukan perayaan tahun baru. Itu saja. (Bahkan perayaan ulang tahunpun kami tidak melakukan yang spektakuler. Paling-paling menu makanan lebih saja. Ataupun makan di luar pada kesempatan berikutnya, yang mana ini juga biasa juga. hi hi hi.) Setiap hari adalah perayaan.

Eh sebetulnya ada sebelnya juga dengan perayaan tahun baru, yaitu ada yang pasang petasan keras-keras sehingga menggangu tidur. Ini juga pas ngeblog ada suara petasan keras-keras. Grrr. Saya heran saja ada orang mau membakar uang begitu saja. Bukankah membeli petasan adalah sama dengan membakar uang?

Oh ya, kalau melewati pergantian hari itu membuat banyak orang menjadi gembira, maka saya usulkan agar lebih diperbanyak … begadang. ha ha ha.

Selamat tahun baru. Ngantuk. Zzz…


Menjadi Pemimpin

Menjadi pemimpin itu ternyata tidak mudah. Salah satunya adalah harus membuat keputusan. Padahal seringkali sebuah keputusan tidak dapat menyenangkan semua pihak. Pasti saja ada yang tidak suka, atau bermasalah dengan keputusan tersebut. Agar tidak salah mengambil keputusan, perlu mendengarkan masukan dari berbagai pihak. Namun pada akhirnya, pemimpinlah yang mengambil keputusan. Sayang sekali banyak “pemimpin” yang berusaha menyenangkan semua pihak sehingga malah tidak mengambil keputusan. Ini bukan ciri pemimpin yang baik.

Kesalahan pengambilan keputusan merupakan tanggung jawab seorang pemimpin. Pekerjaan dapat didelegasikan kepada bawahan, tetapi tanggung jawab tetap pada sang pemimpin.

Menjadi pemimpin itu pasti akan dikritik karena tidak dapat menyenangkan semua pihak. Bahkan, kadang bukan sekedar kritik, cacian dan bahkan fitnah pun dilayangkan kepada sang pemimpin itu. Dibutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk menjadi pemimpin.

Dengan tugas dan tanggung jawab yang besar, mengapa masih banyak orang yang ingin jadi pemimpin ya?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.224 pengikut lainnya.