Bodoh vs. Jahat

Sedang ribut-ribut soal Ahok, ini adalah pandangan dari sudut yang non-mainstream.

Pertama, Ahok kurang informasi (not well informed) tentang Islam atau orang Islam. Ini kalimat “santun”nya. ha ha ha. Kalau kalimat yang langung to-the-point, Ahok bodoh (tentang Islam / orang Islam). Pasalnya, kalau dia tidak bodoh tentunya dia tidak akan mengeluarkan kata-kata seperti yang dipermasalahkan itu. Atau mungkin juga bodohnya hanya ada di mulutnya. hi hi hi. Bahkan ada pandangan lain, bahwa kalau Ahok lebih tahu tentang Islam mungkin dia sudah jadi muslim. ha ha ha. Tapi ini pandangan lain saja lho.

Kedua, di sisi lain, Ahok itu tidak jahat. Tidak evil. Tidak malicious. Bahkan kalau dilihat dari aksinya, Ahok cenderung baik terhadap Islam. Misalnya masjid di balai kota dijadikan. Orang-orang Islampun ada yang dikirimnya untuk umroh / naik haji. Banyak contoh-contoh lainnya.

Jadi saya simpulkan Ahok itu bodoh (tentang Islam), tetapi tidak jahat (terhadap Islam).

Lantas bagaimana kita menyikapi hal ini?

Penanganan terhadap orang bodoh tentunya berbeda dengan penanganan terhadap orang jahat. Adalah lucu kalau orang-orang bodoh ini kita laporkan ke Polisi, misalnya. Bisa kurang penjara kita karena saking banyaknya orang bodoh (di berbagai bidang) di Indonesia ini. Didemo juga sama saja. Bisa demo tiap hari. Lantas kapan kerjanya? hi hi hi. Bodoh itu kan biasa.

Penanganan orang bodoh adalah dengan diajari. Diberi pencerahan. Disekolahkan. Tujuannya adalah supaya dia tidak bodoh lagi. Maka dari itu untuk kasus Ahok, sebaiknya sih dia diundang ke berbagai pesantren / masjid / surau / … untuk diberi pencerahan tentang apa itu Islam, kenapa Islam mengajarkan begini dan begitu sehingga dia lebih terdidik lagi. Adem. Atau kalau untuk Ahok ini mungkin hanya mulutnya saja yang perlu diberi sekolahan. Selebihnya sih dia sudah ok. ha ha ha.

Eh, pendekatan seperti ini banyak juga contohnya kok. Bahkan di kasus-kasus ini orangnya awalnya lebih galak lagi.

Pembenaran

Bagaimana memastikan bahwa ide bisnis kita, misal dalam kerangka start-up, sudah pada jalan yang benar? Istilah kerennya adalah validasi. Ada banyak cara yang ditempuh orang. Ada yang ikutan kompetisi, ada yang ikut bimbingan atau mentoring, ada yang ikut asosiasi, dan seterusnya.

Pembenaran juga tidak hanya terjadi di dunia start-up saja tetapi dalam aspek kehidupan kita lainnya. Kita menuliskan sesuatu di media sosial dan berharap banyak disukai (like) oleh banyak orang. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mencari pembenaran.

Cara-cara di atas, meskipun sah-sah saja, bukan satu-satunya (eh banyak ya?) yang dapat mengatakan bahwa apa yang kita lakukan sudah benar. Seringkali saya melakukan inisiatif-inisiatif tanpa menunggu pembenaran dari orang lain. Masalahnya adalah banyak inisiatif yang saya lakukan (di dunia internet, bisnis, pendidikan, kepemimpinan, dan lain-lain) banyak yang belum mengerti. Jadi bagaimana mungkin saya menunggu pembenaran dari orang-orang yang belum mengerti? Cara yang saya lakukan adalah jalan terus saja. Kalau kata iklan Nike, “just do it.”

Jadi, saya hanya senyum-senyum saja ketika orang membuat lomba, perkumpulan, atau apapun tanpa mengajak saya. Padahal saya bergerak di bidang itu. ha ha ha. Biarlah. Saya toh tidak mencari pembenaran dari mereka.

Terburu-buru

Melihat media sosial saat ini, ada kesan bahwa banyak orang terlalu terburu-buru dalam membaca. Mungkin ini disebabkan karena emosi – rasa kebencian yang mendalam – yang menguburkan kesabaran. Padahal untuk memahami pesan yang tertulis, kadang kita harus membacanya berulang-ulang.

Ini baru untuk tulisan-tulisan yang relatif “mudah” dicerna. Bayangkan kalau kita harus membaca makalah yang lebih sulit untuk dimengerti. Masalah emosi juga mungkin ada, tetapi berupa rasa kesal karena tidak mengerti apa yang dibaca. (ha ha ha.) Inilah sebabnya banyak peneliti – terutama yang mengambil S3 – seringkali mengalami tekanan jiwa. Sudah susah memahami tulisan yang dibaca, orang-orang pun tidak bisa memahami. Apa susahnya sih membaca (makalah)?

Ada banyak tulisan yang membahas topik kontroversial; mulai dari masalah mistik, agama, extra terestrial (makhluk luar angkasa), dan hal-hal lain yang masih belum dimengerti secara teknis (scientific) oleh manusia. Untuk hal-hal seperti ini, belum apa-apa kita sering menghakimi bahwa tulisan atau pendapat tersebut adalah sampah.

Rasa keingintahuan (curious) seharusnya merupakan prinsip utama yang harus dipegang teguh. Disertai dengan kesabaran – tidak terburu-buru – ini adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dalam rangka mencari kebenaran.

(belajar) Santun

Budaya sebuah bangsa itu berbeda. Ada kaum yang kalau bicara agak teriak-teriak, bahkan tangannya juga main ke depan muka kita. Ada yang kalau bicara langsung to-the-point. Ada yang harus membutuhkan “intro” yang panjang untuk menyampaikan maksudnya. Ada yang tidak boleh langsung. Harus muter-muter dulu. Cara menyampaikan yang salah, bisa ribut. ha ha ha. (Bayangkan itu yang biasa teriak-teriak diajak diskusi dengan orang yang biasa lemah lembut. Langsung dikira marah-marah. hi hi hi.)

Perlu diingatkan bahwa ketika kita ingin menyampaikan pesan, maka kita perlu melihat budaya penerima pesan tersebut. Salah cara menyampaikannya, maka pesanpun tidak sampai.

Budaya Indonesia itu penuh dengan kesantunan, berbeda dengan budaya “Barat” yang sering langsung kepada intinya. Sebagai contoh, ketika kita menawakan makan/minum kepada orang Indonesia biasanya tidak dijawab langsung dengan “ya”. Biasanya jawabannya adalah “tidak” dulu, meskipun yang bersangkutan lapar atau haus. Setelah beberapa kali ditanya, barulah dijawab “ya”. Sementara itu dalam budaya Barat, begitu sekali dijawab tidak, ya sudah. Tidak ditawari lagi.

Saya termasuk yang “tercemar” oleh budaya Barat. Ketika kembali ke Indonesia, saya membawa budaya Barat ini dalam berkomunikasi. Sebagai contoh, kalau ada seseorang (atasan, pejabat) yang salah, saya akan katakan terus terang “bapak salah!”. Hasilnya, banyak orang yang “terluka”. Padahal maksud saya baik, tetapi akibatnya malah jadi negatif. Sudah pesan tidak sampai, malah suasana tidak nyaman dan hubungan jadi retak. Untuk kasus yang saya jadikan contoh tadi, kalau di Indonesia, yang lebih tepat adalah “bapak kurang tepat” (bukan salah, ha ha ha). Atau, “bapak kurang optimal”. Halah.

Di sebagian komunitas, berbahasa kasar juga wajar. Misal di beberapa daerah dan komunitas tertentu di Amerika, penggunaan kata “f***” (the word) dalam berbicara mungkin dianggap biasa. Tapi coba pakai kata ini di lingkungan lain. Orang-orang bakalan melotot dan menganggap kita tidak sopan. Bukan orang sekolahan.

Di kalangan anak muda di Indonesia juga ada yang terbiasa menggunakan kata “anjing” (dan variasinya seperti “anjrit”, “anjis”, dan seterusnya) dalam berkomunikasi. Bagi mereka ini adalah hal yang lumrah. Coba kalau mereka jadi ketua RT dan memberi sambutan dengan kata-kata ini. Ha ha ha. Bakalan dilempari oleh warga. Lagi-lagi perlu diperhatikan budaya setempat.

Belajar untuk lebih santun merupakan salah satu alasan saya membuat blog ini. Saya harus bisa lebih santun dalam menyampaikan pesan. Begitu.

Sesuai Pengalaman Hidup

Cara berpikir dan bertindak seseorang itu sesuai dengan standar yang dibentuk melalui perjalanan hidupnya. Sebagai contoh, seorang yang selalu berpikiran negatif itu boleh jadi dalam perjalanan hidupnya selalu dinilai negatif sehingga dalam kacamatanya semua pasti negatif. Sementara seseorang yang senang berbagi (memberi) itu mungkin dalam perjalanan hidupnya mengalami banyak kejadian yang menyenangkan ketika berbagi sehingga dalam standarnya, semua orang itu ya berbagi.

Sangat disayangkan adalah orang yang belum pernah melihat dan mengalami kebaikan, kesabaran, dan hal-hal yang positif lainnya. Dia belum pernah merasakan kenikmatan aksi positif. Mungkin perlu piknik?

Memang pengalaman hidup ini membentuk karakter seseorang. Nah, kita masih dapat membuat pengalaman-pengalaman hidup selanjutnya. Masih mau cari yang negatif? Atau mau mencoba yang positif? Pilihan ada pada kita. Makanya kita cari lingkungan yang membuat kita jadi positif. Eh, itu dengan asumsi kita ingin yang positif lho. (Agak aneh saja kalau ada orang yang ingin negatif melulu. heu heu heu.)

Akar Masalah Kemacetan (di Bandung)

Banyak orang Bandung yang kesal karena kemacetan di kota Bandung sudah semakin parah. Bahkan Bandung menduduki tempat yang dianggap parah dalam hal lalu-lintas.

Banyak orang yang menyalahkan kemacetan ini kepada hal-hal teknis, tetapi saya ingin mengingatkan bahwa ada aspek lain yang lebih penting. Aspek manusia.

Masalah kemacetan di kota Bandung (dan mungkin di kota-kota lainnya juga) adalah ketidaksabaran, egois, dan ketidakpatuhan terhadap peraturan. Mari kita bahas.

Banyak orang yang tidak sabar ketika mengendarai kendaraan. Mereka menyangka bahwa orang lain tidak ingin cepat sampai. Apakah hanya mereka saja yang ingin cepat sampai? Sehingga mereka buru-buru. Tidak sabar. Ada celah sedikit saja disosor. Sabar sedikit kek kenapa?

Egois. Mau menang sendiri. Tidak mau berbagi. Kadang saya bingung. Ketika saya memberi jalan ke orang lain, maka orang yang di belakang saya marah-marah. Padahal dengan memberi jalan ini membuat jalan mengalir. Tidak macet deadlock. Sering juga yang diberi jalan bingung karena biasanya mereka tidak pernah diberi jalan. Sayangnya kemurahan hati ini sering di-abuse oleh orang lain dengan tidak mau bergantian.

Ketidakpatuhan terhadap peraturan menjadi masalah terbesar. Begitu jalur terhenti, maka biasanya motor-motor (dan kadang mobil gila) masuk ke jalur lawan arah sehingga kendaraan dari arah yang berlawanan tidak bisa berjalan. Macetlah jadinya. Orang-orang ini tidak merasa bersalah telah melanggar peraturan. Saya pernah menegur orang yang seperti ini, eh malah galakan dia. ha ha ha. Kacau…

Solusi terhadap masalah ini, ya tentu lawan dari sifat-sifat yang sudah disebutkan di atas. Ayo bersabar, berbagi, patuh pada peraturan. Tidak mudah memang. Tapi jika kita ingin kemacetan berkurang, maka hal-hal ini harus diajarkan dan dilaksanakan. Sifat-sifat ini tidak dapat muncul demikian saja. Mungkin awalnya harus didisiplinkan! Kalau melanggar disuruh push-up dulu kali ya? he he he

Konsistensi (Futsal)

Saya penggemar olah raga futsal. Entah kapan mulainya saya menyukai olah raga ini (yang pasti lebih dari 7 atau 8 tahun yang lalu, mungkin 10 tahun yang lalu?). Pada mulainya sih saya hanya bisa main 5 atau 10 menit. Setelah itu berkunang-kunang. hi hi hi. Sekarang saya bisa bermain 2 jam full.

Sebetulnya yang membuat saya bisa bermain lama ada dua hal. Pertama, rutin melakukannya. Seminggu saya bermain futsal dua kali dan itu saya lakukan secara konsisten tahunan. Yang kedua, saya bermain futsal bukan untuk mencari prestasi tetapi untuk berolah raga. Sebagai orang yang sudah berusia, saya membutuhkan olah raga. Kebetulan cocoknya futsal. Karena tujuannya tidak untuk mencari prestasi, maka saya tidak menjadi sok jago. ha ha ha. Main menjadi lepas dan menyenangkan.

Sering saya melihat orang yang tidak konsisten. Dan ke futsal hanya sekali-sekali. Kemudian ingin menonjol pula. Ha ha ha. Yang ini menggelikan bagi saya.  Meskipun mungkin mereka lebih mahir dalam bermain, tetapi saya lebih menghargai orang yang konsisten hadir latihan secara rutin. Apa lagi yang berharap punya stamina tinggi tetapi datang sekehendak sendiri. Ha ha ha.

Team work itu sangat penting. Ini dapat terlihat di luar lapangan juga. Ini membentuk karakter seseorang. Tidak percaya?