Harus Ada Manfaat

Surat kabar Pikiran Rakyat hari Minggu (18 Februari 2018) memuat wawancara dengan saya. Ini dia fotonya. (Halaman 16)

photo6073164107248413151

Topik wawancaranya bervariasi, tetapi utamanya dimulai dari seputar pemanfaatan media sosial. Contoh-contoh pertanyaannya antara lain adalah sejak kapan saya mengenal media sosial, media sosial apa saja yang saya gunakan, dan seterusnya. Tentang blog ini juga dibahas.

Satu point utama saya adalah apapun yang saya kerjakan harus memiliki manfaat. Blog ini juga harus memiliki manfaat. Kalau dia hanya menceritakan atau mencatatkan (log) kegiatan sehari-hari saya tanpa manfaat sih itu “kepo aja”. he he he. Untuk apa juga orang tahu ini itu yang terkait dengan saat. Tidak manfaat. Setiap topik yang dibahas dalam blog ini harus memiliki manfaat bagi pembacanya.

Mengutarakan manfaat juga tidak harus kaku dan serius. Nanti malah tidak sampai pesannya. Bagaimana caranya? Itu dia yang masih terus saya pelajari.

Jadi apa manfaat tulisan ini? Bahwa semua harus ada manfaatnya. Lah jadi mbulet begini. Rekursif.  hi hi hi.

Iklan

Presentasi Tentang Blogging

Ini adalah blog tentang blogging. Rekursif. Ha ha ha. Seriously, pagi ini saya akan presentasi tentang bagaimana memanfaatkan blog untuk mendiseminasikan ilmu pengetahuan dan teknologi.

blogging-2018

Sebetulnya sekarang masih berpikir apa-apa yang ingin saya sampaikan. Masih campur aduk dan belum tertata dengan rapih. Ada hal terkait dengan menulis, ngeblog, dan tentang topik yang akan ditulis.

Kemampuan menulis ternyata merupakan barang yang langka. Padahal kemampuan ini tidak dapat muncul dengan tiba-tiba. Dibutuhkan latihan yang rutin. Dahulu untuk melatih dan mendapatkan tanggapan (feedback) dari pembaca, kita harus mencari media. Surat kabar merupakan media yang memiliki pembaca sangat banyak, tetapi sulit untuk menembus surat kabar. Untuk hal yang lebih teknis, jurnal merupakan target media, tetapi ini lebih sulit lagi. Akibatnya kita kekurangan penulis yang handal.

Saat ini sudah ada blog seperti ini. Blog ini mudah digunakan dan murah (dan bahkan gratisan seperti yang ini). Pembacanya juga tidak terbatas. Siapapun yang memiliki akses internet merupakan potensi pembaca. Tinggal bagaimana kita membuat tulisan yang bagus sehingga banyak pembacanya.

Jadi apa lagi alasan untuk tidak berlatih menulis?

Memulai Perkuliahan Lagi

Hari ini sebetulnya sudah merupakan minggu kedua dari perkuliahan di ITB. Semester ini saya mengajar tiga (3) mata kuliah. Semuanya di bidang information security:

  • II3230 – Keamanan Informasi (Information Security)
  • EL5215 – Keamanan Perangkat Lunak (Software Security)
  • EL6115 – Secure Operation and Incident Handling

Ini potret yang saya ambil di kelas Keamanan Informasi minggu lalu.

ITB information security class 2018

Kelasnya dimulai pagi sekali, pukul 7 pagi. Ayo semangat! Semoga tetap bersemangat sampai akhir semester.

Sederhanakan!

Zen: the art of simplicity

Entah kenapa, saya selalu mencoba untuk membuat yang kompleks menjadi lebih sederhana. Menjadi lebih mudah dimengerti. Ternyata menyederhanakan masalah itu tidak sederhana. (Rekursif?)

Problem utama dalam menyederhanakan masalah adalah membuatnya tidak menjadi “cemen” (watered down). Masalah tetap menjadi masalah, tetapi lebih mudah dimengerti. Masih masalah. Ya ampun. Kenapa jadi susah begini untuk mencoba menyampaikan penyederhanaan. Ironis ya? Mari kita ambil contoh.

Rumus yang dibuat Einstein ini; E = mc^2  (lebih baik lihat gambar di bawah ini).

emc2

Rumusnya keren kan? Meskipun kita tidak mengerti, tidak apa-apa. Rumus itu demikian sederhananya sehingga kita mudah menghafalnya (dan mudah mengertinya?), meskipun saya yakin di dalamnya sangat kompleks. Itu yang saya sebut menyederhanakan dengan sempurna. Bandingkan dengan persamaan Schrödinger di bawah ini.

schro

Eh, mungkin juga persamaan Schrödinger itu sederhana ya? Hanya saja saya yang tidak mengerti. Sebetulnya masih ada contoh-contoh persamaan lain yang juga rumit, tapi nanti kalau saya tampilkan malah poin utama saya tidak sampai. (Maxwell anybody?)

Kembali ke persoalan menyederhanakan masalah. Dua contoh di atas mudah-mudahan dapat menunjukkan bahwa sederhana itu bagus. Elegan. Lebih mudah dimengerti, meskipun proses untuk membuatnya tidak mudah.

Even if something looks effortlessly simple, it likely took a great deal of effort to reach such a state.

Sisi lain dari menyederhanakan masalah adalah kita dituduh tidak mengerti. Hi hi hi. Sering sekali saya mendapat tuduhan seperti itu. Padahal untuk membuatnya menjadi lebih sederhana itu kita harus mengerti secara mendalam (sehingga dapat mengerti bagian-bagian mana yang dapat dihapus tanpa mengurangi maknanya).

pak, kalau Sederhana … itu nama restoran

hayah …

Berkomentar

Sejalan dengan makin diterimanya sistem elektronik (blog, media sosial, dan sejenisnya) dalam berdialog, berkomentar atau mengomentari komentar-komentar lainnya (apa sih ini … hi hi hi) sudah menjadi kebiasaan. Nah, sebelum menjadi kebiasaan yang buruk, mari kita belajar untuk membuatnya menjadi yang baik.

Satu hal yang sering mengganggu bagi saya adalah adanya orang yang asal berkomentar tanpa memperhatikan yang dia komentari. (Mumet?) Contohnya begini, ada sebuah dikusi tentang teori relativitas dan kemudian ada komentar dari Einstein. (Iya, Einstein sudah tiada. Ini kan hanya contoh. Contoooohhhh ya.) Setelah itu ada orang yang komentar ngasal. Yang lebih “mengerikan” (lucu?) adalah sang komentator ini kemudian menyarankan Einstein untuk belajar Fisika dulu. “Makanya, belajar Fisika dulu bro“. Pakai “bro” pula. ha ha ha. Dia tidak tahu dan TIDAK MAU MENCARI TAHU bahwa lawan bicaranya adalah Einstein.

Di zaman internet saat ini, untuk mencari tahu tentang seseorang itu sangat mudah sekali. Ada Google (dan kawan-kawannya). Klik sedikit maka kita tahu bahwa Einstein itu paham soal Fisika. Masalahnya adalah mau atau tidak maunya.

make-a-comment-like-a-boss-done

Oh ya, saya pun beberapa kali pernah di-masbro-kan seperti contoh Einstein di atas (untuk bidang yang berbeda). Ha ha ha. (Bidang apa? Ya tinggal dicari sebagaimana dicontohkan tadi.)

Inti yang ingin saya sampaikan adalah ketika kita akan memberikan komentar maka ketahui dahulu lawan bicara kita. Itu saja.

Kemampuan Memahami Manusia

Sekarang sedang ramainya dibicarakan tentang Artificial Intelligence (AI) yang dimiliki oleh mesin atau komputer, tetapi tulisan ini malah akan membahas ke-tidak-mampuan manusia dalam memahami manusia lainnya. Manusia adalah makhluk yang berkomunikasi dengan manusia lainnya. (Eh, mungkin dengan non-manusia juga.) Namun kemampuan berkomunikasi ini tidak diajarkan. Seolah-oleh dia akan dimiliki secara otomatis. Berkomunikasi harus memahami lawan komunikasinya.

Masalah yang ada di lingkungan kita hari ini banyak yang berakar dari ketidakmampuan manusia untuk memahami manusia lainnya. Entah tidak mampu atau tidak peduli alias egois. Saya anggap tidak mampu, karena saya masih berasumsi baik. Contoh yang paling ekstrim adalah komunikasi di dunia siber, seperti di jejaring sosial. Banyak salah pengertian. Di jalan raya juga banyak kecelakaan yang terjadi karena pengemudi saling salah pengertian. (Itulah sebabnya anak-anak dilarang mengendarai motor karena kemampuan memahami pengendara yang lain dan memprediksi apa yang akan dilakukan oleh pengendara lain tersebut sangat minim atau belum ada.)

Di dunia nyata, ketika kita berbicara dengan seseorang maka kita dapat melihat gesture dari lawan bicara kita. Kita dapat melihat apakah dia bingung, marah, senang, sedih, bisan, dan seterusnya. Ketika kita berkata sesuatu dan lawan bicara kita melotot maka kita dapat langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dari kata-kata kita. Di dunia siber, ini sulit kita deteksi. Kita juga bisa melucu dan melihat lawan bicara kita tertawa atau terdiam (karena lawakan kita tidak lucu atau dia tidak dapat menangkap kelucuannya). Seketika itu juga. Nah, di dunia siber susah. Ada emoticons yang membantu kita untuk mengungkapkan perasaan kita, tetapi itu tidak cukup.

Akibatnya sering terjadi tulisan yang tujuannya sekedar gurauan, lawakan, parodi, dianggap sebagai sesuatu yang serius. Kacaulah hasilnya.

Bagaimana mengajarkan kemampuan untuk memahami manusia? Apakah perlu ada pendidikan formal? Atau informal? Nampaknya kita tidak pedulu tentang hal ini dan berharap bahwa manusia akan belajar dengan meniru manusia lainnya. Sialnya kalau manusia yang dia tiru adalah manusia yang tidak punya kemampuan (memahami manusia) itu. Wadaw …

Punten … Permisi …

Bangsa Indonesia dikenal sebagai sebagai bangsa yang penuh dengan sopan santun. Eh, ini masih ya? Atau ini jaman dahulu? Mungkin ini bukan hanya Indonesia saja ya? Katanya sih ini salah satu karakteristik orang “Timur”.

Tinggal di luar negeri dalam waktu yang cukup lama, saya melihat bahwa budaya sopan santun (basa basi?) ternyata tidak dimonopoli oleh bangsa Timur saja, tetapi juga oleh orang Barat juga. Di Kanada, orang sangat sopan santun. Kalau pagi-pagi ketemu orang – yang tidak kita kenalpun – pasti dia akan bilang “Good morning“. Tapi ini mungkin juga Kanada yang memang dikenal banyak sopan santunnya. Bahkan salah satu guyonannya, kalau di Kanada ada maling masuk rumah dan ketahuan oleh yang punya rumah maka sang maling akan ditegur, “I am sorry, maybe you are in the wrong house?” ha ha ha.

Kembali ke topik utama, soal sopan santun. Saya melihat anak muda sekarang mulai kehilangan karakter itu. Sebagai contoh, saya melihat banyak anak muda yang kalau jalan dia tidak peduli dengan sekitarnya. Kalau ada pintu yang kita bukakan dan kita pegang (budaya Barat nih), dia tidak mengucapkan terima kasih. Lewat aja. Excuse me? Kalau ada orang-orang pun dia lewat aja.

Saya membiasakan diri untuk sopan. Ketika melewati orang – tua atau muda – saya selalu berusaha untuk mengatakan “Punten” (ini bahasa Sunda yang artinya “Permisi”). Gesture seperti ini harus diajarkan kepada generasi muda (yang tua juga sih). Itulah sebabnya saya merasa perlu untuk menuliskan topik ini.

Sudahkah Anda mengatakan “Punten” (Permisi) hari ini?