Tag Archives: Pendidikan

Peneliti, Industriawan, Pedagang, Investor, dan Pemerintah

Salah satu topik diskusi di kegiatan mentoring entrepreneurship mingguan saya kemarin adalah soal keterkaitan antara peneliti, industriawan, pedagang, investor, dan pemerintah. Sebetulnya awalnya dimulai dari pertanyaan mengapa banyak penelitian yang dilakukan di perguruan tinggi tidak menghasilkan apa-apa? Mengapa tidak ada (tidak banyak) hasil penelitian yang mendukung industri? Dan seterusnya.

Saya memiliki pandangan yang agak berbeda.

Tugas peneliti adalah meneliti. Persis seperti namanya. Dia tidak berkewajiban memasarkan hasil penelitian. Bahkan untuk membuat produk jadi pun masih bisa kita perdebatkan. Hasil dari penelitian dapat berbentuk karya ilmiah (makalah) atau paten. Hasil ilmiah ini kemudian dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk industriawan yang ingin membuat produk (atau layanan) berdasarkan hasil penelitian tersebut. Bahwa ada banyak hasil penelitian yang tidak terpublikasikan dengan baik, itu memang masalah lain dan memang ini menjadi tanggungjawab dari penelitian. Ini kita bahas lain kali ya.

Peneliti berada di menara gading (ivory tower). Mengawang-awang. Memang demikian. Kalau dilihat dari kasta (apakah masih ada?), mungkin peneliti berada di kasta Brahmana. (Benar?) Jadi urusan komersialiasi bukan menjadi perhatian mereka. Jangan disalahkan. Memang fungsinya demikian.

(Mengenai apakah topik penelitian harus terapan atau hanya teoretis, itu bahasan terpisah. Saya berpendapat, teoritispun harus tetap diakomodasi. Kemudian soal penelitian tidak harus selalu berhasil, bahkan kecenderungannya adalah gagal, juga kita bahas terpisah. Banyak sekali bahasannya ya?)

Peneliti biasanya berada di perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Banyak kasus (kalau banyak semestinya bukan kasus lagi ya?) produk atau layanan dikembangkan dari kampus (misal oleh mahasiswa) dan kampus tidak mendapatkan apa-apa. Menurut saya ini wajar saja. Mosok perguruan tinggi harus iri kepada mahasiswanya? Ini sama dengan orang tua yang iri kepada kesuksesan anaknya kemudian menuntut biaya kos-kosan dan makan kepada anaknya. ha ha ha. Sekarang banyak perguruan tinggi yang mencoba cari keuntungan dengan mencoba melakukan komersialisasi hasil penelitian. Menurut saya ini kurang pas.

Tugas industriawan yang mengembangkan produk untuk menjadi sebuah industri. Memang industriawan harus rajin-rajin melihat atau menyambangi perguruan tinggi untuk mendapatkan hasil penelitian yang menjadi basis dari produknya. Jangan berharap pihak perguruan tinggi yang akan menghubungi industriawan. Industriawan juga dapat melakukan penelitian sendiri. Jangan salah, perusahaan besar dapat menjadi penghasil penelitian juga. Contohnya adalah IBM. Lihat saja jumlah paten yang dihasilkan oleh IBM dengan jumlah peneliti yang tidak sedikit! Perguruan tinggi kalah oleh IBM dalam hal jumlah penelitiaannya. Sayangnya di Indonesia tidak banyak yang menjadi industriawan. Kebanyakan orang di Indonesia yang mengaku industriawan adalah pedagang.

Pedagang, sesuai dengan namanya, ya berdagang. Dia tidak harus terkait dengan hasil penelitian di Indonesia (lokal). Jika dapat membeli sebuah produk dengan harga yang murah di sebuah tempat, kemudian menjualnya di tempat lain (termasuk di Indonesia) dengan harga yang lebih mahal tentu akan dia lakukan. Tidak ada yang salah dari ini. Pedagang juga adalah pekerjaan yang terhormat. Hanya saja, kalau memang menjadi pedagang, ya jangan mengaku sebagai industriawan.

Investor adalah orang yang memberikan pendanaan dengan harapan terjadi imbal balik yang berlipat di kemudian hari. Investor berbeda dengan bank dalam hal risiko yang diambil. Investor lebih nekad. Gagal 9 dari 10 investasi merupakan hal yang biasa. Di Indonesia, institutionalized investors nampaknya masih jarang. (Adakah?)

Pemerintah tugasnya adalah mempermudah ini semua dengan membuat aturan dan membuat infrastruktur yang tidak menarik secara hitungan bisnis bagi swasta. Pemerintah tidak mendapatkan hasil secara langsung. Adalah salah kalau pemerintah  mengeluarkan uang 10 rupiah dan berharap dapat kembalian dari uang itu. Tidak. Uang yang dikeluarkannya akan hilang (menjadi program). Hasilnya adalah terjadinya iklim penelitian, industri, dan perdagangan yang lebih kondusif. Dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Nah, ini yang kemudian disalahkan menjadi korupsi. Kan menguntungkan pihak lain? Nah.

Masing-masing pihak menjalankan fungsinya masing-masing. Saat ini peneliti dituntut untuk mampu mengkomersialkan hasil penelitiannya. Salah besar! Ini sama dengan menuntut investor untuk menghasilkan karya ilmiah (yang notabene pekerjaan peneliti). Tidak pas.

Begitu. Semoga menjadi jelas. (Atau menjadi semakin ruwet?) Yang pasti, akan muncul banyak pertanyaan lain. Ini wajar.

(Yang belum disebut budayawan, olahragawan, pemain band, … eh apa lagi ya? Jreng!)


Long Live Electronics!

[Mohon maaf, judulnya dalam bahasa Inggris karena itulah yang terbayang di kepala saya.]

Beberapa tahun yang lalau ada diskusi “galau” di antara kami, lulusan dan dosen dari jurusan Teknik Elektro. Pasalnya, mahasiswa lebih tertarik kepada ngoprek software daripada hardware. Banyak tugas akhir dan thesis dari mahasiswa Elektro yang akhirnya lebih berat aspek softwarenya. Ketika ditanyakan kepada sang mahasiswa, alasannya sederhana yaitu “software lebih mudah“. Hadoh.

Sesungguhnya ngoprek software itu terlihat mudah kalau dia hanya mainan (dolanan). Kalau dia dikerjakan secara sungguhan, software itu tidak mudah. Ada ilmunya. Kemarin ada orang yang mengatakan, buat apa kuliah untuk belajar pemrograman. Bisa belajar sendiri. Boleh jadi dia benar untuk sebagian kecil orang, tetapi umumnya orang masih harus sekolah untuk belajar pemrograman yang baik dan benar. (Ini bisa menjadi bahan diskusi yang lebih dalam.)

Ngoprek software itu lebih murah daripada ngoprek hardware. Nah, kalau yang ini mungkin benar. Kalau membuat rangkaian elektronik, kita harus beli komponen. Kalau komponennya rusak – dan ini sering terjadi dalam eksperimen – maka kita harus beli komponen lagi. Biarpun harganya murah, tetapi ini keluar uang secara nyata.

Anyway. Intinya adalah ada anggapan bahwa software itu lebih mudah sehingga banyak yang tidak tertarik kepada hardware.

Kami, khususnya yang berlatar belakang Elektronika, agak khawatir. Jangan-jangan masa depan Elektronika dan secara umum Electrical Engineering akan mati. Dia menjadi tidak relevan lagi. Hadoh.

Namun ternyata masa depan Elektronika cerah (kembali) dengan munculnya Internet of Things (IoT). Ada banyak aplikasi baru yang membutuhkan perangkat keras. Elektronika! Yaaayyy. Ini disebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah kompleksitas dari komponen elektronika sudah semakin tinggi sehingga kemampuan komputasi komponen dalam ukuran kecil sudah menyamai komputasi komputer desktop (jaman dahulu). Mulanya muncul Arduino. Kemudian ada Raspberry Pi. Sekarang muncul yang lebih canggih (dan lebih kecil lagi), seperti Intel Curie.

Peningkatan kompleksitas dalam ukuran kecil ini juga dibarengi dengan harga yang murah. Ini yang membuat ngoprek perangkat keras (kembali) masuk ke dalam jangkauan kantong mahasiswa (dan laboratorium). Sementara itu banyak ide aplikasi yang dapat dikembangkan dengan menambahkan hardware ini; wearable computing, smart sensors, health & personal applications, dan masih banyak lagi. Maka ngoprek perangkat keras menjadi relevan lagi. Ilmu elektronika menjadi relevan kembali. Alhamdulillah.

Long Live Electronics!


Kok Dosen Tahu?

Kadang ada mahasiswa yang mau menipu (ngibulin) dosen dengan tugas-tugasnya. (Hal yang serupa dengan siswa dan guru.) Tentu saja modus seperti ini seringkali ketahuan. Sang mahasiswa bertanya-tanya, kok dosennya tahu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya tampilkan foto (yang lucu) ini.

anak nyalahin dog

Dialog yang terjadi mungkin seperti ini.

Orang tua: Hadoh biyuuung. Siapa yang corat-coret?
Anak: Emm … bukan aku. Dia (sambil nunjuk doggy)
Doggy sambil mendhelik: (aje gile busyet, teganya mas bro)

Tentu saja bagi orang tua akan gampang mengetahui kejadiannya. Sementara bagi sang anak, heran banget. Bagaimana orang tua saya kok tahu? Kira-kira hal yang mirip seperti ini terjadi antara mahasiswa dengan dosen.

Nah. Lain kali jangan coba-coba nipu dosen atau guru ya.


Mencari Talenta

Sebuah pesan masuk ke ponsel saya:

Pak Budi, apakah punya orang yang dapat mendesain rangkaian dengan menggunakan FPGA untuk sebuah proyek. Selain itu butuh orang juga untuk membuat firmware-nya.

Selang berapa lama, ada pesan lain lagi:

Pak, saya butuh orang yang bisa python untuk mengakses data dari database (SQL) kemudian mem-push ke sebuah sistem lainnya.

Pesan-pesan semacam ini sering hadir di ponsel saya. Mungkin karena saya mengajar di ITB sehingga dipikirnya dekat dengan sumber daya manusia yang handal. Kenyataannya adalah susah untuk mendapatkan SDM, talenta, yang dibutuhkan tersebut.

Lulusan S1 dari perguruan tinggi sekarang entah pada lari kemana. Dugaan saya, sebagian melanjutkan pendidikan ke S2. Sebagian lagi bercita-cita menjadi manager. Maka tawaran pekerjaan seperti yang ditampilkan di atas sulit untuk dipenuhi. Bukan hanya ITB saja yang tidak dapat memenuhi itu, perguruan tinggi lainnya, bahkan politeknik dan SMK-pun sulit menghasilkan talenta yang dimaksudkan.

Pendidikan yang ada memang tidak mampu menghasilkan talenta yang siap digunakan. Waktu yang singat dan pelajaran yang mungkin dipaksakan (dijejalkan) kepada siswa tersebut membuat lulusannya hanya memahami kulit-kulit pelajaran saja. (Maha)siswa pun jarang yang mau belajar sendiri di luar apa yang sudah diajarkan di kelas. Mereka sudah puas jika lulus dari mata kuliah/pelajaran tersebut.

Maka, pencarian talenta masih berlanjut.

Oh ya, tawaran yang pertama, yang FPGA itu, masih terbuka.


Pembatasan Waktu Kuliah di Perguruan Tinggi

Apakah perlu ada batas waktu di perguruan tinggi? Misalnya, setelah melewati waktu tertentu (x) maka yang bersangkutan di-DO (drop out). Alasannya kenapa ya?

Jaman dahuluuuu sekali tidak ada aturan ini. Jaman saya kuliah dulu ada yang kulihanya 10 tahun. Maka ada istilah “mahasiswa abadi”. hi hi hi. Waktu itu ini bisa terjadi karena tempat di perguruan tinggi masih banyak tersedia. Jadi tidak perlu ada pembatasan waktu kuliah. Toh mahasiswanya juga tidak menjadi membebani sumber daya (resources) perguruan tinggi. Dia hanya menjadi angka statistik saja (yang mana ini mungkin tidak disukai perguruan tinggi atau pemerintah).

Majukan waktu. Fast forward. Semakin banyak siswa yang ingin masuk ke perguruan tinggi sementara tempat tetap terbatas. Mulailah menjadi masalah. Maka mulailah dibatasi waktu studi di perguruan tinggi – meskipun waktunya masih agak longgar juga. Kalau lewat batas waktu itu, maka mahasiswa diancam DO juga.

Pada saat yang sama terjadi “inflasi” gelar. Kalau dahulu bergelar S1 sudah menjadi “jaminan” untuk mendapatkan pekerjaan, sekarang pekerjaan yang sama membutuhkan gelar S2. Apaan sih ini? Akibatnya gelar diperjualbelikan.

Majukan waktu lagi. Batas waktu diperketat lagi. Sekarang katanya kalau lewat dari 5 tahun di perguruan tinggi bakal kena DO. Nah, ini malah sumber masalah. Mahasiswa dan perguruan tinggi tidak mau terjadi DO. Ini mimpi buruk bagi keduanya. Bagi sang mahasiswa (dan orang tuanya) sudah jelas ini mimpi buruk. Bagi perguruan tinggi? Ini juga mimpi buruk. Mana ada perguruan tinggi yang mau menunjukkan statistik DO-nya. Bayangkan jika ada perguruan tinggi yang mengatakan bahwa 50% mahasiswanya drop out. Ada yang mau daftar? (Padahal ini seharusnya tidak masalah.)

Untuk menghindari DO ini maka muncullah upaya-upaya nakal. Salah satunya adalah menurunkan kualitas. Pokoknya kalau bisa seluruh mahasiswa lulus! Soal-soal ujian dipermudah. Everybody is happy. Ancur bukan? Dosen yang tidak meluluskan mahasiswa malah akan mendapat masalah, meskipun sang mahasiswa tidak layak untuk lulus. Biarkan saja nanti dunia bisnis / industri yang menerima akibatnya. Nah lho.

Atau, upaya nakal lain adalah berbuat curang. Bagi mahasiswa yang bermasalah ini adalah pilihan yang terpaksa mereka lakukan. Kalau tidak berbuat curang dan gagal, di-DO. Kalau berbuat curang dan ketahuan di-DO. Itu kalau ketahuan. Kalau tidak? Ya selamat. Kalau dilihat dari pertimbangan ini, maka melakukan kecurangan lebih prospektif daripada berbuat jujur. Padahal di perguruan tinggi satu hal yang justru TIDAK BOLEH dilakukan adalah curang. Gagal boleh. Curang tidak boleh. Nah perarturan ini menjadikan gagal tidak boleh. Maka curang menjadi alternatif yang lebih menjanjikan.

Bagi saya ada masalah yang lebih besar. Jika batas waktu itu semakin diperketat sehingga tidak ada ruang bagi mahasiswa untuk melakukan hal lain selain kuliah dan ujian saja. Padahal mahasiswa harus belajar untuk bersosialisasi, berinteraksi dengan masyarakat, berorganisasi, mencoba membuat usaha (startup), dan seterusnya. Alasan “saya masih mahasiswa” akan lebih mudah diterima ketika dia gagal dalam membuat usaha / berinteraksi, dan seterusnya. Kalau sudah lulus, tidak ada alasan untuk gagal. Masyarakat menuntut keberhasilan. Kapan dia belajar untuk gagal? Untuk jagoan dalam mengendarai sepeda pasti pernah jatuh. Lebih baik jatuh ketika sedang belajar naik sepeda daripada tidak pernah jatuh dan justru terjatuh ketika ngebut naik sepeda.

Saya sering menasihati mahasiswa saya untuk tidak cepat-cepat lulus. Buat apa cepat lulus dan setelah itu pusing cari kerjaan? Perusahaan pun pusing menerima lulusan yang tidak siap kerja. Bukankah lebih baik mencari pengalaman kerja ketika menjadi mahasiswa sehingga ketika lulus dia sudah siap.

Mahasiswa tetap berada di kampus pun sebetulnya tidak menambah beban kampus. Dia hanya menjadi tambahan entry di dalam database saja, bukan? Kalau dia mau mengambil kuliah, maka dia memang harus membayar sejumlah mata kuliah (SKS) yang dia ambil. Biaya (cost) terpenuhi sehingga tidak terlalu menjadi beban.

Singkatnya, saya melihat lebih banyak masalah atau mudarat daripada manfaat dalam pembatasan waktu kuliah yang terlalu ketat.


Komitmen, Konsistensi, dan Ketekunan

Dalam berbagai kegiatan – baik itu pendidikan, olah raga, hobby – ada banyak inisiatif yang pada mulanya ramai namun akhirnya kendor. Pada mulanya yang hadir banyakan. Setelah beberapa kali pertemuan – jangankan beberapa kali, 2 atau 3 kali saja – jumlah yang hadir mulai menurun. Setelah itu yang hadir malah justru satu atau dua orang saja. Ha ha ha. (Saya pernah mengajar kuliah dengan jumlah mahasiswa yang menurun dengan drastis. Nama mata kuliahnya adalah “Metoda Formal” – Formal Methods. Jumlah yang mendaftar dapat dihiutung dengan jari tangan. Satu tangan saja.)

Komitmen pada kelompok (untuk ikut aktif), konsistensi dalam hal kehadiran, dan ketekunan untuk tetap menekuni ilmu dan skill tersebut merupakan hal yang ternyata langka. Instan memang lebih menarik.

Banyak yang bertanya mengapa blog saya ini ramai dikunjungi. Ya, karena ketiga hal di atas itu (dalam hal menulis di blog). Tidak terlalu susah secara teori, tetapi susah untuk dipraktekkan. Hal yang terlihat mudah dan sederhana sering diremehkan sehingga tidak dilakukan. Bagi yang terbiasa dengan hal-hal yang instan, ini merupakan hambatan yang luar biasa.

Bagi Anda-Anda yang aktif menyelenggarakan kegiatan, jangan kecewa atau putus asa jika kehadiran dari para peserta anjlok dan bahkan mungkin tinggal hanya Anda sendiri. hi hi hi. Anda tidak perlu membuktikan kepada orang lain. Anda hanya perlu meyakinkan kepada diri Anda sendiri.

Saya bermain futsal dengan kawan-kawan sudah bertahun-tahun (rasanya sudah lebih dari 7 atau 8 tahun). Saya futsal bukan untuk cari prestasi tapi cari olah raganya. Kadang yang datang belasan orang (cukup untuk 3 tim), kadang pernah hanya 3 orang – yang akhirnya harus bujukin orang-orang lain untuk bergabung. Saya mencoba untuk tetap rutin melakukannya.

Mengajar (atau presentasi) juga demikian. Mau yang datang 100 orang atau hanya 1 orang, tetapi saya layani dengan semangat yang sama. Bermain musik juga sama. Membuat dan menjalankan perusahaan (usaha) juga sama. Terlalu banyak tantangan untuk membuat kita berhenti. Terlalu banyak alasan atau pembenaran untuk membuat kita tidak tekun.


Carilah Tulisan Yang Baik

Jika ada pilihan makanan yang enak dan bergizi atau sampah, Anda pilih mana? Orang yang waras pasti pilih makanan yang enak dan bergizi. hi hi hi. Saya pilih yang itu. Maklum, kan saya orang waras. (Mana ada orang gila ngaku gila. he he he. Eh, ada. Temen saya! Tapi itu cerita lain.)

Badan, fisik, kita membutuhkan makanan. Bagaimana dengan jiwa, rohani, soul kita? Dia juga membutuhkan makanan. Salah satu “makanan”nya adalah melalui bacaan.

Anda punya pilihan lagi. Mana yang akan Anda pilih? Bacaan yang enak dibaca dan membuat jiwa kita senang atau bacaan yang isinya maki-makian (sampah)? Kalau dahulu, ada banyak buku yang bagus-bagus. Sayangnya sekarang buku sudah mulai ditinggalkan dan diganti dengan media sosial.

Dunia media sosial – facebooo, twitter, dan sejenisnya – penuh dengan pilihan itu. Ada tulisan-tulisan yang baik tetapi lebih banyak lagi maki-makian (baca: sampah). Saya melihat ada banyak orang yang memilih membaca maki-makian hanya karena satu aliran atau karena membenci pihak yang sama. Aneh saja, membaca kok memilih yang maki-makian. Apa asyiknya ya? Setelah membaca yang seperti itu, apa yang Anda rasakan? Nikmat? Bahagia? Ataukah justru menambah amarah, dendam, kesumat? Belum lagi tekanan darah yang ikut naik. hi hi hi.

Carilah tulisan yang baik. Yang membuka wawasan. Yang membuat Anda bahagia.

Kayaknya bisa jadi misi baru nih: menyediakan tulisan-tulisan yang enak untuk media sosial.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.458 pengikut lainnya.