Tag Archives: Pendidikan

Balada Dosen

Hari ini, Rabu, saya bisa leha-leha di rumah. Biasanya jam 7 saya sudah harus di kelas. Gara-gara gerhana matahari – bukan, ding, ini hari libur Nyepi – maka hari ini kampus diliburkan. Saya bisa leha-leha di rumah. (Sebetulnya nanti harus kerja juga.)

Kalau tidak ada kuliah, mahasiswa bersorak sorai.

Jangan bilang siapa-siapa ya. Ini rahasia kita-kita saja. Dosen juga sebetulnya senang kalau tidak mengajar. he he he.

HOREEE …


Pentingnya Kaderisasi Kepemimpinan

Pemilihan, umum atau bukan, selalu menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Atau malah dihindari. Ekstrim memang. Namun, pemilihan umum menunjukkan sebuah masalah besar yang kita hadapi dan selalu kita hindari, yaitu krisis kepemimpinan.

Jarang sekali kita menemukan seorang pemimpin yang dengan mudah, secara aklamasi, kita pilih. Itu adalah momen yang sangat jarang terjadi. Okelah, tidak perlu sedramatis itu. Mungkin tidak semua sepakat, tetapi kemudian dalam perjalanannya sang pemimpin itu tumbuh dan kemudian memang menjadi pemimpin sungguhan.

Krisis kepemimpinan ini terjadi karena tidak terjadi proses kaderisasi. Kita berharap bahwa pemimpin itu tumbuh dengan sendirinya. Otomatis. Dia dilahirkan jadi pemimpin dan kemudian jadi. Begitu saja. Boleh jadi teori ini benar, yaitu seorang pemimpin dilahirkan sebagai pemimpin. Bakat dari kecil. Sisi lain adalah pemimpin harus dididik.

Salah satu bentuk proses pendidikan kepemimpinan adalah belajar dari hal-hal yang kecil. Mungkin dari sekolahnya, jadi ketua OSIS dululah. he he he. Kemudian meningkat dari sana. Masuk ke mahasiswa, menjadi bagian dari himpunan mahasiswa.

Masalahnya adalah proses pendidikan ini tidak ada yang mendesain. Kebanyakan hanya berorientasi kepada pengalaman sebelumnya. Mereka melihat apa yang sudah pernah dilakukan oleh kakak kelasnya, kemudian diulang kembali tanpa memahami kenapanya. Ini yang terjadi dengan orientasi studi (OS) atau mapram yang kita kenal itu. Seharusnya dia menjadi salah satu cara untuk mengajarkan kepemimpinan, tetapi yang terjadi adalah dia menjadi ajang penjajahan.

Saya melihat proses pendidikan kepemimpinan ini ada di militer. Maklum, di militer garis komando harus jelas. Harus jelas pimpinannya. Nah, apakah hal yang sama dapat dilakukan di luar militer? Dapat. Di dunia bisnis juga ada proses mentoring. Mengapa di dunia “kepemimpinan” (dalam artian politik, negara, dan sejenisnya) kurang menonjol ya? Saya yakin ada, tetapi mungkin tidak nampak.

Harus ada yang memikirkan pemimpin-pemimpin masa depan secara serius dan terprogram. By design, not by accident.

Oh, ya. Untuk contoh kecil krisis kepemimpinan dapat dilihat ketika kita saling dorong menolak untuk menjadi imam shalat berjamaah. hi hi hi.


Dialektika

Dialektika (bisa juga “dialektik”) merupakan komunikasi dua arah. Secara teori ini merupakan hal yang biasa dan mudah. Namun pada kenyataannya ini merupakan hal yang sulit. Sangat sulit, bahkan.

Di dunia Timur, seperti kita di Indonesia (eh, kenapa kita masuk bagian Timur?), kebiasaan dialektika ini belum umum. Akibatnya, kemampuan untuk melakukan diskusi dua arah sangat terbatas. Kebanyakan orang ingin diberitahu (satu arah) dan kemudian tidak menjawab (namun ngedumel – he he he).

Masuk ke dunia maya atau dunia online. Wah, lebih parah lagi. Di dunia nyata kita masih bisa menyaksikan reaksi dari lawan bicara kita secara langsung. Dia mengerti? Tidak mengerti? Marah? Tertawa? Di dunia online, datar saja. Ada emoticons – itu gambar yang senyum atau ketawa – tetapi sangat terbatas sekali reaksi yang diberikan. Lambat pula reaksinya. Akibatnya dialektika melalui media online tidak terjadi. Yang terjadi adalah saling cela dan marah-marah.

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu menyarankan untuk melakukan pengajaran tentang bagaimana menguasai (pemanfaatan) teknologi informasi ini. Jika ini dibiarkan, maka akibatnya menjadi liar. Sama seperti tidak mengajari orang untuk mengendarai motor dan tiba-tiba langsung diberi motor. Ngacolah dia mengemudikannya karena tidak tahu tanda-tanda lalu lintas dan tidak dapat mengerti pengendara lainnya.

Media sosial dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik dan juga dapat membuat kita menjadi marah-marah. Nah.


Konser Badai Pasti Berlalu + LCLR+

Bagi Anda, penggemar musik Indonesia, silahkan tonton konser Badai Pasti Berlalu, LCLR+, Yockie Suryo Prayogo berikut. Kali ini, konsernya digelar di Surabaya. Saya sudah nonton dua konser sebelumnya – di Jakarta dan di Bandung – dan komentar saya adalah luar biasa! Keduanya beda dan keduanya sama kerennya.

konser badai pasti berlalu

Bagi yang seumuran saya (baca: tua, ha ha ha), Badai Pasti Berlalu dan LCLR merupakan bagian dari perjalanan menikmati musik Indonesia. Ini merupakan salah satu tonggak musik Indonesia. Saya punya koleksi album-albumnya dalam bentuk kaset dan CD. Beli aslinya tentunya. Sayang sekali kasetnya sudah hilang. hik hik hik.

Bagi yang muda, ini adalah tempat belajar. Melihat bagaimana musik Indonesia melalui perjalanannya. Ini juga merupakan tempat untuk menurunkan ilmu bagi yang tua ke yang muda (proses mentoring) dan juga momen untuk kolaborasi. Meneruskan tongkat estafet. Salah satu kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Tiket bisa dipesan online di: konserbadaipastiberlalu.com

Jreng!


Kapan Belajarnya? Sekarang!

Kalau saya tanya berapa di antara Anda yang bisa bahasa pemrograman Java dan punya pengalaman 5 tahun? Jawabannya mungkin beberapa. Bagaimana dengan yang juga bisa bahasa Python dan sudah 5 tahun pengalamannya? Tambah kurang (dan bahkan kemudian tidak ada). Biasanya ada yang berkata (keras-keras atau dalam hati), saya belajar dulu ya pak. Yaaah telatlah. Begitu Anda selesai belajar, kebutuhannya mungkin sudah lain lagi. Anda mau mulai belajar lagi setelah itu?

Kebanyakan orang maunya belajar secara berurutan (sekuensial). Setelah belajar A, baru B, kemudian C. Masalahnya kalau itu dilakukan, untuk menguasai C berarti harus menunggu dulu meskipun sesungguhnya dia tidak harus menunggu A dan B.

Dalam kasus mahasiswa, umumnya mahasiswa sekarang mau kuliah dulu. Belajar hal-hal di luar kuliah akan dipelajari setelah lulus. Ini menurut saya salah besar! Ketika Anda masih menjadi mahasiswa, tidak ada tekanan (pressure) dari luar untuk menghasilkan uang. Ketika Anda sudah lulus dan kemudian mau belajar ini dan itu maka dunia (orang, keluarga, calon keluarga) akan bertanya-tanya, kapan Anda kerjanya? Kapan Anda menghasilkan uangnya? Padahal lapangan pekerjaan menuntut Anda sudah bisa ini dan itu. Kalau Anda masih jadi mahasiswa, setidaknya Anda masih bisa menggunakan kartu truf bahwa “saya masih mahasiswa”. Jadi ketika masih menjadi mahasiswa, belajarlah banyak hal secara paralel.  Saya tahu, ada banyak teori yang mengatakan bahwa kalau hal-hal dilakukan secara paralel maka hasilnya tidak bagus. Menurut saya, biar. Lebih baik menguasai yang banyak dulu tetapi 70% dibandingkan menguasai 95% tetapi satu. Nanti ketika Anda sudah bekerja baru bisa lebih fokus kepada satu atau dua hal. (Itupun nanti ada masalah lain yang membutuhkan kemampuan secara paralel, misal kemampuan management.)

Jadi kapan belajar ini dan itu? Sekarang!


Kesungguhan Belajar

Di lingkungan saya ada beberapa (banyak) kegiatan pembelajaran. Bentuknya bisa berupa kelas formal, mentoring, kursus (formal), training, workshop, sharing session, dan seterusnya. Topik-topik yang dibahasnya pun bervariasi, mulai dari teknis (coding, electronics, animasi) sampai ke bisnis. Namun akhir-akhir ini saya melihat adanya pola yang terjadi berulang-ulang.

Ketika saya mengadakan sharing session soal animasi (misalnya, padahal saya gak ngarti apa-apa soal animasi) maka kemudian ada yang komentar “pengen ikutan”, “kami diberitahu dong”, “adakan lagi”, dan seterusnya. Ini adalah komentar-komentar dari orang yang tidak  bisa hadir di acara tersebut. Okelah. Maka pada kesempatan berikutnya, saya adakan lagi. Hasilnya juga sama, orang-orang tersebut (kebanyakan malahan) juga tidak datang dengan segudang alasan (sibuk, hujan, tidak sempat, lupa, dan seterusnya). Pada intinya adalah mereka tidak serius sungguh-sungguh ingin belajar. Atau, kalau mau belajar pun harus sesuai dengan skedul / kondisi / mood / … mereka. Tidak ada perjuangan untuk belajar.

Jika Anda sungguh-sungguh ingin belajar, buatlah waktu. Ya harus mau repot. Kejarlah sumber ilmunya itu. Kalau perlu harus merangkak bergurupun lakukanlah. Katanya, “kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Jika ada guru yang baik, datangilah. Jangan minta dia yang mendatangi Anda. Yang butuh belajar itukan Anda. Carilah waktu guru tersebut. Tunjukkanlah kesungguhan Anda. (Luke Skywalker juga harus berguru jauh ke Yoda. Tokoh-tokoh [super]hero lainnya dan juga cerita silat juga demikan. Silihakan tuliskan contoh-contoh lainnya yang Anda ketahui di bagian komentar.)

Sementara itu, biasanya saya hanya dapat meringis membaca tulisan orang yang berkata “adakan lagi dong” atau “beritahu kami kalau ada lagi”.


Kuliah di IndonesiaX

Horeee … kuliah saya – information security – sudah tersedia di IndonesiaX. Silahkan kunjungi dan ikutan.

indonesiax-information-security


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.841 pengikut lainnya