Menjadi Rektor?

Menyambung tulisan sebelum ini (tentang rektor asing), saat ini sedang ada pendaftaran untuk menjadi Rektor ITB. Maka mulailah kawan-kawan kasak kusuk.

Kawan: “Mas, nggak daftar jadi Rektor ITB?”
Saya: “Untuk apa? Apa untungnya buat saya.”
Kawan: “Ya ngeramein aja.”
Saya (dengan percaya dirinya): “Lah, kalau kepilih gimana?”

Ha ha ha. Bagi yang sudah kenal dengan saya mungkin sudah tahu bahwa jabatan administratif tidak menarik bagi saya. Jangankan jadi rektor, jadi menteri pun saya tidak mau. (Memangnya ada yang nawarin jadi menteri? Ada lah. Meskipun saya yakin tawaran itu tidak serius.)

Kalau mau hitung-hitungan, jabatan-jabatan tersebut tidak bermanfaat bagi saya secara pribadi. Entah itu bermanfaat bagi orang lain (orang banyak), tetapi bagi saya ini tidak ada manfaatnya. Kalau saya mau sih sudah dari dulu bisa. Cieeehhh.

Begini. Seseorang itu harus tahu impiannya. Menjadi rektor – atau menjadi menteri – bukan impian saya. Bukan cita-cita saya. Itu hanya akan menjadi distraction bagi saya.

Lantas, cita-citanya apa dong? Menjadi entrepreneur. Technopreneur. Nah.

Rektor Asing?

Belakangan ini sedang ramai dibicarakan tentang kemungkinan menggunakan tenaga kerja asing untuk menjadi rektor di perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu alasannya adalah agar perguruan tinggi di Indonesia meningkat peringkatnya di dunia.

Pendapat saya soal hal ini adalah oke-oke saja, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Jadi saya sampaikan dahulu kontra-nya, baru nanti pro-nya.

Pertama, rektor asing belum tentu memahami situasi di Indonesia. Bagi yang pernah menggeluti perguruan tinggi di luar negeri dan kemudian kembali ke Indonesia di lingkungan perguruan tinggi lagi pasti dapat memahami perbedaan yang besar. (Saya cukup lama di Kanada sebagai mahasiswa dan juga sempat mengajar / jadi dosen di sana. Saat ini saya dosen di ITB.) Bagi orang asing yang ke Indonesia – atau bahkan orang Indonesia yang lama di luar negeri kemudian kembali ke Indonesia – pasti akan mengalami culture shock. Ada banyak hal di Indonesia yang “tertinggal” di bandingkan dengan kawannya di luar negeri. Kalau tidak dapat menyesuaikan diri, pasti frustasi.

Rektor (asing) ini menghadapi banyak dosen yang sesungguhnya tidak berniat mengajar atau meneliti. Banyak dosen yang hanya ingin statusnya saja, atau mengejar pangkat (gelar, ketenaran) saja. Eh, jangankan dosen, ada juga orang yang menjadi rektor karena merupakan batu loncatan untuk menjadi menteri. Dosen mengajar hanya untuk mendapatkan nilai (kum) saja. Bukan karena ingin mengajarkan ilmunya.

Penelitian yang dilakukan dosen pun banyak yang ngasal. Asal hanya mendapatkan dana saja. Menulis makalah-pun kebanyakan ngasal. Dana penelitian juga datangnya telat. Sebagai contoh, dana penelitian yang harusnya turun di awal tahun baru turun di bulan September. Sementara bulan November laporan hasil penelitian harus masuk. Bagaimana mau menjalankan penelitian model begini? Tahun depannya juga belum tentu ada dana penelitian. Topik penelitianpun berubah-ubah. Tidak ada konsistensi.

Itulah sebabnya tingkat penelitian di Indonesia rendah. Tidak aneh, bukan?

Mahasiswa yang ada juga tidak kalah kacaunya. Banyak mahasiswa yang sebetulnya tidak serius kuliah. Alasan mereka ke kampus adalah daripada nganggur di rumah. Tidak ada semangat untuk kuliah. Apa harapan Anda dengan perguruan tinggi yang mahasiswanya seperti ini?

Tingkat perguruan tinggi salah satunya diukur dengan jumlah penelitian yang dihasilkan oleh perguruan tinggi tersebut. Penelitian-penelitian seperti ini umumnya terjadi di tingkat S3 (dan juga S2), bukan S1. Maka seharusnya yang lebih ditekankan adalah mahasiswa S2 dan S3. Sayangnya di Indonesia fokusnya malah mendapatkan mahasiswa S1. Ya, tidak akan naik peringkatnya.

Berdasarkan itu semua, rektor asing mungkin tidak akan berpengaruh kepada peringkat perguruan tinggi di Indonesia.

Namun ada hal-hal yang mungkin dapat berubah dengan adanya rektor asing. Ini pro-nya.

Rektor asing tidak memiliki (conflict of) interest untuk menjadi menteri. Maka dia tidak menggunakan jabatannya ini sebagai batu loncatan. Mereka juga tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan banyak pihak di Indonesia sehingga hal-hal yang terkait dengan KKN (terutama aspek nepotisme-nya) tidak terjadi.

Rektor asing dapat membawa budaya pendidikan yang lebih baik. Dia dapat membawa koneksi-koneksi pendidikannya. Hubungan ke perguruan tinggi di luar negeri (misal dari tempat dia berasal) dan lembaga penelitian dapat diperbaiki. Kredibilitas dari perguruan tinggi dapat naik sehingga dipercaya oleh lembaga asing untuk melakukan penelitian, misalnya.

Jadi, mungkin saja rektor asing dapat memperbaiki kualitas perguruan tinggi di Indonesia.

Lomba Pemrograman (IoT)

Internet of Things (IoT) sedang ramai dibicarakan. Salah satu pemanfaatan yang paling mudah dilakukan dengan IoT adalah untuk memantau temperatur, kelembaban, dan hal-hal yang terkait dengan lingkungan (cuaca? weather).

Di Bandung, kami sudah memasang beberapa (banyal) sensor yang terkait dengan cuaca ini. Weather sensors. Target awalnya adalah tersedia 150 sensor yang tersebar di kota Bandung. Data dari sensor-sensor tersebut kami kumpulkan dalam sebuah basis data. Nah, sekarang data tersebut kami buka.

Kami mengajak semua untuk mengembangkan aplikasi terkait dengan data cuaca tersebut dalam sebuah lomba. HackBDGWeather. Hackathon ini sekarang sudah dibuka dan kami menunggu proposal-proposal (ide-ide) dari Anda sekali. Silahkan kunjungi situs webnya di

https://hackathon.cbn.id


Ayo ramaikan. Kami tunggu proposalnya ya. Ditunggu sampai tanggal 15 Januari 2019.

Peluncuran Buku Digital Indonesia

Hari Kamis lalu (6 Juli 2017) diadakan peluncuruan Buku “Digital Indonesia: Connectivity and Divergence” di ITB. Buku yang diedit oleh Edwin Jurriens dan Ross Tapesll ini merupakan hasil kegiatan “Indonesia Project” yang dimotori oleh ANU (the Australian National University). Buku ini sangat penting karena seringkali kita kekurangan referensi (apalagi yang akademik) tentang situasi “digital” di Indonesia. Nah, sekarang tidak perlu mencari-cari lagi.

Saya ikut terlibat dengan menulis satu bab di dalamnya, tentang keamanan teknologi informasi. (Tampilannya dapat dilihat di bawah ini.) Materi ini juga sudah saya presentasikan di Canberra dan Perth. Kamis lalu, update dari materi ini juga saya presentasikan di ITB.

photo6280633421604693950

Bahasan dari buku ini cukup komplit. Nanti akan saya tampilkan daftar isinya di sini. Sementara ini saya mau lapor itu dulu. hi hi hi. Mengenai bagaimana cara memperoleh buku ini juga akan saya beritahukan segera.

Buku ini berisi empat bagian (5 parts); connectivity (2-4), divergence (5-7), identity (8-10),  knowledge (11-12), dan commerce (13-15). Masing-masing isinya adalah sebagai berikut:

  1. Edwin Jurriens & Ross Tapsell, “Challenges and opportunities of the digital revolution in Indonesia”
  2. Yanuar Nugroho & Agung Hikmat, “An insider’s vide of e-governance under Jokowi: political promise or technocratic vision?”
  3. Emma Baulch, “Mobile phones: advertising, consumerism, and class”
  4. Ross Tapsell, “The political economy of digital media”
  5. Onno W. Purbo, “the digital divide”
  6. Usman Hamid, “Laws, crackdowns and control mechanisms: digital platforms and the state”
  7. Budi Rahardjo, “The state of cybersecurity in Indonesia”
  8. John Postill & Kurniawan Saputro, “Digital activism in conteporary Indonesia: victims, volunteers and voices”
  9. Martin Slama, “Social media and Islamic practice: Indonesian ways of being digitally pious”
  10. Nava Nuraniyah, “Online extremism: the advent of encrypted private chat groups”
  11. Kathleen Azali, “Digitalising knowledge: education, libraries, archives”
  12. Edwin Jurriens, “Digital art: hacktivism and social engagement”
  13. Mari Pangestu & Grace Dewi, “Indonesia and digital economy: creative destruction, opportunities and challenges”
  14. Bode Moore, “A recent history of the Indonesian e-commerce”
  15. Michele Ford & Vivian Honan, “The Go-Jek effect”

Selamat menikmati ūüôā

Sidang Mahasiswa

Hari ini saya baru bisa sedikit bernafas lega. Dua minggu terakhir ini (dan sebetulnya sebelumnya juga) saya disibukkan untuk urusan kampus. Ada tujuh mahasiswa bimbingan saya yang maju sidang. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa S2. Sementara itu ada tiga mahasiswa bimbingan S3 yang juga melakukan sidang kemajuan.

Berikut ini foto-fotonya. Yang pertama adalah foto-foto mahasiswa S2.

P_20170613_091148-01 yogi P_20170613_101452-01 auliak

P_20170613_111214-01 ali P_20170614_131048-01 naim

P_20170614_142004-01 syarifudin P_20170615_100401-01 syaiful andy

P_20170615_110611-01 bakti

Yang berikut adalah foto-foto mahasiswa S3 bimbingan.

P_20170616_075106 kholish

P_20170620_090605-01 andry P_20170620_112535-01 teguh

Untuk melakukan itu semua ada banyak persiapan-persiapan, yang artinya kesibukan. Selain itu saya masih ada urusan lain, yaitu menilai makalah-makalah mahasiswa untuk tiga kuliah yang saya berikan semester lalu. Itulah sebabnya saya agak hilang di blog ini. Padahal niat untuk membuat tulisan setiap hari masih ada. Semangat.

Serius Dalam Mengajar dan Membimbing

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada banyak dosen yang tidak serius dalam mengajar dan membimbing. Banyak orang yang menjadi dosen hanya untuk mendapatkan statusnya atau agar supaya dapat disekolahkan ke luar negeri melalui beasiswa. Setelah menjadi dosen tidak benar dalam mengajar dan membimbing karena memang alasannya menjadi dosen bukan itu.

Proses rekrutmen untuk menjadi dosen juga nampaknya kurang memperhatikan aspek passion dalam mengajar dan membimbing. Ada yang guyon bahwa mau memilih bagaimana, wong yang mendaftarkan jadi dosen adalah sisa-sisa yang tidak dapat pekerjaan di luar sana. Aduh. Mak jleb!

Saya tidak tahu apakah saya bagus dalam mengajar atau membimbing (karena yang dapat menilai adalah mahasiswanya), tetapi saya sangat serius dalam mengajar dan membimbing. Eh, setidaknya saya jauh lebih serius dari kolega-kolega saya.

Banyak dosen yang menelantarkan kuliahnya karena ada tawaran pekerjaan ini dan itu atau harus memberikan presentasi di sana dan di sini. Saya membatasi tawaran-tawaran seperti itu. (Ada BANYAK SEKALI.) Kalau tidak percaya, tanya kepada pihak-pihak yang terpaksa saya tolak undangan untuk berbicara di kampus-kampusnya. Mohon maaf. Bukannya saya tidak mau, tetapi jika saya harus pergi ke sana maka kuliah saya banyak bolongnya.

(Bagi yang ingin mengundang saya menjadi pembicara, keynote speaker, dan seterusnya, inilah alasan saya kenapa saya menolak undangan bapak dan ibu. Ini sebabnya saya juga tidak tertarik untuk menjadi pejabat di sana sini.)

Saya termasuk yang rajin memberikan kuliah. Biasanya sebelum mahasiswa hadir di kelas, saya sudah duluan ada di sana. Untuk kelas jam 7 pagi pun, saya yang nomor satu hadir. Ada banyak foto di facebook saya yang menunjukkan hal ini. ha ha ha. (Semester ini ada satu kelas yang saya telat terus hadirnya, karena saya harus kembali ke kantor untuk makan siang, shalat, meeting dan kembali lagi ke kelas. Jadinya terlambat terus. Maaaaappp.)

17758256_10154430056911526_3438788283222184741_o
hadir di kelas sebelum mahasiswa hadir. berbekal kopi

Konsisten dalam mengajar itu tidak mudah. Memberikan satu presentasi itu tidak susah. Yang susah itu hadir secara rutin dalam 15 kali pertemuan perkuliahan. Silahkan dicoba. Konsistensi itu susah. (Ada banyak orang yang baru sekali memberikan presentasi di sebuah seminar kemudian merasa bisa mengajar di perkuliahan. hi hi hi.)

Menjadi pembimbing juga sama saja. Banyak dosen yang tidak dapat ditemui oleh mahasiswa bimbingannya karena kesibukannya. Membimbing bagi mereka mungkin sebuah beban. Tugas yang terpaksa dilakukan. Makanya tidak serius dalam membimbing. Hasilnya adalah bimbingan yang acak adut ketika sidang.

Ada sebuah kasus mahasiswa maju sidang dengan kondisi penelitian yang kacau balau. Mengapa dia diijinkan oleh pembimbingnya untuk maju? Ternyata pembimbingnya sibuk sehingga menelantarkan mahasiswanya (sampai batas waktu). Sebagai pengobat rasa bersalahanya (karena jarang di tempat), maka mahasiswanya diijinkan maju sidang. Mau seperti apa dunia penelitian Indonesia kalau seperti ini kejadiannya?

Mahasiswa bimbingan saya banyak. Bukan karena saya gampang, tetapi karena saya ada di tempat untuk berdiskusi. Mahasiswa membutuhkan arahan dan diskusi (dalam thesis dan disertasi). Kadang saya kasihan lihat mahasiswa bimbingan saya yang harus bergantian bimbingan. Antri. Seperti ke dokter saja. Mau bagaimana lagi? Waktu yang ada pun terbatas. Namun saya selalu serius dalam membimbing.

Sering saya hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan dosen-dosen yang mengabaikan tugasnya. Ada yang rajin menjabat di sana sini. Ada yang hobbynya presentasi sana sini juga. hi hi hi. Saya bukan atasan mereka yang dapat menegur. Kalau saya tegur nanti gak terima. Orang Indonesia mana bisa terima kritikan. ha ha ha.

Oh ya, sebetulnya saya adalah seorang profesional yang super sibuk. Ada banyak tanggung jawab yang harus saya lakukan. Jadi sesungguhnya saya bukan dosen  yang hanya mengajar saja. Demikian sibuknya pun saya selalu memprioritaskan mengajar dan membimbing.

Semua yang saya lakukan ini tidak untuk mencari pujian. Tidak juga untuk mendapatka gaji yang lebih besar. (Kalau tahu status saya, mungkin terkejut. Ada masanya beberapa tahun saya mangajar tanpa digaji. ha ha ha. Saya membuktikan kepada diri sendiri bahwa rejeki itu sudah ada yang ngatur.) Tidak juga saya lakukan ini untuk mendapatkan penghargaan atau medali. (Sombongnya sih sudah terlalu banyak plakat di rumah. ha ha ha.)

Jadi saya melakukan ini semua untuk apa? Karena memang saya suka mengajar. Menjadi guru. Berbagi pengalaman di industri dan menyederhanakan masalah sehingga mahasiswa dapat menangani topik-topik mereka di kemudian hari. As simple as that.

Membaca Adalah Bekerja

Ada banyak pekerjaan yang menuntut kita untuk membaca. Untuk mengoperasikan sebuah alat harus baca manualnya dahulu. Kadang manualnya bertumpuk-tumpuk. Untuk memahami sebuah konsep, harus baca dahulu dokumen yang terkait dengan konsep tersebut. Untuk membuat sebuah laporan, harus membaca data yang diterima dahulu (dan kemudian dilanjutkan dengan memahami sebelum menuliskannya). Seringkali datanya berlembar-lembar (dan bahkan ada yang jumlahnya ratusan halaman).

Banyak orang yang menyepelekan membaca sehingga tidak dapat mengapresiasi orang yang membaca. Dianggapnya orang yang terduduk dengan sebuah dokumen di hadapannya adalah tidak bekerja. Kan hanya membaca. Apa susahnya?

Itulah sebabnya juga seringkali mahasiswa S3 disepelekan oleh berbagai pihak. Oleh tempat kerjanya dia tetap diberi pekerjaan yang berat karena toh sekarang dia hanya membaca makalah orang lain. Apa susahnya? (Oleh sebab itu mahasiswa S3 sering frustasi karena tidak dipahami.)

Kalau membaca – hanya sekedar membaca – saja sudah dianggap susah, apalagi memahami ya?

[sedang membaca dan mencoba memahami]

Judul / Topik Thesis / Penelitian

Minggu ini mulai banyak mahasiswa berdatangan untuk mencari topik penelitian & thesis S2 mereka. Berikut ini adalah beberapa topik yang saya tawarkan. Deskripsi dari masing-masing topik mungkin belum terlalu rinci, tetapi mudah-mudahan penjelasan ini masih dapat memberikan bayangan. Topik besarnya adalah security & big data.

  1. Anonimity + eVoting + Visual Cryptography ID. Topik ini melanjutkan disertasi dari I Made Ardhana (softcopy disertasi sedang saya telusuri dan akan diupload di web site). Fokus kepada implementasi ide-ide yang ada di dalam disertasi tersebut. Ada beberapa design decissions yang harus diambil dalam implementasinya beserta pembaharuan teorinya. Titik beratnya kepada programming. (Ada beberapa snippet code yang sudah saya buat sebagai proof of concept.) [Sudah ada rencana 1 mahasiswa yang memilih ini. Masih dapat ditambah khususnya untuk sisi attack-nya.] Untuk aspek teorinya, pengukuran tingkat anonimitas, juga sedang mencari mahasiswa. Namun yang ini lebih banyak aspek matematisnya. Jika menyukai matematika (atau memang mahasiswa matematika), bisa memikirkan topik ini.
  2. Stegokripto. Meneruskan thesis dari Almaarif (lihat budi.rahardjo.id bagian students). Pencarian kode yang berbeda antara data dan noise. (Coding theory. Mencari kode yang orthogonal terhadap noise. Ide on-curve dan off-curve pada Elliptic Curve juga dapat dipakai.) Pada thesis terdahulu proses pembedaan kode dan noise dilakukan dengan menggunakan marker tertentu. (Proses pendeteksian dapat dilakukan dengan sliding window, atau bahkan matriks. Belum dilihat aspek kinerjanya.) Kode terdahulu juga dapat lebih disempurnakan sehingga aplikasi menjadi lebih integrated. (Sebelumnya pecah-pecah menjadi beberap aplikasi.)
  3. Mekanisme pengamanan program chat (Signals / dahulu TextSecure, WA, dll.) dengan menggunakan Curve 25519. Thesis memahami protokol yang digunakan dan melakukan re-implementasi di program Open Whisper Systems. (Ini juga dapat menjadi topik thesis di Matematika.)
  4. Cryptocurrency. Block chain. Ini adalah konsep di belakang Bitcoin. Memahami dan membuat protototipe sebuah digital money. Mengembangkan teori uang digital.
  5. Secure phone. Beberapa komponen dari konsep secure phone, yaitu authentication module (menggunakan SAM). [Sudah ada 1 mahasiswa yang mengerjakan ini.] Ini bagian besar dari disertasi Virtual Trusted Machine (mahasiswa S3: Raidun). Beberapa kemungkinan implementasi dari ide secure phone dengan menggunakan DSP board.
  6. Proteksi DNS terhadap DoS attack. [Sudah ada 1 mahasiswa yang mengambil ini.] Fokus kepada teknis. (Sementara untuk aspek teori adanya di level S3.)
  7. Automated software security testing. Exploring several framework. [Sudah ada 1 mahasiswa yang memilih menggunakan Sully]
  8. Beberapa sub-topik dari disertasi mahasiswa saya. (Mahasiswa S3 akan memberikan beberap sub-topik dari penelitian [kesulitan] mereka saat ini yang dapat menjadi topik thesis.) Topik terkait dengan Graph-based Social Network Analysis (SNA), graph compression, big-data in SNA,¬† Distributed IDS (ant-colony), eLearning berbasis Jigsaw, …

Sementara ini daftarnya adalah seperti itu. Akan saya tambahkan dengan link-link lain agar lebih jelas lagi dalam update berikutnya.

Peneliti(an) di Indonesia

Banyak orang yang berkeluh kesah bahwa penelitian di Indonesia lebih “rendah” dibandingkan dengan negara-negara lain. Indikatornya adalah jumlah publikasi dari perguruan tinggi di Indonesia lebih sedikit dari perguruan tinggi di negara lain. Ya, itu fakta.

Ada banyak kendala terkait dengan penelitian di Indonesia. Saya sudah pernah membahasnya di blog ini. Tidak perlu saya ulangi bukan?

Hal lain yang membuat susahnya publikasi di Indonesia adalah kurangnya orang yang mau mereview makalah untuk berbagai jurnal. Kalau kita menulis makalah dan diterbitkan di sebuah jurnal, maka kita mendapat nilai (kum) dari makalah itu. Kalau kita mereview, tidak dapat apa-apa. ha ha ha. Oleh sebab itu sulit menemukan reviewer yang baik di Indonesia.

Oh ya, makalah kami baru saja secara resmi dipublikasikan. Untuk menambahkan publikasi orang Indonesia.

paper stegokripto

Budi Rahardjo, Kuspriyanto, Intsan Muchtadi-Alamsyah, Marisa W. Paryasto, “Information Concelment Through Noise Addition,” 2015. Dapat diunduh di: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877050915035577

Bagaimana Nasib Jurnal Lokal?

Baru-baru ini saya membaca tentang iming-iming duit (bahasa halusnya adalah “apresiasi”) bagi yang menulis di jurnal internasional. Tujuannya adalah agar meningkatkan jumlah publikasi peneliti Indonesia di jurnal internasional. Bagus sih. Memang tingkat kemajuan pendidikan dan penelitian sebuah negara salah satunya diukur dengan jumlah publikasi di jurnal internasional yang terakreditasi.

Namun bagi negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris ini menjadi masalah. Sebagian besar peneliti di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. Lantas apa kita tidak perlu ada jurnal dalam bahasa Indonesia yang berkualitas baik?

Kalau semuanya diarahkan untuk menulis dalam jurnal internasional, yang menggunakan bahasa Inggris, lantas apa jadinya jurnal lokal? Semakin terpuruk saja. Semakin tidak ada insentif untuk menulis di publikasi lokal.

Nampaknya kita harus membuat sebuah jurnal lokal yang berkualitas sehingga banyak orang yang mau mempublikasikan tulisannya dalam bahasa Indonesia. Menulis bukan untuk sekedar mendapatkan “kum” atau “rupiah”, tetapi karena memang mencintai ilmu dan teknologi. Berminat?

e-Commerce Untuk UMKM

Hari Senin lalu, saya mengadakan acara Focus Group Discussion (FGD) tentang pemanfaatan e-commerce untuk UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Inti topik yang dibahas adalah apakah memang UMKM dapat memanfaatkan e-commerce?

Pemanfaatan teknologi informasi dalam bentuk e-commerce diaulat dapat meningkatkan jumlah transaksi perdagangan. Untuk perusahaan besar, hal ini dapat dimengerti. Namun, bagi UMKM ini masih dipertanyakan. Ada beberapa masalah.

Pertama, UMKM memliki sumber daya manusia (SDM) yang sedikit. SDM ini juga biasanya difokuskan untuk membuat produk, bukan untuk mengelola sistem e-commerce. Penguasaan teknis dari SDM ini juga terbatas.

Kedua, lokasi UMKM juga menentukan ketersediaan infrastruktur IT. Bayangkan UMKM yang berada di desa terpencil. Jangankan untuk e-commerce, listrik juga mungkin terbatas. Telekomunikasi juga mungkin belum menjangkau.

Selain itu sistem e-commerce yang ada saat ini mungkin harus dipermak sehingga sesuai dengan kebutuhan dan kondisi UMKM. Sebagai contoh, UMKM biasanya tidak memiliki sistem inventory yang dapat dihubungkan dengan sistem e-commerce. Sistem pembayaran non-tunai juga biasanya terbatas pada transfer bank.

Ah, masih banyak tantangan yang harus dipecahkan agar e-commerce dapat dimanfaatkan lebih maksimal oleh UMKM.

Peneliti, Industriawan, Pedagang, Investor, dan Pemerintah

Salah satu topik diskusi di kegiatan mentoring entrepreneurship mingguan saya kemarin adalah soal keterkaitan antara peneliti, industriawan, pedagang, investor, dan pemerintah. Sebetulnya awalnya dimulai dari pertanyaan mengapa banyak penelitian yang dilakukan di perguruan tinggi tidak menghasilkan apa-apa? Mengapa tidak ada (tidak banyak) hasil penelitian yang mendukung industri? Dan seterusnya.

Saya memiliki pandangan yang agak berbeda.

Tugas peneliti adalah meneliti. Persis seperti namanya. Dia tidak berkewajiban memasarkan hasil penelitian. Bahkan untuk membuat produk jadi pun masih bisa kita perdebatkan. Hasil dari penelitian dapat berbentuk karya ilmiah (makalah) atau paten. Hasil ilmiah ini kemudian dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk industriawan yang ingin membuat produk (atau layanan) berdasarkan hasil penelitian tersebut. Bahwa ada banyak hasil penelitian yang tidak terpublikasikan dengan baik, itu memang masalah lain dan memang ini menjadi tanggungjawab dari penelitian. Ini kita bahas lain kali ya.

Peneliti berada di menara gading (ivory tower). Mengawang-awang. Memang demikian. Kalau dilihat dari kasta (apakah masih ada?), mungkin peneliti berada di kasta Brahmana. (Benar?) Jadi urusan komersialiasi bukan menjadi perhatian mereka. Jangan disalahkan. Memang fungsinya demikian.

(Mengenai apakah topik penelitian harus terapan atau hanya teoretis, itu bahasan terpisah. Saya berpendapat, teoritispun harus tetap diakomodasi. Kemudian soal penelitian tidak harus selalu berhasil, bahkan kecenderungannya adalah gagal, juga kita bahas terpisah. Banyak sekali bahasannya ya?)

Peneliti biasanya berada di perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Banyak kasus (kalau banyak semestinya bukan kasus lagi ya?) produk atau layanan dikembangkan dari kampus (misal oleh mahasiswa) dan kampus tidak mendapatkan apa-apa. Menurut saya ini wajar saja. Mosok perguruan tinggi harus iri kepada mahasiswanya? Ini sama dengan orang tua yang iri kepada kesuksesan anaknya kemudian menuntut biaya kos-kosan dan makan kepada anaknya. ha ha ha. Sekarang banyak perguruan tinggi yang mencoba cari keuntungan dengan mencoba melakukan komersialisasi hasil penelitian. Menurut saya ini kurang pas.

Tugas industriawan yang mengembangkan produk untuk menjadi sebuah industri. Memang industriawan harus rajin-rajin melihat atau menyambangi perguruan tinggi untuk mendapatkan hasil penelitian yang menjadi basis dari produknya. Jangan berharap pihak perguruan tinggi yang akan menghubungi industriawan. Industriawan juga dapat melakukan penelitian sendiri. Jangan salah, perusahaan besar dapat menjadi penghasil penelitian juga. Contohnya adalah IBM. Lihat saja jumlah paten yang dihasilkan oleh IBM dengan jumlah peneliti yang tidak sedikit! Perguruan tinggi kalah oleh IBM dalam hal jumlah penelitiaannya. Sayangnya di Indonesia tidak banyak yang menjadi industriawan. Kebanyakan orang di Indonesia yang mengaku industriawan adalah pedagang.

Pedagang, sesuai dengan namanya, ya berdagang. Dia tidak harus terkait dengan hasil penelitian di Indonesia (lokal). Jika dapat membeli sebuah produk dengan harga yang murah di sebuah tempat, kemudian menjualnya di tempat lain (termasuk di Indonesia) dengan harga yang lebih mahal tentu akan dia lakukan. Tidak ada yang salah dari ini. Pedagang juga adalah pekerjaan yang terhormat. Hanya saja, kalau memang menjadi pedagang, ya jangan mengaku sebagai industriawan.

Investor adalah orang yang memberikan pendanaan dengan harapan terjadi imbal balik yang berlipat di kemudian hari. Investor berbeda dengan bank dalam hal risiko yang diambil. Investor lebih nekad. Gagal 9 dari 10 investasi merupakan hal yang biasa. Di Indonesia, institutionalized investors nampaknya masih jarang. (Adakah?)

Pemerintah tugasnya adalah mempermudah ini semua dengan membuat aturan dan membuat infrastruktur yang tidak menarik secara hitungan bisnis bagi swasta. Pemerintah tidak mendapatkan hasil secara langsung. Adalah salah kalau pemerintah  mengeluarkan uang 10 rupiah dan berharap dapat kembalian dari uang itu. Tidak. Uang yang dikeluarkannya akan hilang (menjadi program). Hasilnya adalah terjadinya iklim penelitian, industri, dan perdagangan yang lebih kondusif. Dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Nah, ini yang kemudian disalahkan menjadi korupsi. Kan menguntungkan pihak lain? Nah.

Masing-masing pihak menjalankan fungsinya masing-masing. Saat ini peneliti dituntut untuk mampu mengkomersialkan hasil penelitiannya. Salah besar! Ini sama dengan menuntut investor untuk menghasilkan karya ilmiah (yang notabene pekerjaan peneliti). Tidak pas.

Begitu. Semoga menjadi jelas. (Atau menjadi semakin ruwet?) Yang pasti, akan muncul banyak pertanyaan lain. Ini wajar.

(Yang belum disebut budayawan, olahragawan, pemain band, … eh apa lagi ya? Jreng!)

Pengalihan Dana Penelitian

Baru-baru ini ada keributan soal pengalihan dana penelitian dari perguruan tinggi (ke industri). Ya, ya, ya. Semua pandai berteori tetapi jarang (atau bahkan tidak ada?) dari mereka yang sesungguhnya melakukan penelitian sehingga mengetahui apa yang terjadi dengan penelitian di Indonesia. Namun begitu yang dibicarakan adalah masalah uang, semua lantas merasa berkepentingan. hi hi hi.

Perguruan tinggi dituntut untuk melakukan penelitian. Harus. Ini salah satu tri dharma perguruan tinggi. Lantas dananya mau diberhentikan? Dan kemudian semua pihak marah-marah kalau ranking penelitian (dan hasilnya dalam bentuk makalah) kalah dari Malaysia? Ha ha ha.

Begini saja. Penelitian harus selesai bulan November. Ini sudah bulan Agustus. Dana penelitian belum turun. Lantas peneliti mau hidup dari mana? Bagaimana dengan keluarganya? Jangan salahkan para peneliti yang akhirnya hijrah ke negeri lain. Lantas kita membicara dana penelitian yang tidak kunjung muncul? Ini sih berebut pepesan kosong.

Saya? Ah saya sih masih termasuk orang gila yang masih mau melakukan penelitian di Indonesia. Bagaimana lagi, wong jiwa saya adalah jiwa peneliti. Saya melakukan penelitian bukan untuk mencari tepuk tangan, tetapi karena memang harus meneliti. Dengan sumber daya yang terbatas, Alhamdulillah, saya masih masuk ke dalam ranking peneliti dari Indonesia.

Mohon maaf kalau tulisan kali ini isinya adalah curhatan (seorang peneliti).

Soal Matematika

[Soal ini sudah saya sampaikan di halaman Facebook saya dan menuai banyak komentar. Sekarang sata dokumentasikan di sini.]

Ceritanya saya diminta untuk mencari himpunan permutasi 4 bilangan x1, x2, x3, x4 yang jumlah keempatnya adalah s (misalnya 27). Rentang bilangan xn adalah 0 sampai dengan 9. Adakah algoritma yang efisien untuk mencari solusi tersebut? (Catatan: tadinya di dalam postingan saya di Facebook, saya menyebutkan kombinasi bukan permutasi.)

Di halaman facebook saya banyak solusi yang diusulkan. (Terima kasih.) Bahkan ada yang sudah menampilkan snippet kode.

Secara visual, soal ini dapat dilihat seperti gambar berikut. (Maaf kalau gambarnya kurang jelas. Maklum ini corat-coret di buku.) Siapa tahu dengan gambaran secara visual dapat diperoleh pemahaman yang lebih baik.

masalah matematika

Bayangkan jika kita harus berjalan dari sisi kiri ke sisi kanan melewati 4 lapisan. Setiap titik memiliki biaya (cost) mulai dari 9 sampai dengan 0. Kita harus mencari jalan (path) yang nilainya sesuai dengan yang kita inginkan, seperti dala contoh adalah angka 27. Salah satu jalurnya adalah {7, 7, 7, 6}.

Nah selamat mencoba.

[Catatan: masalah ini merupakan bagian dari penelitian kami tentang anonimitas dalam e-voting.]

Realitas Penelitian

Baru-baru ini terjadi kasus dimana hasil penelitian dipertanyakan.

Setelah menghabiskan sekian milyar Rupiah, hasil penelitiannya kok hanya sebuah produk yang tidak jalan.

Nampaknya banyak orang yang tidak mengerti situasi penelitian, terlebih lagi penelitian di Indonesia. Mari kita coba bahas satu persatu. (Meskipun rasanya saya sudah pernah menuliskan hal ini, saya tuliskan lagi. Maklum. Kan selalu ada pembaca baru.)

Penelitian pada dasarnya bertujuan untuk mencari sesuatu atau membuktikan sesuatu. Sang peneliti memiliki sebuah keyakinan (hipotesa) akan sesuatu tetapi belum terbukti. Penelitian dilakukan untuk menunjukkan atau membuktikan bahwa apa yang diyakininya itu benar atau salah. Hipotesanya ada yang simpel sampai ke yang mengawang-awang. Sebagai contoh, dapatkah seseorang berkomunikasi melalui gelombang yang dikeluarkan oleh otak kita? Dapatkah orang hidup di Mars? Adakah batre yang dapat menyimpan energi cukup besar, tetapi ukurannya sangat kecil dan dapat diisi dengan sangat cepat (misal untuk handphone atau bahkan untuk mobil)?  Untuk menjawab ini maka kita melakukan penelitian.

Jangka waktu penelitian sangat bervariasi. Mungkin ada penelitian yang hanya memebutuhkan beberapa tahun saja tetapi ada yang membutuhkan ratusan tahun. Boleh jadi peneliti awalnya sudah meninggal dan diteruskan oleh peneliti selanjutnya dan seterusnya. (Ini sebabnya catatan penelitian sangat penting.)

Biaya? Tentu saja sangat bervariasi. Membuat sebuah particle accelerator tentunya bisa menghabiskan triliyunan rupiah dengan sangat mudah. Menurut Anda, berapa biaya untuk melakukan penelitian kehidupan di Mars?

Semua itu terkait dengan topik penelitian. Tidak semua topik penelitian harus menghasilkan produk yang dapat dibuat dalam jangka pendek. Memang ada topik-topik penelitian yang aplikatif, dalam artian dapat menghasilkan produk, tetapi tidak semua begitu. Suatu saat saya bertanya kepada seorang peneliti (dari bidang Matematika), apa keluaran penelitiannya? Teorema. Apakah teorema yang ditelitinya itu memiliki implementasi atau aplikatif? Kemungkinan tidak. Lantas apakah perlu ditolak? Perlu diingat bahwa handphone yang kita gunakan dapat terjadi karena adanya temuan seperti Fourier Transform. Itu full matematik. Demikian pula algoritma kriptografi RSA baru digunakan 15 tahun setelah dia ditemukan. Siapa yang menyangka?

Penelitian di Indonesia memiliki masalah yang lebih berat lagi. Ada BANYAK masalah. Contohnya, dana penelitian dari Pemerintah baru turun di tengah-tengah tahun sementara laporan harus masuk di akhir tahun. Lah, di awal tahun itu siapa yang mendanai penelitian? Para peneliti ini harus makan apa? Ini bukan masalah yang baru ada kemarin sore. Ini masalah yang sudah ada bertahun-tahun. Mosok sih tidak ada yang tahu? Saya yakin semuanya tahu tetapi tidak peduli atau tidak mau memperbaiki hal ini. Pihak kampus tidak mau atau tidak sanggup untuk menjadi buffer pendanaan karena meskipun sudah jelas dananya ada (hanya turun terlambat) nanti mereka disalahkan karena melanggar prosedur. Jangan-jangan malah mereka yang dituduh korupsi dan masuk penjara. Administratif mengalahkan substansi.

Belum lagi ada masalah dana penelitian yang tidak berkesinambungan. Bagaimana mau meneliti jangka panjang kalau baru satu tahun dana penelitian sudah dihentikan. Salah satu alasannya adalah tema atau topik yang berubah. Akhirnya peneliti ini juga harus mengubah penelitiannya sesuai dengan tema yang sedang ini. Itu kalau mau hidup. Kalau yang tetap tekun dengan topik penelitiannya malah kemungkinan mati. Di kita ini yang penting “ada penelitian”. Supaya kalau dicek ada. Peduli amat kalau penelitiannya itu jalan atau tidak. Terus kalau ada masalah, semua angkat tangan.

Dana penelitian dari industri? Di Indonesia, sebagian (besar?) “industri” sebetulnya adalah pedagang. Mereka hanya memasarkan produk yang sudah jadi dari luar negeri. Mencari dana penelitian dari mereka itu masih dapat dikatakan sulit bahkan impossible. Bertahun-tahun saya mencoba membujuk para Country Managers dari berbagai perusahaan dunia yang ada di Indonesia untuk melakukan sedikit penelitian di Indonesia. Belum pernah ada yang merespon dengan positif. Untuk apa susah-susah (dan malah meresikokan karir mereka)?

Akhirnya, banyak peneliti yang terpaksa mengeluarkan uang dari koceknya sendiri. Saya pun demikian. Malu menceritakannya. Mosok negara disubsidi oleh para peneliti yang kantongnya juga cekak. Hanya orang gila (yang memang mencintai bidangnya) yang mau melakukan penelitian yang benar di Indonesia ini.

Lantas para peneliti Indonesia dipaksa bersaing dengan peneliti di luar negeri? Mimpi. Maka jangan marah kalau ada banyak peneliti Indonesia yang berkiprah di luar negeri. Mereka memang HARUS berada di luar negeri. Kalau ada pemain sepak bola Indonesia yang kualitasnya luar biasa, apakah dia harus kita kerem (kurung) di Indonesia? Biarkan dia main di liga-liga dunia, bukan?

Ada banyak lagi yang dapat kita diskusikan. Oh ya, perlu diingat bahwa selain “Research” ada juga “Development“. Kan R&D. Kita harus dapat membedakan itu. Ini kita bahas di tulisan lain ya.

Oh ya, saya masih meneliti di Indonesia. Dasar orang gila. Dahulu juga sempat menjadi peneliti di Kanada. Just in case you are wondering.