Tag Archives: penelitian

Salah Fokus Ketika Presentasi

Ini adalah waktunya sidang-sidang di tempat saya. Ada sidang thesis mahasiswa S2 dan sidang kemajuan / proposal untuk mahasiswa S3. Ada presentasi mahasiswa yang oke, tetapi kebanyakan malah bermasalah.

Salah satu masalah utama dalam presentasi adalah salah fokus dalam materi yang dipresentasikan. Seringkali mahasiswa langsung masuk ke hal-hal yang teknis tanpa memberikan cerita mengenai latar belakang atau konteksnya. Akibatnya, pertanyaan yang muncul menjadi seperti bola liar. Kemana-mana. Bayangkan, kalau dalam sebuah presentasi tiba-tiba saya mengatakan “Kita dapat meningkatkan theta untuk mendapatkan hasil yang lebih baik“. Lah, “theta” itu apa???

Mahasiswa sering lupa bahwa penguji mereka bukan orang bodoh, tetapi boleh jadi mereka bukan berada di bidang yang ditekuni mahasiswa yang bersangkutan. Istilah-istilah atau konsep yang ada di bidang itu boleh jadi tidak dimengerti oleh penguji. Maka berilah gambaran kerangka besarnya. Fokus kepada konsep utamanya. Ketika diminta untuk menjelaskan rinciannya, barulah kita masuk lebih ke hal-hal yang lebih teknis. Penguji sudah siap untuk menerima penjelasan kita.

Masalah berikutnya adalah banyaknya yang ingin dijelaskan tetapi waktu yang tersedia tidak cukup. Ini bahasan di lain kesempatan. :)


Bagaimana Melakukan Percobaan

Tadi saya mendengarkan presentasi mahasiswa tentang hasil penelitiannya. Ada satu kesalahan yang sering terjadi dari penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa, yaitu bagaimana melakukan percobaan.

Kebanyakan mahasiswa melakukan percobaan dengan cara asal-asalan. Asal dilakukan saja. Sebagai contoh, berapa kali sebuah percobaan dilakukan? Satu kali jelas tidak cukup (meskipun ada mahasiswa yang melakukannya juga – hi hi hi). Ada yang melakukan percobaannya beberapa kalai saja, katakanlah 15 kali. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa dia melakukannya 15 kali? Mengapa tidak 17 kali? Pemilihan angkanya ini random sekali. Lagi-lagi ngasal. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa hanya segitu? Mengapa tidak 100? 1000? atau bahkan mengapa tidak satu juta kali? Harus ada alasaannya.

Menampilkan hasil dari percobaan juga merupakan hal yang sering gagal untuk dilakukan. Ada mahasiswa  yang menampilkan hasilnya dalam tabel yang berlembar-lembar jumlah halamannya. Ini kurang bermanfaat. Cara yang lebih baik adalah menampilkan hasil percobaan tersebut dalam bentuk grafik. Secara cepat kita dapat mengambil kesimpulan atau melihat adanya anomali dari grafik tersebut.

Menampilkan data atau hasil dari percobaan yang dilakukan dalam jumlah yang banyak juga menjadi persoalan tersendiri. Ada kalanya kita menampilkannya secara linier, tetapi ada kalanya juga kita tampilkan hasilnya dalam sumbu yang logaritmik.

Ah, masih banyak lagi hal-hal yang harus saya bahas dengan mahasiswa tentang bagaimana melakukan percobaan ini. Sayangnya literatur mengenai hal ini masih sangat kurang. Hadoh.


Menghubungkan Titik Titik

Dalam perjalanan pulang ke Bandung tadi, saya tidak dapat tidur di kereta api. Mungkin karena kebanyakan minum kopi? Entahlah. Saya putuskan untuk membaca saja. Akhirnya saya membaca buku “Creativity, Inc.” karangan Ed Catmul sambil mendengarkan dengan keras musik dari grup Boston dengan earphone. hi hi hi.

Buku itu menceritakan tentang pengalaman Ed Catmul, salah seorang pendiri perusahaan Pixar. Tahu kan Pixar itu perusahaan apa? Mereka yang membuat film Toy Story, dan beberapa film animasi yang keren lainnya. Oh ya, salah satu founder Pixar juga adalah Steve Jobs.

Ed Catmul bercerita megenai jalan hidupnya. Dia kuliah di University of Utah di bawah bimbingan Ivan Sutherland. Saya termanggu-manggu. Mengapa nama-nama itu seperti familer. Ya ampuuun. Saya ingat! Ivan Sutherland adalah pengarang makalah yang berjudul “Micropipeline“, yang menginspirasi disertasi S3 saya! Saya baru ingat juga bahwa saya sempat email-emailan dengan beberapa orang peneliti (dan dosen) dari sana. Ini adalah bidang sistem (rangkaian) asinkron (asynchronous circuits).

Salah satu diversion – pengalih fokus –  saya adalah computer music. Saya sempat mengikuti konferensi tentang computer music yang ternyata beririsan dengan seminar yang dihadiri oleh orang-orang di dunia animasi seperti Ed Catmul. Wogh. Ternyata demikian dekatnya ya. Sekarang merasa lebih memahami Pixar. ha ha ha.

Connecting the dots … Menghubungkan titik-titik. Meneruskan baca …


Koleksi Karya Ilmiah Mahasiswa

Setelah mahasiswa bimbingan lulus, saya meminta versi digital dari tugas akhir / thesis / disertasi – karya ilmiah – dari mahasiswa tersebut. Tujuannya adalah agar penelitian dari mahasiswa tersebut dapat diteruskan oleh mahasiswa selanjutnya. Mahasiswa penerus ini perlu membaca karya ilmiah dari mahasiswa yang sudah lulus tersebut.

Karya ilmiah tersebut – biasanya dalam format PDF – saya simpan secara pribadi di komputer saya. Ada juga sebagian yang saya simpan dalam akun Dropbox saya. Sayangnya akun dropbox saya hampir penuh. Saya juga menyimpan dalam web site pribadi saya.

Nah, saya kira ada banyak dosen-dosen lain yang melakukan hal yang sama (mengumpulkan karya mahasiswa bimbingannya). Kalau ini dilakukan secara masing-masing (ad hoc) menjadi tidak efisien. Nampaknya ada kebutuhan layanan penyimpanan dokumen ini secara besar-besaran. Sebuah database karya ilmiah mahasiswa Indonesia.

Ada dampak negatifnya, yaitu akan memudahkan plagiat. Orang yang jahat akan dapat melakukan copy-and-paste karya ilmiah tersebut. Untuk itu harus dibuatkan tools untuk menguji apakah karya ilmiah mahasiswa baru ini sudah ada atau mirip dengan karya-karya yang ada di dalam database ini. (Ini membutuhkan software baru. Ayo para pengembang software, silahkan buat ini.)

Berkas juga mungkin dapat dibuat dalam format image (djvu) sehingga tidak terlalu mudah untuk di-copy-and-paste. Atau ini kekhawatiran yang berlebihan?

Apakah ini dapat menjadi potensi sebuah start-up baru? Nah, silahkan.


Susahnya Membaca Jurnal

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa pasca sarjana adalah membaca makalah dari jurnal. Terlebih ini terjadi pada level S3. Ada banyak masalah di sini.

Pertama, seringkali makalah itu tidak dapat dimengerti dalam satu kali baca. Penulis makalah seringkali dibatasi oleh jumlah halaman dari jurnal sehingga harus menjelaskan bagian-bagian yang penting saja. Ada banyak bagian rinci (detail) yang terpaksa dilewatkan. (Kelebihan halaman harus dibayar oleh penulis dan itu tidak murah!) Maka sang pembaca kadang kebingungan ketika membaca makalah itu. Ada bagian yang hilang. Dibutuhkan waktu untuk mengerti itu. Makalah harus dibaca berulang kali. (Padahal waktu terbatas.)

Kadang memang ada peneliti yang meskipun sangat cerdas tetapi tidak mahir menulis sehingga tulisannya membingungkan. Atau, memang kadang (meski jarang) ada yang menutup-nutupi penelitiannya (misalnya karena ada bagian yang sedang / akan dia patenkan).

Kedua, dalam membaca makalah tersebut, sang mahasiswa membacanya sendirian. Dalam topik penelitian S3, seringkali dia adalah satu-satunya yang meneliti tentang itu di lingkungannya. Mau tanya kepada siapa? Mau tanya kepada pembimbing atau promotorpun kadang mereka tidak memahami sedetail yang ingin dibahas. Jadi dia frustasi sendirian. Mahasiswa S3 yang lainnya pun demikian. Jadi ini adalah kumpulan mahasiswa yang frustasi. ha ha ha.

Lebih parahnya lagi banyak orang yang menganggap membaca itu mudah. Mereka tidak dapat mengerti mengapa mahasiswa S3 lama selesai sekolahnya. Kan hanya membaca? Memang seberapa susahnya membaca sih? hi hi hi. Maka pusinglah sang mahasiswa S3 menjelaskan ini kepada keluarganya, koleganya, tetangganya, bahwa membaca (makalah jurnal) itu tidak mudah. he he he. Semakin frustasi dia … Hadoh.


Menulis Karya Ilmiah

Ya, saya masih memeriksa revisi tugas mahasiswa. Masih banyak – atau bahkan sebagian besar? – mahasiswa kita belum mahir menulis karya ilmiah. Mungkin dapat saya generalisir lebih lanjut, mahasiswa belum mahir menulis. Titik. Kejam amat ya?

Masalah utama bagi mahasiswa adalah mereka menyepelekan penulisan. Dianggapnya menulis itu hanya sekedar mengurutkan kata-kata. Atau lebih ekstrim lagi menulis itu mengurutkan huruf-huruf. a i u e o. Bagi mereka, memilih kata itu tidak penting. Padahal kata yang berbeda memiliki makna dan efek yang berbeda kepada pembaca. “Kamu salah!” atau “Anda kurang tepat” memiliki efek yang berbeda, bukan?

Menuangkan alur pemikiran dalam tulisan yang runut merupakan sebuah tantangan. Kita tidak dapat mencampurkan semuanya dalam satu bagian. Untuk makanan, gado-gado pun harus dipilih apa yang akan dicampur. Kalau gado-gado dicampur dengan cumi-cumi dan bajigur rasanya jadi kacau balau. he he he.

Bahkan untuk sekedar menuliskan dalam format yang konsistenpun ternyata banyak yang belum paham. Ngasal saja. Padahal tulisan yang tidak enak dipandang akan menghasilkan nilai yang buruk karena pembaca sudah antipati duluan. Seharusnya memang isi yang lebih penting, tetapi penampilan pada kenyataannya adalah yang membukakan pintu kepada pembaca. Setelah pintu terbuka, kita sodorkan isinya. Bagaimana pembaca atau penguji akan memeriksa tulisan kita jika “pintu” tertutup?

Lantas bagaimana caranya agar kita dapat menulis karya ilmiah yang baik (dan indah)? Latihan, latihan, dan latihan menulis. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar latihan-latihan ini menyenangkan sehingga kita melakukannya? Itu merupakan topik bahasan di lain kesempatan.


Kredibilitas Sumber Berita Online

Kualitas dari sebuah karya ilmiah (makalah, artikel, atau tulisan secara umum) bergantung kepada referensi yang digunakan. Salah satu cara yang lazim digunakan oleh reviewer adalah melihat daftar referensinya. Jika referensinya dari sumber-sumber yang terpercaya dan pakar di bidangnya, maka karya ilmiah tersebut memiliki potensi untuk mendapat nilai baik. Jika sumbernya tidak terpercaya, lemah, meragukan, atau tidak dapat ditelusuri kebenarannya maka karya ilmiah tersebut diragukan untuk mendapat penilaian yang baik.

Salah satu masalah yang dihadapi saat ini adalah kredibilitas dari sumber online. Banyak jurnal dan bahkan institusi pendidikan yang tidak memperkenankan mahasiswa menggunakan Wikipedia sebagai sumber rujukan. Bahkan dapat digeneralisir, penggunaan sumber online tidak disarankan. (Frowned upon.) Salah satu alasan yang digunakan adalah ketidakjelasan orang (sumber) yang mengisi data di Wikipedia. Hal berikutnya adalah sumber di Wikipedia sering berubah. Akan menjadi masalah jika pada saat ini fakta yang ditulis adalah A dan kemudian pada saat yang lain faktanya adalag B (non-A). Mana yang benar? Yang terakhir? Atau yang mana?

Terlebih lagi sekarang marak bermunculan situs-situs “berita” yang sebetulnya adalah situs yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ada yang bentuknya memang sungguhan main-main (parodi), tetapi tidak sedikit yang sebetulnya palsu dan seolah-olah sungguhan. Yang terakhir ini yang berbahaya karena informasinya dapat menyesatkan. Sayangnya justru sekarang banyak orang yang tidak mau sedikit meluangkan waktu untuk memeriksa kredibilitas sumber informasinya. Entah tidak mau atau mungkin tidak memiliki kemampuan (skill, kesabaran) untuk melakukan itu. Dia tidak sadar bahwa orang dapat menilai kualitasnya berdasarkan sumber informasinya itu. You are what you read. Akan sangat menyedihkan jika semakin banyak orang yang terjerumus kepada kebodohan ini. Saran saya, cobalah luangkan sedikit waktu untuk memeriksa kredibilitas dari sumber informasi yang Anda gunakan.

Semakin banyak masalah dengan sumber berita online, semakin menjadi pembenaran bahwa sumber online memang tidak memiliki kredibilitas untuk digunakan sebagai referensi dalam karya ilmiah. Nampaknya Wikipedia bakalan tetap sulit untuk diperkenankan sebagai sumber referensi karya ilmiah. Wah. Padahal isinya sangat membantu bagi mahasiswa yang mencari sumber rujukan. Mosok kita masih dibatasi dengan  penggunaan jurunal dan buku konvensional sebagai rujukan?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.108 pengikut lainnya.