Bacaan S3 Saya

Barusan beberes ruang kerja. Ada setumpuk makalah (fotocopyan) di atas meja. Makalah-makalah ini membantu saya menyelesaikan studi S3 di Kanada. Ketika pulang, saya bawa. Kalau sekarang lucu sekali mau berat-berat membawa makalah-makalah ini. Ya perlu diingat masa itu internet belum sekencang sekarang. Mau cari ini dan itu masih susah.

Lagi mikir-mikir. Apa saya buang saja ya? Sudah saya lihat-lihat di internet dan ada softcopynya.

  1. John Rusby – Formal Methods and the Ceritification of Critical Systems
  2. Paolo Prinetto and Paolo Camuati (eds.) – Correct Hardware Design Methodologies, North Holland, 1991
  3. Aarti Gupta, Formal Hardware Verification Methods: a Survey, School of Computer Science, Carnegie Mellon University, 1992

Oh ya. Makalah-makalah ini pernah saya gunakan juga mengajar kuliah “Metoda Formal” di ITB. Sayangnya peminatnya makin lama makin sedikit sehingga akhirnya terpaksa ditutup.

Kembali ke pertanyaan saya, buang saja ya? Toh sudah ada versi digitalnya di internet.

Menghindari Kepopuleran

Kalau orang buat perusahaan, produk, atau layanan biasanya dicari nama yang mudah dikenal. Semakin populer, semakin bagus. Kalau dicari (search) di internet, harus mudah dan harus muncul di bagian teratas. Itulah sebabnya ada kerjaan SEO (Search Engine Optimization).

Nah, sekarang saya mau cari yang sebaliknya. Misalnya, saya buat band, saya akan cari nama yang sulit dicari. Maksudnya sulit dicari adalah hasil search-nya tidak muncul seperti yang diharapkan. Sebagai contoh, kalau nama bandnya adalah “A” nanti kalau dicari di Google pakai kunci apa ya? Coba cek Google dengan kunci “A”. Apa hasilnya? hi hi hi. Macam-macam kan? Kalau namanya unik, malah dia akan mudah ditemukan. Ini justru cari yang tidak unik.

Pokoknya cari kata yang kalau dicari di google malah menghasilkan data banyak tetapi tidak terkait. hi hi hi. Apa ya?

(Belajar) Bertanya

Kebanyakan mahasiswa dari Asia (termasuk Indonesia) tidak banyak bertanya dalam kelas. Ketika guru atau dosen bertanya, “ada pertenyaan?”, maka hampir tidak ada yang bertanya. Justru setelah kelas selesai, kadang ada (maha)siswa yang datang mendekati sang guru untuk bertanya. Padahal pertanyaan yang diajukan seringkali merupakan pertanyaan siswa lainnya. hi hi hi.

Ada beberapa alasan ini terjadi. Pertama, karena malu. Malu dianggap bodoh. Padahal tidak tahu – koreksi, belum tahu – itu bukan berarti bodoh. Bertanya menjadi seperti aib. Akibatnya tidak berani bertanya. Kedua, boleh jadi karena tidak tahu apa yang mau ditanya. hi hi hi. Mungkin saking tidak tahunya, jadi semuanya mau ditanya tetapi kalau semuanya mau ditanyakan kan malah jadi aneh. Ketiga, takut dianggap sok tahu atau kemintar oleh kawan-kawannya. Jadi tidak berani bertanya.

Akibatnya, banyak orang yang tidak tahu cara bertanya. Bertanya itu juga sebuah keahlian (skill). Dia harus dipelajari dan diasah. Coba perhatikan, banyak orang Indonesia yang kalau bertanya terlalu banyak pendahuluannya. “Seperti kita ketahui … dan seterusnya, dan seterusnya”. Lima menit kemudian barulah muncul pertanyannya. hi hi hi.

Apakah ada pertanyaan yang bodoh? Tadinya saya pikir tidak ada. Eh, ternyata ada. Ini contohnya.

Pada sebuah segmen berita di TV tentang sebuah musibah, seorang wartawan bertanya kepada keluarga orang yang terkena musibah itu; “bagaimana perasaan Anda?”. Ini termasuk pertanyaan yang bodoh.

Sekarang, kemampuan menjawab pertanyaan kalah penting dengan kemampuan bertanya. Sudah ada mesin “Google” untuk menjawab semua pertanyaan. Mengenai jawabannya benar atau salah, itu lain cerita. hi hihi. Pokoknya ada saja jawabannya. Yang menjadi lebih penting adalah “apa yang akan ditanyakan”. Kemampuan bertanya menjadi kuncinya. Maka dari itu, pelajarilah cara bertanya dan latihlah.

Di sisi lain, ada orang yang (selalu) bertanya karena MALAS! Yang seperti ini mau diapakan ya? (Kalau di tempat kami, kalau bertanya karena malas … disuruh baca buku dulu. wk wk wk.)

Tanpa Perayaan Tahun Baru

Saya sudah terbiasa untuk tidak melakukan perayaan tahun baru. Bagi saya ini sama dengan hari libur lainnya saja. Jadi biasanya tahun baru ya tertidur seperti biasa. Kalaupun pas terbangun itu juga seperti terbangun biasa (karena tiba-tiba muncul ide di malam hari itu). Bagi banyak orang, terbangun malam hari dan melewati tengah malam untuk memasuki hari berikutnya bukanlah hal yang biasa. Jadi ini perlu dirayakan. hi hi hi. Bagi saya, ini sih sama dengan hari-hari biasa.

Bukan berarti saya anti perayaan tahun baru lho. Saya tidak anti. Hanya saja saya tidak melakukan perayaan tahun baru. Itu saja. (Bahkan perayaan ulang tahunpun kami tidak melakukan yang spektakuler. Paling-paling menu makanan lebih saja. Ataupun makan di luar pada kesempatan berikutnya, yang mana ini juga biasa juga. hi hi hi.) Setiap hari adalah perayaan.

Eh sebetulnya ada sebelnya juga dengan perayaan tahun baru, yaitu ada yang pasang petasan keras-keras sehingga menggangu tidur. Ini juga pas ngeblog ada suara petasan keras-keras. Grrr. Saya heran saja ada orang mau membakar uang begitu saja. Bukankah membeli petasan adalah sama dengan membakar uang?

Oh ya, kalau melewati pergantian hari itu membuat banyak orang menjadi gembira, maka saya usulkan agar lebih diperbanyak … begadang. ha ha ha.

Selamat tahun baru. Ngantuk. Zzz…

Ketersediaan SDM IT Indonesia

Salah satu komponen utama dalam bisnis teknologi informasi (IT) – dan bisnis apapun sebetulnya – adalah sumber daya manusia (SDM). Apa jumlah SDM tersebut mencukupi? Bagaimana dengan kualitasnya (dibandingkan dengan SDM dari negara lain)? Berapa gaji mereka? Bagaimana trend kebutuhan SDM IT (bidang apa saja; administrator sistem, jaringan, rekayasa perangkat lunak / pemrograman, database)? Ini adalah contoh pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan. Jawaban dari pertanyaan ini dibutuhkan jika kita ingin merencanakan sebuah pekerjaan (proyek). Selain itu, jawaban ini dibutuhkan juga untuk sekolah-sekolah yang terkait dengan program studi teknologi informasi; apakah perlu membuka program studi baru dan menutup yang lama, dan sebagainya.

Beberapa tahun yang lalu – saya lupa tepatnya, mungkin sekitar tahun 2000 atau 2003 – kami pernah membuat sebuah survey untuk Bandung High-Tech Valley (BHTV). Survey yang didukung oleh Deperindag (waktu itu Industri dan Perdagangan masih menjadi satu) kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku, Blue Book. Seharusnya survey yang sejenis dilakukan kembali. Mari?

Untuk sementara ini mari kita coba jawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan hitung-hitungan kasar. (Hitungan ini akan saya perbaiki sejalan dengan waktu dan ketersediaan data yang lebih baik. Hitungan yang lebih akurat nanti kita lakukan dengan menggunakan survey riil.)

Kita mulai dari sisi pendidikan formal dahulu. Perlu diingat bahwa banyak SDM IT yang tersedia tidak melalui pendidikan formal IT. Untuk mereka akan dibahas secara terpisah. Untuk pendidikan formalpun, kita batasi dahulu yang terkait dengan Teknik Elektro / Komputer, Informatika, dan Ilmu Komputer. Sebetulnya jurusan Teknik Fisika, Fisika, dan Matematika juga masih termasuk yang dapat menghasilkan SDM IT. (Pada kenyataannya ada juga lulusan dari Arsitek, Astronomi, Geologi yang akhirnya menjadi pekerja di dunia IT.) Mereka belum kita masukkan ke dalam hitungan. Anggap saja sebagai bonus šŸ™‚

Pertanyaan pertama adalah ada berapa sekolah yang menghasilkan SDM IT di Indonesia? Berapa jumlah lulusan yang dihasilkan untuk setiap jenjangnya (S3, S2, S1, D4, D3, SMK) dalam satu tahun?

Bandung

Kita ambil contoh Bandung dahulu dan mulai dariĀ  ITB. Prodi STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB menerima (sekitar) 300 mahasiswa STEI setiap tahunnya untuk program S1. Katakanlah sebagian besar lulus tepat waktunya sehingga ada 300 lulusan setiap tahunnya. (Kalaupun tidak tepat, toh ada lulusan tahun sebelum-sebelumnya juga sehingga dapat kita katakan sekitar angka itu kelulusannya. Nanti akan saya perbaiki lagi jika ada data yang lebih akurat.) Dari lulusan ini sebagian besar melanjutkan ke S2 dan S3. Ada yang ke luar negeri dan ada yang di dalam negeri. Dari segi bidang ilmu, berapa persen yang menggeluti IT-related? Saya ambil dugaan mengikuti hukum pareto saja ya.

  • IT: 80% dari 300 adalah 240 orang
  • non-IT: 20%

Pertanyaan selanjutnya adalah ada berapa persen yang tetap berkarya di bidang IT (dalam hal ini termasuk elektronika, telekomunikasi, tenaga listrik) dan berapa persen yang di non-IT (misal menjadi manager dari bank, migas, perdagangan umum, dan sebagainya – dalam kapasitas yang non-IT karena dalam perusahaan tersebutpun kerjaan merekapun masih bisa IT).

  • IT: ??%
  • non-IT: ??%

Ditambah dengan jurusan lain yang juga mengajarkan kuliah yang IT-related (seperti Teknik Fisika dan bahkan Fisika), katakanlah didapatkan 50 lulusan. Angka ini ditambahkan dengan 240 orang tadi sehingga menghasilkan 290 orang. Katakanlah mudahnya ada 300 orang S1 yang dapat bekerja di bidang IT.

Untuk yang S2, ada beberapa program S2 yang terkait dengan IT secara langsung seperti misalnya program S2 Chief Information Officer (CIO), Layanan Teknologi Informasi (LTI), Telekomunikasi, dan seterusnya. Total mahasiswa yang terkait ada lebih dari 100 orang.

Untuk mahasiswa S3 yang terkait dengan teknologi informasi, jumlahnya masih sangat minim. Mungkin jumlahnya masih belasan orang saja.

Hitungan kasar total ada sekitar 400 orang lulusan IT-related/tahun dari ITB. Sedikit ya?

Di Bandung, selain ITB ada perguruan tinggi lain yang juga menghasilkan lulusan IT, antara lain: Telkom University (dahulu IT Telkom atau STT Telkom), Unikom, Unpas, dan beberapa yang lainnya. (Jumlahnya ada berapa? Harus kita survey. Katakanlah ada 10.) Dari segi ukuran, mereka lebih besar dari ITB. Katakanlah setidaknya mereka sama dengan ITB.

Jumlah lulusan: 10 x 400 = 4000 lulusan S1/tahun. (Ini banyak atau tidak ya? Kalau dibandingkan dengan India, tentunya angka ini sangat kecil.)

Lulusan D3. Ada beberapa politeknik dan sekolahan yang menghasilkan D3 di bidang IT di Bandung, seperti antara lain Telkom University (dahulu Poltek Telkom), Polban, Politeknik Pos, …

Kota-kota lain

[Di sini kita coba cari data untuk Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Makasar]

[masih belum selesai ditulis]

Majalah Entrepreneurship

Beberes kamar. Bongkar-bongkar tumpukan buku, saya menemukan majalah “Enterprise SPARKS” dari NUS Enterprise. Majalah tipis ini membahas mengenai entrepreneurship. Menarik.

NUS entreprise sparks magazine-1 1000NUS entreprise sparks magazine-2 1000

Mari kita buat juga. Supaya entrepreneurship makin meningkat di Indonesia. Di majalah itu mungkin saya berminat untuk menjadi kontribusi penulis, bercerita tentang suka dukanya menjadi technopreneur.

SK (Dokumen) Elektronik

Baru saja saya membersihkan meja (dan sebagian lemari) yang isinya berbagai dokumen. Salah satu contoh adalah dokumen SK (Surat Keputusan) terkait dengan membimbing mahasiswa, menguji, dan tugas-tugas lainnya. SK / dokumen ini menyemak di meja dan lemari saya. Akhirnya saya putuskan untuk membuang mereka. Padahal seringkali dokumen-dokumen tersebut diperlukan untuk kenaikan pangkat dan lain-lain. (Itulah sebabnya pangkat saya macet tidak naik-naik. hi hi hi.)

Mengapa dokumen-dokumen seperti ini tidak dibuat dalam bentuk elektronik dan tersedia secara online? Padahal sekarang kan jamannya teknologi informasi. Aplikasi untuk itu tidak susah untuk dibuat. Manfaatnya adalah kita tidak perlu susah-susah untuk mengisi borang (form) ini dan itu. Semua data sudah tersedia.

Sekarang saya terpaksa membuang dokumen-dokumen tersebut. Sebagian sempat saya scan. Tetapi yang menjadi masalah adalah hasil scan tersebut mau saya simpan di mana? he he he. Ah kebanyakan “masalah”. Buang saja. Beres kan?

Biaya Akuisisi Pengguna Dalam Start-Up

Ketika kita mengembangkan sebuah usaha start-up, kita harus mendapatkan pelanggan atau pengguna (user) dari layanan atau produk kita. Akuisisi pengguna ini ada biayanya. Pengguna iniĀ  dapat dianggap sebagai salag satu aset dari start-up kita.Ā  Itulah sebabnya sebuah start-up dengan jumlah pengguna yang jutaan dapat bernilai mahal meskipun penghasilannya minim.

logo insan music storeNah, berapa biaya untuk akuisisi pengguna ini? Saya ambil contoh kasus usaha toko musik digital Insan Music Store kami. Dalam kasus kami, pengguna ada dua jenis; (1) artis / musisi / band yang memproduksi lagu-lagu, danĀ  (2) pembeli lagu-lagu tersebut. Sebetulnya ada juga orang-orang yang hanya mengunjungi situs kami tetapi tidak membeli. Untuk yang ini saya tidak memasukkan dalam hitungan.

Untuk bergabung dengan Insan Music Store, artis / musisi / band tidak dipungut biaya. Hanya saja, sebelum kami dapat melakukan promosi dan jualan, kami harus menandatangani kontrak. Ada meterai yang harus dipasang; 2 x Rp. 6000,-. Kalau ditambah ongkos kertas dan tinta printer untuk mencetak kontrak tersebut, maka biaya untuk satu artis katakanlah Rp. 15000,-. Jadi biaya untuk akuisisi pengguna (cost per acquisition / CPA) kami adalah US$ 1,5.

Biaya ini terlihat kecil ya, tetapi kalau nantinya kami memiliki 10000 artis (atau lebih) maka tinggal kita kalikan saja dengan 1,5 dollar itu. Banyak juga ya?

ims terdaftar

UntukĀ  akuisisi pembeli lagu saat ini kami belum bisa menghitungnya karena gratis. Jadi, untuk yang ini anggap saja gratis. Padahal sesungguhnya kami harus menyiapkan server untuk database dari pengguna ini. Selain itu, kami melakukan promosi yang ada pengeluaran uangnya. Dugaan saya sih biayanya pukul rata akan sama seperti biaya untuk akuisisi artis tersebut, 15 ribu rupiah juga. Jika kami memiliki satu juta anggota pembeli, maka sesungguhnya biayanya adalah … 15 milyar! Nah lho. hi hi hi

Demikian cerita tentang entrepreneurship, start-up bisnis digital. Semoga bermanfaat.

Menjadi Pemimpin

Menjadi pemimpin itu ternyata tidak mudah. Salah satunya adalah harus membuat keputusan. Padahal seringkali sebuah keputusan tidak dapat menyenangkan semua pihak. Pasti saja ada yang tidak suka, atau bermasalah dengan keputusan tersebut. Agar tidak salah mengambil keputusan, perlu mendengarkan masukan dari berbagai pihak. Namun pada akhirnya, pemimpinlah yang mengambil keputusan. Sayang sekali banyak “pemimpin” yang berusaha menyenangkan semua pihak sehingga malah tidak mengambil keputusan. Ini bukan ciri pemimpin yang baik.

Kesalahan pengambilan keputusan merupakan tanggung jawab seorang pemimpin. Pekerjaan dapat didelegasikan kepada bawahan, tetapi tanggung jawab tetap pada sang pemimpin.

Menjadi pemimpin itu pasti akan dikritik karena tidak dapat menyenangkan semua pihak. Bahkan, kadang bukan sekedar kritik, cacian dan bahkan fitnah pun dilayangkan kepada sang pemimpin itu. Dibutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk menjadi pemimpin.

Dengan tugas dan tanggung jawab yang besar, mengapa masih banyak orang yang ingin jadi pemimpin ya?

Lupakan Penilaian Orang

Bolak-balik cari judul yang pas untuk tulisan ini, belum nemu juga. Akhirnya saya putuskan pakai judul ini saja.

Ceritanya begini. Ada banyak orang yang terlalu ketakutan ketika mengerjakan tugas (pekerjaannya). Dia takut dinilai buruk oleh atasannya atau orang lain. Atau berharap dapat pujian. Akhirnya banyak waktu dan pikiran yang habis hanya untuk memikirkan bagaimana penilaian orang terhadap kita. Takut gagal dan seterusnya.

Saya punya pendekatan lain. Ketika mengerjakan sebuah tugas atau pekerjaan, saya kerjakan dengan komitmen penuh. Seratus persen. Saya tidak terlalu peduli tentang penilaian orang – bahkan atasan – terhadap pekerjaan saya tersebut. Yang penting bagi saya adalah pekerjaan selesai dengan kualitas yang super bagus. Analogi lain adalah kalau saya diminta untuk memimpin rombongan (tentara, anak buah) dari satu tempat ke tempat lain, maka saya fokus kepada tugas itu. Bagaimana untuk mengantarkan mereka ke tempat tersebut dengan selamat. Mengenai apa kata orang, saya tidak terlalu peduli. Dengan cara ini, saya bisa fokus kepada tugas tersebut.

Jadi jangan bekerja karena ingin dipuji atau karena ingin terlihat lebih baik dari yang lain. Bekerja itu karena kita memang harus menyelesaikan tugas kita. Kalau kita dapat menyelesaikannya dengan baik, asyiiik. Great! Kalau kita agak gagal dalam menyelesaikannya (padahal kita sudah melakukannya sebaik mungkin), ya sudah. Terimalah. Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari kegagalan tersebut? Lain kali harus lebih baik.

Yang lebih asyik lagi adalah kalau pekerjaan atau tugas tersebut dapat kita buat menarik sehingga kita tambah senang mengerjakannya. Bagaimana cara agar kerja menyenangkan? Nah, itu sih topik lain kali. hi hi hi.

Mengajari Menulis

Topik presentasi Jum’atan saya kemarin adalah tentang “Tulis Menulis”. Tepatnya mengajari orang untuk menulis. (Materi presentasi saya bereskan dahulu baru kemudian akan saya buat online.)

Sebetulnya apa susahnya mengurutkan huruf-huruf untuk membuat kata? Kan tinggal secara acak saja memilih huruf dari 26 huruf yang tersedia. he he he. (Perlu dicoba nih buat kata-kata yang random.) Setelah jadi kata, tinggal gabung-gabungkan kata tersebut sehingga menjadi kalimat. Terus kalimat-kalimat digabung untuk menjadi paragraf. Jadilah tulisan.

Yang susah itu sebetulnya adalah membuat tulisan yang enak dibaca dan pesan yang ingin disampaikan juga sampai. Nah, ini tidak mudah. Yang ini perlu ilmu dan latihan. Berharap kita langsung bisa itu seperti berharap anak kecil langsung bisa berlari. Sebelum lari, ya merangkak dululah. Habis itu jalan dan kemudian lari.

Kalau dahulu ada banyak hambatan untuk berlatih. Sekarang, ada banyak media untuk melakukan itu. Ngeblog merupakan salah satu cara untuk belajar menulis. Itulah sebabnya saya ngeblog. Untuk belajar menulis.

a i u e o …

(oleh) Orang Indonesia Saja

Ada desas desus bahwa perusahaan BUMN boleh dipimpin oleh orang asing. Apa ya alasan utamanya?

Apa maksudnya kalau ada orang asing yang hebat dan mau digaji murah, boleh jadi pimpinan BUMN? (Harus ada klausul “mau digaji murah” dong. hi hi hi.) Mengapa tidak boleh? Kan jadi manfaat bagi BUMN-nya sendiri. Ada barang bagus, murah. Nah.

Atau, maksudnya memang tidak ada orang Indonesia yang kompeten? Lah kan ada banyak CEO-CEO yang jagoan di Indonesia ini. Saya pernah lihat halaman muka sebuah majalah bisnis yang bertajuk CEO handal Indonesia. Ambil saja salah satu dari mereka. Atau, dikompetisikan. Lomba CEO, begitu?

Atau, mungkin kalau dipimpin orang Indonesia terlalu banyak campur tangan dari kanan-kiri (umumnya keluarga) dan akhirnya jadi canggung (pekewuh)? Jadinya KKN gitu? Kalau dipimpin orang asing kan dia bisa cuek aja. he he he.

Sekarang kita serius dulu.
Kalau menurut saya sih sebaiknya BUMN Indonesia dipimpin oleh orang Indonesia saja. Ya kalau memang orang-orang Indonesia masih bodoh, ya tidak apa-apa. Kita ambil yang paling tidak bodohlah. Jadi tempat latihan. hi hi hi.
</serius off – cengengesan kembali>

Ya ampun. Ini postingan isinya pertanyaan melulu (dan ha ha ha hi hi hi). Namanya juga nebak-nebak. Itulah. Kalau mau tahu alasan sesungguhnya, tanya saja deh ke sumbernya. Tulisan ini hanya untuk cengengesan. Sekali-sekalilah ada cengengesan di blog ini.

Peran Bahasa Indonesia

Barusan membaca secara singkat tentang penelitian terkait dengan bahasa, yaitu bahasa mana yang dominan di dunia internet ini. Tentu saja yang paling dominan adalah bahasa Inggris. Pertanyaannya adalah setelah bahasa Inggris, bahasa apa? Kalau kita ingin belajar bahasa kedua, sebaiknya bahasa apa? [Silahkan baca di sini.]

Yang sedihnya adalah ternyata Bahasa Indonesia tidak termasuk bahasa yang dianggap penting. Setidaknya untuk dunia tulis menulis. Padahal jumlah orang Indonesia yang menggunakan internet sangat besar. Dugaan saya, jumlahnya sudah lebih dari 100 juta orang. Namun memang saya dapat mengerti peran 100 juta orang ini sangat sedikit dalam hal menyebarkan ide melalui tulisan. Orang Indonesia memang jarang membuat tulisan. Eh, ada … status di facebook dan twitter. hi hi hi.

Tulisan orang Indonesia kebanyakan ada di media tertutup dalam grup-grup seperti di WhatsApp, Telegram, BBM, Line, BeeTalk dan seterusnya. Yang begini memang sering tidak masuk hitungan dalam hal komunikasi ide. Seharusnya lebih banyak yang menulis di blog, tapi …

Ya begitulah …

Internetan di Singapura

Ini cerita tentang Internetan di Singapura lagi. Apa cara yang paling mudah dan murah untukĀ  internetan di Singapura?

Cara saya adalah dengan membeli kartu Starhub kemudian mengaktifkan paket internetan seminggu, 1 GB, Sing $7. Sebetulnya ada paket lain yang kurang dari seminggu tetapi menurut saya lebih murah pakai yang ini. Yang lain itu jumlah datanya kurang. hi hi hi.

Mungkin pola memakai internet saya (dan anak saya) yang cukup boros sehingga ternyata paket 1 GB itu habis kurang dalam 3 hari. he he he. Nah, bodohnya saya adalah saya tidak memeriksa sisa kuotanya sehingga begitu habis kuota maka dia akan menggerogoti pulsa. Habislah pulsa saya. Sing$ 10 habis. Uhuk. (Sama seperti operator di Indonesia. Uhuk.) Coba kalau diperpanjang, kan hanya butuh Sing$ 7. Masih sisa. Akhirnya saya beli lagi top up (voucher) card. Harganya Sing$ 18. Ampun. Kelalaian yang menghabiskan duit.

Sekarang saya mau internetan dulu ya. Ini juga diketik masih dalam perjalanan.

Buku Dan Perjalanan

Ternyata salah satu cara yang efektif untuk membaca buku adalah dalam perjalanan. Ada banyak buku yang belum berhasil saya baca. Seringkali buku bagus di depannya, kemudian mulai membosankan. Akibatnya buku tersebut berhenti dibaca. Yang seperti ini ada banyak di koleksi saya. Bingung saya, bagaimana menyelesaikannya. Eh, apa memang perlu diselesaikan? Kadang memang harus diselesaikan. Hanya saja saya harus mencari motivasi untuk menyelesaikannya.

Perjalanan sering memiliki jeda. Menunggu pesawat, kereta api, dan transportasi umum lainnya memberikan kesempatan kepada kita untuk membaca. Tentu saja, jeda waktu ini dapat disisi dengan … tidur. ha ha ha. Di dalam kendaraan juga memungkinkan kita untuk membaca. Itulah sebabnya saya lebih suka naik kereta api dibandingkan dengan naik mobil. Di kereta api saya dapat membaca buku.

Tulisan ini juga ditulis pada saat jeda di perjalanan. Ini ditulis di hotel. Mau baca buku lagi ah.