Bacaan S3 Saya

Barusan beberes ruang kerja. Ada setumpuk makalah (fotocopyan) di atas meja. Makalah-makalah ini membantu saya menyelesaikan studi S3 di Kanada. Ketika pulang, saya bawa. Kalau sekarang lucu sekali mau berat-berat membawa makalah-makalah ini. Ya perlu diingat masa itu internet belum sekencang sekarang. Mau cari ini dan itu masih susah.

Lagi mikir-mikir. Apa saya buang saja ya? Sudah saya lihat-lihat di internet dan ada softcopynya.

  1. John Rusby – Formal Methods and the Ceritification of Critical Systems
  2. Paolo Prinetto and Paolo Camuati (eds.) – Correct Hardware Design Methodologies, North Holland, 1991
  3. Aarti Gupta, Formal Hardware Verification Methods: a Survey, School of Computer Science, Carnegie Mellon University, 1992

Oh ya. Makalah-makalah ini pernah saya gunakan juga mengajar kuliah “Metoda Formal” di ITB. Sayangnya peminatnya makin lama makin sedikit sehingga akhirnya terpaksa ditutup.

Kembali ke pertanyaan saya, buang saja ya? Toh sudah ada versi digitalnya di internet.

Iklan

Menghindari Kepopuleran

Kalau orang buat perusahaan, produk, atau layanan biasanya dicari nama yang mudah dikenal. Semakin populer, semakin bagus. Kalau dicari (search) di internet, harus mudah dan harus muncul di bagian teratas. Itulah sebabnya ada kerjaan SEO (Search Engine Optimization).

Nah, sekarang saya mau cari yang sebaliknya. Misalnya, saya buat band, saya akan cari nama yang sulit dicari. Maksudnya sulit dicari adalah hasil search-nya tidak muncul seperti yang diharapkan. Sebagai contoh, kalau nama bandnya adalah “A” nanti kalau dicari di Google pakai kunci apa ya? Coba cek Google dengan kunci “A”. Apa hasilnya? hi hi hi. Macam-macam kan? Kalau namanya unik, malah dia akan mudah ditemukan. Ini justru cari yang tidak unik.

Pokoknya cari kata yang kalau dicari di google malah menghasilkan data banyak tetapi tidak terkait. hi hi hi. Apa ya?

(Belajar) Bertanya

Kebanyakan mahasiswa dari Asia (termasuk Indonesia) tidak banyak bertanya dalam kelas. Ketika guru atau dosen bertanya, “ada pertenyaan?”, maka hampir tidak ada yang bertanya. Justru setelah kelas selesai, kadang ada (maha)siswa yang datang mendekati sang guru untuk bertanya. Padahal pertanyaan yang diajukan seringkali merupakan pertanyaan siswa lainnya. hi hi hi.

Ada beberapa alasan ini terjadi. Pertama, karena malu. Malu dianggap bodoh. Padahal tidak tahu – koreksi, belum tahu – itu bukan berarti bodoh. Bertanya menjadi seperti aib. Akibatnya tidak berani bertanya. Kedua, boleh jadi karena tidak tahu apa yang mau ditanya. hi hi hi. Mungkin saking tidak tahunya, jadi semuanya mau ditanya tetapi kalau semuanya mau ditanyakan kan malah jadi aneh. Ketiga, takut dianggap sok tahu atau kemintar oleh kawan-kawannya. Jadi tidak berani bertanya.

Akibatnya, banyak orang yang tidak tahu cara bertanya. Bertanya itu juga sebuah keahlian (skill). Dia harus dipelajari dan diasah. Coba perhatikan, banyak orang Indonesia yang kalau bertanya terlalu banyak pendahuluannya. “Seperti kita ketahui … dan seterusnya, dan seterusnya”. Lima menit kemudian barulah muncul pertanyannya. hi hi hi.

Apakah ada pertanyaan yang bodoh? Tadinya saya pikir tidak ada. Eh, ternyata ada. Ini contohnya.

Pada sebuah segmen berita di TV tentang sebuah musibah, seorang wartawan bertanya kepada keluarga orang yang terkena musibah itu; “bagaimana perasaan Anda?”. Ini termasuk pertanyaan yang bodoh.

Sekarang, kemampuan menjawab pertanyaan kalah penting dengan kemampuan bertanya. Sudah ada mesin “Google” untuk menjawab semua pertanyaan. Mengenai jawabannya benar atau salah, itu lain cerita. hi hihi. Pokoknya ada saja jawabannya. Yang menjadi lebih penting adalah “apa yang akan ditanyakan”. Kemampuan bertanya menjadi kuncinya. Maka dari itu, pelajarilah cara bertanya dan latihlah.

Di sisi lain, ada orang yang (selalu) bertanya karena MALAS! Yang seperti ini mau diapakan ya? (Kalau di tempat kami, kalau bertanya karena malas … disuruh baca buku dulu. wk wk wk.)

Tanpa Perayaan Tahun Baru

Saya sudah terbiasa untuk tidak melakukan perayaan tahun baru. Bagi saya ini sama dengan hari libur lainnya saja. Jadi biasanya tahun baru ya tertidur seperti biasa. Kalaupun pas terbangun itu juga seperti terbangun biasa (karena tiba-tiba muncul ide di malam hari itu). Bagi banyak orang, terbangun malam hari dan melewati tengah malam untuk memasuki hari berikutnya bukanlah hal yang biasa. Jadi ini perlu dirayakan. hi hi hi. Bagi saya, ini sih sama dengan hari-hari biasa.

Bukan berarti saya anti perayaan tahun baru lho. Saya tidak anti. Hanya saja saya tidak melakukan perayaan tahun baru. Itu saja. (Bahkan perayaan ulang tahunpun kami tidak melakukan yang spektakuler. Paling-paling menu makanan lebih saja. Ataupun makan di luar pada kesempatan berikutnya, yang mana ini juga biasa juga. hi hi hi.) Setiap hari adalah perayaan.

Eh sebetulnya ada sebelnya juga dengan perayaan tahun baru, yaitu ada yang pasang petasan keras-keras sehingga menggangu tidur. Ini juga pas ngeblog ada suara petasan keras-keras. Grrr. Saya heran saja ada orang mau membakar uang begitu saja. Bukankah membeli petasan adalah sama dengan membakar uang?

Oh ya, kalau melewati pergantian hari itu membuat banyak orang menjadi gembira, maka saya usulkan agar lebih diperbanyak … begadang. ha ha ha.

Selamat tahun baru. Ngantuk. Zzz…

Ketersediaan SDM IT Indonesia

Salah satu komponen utama dalam bisnis teknologi informasi (IT) – dan bisnis apapun sebetulnya – adalah sumber daya manusia (SDM). Apa jumlah SDM tersebut mencukupi? Bagaimana dengan kualitasnya (dibandingkan dengan SDM dari negara lain)? Berapa gaji mereka? Bagaimana trend kebutuhan SDM IT (bidang apa saja; administrator sistem, jaringan, rekayasa perangkat lunak / pemrograman, database)? Ini adalah contoh pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan. Jawaban dari pertanyaan ini dibutuhkan jika kita ingin merencanakan sebuah pekerjaan (proyek). Selain itu, jawaban ini dibutuhkan juga untuk sekolah-sekolah yang terkait dengan program studi teknologi informasi; apakah perlu membuka program studi baru dan menutup yang lama, dan sebagainya.

Beberapa tahun yang lalu – saya lupa tepatnya, mungkin sekitar tahun 2000 atau 2003 – kami pernah membuat sebuah survey untuk Bandung High-Tech Valley (BHTV). Survey yang didukung oleh Deperindag (waktu itu Industri dan Perdagangan masih menjadi satu) kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku, Blue Book. Seharusnya survey yang sejenis dilakukan kembali. Mari?

Untuk sementara ini mari kita coba jawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan hitung-hitungan kasar. (Hitungan ini akan saya perbaiki sejalan dengan waktu dan ketersediaan data yang lebih baik. Hitungan yang lebih akurat nanti kita lakukan dengan menggunakan survey riil.)

Kita mulai dari sisi pendidikan formal dahulu. Perlu diingat bahwa banyak SDM IT yang tersedia tidak melalui pendidikan formal IT. Untuk mereka akan dibahas secara terpisah. Untuk pendidikan formalpun, kita batasi dahulu yang terkait dengan Teknik Elektro / Komputer, Informatika, dan Ilmu Komputer. Sebetulnya jurusan Teknik Fisika, Fisika, dan Matematika juga masih termasuk yang dapat menghasilkan SDM IT. (Pada kenyataannya ada juga lulusan dari Arsitek, Astronomi, Geologi yang akhirnya menjadi pekerja di dunia IT.) Mereka belum kita masukkan ke dalam hitungan. Anggap saja sebagai bonus 🙂

Pertanyaan pertama adalah ada berapa sekolah yang menghasilkan SDM IT di Indonesia? Berapa jumlah lulusan yang dihasilkan untuk setiap jenjangnya (S3, S2, S1, D4, D3, SMK) dalam satu tahun?

Bandung

Kita ambil contoh Bandung dahulu dan mulai dari  ITB. Prodi STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB menerima (sekitar) 300 mahasiswa STEI setiap tahunnya untuk program S1. Katakanlah sebagian besar lulus tepat waktunya sehingga ada 300 lulusan setiap tahunnya. (Kalaupun tidak tepat, toh ada lulusan tahun sebelum-sebelumnya juga sehingga dapat kita katakan sekitar angka itu kelulusannya. Nanti akan saya perbaiki lagi jika ada data yang lebih akurat.) Dari lulusan ini sebagian besar melanjutkan ke S2 dan S3. Ada yang ke luar negeri dan ada yang di dalam negeri. Dari segi bidang ilmu, berapa persen yang menggeluti IT-related? Saya ambil dugaan mengikuti hukum pareto saja ya.

  • IT: 80% dari 300 adalah 240 orang
  • non-IT: 20%

Pertanyaan selanjutnya adalah ada berapa persen yang tetap berkarya di bidang IT (dalam hal ini termasuk elektronika, telekomunikasi, tenaga listrik) dan berapa persen yang di non-IT (misal menjadi manager dari bank, migas, perdagangan umum, dan sebagainya – dalam kapasitas yang non-IT karena dalam perusahaan tersebutpun kerjaan merekapun masih bisa IT).

  • IT: ??%
  • non-IT: ??%

Ditambah dengan jurusan lain yang juga mengajarkan kuliah yang IT-related (seperti Teknik Fisika dan bahkan Fisika), katakanlah didapatkan 50 lulusan. Angka ini ditambahkan dengan 240 orang tadi sehingga menghasilkan 290 orang. Katakanlah mudahnya ada 300 orang S1 yang dapat bekerja di bidang IT.

Untuk yang S2, ada beberapa program S2 yang terkait dengan IT secara langsung seperti misalnya program S2 Chief Information Officer (CIO), Layanan Teknologi Informasi (LTI), Telekomunikasi, dan seterusnya. Total mahasiswa yang terkait ada lebih dari 100 orang.

Untuk mahasiswa S3 yang terkait dengan teknologi informasi, jumlahnya masih sangat minim. Mungkin jumlahnya masih belasan orang saja.

Hitungan kasar total ada sekitar 400 orang lulusan IT-related/tahun dari ITB. Sedikit ya?

Di Bandung, selain ITB ada perguruan tinggi lain yang juga menghasilkan lulusan IT, antara lain: Telkom University (dahulu IT Telkom atau STT Telkom), Unikom, Unpas, dan beberapa yang lainnya. (Jumlahnya ada berapa? Harus kita survey. Katakanlah ada 10.) Dari segi ukuran, mereka lebih besar dari ITB. Katakanlah setidaknya mereka sama dengan ITB.

Jumlah lulusan: 10 x 400 = 4000 lulusan S1/tahun. (Ini banyak atau tidak ya? Kalau dibandingkan dengan India, tentunya angka ini sangat kecil.)

Lulusan D3. Ada beberapa politeknik dan sekolahan yang menghasilkan D3 di bidang IT di Bandung, seperti antara lain Telkom University (dahulu Poltek Telkom), Polban, Politeknik Pos, …

Kota-kota lain

[Di sini kita coba cari data untuk Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Makasar]

[masih belum selesai ditulis]

Majalah Entrepreneurship

Beberes kamar. Bongkar-bongkar tumpukan buku, saya menemukan majalah “Enterprise SPARKS” dari NUS Enterprise. Majalah tipis ini membahas mengenai entrepreneurship. Menarik.

NUS entreprise sparks magazine-1 1000NUS entreprise sparks magazine-2 1000

Mari kita buat juga. Supaya entrepreneurship makin meningkat di Indonesia. Di majalah itu mungkin saya berminat untuk menjadi kontribusi penulis, bercerita tentang suka dukanya menjadi technopreneur.

SK (Dokumen) Elektronik

Baru saja saya membersihkan meja (dan sebagian lemari) yang isinya berbagai dokumen. Salah satu contoh adalah dokumen SK (Surat Keputusan) terkait dengan membimbing mahasiswa, menguji, dan tugas-tugas lainnya. SK / dokumen ini menyemak di meja dan lemari saya. Akhirnya saya putuskan untuk membuang mereka. Padahal seringkali dokumen-dokumen tersebut diperlukan untuk kenaikan pangkat dan lain-lain. (Itulah sebabnya pangkat saya macet tidak naik-naik. hi hi hi.)

Mengapa dokumen-dokumen seperti ini tidak dibuat dalam bentuk elektronik dan tersedia secara online? Padahal sekarang kan jamannya teknologi informasi. Aplikasi untuk itu tidak susah untuk dibuat. Manfaatnya adalah kita tidak perlu susah-susah untuk mengisi borang (form) ini dan itu. Semua data sudah tersedia.

Sekarang saya terpaksa membuang dokumen-dokumen tersebut. Sebagian sempat saya scan. Tetapi yang menjadi masalah adalah hasil scan tersebut mau saya simpan di mana? he he he. Ah kebanyakan “masalah”. Buang saja. Beres kan?