Kebahagiaan Itu Adalah …

Di halaman facebook saya, secara iseng saya menampilkan status berikut:

Mengapa masih mengukur kebahagiaan atau kesuksesan dengan uang? Sudah banyak riset dan fakta yang menunjukkan bukan itu.

Dan tentu saja banyak yang berkomentar. Banyak orang yang masih merasa yakin bahwa uang adalah alat ukur kebahagiaan. Semakin banyak uang, semakin bahagia kita. Terjadilah komentar setuju dan tidak setuju. (Bagaimana pendapat Anda?)

Saya termasuk yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu bukan uang. Ada banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang, contoh keluarga. Sebagai contoh, maukah Anda punya banyak uang tetapi tidak memiliki keluarga? Contoh lain adalah kesehatan.

Bukannya uang tidak penting. Penting. Ada semacam batas (threshold) bahwa uang itu penting, tetapi setelah melewati batas itu maka uang menjadi tidak penting lagi. Batasnya ini yang berbeda-beda.

Sebetulnya mengapa saya mengangkat topik ini? Kebetulan saya sedang membaca buku “Happy City: Transforming Our Lives Through Urban Design” karangan Charles Montgomery. Ini terkait dengan kebahagiaan. Sekalian saya sertakan videonya di TEDx Vancouver.

Selain itu saya juga melihat penduduk kota Bandung yang tingkat kebahagiaannya menaik sejak walikota kami, pak Ridwan Kamil, membenahi kota Bandung. Ada banyak taman yang direnovasi kembali. Bagus-bagus. Lucu juga, alun-alun yang dulunya kumuh sekarang menjadi ramai lagi dengan hanya meletakkan karpet rumput sintetis (seperti yang biasa dipakai untuk lapangan futsal) di lapangannya. Sekarang itu menjadi tempat keluarga berkumpul dan berfoto.

Seperti kata Charles Montgomery, “happy = social”. Kebahagiaan itu adalah fungsi dari interaksi sosial.

Update: Link terkait

Hari-hari Biasa

Mendekati akhir tahun banyak orang yang mulai bersemangat. Maksudnya semangat untuk buat acara ini dan itu. Saya? Biasa-biasa saja. Tidak ada rencana untuk acara. Seperti yang sudah-sudah, perubahan tahunpun dilewati dengan tidur. hi hi hi.

Mungkin saya termasuk orang yang biasa-biasa saja terhadap perubahan hari. Tidak perlu ada perayaan ini dan itu.

Setiap hari adalah hari biasa yang pantas kita syukuri.

Let’s celebrate, everyday. Lah? hi hi hi

Peneliti(an) di Indonesia

Banyak orang yang berkeluh kesah bahwa penelitian di Indonesia lebih “rendah” dibandingkan dengan negara-negara lain. Indikatornya adalah jumlah publikasi dari perguruan tinggi di Indonesia lebih sedikit dari perguruan tinggi di negara lain. Ya, itu fakta.

Ada banyak kendala terkait dengan penelitian di Indonesia. Saya sudah pernah membahasnya di blog ini. Tidak perlu saya ulangi bukan?

Hal lain yang membuat susahnya publikasi di Indonesia adalah kurangnya orang yang mau mereview makalah untuk berbagai jurnal. Kalau kita menulis makalah dan diterbitkan di sebuah jurnal, maka kita mendapat nilai (kum) dari makalah itu. Kalau kita mereview, tidak dapat apa-apa. ha ha ha. Oleh sebab itu sulit menemukan reviewer yang baik di Indonesia.

Oh ya, makalah kami baru saja secara resmi dipublikasikan. Untuk menambahkan publikasi orang Indonesia.

paper stegokripto

Budi Rahardjo, Kuspriyanto, Intsan Muchtadi-Alamsyah, Marisa W. Paryasto, “Information Concelment Through Noise Addition,” 2015. Dapat diunduh di: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877050915035577

Orang Hardware Bandung

Hari Senin lalu (tanggal 21 Desember 2015), secara spontan diadakan kumpul-kumpul orang-orang Bandung yang tertarik dengan hardware (perangkat keras). Kalau istilah yang keren sekarang adalah IoT (Internet of Things). Acara ini merupakan bagian dari Procodecg CodeMeetUp() yang biasa dilakukan setiap hari Senin siang.

Saya kumpulkan orang-orang hardware dari generasi lama (generasi saya) dan generasi baru. Tujuannya adalah agar saling mengenal dan melakukan mentoring atau transfer pengalaman dari yang tua ke yang muda. Contoh yang senior-senior antara lain Yana Raharja, Jeffrey Samosir, Ihsan Haryadi, Trio Adiono. Sampai saat ini mereka masih melakukan pengembangan produk hardware.

IMG_0021 hw

Dalam foto di atas, Yana sedang menjelaskan bagaimana memasarkan produk hardware. Jangan teknis, tetapi manfaat apa yang diperoleh dari produk tersebut.

Yang muda-muda lebih banyak lagi; Cybreed, Dycode, Labtek Indie, dan lain-lain. Mereka sudah dan baru memulai mengembangkan produk-produk. Ke depannya, merekalah yang mejadi ujung tombak pengembangan produk-produk hardware.

IMG_0019 hw

Dulu ada masanya saya merasa ilmu Elektro (Elektronika) akan mati. Maka perlu ditutup jurusan Teknik Elektro di berbagai universitas di dunia. Lebih banyak orang yang senang mengembangkan software, karena modalnya lebih murah. Tinggal pakai komputer. Kalau bereksperimen dengan hardware harus beli komponen. Kalau salah, ya harus beli komponen lagi. Adanya demam IoT membuat masa depan harware cerah kembali.

Pertemuan kali ini baru untuk saling mengenal. Akan ada pertemuan-pertemuan lagi. Siap-siap hadir ya.

Desain Masih di Kepala

Sebetulnya saya ingin menceritakan tentang masalah (program) yang saya hadapi, tetapi untuk menuliskannya saja membutuhkan banyak waktu. Ada banyak detail yang harus diuraikan untuk menghindari salah paham. Akhirnya selalu tidak sempat saya tuliskan dalam blog ini.

Singkatnya begini. Saya punya banyak makalah hasil tugas mahasiswa dalam bentuk elektronik (soft copy). Makalah-makalah tersebut ingin saya online-kan, lengkap beserta informasi mengenai nama pengarangnya (sang mahasiswa), judul makalahnya (dan kadang ada beberapa versi / revisi), dan link kepada makalahnya sendiri (yang boleh beberapa versi itu). Dahulu ini semua saya lakukan secara manual. Satu persatu. Maklum, dulu masih sedikit. Nah sekarang sudah lebih dari 1000 buah. Repot kalau dikerjakan satu persatu. Mau saya otomatisasikan. Inilah masalahnya.

Desain untuk hal ini sudah ada di kepala, tetapi untuk menuangkannya ke kertas masih belum sempat. Biasanya memang harus saya corat-coret di kertas juga sih. Ini belum sempat saja.

Kalau dalam kondisi sekarang, ya tulisan yang muncul hanya seperti ini dulu. Malah menimbulkan banyak tanda tanya, bukan?

Sepuluh Ribu Foto

Secara berkala saya mengambil foto dari iPhone saya ke komputer. Baru nanti di komputer dilakukan editing atau hanya sekedar disimpan (archive) saja. Selama ini penamaan foto digunakan nomor yang menaik secara berurutan.

Tadi baru sadar bahwa saya sudah memotret 10.000 foto! Nomor berkasnya sudah berubah dari IMG_9999 menjadi IMG_0001. Dan terus bertambah. Waw.

10000 foto

Kalau dibaca di tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya menganut teori yang menyatakan bahwa kalau seseorang itu mengerjakan sesuatu sudah 10.000 jam atau 10 tahun maka dia akan menjadi seorang yang cukup ahli di bidang tersebut. Nah, apakah teori ini dapat digeneralisir ke 10.000 jepretan? Saya kok merasa biasa-biasa saja. Tidak lebih ahli dalam memotret dengan menggunakan iPhone ini. hi hi hi. Yang pasti, disk saya jadi tambah penuh dengan adanya lebih dari 10.000 foto.

Terus belajar ah …

Mengukur Kekuatan Diri

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki kelebihan (kekuatan) dan kelemahan sendiri-sendiri. Berbeda. Itulah sebabnya kita akan sulit meniru orang lain. Kita harus menjadi diri kita sendiri.

Sebagai contoh, saya tahu ada orang yang jam tidurnya sangat sedikit. Mungkin 3 atau 4 jam sehari? Atau mungkin itu yang terlihat oleh saya ya? Sebetulnya boleh jadi dia juga tidur 6 sampai 8 jam sehari. Ah, tidak. Dia jarang tidur kok. Kalau saya tiru, bisa terkaparlah saya.

Sementara itu saya juga punya pola tidur (dan pola bekerja) yang berbeda juga. Yang ini kalau ditiru orang lain juga bisa jadi terkapar. he he he.

Contoh. Entah kenapa, biasanya saya ngeblog menjelang tengah malam. Seperti saat tulisan ini dibuat. Mungkin itu waktu saya kreatif? Atau mungkin juga karena sempatnya jam segitu. Sementara orang lain sudah terlelap dengan tidurnya. Kalau dibangunin untuk ngeblog, bisa-bisa kita dilempar sandal. he he he.

Dalam pola bekerja, saya seorang hyper-multi-tasker. Sementara itu saya sadar ada banyak orang yang single tasker. Atau ada yang mampu mengerjakan beberapa pekerjaan pada satu saat tetapi masih dalam skala dua atau tiga. Tidak apa-apa. Itu normal untuk mereka. Kalau coba-coba hyper-multi-tasking, bakalan bubar semua pekerjaan.

IMG_0003 coffee latte
[coffee latte menemani kerja]

Kembali ke poin saya, bahwa setiap orang harus mengukur kekuatan dirinya. Kemudian mengatakan TIDAK untuk hal-hal yang di luar kemampuannya. Ingat bahwa mengatakan TIDAK itu ternyata tidak mudah.

(Soal untuk belajar agar dapat lebih multi-tasking lain kali ya.)

Kenali diri Anda.

Tanpa Komitmen

Sering saya mengadakan acara karena ada orang-orang yang meminta. Pak, tolong adakan training ini dan itu. Okelah. Kemudian saya bersusah payang mencari pembicara (atau saya sendiri yang menyiapkan materi), mencari tempat, dan mengorganisir kegiatannya.

Setelah semua ini dilakukan, ternyata orang-orang yang meminta ini dan itu tidak hadir. Yaelah.

Yang lebih serunya lagi, mereka kemudian minta diadakan lagi. Hi hi hi. Entah hi-hi-nya ini harusnya lucu atau seram.

Memang susah mendapatkan komitmen dari orang-orang. Kebanyakan maunya sendiri. Suka-suka. Sesempatnya saja. Nah, ini juga terkait dengan kurang daya juang. Mau cari ilmu ya harus berjuang. Tidak dapat ilmu itu hadir dengan sendirinya.

Atau mungkin karena kebanyakan kegiatan yang saya adakan itu gratisan. Jadi tidak ada konsekuensinya atau kerugian kalau tidak datang. Padahal seringkali yang gratisan kualitasnya juga luar biasa. Tergantung kepada orang dan materinya sih.

Kalau bayar mungkin bisa lebih dapat komitmen? Hmmm …

Menjadi Lebih Pemalas

Kemudahan mencari dan mendapatkan informasi ternyata menghasilkan orang-orang yang lebih pemalas. Bahkan untuk sekedar mencaripun sudah malas. Maunya langsung tanya saja.

Banyak orang yang ingin tahu skedul saya atau kesibukan saya. Kalau jaman dahulu sih memang harus tanya-tanya terus. Sekarang? Tinggal lihat status facebook saya atau lihat twitter. Beres. Gampang. Bagi orang yang tidak malas. he he he.

Dalam diskusi tentang technopreneurship beberapa hari yang lalu, Jeffrey Samosir bercerita tentang sulitnya mendapat informasi tentang komponen tertentu di jaman dahulu. Harus mengirimkan surat ke pabrik komponen dan mendapatkan jawaban 1 atau 2 bulan kemudian. Bagaimana kalau salah komponen? Sekarang semuanya tinggal mencari di internet. Bukan hanya data komponen, tetapi juga contoh-contohnya.

Mungkin dulu karena terpaksa – alias kepepet – membuat orang harus lebih rajin dan lebih teliti. The power of “kepepet”. he he he.

Panduan Membuat Start-Up

Dalam start-up saat ini ada istilah MVP, minimum viable product, yang menyatakan sebuah produk siap untuk diluncurkan. Membuat buku ternyata juga sama.

Ada banyak draft buku yang saya buat. Sebagian besar sampai sekarang masih dalam status draft meskipun sudah bertahun-tahun. Alasannya adalah saya merasa buku-buku tersebut belum siap untuk diterbitkan.

Untuk kali ini, buku tentang Start-up, saya putuskan MVP-nya adalah yang sekarang. Selamat menikmati versi 0.8 ini.

Buku ini akan saya perbaharui secara berkala. Link dari buku yang terbaru akan saya pasang di sini.

Kembali Ke Mode Koding

Hari Sabtu yang baru lalu seharusnya saya ke Jakarta untuk sebuah rapat, tetapi tidak jadi karena malamnya saya merasa kurang enak badan. Hari Jum’atnya memang banyak pekerjaan sehingga saya benar-benar capek. Hari Sabtu itu pun saya seharusnya mengemudikan kendaraan sendiri ke Jakarta. Wah. Saya putuskan untuk batal ke Jakarta saja.

Di rumah, saya kembali melakukan pemrograman alias koding. (Ini terjemahan ngasal dari bahasa Inggris “coding”. he he he.) Kebetulan beberapa hari terakhir ini saya sedang membuat sebuah program (client-server) dengan menggunakan bahasa Python.

Salah satu kendala yang belum saya ketahui adalah platform yang akan digunakan; apakah Linux, Windows, atau Mac OS X. Jadi, ketika mengembangkan program tersebut terpaksa saya uji di ketiga sistem operasi tersebut. Maka inilah foto ketika melakukan pemrograman tersebut.

IMG_9944 coding

Ada 1 komputer desktop (menggunakan Linux Mint) dan 3 notebook yang masing-masing menggunakan sistem operasi Linux Ubuntu, Mac OS X, dan Microsoft Windows 10. Pemrograman dilakukan dengan menggunakan bahasa Python. Tidak menggunakan framework atau IDE tertentu. Semuanya dikerjakan dengan menggunakan editor “vi” saja. ha ha ha.

Hasil dari satu hari di rumah itu ternyata cukup produktif. Program beres. Tinggal merapikannya saja.

(Tulisan) Optimisme

Barusan tidak sengaja membaca berita ini. “Jokowi: Kita Perlu Tulisan yang Timbulkan Rasa Optimis“. Nah, ini adalah tema yang selalu saya bawakan di blog ini. Eh, jangan-jangan pak Jokowi baca blog ini. ha ha ha. Ke-GR-an.

Sebetulnya ada alasan saya mengambil tema positif dan optimis di blog ini. Salah satunya adalah karena saya anti-mainstream dan sebagian besar (hampir semua?) situs berita lebih suka memberitakan hal-hal yang negatif. Bad news sells. Demikian pula status orang kebanyakan isinya keluh kesah, umpatan, dan teman-temannya. Pokoknya yang negatiflah. Maka di sini adalah anti-nya.

Saya lebih banyak melihat acara tv yang positif; channel-channel dari BBC, National Geographic, dan sejenisnya. Mereka membuat kita menjadi lebih optimis dalam menghadapi dunia.

Nah, apakah dengan membaca ini Anda menjadi semakin optimis?

Prioritas Kerjaan

Saya termasuk orang yang multi-tasking. Malahan, hyper-multi-tasking person. Banyak kerjaan yang harus saya kerjaan pada satu saat. Tulisan ini juga diketik di sela-sela pekerjaan. Bagaimana saya memilih (prioritas) pekerjaan yang harus saya lakukan saat ini?

Apa yang saya lakukan sebetulnya ada teorinya, tetapi sesungguhnya saya tidak tahu teori itu. ha ha ha. Ternyata secara natural saya mengikuti teori itu.

Pada prinsipnya kita membagi mana pekerjaan yang “urgent” dan yang “tidak urgent”. Yang ini dikaitkan dengan waktu. Mana yang harus selesai sekarang juga dan mana yang “bisa agak sedikit molor”. Untuk memilah ini membutuhkan pengalaman juga karena semua pekerjaan maunya urgent. Semuanya harus selesai kemarin, bukan hari ini. he he he. Contoh hal yang urgen adalah misalnya naik transportasi umum yang ada jadwalnya dan di luar kendali kita. Lewat jadwal itu, ya lewat. Contoh lain adalah membuat materi presentasi untuk presentasi yang ada tanggalnya. Ya harus selesai sebelum presentasi dimulai. he he he.  Itu contoh sederhana. Selebihnya lebih susah dari itu karena sering abu-abu.

Kemudian kita mencari mana yang “penting” dan “tidak penting”. Yang ini berdasarkan isi / manfaat / content dari pekerjaan itu sendiri. Yan ini lebih susah lagi memilah-milahnya. Semua merasa penting. Aku penting. Aku juga lebih penting. Keplentingan

Setelah itu dimiliki, maka kita dapat menggambarkan keduanya dalam dua sumbu. Berikut ini adalah foto yang saya peroleh dari internet:

Urgent-vs-Important.indd

Nah urutan pekerjaan itu berdasarkan mana yang urgent dulu. Kalau dalam gambar di atas, yang nomor 1. Urgent dan Penting. Itu teorinya.

Repotnya adalah kita sering macet di situ saja. Tidak bergerak ke bagian nomor 2, “penting tapi tidak urgent”. Padahal, seperti namanya, mereka juga penting! Yang ini harus kita paksakan. Ambil sedikit-sedikit tugas (task) yang ada di nomor 2 itu. Curi-curi waktulah.

Begitu. Sekarang saya balik ke kerjaan lagi. Masih di nomor 1. Ugh.