Besok?

Programmer kalau sedang membuat program (koding) sering lupa waktu. Untungnya ada badan yang sering mengingatkan bahwa sudah lelah. Waktunya untuk istirahat. Tapi ada juga programmer yang nekad tetap bekerja dengan menggunakan minuman supplemen.

Semalam saya mau melanjutkan koding, tapi saya lihat sudah jam 1 malam. Lanjutkan besok saja. Eh, bukannya ini sudah besok? Bingung.

Kalau jam 1 malam itu apa tepat disebut “jam 1 malam” atau “jam 1 pagi” ya? Kalau melihat gelapnya, bisa disebut malam. Tapi, kan sudah lewat dari jam 12 – tengah malam. Jadi mestinya bisa disebut juga pagi. hi hi hi.

Kalau bahasa Inggris, ini tidak membingungkan karena ada “AM” dan “PM”. Dalam kasus saya, itu jam “1 AM”. Kalau yang siang, namanya jam “1 PM”. Tidak ada jam “1 morning”. he he he.

Nah soal “besok” itu juga bisa kita persoalkan. Ukuran besok kan hari. Nah kalah jam “1:00 AM” kan sudah beda hari (dari waktu mulai, sebelum jam 00:AM). Jadi semestinya bukan “besok”. Mestinya, dilanjutkan nanti. Gitu saja ya. he he he.

(Merasa) Lebih Berjasa

Mengapa banyak band bubar? Salah satu alasan adalah ada yang merasa lebih berjasa dibandingkan lainnya. Biasanya ini adalah front man, seperti misalnya penyanyi utama. Dia merasa lebih berjasa atau lebih penting dari lainnya sehingga merasa perlu mendapatkan perlakuan yang lebih dari yang lain.

Hal serupa juga terjadi dalam klub sepak bola. Biasanya penyerang atau striker merasa lebih berjasa dibandingkan barisan pertahanan. Ini juga bisa membuat team work menjadi kocar kacir.

Dalam organisasi dan kehidupan sehari-hari ini juga terjadi. Banyak contohnya. Apakah Anda mengalaminya? Boleh diceritakan.

Ketika Anda telah banyak berkarya, jangan lupa diri. Meskipun Anda yang paling berjasa, jangan pernah merasa Anda yang paling penting atau paling berjasa. Perlu dingat ada banyak pihak yang ikut membantu dalam kesuksesan Anda. Bahkan orang atau pihak yang dirasakan tidak terlalu penting ternyata ikut berperan juga.

Dalam contoh sepakbola, kalau tidak ada barisan pertahanan dan kiper, meskipun punya striker yang super jago  juga percuma. Eh, bahkan tukang cuci kaos tim juga boleh jadi ikut menentukan kesuksesan. Dalam contoh musik, roadies Рtim yang membantu urusan sound Рtidak terlihat tetapi mereka sangat menentukan dalam kesuksesan manggung.

Humility. Itu kata kuncinya.

Bagaimana Nasib Jurnal Lokal?

Baru-baru ini saya membaca tentang iming-iming duit (bahasa halusnya adalah “apresiasi”) bagi yang menulis di jurnal internasional. Tujuannya adalah agar meningkatkan jumlah publikasi peneliti Indonesia di jurnal internasional. Bagus sih. Memang tingkat kemajuan pendidikan dan penelitian sebuah negara salah satunya diukur dengan jumlah publikasi di jurnal internasional yang terakreditasi.

Namun bagi negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris ini menjadi masalah. Sebagian besar peneliti di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. Lantas apa kita tidak perlu ada jurnal dalam bahasa Indonesia yang berkualitas baik?

Kalau semuanya diarahkan untuk menulis dalam jurnal internasional, yang menggunakan bahasa Inggris, lantas apa jadinya jurnal lokal? Semakin terpuruk saja. Semakin tidak ada insentif untuk menulis di publikasi lokal.

Nampaknya kita harus membuat sebuah jurnal lokal yang berkualitas sehingga banyak orang yang mau mempublikasikan tulisannya dalam bahasa Indonesia. Menulis bukan untuk sekedar mendapatkan “kum” atau “rupiah”, tetapi karena memang mencintai ilmu dan teknologi. Berminat?

Insan Music Store

Sekedar update tentang toko musik digital kami, Insan Music Store. Sekarang kami sedang menjajagi kolaborasi dengan payment Mandiri e-cash agar rekan-rekan dapat membeli lagu secara lebih nyaman di web toko.insanmusic.com. Tunggu tanggal mainnya.

Sementara itu, tanggal 5 Desember 2015 ini kami akan berada di dekat Alun-alun Bandung, di Cikapundung. Bagi yang mau mengunjungi booth kami silahkan. Mulai dari sore sampai malam.

xbanner insan music

Improvisasi Presentasi

Salah satu aspek dari memberikan presentasi adalah improvisasi. he he he. Ini terjadi mana kala situasi membutuhkan aksi yang drastis.

Tadi pagi, saya memberikan presentasi di acara Big Data. Masalahnya adalah pergantian slide diatur oleh panitia. Biasanya saya mengganti slide sendiri sebagai bagian dari teknik presentasi saya. (Ini cerita lain, tapi bagi yang sudah pernah mendengarkan teknik presentasi saya tentu tahu trik itu.) Yang lebih “menarik” lagi adalah tim yang menggerakkan slide berada di bagian lain dari ruang presentasi. (Ceritanya alat sorot – mau disebut infocus kok nyebut merek – tidak jalan pas acara mau mulai. Panitia harus berimprovisasi.) Tambahan lebih menarik lagi tim ini tidak dapat mendengarkan suara presenter. Maka pusinglah sang presenter.

Setelah melihat situasi ini dan melihat beberapa usulan, saya mengusulkan kepada tim slide bahwa kalau saya mau memajukan slide maka saya menggerakkan tangan kanan saya seperti meng-slide (atau malah seperti melambaikan tangan). Kalau mau mundur slidenya, saya menggunakan tangan kiri. Tujuannya adalah tim slide bisa melihat gerakan saya dan tidak perlu mendengarkan apa kata saya, yang memang tidak dapat mereka dengar.

Sukses! hi hi hi. Memang presenter harus siap-siap dengan improvisasi.

Acaranya sendiri keren. Sayang sekali saya tidak sempat mengunjungi semua booth yang ada.

Bungkoos: tempat makan enak

Sudah lama saya tidak menulis tentang makanan. Nah, sekarang nulis lagi.

Untuk yang ingin beli handphone, komputer, atau gadget di Bandung, BEC (Bandung Electronic Mall) merupakan salah satu tempat yang paling banyak dipilih. Kiosnya banyak dan harganya juga lumayan.

BEC sekarang punya gedung baru, yang nyambung dengan gedung lamanya. Di tempat gedung baru ini masih banyak kios yang kosong. Yang menarik bagi saya adalah tempat makannya. Mau dicobain satu persatu ah. Maksudnya yang tempatnya tidak umum.

Ada satu tempat makan yang menarik. Namanya “Bungkoos”. Makanannya adalah makanan Melayu. Atau kalau bagi saya, makanannya berkesan Malaysia.¬† Pertama mencoba, rasanya kok enak. Kedua kali, masih enak. Tadi ketiga kalinya, juga enak. ha ha ha.

Menu yang paling saya suka adalah sate padang, prata, dan nasi lemak (dengan rendang). Yang lain belum dicoba, tapi saya yakin enak juga.

IMG_9874 bungkoos

Tempat Bungkoos ini yang agak susah dicari karena dia dekat dengan lift, di balik dinding. Dia tidak terlihat kalau kita berjalan di mall. Agak tersembunyi di lantai SL (Street Level). Sayang juga tidak strategis tempatnya. Jadi kalau mau ke tempat ini, Anda harus mencari.

Selamat makan …

Internet dan Pembelajaran

Saat ini banyak tuduhan bahwa internet, atau lebih tepatnya media sosial, lebih banyak memberi keburukan daripada kebaikan. Banyak orang menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting – dan bahkan negatif – di internet. Menggunjing, marah-marah, menipu, bullying, menyebarkan kebencian, dan masih banyak hal negatif lainnya.

Saya menggunakan internet untuk hal yang positif. Salah satunya untuk belajar. Yang saya maksudkan belajar di sini bukan hal yang formal seperti belajar di kelas, tetapi belajar untuk diri sendiri. Menambah ilmu dan wawasan.

YouTube merupakan salah satu tempat yang sering saya gunakan untuk belajar. Dengan YouTube saya dapat mendengarkan pengalaman dan pelajaran dari orang-orang yang sulit untuk dicapai dengan metoda konvensional. Misalnya, jika saya harus belajar ke seorang pakar di Amerika dengan cara konvensional (bertemu secara fisik) berapa biayanya dan kapan?

Pagi ini saya belajar tentang musik dari Nile Rodgers melalui wawancaranya yang ditayangkan di YouTube. Ini dia. Keren amat.

Ilmu, setidaknya wawasan, saya bertambah setelah melihat video tersebut. Terima kasih internet. Terima kasih YouTube.

Oh ya, jika mau belajar ilmu yang lebih “konvensional” ada juga yang keren. Ini dia kuliah dari Walter Lewin; “For the Love of Physics”. Selamat belajar.

Sukses Dan Kerja Keras

Ada orang yang bertanya bagaimana saya sampai kepada posisi sekarang (dalam artian “sukses” – meski secara terbatas). Jawabannya adalah kerja keras. Meskipun ada yang berkata seharusnya kerja cerdas (smart) bukan keras (hard work), saya masih tetap berpendapat bahwa kerja keraslah yang lebih menentukan.

Dalam banyak hal saya terus belajar dan pantang menyerah, baik di bidang pendidikan, bisnis, musik, olah raga, dan lain-lain. Banyak orang yang menyerah karena berbagai alasan, antara lain:

  • capek, lelah (padahal saya juga sama);
  • orang lain kerjanya lebih santai dari saya (saya tidak pernah membanding-bandingkan diri dengan orang lain, tidak ada tempat iri hati. biar saja mereka santai dan terlihat lebih sukses. mereka bukan saya);
  • bosan;
  • dan segudang alasan lainnya.

Mau tahu kesuksesan band the Beatles? Mereka kerja keras. Ada suatu masa yang mana mereka manggung lebih dari 160 kali dalam satu tahun. Artinya, setiap dua hari sekali mereka manggung. Terus menerus dalam satu tahun. Saya yakin sebagian besar orang sudah menyerah.

Dalam belajar, saya hadir mendengarkan orang bercerita (presentasi) tentang bidangnya. Pendengar yang hadir kadang banyak, kadang hanya 3 orang (dimana saya salah satunya – ha ha ha). Banyak orang yang (katanya) mau pinter, hanya sekedar hadir saja untuk mendengarkan sudah tidak mau. Apalagi kalau disuruh baca buku! Yakin gak bakalan dilakukan.

Sementara itu juga saya baca buku. Banyak buku yang sudah saya baca. Dan tentunya masih lebih banyak lagi yang belum sempat saya baca. Selain membaca, saya juga harus mencoba. Bereksperimen. Ini juga membutuhkan waktu.

Dalam olah raga, saya berlatih futsal secara rutin. Dua kali seminggu. Entah sudah berapa tahun terakhir. (Lima? Tujuh tahun?) Sementara ada orang yang kadang hadir, kadang tidak. Malah lebih banyak tidaknya. Memang untuk hadir ke lapangan membutuhkan usaha dan lebih banyak keteguhan hati. Hujan. Jalan macet. Pekerjaan. Segudang alasan untuk membuat kita tidak hadir.

Dalam musik juga demikian. Saya berlatih dengan teman-teman secara rutin. Meskipun saya masih jauh dari dikatakan “bisa”, saya masih terus berlatih. Kadang berlatih sampai malam. Kadang harus menembus hujan sambil membawa dua gitar dan dua ransel dari tempat parkir mobil (yang kadang jauh) ke studio. Saya yakin kebanyakan orang memilih untuk tidur. (Atau menghabiskan waktu di media sosial sambil entah ngapain.)

Dalam bisnis dan bekerja juga sama saja. Kadang orang hanya melihat hasilnya tanpa mau tahu kerja kerasnya. Banyak buku yang saya baca, diskusi, dan juga langsung menjalankannya. Lengkap dengan kesalahan-kesalahan yang terjadi. Semua harus dilalui. Memang ada sih orang-orang yang tiba-tiba ingin jadi bos perusahaan. Yang karbitan seperti ini biasanya lebih sulit untuk sukses.

Dalam hal menulis. Ah, lihat saja blog ini. Tidak perlu saya berpanjang lebar. Lihat saja sejak kapan saya menulis dan sudah berapa banyak tulisan yang saya buat. Kalau dibukukan, sudah lebih dari 4000 halaman. Jadi ensiklopedia kali ya? hi hi hi. Untuk menulis sebanyak ini seringkali saya harus melakukannya di tengah malam. Mungkin mood yang menyebabkan demikian. Banyak orang yang ingin blognya banyak dikunjungi tapi tidak mau kerja keras menulis. Maunya instan juga. Lah?

Kadang untuk menyemangati saya melihat film-film atau cerita-cerita orang yang kerjanya lebih keras dari saya. Saya bukan apa-apa dibandingkan dengan mereka.

Kembali ke topik utama, kerja keras. Jangan menyerah. Jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih santai. Jangan iri hati. Nikmati kerja keras ini. Sukses akan hadir.

Keaslian Dokumen Digital

Tadi siang saya mempresentasikan materi tentang “Keaslian Dokumen Digital” di Bapusipda, Jawa Barat. Materi saya terkait sisi teknis dari bagaimana menjaga keaslian dokumen digital. (Ini terkait dengan Arsip Elektronik, yang nantinya dikelola oleh Arsip Nasional.)

keaslian dokumen digital

Dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk mengajari tentang hal ini. Bahwa sesungguhnya secara teknis kita dapat membedakan dokumen. Kita juga dapat menyatakan mana dokumen yang asli dan mana yang kw (he he he). Untuk mengajari tentang digital signature saja membutuhkan waktu 9 tahun (dari tahun 1999 sampai UU ITE keluar tahun 2008). Sabar.

Materi presentasi nanti akan saya upload. Sekarang ngaso dulu ah.

Materi tersedia di sini (slideshare).

e-Commerce Untuk UMKM

Hari Senin lalu, saya mengadakan acara Focus Group Discussion (FGD) tentang pemanfaatan e-commerce untuk UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Inti topik yang dibahas adalah apakah memang UMKM dapat memanfaatkan e-commerce?

Pemanfaatan teknologi informasi dalam bentuk e-commerce diaulat dapat meningkatkan jumlah transaksi perdagangan. Untuk perusahaan besar, hal ini dapat dimengerti. Namun, bagi UMKM ini masih dipertanyakan. Ada beberapa masalah.

Pertama, UMKM memliki sumber daya manusia (SDM) yang sedikit. SDM ini juga biasanya difokuskan untuk membuat produk, bukan untuk mengelola sistem e-commerce. Penguasaan teknis dari SDM ini juga terbatas.

Kedua, lokasi UMKM juga menentukan ketersediaan infrastruktur IT. Bayangkan UMKM yang berada di desa terpencil. Jangankan untuk e-commerce, listrik juga mungkin terbatas. Telekomunikasi juga mungkin belum menjangkau.

Selain itu sistem e-commerce yang ada saat ini mungkin harus dipermak sehingga sesuai dengan kebutuhan dan kondisi UMKM. Sebagai contoh, UMKM biasanya tidak memiliki sistem inventory yang dapat dihubungkan dengan sistem e-commerce. Sistem pembayaran non-tunai juga biasanya terbatas pada transfer bank.

Ah, masih banyak tantangan yang harus dipecahkan agar e-commerce dapat dimanfaatkan lebih maksimal oleh UMKM.

Meski Mataku Tidak Biru

Saya orang Indonesia asli. Tulen. Lahir di Indonesia dari orang tua yang Indonesia juga. Mataku tidak biru. (Warnanya apa ya? Cokelat, mungkin.) Tetapi mengapa saya merasa lebih mudah berkomunikasi dalam bahasa Inggris?

Tulisan ini sebetulnya bermula dari kegalauan saya. Pertama, saya sebetulnya tidak terlalu suka kepada orang yang mencampuradukkan bahasa dalam bicara. Terutama bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kadang saya merasa orang yang melakukan itu ingin sok-sokan. Ternyata, saya pun kadang melakukan demikian. Hayah.

Kedua, ada kritikan mengapa saya lebih menyukai bacaan berbahasa Inggris daripada yang berbahasa Indonesia. Bahkan, saya tidak bisa membaca buku dalam bahasa Indonesia. Bagi saya lebih mudah membaca buku dalam bahasa Inggris. Mengapa saya banyak mendengarkan musik Barat? Mengapa saya lebih banyak melihat acara TV Barat? (Yang ini bahkan ekstrimnya, saya jarang melihat acara TV lokal. Sinetron lokal? Apa lagi. Tidak.) Kritikan terhadap poin ini adalah, saya ke-Barat-Barat-an. Mengapa kamu demikian? Matamu tidak biru.

Saya mencoba mencari jawaban terhadap hal ini. Mungkin perjalanan hidup saya yang membuat saya demikian.

Sejak kecil, saya sudah dikursuskan bahasa Inggris. Ini jaman dahulu lho. Tujuannya ya supaya bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bukan untuk keren-kerenan dapat sertifikat atau apa. Ini serius belajar. Maka, kelas 6 SD sebetulnya saya sudah menguasai bahasa Inggris secara umum. Bisa baca dan tulis. Tapi banyak orang Indonesia yang juga melakukan hal ini. Tidak aneh.

Di rumah kami ada radio kuno yang dapat mendengarkan radio luar negeri melakui frekuensi SW (short wave). Radio Australia, misalnya, bisa kami dengarkan. Maka saya mendengarkan American Top 40 (dengan Casey Kasem) dari situ. Nah ini sedikit banyak membuka pemahaman kultur asing. Bahasa Inggris saya juga naik pesat karena banyak mendengarkan orang berbicara dalam bahasa Inggris.

Selain itu di rumah saya selalu ada saudara yang kuliah di perguruan tinggi, notabene ITB dan UNPAD. Mereka memperkenalkan saya kepada musik berjenis progressive rock (Genesis, Yes, Pink Floyd, Gentle Giant, dan seterusnya) dan classic rock. Bertahun-tahun mendengarkan musik jenis ini, maka ketika saya SMP pun saya sudah mulai menyukai jenis musik ini. Ketika mendengarkan musik inipun saya mencoba memahami bahasanya.

Setelah lulus dari ITB, saya berkesempatan untuk melanjutkan S2 dan S3 di Kanada. Hampir 11 tahun saya di sana. Ketika di Kanada, awalnya saya tinggal di asrama mahasiswa (dorm) di kampus. Ini juga membuka wawasan saya tentang budaya Barat. Di asrama itu saya tidak memiliki TV. Jadi saya ikut nonton TV di basement, yang notabene kadang memutar film sitcom (tahun 80-an seperti Family Ties, Night Court, Cheers, Three’s Company, Golden Girls, dan masih banyak lainnya) dan talk show (Johnny Carson, David Letterman, dan seterusnya). Maka semakin paham saya akan budaya Barat (notabene North American). Saya punya teori bahwa untuk memahami sebuah bahasa atau budaya, cara paling cepat adalah melalui lawakan. Jika Anda bisa tertawa dalam bahasa itu, maka sesungguhnya Anda sudah mengerti bahasa itu.

Mungkin ini semua yang menyebabkan saya menjadi Westernized. Itulah yang menyebabkan saya lebih mudah mengerti pesan-pesan yang disampaikan dalam tulisan berbahasa Inggris meskipun mata kami tidak biru. Itu pulalah yang membuat saya lebih menyukai musik Barat dan film Barat.

Maafkan kami.

Ketinggalan Charger

Kemarin berangkat kerja baru sadar bawah charger Macbook ketinggalan. Mana pas dicek, Macbooknya juga batrenya tinggal sedikit. Maklum, weekend kemarin ke luar kota sehingga Macbook tidak digunakan (dan tidak dicharge). Charger tergeletak di ruang kerja setelah digunakan pada saat rapat hari Jum’at. Tadinya saya berharap ada yang bawa charger Macbook, tetapi nampaknya yang datang ke pertemuan penelitian membawa notebook non-Mac. hi hi hi.

Hasilnya? Kemarin saya tidak bisa online. Semua kerjaan saya catat di buku konvensional saja. Untung saya bawa buku catatan ini. Sudah jadi kebiasaan. Sebetulnya juga lebih enak orat-oret di buku kertas, tetapi hasilnya tidak bisa langsung terlihat online.

Kejar Tayang Semua

Akhir tahun adalah waktunya kejar tayang. Semua pekerjaan harus selesai. Budget juga harus diserap. Akibatnya tambah banyak pekerjaan dadakan. Woot. Ada terlalu banyak tawaran (dan bahkan paksaan) untuk pekerjaan-pekerjaan. Masalahnya, waktu tetap 24 jam. Jadi mohon maaf kalau saya menolak.

Saya pun sebenarnya dikejar-kejar pekerjaan yang harus kejar tayang juga. ha ha ha. Sami mawon. (Tanda-tandanya sudah terlihat dari kegagalan ngeblog nih. Harusnya tiap hari ngeblog. Ini sudah 5 hari belum ngeblog. Tapi alasan kemarin kan masih valid, sakit. Sekarang sudah jauh lebih baik.)

Tak ada pilihan lain selain semangat. Ayo kita selesaikan pekerjaan-pekerjaan kita semua.

Panas

Ini bukan tentang cuaca, meskipun mungkin ada hubungannya. Ini tentang badan saya.

Hari Rabu dan Kamis, badan saya pansa. Demam. Saya menduga ini akibat cuaca. Sebetulnya ada alasan yang lebih masuk akal. Selasa malam saya ikut tanding futsal. Pas mau ke lapangan, hujan lebat. Sampai di lapangan hujan tinggal rintik-rintik tapi masih ada angin dinginnya. Nah, saya sudah berpakaian futsal main di lapangan terbuka. Selesai futsal mendekati pukul 9 malam. Baju agak basah karena keringat dan saya langsung pulang tanpa mengganti dengan baju yang kering. Ini dugaan saya penyebabnya.

Hari Rabu saya masih beraktivitas dan bahkan masih menyempatkan untuk ikut bermain futsal. Meskipun di tengah-tengah permainan saya menyerah dan akhirnya duduk saja.

Hari Kamis yang lebih dahsyat lagi karena saya harus ke Jakarta. Saya nyupir sendiri lepas Subuh. Badan masih nggreges2. Sesampainya di Jakarta saya terpaksa tidur sejenak dulu di mobil karena tidak kuat. Setelah kuat dilanjutkan dengan shooting untuk IndonesiaX. Setelah shooting masih ada dua meeting lagi. Setelah meeting yang terakhir, yaitu mahasiswa S3 yang membutuhkan opini saya, saya tidak kuat. Minta diantar mahasiswa yang mewawancara saya ke hotel. Sampai ke hotel langsung saya terkapar. Baru bisa bangun setelah lewat tengah malam.

Jum’at pagi badan sudah lumayan lebih baik. Setidaknya saya tidak panas lagi. Saya mengemudikan mobil lagi kembali ke Bandung. Alhamdulillah lancar. Siangnya, menutup acara training dan meeting.

Sabtu pagi – tadi pagi – badan sudah lumayan lebih segar. Langsung manggung jreng! Semoga besok lebih sehat lagi. Soalnya besok manggung lagi. Jreng!