Sederhanakan!

Zen: the art of simplicity

Entah kenapa, saya selalu mencoba untuk membuat yang kompleks menjadi lebih sederhana. Menjadi lebih mudah dimengerti. Ternyata menyederhanakan masalah itu tidak sederhana. (Rekursif?)

Problem utama dalam menyederhanakan masalah adalah membuatnya tidak menjadi “cemen” (watered down). Masalah tetap menjadi masalah, tetapi lebih mudah dimengerti. Masih masalah. Ya ampun. Kenapa jadi susah begini untuk mencoba menyampaikan penyederhanaan. Ironis ya? Mari kita ambil contoh.

Rumus yang dibuat Einstein ini; E = mc^2  (lebih baik lihat gambar di bawah ini).

emc2

Rumusnya keren kan? Meskipun kita tidak mengerti, tidak apa-apa. Rumus itu demikian sederhananya sehingga kita mudah menghafalnya (dan mudah mengertinya?), meskipun saya yakin di dalamnya sangat kompleks. Itu yang saya sebut menyederhanakan dengan sempurna. Bandingkan dengan persamaan Schrödinger di bawah ini.

schro

Eh, mungkin juga persamaan Schrödinger itu sederhana ya? Hanya saja saya yang tidak mengerti. Sebetulnya masih ada contoh-contoh persamaan lain yang juga rumit, tapi nanti kalau saya tampilkan malah poin utama saya tidak sampai. (Maxwell anybody?)

Kembali ke persoalan menyederhanakan masalah. Dua contoh di atas mudah-mudahan dapat menunjukkan bahwa sederhana itu bagus. Elegan. Lebih mudah dimengerti, meskipun proses untuk membuatnya tidak mudah.

Even if something looks effortlessly simple, it likely took a great deal of effort to reach such a state.

Sisi lain dari menyederhanakan masalah adalah kita dituduh tidak mengerti. Hi hi hi. Sering sekali saya mendapat tuduhan seperti itu. Padahal untuk membuatnya menjadi lebih sederhana itu kita harus mengerti secara mendalam (sehingga dapat mengerti bagian-bagian mana yang dapat dihapus tanpa mengurangi maknanya).

pak, kalau Sederhana … itu nama restoran

hayah …

Iklan

Jokowi dan 2019

Sesekali saya menemukan tulisan atau pertanyaan tentang bagaimana kans Jokowi menjadi presiden kembali di tahun 2019. Jawabannya tentu saja bergantung kepada siapa yang ditanya. ha ha ha. Secara, Indonesia begitu lho. Menjawab tanpa data. Itu yang pertama. Yang kedua adalah, mengapa sih tahun 2019 diributkan? Ini saja baru masuk ke tahun 2018. Bukannya lebih baik memikirkan tahun 2018? Tapi baiklah. Saya akan coba membuat opini saya. Tentu saja opini ini datang dari pengamat yang bukan bergerak di bidang ilmu Politik. Take it with a grain of salt.

Kalau saya ditanya tentang peluang Jokowi terpilih kembali pada tahun 2019 dengan kondisi saat ini, maka jawaban saya adalah bakal gagal. (Sebelum saya dituduh ini dan itu, saya sampaikan dahulu bahwa saya termasuk yang mendukung Jokowi menjadi presiden. Nah.) Lho?

Mengapa kok tidak bisa terpilih kembali? Bukankah sekarang ada kemajuan di banyak hal, khususnya di bidang infrastruktur? Jawaban saya adalah justru itu masalahnya! Maksudnya bagaimana sih?

Begini, infrastruktur di banyak tempat di Indonesia ini – khususnya di luar pulau Jawa – banyak yang terabaikan. Sekarang ada banyak pembangunan di sana sini sehingga luar pulau Jawa tidak lagi “dianaktirikan”. (To Do: data dan statistik tentang berbagai pembangunan tersebut perlu ditautkan di sini.) Permasalahannya adalah pembangunan ini membutuhkan dana yang luar biasa. Pasti menyedot banyak kas negara. Akibatnya semua warga negara harus memikul biaya ini.

Masalahnya adalah tidak semua orang Indonesia – khususnya yang berada di pulau Jawa – mau berbagi dengan penduduk di luar pulau Jawa. Mereka akan memikirkan dirinya sendiri. Sebagai contoh, ada perbandingan tentang harga bensin sekarang dan beberapa tahun yang lalu. Jika kita melihat harga di pulau Jawa, maka bisa dilihat bahwa harga naik. Tetapi kalau dilihat harga di Papua, misalnya, akan terlihat turun. Bagi orang yang berada di pulau Jawa – yang vokal dan jumlahnya banyak – peduli amat dengan Papua. Harga apa lagi yang dapat diperbandingkan ya? [Ada beberapa meme yang sudah beredar. Seperti misalnya “penak jamanku toh?”]

Penduduk Indonesia masih terfokus di pulau Jawa. Pemilupun akan didominasi dari suara di pulau Jawa. Dimana-mana juga, tempat yang populasinya padatlah yang menentukan hasil pemilihan suara. Itulah sebabnya jika masalah persepsi ini tidak ditangani, maka kans Jokowi di 2019 akan kecil.

Subsidi dikurangi. Selain BBM, biaya listrik contohnya. Bagi masyarakat yang sudah biasa ngempeng,  ini merupakan pukulan. Mereka masih tetap ingin seperti bayi. Tidak ingin dewasa kalau dilihat dari soal subsidi ini. Maka persepsi semuanya menjadi mahal menjadi bertambah. Padahal mereka tidak melihat perbaikan infrastruktur dan kemudahan-kemudahan yang sekarang mereka peroleh. Growing up is never easy.

Intinya: persepsi masalah ekonomi yang dilihat oleh penduduk pulau Jawa.

Oh ya, sekalian untuk pak Jokowi. Jangan hanya bangun infrastuktur saja pak. Suprastruktur juga harus dibenahi. Tapi yang lebih penting adalah manusianya yang harus dibenahi. (Apakah “Revolusi Mental” masih berjalan?) Banyak inisiatif yang “merendahkan” kemampuan manusia Indonesia. Patronizing. Semua harus disuapi. Dan sejenisnya. Yang ini tentu saja lebih susah dibenahi daripada infrastruktur fisik. Tapi, masalah infrastruktur yang sulit juga bisa dibenahi mengapa yang ini juga tidak dicoba?

Kembali ke soal pembangunan infrastruktur, siapa “Bapak Pembangunan” Indonesia? Yep. Itulah sebabnyak banyak orang yang khawatir pak Jokowi akan menjadi “Bapak Pembangunan Kedua”. Seingat saya ada karikatur yang dibuat oleh Kompas atau Tempo ya yang menampilkan hal ini? (Karikatur yang sama sempat saya lihat di sebuah presentasi tentang politik Indonesia di sebuah seminar di Australia.)

[Tulisan ini sudah lama ingin saya buat tetapi selalu tidak jadi saya lakukan karena saya membutuhkan data yang lebih banyak. Namun data tersebut tidak kunjung saya cari. ha ha ha. Akibatnya tidak jadi ditulis terus. Lha kapan jadinya. Ya sudah. Saya buat versi ini dulu yang nanti akan saya perbaharui dengan data dan analisis yang lebih baik. Oh ya, ini bukan parodi. Ini opini. Just in case you are wondering.]

Berkomentar

Sejalan dengan makin diterimanya sistem elektronik (blog, media sosial, dan sejenisnya) dalam berdialog, berkomentar atau mengomentari komentar-komentar lainnya (apa sih ini … hi hi hi) sudah menjadi kebiasaan. Nah, sebelum menjadi kebiasaan yang buruk, mari kita belajar untuk membuatnya menjadi yang baik.

Satu hal yang sering mengganggu bagi saya adalah adanya orang yang asal berkomentar tanpa memperhatikan yang dia komentari. (Mumet?) Contohnya begini, ada sebuah dikusi tentang teori relativitas dan kemudian ada komentar dari Einstein. (Iya, Einstein sudah tiada. Ini kan hanya contoh. Contoooohhhh ya.) Setelah itu ada orang yang komentar ngasal. Yang lebih “mengerikan” (lucu?) adalah sang komentator ini kemudian menyarankan Einstein untuk belajar Fisika dulu. “Makanya, belajar Fisika dulu bro“. Pakai “bro” pula. ha ha ha. Dia tidak tahu dan TIDAK MAU MENCARI TAHU bahwa lawan bicaranya adalah Einstein.

Di zaman internet saat ini, untuk mencari tahu tentang seseorang itu sangat mudah sekali. Ada Google (dan kawan-kawannya). Klik sedikit maka kita tahu bahwa Einstein itu paham soal Fisika. Masalahnya adalah mau atau tidak maunya.

make-a-comment-like-a-boss-done

Oh ya, saya pun beberapa kali pernah di-masbro-kan seperti contoh Einstein di atas (untuk bidang yang berbeda). Ha ha ha. (Bidang apa? Ya tinggal dicari sebagaimana dicontohkan tadi.)

Inti yang ingin saya sampaikan adalah ketika kita akan memberikan komentar maka ketahui dahulu lawan bicara kita. Itu saja.

Campur Aduk

Sebetulnya banyak yang ingin saya tulis, tetapi semuanya campur aduk di kepala ini. Biasanya saya corat-coret dulu di kertas – seperti ToDo List – baru kemudian saya pilih yang mana yang mau saya tuliskan dulu (dan yang lainnya akan terlupakan). Saya coba untuk langsung menuliskan di blog ini, tapi selalu tidak berhasil. Masalahnya ketika menuliskan di blog ini ada semacam “standar kualitas” yang ingin saya terapkan. Kalau terlalu ngaco nanti orang-orang malah pusing. Sementara itu kalau saya corat-coret di kertas, yang mana hanya saya sendiri yang akan melihatnya, maka saya bisa suka-suka. Lagian kertas lebih mudah dicorat-coret secara ngasal. (Sudah pernah juga nyoba pakai iPad tapi gak jalan juga.)

Lihatlah tulisan ini yang gak karuan. Inilah akibatnya kalau saya tidak membuat coretan di kertas dahulu. Ngasal weh.

Waktunya corat-coret dulu. Eh, tapi ini meja sudah penuh dengan berbagai hal. Harus dibersihkan dulu gitu?

DSC_0314 desk_0001

Kemampuan Memahami Manusia

Sekarang sedang ramainya dibicarakan tentang Artificial Intelligence (AI) yang dimiliki oleh mesin atau komputer, tetapi tulisan ini malah akan membahas ke-tidak-mampuan manusia dalam memahami manusia lainnya. Manusia adalah makhluk yang berkomunikasi dengan manusia lainnya. (Eh, mungkin dengan non-manusia juga.) Namun kemampuan berkomunikasi ini tidak diajarkan. Seolah-oleh dia akan dimiliki secara otomatis. Berkomunikasi harus memahami lawan komunikasinya.

Masalah yang ada di lingkungan kita hari ini banyak yang berakar dari ketidakmampuan manusia untuk memahami manusia lainnya. Entah tidak mampu atau tidak peduli alias egois. Saya anggap tidak mampu, karena saya masih berasumsi baik. Contoh yang paling ekstrim adalah komunikasi di dunia siber, seperti di jejaring sosial. Banyak salah pengertian. Di jalan raya juga banyak kecelakaan yang terjadi karena pengemudi saling salah pengertian. (Itulah sebabnya anak-anak dilarang mengendarai motor karena kemampuan memahami pengendara yang lain dan memprediksi apa yang akan dilakukan oleh pengendara lain tersebut sangat minim atau belum ada.)

Di dunia nyata, ketika kita berbicara dengan seseorang maka kita dapat melihat gesture dari lawan bicara kita. Kita dapat melihat apakah dia bingung, marah, senang, sedih, bisan, dan seterusnya. Ketika kita berkata sesuatu dan lawan bicara kita melotot maka kita dapat langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dari kata-kata kita. Di dunia siber, ini sulit kita deteksi. Kita juga bisa melucu dan melihat lawan bicara kita tertawa atau terdiam (karena lawakan kita tidak lucu atau dia tidak dapat menangkap kelucuannya). Seketika itu juga. Nah, di dunia siber susah. Ada emoticons yang membantu kita untuk mengungkapkan perasaan kita, tetapi itu tidak cukup.

Akibatnya sering terjadi tulisan yang tujuannya sekedar gurauan, lawakan, parodi, dianggap sebagai sesuatu yang serius. Kacaulah hasilnya.

Bagaimana mengajarkan kemampuan untuk memahami manusia? Apakah perlu ada pendidikan formal? Atau informal? Nampaknya kita tidak pedulu tentang hal ini dan berharap bahwa manusia akan belajar dengan meniru manusia lainnya. Sialnya kalau manusia yang dia tiru adalah manusia yang tidak punya kemampuan (memahami manusia) itu. Wadaw …

Aku Tak Mau Melayani Kamu, Karena …

Mundur beberapa tahun. Flash back. Di sebuah tempat nun jauh di sana.

Ada sebuah kedai yang menjual makanan dan minuman. Pada suatu hari ada seseorang yang ingin membeli makanan di kedai tersebut. Dia sudah menyiapkan uangnya dan kemudian memasuki kedai tersebut. Pemilik kedai menyambutnya, tetapi bukan seperti yang dia perkirakan.

Pemilik kedai: “Maaf, kami tidak dapat melayani Anda”
Calon pembeli: “Lho? Kenapa?”

Awalnya pemilik kedai berkelit. Muter-muter. Mencari pembenaran. Namun akhirnya dia menjawab juga dengan alasan sebenarnya.

Pemilik kedai: “Maaf, kami tidak dapat melayani Anda karena warna kulit Anda”
Calon pembeli: “Memangnya kenapa warna kulit saya?”
Pemilik kedai: “Kulit Anda berwarna”

Ah … itu sebabnya. Ternyata kedai itu hanya melayani orang memiliki kulit yang sama. Apartheid. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di Afrika Selatan saja, tetapi di Amerika dan juga di Indonesia. Sejarah menceritakan bagaimana orang yang memiliki kulit berwarna tidak layak untuk menerima layanan. Salahkah sang pemilik kedai? Bukankah hak dia untuk menolak pembeli? Bagaimana menurut Anda?

Maju ke depan. Fast forward. Jaman sekarang banyak orang yang merasa bahwa penolakan memberikan layanan karena calon pembeli berbeda itu sudah tidak ada, tetapi ternyata ini adalah pendapat yang salah. Saat ini dapat kita temukan orang-orang yang tidak mau memberikan layanan kepada orang yang berbeda warna kulit, berbeda pandangan politik (atau klub sepak bola), berbeda agama, berbeda suku, dan seterusnya. Tanpa disadari dia melakukan apa-apa yang pernah dilakukan oleh bangsa penjajah kepada bangsanya.

Ah. Sadarkah kita?

Analogi Bitcoin

Sekarang Bitcoin sedang ramai diperbincangkan. Sebetulnya apa itu Bitcoin? Daripada menjelaskan tentang Bitcoin (atau cryptocurrency lainnya), lebih baik saya buat analoginya.

Katakanlah sekolah Anda ingin mengadakan acara bazaar. Di acara tersebut ada penjualan makanan dan minuman. Agar penjualan makanan dan minuman terkendali maka panitia membuat aturan bahwa pembelian makanan dan minuman dilakukan dengan menggunakan kupon. Kupon dijual dalam pecahan Rp. 20.000,-. Maka mulailah orang yang hadir di bazaar tersebut membeli kupon.

Untuk menghindari terjadinya fraud, penipuan, kupon palsu dan sejenisnya maka jumlah penjualan kupon dibatasi. Hanya ada 500 kupon yang tersedia.

Eh, ternyata makanan dan minuman yang ada di sana enak-enak. Maka orang mulai mencari kupon. Walah. Jumlah kupon yang tersedia ternyata terbatas. Maka mulailah kupon dicari. Tiba-tiba ada orang yang menjual kuponnya. Kupon yang harganya Rp. 20.000,- dijual seharga Rp. 25.000,-. Lumayan, untung Rp. 5.000,-. Malah ada orang yang menjual kupon itu dengan harga Rp. 30.000,-.

Begitu melihat kupon dapat dijual lebih mahal dari harga belinya maka orang mulai memperjualbelikan kupon. Kupon lebih dicari lagi. Harga makin naik lagi. Sekarang harga kupon menjadi Rp. 100.000,-. Wow!!

Lucunya, orang-orang tidak menggunakan kupon itu untuk membeli makanan. Justru jual beli kuponnya yang menjadi fokus kegiatannya.

Lantas bagaimana nasib penjual makanan dan minuman itu? Hmm … sebentar kita cek dulu. Ternyata jual beli makanan dilakukan dengan uang Rupiah saja karena daripada tidak ada yang beli dan kupon malah disimpan (dan diperjualbelikan) oleh orang-orang. Kupon tidak jadi solusi.

Bazaar akan selesai. Bagaimana nasib harga kupon setelah bazaar selesai? Anda tahu sendiri.