Menjadi Blogger

Tanggal 27 Oktober kemarin adalah hari blogger nasional. Dampaknya apa ya? Soalnya banyak teman-teman blogger saya yang sudah tidak ngeblog lagi. Alasannya banyak, tetapi umumnya adalah alasan klasik, sibuk. hi hi hi.

Saya pun punya masalah dengan kesibukan. Edun lah sibuknya, tetapi tetap berusaha ngeblog karena ini merupakan salah satu cara saya untuk belajar menulis. Ide ada banyak, tetapi waktu yang tidak ada. Ini saja sudah gagal ngeblog beberapa hari (minggu) ke belakang. Semoga saya dapat lebih sering ngeblog lagi ah.

Jangan Menilai Dengan Kacamata Sendiri

Banyak orang – mungkin sebagian besar orang? – menilai atau mengukur orang lain dengan kacamatanya sendiri. Masuk akal sih. Habis, mau mengukur dengan apa? Hmm … Okelah, tetapi saya melihat ada banyak masalah dengan pendekatan ini.

Kalau saya menilai orang lain dengan kacamata saya, maka saya akan frustrasi sendiri karena kok jauh dari standar yang saya terapkan. Saya bukan seorang yang perfectionist, tetapi memang punya standar yang tinggi untuk berbagai hal. Sebagai contoh, kalau belajar ya saya belajar serius sekali. Serius di sini maksudnya bukan duduk di depan meja dan tidak peduli kepada hal lain, tetapi lebih ke menekuninya dengan hati. Maka saya kesal kalau melihat orang yang ngasal belajarnya. Tidak sesuai dengan standar saya.

Demikian pula saya adalah orang yang “multi dimensional” (for the lack of better words). Maksudnya saya menekuni berbagai bidang sekaligus; komputer, musik, olah raga, bisnis, entrepreneurship, pendidikan, kepemimpinan, dan seterusnya, dan seterusnya. Maka orang lain akan salah dalam menilai saya karena mereka hanya menilai dari satu dimensi saja. Sebagai contoh, yang tahunya saya di bidang pendidikan maka tahunya hanya saya sebagai dosen (banyak kuliah yang saya ajar dan saya sangat rajin dalam mengajar) dan peneliti (banyak penelitian saya lho – mahasiswa bimbingan saya juga banyak). Orang yang tahu kesibukan saya di bidang pendidikan tidak tahu kesibukan saya di bidang lain. Maka mereka akan tidak percaya kalau saya juga sibuk (dan berprestasi) di bidang olah raga, musik, bisnis, dst. dst. dst.

Inilah yang saya maksud dengan menilai orang lain dengan kacamata sendiri. Akan sulit menilai saya secara keseluruhan karena model yang ada di kebanyakan orang adalah satu dimensi.

Itulah sebabnya saya juga jarang (hampir tidak pernah?) menilai orang lain karena saya paham bahwa kacamata saya pasti tidak cocok untuk menilainya.

Minta Materi Presentasi?

Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima adalah permintaan materi presentasi (slide) dari berbagai presentasi saya. Maklum, saya (terlalu) sering memberi presentasi.

Sebetulnya tanpa diminta juga biasanya slide presentasi saya bagikan di slideshare atau di web pribadi saya. Kalau belum ada di sana biasanya adalah karena belum sempat melakukan upload saja. (Atau ada bagian dari materi presentasi yang perlu dihapus dulu, karena terlalu sensitif atau mengandung rahasia, sehingga membutuhkan usaha dan waktu untuk melakukannya. Lebih lama lagi.) Saya senang berbagi.

Iseng saja. Untuk yang sering minta materi presentasi, seberapa sering sih ada memberi materi presentasi ke orang lain (ke saya, misalnya)? hi hi hi. Sekedar ngecek saja. Jangan hanya sering meminta tapi jarang – atau bahkan tidak pernah – memberi.

Jadi kapan mau memberi materi presentasi?

Bagaimana Membuat Lirik?

Pusing. Mau ngarang lagu. Melodi dapat, lirik gak bisa. Dari dahulu saya paham bahwa saya paling tidak bisa membuat lirik. Bagaimana sih caranya? Apakah ada panduan? Buku? Link?

Saya sudah berusaha untuk membuat tulisan, prosa, puisi, apapun, tetapi kok tetap bloon aja sih? Apa memang tidak ada bakat ya? Mosok skill membuat lirik tidak bisa dipelajari sih?

Atau … memang harus berkolaborasi?

Liburan …

Di tengah-tengah kesibukan, akhirnya saya memutuskan untuk “liburan” singkat. Hari Jum’at kemarin, saya dan anak saya kabur ke Yogyakarta untuk menonton konser musik rock dengan bintang utamanya Dream Theater. Sebetulnya sudah lama saya mengetahui keberadaan konser ini, tetapi memutuskan untuk pergi nontonnya agak mepet karena saya belum tahu skedul kesibukan saya. Begitu ada jeda sedikit, langsung diputuskan berangkat saja.

Awalnya acara ini hanya akan berlangsung satu hari, yaitu tanggal 29 September 2017 saja. Saya lihat tiketnya sudah habis. Eh, ternyata acaranya berlangsung dua hari. Ada tambahan show tanggal 30 September 2017. Akhirnya kami mengambil yang hari kedua itu. Langsung pesan tiket, book pesawat, dan book hotel.

Mengenai pemesanan hotel juga ada hal yang “lucu”. Awalnya acara konser rock ini akan di adakan di pelataran Candi Prambanan. Jadi awalnya kami mencari hotel yang dekat dengan Prambanan. Cari-cari di internet, dapat. Eh, hotelnya sudah penuh. Ya sudah, kami putuskan untuk ambil hotel Victoria (di belakang hotel Ambarukmo) saja. Pesan. Eh, ternyata lokasi konser dipindahkan ke stadiun Kridosono, yang mana ini lebih dekat ke hotel. Ha ha ha. Alhamdulillah. Nampaknya memang rencana menonton kami ini direstui.

Setelah Jum’atan kami pergi ke bandara dan menunggu pesawat. Eh, pesawat delay lebih dari dua jam. Untungnya saya tidak punya acara yang mendesak. Rencananya sih malam itu mau cari makan sate klathak saja. Jadi lumayan sabar menunggu di bandara. Pesawat sampai di Jogja dengan selamat dan kami langsung menuju hotel dengan menggunakan taksi bandara. Untungnya saya baru-baru ini ke Jogja, jadi tahu harus pesan taksinya dimana. Ini tidak terlalu nampak. Not so obvious for travelers.

Sampai di hotel, simpan tas terus langsung cari makan. Sate klathak. Eh, katanya ada yang dekat dengan hotel, yaitu di daerah Nologaten. Kami putuskan untuk jalan kaki saja ke sana. Lumayan juga, 15 menitan lah jalannya (jalan cepat). Sampai kami ke tempat satenya.

P_20170929_190757 pak jede 0001 Sate klathak-nya lumayan enak dan yang penting juga adalah *TIDAK ANTRI*. Di Jogja ini banyak tempat makan yang enak, tapi antrinya luar biasa. Mosok harus antri 1 atau 2 jam untuk makan. P_20170929_191105 0001

Ceritanya masih panjang, tapi yang penting adalah  besoknya nonton konser rock. Dream Theater-nya sendiri manggung jam 9 malam (nanti pada kenyataannya mereka manggung jam 8:30 malam), tetapi saya ingin nonton band-band lokal yang menjadi pembukanya. Jadi saya datang lebih awal.

P_20170930_153733 BR 0001

P_20170930_153802 LR 0001//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

BR-jogjarockarta//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Jreng!

[cerita lainnya menyusul. nanti saya update blog ini.]

Kopi

Kopi Minggu pagi ini, sambil ngoprek IoT untuk presiapan presentasi nanti siang. Sayangnya eksperimen gagal (belum bisa jalan). Tidak apa-apa. Yang penting dapat menikmati kopi dulu.

DSC_8319 kopi_0001 Menambah koleksi kopi. Yang ini dari Ethiopia, kiriman dari Martin Crow. Thanks Martin.

DSC_6722 coffee_0001

Ini kopi dari Jawa Barat dan video (tentang kopi tentunya).

DSC_8264 kopi_0001

Indonesia memang surga kopi.

Sodori Buku

Saking capeknya, semalam malah saya tidak bisa tidur nyenyak. Paginya main bola dan dilanjutkan dengan pertemuan startup baru. Pokoknya capeklah. Siang sebetulnya sempat tertidur sebentar. Sorenya sudah ada tamu. Singkatnya sibuk juga Sabtu ini. Walhasil, malam hari capek dan malah tidak bisa tidur.

Solusi saya untuk situasi seperti ini tetap sama, sodori buku. Ambil beberapa buku yang agak tebal. Tidak ada yang spesifk dari buku-buku tersebut. Asal tebal saja. Letakkan di samping tempat tidur. Mending mana, tidur atau baca buku. Biasanya pilihannya jatuh ke … tidur. hi hi hi. Jadi buku-buku ini adalah obat tidur bagi saya.

DSC_7046 books_0001
buku-buku untuk memaksa tidur

 

 

Selamat membaca. Eh, selamat tidur …

Mengirim Pesan Tengah Malam

“Apakah baik mengirimkan pesan (text, SMS, WA, Telegram) tengah malam?”

Ini adalah pertanyaan yang akan saya berikan pada kuliah Pengantar Teknologi Informasi. Pertanyaan ini muncul untuk melihat bagaimana orang merespon terhadap pemanfaatan handphone.

Apakah Anda mematikan atau mengecilkan volume handphone Anda pada malam hari? Bukankah salah satu manfaat adanya handphone adalah untuk keadaan darurat, yang mana pagi atau siang bukan masalah. Kalau malam hari handphone dimatikan, maka jika ada kondisi darurat tidak dapat ditelepon.

Sering saya baru teringat untuk membalas sebuah pesan di malam hari. Tengah malam, tepatnya. Wah, kalau saya balas sekarang dan sang pemilik handphone tidak mengecilkan volume handphonenya nanti “tang ting tung” suara pesan masuk ke handphonenya. Bagusan pagi hari saja dibalas pesannya ya?

Kere Penjelajah Waktu (2)

Sebentar, sebentar. Kucek-kucek mata dulu. Tempat ini kok seperti tidak berubah tapi seperti ada yang aneh juga. Melihat ke kiri. Ke kanan. Ah, tidak ada yang berubah. Ini masih tempat yang sama, halaman tetangga.

Perlahan cengkeraman tangan mulai mengendor. Aku masih terduduk di becak tetangga. Tadi itu kenapa sih? Ada cahaya yang berlalu dengan cepat di kiri dan kanan. Mungkin hanya kelelahan dari membaca semalaman? Mungkin mata masih mencoba menyesuaikan diri. Ah itu.

Perlahan aku bangkit dan turun dari becak. Melihat ke sekeliling. Mudah-mudahan tidak ada yang melihat. Eh, nampaknya pak Asep yang biasa jaga malam di sekitar koskosan sudah bangun. Pelan-pelan aku berjalan kembali ke koskosan. Berpapasan dengan pak Asep yang sedang mengaduk kopi.

Good morning,” kata pak Asep.

Walah. Edun sekali pak Asep ini. Menyapa dalam bahasa Inggris. Aku meringis. Tidak menjawab. Senyum sedikit saja sambil terus ngeloyor ke kamar. Eh, sebentar. Mau iseng ah. Aku kembali lagi menengok ke pak Asep.

“Belajar bahasa Inggris dimana, pak?” tanyaku.

Excuse me?” kata pak Asep mengagetkanku. Tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Pak Asep terlihat seperti bingung. Bentar, bentar. Ini bingung ketemu bingung.

“Iya, pak. Pak Asep belajar bahasa Inggris dimana?” kuulangi pertanyaanku.

I am sorry, I don’t understand,” jawab pak Asep dengan wajah yang tulus. Kini aku yang bingung. Ini gimana? Apa aku sedang kena prank, atau gimana nih? Ini apa sih? Dari pada melanjutkan pembicaraan yang tambah bingung, akhirnya kuputuskan untuk berjalan ke depan saja. Membiarkan pak Asep yang masih menatapku dengan pandangan bingung.

Ada warung agak sebelah kanan yang sudah mulai buka. Lapar. Mau beli sesuatu dulu ah. Aku berjalan ke warung sambil tetap memikirkan kejadian barusan. Pasti ada penjelasan yang logis.

Di depan warung, aku terhenyak. Tulisan-tulisan di depan warung terlihat sama, tetapi kok dalam bahasa Inggris. Ada iklan rokok dalam bahasa Inggris. Kemarin rasanya bukan itu deh tulisannya.

Morning,” ibu penjaga warung menyapa. Aku kaget. Berdiri terdiam. Menatap penjaga warung yang terlihat masih seperti orang Indonesia normal. Dia menatap balik. Heran melihat aku yang terdiam.

“Ada roti, bu?” tanyaku dengan sedikit was-was.

I am sorry?” jawab si ibu penjaga warung sambil mengerinyitkan dahinya. Lengkaplah sudah kebingunganku.

Do you have bread?” tanyaku sambil mengingat-ingat pelajaran bahasa Inggris.

Those are the ones we have,” entengnya jawaban si ibu penjaga warung sambil menunjukkan tumpukan roti buatan “lokal” sambil terus menata barang-barang dagangannya. Kuambil satu roti isi sambil memperhatikan tulisan yang ada di roti itu. Bahasa Inggris. Hmm…

Bentar. Untuk memastikan bahwa ini bukan orang yang mau ngerjain aku, kurogoh dompet. Mau melihat kartu-kartu yang ada di dompet. Mari kita lihat SIM. Kartu kukeluarkan. Wharakadah … tulisannya dalam bahasa Inggris.

Baru kusadari bahwa ini nyata. Semuanya – fisik – masih tetap, tetapi nampaknya orang-orang menggunakan bahasa Inggris. Apakah ini tadi gara-gara becak itu? Dunia apa ini? Harus kucari tahu. Nanti. Sekarang sarapan dulu.

Coffee, please,” kataku kepada si ibu penjaga warung.

Coming,” jawabnya sambil mengambil satu sachet kopi. Menggunting ujungnya. Hmm… dalam dunia aneh ini pun kopinya masih kopi gunting. hi hi hi.

[Bagian 1]

Kopi Pagi Ini

Pagi ini dibuka dengan kopi “baru” lagi. Maksudnya baru ini adalah bungkusannya yang baru, karena saya baru mendapatkan ini. Kopinya adalah Toraja. Ada dua bungkus yang saya dapatkan. Yang satu adalah Arabica, satunya Robusta. Saya bukan yang Arabica dahulu karena saya lebih suka yang Arabica.

DSC_6698 kopi_0001 Mari kita coba. Rasanya tentu saja “nendang” karena saya buat hitam pekat saja. Tanpa apa-apa.

DSC_6699 kopi_0001

Kopi sudah tersedia. Sekarang mau ngapain ya? Ngeblog sudah. Baca buku? Koding? Ngoprek IoT? Atau duduk-duduk di luar saja mumpung cuaca sangat indah di Minggu pagi ini.

DSC_6701 book_0001//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Ini buku soal hacking. hi hi hi. Baca lagi ah …

Permasalahan Satelit dan Layanan Perbankan

Beberapa hari yang lalu (tepatnya tanggal 25 Agustus 2017), satelit Telkom 1 mengalami masalah. Akibatnya banyak layanan perbankan, terutama terkait dengan mesin ATM, ikut terhenti. Ribuan mesin ATM dari berbagai bank tidak dapat terhubung ke kantor pusat bank sehingga tidak dapat memberikan layanan.

Sebelum timbul kekisruhan lebih lanjut, saya ingin mengatakan bahwa ini adalah masalah – masalah besar bahkan – tetapi bukan sebuah show stopper yang menghentikan semua layanan perbankan. Layanan perbankan bermuara pada sistem core banking mereka. Layanan ini dapat diakses melalui berbagai cara (delivery channel), yang mana ATM merupakan salah satunya. Mari kita daftar cara mendapatkan layanan perbankan.

  1. Langsung ke kantor cabang bank secara fisik;
  2. menggunakan layanan ATM;
  3. menggunakan layanan phone banking;
  4. menggunakan layanan internet banking;
  5. menggunakan layanan SMS dan mobile banking.

Dari daftar di atas dapat dilihat bahwa ATM hanyalah salah satu cara untuk mengakses layanan perbankan. Keresahan yang terjadi mengkonfirmasi bahwa layanan ATM merupakan layanan yang paling populer. Namun saya menduga ke depannya layanan internet banking dan mobile banking akan lebih mendominasi di era belanja online. Coba saja kita belanja online, maka akan sangat lebih nyaman menggunakan internet banking atau mobile banking dibandingkan harus pergi ke mesin ATM dan melakukan pembayaran di sana.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk melupakan masalah yang ditimbulkan oleh berhentinya layanan satelit Telkom 1, tetapi untuk mengatakan bahwa kita tidak usah panik. Pihak perbankan dan penyedia jasa telekomunikasi memang harus menyiapkan business recovery plan (business continuity plan) ketika terjadi masalah. Ini pun harus diuji secara berkala. Mudah-mudahan ke depannya lebih baik.

Beberapa bahan bacaan

  1. Kronologi Anomali Satelit Telkom 1
  2. Masa hidup satelit Telkom 1 sudah berakhir
  3. Telkom sewa satelit untuk migrasi pelanggan
  4. ExoAnalytic video shows Telkom-1 satellite erupting debris

Kopi Tanpa Gula

Minum kopi itu nikmatnya tanpa gula. Kopi hitam. Gitu saja. Ah, yang bener? Iya, serius.

Banyak yang tidak percaya bahwa ngopi itu enaknya kopi hitam biasa saja. Saya dahulu termasuk yang tidak percaya. Kalau ngopi, ya harus disertai dengan gula (meskipun tidak banyak). Pada suatu saat saya berniat untuk mencoba kopi tanpa gula. Setelah beberapa waktu (rasanya kurang dari 6 bulan) mengurangi kadar gula, akhirnya saya ngopi tanpa gula. Sudah bertahun-tahun seperti itu.

Ngopi tanpa gula juga lebih sehat karena kalau kebanyakan ngopi pakai gula, yang bikin masalah itu malah gulanya. Apalagi untuk orang-orang yang sudah berusia. (Maksudnya yang sudah tua. he he he.) Jadi tidak ada salahnya untuk belajar ngopi tanpa gula.

DSC_6595 kopi_0001
Kopi sore ini; Arabica – Kerinci

Mari … ngopi tanpa gula.

Kopi

Entah sejak kapan saya jadi makin “serius” dalam hal ngopi. (Definisi “serius” di sini¬† perlu dipertanyakan.) Maksudnya saya jadi banyak ngopi dengan kopi yang enak-enak. Begitu. hi hi hi. (Sebetulnya soal sejak kapannya mungkin dapat dilihat dari tulisan di blog ini atau di linimasa facebook saya ya? Jadi saya menyukai kopi bukan baru kemarin sore. Bukan karena sedang nge-trend saja lho.)

Singkat kata, saya penggemar kopi.

Saya dapat menikmati kopi yang enak dan yang tidak enak, tetapi kalau ditanya enaknya dimana atau bagaimana, saya tidak dapat menjawab. ha ha ha. Ilmu tentang kopi saya masih terbatas (meskipun mungkin sudah di atas rata-rata?).

Kopi saya kebanyakan single origin dan Arabika. Kopi-kopi dari Indonesia yang saya sukai. Ini hanya masalah selera saja, meskipun banyak orang yang mencoba membahas ini dari segi yang lebih ilmiah. Bagi saya itu lebih enak saja. Namun ini tidak membatasi saya mencoba kopi-kopi yang lain.

Akibat sering ngopi yang asyik-asyik ini saya jadi tahu tempat-tempat ngopi yang asyik. Ada tempat yang wah dan ada yang sekedar melipir di pinggir jalan (pakai mobil, misalnya). Ada yang harganya mahal dan ada yang harganya hanya belasan ribu rupiah saja. Mereka tetap saja enak. ha ha ha. (Di kamus saya hanya ada dua jenis; “enak” dan “enak sekali”. Ha ha ha.)

Efek sampingan laginya, saya sering mendapat kiriman kopi-kopi yang asyik-asyik. Selalu saja ada kopi yang asyik dan enak. Kemarin dapat kopi ini; Flores Bajawa. Ya tentu saja enak. hi hi hi. Kebetulan saya memang sedang suka kopi Flores ini.

DSC_6585 kopi_0001

Mungkin sudah saatnya saya membuat tulisan-tulisan (kolom tulisan) yang khusus tentang kopi ya? Atau setidaknya menampilkan foto-fotonya dulu. Itu juga sudah banyak sekali.

Selamat ngopi!