Media Sosial Bukan Tempat Diskusi Serius

Perkembangan teknologi informasi menghasilkan produk (dan servis) yang luar biasa. Salah satu hasilnya adalah media sosial. Karena namanya ada kata “sosial”nya maka saya berasumsi bahwa itu adalah tempat untuk kita bersosialisasi. Salah satunya mungkin bisa jadi tempat untuk berdiskusi serius. Ternyata saya salah.

Media sosial ternyata tidak mampu untuk menjadi tempat diskusi secara serius. Coba saja kita bahas tentang Lapindo, misalnya. Ini salah satu topik berat. Pasti langsung sepi. Krik, krik, krik. Cari topik serius lainnya lagi, masalah pendidikan. Hasilnya juga bakalan sama. Sepi.

Kalau topiknya yang hahaha hihihi … langsung ramai.

Nampaknya memang media sosial itu seperti warung kopi, tempat ngobrol ngalor ngidul. Jangan berharap akan melakukan diskusi seperti seminar di kampus-kampus.

Tersadarlah saya. Apakah Anda masih pingsan?

Iklan

Revolusi Industri 4.0

Saat ini, salah satu topik yang sering menjadi bahasan adalah “revolusi industri 4.0”. Bahkan, topik ini malah terlalu sering dibahas tanpa memahami apa sebetulnya maknanya. Hal ini akan saya bahas dalam update berikutnya dari tulisan ini. (Atau baca referensi di “Tautan tekait”.)

Salah satu cara untuk memahami apa itu revolusi industri 4.0 dan efeknya adalah dengan cara mencari literatur yang bagus. Salah satu buku yang bagus tentang hal ini adalah buku dari Klaus Schwab, “The Fourth Industrial Revolution”.

Buku ini membahas berbagai aspek (dan efek) dari revolusi industri 4.0. Sebagai contoh, bagaimana kebijakan pemerintah terkait dengan efek yang akan ditimbulkannya? Salah satu efek yang dikhawatirkan adalah adanya tenaga kerja yang digantikan oleh mesin (robot, artificial intelligence atau AI). Padahal banyak negara berkembang yang mengandalkan industri yang padat karya. Regulasi yang berlebihan – misal melarang penerapan AI – akan menyebabkan kita menjadi tertinggal. Laggard. Akibatnya malah tidak dapat meraup manfaat yang ditimbulkan oleh revolusi industri 4.0 ini.

Buku Klaus Schwab, “The Fouth Industrial Revolution”

Sebetulnya saya ingin membahas lebih lanjut lagi tentang buku ini, tetapi saya sendiri juga belum selesai membacanya. Ini adalah salah satu buku yang harus dibaca pelan-pelan. Membaca dua halaman, berhenti. Mikir dulu. Jadinya sangat lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Memang tidak ada yang mengejar-ngejar sih, tetapi kan masih ada buku-buku lain yang harus dibaca.

Tujuan dari tulisan ini adalah mengajak Anda untuk membaca buku ini.

Tautan terkait.

Grab vs. Go-Jek

Akhir-akhir ini saya perhatikan lebih banyak pengendara Grab dibandingkan dengan Go-Jek. Ini saya lihat dari atribut yang mereka gunakan; helm dan jaketnya. Apa benar demikian? Apakah ini hanya terlihat di daerah yang saya lalui saja, yaitu antara Taman Pahlawan Bandung sampai ke ITB?

Akhirnya beberapa hari lalu saya mulai menghitung jumlah pengendara Grab dan Gojek. Hari pertama menghitung hasilnya adalah 26 pengendara Grab dan 12 pengendara Go-Jek. Hari berikutnya hampir sama juga. Grab ada sekitar dua kali lipat dibandingkan Go-Jek.

Dua hari yang lalu saya di Jakarta dan mencoba mencari Go-Jek untuk ke statsiun Gambir. Ternyata tidak ditemukan. Aplikasinya muter terus. Saya tidak punya Grab. Untungnya ada yang membantu saya dengan mencarikan Grab. Setelah 10 menit, dapatlah Grab.

Mengapa Grab lebih (terlihat) banyak? Kata orang, diskon Grab saat ini sedang gila-gilaan. Lebih banyak diskonnya dibandingkan dengan Go-Jek. Dengan kata lain, harganya lebih murah. Jadi itukah yang membuat saya melihat lebih banyak Grab dibandingkan Go-Jek? Apakah ini akan bertahan? Bagaimana di tempat Anda?


Kesulitan Kerja Remote: Disiplin

Kemajuan teknologi informasi membuat orang dapat bekerja dari jarak jauh. Remote worker. Seseorang tidak perlu berada secara fisik di kantor, tetapi dapat mengerjakan tugas-tugas kantor yang harus dikerjakan. Secara teknis, tidak ada masalah yang signifikan. Tentu saja ada hal rinci yang harus dikerjakan atau dibereskan, tetapi ini ada solusinya.

Yang menjadi masalah adalah etos kerja. Disiplin. Setelah saya perhatikan ternyata banyak orang (mungkin malah sebagian besar?) orang Indonesia sulit memiliki disiplin dalam bekerja. Jangankan bekerja dari jarak jauh. Bekerja secara fisik di kantor pun sudah memiliki masalah.

Salah satu ujian yang saya berikan (meskipun tidak secara eksplisit saya katakan bahwa ini ujian) adalah kehadiran di kantor untuk 3 bulan pertama. Biasanya untuk pekerja baru, mahasiswa kerja praktek / magang, dan sejenisnya, saya haruskan mereka hadir setiap hari ke kantor. Ini untuk mengajari tentang disiplin. Jika disiplin ini sudah ada, maka bekerja di tempat lain merupakan langkah selanjutnya.

Ternyata hanya untuk hadir secara rutinpun sudah menjadi masalah. Seminggu rajin, minggu-minggu berikutnya mulai berat. Bulan kedua mulai terlihat mana yang memiliki disiplin dan mana yang tidak / belum.

Jadi, saya masih belum yakin bahwa bekerja dari jarak jauh (remote worker) akan dapat dilakuan di Indonesia. Ini pendapat umum. Tentu saja ada yang bisa. Di tempat saya, ada banyak yang memang dapat bekerja secara remote.

Aturan Lokasi Data

Salah satu yang didobrak oleh pemanfaatan teknologi informasi adalah batasan ruang dan waktu. Sekarang sulit untuk mendefinisikan ruang dan waktu untuk hal-hal yang terkait dengan aplikasi atau layanan yang menggunakan teknologi informasi. Sebagai contoh, sebuah perusahaan di Indonesia menggunakan layanan dari perusahaan Singapura yang memiliki pusat data (data center) di Amerika. Klien (nasabah) dari perusahaan itu warga negara Perancis yang sedang berada di Inggris. Ketika terjadi transaksi, hukum (aturan) mana yang mau dipakai? Indonesia? Singapura? Amerika? Perancis? Inggris?

Sekarang tambah lebih rumit lagi dengan keberadaan layanan “cloud”, yang pada prinsipnya kita tidak perlu tahu lagi lokasi fisik keberadaan data (atau server) kita. Contoh sederhananya adalah kalau kita membuka email kita di Gmail, sebetulnya secara fisik itu data kita berada dimana ya? (Ini belum membicarakan soal backup dan disaster recovery center / DRC.)

Secara bisnis, keberadaan layanan seperti cloud itu memudahkan (dan bahkan lebih murah). Namun secara hukum agak sulit. Sebagai contoh, kalau kita memiliki data transaksi yang bersifat rahasia dan data tersebut secara fisik berada di negara lain, maka akan sulit ketika terjadi masalah atau sengketa. Pengadilan, misalnya, meminta data transaksi tetapi negara dimana data tersebut secara fisik berada tidak memperkenankan datanya diberikan ke pihak lain (aturan privasi di negara tersebut, misalnya). Maka data tidak tersedia. Inilah sebabnya peraturan di berbagai negara (termasuk Indonesia) mewajibkan letak data secara fisik di negaranya.

Di satu sisi, ini dapat “merugikan” secara bisnis. Layanan penyimpanan data di luar negeri boleh jadi lebih murah. Namun, dilihat dari kacamata keamanan (sebagaimana diuraikan di atas), ini bermasalah. Jika kita memilih keamanan (dan sovereignty) dari data kita lebih penting, maka peraturan yang mengharuskan letak data secara fisik harus di Indonesia.

Tambahan lagi adalah pendekatan ini juga menghidupkan bisnis terkait di Indonesia. Keberpihakan ini sangat penting di era persaingan yang kurang seimbang ini. Negara lainpun melakukannya.

Pendapat saya, untuk saat ini lebih baik letak data secara fisik harus berada di Indonesia.

Machine Learning: Pengenalan Wajah

Salah satu aplikasi dari Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning adalah dalam pengenalan wajah seseorang. Salah satu perusahaan saya (PT Riset Kecerdasan Buatan) sedang mengembangkan model untuk melakukan hal ini.

Salah satu langkah yang penting dalam machine learning adalah ketersedian data untuk pelatihan (training). Data ini yang akan digunakan untuk mendeteksi orang yang bersangkutan. Proses pengambilan data ini kami sebut proses registrasi. Ada banyak cara melakukan proses registrasi. Yang kami lakukan adalah dengan mengambil video dari orang yang akan dideteksi.

Berikut ini adalah video salah satu kegiatan kami dalam proses registrasi yang disebutkan di atas. Ini kami ambil ketika ProcodeCG sedang memberikan workshop tentang machine learning di Bandung Digital Valley (BDV).

Semoga video singkat ini dapat menunjukkan apa yang kami lakukan di perusahaan kami.

Ketekunan

Tidak ada bosannya saya menulis tentang topik ini. Ini sekedar mengingatkan bagi yang lupa atau malah belum tahu (kayaknya tidak mungkin ya?).

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah ketekunan dalam belajar, bekerja, berkarya, berolahraga, berkesenian. beragama, dan ber-ber lainnya lagi. Sebagian besar orang mudah menyerah dan menggunakan berbagai alasan untuk pembenaran. Padahal sesungguhnya tantangan terbesar adalah dalam diri kita sendiri.

Sebagai contoh, saya rajin berolahraga. Dalam hal ini saya memilih futsal. Seminggu setidaknya saya dua kali futsal. Sekarang malahan tiga kali seminggu futsalnya. Saya memang suka futsal, tetapi untuk berangkat ke tempat futsal selalu ada banyak tantangan. Kesibukan, ngantuk, hujan, dan banyak hal lainnya. Kadang ketika mau berangkat terasa sangat malas sekali. Kadang hujan besar. Ah, ada alasan untuk tidak futsal. Ketika dijalani, eh, ternyata tidak terlalu sulit. Semua ada di kepala. Seringkali saya melihat orang yang tidak hadir ke futsal karena banyak alasan. ha ha ha.

Belajar juga demikian. Saya termasuk yang selalu bersemangat belajar. Kepada siapapun saya belajar. Bahkan saya termasuk yang mengejar belajar. Ada yang mau mengajari ini atau itu, maka saya mencoba hadir ke sana. Biar jauh juga. Biar sudah lelah juga. Sementara itu banyak orang yang inginnya disuapi. Hanya bilang ingin belajar, tetapi ketika disediakan materinya dan pembicaranya, mereka tidak hadir dengan berbagai alasan. Jadi kalau ada orang yang ingin belajar kepada saya, saya hanya tertawa saja. ha ha ha. Serius? (Saya akan bahas topik ini dengan lebih panjang lebar lagi.)

Lantas kalau tidak tekun, mau jadi pandai / jagoan dari mana? Dari Hongkong? ha ha ha.