Perayaan Tahun Baru Dengan Tidur

Mungkin saya termasuk minoritas, yaitu orang yang jarang merayakan hari ini itu. Bahkan untuk ulang tahunpun dirayakan dengan biasa saja. Ya mungkin ada makanan yang lebih dari biasanya saja. Hal ini saya lakukan bukan karena dogma ini dan itu, tetapi ya karena saya merasa seperti ganti hari biasa saja. Ha ha ha.

Perubahan tahun baru juga merupakan hal yang “biasa” bagi saya. Tahun baru sebelum-sebelumnya ada yang kami lewati dengan bermain (game board), kumpul-kumpul keluarga (BBQ), atau lebih seringnya adalah … tidur seperti biasa. Ha ha ha. Seingat saya, tahun lalu juga saya lewati dengan tidur seperti biasa. Maka tahun ini, kelihatannya juga mau saya lewatkan dengan tidur saja. Atau mau baca buku? Atau main game?

Gagal Ngeblog di Jalan

Ceritanya saya mau nyoba ngeblog sambil jalan-jalan. Seminggu lebih sedikit kami sekeluarga jalan-jalan ke Malaysia dan Singapura. Rencana saya sih mau cerita setiap hari di perjalanan. Sudah lama saya tidak pergi liburan. Jadi harusnya akan banyak cerita di jalan.

Karena banyak bawaan dan bakalan meninggalkan komputer di hotel, maka saya tidak membawa Macbook yang biasanya saya gunakan sehari-hari tetapi membawa notebook kecil yang jarang saya gunakan.

Sebagai persiapan, saya mencoba login di notebook yang akan saya bawa itu. Saya coba login ke akun Google, Facebook, WordPress, dan seterusnya. Karena takut notebook ini hilang maka saya tidak simpan password akun-akun tersebut di notebook tersebut. Jadi saya coba mengingat-ingat saja. Password akun tersebut hanya saya tanam di komputer desktop di rumah (yang saya gunakan saat ini untuk menulis ini).

Hari pertama di perjalanan. Saya berhasil login ke akun Google dan Facebook saya tetapi gagal untuk login di WordPress. Katanya password-nya salah. Lah. Perasaan sudah benar passwordnya. Walhasil, saya gagal ngeblog di jalan karena lupa password. Jadi batal untuk bercerita setiap hari. Yaaahhh.

Nah sekarang sudah sampai di rumah lagi dan baru bisa ngeblog lagi. Sayangnya mood untuk bercerita sudah hilang. Mana sudah lupa mau cerita apa juga. Yaaahhh. Jadi nanti kalau mood sudah datang lagi, saya akan cerita tentang jalan-jalan kemarin ya.

Sukses Adalah Keberuntungan

Baru saja saya beres melihat film dokumenter tentang kesuksesan beberapa film, seperti Die Hard dan Home Alone. Salah satu kesamaan dari kesuksesan film-film tersebut adalah keberuntungan. Luck. Ada banyak kejadian yang dapat membuat film itu batal jadi atau gagal. Keberuntunganlah yang membuat mereka sukses.

Selain menonton film dokumenter tersebut, saya juga menonton film dokumenter tentang sejarah musik Hip Hop. Di sana juga banyak keberuntungan yang membuat seseorang atau sebuah usaha sukses. Sama juga ternyata.

Keberuntungan tidak datang begitu saja. Keberuntungan akan lebih mungkin datang kalau kita bekerja keras. Kesemua contoh yang saya sebutkan di atas dibarengi dengan kerja keras. Kerja keras di luar standar yang umum. Atau, jangan-jangan kerja keras inilah yang membuat sukses. Keberuntungan atau luck itu bukan penyebabnya. Mungkin juga. Namun kalau kita dengar komentar dari semua orang yang terlibat dalam kesuksesan tersebut, maka mereka semua sepakat mengatakan bahwa itu adalah sebuah keberuntungan. Nah.

Menulis Setiap Hari

Baru-baru ini saya mendengarkan cerita tentang bagaimana lagu “Human Nature” dibuat. Ini lagu yang dibawakan oleh Michael Jackson. Lagu ini dikarang oleh Steve Porcaro (salah satu pemain keyboards group band Toto) dan kemudian liriknya dipermak oleh John Bettis. Kesemua orang yang saya sebut di atas sangat luar biasa kemampuannya. Tulisan kali ini terinspirasi oleh kata-kata John Bettis.

Jadi ceritanya lagu tersebut sudah luar biasa bagus, tapi liriknya belum ada. Sang produser dari album Michael Jackson itu, Quincy Jones, kemudian menelepon John Bettis yang sangat piawai dalam membuat lirik. Mengapa dia sangat piawai, karena dia selalu siap dalam membuat lirik. Dia menulis lirik SETIAP HARI selama belasan tahun (atau bahkan lebih). Bayangkan, setiap hari! Itu sebabnya dia selalu siap. Itu sebabnya saya tidak dapat membuat lirik lagu, karena tidak pernah berlatih.

Mengenai menulis setiap hari, sebetulnya tidak susah secara teknis tetapi susah dilakukan. Ini masalah keteguhan diri saja. Masalah kemauan saja. Saya sudah pernah melakukannya.

Pada awal-awal blog ini dibuat, saya memaksakan diri untuk menulis setiap hari. Betul. Saya tantang diri saya sendiri untuk melakukannya. Mantra yang saya pakai adalah “kuantitas lebih penting daripada kualitas”. Yang penting menulis tiap hari. Dahulu saya dapat melakukan hal tersebut. Sekarang terlalu banyak alasan yang saya gunakan untuk tidak melakukannya. Alasan yang paling klasik, ya sibuk. (Padahal sibuk sungguhan.)

Nampaknya saya harus mulai kembali memaksa diri untuk menulis setiap hari. Bahkan mau saya coba untuk menulis lirik setiap hari. Hmm. Mikir dulu ya. Ha ha ha. Ini komitmen yang berat.

Belajar Gagal

Ada sebuah cerita tentang seorang anak yang dalam perjalanan hidupnya selalu berhasil. Tidak pernah gagal. Sekolahnya bagus terus nilainya. Setelah selesai kuliah, kemudian dia bekerja. Maka mulailah terjadi masalah karena beberapa kali dia gagal. Singkat ceritanya, akhirnya dia bunuh diri. Hah??? Iya.

Akhir-akhir ini saya mendengar berbagai cerita yang mirip, yang pada intinya adalah banyak orang yang dalam perjalanan hidupnya tidak pernah atau jarang mengalami kegagalan. Semua harus berhasil. Tidak boleh salah. Akibatnya, dalam kehidupannya dia selalu merasa takut gagal dan takut salah. Orang seperti ini biasanya bersifat defensif. Begitu dikritik sedikit, maka dia akan ngamuk atau depresi.

Sekarang saya akan melihat ini dari kacamata saya sebagai seorang pendidik. Seorang dosen. Ada yang salah dalam pendidikan kita ini. Kita mengajari anak-anak untuk tidak boleh salah. Tidak boleh gagal. Mari kita ambil contoh. Dalam ulangan atau ujian, siswa dinilai. Ada yang nilainya bagus dan ada yang nilainya buruk dan bahkan ada yang tidak lulus. Setelah itu, ya sudah selesai.

Lah memangnya ada kelanjutannya lagi? Ada. Yang gagal seharusnya diberi kesempatan untuk memperbaiki. Ini tidak terjadi! Kenapa ini tidak terjadi? Karena ini merupakan beban tambahan bagi sang guru (dosen). Bagi dia, lebih baik memberi nilai dan sudah. Salah sendiri bagi yang nilainya buruk. Salah sendiri mengapa tidak belajar. Guru (dosen) tidak mau sibuk. Sistem di sekolahanpun memaksa guru (dosen) untuk memberikan nilai sekarang juga karena sekolahan dituntut untuk mengeluarkan nilai secara tepat waktu (peduli amat tentang masalah guru dan siswanya).

Saya mencoba memecahkan masalah ini dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa saya untuk memperbaiki nilai ujian (makalah) yang mereka kerjakan. Untuk itu memang saya menjadi kerja dua kali (atau lebih). Selain itu nilai yang saya berikan juga jadi terlambat. (Sebetulnya tidak terlambat, tetapi banyak mahasiswa yang nilainya T atau incomplete alias belum selesai.) Akibatnya saya sering ditegur. Mereka tidak tahu bahwa nilai saya lambat masuk bukan karena saya lalai, tetapi karena saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk gagal.

Pelajaran yang ingin saya berikan kepada mahasiswa saya adalah; (1) gagal adalah hal yang biasa, ulangi lagi, (2) yang tidak boleh adalah curang (misal plagiat, nyontek). Poin (2) itu, yaitu curang, dapat dilakukan oleh mahasiswa karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk memperbaiki. Dengan metoda saya, mereka tidak perlu curang. Kalaupun gagal dapat diulangi lagi. Lakukan dengan kemampuan diri sendiri.

Kembali ke poin utamanya adalah kita semua (apalagi anak-anak) harus diajari untuk gagal. Bahwa kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Lawan terus. Kita bisa!

Solid: Memisahkan Data dari Aplikasi

Siapa yang sudah pernah dengar nama “Tim Berners-Lee”? Kalau Anda belum tahu, silahkan Google dahulu. Ya, dia adalah “penemu” – kalau dapat disebut penemu karena sebetulnya lebih cocok disebut “pengembang” – dari World Wide Web (WWW). Saya mengenal beliau sejak pertama kali WWW dikembangkan karena kebetulan. Kebetulan saya “terpaksa” menggunakan workstation NeXT dan kebetulan juga Tim Berners- Lee menggunakan NeXT workstation ketika mengembangkan WWW. (Mestinya saya cerita tentang hal ini ya? Panjang. Jadi saya tunda ya.)

Baru-baru ini Tim Berners-Lee mengusung sebuah ide baru yang disebut Solid. Apa itu Solid? Terpaksa saya membaca sana sini karena informasinya masih sangat minim. Solid adalah sebuah konsep (platform?) untuk mengembangkan aplikasi dengan memisahkan data dari aplikasi. Mengapa pemisahan ini penting?

Saat ini ketika kita menggunakan sebuah aplikasi (misalnya aplikasi untuk handphone Android kita), maka aplikasi tersebut membutuhkan informasi mengenai Anda sebagai penggunanya. Aplikasi tersebut akan meminta identitas Anda, nama, alamat email, dan seterusnya. Bahkan untuk aplikasi yang bersifat transaksional, aplikasi tersebut akan meminta nomor rekening Anda.

Ketika Anda memasang aplikasi yang lain lagi, maka proses di atas terulang kembali. Anda harus memasukkan data Anda lagi, lagi, dan lagi. Akibatnya adalah ada banyak data Anda yang tercecer dimana-mana. Di setiap aplikasi ada data Anda. Anda tidak tahu data apa saja yang disimpan di sana. Yang mengerikan lagi adalah kalau data Anda itu berada di berbagai penyedia layanan tersebut. Pokoknya kita sudah tidak dapat mengendalikan data (pribadi) kita lagi. Solid mencoba memecahkan masalah tersebut.

Pada Solid, data kita ditempatkan pada sebuah Pod (namanya itu). Aplikasi yang membutuhkan data kita akan mengakses Pod tersebut. Kita dapat memilah-milah mana yang akan kita berikan akses (atau kita cabut aksesnya). Data akan berada di satu tempat. Memudahkan kita untuk mengelolanya.

Nah, bagaimana cara mengembangkan aplikasi yang berbasis Solid ini? Itu saya juga belum tahu. Ha ha ha. Mari kita belajar bersama.

Saya Akan Marah-marah

Nampaknya banyak orang yang membuka Facebook, Twitter, Instagram, WA, Telegram, atau aplikasi media sosial / chat dengan dimulai dengan perasaan tersebut; “saya akan marah-marah“. Maka, hasilnya adalah … marah-marah. Ini yang disebut dengan “self-fulfilling prophecy“. (Silahkan cari di internet apa maksudnya itu.)

Sementara itu saya memulainya dengan semangat ingin senang, bersahabat, berbahagia, dan berbagai emosi positif lainnya. Hasilnya adalah senang. ha ha ha.

Sebetulnya saya tidak menyadari hal ini sampai saya membaca sebuah cerita pengantar tentang brainstorming. Pada trik brainstorming yang diceritakannya itu, masing-masing peserta diminta untuk mengungkapkan hasil yang akan terjadi di akhir brainstorming. Ya, sebelum dimulai sudah diminta untuk mengungkapkan hasilnya. Ternyata hasilnya biasanya sesuai dengan yang dinginkan di depan. Kalau di awal kita katakan bahwa “kita akan hasilkan lima buah ide cemerlang”, maka akan dihasilkan ide-ide cemerlang. Entah kalau di awal kita mengatakan bahwa “kita akan sia-sia melakukan ini”. Ha ha ha.

Itulah sebabnya selalu berpikiran positif. Selalu!

(Kecuali memang Anda ingin menjadi negatif. Maukah?)

Pusing Dengan Bahasa Indonesia

Sudah berkali-kali saya mencoba membaca buku terjemahan dan gagal untuk memahaminya. Pusing. Bagi saya ternyata memang masih lebih mudah memahami buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa aslinya, bahasa Inggris maksudnya. Bukan maksud saya untu sok-sokan Ingris-Ingrisan, tapi kenyataannya memang demikian.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah buku terjemahan. Saya coba baca lagi. Dan hasilnya, pusing lagi. Ini bukunya.

photo6275926025779128563
Contoh buku terjemahan yang membingungkan

Begitu dimulai, di bagian awalnya (pada halaman “ucapan terima kasih”) ada tulisan seperti ini, “istri ahli dan putri tanpa sejawat“. Anda tahu itu maksudnya apa? Nampaknya saya harus cari tahu kalimat aslinya seperti apa.

Mungkin masalah sebenarnya adalah penerjemah terlalu harfiah dalam menerjemahkan sehingga makna aslinya hilang. Jadinya malah membingungkan. Ada banyak “idiom-idiom” dalam bahasa Inggris yang seharusnya tidak diterjemahkan begitu saja. Pusing.

Kembali ke buku-buku berbahasa Inggris deh.

Seebuk

Banyak orang yang tidak percaya bahwa saya super sibuk. Kalau mengikuti kegiatan saya, bakalan gempor. Saya ambil contoh saja ya. Kemarin.

Acara saya dimulai pagi hari, pukul 9. Eh, ternyata acaranya pukul 8 pagi. Berarti saya harus berangkat 1 jam sebelum itu. Nah, kebetulan saat ini waktu Subuh di Bandung mendekati pukul 4 pagi. Jadi pukul 4 pagi saya sudah harus bangun. Acara workshop ini berjalan sampai pukul 5 sore, atau pukul 17.

Setelah acara tersebut, saya melanjutkan ke acara nonton dan diskusi film. Saya memilih film “I, Robot” karena terkait dengan Artificial Intelligence (AI). Di acara itu kami nonton film bersama dan kemudian membahas film tersebut. Acara ini berlangsung di IFI, di depan BEC Bandung. Acara itu berlangsung dari pukul 5 sore sampai pukul 21:30 malam. (Tentang acara ini nanti saya buat tulisan terpisah. Tapi nggak janji. ha ha ha.)

Sampai di rumah pukul 22:30. Jadi kegiatan saya itu dari pagi sampai malam. Selama itu saya tidak sempat membuka handphone saya. Jadi yang kirim WA / Telegram / dst. tidak akan saya baca.

Tidur mungkin hanya 5 jam kurang sedikit.

Hari berikutnya ya sama saja. Sibuk.

Industri 4.0

Sekarang sedang ramai dibicarakan tentang “industry 4.0”. Apa itu? Mengapa dia muncul? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Berikut ini adalah opini saya.

Pertama harus dipahami dahulu bahwa ada perbedaan antara “revolusi industri ke-4” (fourth industrial revolution) dan “industri 4.0”. Revolusi industri mencakup berbagai aspek (domain) kehidupan, sementara industri 4.0 hanya spesifik ke dalam industri-nya sendiri. Revolusi industri ke-4 menunjukkan integrasi antara dunia nyata dan dunia siber. Internet of Things (IoT) dengan berbagai sensornya merupakan contoh integrasi kedua dunia tersebut. Mudah-mudahan penjelasan singkat ini dapat dipahami. Nanti akan saya uraikan lebih dalam lagi jika dibutuhkan.

Menurut opini saya, istilah “industri 4.0” ini sebetulnya muncul dari kekalahan Jerman dalam bidang industri oleh Tiongkok (China). Perlu diingat bahwa jaman dahulu produk-produk buatan Tiongkok memiliki kualitas yang buruk, sementara produk buatan Jerman memiliki kualitas yang sangat baik. Namun sekarang, Tiongkok mampu memproduksi produk dengan tingkat kualitas yang super baik. Maka istilah “industry 4.0” dikoinkan oleh Jerman untuk menunjukkan hal lain dari hanya sekedar membuat produk yang baik saja.

Apakah sebuah instansi (perusahaan, industri) telah mengadopsi industri 4.0? Seberapa jauh tingkat adopsinya? (Ini akan saya perbaharui pada tulisan selanjutnya.)

Materi Presentasi

Banyak yang tidak tahu bahwa salah satu pekerjaan utama saya adalah memberikan presentasi. Jika tidak saya batasi, maka mungkin setiap hari kerjaan saya adalah memberikan presentasi dari satu seminar ke seminar berikutnya. Percayalah bahwa setiap minggu saya menolak beberapa tawaran untuk presentasi.

Mungkin bagi sebagian besar orang memberikan presentasi adalah kesempatan, tetapi bagi saya ini adalah kesempitan. ha ha ha.

Saya sudah melakukan presentasi ini sejak kapan ya? Mungkin sejak tahun 1998? Jadi kalau sekarang dihitung, sudah lebih dari 21 tahun saya memberikan presentasi. Kalau dalam satu tahun ada 50 minggu (pendekatan) dan setiap minggu saya memberikan 2 presentasi, maka dalam 1 tahun ada 100 presentasi. Dalam kurun 20 tahun ada 2000 presentasi!

Banyak juga pengelola acara (organizer) yang meminta materi presentasi saya di depan. Nampaknya mereka tidak kenal saya dan belum pernah datang ke acara presentasi saya sehingga mereka khawatir bahwa presentasi saya sama dengan presentasi orang-orang yang lain; membosankan, tidak fokus pada topik yang diberikan, dan hal-hal lainnya. Padahal kalau saja mereka mau melakukan sedikit “riset” (misal melihat web saya dan membaca CV saya) mereka akan tahu bahwa saya sudah banyak memberikan presentasi dan semuanya (?) bagus-bagus. Do a little home work, please.

Materi presentasi saya biasanya bukan handout. Bentuknya lebih ke arah “lessig-style”, yaitu kata kunci (keywords) saja. Akibatnya kalau hanya melihat materi presentasinya, maka Anda tidak akan tahu presentasi saya. You have to be there. Ini memang sengaja saya desain seperti ini. Jika materi presentasi saya persis dengan apa yang saya katakan, maka para pendengar (kalau di kelas adalah mahasiswa) tidak akan mendengarkan karena mereka akan bilang nanti akan saya baca di rumah. (Yang mana ini juga tidak bakal kejadian karena sudah ada kegiatan lain yang menunggu.) Dengan kata lain, kalau Anda meminta materi presentasi saya, ya percuma.

Berikutnya lagi adalah ada banyak “kejutan” dalam materi presentasi saya. Biasanya saya suka melawak dalam presentasi saya. Jika lawakan saya ini kemudian diberikan kepada peserta (bahkan dicetak) sebelum acaranya, maka lawakan saya menjadi tidak lucu lagi. Faktor “surprise”-nya tidak ada. Itulah sebabnya saya tidak dapat memberikan materi presentasi di depan.

Masih banyak lagi alasan saya untuk tidak memberikan materi presentasi di depan, tetapi tulisan ini sudah kepanjangan dan mungkin Anda sudah bosan. Jadi, kalau mau melihat (mendengarkan) saya presentasi ya harus datang. Saya tidak membagi materi presentasi.

Untuk para organizer di luar sana, silahkan resapi tulisan saya ini sebelum Anda mengundang saya menjadi pembicara.

Data BUKAN Minyak Terbaru

Banyak orang yang mengatakan bahwa “data is the new oil“. (Saya belum menemukan terjemahan yang pas sehingga judul dari tulisan ini seperti ini.) Alasan yang digunakan mereka adalah data dapat diperjualbelikan dan bahkan katanya harganya mahal. Itulah sebabnya banyak layanan (umumnya di internet) yang gratis dengan menukarkan dengan data pribadi kita.

Saya tidak sependapat dengan analogi data dengan minyak, karena bagi saya analogi yang lebih cocok adalah data sama dengan sampah. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan.

  • Data kita hasilkan secara rutin. Ini sama dengan kita menghasilkan sampah setiap hari. Mulai dari sampah makanan kita, sampai ke sampah dari pekerjaan kita sehari hari. Kita juga menghasilkan data setiap hari. Sebagai contoh sekarang hampir setiap handphone memiliki kamera, maka setiap orang memotret apa saja. Yang tidak penting-pentingpun dipotret. Demikian pula banyak orang yang ikut di dalam group (misal WA group) yang isinya chatting tidak penting. (Sekali-sekali lihat chat anak2 di bawah SMA. Chatnya lucu-lucu. Yang kadang-kadang hanya 1 huruf saja. “P”. Kemudian dibalas “T”. Kemudian dibalas “K”. Ini adalah data yang sama dengan sampah.)
  • Sampah juga dapat memiliki nilai (value). Misalnya, sampah plastik dapat didaur ulang menjadi plastik kembali. Ada harganya. Itulah sebabnya ada orang yang pekerjaannya adalah mengumpulkan plastik bekas minuman kemasan. Namun secara umum sampah tidak diminati orang. Sama dengan data yang kita hasilkan, mungkin saja setelah diolah dia akan memiliki nilai. (Catatan: menurut pendapat saya ini sudah berubah dari data menjadi informasi.) Namun secara umum data yang kita hasilkan juga tidak diminati oleh orang lain.
  • Kita pusing dengan sampah. Bagaimana mengolah limbah sampah? Saya pun pusing dengan data yang ada di komputer saya. Di depan saya ada 5 harddisk yang sudah saya copot dari komputer. (Di komputernya masih ada 2 disk lagi.) Di dalamnya banyak data yang mirip dengan sampah; berkas-berkas yang saya unduh dari internet, foto-foto jepretan saya, lagu-lagu, materi presentasi, tugas mahasiswa, dan seterusnya.

Selain hal-hal di atas, masih banyak poin lain yang menunjukkan bahwa data itu lebih mirip dengan sampah.

Saya ambil contoh. Saya memiliki daftar nama mahasiswa yang mengambil kuliah saya saat ini. Itu data. Apakah ada nilainya? Jangan cepat-cepat mengatakan iya. Jika memang data ini ada nilainya, maka apakah Anda mau membelinya dengan harga Rp. 5 juta? Kemungkinan besar, tidak. Bagaimana jika Rp. 500 ribu? Kemungkinan juga tidak. Kalau Rp. 50 ribu. Mulai Anda mikir. Kalau Rp. 5 ribu? Mungkin Anda berminat (karena gorenganpun harganya seperti itu.) Mungkin Anda berminat karena ingin menjukkan bahwa data itu ada harganya, tetapi jujur saja. Untuk apa data itu bagi Anda? Data tersebut tidak ada nilainya. Atau nilainya sangat kecil. Sama dengan sampah.

one man junk is another man’s treasure

Demikianlah pendapat saya, bahwa “Data is the new junk“.

Oh ya, ada versi video dari opini saya ini di YouTube channel saya.

Gara-gara Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi ternyata bikin saya pusing. Begini. Saya kan menulis cerita tentang “Jek dan Sar” (linknya nanti saya pasang di sini). Cerita ini terhenti cukup lama. Tahunan. Terus apa hubungannya dengan teknologi?

Dalam cerita “Jek dan Sar” itu mereka berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Nah, jaman sekarang siapa yang menggunakan SMS? Anak-anak milenial pasti akan tertawa sampai sakit perut kalau masih ada orang berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Tidak masuk akal. Hanya teks saja dan bayar pula!

Kalau cerita saya itu mau kekinian, maka semuanya harus saya tulis ulang dengan menggunakan WA/Telegram (atau apapun program messaging yang sedang populer saat ini). Bahkan akan lucu kalau Jek dan Sar tidak saling kirim foto lewat Instagram, misalnya. Nah lho.

Kalau cerita saya tulis dengan setingan lama – jama SMS itu – maka saya yang pusing karena saya harus terbang ke waktu jaman itu. Beban ada di saya. Meskipun ini mungkin adalah pilihan yang paling logis. Toh cerita-cerita yang mengambil setingan waktu jaman dahulu pun masih tetap mungkin. Lah Dilan saja mengambil setingan waktu tahun 1990-an. Berarti saya saja yang kurang kreatif. Ha ha ha.

Jadi bagaimana bagusnya?

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Ada banyak teknologi “baru” yang muncul. Mereka disebut “emerging technologies”. Tidak semuanya akan sukses. Akan ada yang muncul dan kemudian menghilang, tetapi ada yang muncul dan membuat perubahan yang dahsyat dalam kehidupan kita.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI – saya akan menggunakan singkatan AI dalam tulisan ini) merupakan salah satu teknologi yang akan membuat perubahan yang dahsyat. Sebetulnya AI ini bukan teknologi yang baru karena awalnya sudah dimulai pada tahun 1950-an. Yang membuat dia menjadi “baru” adalah karena adanya inovasi-inovasi di bidang lain – (mikro)elektronika, komputer, jaringan, storage, database, cloud computing – maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan oleh AI menjadi masalah yang nyata. Dahulu dia hanya dapat memecahkan masalah mainan (dolanan) saja.

Dampak yang ditimbulkan oleh AI mirip (atau lebih hebat?) dari dampak yang ditimbulkan oleh mekanisasi / otomatisasi. Pekerjaan-pekerjaan yang rutin dan membosankan akan digantikan oleh mesin yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan. Akibatnya lapangan pekerjaan yang dahulu menggunakan manusia akan tergerus. Akan ramai ini. Untuk poin ini saya tidak ingin membuatnya menjadi isyu yang keras karena nanti akan ada alergi kepada AI. Padahal kita harus menguasai AI sebelum AI menguasai kita atau AI produk dari negara lain yang menguasai kita.

Sejauh mana AI akan merasuk ke dalam kehidupan kita? Nampaknya saya harus membuat tulisan – atau video – yang lebih rinci lagi bahasannya. Mencari waktu …

Rajin Futsal

Saya termasuk yang rajin futsal. Terlalu rajin, bahkan. Seminggu saya futsal tiga kali; Senin, Rabu, dan Sabtu. Masing-masing itu waktunya 2 jam. Hal ini sudah saya lakukan selama belasan tahun.

Alasan utama saya rajin futsal adalah untuk kesehatan. Semakin berusia saya harus memaksakan diri berolahraga. Futsal ini salah satu olah raga yang cocok bagi saya karena dia olah raga rame-rame. Kalau olah raga sendirian, misal jalan atau lari di thread mill, jadi malas. Akhirnya berhenti berolahraga. Memang pemilihan jenis olahraganya ya cocok-cocokan. Saya cocok dengan futsal.

Banyak orang yang tidak berolahraga dan mencari banyak alasan; capek, jauh tempatnya, hujan, tidak punya uang, dan sejuta alasan lainnya. Kalau mau dicari, ya akan selalu ada alasannya. Memang bagian yang terberat bagi olah raga adalah memaksakan diri pergi ke tempat olah raganya.

Karena tujuannya adalah untuk kesehatan, maka dalam bermain futsal saya tidak mencari prestasi. Mau kalah atau menang, tidak penting itu. Yang penting adalah hadir dan bersemangat. Nah, soal semangat itu banyak anak muda yang kurang atau hilang semangat ketika kalah dalam bermain. Saya tidak. Kalau mau diadu, maka saya akan menang dalam hal semangat. Soalnya di aspek lain, skill misalnya, pastilah saya kalah dengan yang lebih muda. Tapi soal semangat, saya masih bisa menang. Ha ha ha. Jadi bisa dipastikan saya yang paling semangat di tim.

Mau sehat? Ya harus berusaha. Futsal adalah salah satu upaya saya untuk sehat.