Rektor Asing?

Belakangan ini sedang ramai dibicarakan tentang kemungkinan menggunakan tenaga kerja asing untuk menjadi rektor di perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu alasannya adalah agar perguruan tinggi di Indonesia meningkat peringkatnya di dunia.

Pendapat saya soal hal ini adalah oke-oke saja, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Jadi saya sampaikan dahulu kontra-nya, baru nanti pro-nya.

Pertama, rektor asing belum tentu memahami situasi di Indonesia. Bagi yang pernah menggeluti perguruan tinggi di luar negeri dan kemudian kembali ke Indonesia di lingkungan perguruan tinggi lagi pasti dapat memahami perbedaan yang besar. (Saya cukup lama di Kanada sebagai mahasiswa dan juga sempat mengajar / jadi dosen di sana. Saat ini saya dosen di ITB.) Bagi orang asing yang ke Indonesia – atau bahkan orang Indonesia yang lama di luar negeri kemudian kembali ke Indonesia – pasti akan mengalami culture shock. Ada banyak hal di Indonesia yang “tertinggal” di bandingkan dengan kawannya di luar negeri. Kalau tidak dapat menyesuaikan diri, pasti frustasi.

Rektor (asing) ini menghadapi banyak dosen yang sesungguhnya tidak berniat mengajar atau meneliti. Banyak dosen yang hanya ingin statusnya saja, atau mengejar pangkat (gelar, ketenaran) saja. Eh, jangankan dosen, ada juga orang yang menjadi rektor karena merupakan batu loncatan untuk menjadi menteri. Dosen mengajar hanya untuk mendapatkan nilai (kum) saja. Bukan karena ingin mengajarkan ilmunya.

Penelitian yang dilakukan dosen pun banyak yang ngasal. Asal hanya mendapatkan dana saja. Menulis makalah-pun kebanyakan ngasal. Dana penelitian juga datangnya telat. Sebagai contoh, dana penelitian yang harusnya turun di awal tahun baru turun di bulan September. Sementara bulan November laporan hasil penelitian harus masuk. Bagaimana mau menjalankan penelitian model begini? Tahun depannya juga belum tentu ada dana penelitian. Topik penelitianpun berubah-ubah. Tidak ada konsistensi.

Itulah sebabnya tingkat penelitian di Indonesia rendah. Tidak aneh, bukan?

Mahasiswa yang ada juga tidak kalah kacaunya. Banyak mahasiswa yang sebetulnya tidak serius kuliah. Alasan mereka ke kampus adalah daripada nganggur di rumah. Tidak ada semangat untuk kuliah. Apa harapan Anda dengan perguruan tinggi yang mahasiswanya seperti ini?

Tingkat perguruan tinggi salah satunya diukur dengan jumlah penelitian yang dihasilkan oleh perguruan tinggi tersebut. Penelitian-penelitian seperti ini umumnya terjadi di tingkat S3 (dan juga S2), bukan S1. Maka seharusnya yang lebih ditekankan adalah mahasiswa S2 dan S3. Sayangnya di Indonesia fokusnya malah mendapatkan mahasiswa S1. Ya, tidak akan naik peringkatnya.

Berdasarkan itu semua, rektor asing mungkin tidak akan berpengaruh kepada peringkat perguruan tinggi di Indonesia.

Namun ada hal-hal yang mungkin dapat berubah dengan adanya rektor asing. Ini pro-nya.

Rektor asing tidak memiliki (conflict of) interest untuk menjadi menteri. Maka dia tidak menggunakan jabatannya ini sebagai batu loncatan. Mereka juga tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan banyak pihak di Indonesia sehingga hal-hal yang terkait dengan KKN (terutama aspek nepotisme-nya) tidak terjadi.

Rektor asing dapat membawa budaya pendidikan yang lebih baik. Dia dapat membawa koneksi-koneksi pendidikannya. Hubungan ke perguruan tinggi di luar negeri (misal dari tempat dia berasal) dan lembaga penelitian dapat diperbaiki. Kredibilitas dari perguruan tinggi dapat naik sehingga dipercaya oleh lembaga asing untuk melakukan penelitian, misalnya.

Jadi, mungkin saja rektor asing dapat memperbaiki kualitas perguruan tinggi di Indonesia.

Iklan

Sibuk

Iya, iya, iya. Saya sudah agak lama tidak menulis di blog ini. Alasan saya – sama seperti orang lain – masih tetap klasik, sibuk. Whoaaahhh. Iya. Beneran.

Menulis blog tadinya merupakan satu-satunya saya mengungkapkan ide. Ternyata sekarang lebih mudah menggunakan video. Dahulu, jaringan internet masih lambat (dan komputernya juga masih lambat) sehingga untuk membuat video masih susah. Sekarang tinggal rekam – dan kalau perlu edit sedikit – selesai.

Ini contoh video yang saya buat dan langsung upload ke channel saya di YouTube. Ya, vlog pertama saya.

Saya termasuk yang membuat video dalam satu take. One shot. That’s all. Sekali jadi. Tidak ada ambil ulang. Saya paham bahwa kebanyakan orang membuat video dengan melakukan pengambilan berkali-kali. Agar sempurna tentunya. Akibatnya, membuat video masih lebih sulit dari sekedar menulis.

Untuk menulis blog ini saya harus menunggu sampai saya berada di depan komputer untuk waktu yang agak lama. Membuka internet, kemudian mengetikkan tulisannya. Hal ini agak sulit untuk dilakukan sambil berjalan. Saya juga masih sulit untuk menulis dengan mengunakan handphone. Saya harus menulis dengan menggunakan keyboard dalam ukuran sebenarnya. Ini juga yang membuat saya menjadi lambat menulis di blog.

Baiklah. Sudah saya jelaskan mengapa saya lambat memperbaharui blog ini. Mengenai kesibukan saya, akan saya ceritakan di sini. Atau … malah di channel YouTube saya? ha ha ha. Ya jadinya malah tambah lambat update ini dong.

Pakaian dan Perlakuan

Perlakuan seseorang terhadap kita bergantung pada pakaian yang kita pakai. Seharusnya sih tidak begitu banget, tetapi itulah kenyataan. Kalau kita pakai pakaian keren (baca: mahal), maka kita akan mendapatkan perlakuan spesial. Sementara itu kalau kita berpakaian gembel, maka kita akan mendapatkan perlakukan busuk juga. Itulah sebabnya banyak orang berpakaian keren-keren.

Saya melakukan yang sebaliknya. Saya sering berpakaian tidak terlalu keren. Apa adanya. Selama pakaian itu bersih, tidak masalah bagi saya. Bersih itu sebuah keharusan. Sisanya, optional. Ha ha ha. Dan tentu saja saya mendapatkan perlakukan yang berbeda.

Seringkali saya gunakan hal ini – berpakaian seadanya – untuk menguji layanan dari seseorang atau sebuah organisasi, saya berpakaian seadanya. Jika orang itu memang ramah, maka dia akan tetap ramah meskipun pakaian saya bukan pakaian mahal.

Berani mencoba?

Sidang MK (babak 2)

Judul tulisan ini memang tendensius, “Sidang MK” gitu lho. Lah kan suka-suka saya, mau saya kasih judul “Sidang MK” atau “Game Mortal Kombat” juga terserah saya kan? he he he. Tapi kan bapak pakai “babak 2”. Mana “babak 1”-nya pak? Lah, apa memang harus urut? Kata siapa? Saya mau mulai dari “babak 17” terus mundur juga ndak apa-apa kan? Yo wis pak. Karepmu. Pastilah. he he he.

Kembali ke topik. Sidang MK. Saya tidak mengikuti siaran Sidang MK di televisi. Kenapa tidak? Lah, kenapa harus? Sekarang saya tanya ke Anda, “apakah Anda mengikuti FIFA Women’s World Cup?”. Tidak juga kan? Kenapa? Karena bagi Anda itu tidak penting. Nah, sidang MK juga bagi saya tidak menarik karena sudah tahu hasilnya. Berikut ini adalah narasi tanya jawab kepada saya.

Penanya: Lho, bapak sudah tahu hasil sidang MK?
Saya: Ya sudahlah. Sama dengan saya sudah tahu hasil akhir “FIFA Women’s World Cup”
Kok bisa pa? Bapak ahli nujum ya?
Bukan. Saya hanya ahli logika.
Coba buktikan. Kalau bapak sudah tahu hasil “FIFA Women’s World Cup?”, nantinya hasilnya bagaimana?
Mau bukti? Nanti hasilnya adalah “Indonesia tidak juara di Women’s World Cup” itu. Silahkan nanti buktikan.
Oalah paaak. Kan Indonesia tidak ikutan.
Lah, kan saya tidak mempermasalahkan itu. Yang penting hasilnya saya sudah tahu kan?
[yang nanya mulai mangkel. kezel.]

Ok deh. Kalau begitu, bapak tahu hasil akhir MK?
Sudah tahu juga.
Apa? Atau, bagaimana?
Sebetulnya mau saya ceritakan, tapi nanti Anda malah tambah mangkel. Jadi tidak usah saya ceritakan.


[yang nanya langsung ngeloyor pergi tanpa pamit. menengok pun tidak. ketika sudah agak jauh, saya lihat jari tangannya menunjukkan sesuatu. saya yakin bukan jempol, tapi saya tidak tahu apa itu.]

Parodi Superhero (4)

Nanti malam mau ngeronda lagi ah, pikir Spiderman. Mumpung besok hari libur. Tapi entah kenapa Spiderman merasa bahwa malam ini kejahatan bakalan sepi. Para penjahat kayaknya mau liburan juga. Tapi kan dia harus tetap waspada. Untuk jaga-jaga agar tidak bosan, Spiderman membawa handphonenya Peter Parker.

Seperti sudah diduga, malam ini sepi kejahatan. Padahal Spiderman sudah menunggu di daerah yang biasanya ramai kejahatan. Maka Spiderman duduk nangkring di atas gedung sambil mainan handphone. Untung di atas gedung ini masih ada sinyal operator. Main game online dia. Apa gamenya? Dia tidak mau cerita.

Kruyuk. Kruyuk. Halah. Perutnya bunyi. Kelaparan ternyata. Spiderman lupa belum makan malam. Tadi siang juga makannya sedikit. Hadoh. Mau pulang ke rumah kok males. Sampai di rumah juga pasti belum ada makanan yang siap. Harus buat dulu. Yang paling cepat bikin roti atau supermi. Tapi malas. Hmm …

Kan ada Go-Jek. Ada Go-Food. Spiderman kepikiran. Untung juga bawa handphone. Maka dia mulai melihat-lihat menu yang tersedia di Go-Food. Maklum ini kan tengah malam dan mau liburan pula. Tidak banyak tempat jual makanan yang masih buka. Mau apa ya? Pizza saja kayaknya. Dia yang paling gak ribet. Bisa dibawa ke atap gedung. Kalau yang berkuah seperti soto-soto-an bakalan susah. Gak ada mangkok. Pizza it is!

Maka Spiderman memilih pizza dari kedai yang masih buka. Minumnya apa ya? Sebetulnya dia ingin minuman soda, tapi malam-malam begini enakan minum kopi. Agak kurang cocok sih, tapi jebret aja. Untungnya masih ada yang mau jualan pizza. Wuih. Mudah-mudahan ada driver Go-Jek yang mau antar.

malam kk“, sebuah pesan di aplikasi Go-Jek muncul.
malam“, jawab Spiderman.
sesuai aplikasi ya kk?” (ini kayaknya jawaban standar ya? jangan-jangan itu sudah diset di aplikasi go-jek, tinggal klik saja?)
iya. tapi jangan panggil saya pakai kk“. Spiderman kesel karena dipanggil “kakak”. Entah kenapa sekarang memang banyak yang menggunakan kata “kakak” untuk memanggil seseorang. Mungkin supaya agak sopan ya?

“jadinya apa kk. eh, maap”
“mas atau abang aja”, jawab Spiderman.
“baik bang. maap tadi gak yakin”
“kok gak yakin? emangnya ada nama peter yang perempuan?”
“maaap bang. kali aja … he he he”
“hayah”
“ditunggu ya bang”

Berapa menit kemudian ada pesan lagi.

“bang. ini beneran ngirimnya ke alamat itu?”
“emang kenapa?”
“itu kan daerah serem bang. rawan. banyak orang jahat”
“gpp. aku jamin”
“gimana abang bisa jamin?”
“percaya deh. aku jamin!”, Spiderman tidak ingin mengungkapkan jati dirinya.
“gimana kalau di jalan satunya bang. beda satu blok”
“oke deh. tungguin di perempatan aja”. Spiderman mengalah. Daripada ribut-ribut terus gak dapat pizza. Toh dia bisa loncat atau mengayun ke sana.
“oke. makasih bang”

Beberapa menit kemudian si abang Gojek celingukan di perempatan jalan yang sepi. Merinding juga dia. Gimana kalau dirampok. Ini masih daerah yang dekat-dekat dengan daerah rawan kejahatan. Hadoooh. Mana si abang Peter ini.

Berkelebat sebuah bayangan berwarna merah. Mengayun dan menyambar pizza dan kopi yang dibawa abang Gojek. Kaget si abang Gojek. Untung dia gak sampai pipis di celana. Cepat-cepat kabur dia dari sana. Bukan hanya rawan kejahatan di daerah sini, tapi rawan hantu juga. Kalau penjahat bisa dilihat. Nah ini hantu. Hiii … Langsung dia nyalakan motor. Ngebut dia. Di tikungan godek-nya nyaris kena trotoar. Saking ngebutnya.

Sementara itu di puncak sebuah gedung tampak sebuah bayangan merah yang sedang menikmati pizza (dan kopi). Nom nom nom …

Oh ya. Tidak lupa Spideman memberikan nilai 5 bintang kepada si abang Gojek. Tak lupa dia memberikan tip Rp. 10.000,-. Soalnya dia tidak mau orang bilang Spiderman pelit. Beberapa waktu yang lalu Peter Parker dapat pesan tahunan dari Gojek yang bilang dia jarang kasih tip, padahal dia *selalu* kasih tip. Salah tuh aplikasi Gojek. Hallowww Gojek?

[Seri parodi superhero: 1, 2, 3, 4]

Seri Video Startup

Akhirnya saya mulai membuat video (vlog) tentang Startup. Tentang menjadi entrepreneur. Ini akan menjadi seri video karena ada banyak topik yang akan dibahas.

Sebenarnya, ide awalnya sih blog ini akan membuat versi tulisan dari video tersebut. Jadi orang yang senang melihat video, silahkan melihat videonya. Sementara itu, orang yang senang membaca dapat membaca blog ini. Rencananya juga yang di blog bisa ditambah dengan pembahasan yang lebih rinci lagi, karena ruangnya lebih lega. (Kalau membuat video yang terlalu panjang, tidak diminati orang.) Selain itu juga blog lebih nyaman untuk dijadikan tempat diskusi. (Ini dapat berubah.) Untuk sementara ini pembahasan belum saya buat. Jadi saya buatkan ulasan singkatnya dulu saja.

Video pertama adalah tentang bagaimana memulai startup itu sendiri. Saya mengusulkan ada dua alasan; (1) ingin memecahkan sebuah masalah, dan (2) karena bisa sesuatu dan ingin membuat bisnis berdasarkan kebisaan saya tersebut. Simak videonya di sini.

Startup: ideation

Video kedua membahas lebih lanjut tentang ide tersebut. Apa hubungan ide tersebut dengan Anda? Bagi saya, ide sebuah startup harus terkait dengan Anda. Misalnya, ide tersebut memecahkan masalah pribadi Anda. Atau jika bukan Anda sendiri, itu adalah masalah salah satu orang di tim Anda. Jika ide tersebut tidak ada hubungannya dengan Anda, maka minggu depan Anda akan dengan mudah mengganti topik.

Startup: ide dan Anda

Demikian secara singkat dua video tentang startup yang sudah saya buat. Akan ada video-video yang lain. Menyusul. Semoga.