Materi Presentasi

Banyak yang tidak tahu bahwa salah satu pekerjaan utama saya adalah memberikan presentasi. Jika tidak saya batasi, maka mungkin setiap hari kerjaan saya adalah memberikan presentasi dari satu seminar ke seminar berikutnya. Percayalah bahwa setiap minggu saya menolak beberapa tawaran untuk presentasi.

Mungkin bagi sebagian besar orang memberikan presentasi adalah kesempatan, tetapi bagi saya ini adalah kesempitan. ha ha ha.

Saya sudah melakukan presentasi ini sejak kapan ya? Mungkin sejak tahun 1998? Jadi kalau sekarang dihitung, sudah lebih dari 21 tahun saya memberikan presentasi. Kalau dalam satu tahun ada 50 minggu (pendekatan) dan setiap minggu saya memberikan 2 presentasi, maka dalam 1 tahun ada 100 presentasi. Dalam kurun 20 tahun ada 2000 presentasi!

Banyak juga pengelola acara (organizer) yang meminta materi presentasi saya di depan. Nampaknya mereka tidak kenal saya dan belum pernah datang ke acara presentasi saya sehingga mereka khawatir bahwa presentasi saya sama dengan presentasi orang-orang yang lain; membosankan, tidak fokus pada topik yang diberikan, dan hal-hal lainnya. Padahal kalau saja mereka mau melakukan sedikit “riset” (misal melihat web saya dan membaca CV saya) mereka akan tahu bahwa saya sudah banyak memberikan presentasi dan semuanya (?) bagus-bagus. Do a little home work, please.

Materi presentasi saya biasanya bukan handout. Bentuknya lebih ke arah “lessig-style”, yaitu kata kunci (keywords) saja. Akibatnya kalau hanya melihat materi presentasinya, maka Anda tidak akan tahu presentasi saya. You have to be there. Ini memang sengaja saya desain seperti ini. Jika materi presentasi saya persis dengan apa yang saya katakan, maka para pendengar (kalau di kelas adalah mahasiswa) tidak akan mendengarkan karena mereka akan bilang nanti akan saya baca di rumah. (Yang mana ini juga tidak bakal kejadian karena sudah ada kegiatan lain yang menunggu.) Dengan kata lain, kalau Anda meminta materi presentasi saya, ya percuma.

Berikutnya lagi adalah ada banyak “kejutan” dalam materi presentasi saya. Biasanya saya suka melawak dalam presentasi saya. Jika lawakan saya ini kemudian diberikan kepada peserta (bahkan dicetak) sebelum acaranya, maka lawakan saya menjadi tidak lucu lagi. Faktor “surprise”-nya tidak ada. Itulah sebabnya saya tidak dapat memberikan materi presentasi di depan.

Masih banyak lagi alasan saya untuk tidak memberikan materi presentasi di depan, tetapi tulisan ini sudah kepanjangan dan mungkin Anda sudah bosan. Jadi, kalau mau melihat (mendengarkan) saya presentasi ya harus datang. Saya tidak membagi materi presentasi.

Untuk para organizer di luar sana, silahkan resapi tulisan saya ini sebelum Anda mengundang saya menjadi pembicara.

Pidato, Debat, Presentasi, dan hal-hal terkait

Mumpung pas sedang ramai dibicarakan soal pidato dan debat dalam rangka pemilihan presiden maka saya angkat topik ini. Topik ini sebetulnya sudah banyak saya bahas – terutama di kelas – dalam kerangka presentasi, tetapi akan saya bahas kembali di sini.

Banyak orang yang mempertanyakan ketika salah satu pasangan calon (eh, atau bahkan semua) melakukan latihan pidato atau debat (atau dalam tulisan ini saya akan gunakan istilah “presentasi” secara umum). Konotasinya negatif. Justru saya malah melihat bahwa kebanyakan orang KURANG latihan presentasi. Termasuk para paslon itu kurang latihan presentasi. Ha ha ha.

Salah satu modal utama dari kebagusan presentasi adalah latihan. Ini merupakan bagian dari persiapan. Berapa kali Anda mencoba latihan mempresentasikan materi Anda? Satu atau dua kali? Saya usulkan 40 kali! Sebanyak itu? Iya, sebanyak itu. Kalau hanya sekali atau dua kali, itu masih jauh dari siap.

Orang-orang yang presentasinya bagus-bagus, termasuk Steve Jobs, berkali-kali mencoba presentasinya. Bukannya mereka tidak bisa, tetapi untuk membiasakan dengan materi tersebut. Excellence is not an act, but a habbit.

Oh ya, saya sering latihan presentasi karena terpaksa. Dalam satu bulan biasanya saya sedikitnya memberikan dua presentasi. Kadang kala ada dua presentasi dalam seminggu, sehingga totalnya 8 presentasi dalam sebulan. Dalam setahun, tinggal dikalikan saja, ada 96 kali presentasi. Itu belum termasuk mengajar 4 mata kuliah yang mana setiap minggu saya harus presentasi antara 4 sampai 8 kali. Satu bulan saya harus presentasi 12 sampai 30 kali. Satu tahun ada 300 kali presentasi. Dikalikan 10 tahun saja (padahal saya sudah mengajar lebih dari 20 tahun), maka ada 3000 kali saya presentasi yang sudah saya lakukan. Dan saya masih menghargai latihan presentasi.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda berlatih melakukan presentasi? Apakah Anda masih akan mencela latihan presentasi?

Materi Presentasi

Dalam tulisan sebelumnya (“Minta Materi Presentasi“), saya menunjukkan banyaknya permintaan akan materi presentasi saya. Materi presentasi saya umumnya dapat diperoleh di berbagai tempat (slide share, web saya, dan panitia acara). Yang belum saya ceritakan adalah bahwa materi presentasi saya mungkin kurang bermanfaat jika dibaca saja tanpa hadir di acaranya. Mengapa demikian? Karena yang saya tampilkan dalam slide saya biasanya hanya poin utamanya tanpa ada pembahasan.

Saya menganut paham bahwa materi presentasi hanyalah pendukung dari sebuah presentasi. Hal yang utama adalah sang presenter sendiri. Apa yang dia ceritakan dan seterusnya. Jadi fokus dari sebuah presentasi adalah sang presenternya sendiri.

Akibat dari paham seperti ini, maka materi presentasi saya isinya hanya poin yang ingin saya sampaikan. Misalnya slide saya hanya berisi kata-kata “Sejarah Artificial Intelligence“. Itu saja. Pada presentasinya saya sesungguhnya, saya akan bercerita panjang lebar. Jika Anda hanya membaca slide saya itu saja tanpa berada di tempat presentasi maka Anda akan kehilangan banyak pemahaman dan makna yang ingin saya sampaikan.

Kalau ada slide yang hanya berisi tulisan “Sejarah Artificial Intelligence”, apa yang ada di kepala Anda? Apa yang dapat Anda peroleh dari slide itu?

Dengan kata lain, slide saya tanpa kehadiran di tempat presentasinya mungkin kurang bermanfaat. Ini seperti sebuah buku yang hanya berisi “Daftar Isi” saja. ha ha ha.

Begitu.

Kesiapan Materi Presentasi

Pak, apakah materi presentasinya boleh dikirimkan ke kami?

Jangankan materi presentasi yang untuk beberapa hari ke depan, materi presentasi untuk besok saja belum dibuat. ha ha ha. Begitulah yang terjadi dengan saya. Materi presentasi hanya bisa diperoleh pada hari-H-nya saja.

materi-presentasi

Mengapa demikian? Bukannya saya malas, tetapi karena banyaknya presentasi yang harus saya lakukan. Jika digabungkan dengan materi kuliah yang harus saya siapkan (yang mana ini termasuk materi presentasinya), maka setiap hari ada dua atau tiga presentasi yang saya lakukan. Mana bisa presentasiĀ  minggu depan siap.

Demikianlah.

Jadi kalau Anda menjalankan seminar / workshop / kuliah / talk show atau apapun yang mana saya jadi pembicaranya, maka materi presentasi dari saya baru akan selesai pada hari H. Tentu saja Anda boleh menanyakan kepada saya tentang ketersediaan materi presentasinya jauh hari sebelum acara dilangsungkan, tetapi Anda sekarang sudah tahu jawabannya.

Minta Materi Presentasi?

Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima adalah permintaan materi presentasi (slide) dari berbagai presentasi saya. Maklum, saya (terlalu) sering memberi presentasi.

Sebetulnya tanpa diminta juga biasanya slide presentasi saya bagikan di slideshare atau di web pribadi saya. Kalau belum ada di sana biasanya adalah karena belum sempat melakukan upload saja. (Atau ada bagian dari materi presentasi yang perlu dihapus dulu, karena terlalu sensitif atau mengandung rahasia, sehingga membutuhkan usaha dan waktu untuk melakukannya. Lebih lama lagi.) Saya senang berbagi.

Iseng saja. Untuk yang sering minta materi presentasi, seberapa sering sih ada memberi materi presentasi ke orang lain (ke saya, misalnya)? hi hi hi. Sekedar ngecek saja. Jangan hanya sering meminta tapi jarang – atau bahkan tidak pernah – memberi.

Jadi kapan mau memberi materi presentasi?

Indonesia Update 2016

Perjalanan saya ke Australia ini sebetulnya dalam rangka acara “Indonesia Update 2016” yang diselenggarakan oleh Australian National University (ANU) Indonesia Project. Topik dari acara tahun ini adalah Digital Indonesia. Itulah sebabnya saya diundang menjadi salah satu pembicara. Saya akan berbicara tentang “cyber security”.

Acaranya dilangsungkan di kampus ANU, di kota Canberra, selama dua hari. Presentasi saya adalah presentasi terakhir di hari terakhir. (Ini ada keuntungan tersendiri, yaitu saya bisa suka-suka saya. Meskipun tidak bisa sebebas yang saya pikirkan. hi hi hi.) Pembicara yang lain keren-keren juga.

p_20160917_063951-01-jadwal

Peserta dari acara ini ternyata sangat banyak. Ruangan yang digunakan, sebuah teater, berukuran hampir 500 orang. Dan peserta yang datang banyak sekali. Hampir memenuhi ruangan. Berarti mendekati 500 orang.

Di hari pertama saya hanya mendengarkan. Bayu pembicara kedua mengidekan situasi politik di Indonesia seperti trilogi start wars. Dias (lupa di sesi berapa) juga menyinggung soal star wars. Akhirnya saya putuskan untuk menutup acara tema star wars; the return of the Jedi. ha ha ha.

cshi2hhumaa-wjv-jedi
the return of the (code) jedi

Tadinya saya mencari apa yang bisa dipakai untuk baju (dan lightsaber) untuk manggung. Gak nemu. Akhirnya saya putuskan untuk menggunakan hoodie saja. Jadilah seperti foto di atas. Lumayanlah. Tema Star Wars terjadi juga. hi hi hi.

p_20160917_130953_bf-folks-0001
Foto para pembicara sesi terakhir. Potret sebelum bubar

Di kampus ini saya menginap di University House, semacam hotel / dorm untuk tamu-tamu dari universitas. Tempatnya sangat dekat dengan ruang acara. Jadi tidak perlu transportasi. Tinggal jalan 2 menit dari kamar ke tempat presentasi. Tempatnya asyik juga. [foto-foto menyusul]

Canberra ini ternyata masih dingin juga. Harusnya sih temperaturnya sudah naik tetapi masih dingin. Setelah acara selesai, hari Minggu di kampus ini kosong banget. Sepiii. [foto2 menyusul, lagi] Canberra, meskipun ibu kota, ternyata kecil dan sepi. hi hi hi.

5 Hari 5 Presentasi

Beberapa hari terakhir ini jadwal saya lumayan padat. Setiap hari harus memberikan presentasi. Itu dengan topik yang berbeda-beda lho. Luar biasa muter otak. (Padahal selain itu ada juga kuliah yang harus saya berikan pada hari-hari itu. Ini juga perlu persiapan dan juga menjelaskan di depan kelas.)

Mau menuliskan tentang presentasinya juga tidak sempat karena waktu yang ada saya gunakan untuk menyiapkan materi presentasi tersebut. Memangnya materi presentasi bisa jadi dengan sendirinya? hi hi hi.

Sementara itu dulu. Masih ada 1 presentasi lagi yang belum saya buat materinya. ha ha ha.

Aspek Kejutan Dalam Presentasi

Setiap sebelum memberikan presentasi, selalu saya diminta untuk memberikan materi presentasi. Bagi saya sebetulnya ini tidak masalah karena umumnya materi presentasi ini saya upload ke web saya (budi.rahardjo.id). Jadi saya tidak punya masalah berbagi materi. Yang saya punya masalah adalah membagikan meteri sebelum presentasi.

Membagikan materi sebelum presentasi mengurangi aspek kejutan (surprised) dalam presentasi. Ada hal yang lucu dan penting menjadi garing dan basi jika pendengar sudah melihat (membaca) materi presentasinya.

Jadi solusinya bagaimana? Solusinya adalah saya membuat dua versi presentasi. Versi singkat yang saya berikan ke panitia dan versi yang akan dipresentasikan (yang berisi kejutan-kejutan). he he he.

Semoga terkejut …

Improvisasi Presentasi

Salah satu aspek dari memberikan presentasi adalah improvisasi. he he he. Ini terjadi mana kala situasi membutuhkan aksi yang drastis.

Tadi pagi, saya memberikan presentasi di acara Big Data. Masalahnya adalah pergantian slide diatur oleh panitia. Biasanya saya mengganti slide sendiri sebagai bagian dari teknik presentasi saya. (Ini cerita lain, tapi bagi yang sudah pernah mendengarkan teknik presentasi saya tentu tahu trik itu.) Yang lebih “menarik” lagi adalah tim yang menggerakkan slide berada di bagian lain dari ruang presentasi. (Ceritanya alat sorot – mau disebut infocus kok nyebut merek – tidak jalan pas acara mau mulai. Panitia harus berimprovisasi.) Tambahan lebih menarik lagi tim ini tidak dapat mendengarkan suara presenter. Maka pusinglah sang presenter.

Setelah melihat situasi ini dan melihat beberapa usulan, saya mengusulkan kepada tim slide bahwa kalau saya mau memajukan slide maka saya menggerakkan tangan kanan saya seperti meng-slide (atau malah seperti melambaikan tangan). Kalau mau mundur slidenya, saya menggunakan tangan kiri. Tujuannya adalah tim slide bisa melihat gerakan saya dan tidak perlu mendengarkan apa kata saya, yang memang tidak dapat mereka dengar.

Sukses! hi hi hi. Memang presenter harus siap-siap dengan improvisasi.

Acaranya sendiri keren. Sayang sekali saya tidak sempat mengunjungi semua booth yang ada.

Materi Presentasi Diperiksa Dahulu

Salah satu pekerjaan saya adalah memberikan presentasi. Mungkin malah ini pekerjaan utama saya. hi hi hi. Umumnya saya sangat bebas dalam memberikan presentasi, tetapi ada beberapa klien yang kadang minta draft materi presentasinya dahulu. Biasanya yang gini adalah perusahaan besar. Mungkin untuk memastikan materinya cocok? Atau tidak percaya kepada kemampuan pembicara untuk memberikan topik tersebut? Mungkin mereka pernah terkecoh sebelumnya? Atau bagaimana?

Bagi saya sebetulnya hal ini merupakan hal yang agak sulit. Pertama karena saya harus membuat materi jauh hari sebelum hari h-nya. Padahal kebiasaan saya adalah membuat materi mepet sebelum hari h-nya. hi hi hi. I work better under pressure. Kalaupun materi dibuat jauh hari, pas mendekati hari h-nya saya ubah lagi. hi hi hi.

Hal kedua, ada beberapa hal yang ingin saya buat suprise pada presentasinya. Kalau ini sudah disampaikan sebelumnya, ya tidak menarik lagi. Atau bagian ini mungkin tidak perlu saya tampilkan dalam versi draft-nya ya?

Sekarang sedang membuat materi presentasi. ihik.

Membuat Slide Presentasi

Baru selesai membuat slide materi presentasi. Fiyuh. Saya sadar bahwa membuat slide presentasi itu tidak mudah. Maksudnya adalah slide presentasi yang enak (indah) untuk dilihat dan tentunya mudah dimengerti.

Kebanyakan orang membuat materi presentasi asal-asalan. Pokoknya asal memenuhi syarat administratif saja, yaitu asal poin-poinnya nampak di materi presentasinya. Mereka tidak mempertimbangkan kata-kata yang digunakan.

Desainnya pun asal-asalan. Yang saya maksud dengan asal-asalan adalah yang terlalu banyak animasi atau gambar yang malah membuat bingung. Kalau isi dari presentasi kosong melompong, biar didesain bagus pun tetap akan kosong melompong. he he he.

Ada banyak tempat untuk melihat contoh-contoh slide yang bagus, misalnya Slide Share. Untuk yang di Indonesia ada presentonomics.

Seni Teknik Presentasi

Tadi saya mencoba menjabarkan teknik presentasi yang saya ketahui. Saya sampaikan “seni” (the art) dari presentasi. Saya gunakan kata seni karena saya belum yakin apa yang saya jelaskan dapat dikategorikan kepada ilmu šŸ™‚Ā  Jadi saya gunakan seni dulu saja.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita memberikan presentasi. Yang pertama adalah presentasi bukan pameran. Jadi pendengar tidak hanya sekedar menonton, seperti halnya pada pameran lukisan, misalnya. Pada presentasi yang bagus seharusnya terjadi dialog, baik secara verbal maupun secara telepati. he he he.

Yang kedua, ketika kita memberikan presentasi, kita harus hadir dalam presentasi tersebut. Maksudnya hadir di sini bukan secara fisik berada di tempat, tetapi secara emosi ikut terlibat dalam presentasi tersebut. Mungkin “immerse” kata yang lebih tepat. Kita masuk ke dalam presentasi kita.

Dan seterusnya. Lho kok? Iya, saya rapikan materi presentasi saya dulu. Nanti saya upload dan link-nya akan saya berikan di sini. Tulisan ini hanya sekedar iming-iming dulu. hi hi hi.

Salah Presentasi (Mahasiswa)

Dalam penjurian APICTA, saya duduk menjadi juri di bagian proyek mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Asia Pasifik. Berbagai hasil karya mahasiswa dipresentasikan; mulai dari desain web, games, sampai robot dan aplikasi embedded system lainnya. Hasil karyanya sebagian besar bagus-bagus. Masalahnya adalah dalam presentasi mereka.

Sebagian besar, atau malah boleh dikatakan hampir semua, peserta mengalami masalah dalam presentasinya. Yang paling sering terjadi adalah salah arah (misguided). Saya ambil contoh agar lebih jelas saja. Mahasiswa mempresentasikan topik keamanan dalam berkendaraan (atau kendaraan yang memiliki fitur keamanan), yaitu mendeteksi kalau pengemudinya mabuk atau lelah. Salah satu hal yang mereka lakukan adalah mengamati jalan dan membantu mobil mengamati jalannya. Untuk itu mereka harus membuat sebuah jalur. Path finder, kira-kiranya.

Sebetulnya inovasi mereka adalah pada ide, algoritma, dan trik dalam membuat jalur tersebut. Semestinya ini yang mereka tampilkan. Fokus. Namun mahasiswa mempresentasikan bahwa sistem mereka membantu keamanan pengendara. Pada presentasinya pun tidak dijelaskan kaitan antara path finder mereka dengan keamanan. Jadi mereka lebih banyak cerita kepada konteks, tetapi tidak pada inovasi mereka sendiri. Padahal yang dinilai adalah inovasi mereka.

Ada banyak contoh lain yang serupa. Mungkin mahasiswa ini ketakutan karyanya dianggap kecil efek atau manfaatnya? Padahal justruĀ  yang kecil-kecil, tetapi cerdas (clever), inilah yang menarik dari karya mahasiswa. Kita tahu bahwa mereka tidak akan membuat produk yang setingkat dengan kualitas buatan perusahaan. Di sisi lain, kita juga sadar bahwa seringkali mahasiswa menemukan ide yang lebih cerdas dari perusahaan. Coba saja kalau sang mahasiswa fokus kepada inovasinya…

Begitu oleh-oleh dari penjurian kali ini.

Keynote on Computational Intelligence

Pagi tadi saya ditelepon dan diminta untuk jadi keynote speaker pengganti di sebuah seminar. Keynote speaker-nya mendadak tidak bisa hadir padahal acaranya adalah hari ini. Kebetulan waktu yang diminta ternyata saya bisa. Jadi langsung saya sanggupi dan saya siapkan materi presentasinya.

Ini dari keynote saya adalah ada beberapa topik penelitian masa depan yang terkait computational intelligence. Yang pertama adalah hal-hal yang terkait dengan dunia jejaring sosial. Saya melihat dunia jejaring sosial akan mirip dengan dunia nyata. Di sana ada kehidupan dan tentunya akan banyak masalah (sosial). Pemahaman atas masalah sosial ini mungkin dapat dipahami dengan menggunakan model yang dapat dipecahkan dengan menggunakan computational intelligence.

Barricelli’s universe saya ambil sebagai contoh untuk menjelaskan betapa belum mengertinya kita tentang banyak hal. Barricelli membuat penelitian di tahun 1954 – sebuah simulasi yang dijalankan di atas komputer pertama ketika von Neuman dan kawan-kawan sedang tidak menggunakan CPU cycle-nya – tentang sebuah digital paleontology. Hasilnya cukup menarik. Ada kode dari Barricelli yang tidak dimengerti operator dan belum dijalankan. Ini menunjukkan betapa belum mengertinya kita.

Kemudian saya menunjukkan penelitian twitter kami, yang mana kami mencoba memahami struktur jejaring yang dibentuk oleh orang Indonesia di dunia twitter. Saya tampilkan program kecil yang sedang berjalan dan hasil penelitian sebelumnya. Cukup menarik rasanya.

Yang kedua, salah satu hal yang menarik dari layanan jejaring sosial adalah games. (Games tentu saja tersedia di luar jejaring sosial.) Games sekarang semakin menarik dengan kemampuan artificial intelligence yang membuat pemain ingin kembali main.

Wah, saya lupa juga untuk mengangkat topik layanan Siri yang terbaru ya.

Hal terakhir yang saya singgung adalah dunia security. Model computational intelligence dapat digunakan untuk mendeteksi serangan atau penyusupan dengan mencari pola serangan dari log intrusion detection system (IDS). Hasilnya memang belum terlalu menggembirakan meskipun dapat dikatakan positif.

Begitulah kira-kira apa yang saya sampaikan dalam keynote tadi siang.

Mengajari Presentasi Dalam Bahasa Inggris

Akhirnya hari Sabtu kemarin saya jadi mengajari presentasi dalam Bahasa Inggris, meskipun setup-nya tidak seperti yang saya perkirakan. Tadinya saya pikir saya diberi kesempatan untuk memberikan sedikit presentasi (mengenai cara memberikan presentasi), tetapi ternyata tidak. Saya meneruskan acara yang sudah berjalan.

Saya datang ke tempat acara jam 1 siang. (Paginya futsal dulu dong :)) Ternyata acaranya merupakan lanjutan dari acara sebelumnya, yaitu membuat materi presentasi. Sebelumnya mereka diminta untuk membuat materi presentasi (berasal dari berbagai makalah) dalam bahasa Inggris. Jadi bukan content-nya yang penting tapi nanti adalah presentasinya. Saya beri waktu dulu kepada mereka untuk menyelesaikan materi presentasinya.

Para peserta (yang semuanya adalah mahasiswa pascasarjana di ITB) kami bagi menjadi group, dengan 5 sampai dengan 6 orang per groupnya. Nantinya mereka saya minta untuk maju memberikan presentasi dan semua harus maju. Mengenai pembagiannya saya serahkan kepada masing-masing group. Setiap group saya berikan waktu 18 menit untuk presentasinya.

Hasil dari presentasinya cukup baik. Pertama, semua group menyelesaikan presentasinya kurang dari 18 menit! Sebuah hal yang bagus karena mereka harus bergantian untuk maju. Namun hal ini mungkin bisa terjadi karena mereka tidak terlalu comfortable untuk berbicara dalam Bahasa Inggris. Jadi mereka hanya bicara secukupnya. Kalau presentasinya dilakukan dalam Bahasa Indonesia, saya yakin akan banyak yang melebihi waktu yang saya berikan. he he he.

Hal kedua adalah presentasinya kadang terbata-bata. Ini dapat dimengerti karena bahasa Inggris bukan bahasa ibu kita. Kita harus mikir materi yang kita presentasikan dan bahasanya. Jangankan dalam bahasa Inggris, dalam bahasa Indonesia pun kita harus berpikir keras. Jadi ini bisa dimaafkan.

Mengenai teknik presentasinya sendiri, nampaknya banyak yang harus diperbaiki. Tapi ini untuk tutorial lain kali saja.

[Versi bahasa Inggris ada di sini: http://gbt.blogspot.com/2010/12/teaching-how-to-give-presentation-in.html]