Liburan …

Di tengah-tengah kesibukan, akhirnya saya memutuskan untuk “liburan” singkat. Hari Jum’at kemarin, saya dan anak saya kabur ke Yogyakarta untuk menonton konser musik rock dengan bintang utamanya Dream Theater. Sebetulnya sudah lama saya mengetahui keberadaan konser ini, tetapi memutuskan untuk pergi nontonnya agak mepet karena saya belum tahu skedul kesibukan saya. Begitu ada jeda sedikit, langsung diputuskan berangkat saja.

Awalnya acara ini hanya akan berlangsung satu hari, yaitu tanggal 29 September 2017 saja. Saya lihat tiketnya sudah habis. Eh, ternyata acaranya berlangsung dua hari. Ada tambahan show tanggal 30 September 2017. Akhirnya kami mengambil yang hari kedua itu. Langsung pesan tiket, book pesawat, dan book hotel.

Mengenai pemesanan hotel juga ada hal yang “lucu”. Awalnya acara konser rock ini akan di adakan di pelataran Candi Prambanan. Jadi awalnya kami mencari hotel yang dekat dengan Prambanan. Cari-cari di internet, dapat. Eh, hotelnya sudah penuh. Ya sudah, kami putuskan untuk ambil hotel Victoria (di belakang hotel Ambarukmo) saja. Pesan. Eh, ternyata lokasi konser dipindahkan ke stadiun Kridosono, yang mana ini lebih dekat ke hotel. Ha ha ha. Alhamdulillah. Nampaknya memang rencana menonton kami ini direstui.

Setelah Jum’atan kami pergi ke bandara dan menunggu pesawat. Eh, pesawat delay lebih dari dua jam. Untungnya saya tidak punya acara yang mendesak. Rencananya sih malam itu mau cari makan sate klathak saja. Jadi lumayan sabar menunggu di bandara. Pesawat sampai di Jogja dengan selamat dan kami langsung menuju hotel dengan menggunakan taksi bandara. Untungnya saya baru-baru ini ke Jogja, jadi tahu harus pesan taksinya dimana. Ini tidak terlalu nampak. Not so obvious for travelers.

Sampai di hotel, simpan tas terus langsung cari makan. Sate klathak. Eh, katanya ada yang dekat dengan hotel, yaitu di daerah Nologaten. Kami putuskan untuk jalan kaki saja ke sana. Lumayan juga, 15 menitan lah jalannya (jalan cepat). Sampai kami ke tempat satenya.

P_20170929_190757 pak jede 0001 Sate klathak-nya lumayan enak dan yang penting juga adalah *TIDAK ANTRI*. Di Jogja ini banyak tempat makan yang enak, tapi antrinya luar biasa. Mosok harus antri 1 atau 2 jam untuk makan. P_20170929_191105 0001

Ceritanya masih panjang, tapi yang penting adalah  besoknya nonton konser rock. Dream Theater-nya sendiri manggung jam 9 malam (nanti pada kenyataannya mereka manggung jam 8:30 malam), tetapi saya ingin nonton band-band lokal yang menjadi pembukanya. Jadi saya datang lebih awal.

P_20170930_153733 BR 0001

P_20170930_153802 LR 0001//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

BR-jogjarockarta//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Jreng!

[cerita lainnya menyusul. nanti saya update blog ini.]

Nonton Konser Badai Pasti Berlalu – Jogja

Ini untuk ketiga kalinya saya nonton konser Badai Pasti Berlalu (Plus). Yang pertama, yang di Jakarta. Kemudian dilanjutkan yang di Bandung. Nah, yang di Jogja ini yang ketiga. Di antaranya ada yang di Surabaya dan Malang yang tidak sempat saya tonton. Sebelum yang di Jakarta itu juga sudah ada lagi katanya.

Nonton kali ini saya niatkan lebih banyak untuk potret memotret. Saya minta ijin ke mbak Tiwie agar diperbolehkan memotret. Saya dikasih ID supaya bisa blusukan. Yayyy.

Ke Jogja memang saya niatkan spesifik untuk nonton konser yang dilakukan tanggal 6 Desember November 2016. Itu hari Minggu malam. Wah. Karena saya berangkat dari Bandung dan pesawat dari Bandung adanya sore hari, maka saya berangkat sehari sebelumnya. Daripada nanti pesawat telat dan tidak bisa nonton. Lagian, saya mau lihat juga pas mereka checksound. Maka berangkatlah saya ke Jogja hari Sabtu. (Minggu pagi ada kesempatan jalan-jalan ke Prambanan dulu. hi hi hi.)

dsc_8612-yockie-epic-0001

Hari Minggu siang, saya mampir dulu ke Grand Pacific tempat acara akan dilangsungkan. Di sana sudah ada mas Yockie Suryo Prayogo dan band yang sedang checksound. Mulailah saya mencoba motret sana sini dengan kamera yang saya miliki (hanya Nikon D3100 saja). Saya sendiri tidak berani mengganggu keseriusan mereka. Jadi untuk menegursapa mas Yockie-pun tidak saya lakukan. Saya hanya sampai jam 3-an kalau tidak salah, karena saya mau pulang istirahat dulu bentar (karena tadi ke Prambanan).

Malam sebelum jam 7, saya sudah jalan dari hotel ke Grand Pacific. Hotel yang saya pilihpun yang dekat dengan venue supaya bisa jalan kaki. Sesampainya di sana penonton sudah mulai berdatangan, tetapi artis-artisnya belum ada. Ternyata hanya mas Kadri saja yang sudah ada di tempat. Saya beli kaos plus CD mas Kadri saja.

Nunggu-nggung, akhirnya juga datang para pemain dengan menggunakan bis. Lantas mereka berkumpul di ruang tunggu. (Potret-potret lagi.) Setelah siap, maka dilanjutkan dengan berdoa yang dipimpin oleh Keenan Nasution. Setelah itu jreng!

Maka sibuklah saya memotret sana sini sambil menikmati konsernya. (Jadi pengen beli kamera dan lensa yang lebih bagus lagi euy.)

Dari segi konser, kalau saya urutkan maka yang saya sukai secara musik adalah (1) yang di Jakarta, (2) di Bandung [karena saya jauh dari panggung], (3) yang di Jogja. Tapi kalau acara konsernya yang di Jogja yang lebih berkesan karena saya bisa kluyuran potret memotret. Ini baru pertama kalinya saya diberikan ijin motret konser. hi hi hi.

Oh ya, foto-foto konser ini ada di halaman Facebook saya. [nanti link menyusul]

Here Comes The Flood

Hari Kamis yang lalu BandIT tampil mengisi di acara makan siang Green ICT seminar yang diadakan di Jakarta Convention Center. Nah, kami membawakan beberapa lagu. Salah satu lagu yang kami bawakan adalah lagu Peter Gabriel yang berjudul Here Comes The Flood. Senangnya bisa menyanyikan lagu itu 🙂

Oh ya, bagi yang belum tahu, Peter Gabriel adalah lead singer (penyanyi utama) group band Genesis sebelum Phil Collins.

Saya sudah suka lagu ini sejak jaman dahulu (awal tahun 80-an kali ya?). Bahkan saya punya empat versi yang berbeda. Yang paling saya suka yaitu yang ada di DVD live shownya (yang justru tidak saya miliki mp3-nya) yang mana Gabriel hanya menggunakan keyboard saja. Versi yang kami bawakan adalah versi album Peter Gabriel, yang lengkap dengan band. Jadi nge-rock lah. Sedaaappp.

Lagu ini dipilih karena sesuai dengan topik mencintai lingkungan hidup. Dan yang penting, lagunya keren. Kapan-kapan mau dibawakan lagi ah …

Kansas DVD – There’s Know Place Like Home

Baru saja saya memutar (sebagian dari) DVD band Kansas yang berjudul “There’s Know Place Like Home“. (Memang judulnya agak aneh, kok “Know” bukan “No“. Gak tahu kenapa diplesetkan demikian.) Wah penampilan dan musiknya bagus banget. Nggeblak. Ini video bermain di Topeka Kansas tahun 2009 kemarin.

Kansas memang salah satu band yang saya gemari. Musiknya classic rock dalam artian yang sebenarnya karena banyak muatan musik klasik di dalamnya. Di dalam penampilan ini mereka juga disertai dengan orkestra di belakangnya. Saya juga mengkategorikan Kansas ke dalam genre progressive rock juga.

Yang menarik dari DVD ini adalah mereka banyak membawakan lagu yang kebetulan saya sukai, yaitu lagu-lagu dari album “Leftoverture”. One of the best albums. Period.

Hal lain yang menarik adalah, mereka sudah tua-tua tapi mainnya sangat rapi. Hebat euy. Ini memberikan semangat bahwa biar usia sudah nambah tapi main musik masih tetap hebat. Memang mereka bukan jenis musik yang pakai loncat-loncat, tetapi memainkan musik classic rock seperti ini bukan pekerjaan yang mudah. Rapi pula mereka mainnya. If they can do it, so can I 🙂 Semangat ah.

Oh ya, bagi sebagian besar orang mungkin Kansas dikenal dengan lagu klasik mereka “Carry on Wayward Son” dan “Dust in the Wind“. (Keduanya ada di dalam DVD ini.) Tapi bagi saya mereka punya lagu yang lebih mantap lagi seperti “The Wall“, “Cheyenne Anthem“, “Miracles Out of Nowhere“, dan seterusnya … yang kebetulan juga dibawakan di DVD ini.

Biarkan saya menikmati ini dulu …

Blues Festival (part 2): Discus

Waktu melihat skedul acara saya cukup kaget juga karena ada Discus. Wah, saya belum pernah lihat Discus manggung. Langsung saya bilang anak saya bahwa saya mau lihat itu. Pas kebetulan Discus main setelah Bad Boys, yang mau dilihat anak saya.

Begitu Bad Boys selesai, langsung panggung disiapkan untuk Discus. Di depan langsung muncul Eko Partitur dengan biola elektriknya. Terdengar suara yang aneh, seperti suara burung atau keheningan hutan. (Itu imajinasi saya tentunya.) Checksound dilakukan dengan memainkan biola listriknya yang dihubungkan ke (digital) delay sehingga bisa penuh seperti orchestra di tengah hutan. Orang-orang mulai berkerumun.

Kemudian muncul personil lainnya; Fadhil mencoba keyboard dan alat-alat lainnya (seperti angklung yang dibalik) dan lain-lainnya; Iwan Hasan (gitar), Kiki Caloh (bass), … dst. Langsung saya berdiri di depan pagar supaya dekat sekali.

Lagu pertama kalau tidak salah adalah Gambang Suling dimainkan dengan style progressive rock. Langsung saya suka. Kayaknya anak saya juga suka. Semua bermain bersih dan bagus (meskipun pada awal kayaknya keyboardnya Krisna gak bunyi). Pokoknya seru dan puas.

Musik yang dibawakan tentunya progressive rock. (Sebetulnya saya agak heran kenapa Discus main di Blues festival, tapi biarlah. Yang penting saya senang. Justru karena ada Discus saya puas dengan acara festival ini dan bakal datang lagi. Di akhir manggung Iwan Hasan bilang bahwa kalau ini – musik tradisional yang mereka bawakan – adalah bluesnya Indonesia. hi hi hi. Bener juga ya.) Beat-nya edun. Saya senang dengan beat dari drums dan bass-nya. Tentunya permainan keyboard, gitar, alat tiup, perkusi, vokal, juga sama serunya.

Bagi saya, munculnya Discus ini merupakan bahan pelajaran bagi anak saya. Dia bisa melihat musik progrock live dengan pemain-pemain yang mantap. Semuanya hebat mainnya. Bahkan Iwan Hasan nyanyi dengan terguling-guling (mau seperti Gabriel? hi hi hi) membuat anak saya tertawa. Saya juga senang sekali. Two thumbs up.

Untung sekali ada Discus sehingga saya puas sekali. Nggak rugi pergi ke acara ini. (Maklum saya kan senengnya progrock, hi hi hi.)

Oh ya, saya mengambil banyak foto. Baru sebagian saya upload di sini:
http://picasaweb.google.com/bungbr/DiscusBluesFestival. Link internet lambat, jadi baru setegahnya yang berhasil saya upload.

Saling Mempengaruhi (Selera Musik)

Kalau orang tua mempengaruhi anak, itu mudah dimengerti. Nah, kalau anak mempengaruhi orang tua? Bisa tidak ya? Ternyata jawabannya adalah bisa!

Saya penggemar musik progressive rock (bahkan sampai menulis buku “Membedah Classic Rock” yang bisa Anda download). Meskipun saya suka musik hard rock (keras), tetapi awalnya saya tidak suka jenis musik metal. Sementara itu anak saya menyukai musik metal. Kalau di rumah, seringkali terdengar dua musik yang berbeda. Saya sering memutar lagu-lagu Genesis yang lama dan dia memutar metal. Lama kelamaan saya jadi suka metal juga. Selera anak mempengaruhi selera orang tuanya. ha ha ha.

Saya tidak tahu apakah dia suka lagu progressive rock atau tidak, tetapi kalau hanya sekedar Firth of Fifth-nya Genesis sih dia tahu. Sementara itu sekarang saya jadi suka band seperti Killswitch Engage atau Bullet for my Valentine. Busyet dah. (One of these days, I am going to play their songs on stage with my kid! Want to see him play? Have a look at his video @ youtube.) Playlist iTunes berisi antara lain lagu ini:

  • Killswitch Engage – My Curse
  • Bullet for my Valentine – Hearts Burst Into Fire
  • All That Remains – Six
  • Disturbed – Stricken

Kembali ke poin yang ingin saya sampaikan, ternyata kami saling mempengaruhi ya. Itu kalau kita bicara soal selera musik. Mestinya saling mempengaruhi ini juga ada di aspek lain ya? Saya yakin kajian seperti ini ada di berbagai ilmu (yang kebayang oleh saya adalah di bidang bisnis; kejar anaknya, orang tuanya pasti ikut beli).

Ajang Koleksi Kaset Lama

Selain mas Gatot Fugaziyanto, ternyata ada juga orang yang gila koleksi kaset lama. Silahkan lihat di sini:

http://www.si-nuno-nonim.blogspot.com/

Ada banyak cerita tentang musik progressive rock juga. Asyik… menghilangkan stress. Saya sendiri juga dulunya koleksi kaset lama (yang rekaman YESS itu dan lain-lain), tetapi sekarang sudah tidak sempat lagi mengurusi kaset-kaset yang makin terbengkalai. I need a life. hi hi hi.

Semua Lagu Sudah Tercipta

Tadinya saya berpikir bahwa tidak ada lagu baru yang bagus seperti lagu-lagu dahulu. Kebetulan saya penggemar musik progressive rock, yang mana lagu-lagunya bernuansa tahun 70-an. Band-band yang terkenal pada masa itu adalah Genesis, Yes, Pink Floyd, dan sejenisnya. (Atau bahkan kita bisa mundur ke King Crimson dan kawan-kawannya.)

Ternyata saya salah besar.

Seorang kawan (babequ aka diunk – thank you man!) menunjukkan kepada saya betapa salahnya salah. Dia berikan informasi mengenai band yang bernama Jadis, Arena dan band-band lainnya yang ternyata menggugah hati saya. Sebetulnya ini bukan band baru. Mereka sudah terbentuk di tahun 90an, tetapi memang tidak begitu dikenal. Sampai sekarang mereka masih aktif.

Yang membuat saya heran adalah not lagu kan hanya itu-itu saja; do, re, mi, fa, sol, la, si, do (dan yang berada di sela-selanya). Ternyata kombinasi dari hanya not yang jumlahnya terbatas bisa demikian besarnya. Kalau hanya sekedar kombinasi saja sih memang mungkin besar jumlahnya, tetapi kombinasi yang enak didengar. Nah itu dia. Bagaimana bisa? Ternyata tetap masih besar juga rentang kombinasinya. Wah ini harus dilihat state space-nya. (the engineer within me is awaken…)

Saya merasa bodoh seperti bodohnya seorang patent officer yang mengatakan bahwa semua yang harus ditemukan (dan dipatenkan) sudah ditemukan. Halah.

Di sisi lain, ini membuat saya lebih bersemangat untuk bangun dan hidup. Untuk menyambut lagu-lagu baru …

[mengikuti kata mas gatot totty; mbrebes mili aku rek!]

Ngabuburit

Kejadian lagi deh!

Waktu kecil (SMP?) dulu kayaknya nakal juga nih saya. Orang lain ngabuburit (istilah bahasa Sunda untuk menunggu buka puasa) membaca Al-Qur’an, saya malah membaca Kho Ping Ho sampai berjilid-jilid. Kalau tidak itu, pilihannya adalah main layang-layang (sampai kulit “exotic” karena terjemur – hi hi hi).

Tahun ini saya berencana untuk banyak belajar agama di bulan Ramadhan ini. Ternyata, kejadian lagi. Tidak belajar agama malah mengerjakan yang nggak-nggak, seperti bermain dengan Cascade Style Sheet (CSS), nulis blog, dan … berburu lagu progressive rock. (Itu di luar mengerjakan kerjaan yang entah kenapa menjadi menumpuk di bulan-bulan ini.)

Pas, nemu tempat untuk mengunduh lagu-lagu band Genesis yang dibawakan oleh orang lain; “Genesis Tributes – Supper’s Ready“. Jadi … asyik download dan dengarkan lagunya.

Isinya:

  • Watcher of The Skies – Robert Berry and Hush
  • Firth of Fifth – Over The Garden Wall
  • Undertow – David Henstchel with Jay Tausig
  • Ripples – Annie Haslam
  • Back in N.Y.C. – Kevin Gilbert
  • For Absent Friends – Richard Sinclair
  • Mama – Magellan
  • Man of Our Times – Enchant
  • Many Too Many – Pete Bardens
  • Entangled – Shadow Gallery
  • Squonk – Cairo
  • I Know What I Like (In Your Wardrobe) – Crack The Sky
  • Carpet Crawler – John Goodsall with Michael Zentner
  • Keep It Dark – World Trade

Mendengar lagu-lagu di atas jadi termotivasi untuk memainkan lagu-lagu itu. Sayangnya belum nemu kawan yang seide dan mau. (Mungkin band-it? Tinggal dikomporin saja. he he he.)

Kemudian ingat juga masih punya lagu-lagu classic rock yang dibawakan oleh London Philharmonic Orchestra. Sedaaap. Plus ditambah lagi lagu hasil digitalisasi dari kaset. Yang ini suaranya agak buruk karena kaset saya sudah bulukan (berjamur). Ya daripada nggak bisa didengerin lagi, lebih baik kasetnya dikonversi ke MP3 dulu saja.

Halah … bagaimana ini? Kok kejadian lagi. Kelakuan SMP masih dipertahankan. Waduh!