Kere Penjelajah Waktu (2)

Sebentar, sebentar. Kucek-kucek mata dulu. Tempat ini kok seperti tidak berubah tapi seperti ada yang aneh juga. Melihat ke kiri. Ke kanan. Ah, tidak ada yang berubah. Ini masih tempat yang sama, halaman tetangga.

Perlahan cengkeraman tangan mulai mengendor. Aku masih terduduk di becak tetangga. Tadi itu kenapa sih? Ada cahaya yang berlalu dengan cepat di kiri dan kanan. Mungkin hanya kelelahan dari membaca semalaman? Mungkin mata masih mencoba menyesuaikan diri. Ah itu.

Perlahan aku bangkit dan turun dari becak. Melihat ke sekeliling. Mudah-mudahan tidak ada yang melihat. Eh, nampaknya pak Asep yang biasa jaga malam di sekitar koskosan sudah bangun. Pelan-pelan aku berjalan kembali ke koskosan. Berpapasan dengan pak Asep yang sedang mengaduk kopi.

Good morning,” kata pak Asep.

Walah. Edun sekali pak Asep ini. Menyapa dalam bahasa Inggris. Aku meringis. Tidak menjawab. Senyum sedikit saja sambil terus ngeloyor ke kamar. Eh, sebentar. Mau iseng ah. Aku kembali lagi menengok ke pak Asep.

“Belajar bahasa Inggris dimana, pak?” tanyaku.

Excuse me?” kata pak Asep mengagetkanku. Tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Pak Asep terlihat seperti bingung. Bentar, bentar. Ini bingung ketemu bingung.

“Iya, pak. Pak Asep belajar bahasa Inggris dimana?” kuulangi pertanyaanku.

I am sorry, I don’t understand,” jawab pak Asep dengan wajah yang tulus. Kini aku yang bingung. Ini gimana? Apa aku sedang kena prank, atau gimana nih? Ini apa sih? Dari pada melanjutkan pembicaraan yang tambah bingung, akhirnya kuputuskan untuk berjalan ke depan saja. Membiarkan pak Asep yang masih menatapku dengan pandangan bingung.

Ada warung agak sebelah kanan yang sudah mulai buka. Lapar. Mau beli sesuatu dulu ah. Aku berjalan ke warung sambil tetap memikirkan kejadian barusan. Pasti ada penjelasan yang logis.

Di depan warung, aku terhenyak. Tulisan-tulisan di depan warung terlihat sama, tetapi kok dalam bahasa Inggris. Ada iklan rokok dalam bahasa Inggris. Kemarin rasanya bukan itu deh tulisannya.

Morning,” ibu penjaga warung menyapa. Aku kaget. Berdiri terdiam. Menatap penjaga warung yang terlihat masih seperti orang Indonesia normal. Dia menatap balik. Heran melihat aku yang terdiam.

“Ada roti, bu?” tanyaku dengan sedikit was-was.

I am sorry?” jawab si ibu penjaga warung sambil mengerinyitkan dahinya. Lengkaplah sudah kebingunganku.

Do you have bread?” tanyaku sambil mengingat-ingat pelajaran bahasa Inggris.

Those are the ones we have,” entengnya jawaban si ibu penjaga warung sambil menunjukkan tumpukan roti buatan “lokal” sambil terus menata barang-barang dagangannya. Kuambil satu roti isi sambil memperhatikan tulisan yang ada di roti itu. Bahasa Inggris. Hmm…

Bentar. Untuk memastikan bahwa ini bukan orang yang mau ngerjain aku, kurogoh dompet. Mau melihat kartu-kartu yang ada di dompet. Mari kita lihat SIM. Kartu kukeluarkan. Wharakadah … tulisannya dalam bahasa Inggris.

Baru kusadari bahwa ini nyata. Semuanya – fisik – masih tetap, tetapi nampaknya orang-orang menggunakan bahasa Inggris. Apakah ini tadi gara-gara becak itu? Dunia apa ini? Harus kucari tahu. Nanti. Sekarang sarapan dulu.

Coffee, please,” kataku kepada si ibu penjaga warung.

Coming,” jawabnya sambil mengambil satu sachet kopi. Menggunting ujungnya. Hmm… dalam dunia aneh ini pun kopinya masih kopi gunting. hi hi hi.

[Bagian 1]

Iklan

Kere Penjelajah Waktu

Pagi hari yang cerah. Waktunya menyapa matahari. Kurapikan tempat tidurku, yang sebenarnya hanya sebuah sleeping bag. Maklum, kamar yang kutinggali ini cukup mungil. Tidak cukup untuk sebuah tempat tidur yang ukurannya paling kecil sekalipun. Panjang kamar tidur ini hanya cukup untuk sleeping bag tadi dan sajadah. Itu sudah cukup bagiku. Aku tak punya banyak barang. Hanya ada satu ransel yang teronggok di ujung, berdekatan dengan sepasang sepatu boots.

Aku adalah seorang penjelajah waktu. A time traveller. Dalam artian sesungguhnya. Harfiah. Tentu saja banyak orang yang tidak percaya. Kamu percaya? Pasti tidak! Saya mengerti. Ada banyak hal yang tidak masuk akal pada saat ini. Ilmu yang kalian pelajari belum sampai ke sana. Akupun akan tidak percaya kalau tidak mengalaminya sendiri. Bagaimana ceritanya?

Pada suatu masa ketika aku baru menjadi mahasiswa, aku tinggal di sebuah tempat kos-kosan. Tinggalnya di sebuah gang yang sebenarnya cukup lebar. Ini adalah daerah tempat pekerja atau mahasiswa koskosan. Sebelah tempat kosku ada rumah yang agak kumuh. Di depannya ada becak yang nampaknya jarang digunakan. Sebetulnya becak itu masih bisa difungsikan, tapi aku belum pernah melihatnya pindah dari tempatnya.

Seingatku hari itu adalah hari Minggu pagi. Sebetulnya bukan pagi, menjelang Subuh. Semalaman aku tidak tidur, membaca buku. Penat membaca buku, aku keluar dan melihat becak itu. Hmm … tak ada orang. Kuberanikan diri masuk ke halaman tetangga itu dan kunaiki becak itu. Ah, nikmat juga becak ini.

Sambil mengkhayal, tanganku berpengangan ke pinggiran becak. Ayo ngebut. Becak zig-zak. Hi hi hi.

Tiba-tiba terpegang sebuah tombol. Apaan ini? Pencet aja ah …

Ziiii…ngggg … Whoa … tiba-tiba semua berubah mejadi cepat. Cahaya melewati kiri dan kanan … Whoaaaa … cengkeraman tangan makin kuat. Aaaa ….

Sebetulnya mungkin semuanya berlangsung hanya 10 detik, tetapi seakan-akan lama. Tiba-tiba ada yang aneh. Pemandangan di depan berubah … Aku berada di tempat lain. HAH??? Ini dimana???

… [bersambung] ….

[Ke bagian 2]

Ketika Masjid Menangis

Hari itu, sang masjid merapikan dirinya
Bersiap menerima tamu-tamunya
Namun mereka tak kunjung datang
Masjid tak mengerti

Ah, mungkin mereka ke masjid lain
Tak mungkin mereka ke tempat lain
Selain ke masjid
Masjid tak mengerti (jika tidak)

Adakah mereka malu untuk hadir di tempatku?
Apakah yang mereka ingin buktikan
Sehingga mereka memilih tempat lain selain masjid?
Masjid tak mengerti

Wahai tamuku, adakah engkau takut
Diberi label tertentu oleh manusia lain
Sehingga engkau harus hadir di tempat lain (selain masjid)
Masjid tak mengerti

Di sini engkau memang tidak terlihat wahai tamuku
Tapi Pemilikku mengetahui kecintaanmu kepadaNya
Tak perlu kau tunjukkan itu kepada dunia
Masjid tak mengerti

Jum’at
Hari ini
Masjid sepi
Masjid tak mengerti

Koran Setiap Hari

Koran hari ini dan kemarin sama isinya
Koran hari esokpun tidak jauh berbeda

Berita seperti itu yang selalu muncul
Cara penyampaiannya pun selalu tumpul

Engkau seharusnya menjadi pembawa berita
Kejujuran yang tidak manipulatif atau tendensius
Bukan untuk mengejar rating atau jumlah klik

Koran hari ini adalah koran setiap hari
Hanya perlu kau baca sekali-sekali