Ketika Masjid Menangis

Hari itu, sang masjid merapikan dirinya
Bersiap menerima tamu-tamunya
Namun mereka tak kunjung datang
Masjid tak mengerti

Ah, mungkin mereka ke masjid lain
Tak mungkin mereka ke tempat lain
Selain ke masjid
Masjid tak mengerti (jika tidak)

Adakah mereka malu untuk hadir di tempatku?
Apakah yang mereka ingin buktikan
Sehingga mereka memilih tempat lain selain masjid?
Masjid tak mengerti

Wahai tamuku, adakah engkau takut
Diberi label tertentu oleh manusia lain
Sehingga engkau harus hadir di tempat lain (selain masjid)
Masjid tak mengerti

Di sini engkau memang tidak terlihat wahai tamuku
Tapi Pemilikku mengetahui kecintaanmu kepadaNya
Tak perlu kau tunjukkan itu kepada dunia
Masjid tak mengerti

Jum’at
Hari ini
Masjid sepi
Masjid tak mengerti

Koran Setiap Hari

Koran hari ini dan kemarin sama isinya
Koran hari esokpun tidak jauh berbeda

Berita seperti itu yang selalu muncul
Cara penyampaiannya pun selalu tumpul

Engkau seharusnya menjadi pembawa berita
Kejujuran yang tidak manipulatif atau tendensius
Bukan untuk mengejar rating atau jumlah klik

Koran hari ini adalah koran setiap hari
Hanya perlu kau baca sekali-sekali

(Manusia Langka) Rasa Hormatku

kepadamu
kusampaikan
rasa hormatku padamu

     engkau adalah manusia langka
yang pantas kuhormati

tutur katamu
perilakumu
hatimu

     engkau adalah manusia langka
yang pantas kuhormati

usia bukan ukuran
gelar bukan jaminan
apalagi golongan

     engkau adalah manusia langka
yang pantas kuhormati

sekali lagi
kusampaikan
rasa hormatku padamu

Fakta Khayalan

Bermula dari fakta khayalan
Muncul cerita rekaan
Membakar emosi kerumunan

Tak sedikitpun kau menyesal
Telah membuat orang kesal
Membuat kebencian masal

Jangan tersinggung kawan
Karena ini hanya fakta khayalan