Pelaksanaan Hackathon IoT (di Bandung)

Pada tulisan sebelumnya (tautan akan saya pasang di sini), telah saya sampaikan akan adanya lomba untuk membuat aplikasi terkait dengan data cuaca yang ada di kota Bandung. Data tersebut berasal dari sensor (IoT) yang kami pasang di berbagai tempat di kota Bandung.

Pada tanggal 23 Januari 2019 acara dilangsungkan. Dari 38 tim yang memasukkan proposal, 15 tim dipanggil untuk berlomba. Mereka diberi waktu dari pagi sampai malam untuk mengembangkan aplikasinya. Ini ada video di awal sebelum acara dimulai.

Hackathon IoT: hackBDGweather

Di pembukaan acara, saya menceritakan mengenai latar belakang sensor cuaca ini dan bagaimana cara mengaksesnya. Setelah itu, tentu saja dilakukan potret bersama. (Apa lagi kalau bukan itu? ha ha ha.)

IMG_4975 hackathon_0001

Hari kedua, tanggal 24 Januari 2019, tim mempresentasikan karya mereka dan dinilai oleh juri. Hasilnya adalah tiga pemenang yang ditampilkan di web hackathon.cbn.id.

Senang sekali dengan kegiatan ini. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi kota Bandung dan tempat-tempat lain di Indonesia. Langkah-langkah selanjutnya antara lain:

  • menerapkan hal yang sama di kota-kota (tempat-tempat) lain di Indonesia;
  • menambah data (sensor) yang dimasukkan (ada permintaan data terkait dengan tanah untuk pertanian dan perkebunan);
  • membuat aplikasi-aplikasi yang lebih menarik.

Ayo semangat! Ayo berpartisipasi.

Tautan terkait acara ini:

Iklan

Bandung Dingin

Beberapa hari ini kata orang Bandung terasa dingin. Menurut saya juga. Bagaimana sesungguhnya? Kebetulan Bandung memiliki beberapa sensor cuaca yang dapat diakses secara online. (Saat ini layanan ini belum diluncurkan sehingga URL-nya belum dapat saya tampilkan di sini. Sebentar lagi akan beres dan akan dibuka untuk publik melalui API.)

Sebaran dari sensor-sensor tersebut dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini.

weather-1-allplaces
Sensor cuaca di kota Bandung

Daftar namanya adalah sebagai berikut.

weather-2-allsensors_0001_01
Daftar sensor cuaca di kota Bandung

Mari kita lihat kondisi Bandung pada pagi ini. Berikut ini adalah gambar sensor yang berada di kantor CBN Bandung, yang berada di jalan Pasir Kaliki. Ada hal yang menarik bahwa terjadi kenaikan temperatur sebelum jam 8 pagi. Temperatur di bawah 20 derajat Celcius dan kemudian melonjak.

weather-3-cbn_0001
Temperatur di depan kantor CBN Bandung

Sebagai perbandingan, berikut ini adalah situasi di rumah saya (Insan Music Store), yang letaknya di sekitar Bandung Timur Laut.

weather-4-insan_0001
Temperatur di kantor Insan Music Store

Saya cek data dari sensor-sensor lain, ternyata mirip. Mereka semua mengalami kenaikan setelah pukul 7:20 pagi. (Data rinciannya di database. Kapan-kapan mau dioprek ah.)

weather-5-paledang_0001
Temperatur di Kelurahan Paledang, Bandung

Jadi kesimpulan sementara, memang tadi pagi Bandung cukup dingin, yaitu di bawah 18 derajat Celcius. (Kalau di Lembang katanya di bawah 14 derajat Celcius. Wow!)

Mengapa Bandung dingin akhir-akhir ini, sudah ada pembahasannya di tempat lain. Nanti akan saya sampaikan tautannya di sini.

Mengapa Harus Difilter?

Kasus kerusuhan di Inggris baru-baru ini (dan masih berlangsung – Agustus 2011) sunguh mengejutkan banyak pihak. Yang disalahkan adalah kaum muda. Kaum yang tersisish, baik dari segi finansial maupun keberadaan dalam kehidupan sosial. Entahlah apa latar belakangnya. Saya bukan pakar sosial dan politik.

Yang menarik adalah adanya upaya dari pemerintah Inggris untuk menyalahkan teknologi informasi. Katanya teknologi digunakan untuk berkomunikasi dan mengorganisir kerusuhan. Pertama mereka menyalahkan BlackBerry sebagai perangkat dan penyedia jasa messaging (BBM). Pemerintah tidak boleh menyadap tanpa alasan yang jelas. Kemudian sekarang mereka menyalahkan layanan twitter dan mengancam akan memblokir twitter di Inggris. Suatu hal yang membuat orang mengangkat alis. Ini pemerintah Inggris yang pro demokrasi?

Mengapa menyalahkan teknologi informasi?

Jika benar pihak yang terlibat kerusuhan adalah mayoritas anak muda, tentu saja mereka akan menggunakan teknologi informasi. Bagi mereka teknologi informasi bukan hal yang aneh dan tidak bisa dipisahkan dari bagian kehidupan mereka. Menyalahkan teknologi informasi sama dengan menyalahkan pena karena digunakan untuk menulis dan berkomunikasi (mengorganisir kegiatan?). Atau menyalahkan mesin foto copy karena dapat mudah digunakan untuk membuat selebaran (hasutan). Atau menyelahkan telepon karena bisa digunakan untuk mengorganisir kejahatan. Teknologi adalah netral.

Mungkin sulit bagi para imigran digital – orang yang kecilnya hidup serba analog kemudian sekarang berinteraksi dengan dunia digital – untuk memahami bahwa teknologi informasi itu  bukan hal yang menakutkan.

Mengapa solusinya adalah melakukan filtering?

Ini solusi yang paling gampang diusulkan dan yang sebetulnya secara teknis paling sulit dilakukan. Bisakah Anda melarang orang untuk menggunakan pena dan pensil? Tidak bisa.

Pemerintah selalu mengusulkan (mengancam) untuk melakukan bloking. Secara teknis ini sangat sulit (dan sebetulnya cenderung tidak bisa). Selain itu sangat mahal. Tapi mereka tetap ngotot. Apa yang terjadi adalah orang teknis malas berdiskusi dan membiarkan usulan filtering tetap dilakukan dan diam-diam menertawakan (karena ada banyak jalan untuk melalui filtering itu). Daripada ribut-ribut dengan orang yang tidak mengerti, lebih baik membiarkan Pemerintah berbicara semaaunya dan orang-orang tetap melakukan komunikasi dengan berbagai cara untuk melewati filter itu.

Pemerintah merasa sudah bisa melakukan filtering dan mendapatkan pejabatnya kredit bahwa dia bisa. Aha! Mungkin itu yang dicari, pernyataan yang politically correct dan kreditnya. Sebetulnya mereka juga tidak terlalu peduli bahwa filtering itu bisa berhasil atau tidak. Yang penting adalah sudah ada pernyataan dari pemerintah. Semuanya berada dalam lingkaran ketidakpedulian.

Melakukan filtering dalam tingkat negara adalah sebuah ilusi. Lupakanlah.

Model Penangkalan Pornografi: Seperti Anti Virus

Baru saja saya selesai diwawancara via telepon oleh sebuah radio swasta di Bandung. Topik yang dibahas adalah tentang rencana peraturan filter situs porno secara nasional. Saya termasuk yang kurang setuju dengan pendekatan ini karena menurut saya pendekatan ini tidak efektif.

Setelah diskusi ke sana-sini, mas pewawancara menanyakan ke saya model yang efektif untuk menangkal situs pornografi seperti apa. Saya katakan bahwa kalau dilakukan secara Indonesia mungkin akan gagal, tetapi nampaknya bisa lebih berhasil jika dilakukan secara lokal dan distributed. Si mas pewawancara kemudian bilang, “Ooo seperti anti virus ya mas“. BINGO! TEPAT SEKALI. Hebat sekali si mas pewawancara yang saya tidak tahu namanya ini.

Analogi anti virus untuk menangkal virus komputer sangat tepat. Siapa sih yang senang kalau komputernya terkena virus? Akan sulit sekali untuk melakukan filtering virus komputer di level negara. Itulah sebabnya tidak ada filtering anti virus di level negara. Pemasangan anti virus yang dilakukan secara lokal dan terdistribusi cukup berhasil. Anti virus dipasang di server milis perusahaan / sekolahan / instansi dan di komputer pribadi. Nah, model itu baru berhasil.

Sensor Internet Indonesia?

Duh topik itu lagi … Cape deh …

Apa gak ada topik lain yang lebih menarik? Semisalnya, bagaimana membuat internet lebih menjangkau daerah-daerah di Indonesia, bagaimana agar kualitasnya lebih baik (lebih cepat) dan handal (reliable), bagaimana agar harganya bisa lebih murah, bagaimana agar lebih banyak content yang bagus-bagus, … Ah, topik-topik ini kurang menarik. Setidaknya, kurang populis kali ya?

Blog terblokir karena surat Menkominfo

Saya baru tersadar bahwa saya tidak dapat mengakses blog saya yang di blogspot (gbt.blogspot.com). Tadinya saya pikir ini masalah biasa saja, server down atau bagaimana gitu. Ternyata terbaca oleh saya status dari Enda bahwa Menkominfo mengirimkan surat ke First Media yang akibatnya First Media harus memblokir blogspot.com (dan mungkin blog lainnya). Kebetulan akses internet saya menggunakan layanan First Media. Hadoh. (Dari ISP lain mungkin tidak masalah?)

Sampai kapan pemblokiran ini dilakukan?

Haduh. Saya kaget juga (dan MALU). Saya termasuk yang kurang setuju dengan sensor internet. Apalagi yang tidak terbuka seperti ini! Dalam sejarah Internet Indonesia, belum pernah ada sensor seperti ini. Kita tidak mau seperti negara lain yang internetnya diberangus pemerintah. Sayang sekali …

Bagaimana menurut pendapat Anda?