Sejarah Silicon Valley

Saat ini banyak orang yang tergila-gila dengan Facebook, Instagram, dan perusahaan start up lainnya. Mereka adalah perusahaan-perusahaan yang berlokasi di Silicon Valley. Kenapa yang ngetop adalah Silicon Valley? Kemarin dan tadi pagi saya bercerita tentang sejarah Silicon Valley.

18010764_10154468093081526_1086053699434838921_n

Banyak orang yang hanya melihat kondisi sekarang tetapi tidak melihat sejarahnya. Pentingnya sejarah adalah agar kita dapat mengetahui mengapa bisa terjadi (banyak perusahaan di Silicon Valley) dan bagaimana masa depannya. Itulah sebabnya saya bercerita tentang sejarah Silicon Valley. (Harusnya malah buat buku.)

Yang saya ceritakan antara lain tokoh-tokohnya:

  • Frederick Terman;
  • William Shockley;
  • Robert Noyce;
  • dan seterusnya.

Mereka adalah tokoh-tokoh lama. Setelah itu baru nanti diperkenalkan tokoh-tokoh angkatan Steve Jobs. Generasi setelah itu adalah pendiri Google. Setelah itu baru Facebook.

Ada beberapa nilai-nilai dari Silicon Valley yang ternyata masih sama dari dulu sampai sekarang:

  • mengambil risiko;
  • menerima ide-ide gila;
  • terbuka, saling membantu;
  • gagal tidak masalah;
  • meritocracy.

Hilangnya Semangat Untuk Bercita-cita Besar

Beberapa waktu yang lalu saya memutar film tentang Silicon Valley di depan kelas saya (ada 3 kelas). Filmnya adalah Triumph of the Nerds, sebuah dokumenter yang dibuat oleh PBS dengan pembawa acaranya Bob Cringely. Film ini bercerita mengenai sejarah industri personal computer di Amerika dan banyak hal lainnya lagi.

Tujuan saya memutar film tersebut adalah untuk menunjukkan kepada mahasiswa saya bagaimana rekan mereka (peer) hidup di sana, bagaimana mereka belajar dengan keras, bekerja dengan hati, dan yang lebih penting … punya cita-cita yang besar. Semua yang saya amati punya cita-cita “change the world“. Tentunya agar kehidupan kita menjadi lebih baik. (Jangan-jangan jawaban ini seperti pertanyaan di acara pemilihan ratu-ratu; apa yang Anda inginkan? Jawabannya adalah “world peace”? ha ha ha.)

Saya perhatikan tidak banyak mahasiswa yang termotivasi dengan film ini. Hik hik hik. Sebagian besar dari mahasiswa ini hanya berpikiran untuk lulus. Itu saja. Selebihnya tidak tahu. Pokoknya mengikuti arus saja. Padahal nanti kalau sudah lulus mereka akan mendapat tekanan yang lebih berat. (Kerja dimana dik? Hah? Belum kerja?)

Hal yang sama saya jumpai di dunia pekerjaan. Jarang ada yang ingin berbuat sesuatu dalam skala yang besar. Hidup bagaikan zombie. 😦 Datang ke kantor, mengisi daftar absensi, kerja (masih untung kerja, ada yang hanya baca koran), dan pulang.

Iri juga melihat orang Barat masih memiliki cita-cita, keinginan, atau wish. (Lihat tulisan saya tentang TED wish; keinginan untuk mengubah dunia. They still want to change the world.) Eh, tidak hanya orang Barat saja kok. Saya masih punya banyak keinginan yang belum tercapai (ingin punya research center, ingin punya park, ingin … banyak lagi). Dan untuk itu, saya masih harus berjuang keras.

Bagaimana kita mau berkompetisi dan berkolaborasi dengan peer kita di luar negeri sana jika kondisi kita masih seperti ini? Jangan pedulikan itu.

Ayo, semangat, semangat, semangat!