Menghadapi Orang Kalah dan Marah

Kalah itu tidak menyenangkan. Tidak ada orang yang senang kalau kalah. Kalau kalah pasti kesel. Maunya marah-marah. Nah bagaimana menghadapi orang yang kalah dan marah ini?

Misalnya Anda bermain sepak bola. Tim Anda menang (dan tentunya tim satunya kalah). Apa yang Anda lakukan? Melakukan selebrasi sah-sah saja, tetapi kalau berlebihan? Priiiit. Kartu kuning.

Apa yang Anda lakukan melihat lawan Anda yang terduduk. Menangis. Bahkan marah?

Jika Anda berjalan ke depannya dan mengatakan “saya menang, kamu kalah”, apa yang akan terjadi? Berantemlah jadinya. Memang apa yang Anda katakan itu adalah fakta, tetapi ini bukanlah waktu yang tepat.

Jadi apa yang Anda lakukan? Berempati. Pahami bahwa lawan Anda sedang bersedih (dan bahkan marah). Rangkullah mereka. Bantulah mereka untuk melewati kegalauan ini. Give them comforts.

Sportif!


Iklan

Memulai Tahun 2019

Seharusnya tulisan ini saya buat minggu lalu, pas tanggal 1 Januari 2019, tetapi alasan klasik – sibuk – membuat saya baru bisa menuliskannya sekarang. Tahun baru 2019 ini saya mulai dengan bermain sepak bola. Persis tanggal 1 Januari 2019, pukul 5:30 pagi saya sudah berada di lapangan sepak bola Progressif (di Bandung). Mau masuk ke tempatnya juga harus membangunkan satpam yang tertidur dengan earphone melekat di telinganya. ha ha ha.

Sesampainya di lapangan, datang juga pak Ali (dari Galados ITB). Hari ini saya ikut tim yang tanding dengan Galados ITB. Seharusnya saya ikut Galados ITB ini, secara saya alumni ITB dan dosen ITB gitu. Ha ha ha. Tapi saya belum pernah latihan atau bermain bersama Galados. Eh, mungkin pernah sekali tapi itu sudah lama sekali.

IMG_20190101_054153-01
Bersama pak Ali di lapangan bola

Sudah satu tahun (atau lebih?) saya tidak bermain sepak bola karena terakhir bermain terjadi insiden. Saya ditabrak dari samping sehingga pingsan mungkin 5 menit. Semenjak itu saya trauma bermain bola lagi sehingga menggantungkan sepatu bola.

Kali ini saya mencoba memberanikan diri bermain lagi. Alhamdulillah masih bisa berlari dan bahkan ikut berkontribusi menghasilkan 1 gol.

IMG_20190101_065241-01
berpose di pinggir lapangan (sementara yang lain masih berada di lapangan)

Memulai tahun 2019 dengan kegembiraan. Semangat.

Pemain Bola Brewokan

giroud

Entah kenapa, sekarang saya melihat ada beberapa (banyak?) pemain sepak bola yang brewokan. Contohnya seperti Olivier Giroud di gambar samping ini. (Foto saya ambil dari games FIFA 18.)

Tulisan ini saya buat sambil nonton pertandingan bola piala dunia antara Denmark dan Australia. Pas Australia mendapat kesempatan untuk membuat gol melalui titik penalti. Pemain yang mengeksekusi penalti, Jedinak, juga brewokan seperti Giroud. ha ha ha.

Ini mengingatkan saya akan penampilan Band ZZ Top yang jenggotnya panjang banget. Super keren. Ha ha ha.

zz-top

Ini menjadi pembenaran bagi saya untuk brewokan. ha ha ha.

Reparasi Otot

Tadi pagi, akhirnya diputuskan untuk pergi mencari bantuan. Ceritanya otot pundak kanan saya sakit. Sebetulnya sakitnya sudah lama, bulanan. On – off. Saya tidak tahu awalnya kenapa, mungkin salah posisi saja. Mencoba mengambil tas berat di belakang mobil sehingga badan melintir. Jadi ada yang ketarik. Mungkin itu, tetapi mungkin juga bukan itu.

Kemarin sakitnya luar biasa, tetapi masih bisa ketahan sakitnya. Pagi tadi sakit lagi. Maka diputuskan saja untuk ke tempat yang paling terkenal di Bandung, Ebun di jalan Jatihandap. Tempatnya sih tidak jauh dari rumah saya, tetapi di Google Maps belum ada. Saya cari di Google Maps dengan kata kunci “Ebun Fisioterapi” tidak ada. Akhirnya mencari jalan Jatihandap saja yang dekat ke terminal Cicaheum. Ternyata tidak susah mencarinya.

Sesampainya di sana, sudah banyak yang menunggu. Ternyata tidak ada nomor antrian. Tinggal melihat siapa yang terakhir, terus ikut selanjutnya saja. Ada tiga orang yang bekerja. Pasien demi pasien berdatangan. Ada anak datang dengan tangan (pergelangan tangan) yang ketekuk. Masuk. Dua menit kemudian sudah keluar. Ya, demikian cepatnya untuk hal-hal yang mungkin mudah. Setelah menunggu giliran selama 30 sampai 45 menitan, giliran saya.

Masalah saya ternyata ada otot-otot yang “membeku”. Jadi ada otot yang masalah di punggung, tetapi karena tidak “diperbaiki” akibatnya saya menghindari pergerakan dan otot yang di lengan menjadi beku. Ini karena kelamaan tidak ditangani. Memang kondisi seperti ini mungkin sudah sebulan lebih. Jadi itu masalahnya. Mungkin hanya 10 menit (atau kurang), saya sudah keluar dari situ. Selanjutnya saya harus banyak meregangkan otot-otot saya, terutama sebelum main futsal. Jadi memang saya harus datang 10 atau 15 menit lebih awal untuk melakukan pemanasan.

Singkatnya, Ebun (apa ya nama yang benar? Ebun Fisioterapi?) menyembuhkan. Silahkan ke sana jika membutuhkan bantuan terkait dengan otot dan tulang.

Konsistensi (Dalam Berolahraga)

Topik yang ingin saya bahas kali ini adalah konsistensi dalam berolahraga. Sebetulnya masalah konsistensi ini tidak hanya terbatas kepada olah raga saja, tetapi untuk hal-hal lain. Sama sebetulnya. Tetapi agar dapat dipahami, saya ambil yang khas olah raga.

Salah satu tantangan terbesar dalam berolahraga adalah konsistensi. Yang saya maksudkan dengan konsistenasi adalah kegiatannya dilakukan secara rutin, terus menerus, berkala atau terjadwal. Selalu saja ada alasan untuk tidak melakukan olah raga, misalnya ketika hari hujan maka itu dapat dijadikan alasan untuk tidak olah raga (tidak pergi ke tempat olah raga). Wah hujan. Tidak sempat, merupakan alasan yang klasik juga. Sibuk nih. Padahal duduk-duduk ngopi bisa. he he he. Alasan yang sebetulnya banyak juga digunakan tetapi tidak mau diakui adalah … malas. ha ha ha.

Saya mengambil futsal sebagai kegiatan olah raga rutin saya. Seminggu dua kali. (Kadang tiga kali.) Ini sudah saya lakukan bertahun-tahun. (Mulai kapan ya? Lupa. Bisa dicek dari postingan di blog ini.) Maka saya dapat main futsal selama 2 jam. Ini bukan hal yang aneh jika kita sudah melakukannya secara rutin. Ada (banyak) orang yang futsal hanya sekali dua kali dalam setahun. Kadang orang yang sama ini merasa harus langsung bisa menjadi jagoan (atau memiliki stamina yang sama) dan kemudian memaksakan diri. Hadoh.

Seperti sudah saya singgung di awal tulisan, bahwa konsistensi ini juga dibutuhkan di bidang lain. Itu akan kita bahas di tulisan lainnya. Sementara ini, bagaimana olah raga Anda? Rutin? Berkala? Kala mau dan kala tidak mau. ha ha ha.

Sepatu Futsal Baru

Waktunya sepatu baru. horeee… Foto berikut ini adalah foto sepatu futsal saya. Merek dari sepatunya ternyata berubah-ubah, dari kiri ke kanan: Umbro, Specs, dan Joma. (Sebelumnya lagi saya pakai Diadora.)

P_20170420_150253-01 sepatu futsal
Older, old, and new

Masing-masing sepatu ini sudah berjasa pada masanya. Sudah banyak gol yang dihasilkan oleh sepatu-sepatu itu.

Sepatu saya biasanya modelnya bukan yang terbaru. Selain karena harganya yang lebih murah, sepatu yang saya butuhkan adalah yang modelnya lebar (wide). Biasanya model-model yang baru adalah jenis yang lancip / panjang. Tidak cocok dengan saya.

Semoga sepatu yang baru cocok, enak digunakan, dan awet. Sekarang tinggal cari sepatu untuk sepak bola (lapangan besar). Hi hi hi.

Sepak Bola

Sepak bola pertama tahun 2017 ini. Seperti biasa, kami bermain di lapangan Progresif, Bandung. Lapangan ini dipilih karena bagus meskipun menggunakan rumput sintetis. Terawat dengan baik lapangannya. Rata, tidak renjul-renjul.

dsc_0341-br-0001

Lawan main kali ini cukup berat. Lupa scorenya, kami kalah telak. Kalah menang itu biasa. Yang penting bagi saya adalah olah raganya.

dsc_0312-team-0001

Semoga bisa terus rutin bermain bola.