Tag Archives: Start-up

Orang Hardware Bandung

Hari Senin lalu (tanggal 21 Desember 2015), secara spontan diadakan kumpul-kumpul orang-orang Bandung yang tertarik dengan hardware (perangkat keras). Kalau istilah yang keren sekarang adalah IoT (Internet of Things). Acara ini merupakan bagian dari Procodecg CodeMeetUp() yang biasa dilakukan setiap hari Senin siang.

Saya kumpulkan orang-orang hardware dari generasi lama (generasi saya) dan generasi baru. Tujuannya adalah agar saling mengenal dan melakukan mentoring atau transfer pengalaman dari yang tua ke yang muda. Contoh yang senior-senior antara lain Yana Raharja, Jeffrey Samosir, Ihsan Haryadi, Trio Adiono. Sampai saat ini mereka masih melakukan pengembangan produk hardware.

IMG_0021 hw

Dalam foto di atas, Yana sedang menjelaskan bagaimana memasarkan produk hardware. Jangan teknis, tetapi manfaat apa yang diperoleh dari produk tersebut.

Yang muda-muda lebih banyak lagi; Cybreed, Dycode, Labtek Indie, dan lain-lain. Mereka sudah dan baru memulai mengembangkan produk-produk. Ke depannya, merekalah yang mejadi ujung tombak pengembangan produk-produk hardware.

IMG_0019 hw

Dulu ada masanya saya merasa ilmu Elektro (Elektronika) akan mati. Maka perlu ditutup jurusan Teknik Elektro di berbagai universitas di dunia. Lebih banyak orang yang senang mengembangkan software, karena modalnya lebih murah. Tinggal pakai komputer. Kalau bereksperimen dengan hardware harus beli komponen. Kalau salah, ya harus beli komponen lagi. Adanya demam IoT membuat masa depan harware cerah kembali.

Pertemuan kali ini baru untuk saling mengenal. Akan ada pertemuan-pertemuan lagi. Siap-siap hadir ya.


Panduan Membuat Start-Up

Dalam start-up saat ini ada istilah MVP, minimum viable product, yang menyatakan sebuah produk siap untuk diluncurkan. Membuat buku ternyata juga sama.

Ada banyak draft buku yang saya buat. Sebagian besar sampai sekarang masih dalam status draft meskipun sudah bertahun-tahun. Alasannya adalah saya merasa buku-buku tersebut belum siap untuk diterbitkan.

Untuk kali ini, buku tentang Start-up, saya putuskan MVP-nya adalah yang sekarang. Selamat menikmati versi 0.8 ini.

Buku ini akan saya perbaharui secara berkala. Link dari buku yang terbaru akan saya pasang di sini.


Insan Music Store

Sekedar update tentang toko musik digital kami, Insan Music Store. Sekarang kami sedang menjajagi kolaborasi dengan payment Mandiri e-cash agar rekan-rekan dapat membeli lagu secara lebih nyaman di web toko.insanmusic.com. Tunggu tanggal mainnya.

Sementara itu, tanggal 5 Desember 2015 ini kami akan berada di dekat Alun-alun Bandung, di Cikapundung. Bagi yang mau mengunjungi booth kami silahkan. Mulai dari sore sampai malam.

xbanner insan music


Kotretan

Di luar negeri ada istilah “the back of napkin”, di belakang kertas tissue. Konteksnya begini. Seringkali orang bertemu di kantin atau kafetaria atau restoran untuk membicarakan sebuah prospek bisnis atau penelitian. Nah, mereka membutuhkan kertas untuk corat-coret, tetapi yang ada hanya kertas tissue (napkin). Maka corat-coret dilakukan di sana; in the back of a napkin.

Bongkar-bongkar tumpukan kertas yang mau dibuang, saya menemukan ini.

BR back of napkin

Ini adalah corat-coret saya ketika mendiskusikan pembentukan salah satu start-up saya. Hi hi hi. Beginilah bentuknya. Tidak dibuat formal dalam bentuk materi presentasi atau dokumen yang tercetak rapi. Corat-coret ini dilakukan di kertas yang ada pada saat itu. Meskipun bukan napkin, tapi ini masih satu kategori.

Sudah banyak saya melakukan hal seperti ini. Jadi, ketika kalian memulai usaha (starting up) dan corat-coretnya seperti ini (bukan dalam materi yang rapi), jangan khawatir. Memang banyak orang (sukses) yang melakukannya seperti itu.


Mentoring

Salah satu kesibukan saya dalam beberapa tahun terakhir ini adalah melakukan mentoring terkait dengan entrepreneurship atau start-up. Ada banyak anak muda yang sedang berupaya untuk menjadi entrepreneur dengan memulai berbagai usaha. Fungsi saya sebagai mentor adalah tempat untuk bertanya.

Ada terlalu banyak hambatan – atau tantangan – ketika kita memulai usaha. Seringkali tidak ada referensi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Mentor seperti saya sudah banyak tersandung-sandung dengan berbagai hal sehingga bisa menceritakan apa yang kami lakukan dalam menghadapi masalah-masalah tersebut. Bukan kami lebih hebat, tetapi kami lebih dahulu melalui jalan tersebut sehingga dapat memberitahu letak lubang-lubangan atau jebakan-jebakan yang dapat menghambat usaha yang sedang dilakukan.

Di luar negeri, proses mentoring ini juga berlangsung. Steve Jobs juga mentoring kepada founder Atari. Larry Page dan Sergei Brin (keduanya dari Google) serta Mark Zukerberg juga (informally) merasa belajar kepada Steve Jobs. Dan seterusnya.

Begitulah. Di sela-sela kesibukan saya, ada kesempatan untuk mentoring dengan saya.

[foto2 mentoring menyusul ya.]


Peneliti, Industriawan, Pedagang, Investor, dan Pemerintah

Salah satu topik diskusi di kegiatan mentoring entrepreneurship mingguan saya kemarin adalah soal keterkaitan antara peneliti, industriawan, pedagang, investor, dan pemerintah. Sebetulnya awalnya dimulai dari pertanyaan mengapa banyak penelitian yang dilakukan di perguruan tinggi tidak menghasilkan apa-apa? Mengapa tidak ada (tidak banyak) hasil penelitian yang mendukung industri? Dan seterusnya.

Saya memiliki pandangan yang agak berbeda.

Tugas peneliti adalah meneliti. Persis seperti namanya. Dia tidak berkewajiban memasarkan hasil penelitian. Bahkan untuk membuat produk jadi pun masih bisa kita perdebatkan. Hasil dari penelitian dapat berbentuk karya ilmiah (makalah) atau paten. Hasil ilmiah ini kemudian dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk industriawan yang ingin membuat produk (atau layanan) berdasarkan hasil penelitian tersebut. Bahwa ada banyak hasil penelitian yang tidak terpublikasikan dengan baik, itu memang masalah lain dan memang ini menjadi tanggungjawab dari penelitian. Ini kita bahas lain kali ya.

Peneliti berada di menara gading (ivory tower). Mengawang-awang. Memang demikian. Kalau dilihat dari kasta (apakah masih ada?), mungkin peneliti berada di kasta Brahmana. (Benar?) Jadi urusan komersialiasi bukan menjadi perhatian mereka. Jangan disalahkan. Memang fungsinya demikian.

(Mengenai apakah topik penelitian harus terapan atau hanya teoretis, itu bahasan terpisah. Saya berpendapat, teoritispun harus tetap diakomodasi. Kemudian soal penelitian tidak harus selalu berhasil, bahkan kecenderungannya adalah gagal, juga kita bahas terpisah. Banyak sekali bahasannya ya?)

Peneliti biasanya berada di perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Banyak kasus (kalau banyak semestinya bukan kasus lagi ya?) produk atau layanan dikembangkan dari kampus (misal oleh mahasiswa) dan kampus tidak mendapatkan apa-apa. Menurut saya ini wajar saja. Mosok perguruan tinggi harus iri kepada mahasiswanya? Ini sama dengan orang tua yang iri kepada kesuksesan anaknya kemudian menuntut biaya kos-kosan dan makan kepada anaknya. ha ha ha. Sekarang banyak perguruan tinggi yang mencoba cari keuntungan dengan mencoba melakukan komersialisasi hasil penelitian. Menurut saya ini kurang pas.

Tugas industriawan yang mengembangkan produk untuk menjadi sebuah industri. Memang industriawan harus rajin-rajin melihat atau menyambangi perguruan tinggi untuk mendapatkan hasil penelitian yang menjadi basis dari produknya. Jangan berharap pihak perguruan tinggi yang akan menghubungi industriawan. Industriawan juga dapat melakukan penelitian sendiri. Jangan salah, perusahaan besar dapat menjadi penghasil penelitian juga. Contohnya adalah IBM. Lihat saja jumlah paten yang dihasilkan oleh IBM dengan jumlah peneliti yang tidak sedikit! Perguruan tinggi kalah oleh IBM dalam hal jumlah penelitiaannya. Sayangnya di Indonesia tidak banyak yang menjadi industriawan. Kebanyakan orang di Indonesia yang mengaku industriawan adalah pedagang.

Pedagang, sesuai dengan namanya, ya berdagang. Dia tidak harus terkait dengan hasil penelitian di Indonesia (lokal). Jika dapat membeli sebuah produk dengan harga yang murah di sebuah tempat, kemudian menjualnya di tempat lain (termasuk di Indonesia) dengan harga yang lebih mahal tentu akan dia lakukan. Tidak ada yang salah dari ini. Pedagang juga adalah pekerjaan yang terhormat. Hanya saja, kalau memang menjadi pedagang, ya jangan mengaku sebagai industriawan.

Investor adalah orang yang memberikan pendanaan dengan harapan terjadi imbal balik yang berlipat di kemudian hari. Investor berbeda dengan bank dalam hal risiko yang diambil. Investor lebih nekad. Gagal 9 dari 10 investasi merupakan hal yang biasa. Di Indonesia, institutionalized investors nampaknya masih jarang. (Adakah?)

Pemerintah tugasnya adalah mempermudah ini semua dengan membuat aturan dan membuat infrastruktur yang tidak menarik secara hitungan bisnis bagi swasta. Pemerintah tidak mendapatkan hasil secara langsung. Adalah salah kalau pemerintah  mengeluarkan uang 10 rupiah dan berharap dapat kembalian dari uang itu. Tidak. Uang yang dikeluarkannya akan hilang (menjadi program). Hasilnya adalah terjadinya iklim penelitian, industri, dan perdagangan yang lebih kondusif. Dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Nah, ini yang kemudian disalahkan menjadi korupsi. Kan menguntungkan pihak lain? Nah.

Masing-masing pihak menjalankan fungsinya masing-masing. Saat ini peneliti dituntut untuk mampu mengkomersialkan hasil penelitiannya. Salah besar! Ini sama dengan menuntut investor untuk menghasilkan karya ilmiah (yang notabene pekerjaan peneliti). Tidak pas.

Begitu. Semoga menjadi jelas. (Atau menjadi semakin ruwet?) Yang pasti, akan muncul banyak pertanyaan lain. Ini wajar.

(Yang belum disebut budayawan, olahragawan, pemain band, … eh apa lagi ya? Jreng!)


(Halal Bihalal) Start Up Bandung

Jum’at kemarin (7 Agustus 2015) ada pertemuan para Start Up Bandung (#startupBDG) di Pendopo Walikota Bandung yang di Alun-alun itu. Acaranya mulai dari pukul 17:00 sore sampai pukul 21:00. Saya hadir di sana karena ingin tahu juga komunitas para Start Up di Bandung ini.

Yang hadir lumayan banyak juga. Dengar-dengar ada sekitar 90-an start up di Bandung. Ada beberapa booth juga di sana.

11850529_10153050265241526_1757808277355791290_o

Pada bagian awal ada presentasi dari Shinta Bubu. Sayang sekali pas lagi presentasi ini saya lagi Maghrib. Jadi gak sempat ambil foto2nya. Kemudian ada presentasi dari Gibran (Cybreed). Dia menceritakan perjalanan dia menjadi entrepreneur. Gibran mah lucu. he he he.

11017551_10153051101646526_7933770436519892436_o

Kemudian pak Walikota – Ridwan Kamil – juga bercerita tentang apa-apa yang telah dilakukannya dalam memberantas birokrasi dan korupsi. Selain itu pak wali juga meminta agar kita semua menjaga agar korupsi tidak bangkit lagi.

11802785_10153051103771526_5551957318659660778_o

Kemudian ada donasi aplikasi “Soca Bandung” yang dapat digunakan untuk melaporkan hal-hal di kota Bandung dan juga untuk mempromosikan hal-hal yang bagusnya. Presentasi aplikasi ini dilakukan oleh Mico Wendy (Konsep.net). Aplikasi Soca Bandung ini merupakan kontribusi dari Alumni ITB 1974, yang dalam acara ini diwakili oleh pak Cahyana.

11794071_10153051135361526_5889453488947255508_o

Kemudian pada bagian akhir ada presentasi dari Softbank, yang banyak mendanai berbagai start ups. Wakil dari Softbank ini cukup kagum juga dengan banyaknya start ups di Bandung. Nah. Mari kita tunjukkan bahwa Bandung itu keren.

11181833_10153051136411526_8456882668350622511_o(1)

Pokoknya acaranya asyik lah. Sampai ketemu di acara-acara start up Bandung lainnya.

[Detail dari acara ini akan saya update lagi. Ini posting dulu sebelum basi. hi hi hi.]


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.619 pengikut lainnya