Pembenaran

Bagaimana memastikan bahwa ide bisnis kita, misal dalam kerangka start-up, sudah pada jalan yang benar? Istilah kerennya adalah validasi. Ada banyak cara yang ditempuh orang. Ada yang ikutan kompetisi, ada yang ikut bimbingan atau mentoring, ada yang ikut asosiasi, dan seterusnya.

Pembenaran juga tidak hanya terjadi di dunia start-up saja tetapi dalam aspek kehidupan kita lainnya. Kita menuliskan sesuatu di media sosial dan berharap banyak disukai (like) oleh banyak orang. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mencari pembenaran.

Cara-cara di atas, meskipun sah-sah saja, bukan satu-satunya (eh banyak ya?) yang dapat mengatakan bahwa apa yang kita lakukan sudah benar. Seringkali saya melakukan inisiatif-inisiatif tanpa menunggu pembenaran dari orang lain. Masalahnya adalah banyak inisiatif yang saya lakukan (di dunia internet, bisnis, pendidikan, kepemimpinan, dan lain-lain) banyak yang belum mengerti. Jadi bagaimana mungkin saya menunggu pembenaran dari orang-orang yang belum mengerti? Cara yang saya lakukan adalah jalan terus saja. Kalau kata iklan Nike, “just do it.”

Jadi, saya hanya senyum-senyum saja ketika orang membuat lomba, perkumpulan, atau apapun tanpa mengajak saya. Padahal saya bergerak di bidang itu. ha ha ha. Biarlah. Saya toh tidak mencari pembenaran dari mereka.

Mencari Gojek-nya Pendidikan

Sudah pernahkan Anda menggunakan Go-Jek (termasuk Go-Food, dll.)? Ketika pertanyaan ini saya lontarkan di berbagai pertemuan, jawabannya (sebagian besar) adalah sudah. Singkatnya, bagi banyak orang Indonesia, Go-Jek adalah hal yang natural dari penerapan teknologi terhadap layanan ojek.

Kalau kita ceritakan tentang “ojek” ke rekan kita yang berada di luar negeri, khususnya di negara maju yang memiliki transportasi publik yang bagus, mereka akan heran. Mengapa ada ojek? Mosok ada layanan transportasi publik berbasis sepeda motor?  Mereka akan mempertanyakan keamanan dari layanan ojek tersebut. Segudang pertanyaan lain akan menyusul.

Ada banyak alasan mengapa ojek dan aplikasi Go-Jek tumbuh di Indonesia. Infrastruktur transportasi yang masih belum bagus dan belum merata menyebabkan banyak jalan yang hanya dapat dilalui dengan motor. Gang, misalnya. Kemacetan di jalan besarpun membuat layanan ojek masuk akal. Belum lagi ini membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang Indonesia.

Sesuatu hal yang aneh dan tidak mungkin di luar negeri menjadi sesuatu hal yang lumrah di Indonesia.

Mari kita melirik ke dunia pendidikan. Aplikasi pendidikan apa yang Anda gunakan akhir-akhir ini? Sering? Berapa banyak orang yang menggunakan aplikasi ini? Jawabannya adalah tidak banyak atau bahkan tidak ada. Pemanfaatan teknologi informasi di dunia pendidikan memang masih kalah cepat dengan pemanfaatan di dunia bisnis.

Pendidikan di Indonesia tidak dapat disamakan dengan pendidikan di luar negeri. Lingkungan dan karakter orang Indonesia yang berbeda menyebabkan banyak cara pendidikan luar negeri yang tidak dapat diterapkan secara langsung. Kondisi infrastruktur yang dibutuhkan untuk transportasi publik sama buruknya dengan kondisi “infrastruktur” yang dibutuhkan untuk menjalankan pendidikan.

Nah, apakah “ojek” dari pendidikan di Indonesia? Mungkin ada sesuatu hal yang mungkin dianggap aneh oleh orang Barat, tetapi masuk akal bagi orang Indonesia. Sesuatu yang khas Indonesia. (Kearifan lokal?) Kalau sudah ketemu “ojek”nya, mungkin dapat dibuatkan aplikasi “gojek”nya untuk pendidikan ini.

Kita butuh pemikiran yang berbeda. Mari kita cari “the gojek app for Indonesian education”.

Mentoring

Sesi mentoring untuk the Founder Institute (Jakarta Summer 2016) dimulai lagi dan saya akan ikut serta sebagai salah satu mentornya. The Founder Institute adalah sebuah jejaring dari Silicon Valley yang bertujuan untuk mengajari para pendiri (founder) dari usaha rintisan (startup company) tentang berbagai aspek dalam mengembangkan rintisannya.

13958284_181313635620044_2659001774560875883_o

Harus siap-siap memperbaharui materi presentasi saya nih. Seperti sebelumnya, saya akan bercerita tentang pengembangan produk (product development). Sampai berjumpa di acara mentoring …

Buku Zero to One

Horeee … Selesai baca satu buku lagi. I’m on a roll. Lagi lancar baca buku. Setelah beberapa hari yang lalu menyelesaikan satu buku, barusan selesai baca satu buku lagi. Buku yang baru selesai saya baca adalah “Zero to One” karangan Peter Thiel.

zero-to-one-cover-art

Buku yang ini sebetulnya sudah lama dimulai bacanya, tetapi tidak selesai-selesai. “Masalahnya” (kalau bisa disebut masalah) adalah banyak poin-poin bagus di dalam buku ini sehingga saya harus berhenti dan meresapi poin itu. Baca lagi, berhenti lagi, mikir dulu. Setelah beberapa hari, baca lagi, berhenti lagi, dan seterusnya. Itulah yang menyebabkan lambatnya selesai membaca buku ini. Jadi, buku bagus justru membuat lambat selesai bacanya.

Buku ini bercerita tentang bagaimana membuat perusahaan (startup) yang bagus. Peter Thiel ini dikenal sebagai salah satu pendiri dari PayPal. Sekarang PayPal sudah mereka jual. Pendiri-pendiri PayPal dikenal sebagai “Mafia PayPal” dan mereka kemudian mendirikan berbagai perusahaan yang juga sama (atau lebih) sukses; YouTube, Tesla, SpaceX, dan seterusnya. (Salah satu yang sekarang sedang ngetop tentunya adalah Elon Musk.)

Apa itu “0-to-1”? Maksudnya zero (0) adalah tiada. Tidak ada. Sementara zone (1) adalah ada. Jenis perusahaan yang didirkan sebaiknya adalah yang memberikan layanan atau membuat produk yang dahulu belum ada. Sebagai contoh, dulu belum ada sistem operasi komputer maka kemudian ada Microsoft yang membuat sistem operasi MS-DOS. Dahulu belum ada tempat orang kongkow-kongkow online, sekarang ada Facebook. Kalau membuat kantor cabang dari sebuah usaha yang sudah ada (membuka di kota lain, di negara lain) itu namanya dari “1” ke “n“. Ini tidak terlalu menarik.

Startup yang sukses adalah yang membuat sesuatu yang baru. Jadi jika ada yang ingin membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Google, atau sejenisnya akan sulit untuk sesukses mereka. The next big thing tidak mungkin search engine seperti Google, misalnya.

Selain membuat hal yang baru, buku ini juga menguraikan apa-apa kunci kesuksesan lainnya. Misalnya, kalau kita membuat sebuah produk (teknologi) yang mirip dengan yang sudah ada seperti sekarang maka dia harus minimal 10 kali lebih hebat dari yang sudah ada. (Istilahnya adalah “one fold better”.) Kalau hanya lebih bagus, 20% lebih bagus atau bahkan dua kali lipat lebih bagus, tidak cukup untuk menarik orang ke produk kita. Poin ini juga menarik.

Selain poin di atas, masih banyak poin-poin lain yang penting. Itulah sebabnya saya banyak berhenti membaca buku ini. Mencoba mencerna dahulu poin yang dimaksud. Apa saja poin-poin yang dibahas? Silahkan baca bukunya.

Pokoknya buku ini adalah bacaan wajib bagi yang ingin membuat Startup. Sangat direkomendasikan.

 

Tunjukkan Kodemu!

Minggu lalu, tepatnya hari Rabu 11 Mei 2016, saya mengikuti peluncuran kompetisi “IBM Linux Challenge 2016” di Balai Kota Jakarta. Acara ini sebetulnya merupakan kelanjutan dari kompetisi yang pernah dilakukan tahun lalu. Jadi, ini yang kedua.

Intinya ini adalah kompetisi pembuatan software yang berbasis open source. Adapun fokus dari aplikasinya adalah hal-hal yang terkait dengan smart city dan finansial daerah. Untuk yang smart city, ada banyak aplikasi yang bisa dikembangkan. Aplikasi yang bagus (pemenangnya) akan diberi kesempatan ditampilkan / digunakan di Jakarta Smart City. Sementara aplikasi finansial daerah digunakan untuk meningkatkan transaksi UMKM melalui e-commerce.

26929749021_91fcc41d86_o

Bagi saya, ini adalah ajang untuk mencari bibit-bibit dan kelompok pengembang software yang keren-keren di Indonesia. Untuk menunjukkan bahwa Indonesia (dan orang Indonesia ) juga jagoan di dunia IT. Ayo … tunjukkan bahwa kita bisa!

Tentang Toko Musik Digital

Saya akan berada di UNPAD pada tanggal 24 Mei 2016 ini untuk acara ENHARMONICS.

BR enharmonics.jpeg

Saya akan cerita tentang perjalan toko musik digital kami, Insan Music Store. Sebelum hadir, silahkan daftar dulu di toko musik kami. Silahkan coba download. Nanti kami tunjukkan cara pembeliannya dengan menggunakan Mandiri e-cash.

Jreng ah!