Seri Video Startup

Akhirnya saya mulai membuat video (vlog) tentang Startup. Tentang menjadi entrepreneur. Ini akan menjadi seri video karena ada banyak topik yang akan dibahas.

Sebenarnya, ide awalnya sih blog ini akan membuat versi tulisan dari video tersebut. Jadi orang yang senang melihat video, silahkan melihat videonya. Sementara itu, orang yang senang membaca dapat membaca blog ini. Rencananya juga yang di blog bisa ditambah dengan pembahasan yang lebih rinci lagi, karena ruangnya lebih lega. (Kalau membuat video yang terlalu panjang, tidak diminati orang.) Selain itu juga blog lebih nyaman untuk dijadikan tempat diskusi. (Ini dapat berubah.) Untuk sementara ini pembahasan belum saya buat. Jadi saya buatkan ulasan singkatnya dulu saja.

Video pertama adalah tentang bagaimana memulai startup itu sendiri. Saya mengusulkan ada dua alasan; (1) ingin memecahkan sebuah masalah, dan (2) karena bisa sesuatu dan ingin membuat bisnis berdasarkan kebisaan saya tersebut. Simak videonya di sini.

Startup: ideation

Video kedua membahas lebih lanjut tentang ide tersebut. Apa hubungan ide tersebut dengan Anda? Bagi saya, ide sebuah startup harus terkait dengan Anda. Misalnya, ide tersebut memecahkan masalah pribadi Anda. Atau jika bukan Anda sendiri, itu adalah masalah salah satu orang di tim Anda. Jika ide tersebut tidak ada hubungannya dengan Anda, maka minggu depan Anda akan dengan mudah mengganti topik.

Startup: ide dan Anda

Demikian secara singkat dua video tentang startup yang sudah saya buat. Akan ada video-video yang lain. Menyusul. Semoga.

Tentang Unicorn dan Pendanaan Perusahaan

Kemarin saya memberikan presentasi tentang technopreneurshipentrepreneurship berbasis teknologi. Salah satu pertanyaan yang dilemparkan adalah apa pendapat saya tentang unicorn dan pendanaan perusahaan yang berjuta-juta dolar.

Jawabannya saya satukan saja ya. Soal unicorn, definisinya, Anda dapat lihat di tempat lain. Supaya Anda juga ada sedikit berusaha. ha ha ha. (Nanti kalau banyak permintaan, ya terpaksa saya buatkan tautannya di sini.) Singkatnya adalah perusahaan yang mendapat pendanaan sangat besar sekali disebut sebagai unicorn. Hal ini disebabkan langkanya perusahaan yang seperti ini.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan perlombaan untuk mendapatkan pendanaan sebesar-besarnya. Perlombaan untuk menjadi unicorn. Banyak orang yang justru melihat pendanaan perusahaan sebagai sebuah prestasi. Perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan pendanaan sebesar-besarnya. (Padahal porsi saham mereka makin berkurang.)

Mengapa mendapatkan pendanaan dianggap sebagai prestasi? Bagi saya ini bukan sebuah presetasi. Perusahaan menghasilkan inovasi, produk / servis yang keren, itu merupakan presetasi bagi saya. Mendapatkan pendanaan sebagai prestasi? Kurang pas. Saya paham bahwa mendapatkan pendanaan – apalagi dalam jumlah yang sangat besar – tidaklah mudah, tetapi itu bukan sebuah ukuran yang layak untuk dijadikan ajang perlombaan.

Analoginya begini. Bayangkan Anda seorang koki (chef) yang keren. Anda kemudian akan membuat sebuah masakan untuk saya (kami). Maka Anda mendapatkan uang untuk belanja bahan-bahannya; daging, ikan, sayuran, bumbu-bumbu, dan seterusnya. Agak aneh kalau presetasi Anda diukur dari MENDAPATKAN UANGnya. (Saya tuliskan dengan huruf besar dan tebal.)

Bagi saya, yang lebih penting adalah makanan yang Anda buat. Apakah makanan yang Anda buat itu berupa sebuah master piece – karya yang luar biasa? Enaknya kurang ajar! Jika ya, ini adalah sebuah prestasi. Inilah yang lebih penting. Bukan mendapatkan uangnya yang lebih penting.

Kalau mendapatkan uangnya yang lebih penting, maka restoran-restoran itu lebih mementingkan pengumuman mendapatkan uangnya (investasinya) dibandingkan mempromosikan makanannya.

Begitulah pendapat saya tentang unicorn dan/atau pendanaan perusahaan yang sangat besar.

Block 71 Bandung

Beberapa tahun yang lalu – mungkin sekitar tahun 1998(?) [wah sudah lama ya] – kami menulis dokumen tentang Bandung High-Tech Valley (BHTV). Isinya adalah tentang kawasan Bandung (dan sekitarnya) dapat menjadi cerminan Silicon Valley-nya Amerika. (Ini membutuhkan blog post terpisah.) Salah satu hal yang saya impikan pada waktu itu adalah kawasan jalan Dago – nama resminya adalah Jl. Ir. H. Juanda – berisikan perusahaan-perusahaan yang berbasiskan teknologi. Modelnya mirip dengan Palo Alto-nya Silicon Valley. Jadi bukan kawasan perkantoran seperti yang ada di Jakarta.

Nah, sekarang ini mulai kejadian. Minggu lalu Block 71 Bandung dibuka. Apa itu Block 71 Bandung? Silahkan simak video ini.

Singkatnya, Block 71 adalah inisiatif dari Nasional University Singapore (NUS) Enterprise. Mereka mengembangkan sebuah tempat yang memang alamatnya adalah “Block 71” di Singapura. Tempat itu digunakan untuk mengembangkan banyak start-up. Hasilnya luar biasa. Selain mengembangkan block-block lain di sekitarnya, “Block 71” secara organisasi juga mulai merambah ke negara-negara lain. Indonesia merupakan salah satunya. Di Indonesia saat ini sudah ada Block 71 di Jakarta, Jogjakarta, dan sekaarang di Bandung.

Mengapa jalan Dago ini merupakan hal yang esensial? Karena dia dekat dengan berbagai perguruan tinggi; ITB, UNPAD, UNPAR, UNPAS, UNIKOM, ITHB, dan masih banyak lainnya. Ini salah satu kunci kesuksesan kawasan teknologi, yaitu kedekatan dengan tempat sumber daya manusia (SDM) dan tempat penelitian.

Sebentar lagi akan ada perusahaan-perusahaan teknologi lain di jalan Dago, menggantikan factory outlet yang menjadi jagoannya kota Bandung. ha ha ha. Asyik. Bandung betul-betul menunjukkan diri sebagai kota teknologi yang mendukung entrepreneurship.

Dreams do come true.

Kapan Startup Gagal

Dalam sebuah talk show, ada pertanyaan dari pendengar. Inti dari pertanyaan tersebut adalah ini:

Kapan sebuah startup bisa dikatakan gagal?

Ini pertanyaan yang tidak mudah jawabannya. (Memangnya ada pertanyaan tentang statup yang mudah dijawab?)

Pertama, memang salah satu ciri dari entrepreneur yang membuat atau menjalankan startup adalah keras kepala. Tetap menjalankan startupnya itu meskipun banyak orang lain yang menyatakan tidak. Bahkan sudah tidak punya apa-apa pun masih tetap nekat. Ada semacam kegilaan dalam hal kenekatannya. Jadi kapan dia harus berhenti?

Tidak ada jawaban pamungkas yang cocok untuk setiap orang, tetapi saya coba berikan beberapa  kondisi yang membuat saya berhenti menjalankan usaha tersebut. Usaha dinyatakan gagal.

  1. Sudah bosan. Ketika semua pendiri (founder) sudah bosan menjalankan startup itu, maka itu adalah saatnya untuk berhenti. Ada juga ya yang bosan? Ada. Bayangkan semuanya sudah tidak tertarik lagi. Untuk apa diteruskan? Berhenti. Dinyatakan gagal saja.
  2. Ketika sumberdaya (uang, orang, dan seterusnya) sudah habis. Ludes. Lah mau diteruskan bagaimana lagi? Hutang? Tidak. Saya termasuk jenis entrepreneur yang tidak suka berhutang. Segala hal yang saya mulai adalah hasil kerjasama. Sama-sama sukses atau sama-sama menderita. Jadi ketika sudah tidak ada apa-apa lagi, ya terpaksa berhenti. Mungkin suatu saat diteruskan lagi ketika sumber daya sudah tersedia lagi. Untuk sementara ini, gagal.
  3. Ketika sesama pendiri berkelahi. Iya. Ada kejadian seperti ini. Saya mengalami. Dugaan saya, banyak juga yang mengalami kasus seperti ini. Ketika pendiri sudah saling berkelahi atau saling tidak bicara satu sama lainnya, maka itu adalah saatnya untuk berhenti. Gagal.

Itu adalah kondisi-kondisi yang dapat dikatakan startup kita gagal. Mungkin ada kondisi-kondisi lainnya, tetapi itu adalah kondisi yang saya alami.

Oh ya, gagal bukan berarti harus berhenti. Kata orang, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Nah. Jadi gagal bukan hal yang memalukan. Kalau jahat, curang, licik, menipu, tidak punya integritas, dan sejenisnya adalah hal yang memalukan. Mari semangat mengembangkan startup kita.

Memperhatikan Lingkungan

Dalam sebuah wawancaa saya ditanya mengenai bagaimana cara saya mendapatkan ide-ide atau memprediksi sebuah teknologi atau kesempatan bisnis. Jawaban singkat saya adalah banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Yang saya maksudkan banyak membaca adalah membaca apa saja. Untuk bidang teknologi saya sering membaca majalah IEEE dan mendengarkan ulasan teknologi di berbagai sumber berita. (Membaca di sini juga termasuk melihat dan mendengar.) Untuk yang melihat, saya jarang nonton TV Indonesia karena saya tidak mendapatkan nilai tambah. Coba sebutkan channel TV yang banyak membahas teknologi.

Untuk dunia bisnis saya senang menonton TV berita luar negeri. Biasanya sering sekali dibahas soal tenologi terbaru dan kemungkinan bisnisnya. Untuk bahan bacaan, lebih menarik membaca majalah bisnis ketimbang membaca koran Indonesia. Lagi-lagi, perhatikan koran Indonesia yang isinya berita negatif semua.

Ketika membaca, melihat, dan mendengar, saya mencoba memperhatikan ini utamanya. Kemudian saya mencoba mengarang, melihat jauh ke depan. Tidak perlu jauh-jauh melihatnya, melihat satu dua langkah ke depan saja. Ternyata kemampuan ini tidak banyak dilatih oleh banyak orang.

Perhatikan pengemudi atau pengendara motor di Indonesia ini. Kebanyakan – atau mungkin sebagian besar? – hanya melihat apa yang ada di depannya saja. Dia tidak mencoba melihat situasi di depan kendaraan yang ada di depan dia. Dengan kata lain, untuk melihat satu (atau dua ya?) langkah ke depan dia sudah tidak berminat. Maka kemampuan untuk memprediksi situasi di jalanpun rendah. Ketika kendaraan kita berhenti, maka klakson di belakang mulai berbunyi. Dia tidak melihat kenapa kita berhenti. Padahal di depan kita ada kendaraan lain yang juga berhenti. Dengan hanya sedikit usaha, dia bisa tahu. Analogi melihat ke depan dalam dunia teknologi dan bisnispun mirip seperti itu.

Nah, untuk saat ini saya melihat beberapa topik menarik seperti Blockchain, Internet of Things (IoT), dan Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning. Dari mana saya tahu ini? Ya dari banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Sejarah Silicon Valley

Saat ini banyak orang yang tergila-gila dengan Facebook, Instagram, dan perusahaan start up lainnya. Mereka adalah perusahaan-perusahaan yang berlokasi di Silicon Valley. Kenapa yang ngetop adalah Silicon Valley? Kemarin dan tadi pagi saya bercerita tentang sejarah Silicon Valley.

18010764_10154468093081526_1086053699434838921_n

Banyak orang yang hanya melihat kondisi sekarang tetapi tidak melihat sejarahnya. Pentingnya sejarah adalah agar kita dapat mengetahui mengapa bisa terjadi (banyak perusahaan di Silicon Valley) dan bagaimana masa depannya. Itulah sebabnya saya bercerita tentang sejarah Silicon Valley. (Harusnya malah buat buku.)

Yang saya ceritakan antara lain tokoh-tokohnya:

  • Frederick Terman;
  • William Shockley;
  • Robert Noyce;
  • dan seterusnya.

Mereka adalah tokoh-tokoh lama. Setelah itu baru nanti diperkenalkan tokoh-tokoh angkatan Steve Jobs. Generasi setelah itu adalah pendiri Google. Setelah itu baru Facebook.

Ada beberapa nilai-nilai dari Silicon Valley yang ternyata masih sama dari dulu sampai sekarang:

  • mengambil risiko;
  • menerima ide-ide gila;
  • terbuka, saling membantu;
  • gagal tidak masalah;
  • meritocracy.

Mentoring Adalah Fardu Kifayah

Suatu ketika ada yang bertanya kepada saya kenapa saya mau melakukan mentoring, yaitu mengajari yang orang lain (yang biasanya lebih muda) dalam hal entrepreneurship atau start up? Pasalnya saya melakukan ini seringkali tidak dibayar.

Pertama, saya melihat model ini berjalan di luar negeri, yaitu di Silicon Valley. Boleh disimak perjalanan hidup dari para entrepreneur yang sukses. Steve Jobs saya melakukan mentoring (secara tidak formal) kepada Nolan Bushnell, pendiri Atari. Demikian pula para jawara start-up sekarang juga melakukan mentoring kepada Steve Jobs. Nanti yang berikutnya juga melakukan mentoring kepada Mark Zuckerberg, dan seterusnya. Intinya adalah ini adalah model yang dilakukan di sana.

Kedua, proses turunnya ilmu itu banyak yang dilakukan di luar kelas formal. Sekolahan memiliki keterbatasan; jadwal yang ketat, sumber daya (ruangan, orang, dll.) yang terbatas, dan seterusnya. Maka mentoring adalah salah satu solusi.

Jika mentoring ini tidak dilakukan, maka tidak dapat naik kualitas entrepreneur pada masyarakat sekitarnya. Kalau saya tidak membina yang muda-muda, nanti bagaimana ceritanya kalau saya sudah tua? Saya tidak dapat ndompleng mereka. hi hi hi.

Agar mudah dicerna, saya katakan “mentoring adalah fardu kifayah“. (Dalam agama Islam, ada kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh masyarakat. Jika salah satu sudah melakukannya, maka yang lain tidak wajib. Sudah gugur kewajibannya. Jika tidak ada yang melakukan, maka berdosalah seluruh masyarakat itu. Ini namanya fardu kifayah.)