Studi Kasus Bisnis: Kegagalan Kodak

Jika disebutkan kata “Kodak”, apa yang ada di kepala Anda? Bagi sebagian besar orang yang seusia saya (baca: berumur atau tua) nama Kodak selalu diasosiasikan dengan fotografi. Jika ingin memotret, maka kita membutuhkan film buatan Kodak. Kodak merajai dunia fotografi. Bahkan di Amerika ada istilah “Kodak moment” untuk situasi yang pantas untuk diabadikan dengan foto. Namun jika kita melihat saat ini, foto tidak lagi diasosiasikan dengan Kodak tetapi dengan berbagai aplikasi – seperti Instagram – dan handphone. Apa yang terjadi?

Kodak sempat menjadi salah satu perusahaan terbesar. Namun karena keterlambatan mengadopsi teknologi maka perusahaan ini sempat menuju kebangrutan. Yang lebih mengenaskan adalah Kodak adalah perusahaan yang menemukan teknologi fotografi digital di tahun 1977. Sayangnya mereka tidak menghargai penemuan mereka sendiri dan terlena dengan posisi mereka sebagai raja film kamera.

Kodak saat ini mencoba bangkit kembali dengan masuk ke dunia Farmasi. Masih terlalu awal untuk menentukan berhasil atau tidaknya, tetapi kita dapat membuat analisis.

Dimana letak kesalahan mereka terdahulu? Apakah perubahan arah bisnis (pivot) mereka akan berhasil? Pelajaran apa yang dapat diambil? Mari kita bahas.

Bahan Bacaan:

Bahan Video:

Diskusi Dilema Media Sosial (Senin Malam 21 September 2020)

Informasi tentang acara dadakan. Betul. Sebetulnya acara ini sudah ingin kami adakan kapan-kapan tetapi belum menemukan waktu yang “tepat”. Ternyata tidak ada waktu yang “tepat”. Jadi mumpung ada waktu, kami jreng-kan saja. Senin malam, 21 September 2020. Mungkin melalui Zoom dan YouTube. (Detail menyusul.)

Ada dua hal yang ingin disampaikan; (1) tentang topik bahasannya sendiri yaitu dilema media sosial, dan (2) adalah tentang group diskusi kami. Jadi kami memiliki group diskusi yang awalnya adalah mentoring entrepreneurship yang saya adakan secara rutin setiap Rabu siang. Banyak orang yang ingin tahu isinya seperti apa sih? Nah, ini saya ambilkan sebagian dari orang-orang yang sering terlibat dalam diskusinya (yang bisa ngalor ngidul tetapi bertopik).

Tentang topiknya, dilema media sosial. Media sosial sendiri dianggap sebagai salah satu emerging technology. Di negara lain, media sosial merupakan hal yang “baru”. Sementara itu di Indonesia, media sosial bukan barang baru lagi, tetapi kita belum paham efeknya. Lah, mau belajar kemana? Secara kita ini merupakan pionir pengguna (bukan pembuat) di bidang ini. Tidak ada tempat belajar untuk melihat efek sampingannya. Mungkin malah dapat disebut bahwa kita adalah kelinci percobaan bagi media sosial. (Dan kita tidak sadar bahwa kita adalah kelinci. Masih mending kelinci, bukan monyet ya? Ha ha ha.)

Topik efek negatif dari media sosial baru mencuat belakangan ini setelah para pengembang dan orang-orang yang terlibat di perusahaan media sosial itu angkat suara. Ternyata mereka sendiri mengalami kegalauan dalam produk atau servis yang mereka kembangkan. Bahkan ada yang merasa menyesal. Ada banyak tulisan dan buku yang menyarankan agar kita menghapus aplikasi media sosial kita.

Sebetulnya media sosial ini juga bukan tanpa jasa. Ada banyak jasanya. Masalahnya adalah apakah manfaatnya jauh lebih baik dari mudharatnya? Lah, apa saja sih efek negatifnya? Itu yang ingin kita diskusikan hari Senin malam ini.

Saya berharap agar banyak yang dapat mengangkat topik ini agar kita sadar (aware) terhadap situasi yang kita hadapi.

Be there or be square! Hadirlah!

Menyoal Tiktok

Sedang ramai bahasan tentang Tiktok. Bahkan negara Amerika akan melarang penggunaan Tiktok di Amerika jika tidak dimiliki oleh perusahaan Amerika. Wuih. Sedemikian seriusnyakah Tiktok?

Saat ini memang Tiktok sedang populer. Awalnya, Tiktok ditertawakan banyak orang karena dianggap tempat bermainnya anak-anak alay. Ya, benar, anak-anak alay. Maka banyak orang yang tidak mau menggunakannya. Malu ah. Saya pun sempat mencoba Tiktok. (Ini jamannya Bowo Tiktok. Masih ingatkah? Tahukah? Apa kabarnya sekarang ya?) Pokoknya semua layanan internet harus saya coba. Ya ternyata isinya seperti itu-itu saja. Memang anak-anak alay. Sekarang Tiktok isinya bukan lagi anak-anak alay, tetapi orang dewasa, dan bahkan dijadikan tempat untuk berdagang. Menjadi platform yang serius.

Bagi yang memperhatikan, perjalanan Tiktok ini akan sama dengan perjalanan aplikasi-aplikasi lain seperti Twitter dan Instagram. Pada awalnya Twitter juga sangat populer, tetapi kemudian digantikan oleh Instagram. Sekarang Instagram digantikan oleh Tiktok. Maka Tiktok pun akan digantikan oleh sesuatu lagi. (Siapkah Anda membuat “sesuatu” itu? Apa ya?)

Mengapa pergantian ini terjadi? Menurut saya, yang utama adalah karena (kelompok, komunitas) penggunanya juga berbeda. Sebagai contoh ketika Instagram naik daun, saya tanya kepada anak-anak muda penggunanya. Kenapa pakai Instagram? Salah satu alasannya adalah karena orang tuanya ada di Twitter. Ha ha ha. Ini jawaban yang nyata. Anak-anak selalu tidak ingin berada dalam satu platform dengan orang tuanya. (Ternyata hal yang sama juga terjadi antara Twitter dan Facebook. Generasi Twitter tidak mau di Facebook karena orang tuanya ada di Facebook.) Facebook, Twitter, dan Instagram bisa saja memiliki fitur yang sama dengan Tiktok, tetapi mereka tidak akan dapat memindahkan pengguna Tiktok. Kecuali, mereka mengusur pengguna-pengguna lamanya. Jadi ini bukan soal fitur semata.

Soal isinya (content) bagaimana? Bagus-bagus kok. Tapi semua platform juga punya content yang bagus-bagus. Harusnya ada semacam tempat untuk melakukan kurasi content yang bagus-bagus ya? Soalnya kalau search engine, terlalu banyak yang melakukan manipulasi (ngakalin).

Saat ini Microsoft diberitakan sedang mempertimbangkan untuk membeli Tiktok. Menurut saya ini adalah investasi yang buruk. Kecuali memang untuk dibeli kemudian dinaikkan (digelembungkan) value-nya kemudian dijual lagi. Ini membutuhkan kepandaian menggoreng nilai perusahaan. Atau Tiktok dibeli untuk dibunuh. Selain dari itu, saya tidak melihat ini sebagai investasi jangka panjang.

Nah, pertanyaannya adalah apakah saya perlu membuat akun Tiktok lagi ya? Saya sudah lupa password akun yang lama.

Seri Video Startup

Akhirnya saya mulai membuat video (vlog) tentang Startup. Tentang menjadi entrepreneur. Ini akan menjadi seri video karena ada banyak topik yang akan dibahas.

Sebenarnya, ide awalnya sih blog ini akan membuat versi tulisan dari video tersebut. Jadi orang yang senang melihat video, silahkan melihat videonya. Sementara itu, orang yang senang membaca dapat membaca blog ini. Rencananya juga yang di blog bisa ditambah dengan pembahasan yang lebih rinci lagi, karena ruangnya lebih lega. (Kalau membuat video yang terlalu panjang, tidak diminati orang.) Selain itu juga blog lebih nyaman untuk dijadikan tempat diskusi. (Ini dapat berubah.) Untuk sementara ini pembahasan belum saya buat. Jadi saya buatkan ulasan singkatnya dulu saja.

Video pertama adalah tentang bagaimana memulai startup itu sendiri. Saya mengusulkan ada dua alasan; (1) ingin memecahkan sebuah masalah, dan (2) karena bisa sesuatu dan ingin membuat bisnis berdasarkan kebisaan saya tersebut. Simak videonya di sini.

Startup: ideation

Video kedua membahas lebih lanjut tentang ide tersebut. Apa hubungan ide tersebut dengan Anda? Bagi saya, ide sebuah startup harus terkait dengan Anda. Misalnya, ide tersebut memecahkan masalah pribadi Anda. Atau jika bukan Anda sendiri, itu adalah masalah salah satu orang di tim Anda. Jika ide tersebut tidak ada hubungannya dengan Anda, maka minggu depan Anda akan dengan mudah mengganti topik.

Startup: ide dan Anda

Demikian secara singkat dua video tentang startup yang sudah saya buat. Akan ada video-video yang lain. Menyusul. Semoga.

Tentang Unicorn dan Pendanaan Perusahaan

Kemarin saya memberikan presentasi tentang technopreneurshipentrepreneurship berbasis teknologi. Salah satu pertanyaan yang dilemparkan adalah apa pendapat saya tentang unicorn dan pendanaan perusahaan yang berjuta-juta dolar.

Jawabannya saya satukan saja ya. Soal unicorn, definisinya, Anda dapat lihat di tempat lain. Supaya Anda juga ada sedikit berusaha. ha ha ha. (Nanti kalau banyak permintaan, ya terpaksa saya buatkan tautannya di sini.) Singkatnya adalah perusahaan yang mendapat pendanaan sangat besar sekali disebut sebagai unicorn. Hal ini disebabkan langkanya perusahaan yang seperti ini.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan perlombaan untuk mendapatkan pendanaan sebesar-besarnya. Perlombaan untuk menjadi unicorn. Banyak orang yang justru melihat pendanaan perusahaan sebagai sebuah prestasi. Perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan pendanaan sebesar-besarnya. (Padahal porsi saham mereka makin berkurang.)

Mengapa mendapatkan pendanaan dianggap sebagai prestasi? Bagi saya ini bukan sebuah presetasi. Perusahaan menghasilkan inovasi, produk / servis yang keren, itu merupakan presetasi bagi saya. Mendapatkan pendanaan sebagai prestasi? Kurang pas. Saya paham bahwa mendapatkan pendanaan – apalagi dalam jumlah yang sangat besar – tidaklah mudah, tetapi itu bukan sebuah ukuran yang layak untuk dijadikan ajang perlombaan.

Analoginya begini. Bayangkan Anda seorang koki (chef) yang keren. Anda kemudian akan membuat sebuah masakan untuk saya (kami). Maka Anda mendapatkan uang untuk belanja bahan-bahannya; daging, ikan, sayuran, bumbu-bumbu, dan seterusnya. Agak aneh kalau presetasi Anda diukur dari MENDAPATKAN UANGnya. (Saya tuliskan dengan huruf besar dan tebal.)

Bagi saya, yang lebih penting adalah makanan yang Anda buat. Apakah makanan yang Anda buat itu berupa sebuah master piece – karya yang luar biasa? Enaknya kurang ajar! Jika ya, ini adalah sebuah prestasi. Inilah yang lebih penting. Bukan mendapatkan uangnya yang lebih penting.

Kalau mendapatkan uangnya yang lebih penting, maka restoran-restoran itu lebih mementingkan pengumuman mendapatkan uangnya (investasinya) dibandingkan mempromosikan makanannya.

Begitulah pendapat saya tentang unicorn dan/atau pendanaan perusahaan yang sangat besar.

Block 71 Bandung

Beberapa tahun yang lalu – mungkin sekitar tahun 1998(?) [wah sudah lama ya] – kami menulis dokumen tentang Bandung High-Tech Valley (BHTV). Isinya adalah tentang kawasan Bandung (dan sekitarnya) dapat menjadi cerminan Silicon Valley-nya Amerika. (Ini membutuhkan blog post terpisah.) Salah satu hal yang saya impikan pada waktu itu adalah kawasan jalan Dago – nama resminya adalah Jl. Ir. H. Juanda – berisikan perusahaan-perusahaan yang berbasiskan teknologi. Modelnya mirip dengan Palo Alto-nya Silicon Valley. Jadi bukan kawasan perkantoran seperti yang ada di Jakarta.

Nah, sekarang ini mulai kejadian. Minggu lalu Block 71 Bandung dibuka. Apa itu Block 71 Bandung? Silahkan simak video ini.

Singkatnya, Block 71 adalah inisiatif dari Nasional University Singapore (NUS) Enterprise. Mereka mengembangkan sebuah tempat yang memang alamatnya adalah “Block 71” di Singapura. Tempat itu digunakan untuk mengembangkan banyak start-up. Hasilnya luar biasa. Selain mengembangkan block-block lain di sekitarnya, “Block 71” secara organisasi juga mulai merambah ke negara-negara lain. Indonesia merupakan salah satunya. Di Indonesia saat ini sudah ada Block 71 di Jakarta, Jogjakarta, dan sekaarang di Bandung.

Mengapa jalan Dago ini merupakan hal yang esensial? Karena dia dekat dengan berbagai perguruan tinggi; ITB, UNPAD, UNPAR, UNPAS, UNIKOM, ITHB, dan masih banyak lainnya. Ini salah satu kunci kesuksesan kawasan teknologi, yaitu kedekatan dengan tempat sumber daya manusia (SDM) dan tempat penelitian.

Sebentar lagi akan ada perusahaan-perusahaan teknologi lain di jalan Dago, menggantikan factory outlet yang menjadi jagoannya kota Bandung. ha ha ha. Asyik. Bandung betul-betul menunjukkan diri sebagai kota teknologi yang mendukung entrepreneurship.

Dreams do come true.

Kapan Startup Gagal

Dalam sebuah talk show, ada pertanyaan dari pendengar. Inti dari pertanyaan tersebut adalah ini:

Kapan sebuah startup bisa dikatakan gagal?

Ini pertanyaan yang tidak mudah jawabannya. (Memangnya ada pertanyaan tentang statup yang mudah dijawab?)

Pertama, memang salah satu ciri dari entrepreneur yang membuat atau menjalankan startup adalah keras kepala. Tetap menjalankan startupnya itu meskipun banyak orang lain yang menyatakan tidak. Bahkan sudah tidak punya apa-apa pun masih tetap nekat. Ada semacam kegilaan dalam hal kenekatannya. Jadi kapan dia harus berhenti?

Tidak ada jawaban pamungkas yang cocok untuk setiap orang, tetapi saya coba berikan beberapa  kondisi yang membuat saya berhenti menjalankan usaha tersebut. Usaha dinyatakan gagal.

  1. Sudah bosan. Ketika semua pendiri (founder) sudah bosan menjalankan startup itu, maka itu adalah saatnya untuk berhenti. Ada juga ya yang bosan? Ada. Bayangkan semuanya sudah tidak tertarik lagi. Untuk apa diteruskan? Berhenti. Dinyatakan gagal saja.
  2. Ketika sumberdaya (uang, orang, dan seterusnya) sudah habis. Ludes. Lah mau diteruskan bagaimana lagi? Hutang? Tidak. Saya termasuk jenis entrepreneur yang tidak suka berhutang. Segala hal yang saya mulai adalah hasil kerjasama. Sama-sama sukses atau sama-sama menderita. Jadi ketika sudah tidak ada apa-apa lagi, ya terpaksa berhenti. Mungkin suatu saat diteruskan lagi ketika sumber daya sudah tersedia lagi. Untuk sementara ini, gagal.
  3. Ketika sesama pendiri berkelahi. Iya. Ada kejadian seperti ini. Saya mengalami. Dugaan saya, banyak juga yang mengalami kasus seperti ini. Ketika pendiri sudah saling berkelahi atau saling tidak bicara satu sama lainnya, maka itu adalah saatnya untuk berhenti. Gagal.

Itu adalah kondisi-kondisi yang dapat dikatakan startup kita gagal. Mungkin ada kondisi-kondisi lainnya, tetapi itu adalah kondisi yang saya alami.

Oh ya, gagal bukan berarti harus berhenti. Kata orang, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Nah. Jadi gagal bukan hal yang memalukan. Kalau jahat, curang, licik, menipu, tidak punya integritas, dan sejenisnya adalah hal yang memalukan. Mari semangat mengembangkan startup kita.

Memperhatikan Lingkungan

Dalam sebuah wawancaa saya ditanya mengenai bagaimana cara saya mendapatkan ide-ide atau memprediksi sebuah teknologi atau kesempatan bisnis. Jawaban singkat saya adalah banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Yang saya maksudkan banyak membaca adalah membaca apa saja. Untuk bidang teknologi saya sering membaca majalah IEEE dan mendengarkan ulasan teknologi di berbagai sumber berita. (Membaca di sini juga termasuk melihat dan mendengar.) Untuk yang melihat, saya jarang nonton TV Indonesia karena saya tidak mendapatkan nilai tambah. Coba sebutkan channel TV yang banyak membahas teknologi.

Untuk dunia bisnis saya senang menonton TV berita luar negeri. Biasanya sering sekali dibahas soal tenologi terbaru dan kemungkinan bisnisnya. Untuk bahan bacaan, lebih menarik membaca majalah bisnis ketimbang membaca koran Indonesia. Lagi-lagi, perhatikan koran Indonesia yang isinya berita negatif semua.

Ketika membaca, melihat, dan mendengar, saya mencoba memperhatikan ini utamanya. Kemudian saya mencoba mengarang, melihat jauh ke depan. Tidak perlu jauh-jauh melihatnya, melihat satu dua langkah ke depan saja. Ternyata kemampuan ini tidak banyak dilatih oleh banyak orang.

Perhatikan pengemudi atau pengendara motor di Indonesia ini. Kebanyakan – atau mungkin sebagian besar? – hanya melihat apa yang ada di depannya saja. Dia tidak mencoba melihat situasi di depan kendaraan yang ada di depan dia. Dengan kata lain, untuk melihat satu (atau dua ya?) langkah ke depan dia sudah tidak berminat. Maka kemampuan untuk memprediksi situasi di jalanpun rendah. Ketika kendaraan kita berhenti, maka klakson di belakang mulai berbunyi. Dia tidak melihat kenapa kita berhenti. Padahal di depan kita ada kendaraan lain yang juga berhenti. Dengan hanya sedikit usaha, dia bisa tahu. Analogi melihat ke depan dalam dunia teknologi dan bisnispun mirip seperti itu.

Nah, untuk saat ini saya melihat beberapa topik menarik seperti Blockchain, Internet of Things (IoT), dan Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning. Dari mana saya tahu ini? Ya dari banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Sejarah Silicon Valley

Saat ini banyak orang yang tergila-gila dengan Facebook, Instagram, dan perusahaan start up lainnya. Mereka adalah perusahaan-perusahaan yang berlokasi di Silicon Valley. Kenapa yang ngetop adalah Silicon Valley? Kemarin dan tadi pagi saya bercerita tentang sejarah Silicon Valley.

18010764_10154468093081526_1086053699434838921_n

Banyak orang yang hanya melihat kondisi sekarang tetapi tidak melihat sejarahnya. Pentingnya sejarah adalah agar kita dapat mengetahui mengapa bisa terjadi (banyak perusahaan di Silicon Valley) dan bagaimana masa depannya. Itulah sebabnya saya bercerita tentang sejarah Silicon Valley. (Harusnya malah buat buku.)

Yang saya ceritakan antara lain tokoh-tokohnya:

  • Frederick Terman;
  • William Shockley;
  • Robert Noyce;
  • dan seterusnya.

Mereka adalah tokoh-tokoh lama. Setelah itu baru nanti diperkenalkan tokoh-tokoh angkatan Steve Jobs. Generasi setelah itu adalah pendiri Google. Setelah itu baru Facebook.

Ada beberapa nilai-nilai dari Silicon Valley yang ternyata masih sama dari dulu sampai sekarang:

  • mengambil risiko;
  • menerima ide-ide gila;
  • terbuka, saling membantu;
  • gagal tidak masalah;
  • meritocracy.

Mentoring Adalah Fardu Kifayah

Suatu ketika ada yang bertanya kepada saya kenapa saya mau melakukan mentoring, yaitu mengajari yang orang lain (yang biasanya lebih muda) dalam hal entrepreneurship atau start up? Pasalnya saya melakukan ini seringkali tidak dibayar.

Pertama, saya melihat model ini berjalan di luar negeri, yaitu di Silicon Valley. Boleh disimak perjalanan hidup dari para entrepreneur yang sukses. Steve Jobs saya melakukan mentoring (secara tidak formal) kepada Nolan Bushnell, pendiri Atari. Demikian pula para jawara start-up sekarang juga melakukan mentoring kepada Steve Jobs. Nanti yang berikutnya juga melakukan mentoring kepada Mark Zuckerberg, dan seterusnya. Intinya adalah ini adalah model yang dilakukan di sana.

Kedua, proses turunnya ilmu itu banyak yang dilakukan di luar kelas formal. Sekolahan memiliki keterbatasan; jadwal yang ketat, sumber daya (ruangan, orang, dll.) yang terbatas, dan seterusnya. Maka mentoring adalah salah satu solusi.

Jika mentoring ini tidak dilakukan, maka tidak dapat naik kualitas entrepreneur pada masyarakat sekitarnya. Kalau saya tidak membina yang muda-muda, nanti bagaimana ceritanya kalau saya sudah tua? Saya tidak dapat ndompleng mereka. hi hi hi.

Agar mudah dicerna, saya katakan “mentoring adalah fardu kifayah“. (Dalam agama Islam, ada kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh masyarakat. Jika salah satu sudah melakukannya, maka yang lain tidak wajib. Sudah gugur kewajibannya. Jika tidak ada yang melakukan, maka berdosalah seluruh masyarakat itu. Ini namanya fardu kifayah.)

Startup Accelerator

Kemarin saya memberikan presentasi di LPIK ITB terkait dengan Startup. Topik yang seyogyanya saya bawakan adalah tentang kaitan antara startup dengan corporate. Acara ini merupakan bagian dari pengenalan Plug and Play Tech Center, sebuah accelerator startup.

Kalau dilihat dari siklus sebuah startup, accelerator ini berada setelah inkubator. Urutannya kira-kira begini. Mulai dari ide. Ide tersebut dikembangkan menjadi produk (atau servis). Pendanaan di awal dapat dimulai dari diri sendiri atau angel investor. Langkah selanjutnya adalah menjadi bisnis betulan. Ada kalanya ini dilakukan melalui inkubator (meskipun sesungguhnya tidak semuanya harus melalui inkubator). Accelerator letaknya setelah itu, yaitu untuk meningkatkan bisnis menjadi lebih besar skalanya.

Plug and Play Tech Center, yang berpusat di Silicon Valley, memiliki beberapa lokasi di dunia. Sekarang mereka baru membuka tempat di Jakarta. Ada banyak layanan yang mereka berikan, mulai dari tempat (co-working space), mentor, pendanaan, dan seterusnya. Silahkan lihat situs webnya.

Presentasi saya akhirnya bercerita tentang perjalanan starting-up saya. Mudah-mudahan menginspirasi. Jreng!

16667160_10210962499791026_1664075578_o
In action. [Foto: Javad]

Terlalu Awal

Salah satu “topi” yang saya pakai adalah sebagai “serial technopreneur“. Maksudnya saya sering membuat usaha (seperti bernomor seri, he he he) dalam dunia teknologi (kata techno dalam technopreneur itu). Ada banyak kegagalan yang telah saya lalui. Salah satunya adalah terlalu awal atau terlalu cepat dalam membuat sebuah usaha atau produk tertentu. Too early.

Tadi bongkar-bongkar rak buku dan menemukan beberapa buku. Salah satunya adalah buku yang ditampilkan di bagian kiri foto berikut. “Palm OS Programming“. For dummies pula. ha ha ha.

15800372_10154167340586526_8166599908409203346_o

Dahulu ada masanya sebuah produk yang disebut PDA, Personal Digital Assistant. Bentuknya sebesar handphone sekarang. Isinya adalah berbagai aplikasi, yang sekarang sudah digantikan oleh berbagai apps di handphone seperti kalender, notes, agenda, dan seterusnya. Perlu diingat pada jaman itu handphone hanya bisa telepon dan SMS.  Aplikasi hanya ada yang bawaan dari pabrikan.

Salah satu PDA yang paling populer pada jamannya adalah Palm Pilot. Sistem operasi yang digunakannya adalah Palm OS. Selain PDA Palm Pilot ada juga produk yang kompatibel, misalnya Handspring Visor. Saya punya yang Handspring Visor itu.

Pada waktu itu (dan sebetulnya sebelum Palm Pilot ngetop), saya membuat proposal untuk sebuah usaha – kalau sekarang nama kerennya adalah Start-Up – yang mengembangkan aplikasi untuk handphone. Tentu saja proposal saya tidak dipahami orang banyak dan mungkin ditertawakan.

Bagaimana mungkin mengembangkan aplikasi dengan memori yang terbatas? Memori handphone pada saat itu hanya Kilobytes ukurannya. Padahal saya sudah belajar pemrograman dengan memori yang terbatas. Itu jaman “komputer” Sinclair dan Apple ][ yang memorinya hanya Kilobytes. Programming menggunakan bahasa apa? Ya bahasa assembly atau bahkan machine code. Tidak masalah. Saya belajar pemrograman juga dari bahasa itu. Jadi sesungguhnya tidak ada masalah teknis.

Singkatnya, tidak ada yang tertarik untuk ikutan membuat perusahaan itu. Gagal. Sekarang, mobile apps developers sudah sangat banyak sekali.

Nah, ini adalah pengalaman buruk bahwa terlalu awal / terlalu cepat / too early dalam mengembangkan ide atau produk bukanlah hal yang baik. Namun, saya masih tetap seperti itu. Sampai sekarang. Terlalu banyak ide produk saya yang terlalu “maju” untuk jamannya. ha ha ha. Biarlah. Itulah saya.

Pembenaran

Bagaimana memastikan bahwa ide bisnis kita, misal dalam kerangka start-up, sudah pada jalan yang benar? Istilah kerennya adalah validasi. Ada banyak cara yang ditempuh orang. Ada yang ikutan kompetisi, ada yang ikut bimbingan atau mentoring, ada yang ikut asosiasi, dan seterusnya.

Pembenaran juga tidak hanya terjadi di dunia start-up saja tetapi dalam aspek kehidupan kita lainnya. Kita menuliskan sesuatu di media sosial dan berharap banyak disukai (like) oleh banyak orang. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mencari pembenaran.

Cara-cara di atas, meskipun sah-sah saja, bukan satu-satunya (eh banyak ya?) yang dapat mengatakan bahwa apa yang kita lakukan sudah benar. Seringkali saya melakukan inisiatif-inisiatif tanpa menunggu pembenaran dari orang lain. Masalahnya adalah banyak inisiatif yang saya lakukan (di dunia internet, bisnis, pendidikan, kepemimpinan, dan lain-lain) banyak yang belum mengerti. Jadi bagaimana mungkin saya menunggu pembenaran dari orang-orang yang belum mengerti? Cara yang saya lakukan adalah jalan terus saja. Kalau kata iklan Nike, “just do it.”

Jadi, saya hanya senyum-senyum saja ketika orang membuat lomba, perkumpulan, atau apapun tanpa mengajak saya. Padahal saya bergerak di bidang itu. ha ha ha. Biarlah. Saya toh tidak mencari pembenaran dari mereka.

Mentoring

Sesi mentoring untuk the Founder Institute (Jakarta Summer 2016) dimulai lagi dan saya akan ikut serta sebagai salah satu mentornya. The Founder Institute adalah sebuah jejaring dari Silicon Valley yang bertujuan untuk mengajari para pendiri (founder) dari usaha rintisan (startup company) tentang berbagai aspek dalam mengembangkan rintisannya.

13958284_181313635620044_2659001774560875883_o

Harus siap-siap memperbaharui materi presentasi saya nih. Seperti sebelumnya, saya akan bercerita tentang pengembangan produk (product development). Sampai berjumpa di acara mentoring …

Buku Zero to One

Horeee … Selesai baca satu buku lagi. I’m on a roll. Lagi lancar baca buku. Setelah beberapa hari yang lalu menyelesaikan satu buku, barusan selesai baca satu buku lagi. Buku yang baru selesai saya baca adalah “Zero to One” karangan Peter Thiel.

zero-to-one-cover-art

Buku yang ini sebetulnya sudah lama dimulai bacanya, tetapi tidak selesai-selesai. “Masalahnya” (kalau bisa disebut masalah) adalah banyak poin-poin bagus di dalam buku ini sehingga saya harus berhenti dan meresapi poin itu. Baca lagi, berhenti lagi, mikir dulu. Setelah beberapa hari, baca lagi, berhenti lagi, dan seterusnya. Itulah yang menyebabkan lambatnya selesai membaca buku ini. Jadi, buku bagus justru membuat lambat selesai bacanya.

Buku ini bercerita tentang bagaimana membuat perusahaan (startup) yang bagus. Peter Thiel ini dikenal sebagai salah satu pendiri dari PayPal. Sekarang PayPal sudah mereka jual. Pendiri-pendiri PayPal dikenal sebagai “Mafia PayPal” dan mereka kemudian mendirikan berbagai perusahaan yang juga sama (atau lebih) sukses; YouTube, Tesla, SpaceX, dan seterusnya. (Salah satu yang sekarang sedang ngetop tentunya adalah Elon Musk.)

Apa itu “0-to-1”? Maksudnya zero (0) adalah tiada. Tidak ada. Sementara zone (1) adalah ada. Jenis perusahaan yang didirkan sebaiknya adalah yang memberikan layanan atau membuat produk yang dahulu belum ada. Sebagai contoh, dulu belum ada sistem operasi komputer maka kemudian ada Microsoft yang membuat sistem operasi MS-DOS. Dahulu belum ada tempat orang kongkow-kongkow online, sekarang ada Facebook. Kalau membuat kantor cabang dari sebuah usaha yang sudah ada (membuka di kota lain, di negara lain) itu namanya dari “1” ke “n“. Ini tidak terlalu menarik.

Startup yang sukses adalah yang membuat sesuatu yang baru. Jadi jika ada yang ingin membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Google, atau sejenisnya akan sulit untuk sesukses mereka. The next big thing tidak mungkin search engine seperti Google, misalnya.

Selain membuat hal yang baru, buku ini juga menguraikan apa-apa kunci kesuksesan lainnya. Misalnya, kalau kita membuat sebuah produk (teknologi) yang mirip dengan yang sudah ada seperti sekarang maka dia harus minimal 10 kali lebih hebat dari yang sudah ada. (Istilahnya adalah “one fold better”.) Kalau hanya lebih bagus, 20% lebih bagus atau bahkan dua kali lipat lebih bagus, tidak cukup untuk menarik orang ke produk kita. Poin ini juga menarik.

Selain poin di atas, masih banyak poin-poin lain yang penting. Itulah sebabnya saya banyak berhenti membaca buku ini. Mencoba mencerna dahulu poin yang dimaksud. Apa saja poin-poin yang dibahas? Silahkan baca bukunya.

Pokoknya buku ini adalah bacaan wajib bagi yang ingin membuat Startup. Sangat direkomendasikan.