Menertawakan Sains

SSaya suka komedi. Banyak hal yang dapat dipelajari dari komedi. Saya belajar bahasa Inggris melalui komedi. Demikian pula, ada banyak cerita sejarah yang saya pelajari dari komedi juga. Sains? Matematika? Rekayasa? Semua ini dengan lawakan? Wah ini baru menarik.

Pagi hari di awal tahun 2017 ini saya membuka internet. Serius. Sehabis Subuh, sebelum matahari terbit saya membuka internet. Entah kenapa, terbuka YouTube. Yang terpampang di layar saya ada berbagai pelawak, mulai dari Johnny Carson, Jonathan Winters, dan kemudian Robin Williams. Eh, ternyata salah satunya menunjuk ke video ini.

Nampaknya ini adalah sebuah acara wawancara tentang Matematika dengan pelawak Steve Martin. Entah kenapa, Steve mengajak pelawak Robin Williams ke atas panggung. Mungkin dia tahu bahwa Robin Williams lebih tahu tentang sains (Matematika dan Fisika) lebih dari dia. Maka terjadilah berbagai adegan lucu di video itu. (Videonya dipotong menjadi beberapa video, masing-masing 10 menitan.) Gak bisa berhenti nonton video ini. Aje gile busyet dah.

Saya baru tahu bahwa Robin Williams itu ternyata cerdas banget! Dia banyak membaca dan mengerti banyak hal. Silahkan lihat videonya. Ada banyak lawakan yang terkait dengan matematika (dan fisika). Serius! Edan pisan!

Lawakan jenis ini – yang membutuhkan pendengar untuk mikir – merupakan jenis yang saya sukai. Ah, ternyata bisa juga menggabungkan lawakan dengan sains. Ini merupakan dorongan positif buat saya agar terus dapat menjelaskan konsep yang susah dengan lawakan.

Belajar ah … (dan banyak membaca tentunya).

Proses Mendesain Mobil

Pagi itu, Selasa 19 Agustus 2014, kami sudah berkumpul di lobby hotel Crown Metropol, Melbourne. Sekitar pukul 9:15 kami menaiki bis yang sudah disediakan menuju Ford Asia Pacific Product Development Centre, yang terletak masih di daerah Victoria. Hari ini kami akan dijelaskan proses mendesain mobil.

Acara pertama setelah sampai di sana adalah kami harus menyerahkan semua handphone  kami. Memang biasanya di tempat desain pengunjung dilarang membawa perangkat yang dapat membocorkan rahasia. Kamera juga hanya dapat digunakan di ruangan tertentu. Waaa. Padahal maksudnya ingin foto-foto juga di luar. Apa boleh buat. Handphone saya serahkan dan dimasukkan ke dalam kantong plastik yang diberi nama. Nanti pas break, handphone bisa diambil lagi.

Rombongan berisi jurnalis dari berbagai media otomotif (yang konvensional dan dotcom). Entah kalau saya masuk ke kategori apa ya? hi hi hi. Saya mungkin masuk ke kategori media teknologi? Rombongan terdiri dari wakil beberapa negara; Indonesia, Malaysia, India, Vietnam dan Thailand.

Setelah pembukaan, acara dimulai dengan penjelasan proses desain dari Ford Everest, sebuah kendaraan SUV (sport utility vehicle). Proses dimulai dari survei pasar, yaitu mencari tahu keinginan calon pembeli SUV. Mereka mencari kata-kata yang merepresentasikan SUV tersebut, misalnya “tough“, dan seterusnya.

IMGP0087 design 1000

Setelah dipahami karakter yang diinginkan oleh pasar, maka dibuatlah beberapa sketsa desain mobil yang memiliki karakter seperti yang dimaksudkan. Kalau saya sebut beberapa mungkin kebayangnya hanya sedikit. Beberapa di sini boleh jadi 200 desain yang berbeda. Banyak ya? Dari berbagai desain ini kemudian dipilih beberapa  untuk lebih diseriuskan. Sampai akhirnya pilihan mengerucut kepada sebuah desain.

IMGP0091 pilihan desain 1000

[berbagai pilihan desain]

Desain ini kemudian dibuat prototipenya dengan menggunakan clay (tanah liat? lempung?). Awalnya sih dibuat di atas styrofoam tetapi di atasnya kemudian ditambahkan clay tersebut. Untuk hal-hal yang membutuhkan desain yang rinci, seperti kaca spion, digunakan printer 3D. Seru juga melihat proses desainnya.

IMGP0119 clay 1000

[prototipe dengan clay. lihat ada bagian yang terbuat dari styrofoam di bawahnya]

Selain desain dari fisik atau bentuk mobilnya, pemilihan warna dan juga bahan yang akan digunakan untuk interior mendapat perhatian yang serius. Dijelaskan bagaimana mereka memilih warna dengan masukan dari pendapat berbagai pelanggan di seluruh dunia. Maklum, pasar mereka kan seluruh dunia. Mereka juga harus memprediksi bahwa warna itu masih akan tetap diminati beberapa tahun ke depan.

IMGP0105 warna 1000

[menjelaskan pemilihan warna]

Desain juga dibuat dengan menggunakan CAD tools. Ini digunakan untuk melakukan simulasi. Misalnya, bagaimana agar ketika jendela dibuka tidak ada suara throbbing. Atau juga simulasi untuk mengurangi air drag dan seterusnya. Pokoknya computing power mereka cukup besar juga. Seingat saya setara dengan 26000  CPU dan 95000 GB memori.

IMGP0112 simulasi 1000

[tools untuk melakukan simulasi]

Kesemuanya ini dilakukan dengan menggabungkan tiga tempat desain utama mereka; (1) Dearborn (Michigan, USA), (2) Koln (Jerman), dan (3) Melbourne (Australia). Selain tiga titik utama ini, masih ada beberapa kota lain yang terkait seperti misalnya kalau di Asia Pacific ada Chennai (India) dan Nanjing (China). Wah mana Indonesia ya? Ihik. Kita tidak masuk ke dalam radar mereka. Oh ya, sebagian dari desainernya anak muda yang berumur kurang dari 30 tahun!

IMGP0126 me suv 1000

[berpose dengan hasil desainnya, Ford Everest]

IMGP0129 aris indra 1000

[ Aris Harvenda (Otomotif Kompas) dan Indra Prabowo (Dapurpacu.com) sedang meliput]

Begitulah kira-kira sederhananya proses desain. Tentunya masih ada banyak hal lain yang tidak sempat dibahas. Besoknya kami menguji hasilnya di lapangan.

Wah sudah panjang tulisannya … Nanti akan saya sambung lagi dengan inovasi yang telah dikembangkan oleh Ford. Eh, salah satunya sudah saya ceritakan ya? Itu, yang tentang Cross Traffic Alert. Tulisan berikutnya akan tentang SYNC2 dan FiVE.

(mencoba memahami) Teknologi di Belakang Mobil Ford

Hari ini dan besok, saya diajak melihat teknologi di belakang pengembangan mobil Ford. Sebagai orang yang tertarik dengan teknologi, tentu saja saya tertarik. Terlebih lagi ada bagian dari teknologi yang ditampilkan terkait dengan teknologi informasi; virtual reality.Tempatnya juga menarik, Melbourne, Australia.

Pagi ini kami dijemput dari hotel dan dibawa ke Ford Asia Pacific Product Development Centre. Sesampainya di sana, kami harus menyerahkan handphone dan kamera harus didaftar. Maklum, di tempat itu banyak penelitian yang bersifat rahasia. Foto hanya boleh diambil di tempat-tempat tertentu saja. Wuih.

Acara pertama adalah presentasi tentang bagaimana mereka mendesain mobil. Untuk kasus ini mereka menampilkan konsep desain mobil Ford Everest, yaitu sebuah SUV. Presenter pertama, Steve Crosby (chief engineer, body) bercerita bahwa biasanya mereka tidak mengundang mereka. Kami adalah bagian dari group pertama yang diperkenalkan dengan proses ini. Proses pengembangan dilakukan secara global (Amerika, Eropa, dan Asia Pacific). Todd Wiling (design director) menceritakan fasilitas yang digunakan di Ford tadi.

Presenter kemudian tambah menarik. Max Tran, seorang desainer muda (umurnya kalau tidak salah 27 tahun! saya tanya langsung ke dia), menceritakan bagaimana mereka mendesain mobil Everest tersebut. Proses ini dimulai dari market & consumer requirement; dalam hal ini diinginkan mobil yang gagah perkasa (tough) tapi juga sophisticated. Setelah itu dibuat sketch-nya dan dilakukan proses review. Ada banyak (ratusan) sketch. Setelah dipilih, maka dibuatlah model dengan menggunakan clay (tanah liat?). Awalnya sih dibuat dengan menggunakan styrofoam dan ditambahkan tanah liat. Printer 3D juga digunakan untuk membuat hal yang detail, seperti misalnya spion. Pokoknya keren-lah melihat prosesnya.

Kemudian presentasi dilanjutkan oleh Minh Huynh (color & materials, designer). Diceritakan bagaimana proses mencari warna dan bahan yang pas untuk keinginan pengguna. Ini juga keren. (Foto-fotonya menyusul.) Hal yang menarik dari mereka adalah para desainer ini masih muda!

IMG_5759 notes 1000

Acara siangnya dilanjutkan dengan demonstrasi dari berbagai teknologi yang telah dikembangkan oleh Ford; seatbelt untuk penumpang di belakang yang bisa mengembang (inflatable, seperti airbag tapi beda), teknologi untuk membantu pengemudi dalam memarkirkan kendaraan, dan pemanfaatan virtual reality (VR) untuk mereview (dan mendesain) mobil dalam sebuah lingkungan yang disebut Ford Immersive Virtual Environment (FiVE). Yang ini ceritanya menyusul ya. Ini sudah hampir tengah malam dan besok harus bangun pagi sekali untuk melihat yang lainnya.

Terima kasih kepada Ford yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk memahami proses di belakang pengembangan mobil.

Keanggotaan IEEE

Saya baru menerima kartu anggota IEEE saya. Apa itu IEEE? Silahkan lihat situs web-nya. Di kartu anggota itu tertera … “Valid IEEE Member For 12 Years”. Wah, ternyata saya sudah 12 tahun menjadi anggota IEEE.

Saya suka IEEE karena dia merupakan asosiasi yang memiliki reputasi terbaik. Selain itu – dan yang sebenarnya paling penting – banyak journal dan majalah yang dipublikasikan oleh IEEE yang bagus-bagus. Saya suka sekali. Saya banyak belajar dari san.

Majalah IEEE biasanya dikirimkan melalui pos ke alamat rumah. Memang dia terlambat untuk beberapa waktu, tetapi kan saya tidak harus membaca secara real-time. Yang penting saya punya majalah yang bisa saya baca secara fisik dan konvensional. Suatu saat saya akan memilih versi digitalnya. Untuk saat ini, analog dulu saja ah.

Menjual Kompetensi Indonesia

Gak bisa tidur karena terlalu excited memikirkan kelanjutan dari pertemuan kemarin. (Ya, kemarin karena sekarang jam 2 pagi sehingga secara teknis sekarang sudah hari berikutnya. hi hi hi.) Saya ingin menunjukkan kepada dunia betapa hebatnya manusia-manusia Indonesia. Mungkin tidak semua, tapi cukup banyaklah yang hebat. Cukup untuk menjadi penarik atau pemicu.

Ada banyak cerita yang ingin saya tuangkan. Akibatnya saya tidak bisa tidur. Maka ngeblog-lah saya. hi hi hi.

Yang pertama ingin saya tulis adalah apakah memang benar Indonesia memiliki SDM yang excellent?  (Khususnya yang terkait dengan bidang teknologi.) Kayaknya saya bisa mengatakan iya. Percayakah saya terhadap itu? He** yes! Saya melihat diri saya sendiri dan rasanya kualitasnya tidak kalah dengan orang lain di dunia. he he he, muji diri sendiri. Apakah ini too good to be true?

Tentu saja kita masih punya masalah untuk lebih banyak menghasilkan SDM yang world class. Bagaimana memotivasi anak muda agar mereka mau meraih tingkat kemampuan teknis yang lebih tinggi ya?

[Sorry kalau tulisannya agak convoluted. Maklum, jam 2 pagi. hi hi hi.]

Pertemuan BHTV 2010

Tadi pagi (menjelang siang) saya datang ke pertemuan BHTV (Bandung High Tech Valley) di PAU, ITB. Saya datang terlambat, sekitar jam 11, karena paginya saya tanding futsal.

Sesampainya di sana, pak T.A. Sanny sedang memberikan penjelasan. Saya langsung nimbrung dan mengambil foto.

Pada intinya kami berharap adanya regenerasi, yang muda yang lebih tampil. Saya dan pak Sanny duduk di samping dan acara dilanjutkan oleh yang lebih muda. Mereka membicarakan program kerja 2010 (salah satunya ada pembuatan portal untuk komunitas). Sip! Kita tunggu kegiatan-kegiatannya.

Talk Show di Blitzmegaplex

Acara saya kemarin adalah memberikan presentasi di blitzmegaplex, Grand Indonesia, Jakarta. Acara ini adalah untuk internal blitz leader dalam rangka tahun kelima Blitz anniversary. (Wah sudah lima tahun ya? Tidak terasa.)

Yang mengisi acara adalah:

  • Hotasi Nababan (sebagai moderator)
  • Dian Syarief (founder dari Syamsi Dhuha Foundation)
  • Marthen Sumual (Direktur Top Konsep Indonesia)
  • M. T. Widya (sebagai moderator)
  • Koeshartanto (Direktur Makro Indonesia)
  • Budi Rahardjo (technologist, entrepreneur, dan yang terkait dengan blitz adalah sebagai founder dari Digital Beat Store)

Acara dimulai siang hari sampai malam. Saya mengikuti dari awal karena tertarik dengan topik-topik yang dibicarakan oleh para pembicara tersebut, yang semuanya hebat-hebat.


[Dian Syarief dan Hotasi Nababan]

Mbak Dian Syarief bercerita bagaimana dia berjuang dengan penyakit lupus. Sekarang sudah 10 tahun berlalu dan dia masih menikmati hidup. Salah satu kuncinya adalah hidupnya jiwa dengan cinta. Ada buku Miracle of Love yang dikarang olehnya dan karena sekarang kemampuan matanya sudah tinggal 5%, maka dia pun membuat audio book. Luar biasa. I wish I can tell you more. Go find the book and read it.

Pak Marthen Samual mengajarkan tentang bagaimana kita melayani customer, service from the heart. Pak Koeshartanto mengajarkan tentang top operation. Diceritakan bagaiman cara menjual produk di berbagai bisnis.

Saya sendiri bercerita tentang teknologi dan blitzmegaplex. Mengapa topik ini? Saya memiliki opini bahwa salah satu value dari blitzmegaplex adalah teknologi dan inilah yang saya coba tularkan kepada blitz leaders itu. Kebetulan founder dari blitzmegaplex adalah kawan saya sehingga saya tahu banyak (dan mungkin mengmpengaruhi?) apa yang di blitzmegaplex. Saya juga memiliki keterkaitan dengan blitz karena digital beat store.

Judul presentasi saya adalah “technology, entertainment, and us“. Nanti setelah materinya saya bersihkan, saya upload. Sementara ini belum bisa saya upload karena terlalu banyak gambar (yang saya ambil dari sana sini, sehingga harus saya hapus dulu gambarnya) dan ukurannya menjadi sangat besar. Materi presentasi (dengan perbaikan di sana sini) sudah saya upload ke slideshare.net/budi. Tepatnya yang ini: “technology, entertainment, and us“. Semoga bermanfaat.

Begitu … sekarang masih capek 🙂

[ada beberapa foto lagi yang mau diupload. kalau sempat. hanya, sayangnya tidak ada foto saya. mosok motret diri sendiri. hi hi hi.]

Creative City – Yokohama, Bandung

Hari Senin pagi saya harus sudah berjalan sementara orang masih lelap karena hari itu adalah hari libur imlek. Saya dan pak T. A. Sanny akan bertemu dengan tamu dari Jepang. Tadinya saya pikir tamunya rombongan, ternyata hanya satu orang. Kami bertemu di Common Room-nya Gustaf (di Jalan Kyai Gede Utama).

Topik pembicaraan kami adalah tentang creative city. Mitsuhiro (Mitch) Yoshimoto, sang tamu dari Jepang, sedang melakukan penelitian. Dia ditugaskan oleh kota Yokohama, Jepang, untuk meninjau kota-kota yang dianggap kreatif. Ada tiga kota yang dia kunjungi, Busan di Korea, Singapura, kemudian Bandung. Hore, Bandung masuk hitungan.

Alasan ketiga kota tersebut bervariasi. Busan dipilih karena di sana ada festival film-nya. Singapura dipilih karena pemerintahnya yang sangat mendukung (dan malah over? he he he). Bandung dipilih karena aneh, kurang didukung pemerintah, infrastruktur tidak terlalu bagus, tetapi kreativitas masih tetap muncul.

Yokohama sedang bebenah untuk menjadi creative city dengan topik art and culture. Dia ingin membandingkannya dengan Bandung. Nah, kalau Bandung ada dua komponen kreativitas yang dia lihat, yaitu art (seni) dan Information and Communication Technology (ICT/IT). Diskusi dimulai dari seputar itu.

Di Bandung memang banyak sekali art galery. Di kampus-kampus tentunya ada. Kemudian ada Selasar Sunaryo. Yang terakhir saya ketahui (dan belum ke sana) adalah Artsociates di Lawangwangi. Tentunya masih banyak lainnya lagi.

Creative city juga menjadi tema dari Bandung. Saya melihat ada beberapa upaya ke sana. Teman-teman di Arsitektur dan di Seni banyak memiliki kegiatan yang mengarah ke sana. Ada artepolis, ada acara-acara di C-59 yang belum sempat saya lihat. Ah. Pokoknya banyak deh.

Untuk IT di Bandung banyak perusahaan IT. Lucunya, hampir semua klien dari perusahaan ini berada di Jakarta. Sebetulnya ini tidak terlalu aneh. Klien perusahaan IT di India juga bukan di India 🙂 Jadi normal-normal saja.

Diskusinya panjang lebar, tetapi lebih banyak ke saya dan pak Sanny menjelaskan ke Mitch mengenai situasi di Bandung. Selain itu kita juga berharap bisa belajar dari Yokohama mengenai peranan pemerintah. Sebelumnya telah ada simposium mengenai hal ini. Di tahun 2009 ini nampaknya akan ada lagi.

Begitu cerita singkatnya … Mari kita kreatif!