Tag Archives: Teknologi Informasi

Coba-coba Software: Web Browser

Sebagai penggemar komputer, salah satu hal yang saya sukai adalah mencoba-coba berbagai software. Sebetulnya kegiatan ini seringkali memboroskan waktu. Enaknya sih kalau sudah ada yang mereview berbagai software ini kemudian kita tinggal menggunakan yang paling bagus. Atau, setidaknya kita bisa mengurangi waktu yang habis untuk coba-coba ini.

Kali ini saya sedang mencoba berbagai web browser. Ini hasil sementara. Semoga bermanfaat.

Browser utama saya adalah Firefox. Ada beberapa alasan mengapa saya memilih Firefox. Pertama, dia dapat dikonfigurasi dengan menggunakan Stylish. Syarat utama saya dalam sebuah aplikasi adalah fonts-nya harus dapat diubah. Fonts bawaan dari software seringkali terlalu kecil (maklum mata saya semakin tidak bersahabat – masalah usia), jelek, atau membuat saya tidak mood untuk membaca. Dengan Stylish saya dapat menggunakan fonts yang berbeda untuk situs yang berbeda. Misal untuk Gmail saya menggunakan monospace fonts, untuk Facebook fonts yang sans serif, untuk situs berita fonts yang serif, dan seterusnya. Kedua, Firefox merupakan browser yang paling aktif dalam hal pengembangannya. Masalah (security misalnya) dapat lebih cepat ditangani.

Kekurangan (masalah) dari Firefox adalah ukurannya yang besar. Bloated. Awalnya sih kecil tetapi makin lama semakin besar sehingga terasa lambat. Akhir-akhir ini saya juga banyak mengalami masalah dengan Adobe Flash di Firefox. Dia crash. Untuk berbagai situs, misal yang memutar video atau interface yang interaktif (contoh: upload foto di Facebook), Flash sering crash sehingga tidak berfungsi. (Firefox sedang memilih alternatif untuk menggantikan flash. Namanya: Shumway. Mari kita tunggu perkembangannya.) Oh ya, ketika menulis ini, Firefox sempat hang juga. Untungnya tidak sempat crash. Hadoh. Saya belum sempat melakukan save ketika dia hang. Jadi, ngeri-ngeri bagaimana gitu. hi hi hi.

Browser pilihan kedua saya adalah Google  Chrome. Yang ini karena dia sebagai alternatif yang ada di berbagai platform. (Saya bekerja utamanya dengan sistem operasi Mac OS X dan Linux. Kadang saya masih menggunakan Microsoft Windows.) Masalah saya dengan Google Chrome adalah dengan Stylish. Kadang fonts tidak diproses dengan baik. Misalnya, fonts untuk tampilan sudah benar tetapi ketika kita pindah ke bagian forms atau sejenisnya dia balik ke fonts bawaannya yang kadang tidak saya sukai. Chrome ini pun makin lama – sama seperti Firefox – makin berat. Tambahan lagi saya juga pasang Chromium yang juga sebetulnya sih masih Chrome juga. Adanya dua Chrome-based browser ini kadang membingungkan komputer saya.

Selanjutnya browser saya di Macbook adalah Safari. Browser ini sayangnya hanya ada di Mac OS X. Jadi sangat spesifik. Terlebih lagi dia tidak memiliki fitur untuk dikonfigurasi sebagaimana halnya Firefox dan Chrome. Jadi saya terjerat dengan fonts bawaannya dia, misalnya. Saya gunakan Safari hanya sebagai alternatif saja kalau Firefox dan Chrome tidak bisa jalan.

Selain browser-browser di atas yang sudah stabil dan mainstream, saya sekarang sedang suka menggunakan browser Vivaldi. Ini adalah browser yang dikembangkan oleh pengembang Opera. Opera dahulu dikenal sebagai browser yang paling cepat responnya dan tersedia di handphone pula. Vivaldi terasa cepat dan juga Flash tidak crash di dalamnya. Hanya saja memang Vivaldi tidak memiliki fitur untuk dikonfigurasi dengan menggunakan Stylish. Ah.

Browser lain yang saya sedang coba juga adalah Midori. Yang ini baru tersedia di Linux saja. Rasanya juga cepat, mirip seperti Vivaldi. Masalahnya juga sama, yaitu tidak dapat dikonfigurasi. Mari kita lihat apakah saya akan suka dengan Vivaldi & Midori ini.


Valuasi Perusahaan IT (part 2)

Ini masih soal tentang menilai (valuation) harga sebuah perusahaan IT. Ceritanya ada sebuah perusahaan yang ingin membeli perusahaan lain, sebuah perusahaan IT. Nah, bagaimana menilai harga dari sebuah perusahaan IT itu?

Cara yang konvensional adalah dengan menilai aset yang dimiliki oleh perusahaan IT tersebut, tetapi cara ini kurang cocok. Bayangkan, sebuah perusahaan IT mungkin didirikan oleh 5 orang mahasiswa. Mereka hanya menggunakan 5 notebook dan 1 server. Kalau dilihat dari aset hardwarenya, maka nilanya hanya harga 5 notebook dan 1 server ini saja. Wah, pasti *sangat kecil*. Mana mau perusahaan IT tersebut dihargai dengan itu saja.

Jika harga tersebut ditambahkan dengan software yang dimiliki (dibeli) oleh perusahaan IT tersebut, hasilny juga masih belum pas. Masih kemurahan. Apalagi kalau softwarenya berbasis open source yang gratisan pula. Mosok harganya Rp 0,- ???

Ada hal lain lagi yang dapat dianggap sebagai aset, yaitu HaKI atau Intellectual Property Rights (IPR) dari perusahaan IT tersebut. Contoh HaKI  adalah  paten atau sejenisnya. Problemnya adalah software patent tidak dikenal di Indonesia. (Bagusnya memang seperti itu. Lain kali akan saya bahas ini.) Namun bukan itu yang menjadi masalah utamanya. Masalahnya adalah bagaimana menilai “sebuah” HaKI di bidang IT?

Sebagai contoh, misalnya sang perusahaan IT tersebut mengembangkan sebuah software yang unik, memiliki desain yang keren, dan mengimplementasikan proses-proses (termasuk business process) yang bagus di dalamnya. Software / karya ini mau dihargai berapa? Bagaimana dengan ide-ide yang tertuang di dalamnya? Masih sulit untuk dihargai. Padahal justru ini adalah salah satu “aset” utama dari perusahaan IT yang harganya mahal. Maka, masih perlu diskusi dan perdebatan panjang untuk menerima hal ini sebagai salah satu cara menilia perusahaan IT.

Cara valuasi lain, yang itu dengan menilai harga user / customer / pelanggan yang dimiliki dapat dibaca di sini. Masih bersambung lagi … Sementara itu, semoga tulisan ini bermanfaat.


Internet Mengajari Budaya Instan?

Beberapa rekan berdiskusi mengenai efek (negatif) dari internet terhadap kebiasaan manusia. Salah satu yang muncul adalah dugaan bahwa internet mengajari kita untuk tidak sabar dalam membaca. Kalau dahulu kita membaca berita sampai habis. Kalau sekarang orang lebih senang membaca judulnya saja. Atau kalau dibaca tulisannya juga hanya halaman pertama yang dibaca. Jarang ada orang yang mau membaca tulisan yang panjang-panjang. Apakah benar demikian?

Terkait dengan hal ini akhirnya orang tidak mau mendiskusikan hal-hal yang rumit. Padahal ada banyak orang yang merasa telah membahas hal-hal yang penting, tetapi sesungguhnya hanya bagian kulitnya saja. Ketika intinya dibahas – dan tentunya berat, membutuhkan bacaan yang lebih dalam – maka banyak orang yang kemudian menghilang.

Orang juga diajari malas untuk mencari sumber bacaan (berita) sesungguhnya. Mereka ingin disuapi. Padahal sesungguhnya teknologi tersedia. Atau, mungkin justru karena teknologi tersebut maka orang kehilangan skill yang seharusnya simpel.

Hmm…


Bagaimana Mempopulerkan Situs (How to Generate Traffic to Your Site)

Untuk ketigakalinya dalam minggu ini saya mendapat pertanyaan atau keluhan dari beberapa instansi tentang tidak populernya situs (portal, web site, blog) mereka. Ada yang aksesnya dalam satu bulan ini adalah … nol. hi hi hi. Mereka kemudian berencana untuk mendesain ulang situs mereka. Padahal menurut saya bukan di situ masalahnya.

Ada juga orang-orang yang ingin mempromosikan layanan mereka dengan menumpang (ndompleng) situs-situs yang rame, termasuk blog ini. hi hi hi. (Lihat saja ada yang komentarnya OOT.) Topik SEO (Search Engine Optimization) merupakan sebuah hal yang dicari-cari orang. Bahkan ada bisnisnya tersendiri. Jadi masalah mempopulerkan situs atau menghasilkan traffic pengunjung itu merupakan “masalah” bersama.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa masalah utama dari ketidakpopuleran sebuah situs itu adalah informasi (data) yang tersedia tidak berubah untuk waktu yang terlalu lama. Ada situs pemerintahan yang terakhir diperbaharui tiga tahun yang lalu. Tentu saja tidak ada yang ingin mengunjungi situs itu kembali. Sekali mengunjungi – tahun lalu, misalnya – sudah cukup.

Salah satu cara untuk mempopulerkan situs adalah memperbaharui informasinya (content) secara berkala. Sering! Setiap hari kalau bisa. Itulah sebabnya situs-situs berita mendapatkan banyak traffic karena setiap hari orang hadir untuk mendapatkan berita terbaru. Ini juga saya terapkan di blog ini. Saya berusaha untuk menulis *setiap hari* (meskipun akhir-akhir ini banyak terjadi kegagalan). Jadi rumus saya adalah:

Kuantitas lebih penting daripada kualitas

Oleh sebab maka daripada itu … (hi hi hi), sering perbaharui situs Anda. Setelah sering diperbaharui, mulai kita tingkatkan kualitasnya.

Rumus kedua saya adalah

Tulisan yang baru (bukan copy and paste) lebih menarik

Maksudnya begini. Tulisan Anda yang “ngaco” jauh lebih menarik daripada menuliskan ulang (copy and paste) karangan orang lain, meskipun karangan orang lain itu super bagus. Percayalah. Cobalah. Kenapa demikian? Karena orang dapat membaca tulisan tersebut dari sumber aslinya. Lah kalau tulisannya adalah tulisan asli Anda, maka tentu saja kembalinya ke Anda. Tentu saja tulisan Anda ini tidak serta merta langsung disukai orang tetapi ini membutuhkan waktu, tetapi prinsipnya adalah buatlah yang orisinal.

Begitulah tips saya untuk mempopulerkan situs. Semoga bermanfaat.


Siapa Kamu?

kanye mccartneyBeberapa waktu yang lalu ada yang menampilkan twitter yang lucu seperti (di samping) ini. Saya ketawa ngakak. Lucu banget! Bagi saya, penggemar musik yang tidak tahu Paul McCartney itu siapa menandakan bahwa pengetahuannya sangat terbatas. (Mau bilang “bodoh” kok agak gimana gitu. he he he.)

Apa yang terjadi dengan ini? Nampaknya generasi muda – asumsi saya yang menuliskan twit tersebut adalah generasi muda – tidak mau belajar dan sok tahu. Cobalah usaha sedikit saja. Silahkan cari tahulah siapa itu Paul McCartney. Boleh jadi Anda tidak suka dengan dia, tetapi tahu lah.

Kejadian seperti ini banyak terjadi. Ini ada beberapa cerita yang saya tahu.

Pada suatu saat, ada sebuah acara musik yang akan di-streaming-kan via internet. Saya minta bantuan kawan saya yang punya ISP (internet service provider) untuk itu. Kebetulan kawan saya ini adalah bos (founder) dari ISP tersebut. Maka pada hari H-nya saya melakukan setup dan melihat-lihat persiapannya. Ada meja admin yang memantau dan mengendalikan streaming tersebut. Kawan saya datang dan melihat-lihat juga. Dia tanya-tanya ke operator yang ada di situ. Si operator jawab-jawab. Kawan saya juga nanya lagi. Kayaknya si operator mungkin bingung, siapa sih ini orang yang nanya-nanya … maka dia nanya, “bapak siapa?”. Wk wk wk. Maka kawan saya sontak ngeloyor. Wk wk wk. Pegawainya sendiri gak tahu itu bosnya. Wk wk wk. Saya ngakak dengernya. Ya ampuuun. Mas, mosok gak tahu itu bosnya???

Beberapa waktu yang lalu juga saya mendapat pertanyaan (atau pernyataan?) … “bapak sudah pernah pakai linux?” (ini dalam kaitan tentang membuat sistem operasi baru dan saya mempertanyakan untuk apa buat sistem operasi baru, memangnya kalian bisa?). Saya gak tahu mau jawab apa. Wk wk wk. Eh, saya jadi ragu juga. Jangan-jangan memang saya belum pernah pakai linux. Hadoh.

Ada video tentang John Petrucci main gitar dan anaknya nanyi (lagu Frozen). Ada komentar lawakan, “penyanyinya bagus, tapi yang main gitar kayaknya harus banyak belajar lagi meskipun punya potensi”. Glodak … pengsan saya.


CLI Twitter

Kali ini postingan saya agak berbau teknis. Ceritanya saya sedang mencari program twitter client yang menggunakan command line interface (CLI). Tujuannya adalah untuk mengambil data dari twitter dan memasukkannya ke dalam database atau ke aplikasi lainnya (via pipe). (Ya, ini masih cerita lama. Program twitter client saya sebetulnya sudah berjalan, tetapi saya masih ingin ngoprek lagi. Siapa tahu ada yang lebih baru dan lebih mudah.)

Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari apa-apa yang sudah ada. Do not reinvent the wheel. Berikut ini adalah beberapa program yang sudah tersedia.

  • TTYtter: dibuat dengan bahasa perl, dapat interaktif
  • PTT (python twitter tool): dalam bahasa python
  • t: dalam bahasa ruby
  • twit-cli: dalam bahasa ruby
  • console tweet: bahasa ruby
  • earthquake: bahasa ruby
  • curl: ini aplikasi sih
  • beberapa library untuk bahasa php

Yang pernah saya coba baru TTYtter, tapi itu juga sudah lama. Sementara ini dulu catatan saya. Nanti dioprek lagi.


Ketersediaan SDM IT Indonesia

Salah satu komponen utama dalam bisnis teknologi informasi (IT) – dan bisnis apapun sebetulnya – adalah sumber daya manusia (SDM). Apa jumlah SDM tersebut mencukupi? Bagaimana dengan kualitasnya (dibandingkan dengan SDM dari negara lain)? Berapa gaji mereka? Bagaimana trend kebutuhan SDM IT (bidang apa saja; administrator sistem, jaringan, rekayasa perangkat lunak / pemrograman, database)? Ini adalah contoh pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan. Jawaban dari pertanyaan ini dibutuhkan jika kita ingin merencanakan sebuah pekerjaan (proyek). Selain itu, jawaban ini dibutuhkan juga untuk sekolah-sekolah yang terkait dengan program studi teknologi informasi; apakah perlu membuka program studi baru dan menutup yang lama, dan sebagainya.

Beberapa tahun yang lalu – saya lupa tepatnya, mungkin sekitar tahun 2000 atau 2003 – kami pernah membuat sebuah survey untuk Bandung High-Tech Valley (BHTV). Survey yang didukung oleh Deperindag (waktu itu Industri dan Perdagangan masih menjadi satu) kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku, Blue Book. Seharusnya survey yang sejenis dilakukan kembali. Mari?

Untuk sementara ini mari kita coba jawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan hitung-hitungan kasar. (Hitungan ini akan saya perbaiki sejalan dengan waktu dan ketersediaan data yang lebih baik. Hitungan yang lebih akurat nanti kita lakukan dengan menggunakan survey riil.)

Kita mulai dari sisi pendidikan formal dahulu. Perlu diingat bahwa banyak SDM IT yang tersedia tidak melalui pendidikan formal IT. Untuk mereka akan dibahas secara terpisah. Untuk pendidikan formalpun, kita batasi dahulu yang terkait dengan Teknik Elektro / Komputer, Informatika, dan Ilmu Komputer. Sebetulnya jurusan Teknik Fisika, Fisika, dan Matematika juga masih termasuk yang dapat menghasilkan SDM IT. (Pada kenyataannya ada juga lulusan dari Arsitek, Astronomi, Geologi yang akhirnya menjadi pekerja di dunia IT.) Mereka belum kita masukkan ke dalam hitungan. Anggap saja sebagai bonus :)

Pertanyaan pertama adalah ada berapa sekolah yang menghasilkan SDM IT di Indonesia? Berapa jumlah lulusan yang dihasilkan untuk setiap jenjangnya (S3, S2, S1, D4, D3, SMK) dalam satu tahun?

Bandung

Kita ambil contoh Bandung dahulu dan mulai dari  ITB. Prodi STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB menerima (sekitar) 300 mahasiswa STEI setiap tahunnya untuk program S1. Katakanlah sebagian besar lulus tepat waktunya sehingga ada 300 lulusan setiap tahunnya. (Kalaupun tidak tepat, toh ada lulusan tahun sebelum-sebelumnya juga sehingga dapat kita katakan sekitar angka itu kelulusannya. Nanti akan saya perbaiki lagi jika ada data yang lebih akurat.) Dari lulusan ini sebagian besar melanjutkan ke S2 dan S3. Ada yang ke luar negeri dan ada yang di dalam negeri. Dari segi bidang ilmu, berapa persen yang menggeluti IT-related? Saya ambil dugaan mengikuti hukum pareto saja ya.

  • IT: 80% dari 300 adalah 240 orang
  • non-IT: 20%

Pertanyaan selanjutnya adalah ada berapa persen yang tetap berkarya di bidang IT (dalam hal ini termasuk elektronika, telekomunikasi, tenaga listrik) dan berapa persen yang di non-IT (misal menjadi manager dari bank, migas, perdagangan umum, dan sebagainya – dalam kapasitas yang non-IT karena dalam perusahaan tersebutpun kerjaan merekapun masih bisa IT).

  • IT: ??%
  • non-IT: ??%

Ditambah dengan jurusan lain yang juga mengajarkan kuliah yang IT-related (seperti Teknik Fisika dan bahkan Fisika), katakanlah didapatkan 50 lulusan. Angka ini ditambahkan dengan 240 orang tadi sehingga menghasilkan 290 orang. Katakanlah mudahnya ada 300 orang S1 yang dapat bekerja di bidang IT.

Untuk yang S2, ada beberapa program S2 yang terkait dengan IT secara langsung seperti misalnya program S2 Chief Information Officer (CIO), Layanan Teknologi Informasi (LTI), Telekomunikasi, dan seterusnya. Total mahasiswa yang terkait ada lebih dari 100 orang.

Untuk mahasiswa S3 yang terkait dengan teknologi informasi, jumlahnya masih sangat minim. Mungkin jumlahnya masih belasan orang saja.

Hitungan kasar total ada sekitar 400 orang lulusan IT-related/tahun dari ITB. Sedikit ya?

Di Bandung, selain ITB ada perguruan tinggi lain yang juga menghasilkan lulusan IT, antara lain: Telkom University (dahulu IT Telkom atau STT Telkom), Unikom, Unpas, dan beberapa yang lainnya. (Jumlahnya ada berapa? Harus kita survey. Katakanlah ada 10.) Dari segi ukuran, mereka lebih besar dari ITB. Katakanlah setidaknya mereka sama dengan ITB.

Jumlah lulusan: 10 x 400 = 4000 lulusan S1/tahun. (Ini banyak atau tidak ya? Kalau dibandingkan dengan India, tentunya angka ini sangat kecil.)

Lulusan D3. Ada beberapa politeknik dan sekolahan yang menghasilkan D3 di bidang IT di Bandung, seperti antara lain Telkom University (dahulu Poltek Telkom), Polban, Politeknik Pos, …

Kota-kota lain

[Di sini kita coba cari data untuk Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Makasar]

[masih belum selesai ditulis]


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.162 pengikut lainnya.