Tag Archives: Teknologi Informasi

Kembali Ke Mode Koding

Hari Sabtu yang baru lalu seharusnya saya ke Jakarta untuk sebuah rapat, tetapi tidak jadi karena malamnya saya merasa kurang enak badan. Hari Jum’atnya memang banyak pekerjaan sehingga saya benar-benar capek. Hari Sabtu itu pun saya seharusnya mengemudikan kendaraan sendiri ke Jakarta. Wah. Saya putuskan untuk batal ke Jakarta saja.

Di rumah, saya kembali melakukan pemrograman alias koding. (Ini terjemahan ngasal dari bahasa Inggris “coding”. he he he.) Kebetulan beberapa hari terakhir ini saya sedang membuat sebuah program (client-server) dengan menggunakan bahasa Python.

Salah satu kendala yang belum saya ketahui adalah platform yang akan digunakan; apakah Linux, Windows, atau Mac OS X. Jadi, ketika mengembangkan program tersebut terpaksa saya uji di ketiga sistem operasi tersebut. Maka inilah foto ketika melakukan pemrograman tersebut.

IMG_9944 coding

Ada 1 komputer desktop (menggunakan Linux Mint) dan 3 notebook yang masing-masing menggunakan sistem operasi Linux Ubuntu, Mac OS X, dan Microsoft Windows 10. Pemrograman dilakukan dengan menggunakan bahasa Python. Tidak menggunakan framework atau IDE tertentu. Semuanya dikerjakan dengan menggunakan editor “vi” saja. ha ha ha.

Hasil dari satu hari di rumah itu ternyata cukup produktif. Program beres. Tinggal merapikannya saja.


Internet dan Pembelajaran

Saat ini banyak tuduhan bahwa internet, atau lebih tepatnya media sosial, lebih banyak memberi keburukan daripada kebaikan. Banyak orang menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting – dan bahkan negatif – di internet. Menggunjing, marah-marah, menipu, bullying, menyebarkan kebencian, dan masih banyak hal negatif lainnya.

Saya menggunakan internet untuk hal yang positif. Salah satunya untuk belajar. Yang saya maksudkan belajar di sini bukan hal yang formal seperti belajar di kelas, tetapi belajar untuk diri sendiri. Menambah ilmu dan wawasan.

YouTube merupakan salah satu tempat yang sering saya gunakan untuk belajar. Dengan YouTube saya dapat mendengarkan pengalaman dan pelajaran dari orang-orang yang sulit untuk dicapai dengan metoda konvensional. Misalnya, jika saya harus belajar ke seorang pakar di Amerika dengan cara konvensional (bertemu secara fisik) berapa biayanya dan kapan?

Pagi ini saya belajar tentang musik dari Nile Rodgers melalui wawancaranya yang ditayangkan di YouTube. Ini dia. Keren amat.

Ilmu, setidaknya wawasan, saya bertambah setelah melihat video tersebut. Terima kasih internet. Terima kasih YouTube.

Oh ya, jika mau belajar ilmu yang lebih “konvensional” ada juga yang keren. Ini dia kuliah dari Walter Lewin; “For the Love of Physics”. Selamat belajar.


Keaslian Dokumen Digital

Tadi siang saya mempresentasikan materi tentang “Keaslian Dokumen Digital” di Bapusipda, Jawa Barat. Materi saya terkait sisi teknis dari bagaimana menjaga keaslian dokumen digital. (Ini terkait dengan Arsip Elektronik, yang nantinya dikelola oleh Arsip Nasional.)

keaslian dokumen digital

Dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk mengajari tentang hal ini. Bahwa sesungguhnya secara teknis kita dapat membedakan dokumen. Kita juga dapat menyatakan mana dokumen yang asli dan mana yang kw (he he he). Untuk mengajari tentang digital signature saja membutuhkan waktu 9 tahun (dari tahun 1999 sampai UU ITE keluar tahun 2008). Sabar.

Materi presentasi nanti akan saya upload. Sekarang ngaso dulu ah.

Materi tersedia di sini (slideshare).


Kursus Information Security di IndonesiaX

Ini adalah kursus saya di IndonesiaX: Information Security

Selamat menikmati.


(Tidak) Membagi Alamat Email

Sering saya pusing melihat orang meminta alamat email (atau nomor handphone) saya di halaman publik – misal halaman twitter saya atau facebook. Pasalnya kalau itu saya tuliskan di twitter / facebook, bakalan banyak (ro)bot yang akan membanjiri alamat email saya dengan spam. Jadinya, biasanya saya jawab sekenanya. he he he.

Sebetulnya gampangnya adalah alamat email / web / twitter saya biasanya sama nama akunnya. Nah itu dia jawabannya. Yang gini butuh manusia untuk memahaminya. Robot masih pusing. (Lieur ceuk urang Sunda mah. he he he.)


Karakter Twitter

Dunia media sosial masih belum betul-betul kita pahami. Ambil twitter. Menurut saya, dia memiliki karakter yang aneh.

Pada awalnya, saya dan banyak orang, beranggapan bahwa banyaknya pengikut (follower) atau yang menyukai (like / favorite) tweet kita itu bergantung kepada isi tweet atau tulisan kita. Untuk menguji hal ini, saya membuat dua account twitter: rahard dan buditweet. Awalnya, rahard saya isi dengan tulisan sekenanya. Gak pakai dipikir. Asal nulis saja. Sementara itu buditweet isinya lebih “berkualitas”. Ternyata, akun rahard yang tetap lebih populer. Kesimpulan saya adalah orang mengikuti akun twitter seseorang itu karena orangnya, bukan karena tulisannya.

Minggu lalu, kang Emil (Ridwan Kamil) yang walikota Bandung menampilkan ini di twitternya Instagramnya.

ridwan kamil kosong

Isinya kosong. Lihat saja, yang me-like tetap banyak. Orang mengikuti Ridwan Kamil karena Ridwan Kamil. Biarpun tulisan atau fotonya kosong, tetap di-like juga. he he he. Jadi, lain kali Anda tidak perlu harus mencari kata-kata mutiara untuk menuliskan status twitter Anda. Atau media sosial lainnya.


Potret Kondisi SDM Indonesia

Tulisan ini merupakan dugaan saya – kalau tidak dapat dikatakan pengamatan – mengenai kondisi sumber daya manusia (SDM) di sekitar saya. Saya coba tampilkan ini dalam bentuk gambar dahulu.

IMG_9373 kenyataan sdm

Lulusan sekolahan (perguruan tinggi) atau calon pekerja merasa bahwa kemampuannya sudah bagus. Alasannya adalah dia membandingkan dirinya dengan kawan-kawan di sekitarnya. Karena kebanyakan kawan-kawannya biasa-biasa saja, maka dia merasa sudah jago. Hebat. Bahkan ada yang menjadi juara di kelasnya. Dia tidak membandingkan dirinya dengan “kawan-kawan” (peer) di luar negeri, yang sesungguhnya merupakan saingan dia.

Kenyataannya, industri atau tempat mereka akan bekerja membutuhkan kemampuan pekerja di atas itu. Para pekerja yang baru lulus dan baru mulai bekerja kaget dengan kebutuhan yang ada. Sebagai contoh, sering saya menanyakan kepada calon pekerja yang akan menjadi programmer mengenai bahasa (atau framework, tools, library) yang mereka kuasai. Banyak yang hanya berkutat di PHP saja. Tidak banyak yang pernah membuat skrip dalam bahasa Perl / Python / Ruby / sh / (dan bahasa interpreter lainnya). Barulah mereka sadar bahwa mereka itu kuper (kurang pergaulan) ketika menjadi mahasiswa. Itulah sebabnya ketika menjadi mahasiswa, jangan hanya kuliah saja.

Lebih parah lagi, kebutuhan di tempat saya lebih tinggi dari kebutuhan rata-rata di industri. Jangan ditanya kenapa. he he he. Jadi ekspektasi saya selalu meleset. Ugh!

Judul tulisan ini mungkin terlalu bombastis. Seharusnya saya tidak menyamaratakan dan membuat klaim “Indonesia”. Mungkin apa yang saya sampaikan ini hanya berlaku di lingkungan saya.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.624 pengikut lainnya