Absensi Online Semudah Selfie

Salah satu masalah dalam kehidupan dengan COVID-19 adalah kita harus berada di tempat-tempat kita sendiri. Work from Home (WfH). Bekerja dari rumah. Kuliah dari rumah. Dan seterunya. Bagaimana dengan masalah absensi? (Kata “absensi” ini sebetulnya kurang tepat, lebih tepatnya adalah kehadiran atau presensi, tetapi saya gunakan kata ini karena ini yang lebih umum digunakan.)

Kebayakan dari kita masih menggunakan absensi konvensional, yaitu tanda tangan di atas kertas yang diedarkan di kertas. Atau yang paling “maju” sekalipun adalah menggunakan mesin sidik jari. Sekarang mesin sidik jarinya di kantor / di kampus, sementara kita berada di rumah. Kalaupun kita berada di kampus, sekarang agak ngeri dengan menyentuh alat yang disentuh oleh banyak orang. Hiiii… ngeriii… Maka dibutuhkan solusi terhadap masalah ini.

Jangan khawatir. Sekarang sudah ada teknologi Artificial Intelligence (AI) yang dapat mengenali wajah sehingga kita dapat melakukan absensi dengan mudah. “Absensi semudah selfie” Nah. Bagaimana cara kerjanya? Berikut ini adalah video dari teknologi Face Recognition (FR) yang dikembangkan oleh Riset.AI (PT Riset Kecerdasan Buatan).

Sistem ini sudah digunakan oleh beberapa pihak. Di tempat saya sendiri, sistem ini digunakan untuk absensi setiap hari.

Era Pendidikan 1-on-1

Sekolah dari rumah (school from home) memaksa banyak orang untuk menggunakan teknologi informasi. Mulai ada “masalah” terkait dengan ujian. Kebanyakan guru atau dosen masih menggunakan ujian secara konvensional. Kasih soal yang sama, kemudian semua mahasiswa harus menjawab. Ada LMS (Learning Management System) yang membantu mengacak soal dan jawaban sehingga sedikit menyulitkan bagi mahasiswa yang ingin nyontek atau mengunakan joki, tetapi ini sulit dengan kondisi saat ini.

Saya mengambil pendekatan yang berbeda. Ujian yang saya berikan kepada mahasiswa saya biasanya adalah membuat makalah, yang notabene akan berbeda-beda antar mahasiswa. Dengan kata lain, saya tidak mempunyai masalah nyontek atau joki. Namun timbul “masalah” baru bagi saya, yaitu untuk memeriksanya tidak dapat dilakukan secara gelondongan. Harus satu persatu. Selamat datang di era pendidikan 1-on-1, atau saya terjemahkan 1-ke-1.

Jika digeneralisir, pendidikan jaman sekarang masih bersifat pabrik. Semua siswa dibuat sama. Semua harus bisa mengerjakan soal yang sama. Bahan pelajaran sama. Ujian juga sama. Memang tujuannya adalah lulusannya dapat bekerja di tempat yang sama. Pabrik. Untuk pekerjaan yang individual, pendidikan seperti ini tidak cocok.

Pendidikan 1-ke-1 memberikan perhatian yang spesifik ke satu siswa. Bahan yang diberikan ke satu siswa boleh jadi berbeda dengan siswa satunya lagi. Ada siswa yang mudah mengerti dengan tulisan, sementara ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan diagram. Kecepatan belajar siswa juga akan berbeda. Sekarang semua disamakan. Harus selesai pada saat yang sama. Pada pendidikan 1-ke-1, kecepatan belajar siswa dapat berbeda. Artinya, masuk sekolah dan selesainya pun dapat berbeda.

Dahulu hal semacam ini tidak memungkinkan karena kekurangan tenaga pengajar. Namun sekarang dengan bantuan teknologi informasi (aplikasi, database, big data, artificial intelligence) seharusnya ini dapat dilakukan. Namun memang harus ada upaya yang terstruktur dan terencana untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Ayo kita mulai.

Tanda Kehadiran Kelas Secara Digital

Kuliah sudah (hampir) selesai. Sekarang mulai masuk ke UAS (Ujian Akhir Semester). Bagi kelas saya, UAS ini dapat dilakukan di rumah karena kebetulan berupa makalah (term paper). (Untuk yang harus ujian tertulis seperti yang dilakukan secara konvensional akan kita bahas secara terpisah. Wah harus buat tulisan lagi ya?) Yang saat ini menjadi masalah adalah daftar kehadiran.

Saat ini kelas banyak yang dilakukan secara daring (online). Sebagai contoh, ini adalah cuplikan foto kelas saya yang baru selesai satu jam yang lalu. Kelas yang lain juga mirip.

advanced-programming

Bagaimana mengubah kehadiran di video conferencing (yang dalam kasus ini menggunakan aplikasi Zoom) menjadi daftar hadir kelas? Sebetulnya ini dapat dilakukan secara manual, tetapi bayangkan jika semua kelas sekarang melakukan hal ini. Harus ada cara yang mudah dan otomatis. Ini tantangan bagi pengembang teknologi. Ayo buat!

Hidup Berdampingan dengan Virus Corona

Nampaknya solusi untuk virus corona (covid-19) ini belum dapat ditemukan dalam waktu dekat. Vaksin dan obat membutuhkan waktu untuk dibuat. Memangnya sulap? Salah kita – warga seluruh dunia – sendiri kenapa tidak mengucurkan dana yang banyak untuk penelitian. Sudahlah kita hentikan saling menyalahkan. Faktanya demikian. Artinya apa? Artinya kita harus dapat hidup berdampingan dengan virus corona ini.

Tentu saja kehidupan tidak akan sama seperti dahulu. Kita tidak bisa serta merta kembali dengan kelakuan seperti dahulu. Ini sangat berbahaya. Kita ingin kembali seperti dahulu tetapi tidak boleh dengan cara yang ngawur atau sembrono. Itu akan membahayakan kita semua. Maka kita harus cari cara yang aman tetapi kehidupan dapat berlangsung (hampir) seperti semula.

Ada yang mengatakan bahwa hal yang utama adalah testing. Pengujian. Apakah seseorang itu aman untuk keluar rumah dan bekerja. Aman di sini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi aman juga bagi orang lain. Bagian yang terakhir itu yang penting. Itulah sebabnya saya tulis dengan huruf tebal. Banyak orang yang merasa sehat dan kemudian tidak peduli dengan kesehatan orang lain. Ini salah.

Masalah pengujian (testing) adalah alat & caranya masih belum baik, dalam artian alas tes masih mahal dan hasilnya membutuhkan waktu yang lama. Itulah sebabnya di Indonesia jumlah yang dites masih sedikit. (Pada saat tulisan ini ditulis baru ada sekitar 49767 yang sudah dites. Dari 250 juta orang warga Indonesia, baru 50 ribu. Di Amerika juga sedang ribut warga tidak ingin lockdown dan ingin kembali bekerja, tetapi tidak ada alat test-nya juga. Alat test tersebut masih dibutuhkan di rumah sakit-rumah sakit. Masih kekurangan.

Singkatnya, dibutuhkan sebuah cara untuk menguji yang murah dan cepat. Ayo para inventor. Ini sebuah tantangan.

Karena hal di atas belum ada solusi, maka dicari cara terdekat. Asosiasi. Bahwa kalau orang sedang bermasalah dengan covid-19, suhu tubuhnya meningkat. Tentu saja ini pendekatan kasar, tetapi dapat dilakukan untuk skala masif dan cepat. Itulah yang sekarang dilakukan di tempat-tempat umum. Maka mungkin di kemudian hari, salah satu prosedur sehari-hari kita adalah; pagi hari cek temperatur tubuh (sebelum pergi kerja), pulang dari tempat kerja (sampai rumah?) cek kembali. Catat ini. (Perlu diingat yang penting sebetulnya bukan angkanya tetapi perubahannya. Ini pendapat beberapa rekan peneliti.) Semua ini harus diotomatisasi. Kalau tidak, maka kita akan repot dan kita tidak akan melakukannya. Di belakang layar ada aplikasi (berbasis artificial intelligence dan big data) yang melakukan pemantauan. Berarti harus ada alat seperti ini. (Saya sudah kepikiran idenya dan bahkan sesungguhnya sudah mulai mengembangkan ini sebelum kejadian virus corona ini. Sekarnag terpaksa terhenti karena semua bekerja di rumah dan pendanaan juga berhenti.)

Hal lain yang kita harus berubah adalah cara pandang kita terhadap kesehatan. Jangan lagi meludah sembarangan. Kalau ada yang meludah sembarangan, perlu kita tegur. Jangan buang sampah sembarangan. Cuci tangan secara berkala. (Agak terpisah, saya sering melihat orang keluar dari wc umum tanpa cuci tangan! Kesel ngelihatnya.) Jaga kebersihan. Tingkatkan kebersihan dan kesehatan. Ini tidak mudah memang karena yang namanya kebiasaan itu tidak mudah untuk diubah, tetapi kalau kita tidak berubah ya kita akan tetap seperti ini; terkurung di rumah.

Apa yang saya ceritakan di atas baru satu hal saja. Satu upaya untuk kita dapat hidup di tengah-tengah virus corona ini. Perlu diingat, bahwa di sekitar kita ini ada banyak bakteri dan virus. Lihatlah kasus demam berdarah dan TBC yang masih ada di Indonesia. Kita sudah “dapat” hidup di tengah-tengah mereka. (Dari segi angka, mereka mengerikan, tetapi kita sudah tahu cara melawannya. Kita aja yang tetap sembrono. Covid-19 ini berbeda karena kita belum tahu saja.) Ini juga akan kita lawan. Sekarang kita belum menemukan cara melawannya.

Manusia adalah spesies yang tangguh. Man against nature. We will prevail! Kita akan muncul sebagai pemenang. Harus. Semangaaattt!!!

Industri 4.0

Sekarang sedang ramai dibicarakan tentang “industry 4.0”. Apa itu? Mengapa dia muncul? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Berikut ini adalah opini saya.

Pertama harus dipahami dahulu bahwa ada perbedaan antara “revolusi industri ke-4” (fourth industrial revolution) dan “industri 4.0”. Revolusi industri mencakup berbagai aspek (domain) kehidupan, sementara industri 4.0 hanya spesifik ke dalam industri-nya sendiri. Revolusi industri ke-4 menunjukkan integrasi antara dunia nyata dan dunia siber. Internet of Things (IoT) dengan berbagai sensornya merupakan contoh integrasi kedua dunia tersebut. Mudah-mudahan penjelasan singkat ini dapat dipahami. Nanti akan saya uraikan lebih dalam lagi jika dibutuhkan.

Menurut opini saya, istilah “industri 4.0” ini sebetulnya muncul dari kekalahan Jerman dalam bidang industri oleh Tiongkok (China). Perlu diingat bahwa jaman dahulu produk-produk buatan Tiongkok memiliki kualitas yang buruk, sementara produk buatan Jerman memiliki kualitas yang sangat baik. Namun sekarang, Tiongkok mampu memproduksi produk dengan tingkat kualitas yang super baik. Maka istilah “industry 4.0” dikoinkan oleh Jerman untuk menunjukkan hal lain dari hanya sekedar membuat produk yang baik saja.

Apakah sebuah instansi (perusahaan, industri) telah mengadopsi industri 4.0? Seberapa jauh tingkat adopsinya? (Ini akan saya perbaharui pada tulisan selanjutnya.)

Data BUKAN Minyak Terbaru

Banyak orang yang mengatakan bahwa “data is the new oil“. (Saya belum menemukan terjemahan yang pas sehingga judul dari tulisan ini seperti ini.) Alasan yang digunakan mereka adalah data dapat diperjualbelikan dan bahkan katanya harganya mahal. Itulah sebabnya banyak layanan (umumnya di internet) yang gratis dengan menukarkan dengan data pribadi kita.

Saya tidak sependapat dengan analogi data dengan minyak, karena bagi saya analogi yang lebih cocok adalah data sama dengan sampah. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan.

  • Data kita hasilkan secara rutin. Ini sama dengan kita menghasilkan sampah setiap hari. Mulai dari sampah makanan kita, sampai ke sampah dari pekerjaan kita sehari hari. Kita juga menghasilkan data setiap hari. Sebagai contoh sekarang hampir setiap handphone memiliki kamera, maka setiap orang memotret apa saja. Yang tidak penting-pentingpun dipotret. Demikian pula banyak orang yang ikut di dalam group (misal WA group) yang isinya chatting tidak penting. (Sekali-sekali lihat chat anak2 di bawah SMA. Chatnya lucu-lucu. Yang kadang-kadang hanya 1 huruf saja. “P”. Kemudian dibalas “T”. Kemudian dibalas “K”. Ini adalah data yang sama dengan sampah.)
  • Sampah juga dapat memiliki nilai (value). Misalnya, sampah plastik dapat didaur ulang menjadi plastik kembali. Ada harganya. Itulah sebabnya ada orang yang pekerjaannya adalah mengumpulkan plastik bekas minuman kemasan. Namun secara umum sampah tidak diminati orang. Sama dengan data yang kita hasilkan, mungkin saja setelah diolah dia akan memiliki nilai. (Catatan: menurut pendapat saya ini sudah berubah dari data menjadi informasi.) Namun secara umum data yang kita hasilkan juga tidak diminati oleh orang lain.
  • Kita pusing dengan sampah. Bagaimana mengolah limbah sampah? Saya pun pusing dengan data yang ada di komputer saya. Di depan saya ada 5 harddisk yang sudah saya copot dari komputer. (Di komputernya masih ada 2 disk lagi.) Di dalamnya banyak data yang mirip dengan sampah; berkas-berkas yang saya unduh dari internet, foto-foto jepretan saya, lagu-lagu, materi presentasi, tugas mahasiswa, dan seterusnya.

Selain hal-hal di atas, masih banyak poin lain yang menunjukkan bahwa data itu lebih mirip dengan sampah.

Saya ambil contoh. Saya memiliki daftar nama mahasiswa yang mengambil kuliah saya saat ini. Itu data. Apakah ada nilainya? Jangan cepat-cepat mengatakan iya. Jika memang data ini ada nilainya, maka apakah Anda mau membelinya dengan harga Rp. 5 juta? Kemungkinan besar, tidak. Bagaimana jika Rp. 500 ribu? Kemungkinan juga tidak. Kalau Rp. 50 ribu. Mulai Anda mikir. Kalau Rp. 5 ribu? Mungkin Anda berminat (karena gorenganpun harganya seperti itu.) Mungkin Anda berminat karena ingin menjukkan bahwa data itu ada harganya, tetapi jujur saja. Untuk apa data itu bagi Anda? Data tersebut tidak ada nilainya. Atau nilainya sangat kecil. Sama dengan sampah.

one man junk is another man’s treasure

Demikianlah pendapat saya, bahwa “Data is the new junk“.

Oh ya, ada versi video dari opini saya ini di YouTube channel saya.

Gara-gara Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi ternyata bikin saya pusing. Begini. Saya kan menulis cerita tentang “Jek dan Sar” (linknya nanti saya pasang di sini). Cerita ini terhenti cukup lama. Tahunan. Terus apa hubungannya dengan teknologi?

Dalam cerita “Jek dan Sar” itu mereka berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Nah, jaman sekarang siapa yang menggunakan SMS? Anak-anak milenial pasti akan tertawa sampai sakit perut kalau masih ada orang berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Tidak masuk akal. Hanya teks saja dan bayar pula!

Kalau cerita saya itu mau kekinian, maka semuanya harus saya tulis ulang dengan menggunakan WA/Telegram (atau apapun program messaging yang sedang populer saat ini). Bahkan akan lucu kalau Jek dan Sar tidak saling kirim foto lewat Instagram, misalnya. Nah lho.

Kalau cerita saya tulis dengan setingan lama – jama SMS itu – maka saya yang pusing karena saya harus terbang ke waktu jaman itu. Beban ada di saya. Meskipun ini mungkin adalah pilihan yang paling logis. Toh cerita-cerita yang mengambil setingan waktu jaman dahulu pun masih tetap mungkin. Lah Dilan saja mengambil setingan waktu tahun 1990-an. Berarti saya saja yang kurang kreatif. Ha ha ha.

Jadi bagaimana bagusnya?

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Ada banyak teknologi “baru” yang muncul. Mereka disebut “emerging technologies”. Tidak semuanya akan sukses. Akan ada yang muncul dan kemudian menghilang, tetapi ada yang muncul dan membuat perubahan yang dahsyat dalam kehidupan kita.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI – saya akan menggunakan singkatan AI dalam tulisan ini) merupakan salah satu teknologi yang akan membuat perubahan yang dahsyat. Sebetulnya AI ini bukan teknologi yang baru karena awalnya sudah dimulai pada tahun 1950-an. Yang membuat dia menjadi “baru” adalah karena adanya inovasi-inovasi di bidang lain – (mikro)elektronika, komputer, jaringan, storage, database, cloud computing – maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan oleh AI menjadi masalah yang nyata. Dahulu dia hanya dapat memecahkan masalah mainan (dolanan) saja.

Dampak yang ditimbulkan oleh AI mirip (atau lebih hebat?) dari dampak yang ditimbulkan oleh mekanisasi / otomatisasi. Pekerjaan-pekerjaan yang rutin dan membosankan akan digantikan oleh mesin yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan. Akibatnya lapangan pekerjaan yang dahulu menggunakan manusia akan tergerus. Akan ramai ini. Untuk poin ini saya tidak ingin membuatnya menjadi isyu yang keras karena nanti akan ada alergi kepada AI. Padahal kita harus menguasai AI sebelum AI menguasai kita atau AI produk dari negara lain yang menguasai kita.

Sejauh mana AI akan merasuk ke dalam kehidupan kita? Nampaknya saya harus membuat tulisan – atau video – yang lebih rinci lagi bahasannya. Mencari waktu …

Seri Video Startup

Akhirnya saya mulai membuat video (vlog) tentang Startup. Tentang menjadi entrepreneur. Ini akan menjadi seri video karena ada banyak topik yang akan dibahas.

Sebenarnya, ide awalnya sih blog ini akan membuat versi tulisan dari video tersebut. Jadi orang yang senang melihat video, silahkan melihat videonya. Sementara itu, orang yang senang membaca dapat membaca blog ini. Rencananya juga yang di blog bisa ditambah dengan pembahasan yang lebih rinci lagi, karena ruangnya lebih lega. (Kalau membuat video yang terlalu panjang, tidak diminati orang.) Selain itu juga blog lebih nyaman untuk dijadikan tempat diskusi. (Ini dapat berubah.) Untuk sementara ini pembahasan belum saya buat. Jadi saya buatkan ulasan singkatnya dulu saja.

Video pertama adalah tentang bagaimana memulai startup itu sendiri. Saya mengusulkan ada dua alasan; (1) ingin memecahkan sebuah masalah, dan (2) karena bisa sesuatu dan ingin membuat bisnis berdasarkan kebisaan saya tersebut. Simak videonya di sini.

Startup: ideation

Video kedua membahas lebih lanjut tentang ide tersebut. Apa hubungan ide tersebut dengan Anda? Bagi saya, ide sebuah startup harus terkait dengan Anda. Misalnya, ide tersebut memecahkan masalah pribadi Anda. Atau jika bukan Anda sendiri, itu adalah masalah salah satu orang di tim Anda. Jika ide tersebut tidak ada hubungannya dengan Anda, maka minggu depan Anda akan dengan mudah mengganti topik.

Startup: ide dan Anda

Demikian secara singkat dua video tentang startup yang sudah saya buat. Akan ada video-video yang lain. Menyusul. Semoga.

Teknologi & Politik

Baru-baru ini beredar berita tentang Google yang membatasi akses Huawei terhadap kode Android dan layanan Google lainnya (Google Play, Gmail App). [Link berita akan saya kumpulkan dan letakkan di bagian akhir dari tulisan ini.] Ini berita yang cukup menggemparkan meskipun merupakan sesuatu yang sudah lama diduga oleh negara-negara yang bergantung kepada layanan sebuah perusahaan di sebuah negara tertentu. Mereka tidak mengira bahwa hal ini akan dieksekusi.

Sebagai sebuah perusahaan yang berdomisili di Amerika, Google harus taat kepada peraturan dari pemerintah Amerika Serikat. Maka ketika pemerintah Amerika Serikat memutuskan bahwa perusahaan Huawei melanggar berbagai keputusannya [dibutuhkan referensi di sini] maka pemerintah melarang perusahaan lain untuk melakukan bisnis dengan Huawei. Mau tidak mau Google (dan perusahaan Amerika lainnya) harus nurut.

source: https://www.theasset.com/belt-road-online/35604/us-warns-europe-against-using-huawei-

Ini merupakan contoh politik yang mempengaruhi bisnis. Sebetulnya kalau mau ditelaah lebih lanjut lagi, ini mempengaruhi teknologi. Sedemikian pentingnya teknologi sehingga menjadi salah satu penentu keputusan. Kali ini teknologi 5G yang menjadi perebutan. Setelah ini kemungkinan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence / AI) yang akan mendapat perhatian yang sama, karena AI ini sama pentingnya (bahkan dapat dikatakan lebih penting) dari teknologi 5G.

Berulangkali saya katakan kepada mahasiswa saya agar tidak buta politik, tetapi jangan terjun ke politik praktis. Pahamilah politik sehingga kita tidak tersesat atau bahkan ditunggangi oleh kepentingan politik (praktis).

Lantas bagaimana dengan kita di Indonesia?

Kasus ini membuka mata kita seberapa tergantungnya kita dengan teknologi asing. Begitu pihak asing menutup teknologi tersebut, matilah kita. Maka kemandirian teknologi bukanlah isapan jempol. Dia merupakan sebuah hal yang riil. Kedaulatan Teknologi.

Contoh yang riil. Beberapa waktu yang lalu (tahunan?), kami pernah mengusulkan adanya “app store” sendiri. Handphone yang beredar di Indonesia dapat menggunakan “app store” kita sendiri. Namun nampaknya ide ini belum mendapat dukungan dan bahkan tidak dimengerti. Sekarang semoga kita mengerti mengapa perlu ada “local app store“. (Rincian mengenai hal ini masih harus dibahas. The devils are in the details.)

Demikian pula kemampuan untuk membuat kernel dari sistem operasi (terutama untuk handphone) juga merupakan hal yang utama. Tidak banyak orang Indonesia yang ngoprek tentang hal ini. Saya hanya tahu beberapa orang saja. Apakah Anda pernah ngoprek kernel sebuah sistem operasi?

Kebutuhan SDM (sumber daya manusia) yang menguasai teknologi-teknologi ini secara mendalam dapat dikatakan sangat kritis. Darurat SDM teknologi. Apakah kita akan menunggu sampai kita diblokir dulu baru kemudian bergerak?

Tautan terkait berita Huawei

Lomba Pemrograman (IoT)

Internet of Things (IoT) sedang ramai dibicarakan. Salah satu pemanfaatan yang paling mudah dilakukan dengan IoT adalah untuk memantau temperatur, kelembaban, dan hal-hal yang terkait dengan lingkungan (cuaca? weather).

Di Bandung, kami sudah memasang beberapa (banyal) sensor yang terkait dengan cuaca ini. Weather sensors. Target awalnya adalah tersedia 150 sensor yang tersebar di kota Bandung. Data dari sensor-sensor tersebut kami kumpulkan dalam sebuah basis data. Nah, sekarang data tersebut kami buka.

Kami mengajak semua untuk mengembangkan aplikasi terkait dengan data cuaca tersebut dalam sebuah lomba. HackBDGWeather. Hackathon ini sekarang sudah dibuka dan kami menunggu proposal-proposal (ide-ide) dari Anda sekali. Silahkan kunjungi situs webnya di

https://hackathon.cbn.id


Ayo ramaikan. Kami tunggu proposalnya ya. Ditunggu sampai tanggal 15 Januari 2019.

Revolusi Industri 4.0

Saat ini, salah satu topik yang sering menjadi bahasan adalah “revolusi industri 4.0”. Bahkan, topik ini malah terlalu sering dibahas tanpa memahami apa sebetulnya maknanya. Hal ini akan saya bahas dalam update berikutnya dari tulisan ini. (Atau baca referensi di “Tautan tekait”.)

Salah satu cara untuk memahami apa itu revolusi industri 4.0 dan efeknya adalah dengan cara mencari literatur yang bagus. Salah satu buku yang bagus tentang hal ini adalah buku dari Klaus Schwab, “The Fourth Industrial Revolution”.

Buku ini membahas berbagai aspek (dan efek) dari revolusi industri 4.0. Sebagai contoh, bagaimana kebijakan pemerintah terkait dengan efek yang akan ditimbulkannya? Salah satu efek yang dikhawatirkan adalah adanya tenaga kerja yang digantikan oleh mesin (robot, artificial intelligence atau AI). Padahal banyak negara berkembang yang mengandalkan industri yang padat karya. Regulasi yang berlebihan – misal melarang penerapan AI – akan menyebabkan kita menjadi tertinggal. Laggard. Akibatnya malah tidak dapat meraup manfaat yang ditimbulkan oleh revolusi industri 4.0 ini.

Buku Klaus Schwab, “The Fouth Industrial Revolution”

Sebetulnya saya ingin membahas lebih lanjut lagi tentang buku ini, tetapi saya sendiri juga belum selesai membacanya. Ini adalah salah satu buku yang harus dibaca pelan-pelan. Membaca dua halaman, berhenti. Mikir dulu. Jadinya sangat lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Memang tidak ada yang mengejar-ngejar sih, tetapi kan masih ada buku-buku lain yang harus dibaca.

Tujuan dari tulisan ini adalah mengajak Anda untuk membaca buku ini.

Tautan terkait.

Aturan Lokasi Data

Salah satu yang didobrak oleh pemanfaatan teknologi informasi adalah batasan ruang dan waktu. Sekarang sulit untuk mendefinisikan ruang dan waktu untuk hal-hal yang terkait dengan aplikasi atau layanan yang menggunakan teknologi informasi. Sebagai contoh, sebuah perusahaan di Indonesia menggunakan layanan dari perusahaan Singapura yang memiliki pusat data (data center) di Amerika. Klien (nasabah) dari perusahaan itu warga negara Perancis yang sedang berada di Inggris. Ketika terjadi transaksi, hukum (aturan) mana yang mau dipakai? Indonesia? Singapura? Amerika? Perancis? Inggris?

Sekarang tambah lebih rumit lagi dengan keberadaan layanan “cloud”, yang pada prinsipnya kita tidak perlu tahu lagi lokasi fisik keberadaan data (atau server) kita. Contoh sederhananya adalah kalau kita membuka email kita di Gmail, sebetulnya secara fisik itu data kita berada dimana ya? (Ini belum membicarakan soal backup dan disaster recovery center / DRC.)

Secara bisnis, keberadaan layanan seperti cloud itu memudahkan (dan bahkan lebih murah). Namun secara hukum agak sulit. Sebagai contoh, kalau kita memiliki data transaksi yang bersifat rahasia dan data tersebut secara fisik berada di negara lain, maka akan sulit ketika terjadi masalah atau sengketa. Pengadilan, misalnya, meminta data transaksi tetapi negara dimana data tersebut secara fisik berada tidak memperkenankan datanya diberikan ke pihak lain (aturan privasi di negara tersebut, misalnya). Maka data tidak tersedia. Inilah sebabnya peraturan di berbagai negara (termasuk Indonesia) mewajibkan letak data secara fisik di negaranya.

Di satu sisi, ini dapat “merugikan” secara bisnis. Layanan penyimpanan data di luar negeri boleh jadi lebih murah. Namun, dilihat dari kacamata keamanan (sebagaimana diuraikan di atas), ini bermasalah. Jika kita memilih keamanan (dan sovereignty) dari data kita lebih penting, maka peraturan yang mengharuskan letak data secara fisik harus di Indonesia.

Tambahan lagi adalah pendekatan ini juga menghidupkan bisnis terkait di Indonesia. Keberpihakan ini sangat penting di era persaingan yang kurang seimbang ini. Negara lainpun melakukannya.

Pendapat saya, untuk saat ini lebih baik letak data secara fisik harus berada di Indonesia.

Machine Learning: Pengenalan Wajah

Salah satu aplikasi dari Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning adalah dalam pengenalan wajah seseorang. Salah satu perusahaan saya (PT Riset Kecerdasan Buatan) sedang mengembangkan model untuk melakukan hal ini.

Salah satu langkah yang penting dalam machine learning adalah ketersedian data untuk pelatihan (training). Data ini yang akan digunakan untuk mendeteksi orang yang bersangkutan. Proses pengambilan data ini kami sebut proses registrasi. Ada banyak cara melakukan proses registrasi. Yang kami lakukan adalah dengan mengambil video dari orang yang akan dideteksi.

Berikut ini adalah video salah satu kegiatan kami dalam proses registrasi yang disebutkan di atas. Ini kami ambil ketika ProcodeCG sedang memberikan workshop tentang machine learning di Bandung Digital Valley (BDV).

Semoga video singkat ini dapat menunjukkan apa yang kami lakukan di perusahaan kami.

Kegagalan Alat Fingerprint

Salah satu penerapan teknologi informasi yang mulai banyak digunakan adalah alat pemindai sidik jari (fingerprint scanner). Alat ini digunakan untuk mengidentifikasi seseorang berdasarkan sidik jarinya. Pemakaian yang terbanyak adalah untuk menunjukkan kehadiran – istilah sehari-harinya absensi.

Penerapan teknologi ini harus hati-hati sehingga bukan malah membuat masalah. Sebagai contoh, saya sering kesulitan untuk mengidentifikasi diri dengan alat ini. Di kampus saya, alat ini digunakan sebagai tanda kehadiran. Nah, sering saya tidak dapat dikenali oleh alat ini.

Ini contoh video yang saya ambil ketika saya mencoba mencatatkan kehadiran.

Setelah berulangkali gagal, saya menyerah. Hasilnya memang saya dianggap tidak hadir pada hari itu. Terserah lah … Kumadinya welah, kata orang Sunda. he he he.