Tag Archives: teknologi

Wearable Gadget

Sudah lebih dari sebulan (eh, lupa kapan tepatnya) saya menggunakan Mi-Band. Itu lho, gelang elektronik yang dipakai untuk mencatat jumlah pergerakan atau langkah kita. Berdasarkan itu dia dapat memperkirakan jarak yang sudah kita tempuh beserta kalori yang terpakai. Hasilnya seperti contoh di foto ini.

IMG_0057 miband

Hasil screenshot di atas menunjukkan bahwa saya telah melakukan 11452 langkah, yang kemudian dikonversikan menjadi 7,85 Km. Not bad. Yang menyedihkannya adalah sudah segitu jauh ternyata hanya menghabiskan 423 kalori. Makan bakso saja sudah lewat dari itu kali ya? hi hi hi.

Mi-band ini salah satu contoh wearable gadget, yaitu perangkat yang bisa kita “pakai”. Dahulu, ketika saya mulai tertarik kepada hal ini di tahun 1999, ukuran komponen masih besar sehingga wearable gadget ini terlihat lucu. Kayak robot yang banyak tempelan komponen elektroniknya. Sekarang, sudah nyaman dilihat. Sudah fashionable.

Saya jadi ingin buat perangkat-perangkat lain yang lebih canggih ah.


Orang Hardware Bandung

Hari Senin lalu (tanggal 21 Desember 2015), secara spontan diadakan kumpul-kumpul orang-orang Bandung yang tertarik dengan hardware (perangkat keras). Kalau istilah yang keren sekarang adalah IoT (Internet of Things). Acara ini merupakan bagian dari Procodecg CodeMeetUp() yang biasa dilakukan setiap hari Senin siang.

Saya kumpulkan orang-orang hardware dari generasi lama (generasi saya) dan generasi baru. Tujuannya adalah agar saling mengenal dan melakukan mentoring atau transfer pengalaman dari yang tua ke yang muda. Contoh yang senior-senior antara lain Yana Raharja, Jeffrey Samosir, Ihsan Haryadi, Trio Adiono. Sampai saat ini mereka masih melakukan pengembangan produk hardware.

IMG_0021 hw

Dalam foto di atas, Yana sedang menjelaskan bagaimana memasarkan produk hardware. Jangan teknis, tetapi manfaat apa yang diperoleh dari produk tersebut.

Yang muda-muda lebih banyak lagi; Cybreed, Dycode, Labtek Indie, dan lain-lain. Mereka sudah dan baru memulai mengembangkan produk-produk. Ke depannya, merekalah yang mejadi ujung tombak pengembangan produk-produk hardware.

IMG_0019 hw

Dulu ada masanya saya merasa ilmu Elektro (Elektronika) akan mati. Maka perlu ditutup jurusan Teknik Elektro di berbagai universitas di dunia. Lebih banyak orang yang senang mengembangkan software, karena modalnya lebih murah. Tinggal pakai komputer. Kalau bereksperimen dengan hardware harus beli komponen. Kalau salah, ya harus beli komponen lagi. Adanya demam IoT membuat masa depan harware cerah kembali.

Pertemuan kali ini baru untuk saling mengenal. Akan ada pertemuan-pertemuan lagi. Siap-siap hadir ya.


Potret Kondisi SDM Indonesia

Tulisan ini merupakan dugaan saya – kalau tidak dapat dikatakan pengamatan – mengenai kondisi sumber daya manusia (SDM) di sekitar saya. Saya coba tampilkan ini dalam bentuk gambar dahulu.

IMG_9373 kenyataan sdm

Lulusan sekolahan (perguruan tinggi) atau calon pekerja merasa bahwa kemampuannya sudah bagus. Alasannya adalah dia membandingkan dirinya dengan kawan-kawan di sekitarnya. Karena kebanyakan kawan-kawannya biasa-biasa saja, maka dia merasa sudah jago. Hebat. Bahkan ada yang menjadi juara di kelasnya. Dia tidak membandingkan dirinya dengan “kawan-kawan” (peer) di luar negeri, yang sesungguhnya merupakan saingan dia.

Kenyataannya, industri atau tempat mereka akan bekerja membutuhkan kemampuan pekerja di atas itu. Para pekerja yang baru lulus dan baru mulai bekerja kaget dengan kebutuhan yang ada. Sebagai contoh, sering saya menanyakan kepada calon pekerja yang akan menjadi programmer mengenai bahasa (atau framework, tools, library) yang mereka kuasai. Banyak yang hanya berkutat di PHP saja. Tidak banyak yang pernah membuat skrip dalam bahasa Perl / Python / Ruby / sh / (dan bahasa interpreter lainnya). Barulah mereka sadar bahwa mereka itu kuper (kurang pergaulan) ketika menjadi mahasiswa. Itulah sebabnya ketika menjadi mahasiswa, jangan hanya kuliah saja.

Lebih parah lagi, kebutuhan di tempat saya lebih tinggi dari kebutuhan rata-rata di industri. Jangan ditanya kenapa. he he he. Jadi ekspektasi saya selalu meleset. Ugh!

Judul tulisan ini mungkin terlalu bombastis. Seharusnya saya tidak menyamaratakan dan membuat klaim “Indonesia”. Mungkin apa yang saya sampaikan ini hanya berlaku di lingkungan saya.


(Halal Bihalal) Start Up Bandung

Jum’at kemarin (7 Agustus 2015) ada pertemuan para Start Up Bandung (#startupBDG) di Pendopo Walikota Bandung yang di Alun-alun itu. Acaranya mulai dari pukul 17:00 sore sampai pukul 21:00. Saya hadir di sana karena ingin tahu juga komunitas para Start Up di Bandung ini.

Yang hadir lumayan banyak juga. Dengar-dengar ada sekitar 90-an start up di Bandung. Ada beberapa booth juga di sana.

11850529_10153050265241526_1757808277355791290_o

Pada bagian awal ada presentasi dari Shinta Bubu. Sayang sekali pas lagi presentasi ini saya lagi Maghrib. Jadi gak sempat ambil foto2nya. Kemudian ada presentasi dari Gibran (Cybreed). Dia menceritakan perjalanan dia menjadi entrepreneur. Gibran mah lucu. he he he.

11017551_10153051101646526_7933770436519892436_o

Kemudian pak Walikota – Ridwan Kamil – juga bercerita tentang apa-apa yang telah dilakukannya dalam memberantas birokrasi dan korupsi. Selain itu pak wali juga meminta agar kita semua menjaga agar korupsi tidak bangkit lagi.

11802785_10153051103771526_5551957318659660778_o

Kemudian ada donasi aplikasi “Soca Bandung” yang dapat digunakan untuk melaporkan hal-hal di kota Bandung dan juga untuk mempromosikan hal-hal yang bagusnya. Presentasi aplikasi ini dilakukan oleh Mico Wendy (Konsep.net). Aplikasi Soca Bandung ini merupakan kontribusi dari Alumni ITB 1974, yang dalam acara ini diwakili oleh pak Cahyana.

11794071_10153051135361526_5889453488947255508_o

Kemudian pada bagian akhir ada presentasi dari Softbank, yang banyak mendanai berbagai start ups. Wakil dari Softbank ini cukup kagum juga dengan banyaknya start ups di Bandung. Nah. Mari kita tunjukkan bahwa Bandung itu keren.

11181833_10153051136411526_8456882668350622511_o(1)

Pokoknya acaranya asyik lah. Sampai ketemu di acara-acara start up Bandung lainnya.

[Detail dari acara ini akan saya update lagi. Ini posting dulu sebelum basi. hi hi hi.]


Bacaan S3 Saya

Barusan beberes ruang kerja. Ada setumpuk makalah (fotocopyan) di atas meja. Makalah-makalah ini membantu saya menyelesaikan studi S3 di Kanada. Ketika pulang, saya bawa. Kalau sekarang lucu sekali mau berat-berat membawa makalah-makalah ini. Ya perlu diingat masa itu internet belum sekencang sekarang. Mau cari ini dan itu masih susah.

Lagi mikir-mikir. Apa saya buang saja ya? Sudah saya lihat-lihat di internet dan ada softcopynya.

  1. John Rusby – Formal Methods and the Ceritification of Critical Systems
  2. Paolo Prinetto and Paolo Camuati (eds.) – Correct Hardware Design Methodologies, North Holland, 1991
  3. Aarti Gupta, Formal Hardware Verification Methods: a Survey, School of Computer Science, Carnegie Mellon University, 1992

Oh ya. Makalah-makalah ini pernah saya gunakan juga mengajar kuliah “Metoda Formal” di ITB. Sayangnya peminatnya makin lama makin sedikit sehingga akhirnya terpaksa ditutup.

Kembali ke pertanyaan saya, buang saja ya? Toh sudah ada versi digitalnya di internet.


Produktif Karena Berisik

Tadinya saya merasa aneh sendiri karena sering membutuhkan noise (berisik) untuk bekerja secara produktif. Ternyata ini tidak aneh! Aneh juga. (Kok jadi mbulet begini.) Ada teorinya kah?

Kemarin saya memasang aplikasi “anoise” di komputer Linux saya. Aplikasi ini menghasilkan ambient noise dengan suara-suara yang berbeda. Standarnya adalah suara berisik dari kedai kopi (coffee shop). Kalau kita pasang, maka kita berasa bekerja di sebuah kedai kopi. Jadi tidak usah beli kopi mahal di kedai kopi yang terkenal itu. Pasang suara ini di kamar saja dan buat kopi sendiri. Berasa di coffee shop yang mahal. Sekarang tidak alasan untuk tidak produktif.

Yang lucunya, ada suara-suara yang memang berisik seperti orang ngebor jalan (atau pakai timbris?), orang membuat bangunan, suara perahu boat, dan seterusnya. Mungkin memang ada orang yang membutuhkan suara bising seperti itu untuk produktif. Siapa tahu?

Di youtube ada banyak lagu instrumental dengan suara air mengalir yang juga menenangkan hati. Silahkan cari dengan kata kunci “relaxing music” atau “relaxing music instrumental“. Kalau yang ini khawatirnya malah kita jadi ngantuk dan tidur melulu. Produktivitas malah hancur. hi hi hi.

Oh ya, ada juga yang streaming suara-suara coffeeshop seperti Coffitivity.

Semuanya ini sebetulnya memiliki nuansa “Barat”. Kalau yang khas Indonesia ada gak ya? Suara kodok ngorek kali ya? Beneran. Adakah ambient noise yang bernuansa Indonesia? Saya cuma menemukan satu dan itupun suara jalanan. Bukan suara hutan, sungai, air mengalir yang menyejukkan. Nah, siapa tahu ini bisa jadi ide start-up Anda.


Pemanfaatan Virtual Reality Dalam Desain Mobil

Melanjutkan cerita tentang perjalanan saya ke tempat desain mobil Ford di Melbourne yang tertinggal, kali ini saya akan menceritakan tentang pemanfaatan virtual reality dalam desain mobil. Sesungguhnya mungkin ini alasan utama mengundang saya ke sana, karena bidang saya yang terkait dengan teknologi informasi.

Setelah melihat SYNC2, kami pindah ke ruangan demo pemanfaatan VR untuk mendesain mobil. Nama labnya adalah Ford’s Immersive Vehichle Environment (FIVE). Di situ seorang desainer (atau juga pembeli mobil) dapat menggunakan sebuah peralatan yang dipasang di kepala – head mounted display, yang dugaan saya adalah produk Occulus Rift. Setelah dipasang, maka dia akan seperti berada di sebuah ruangan dengan sebuah mobil.

Dalam contoh yang kami coba, kami seakan-akan menginspeksi sebuah mobil yang baru didesain. Kami dapat melihat dashboardnya, melihat ke sekeliling, bahkan kami dapat “turun dari mobil” dan menginspeksi bawah mobilnya. Kami juga mencoba membuka kap mesin dan melihat mesin dari mobil tersebut. Desain warna mobil juga dapat diganti. Jadi kita bisa melihat kalau warna mobilnya biru metalik dengan latar belakang sunset cocok tidak. (Lingkungan sekitar juga dapat diubah-ubah; mau perkotaan, pantai, dan seterusnya.) Keren kan. Sebelum mobil betul-betul dibuat, mereka dapat melakukan perubahan terhadap desain sehingga dapat menghemat biaya.

IMGP0148 FiVE 1000

Foto di atas menunjukkan situasi di labnya. Kami dapat melihat apa yang dilihat oleh sang pengguna melalui layar lebar yang terpasang di dinding. (Aris Harvenda sedang mencoba, sementara Indra dari Dapurpacu.com sedang mengamati.)

Dari sisi komputasi, karena semuanya dilakukan secara 3D dan real-time, pasti tinggi sekali. Saya tidak tahu berapa besar kemampuan komputasi yang mereka miliki. Setahu saya, lab ini juga terhubung dengan lab-lab lainnya. Entah apakah CPU dari berbagai mesin di lab lain juga digunakan secara bersama-sama atau mereka hanya menggunakan CPU yang ada di tempat itu saja.

Menggunakan VR itu butuh penyesuaian. Agak bingung awalnya. (Bahkan di video-video yang saya lihat di internet, penggunaan VR itu bisa bikin pusing penggunanya sampai jatuh.) Sayangnya saya hanya sempat mencoba sebentar karena harus bergantian dengan yang lainnya. Cukup puaslah melihat teknologi yang ada di Ford ini.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.626 pengikut lainnya