Tag

,

Baru saja saya selesai menonton acara TV, “The Secret Millionaire.” Acara ini berisi tentang seorang yang kaya raya, jutawan (dalam poundsterling karena acaranya di Inggris), yang tinggal beberapa hari di sebuah tempat dan mencari siapa / organisasi apa yang dapat dia bantu. Pada akhir kunjungannya dia akan memberikan uang kepada pihak yang dibantu ini. Selama berinteraksi dia berpura-pura membuat dokumenter sebagai orang yang mencari kerja.

Acara ini banyak membuka mata saya. Sebagai contoh, saya jadi lebih tahu bahwa di Inggris banyak orang yang hidupnya susah. Sama susahnya dengan kita-kita yang tinggal di Indonesia. Ternyata di bagian manapun di dunia ini tetap saja banyak orang yang hidupnya susah. Namun yang menarik adalah selalu ada orang yang mencoba meringankan penderitaan orang lain. Yang lebih menariknya, orang-orang yang membantu ini juga bukanlah orang kaya tetapi orang yang hidupnya juga susah. Mereka hanya sedikit lebih baik dari yang dibantu, tetapi tetap orang yang susah. Mungkin karena rasa kesetiakawanan? Atau rasa pernah melalui kesusahan yang dialami?

Untuk membantu orang lain, kita tidak harus kaya dahulu atau mapan dahulu. Kita selalu dapat membantu orang lain dengan berbagai cara. Tentu saja cara yang kita lakukan tidak merisikokan kehidupan kita juga. Selalu ada cara. Paling sedikit adalah atensi. (Mungkin yang paling sedikit lagi adalah dengan berdoa.) Kita selalu mencari-cari alasan untuk menunda membantu orang lain. Shame on us.

Poin yang selalu saya dapatkan adalah bahwa kita harus dapat bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baiknya orang adalah orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain.