Adab-beradab

Adab (Arabic: أدب‎) in the context of behavior, refers to prescribed Islamic etiquette: “refinement, good manners, morals, decorum, decency, humaneness”.

Apa itu adab? Kutipan di atas merupakan definisi yang dapat kita baca dari Wikipedia. Singkatnya adalah keluakuan baik.

Sayang sekali adab ini kok terlihat menurun ya? Banyak yang dapat dikatakan tidak beradab. Mungkin karena tidak pernah diajarkan dan diharapkan orang dapat beradab dengan sendirinya? Nampaknya ini tidak terjadi. Apa perlu diajarkan kembali di sekolahan? Mungkin, tetapi dengan sudah terlalu banyaknya yang harus dipelajari di sekolahan maka pelajaran adab ini sebaiknya dilakukan oleh keluarga dan masyarakat.

Ambil contoh. Semisal kita benar dalam satu hal, maka akan “kurang beradab” kalau kita memamerkan kebenaran kita itu di depan muka orang yang salah. “Saya benar kan? Kamu salah! Weee” (sambil menjulurkan lidah). Yang seperti ini menurut saya tidak beradab.

Saya sering melihat orang tua yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, tetapi menurut saya mereka lebih berpendidikan (educated) daripada mereka yang sekolahan. Banyak yang punya gelar tapi tidak berpendidikan (uneducated). Nampaknya definisi berpendidikan juga harus kita lihat ulang. Bukan dari gelar, tetapi dari tingkah lakunya.

Setuju?

Iklan

Kapan Startup Gagal

Dalam sebuah talk show, ada pertanyaan dari pendengar. Inti dari pertanyaan tersebut adalah ini:

Kapan sebuah startup bisa dikatakan gagal?

Ini pertanyaan yang tidak mudah jawabannya. (Memangnya ada pertanyaan tentang statup yang mudah dijawab?)

Pertama, memang salah satu ciri dari entrepreneur yang membuat atau menjalankan startup adalah keras kepala. Tetap menjalankan startupnya itu meskipun banyak orang lain yang menyatakan tidak. Bahkan sudah tidak punya apa-apa pun masih tetap nekat. Ada semacam kegilaan dalam hal kenekatannya. Jadi kapan dia harus berhenti?

Tidak ada jawaban pamungkas yang cocok untuk setiap orang, tetapi saya coba berikan beberapa  kondisi yang membuat saya berhenti menjalankan usaha tersebut. Usaha dinyatakan gagal.

  1. Sudah bosan. Ketika semua pendiri (founder) sudah bosan menjalankan startup itu, maka itu adalah saatnya untuk berhenti. Ada juga ya yang bosan? Ada. Bayangkan semuanya sudah tidak tertarik lagi. Untuk apa diteruskan? Berhenti. Dinyatakan gagal saja.
  2. Ketika sumberdaya (uang, orang, dan seterusnya) sudah habis. Ludes. Lah mau diteruskan bagaimana lagi? Hutang? Tidak. Saya termasuk jenis entrepreneur yang tidak suka berhutang. Segala hal yang saya mulai adalah hasil kerjasama. Sama-sama sukses atau sama-sama menderita. Jadi ketika sudah tidak ada apa-apa lagi, ya terpaksa berhenti. Mungkin suatu saat diteruskan lagi ketika sumber daya sudah tersedia lagi. Untuk sementara ini, gagal.
  3. Ketika sesama pendiri berkelahi. Iya. Ada kejadian seperti ini. Saya mengalami. Dugaan saya, banyak juga yang mengalami kasus seperti ini. Ketika pendiri sudah saling berkelahi atau saling tidak bicara satu sama lainnya, maka itu adalah saatnya untuk berhenti. Gagal.

Itu adalah kondisi-kondisi yang dapat dikatakan startup kita gagal. Mungkin ada kondisi-kondisi lainnya, tetapi itu adalah kondisi yang saya alami.

Oh ya, gagal bukan berarti harus berhenti. Kata orang, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Nah. Jadi gagal bukan hal yang memalukan. Kalau jahat, curang, licik, menipu, tidak punya integritas, dan sejenisnya adalah hal yang memalukan. Mari semangat mengembangkan startup kita.

Kopi (Lagi)

Kalau dibilang saya adalah penggemar kopi, maka itu adalah sebuah understatement. hi hi hi. Saya gila kopi. Nah itu mungkin yang benar. Sudah senang kopi dan kebetulan banyak yang memberitahu kopi-kopi yang enak. Jadi kopi yang saya coba macam-macam. Kebetulan lagi, Bandung ini surganya kopi. Mau kopi apa saja, ada. Alhamdulillah.

Katanya “no picture = hoax“. Maka berikut ini saya tampilkan beberapa foto kopi yang saya cicipi. Yang terakhir-terakhir saja ya. Soalnya kalau saya tampilkan semua, bakalan puluhan foto.

DSC_3736_0001 DSC_3734 kpi_0001

DSC_3398 kopi_0001 DSC_3389_0001

Dan masih banyak lainnya. Percayalah, banyaaakkk. Itu adalah kopi-kopi yang terbaru saja.

Minggu lalu ada acara “Ngopi Saraosnya” di Gedung Sate, Bandung. Ada lebih dari 70 tempat kopi di sana. Semuanya adalah kopi yang berasal dari daerah Jawa Barat. Saya datang dan kalap belanja. Foto di bawah ini adalah hasil belanja di sana.

DSC_3728 kopi_0001

Pas di sana juga saya lihat penyeduhan kopi. Ini saya ambil videonya. Ini dari stand kopi WHD. Tadinya saya kira apa itu singkatan WHD. Ternyata itu dari nama pemiliknya, pak WaHiD. Ya ampun. Ha ha ha. Dalam video ini dapat dilihat kawannya pak Wahid sedang membuatkan kopi. Kemudian kopi ini juga “dikocok” dengan  bongkahan es. Hasilnya kopi dingin yang luar biasa enaknya. Apa lagi itu pas siang hari.

Saya termasuk yang tidak pandai membuat kopi. Hanya bisa minum kopinya saja. Penikmat kopi tulen. Bukan pembuat. ha ha ha.

Selamat menikmati kopi.

Manggung Lagi

Hari Sabtu kemarin (13 Oktober 2018), kami – Insan Music – manggung lagi. Kali ini kami ikut meramaikan acara ITB Ultra Run 170k, yaitu acara lari dari Jakarta ke Bandung (170 Km). Betulan ini lari dari Jakarta ke Bandung. Hanya saja memang ada yang dibagi menjadi beberapa orang, 16 orang dalam satu tim.

Acara musiknya sendiri diadakan di Lapangan Basket kampus Ganesha. Kami kebagian main Sabtu sore pukul 17-an.

DSC_3723 insan music project_0001
Insan Music Project (kiri ke kanan: bass, drums, vokal, vokal+gitar, lead gitar, synthesizer)

Personel kami kali ini adalah Aiep (bass), Reza (drums), Dita (vokal), saya (vokal + gitar), Luqman (lead gitar), dan Fae (synthesizers). Kami membawakan musik genre alternative rock. Lagu pembuka kami adalah “Higher” dari band Creed. Setelah itu dilanjutkan dengan lagu-lagu lain dengan total lima lagu.

DSC_3539 insan music project_0001

Manggung kali ini cukup sukses dan menyenangkan. Sound systemnya juga bagus sehingga mainnya enak. Semoga kami bisa manggung lagi dengan sound system yang bagus lagi. Jreng!

update: ini video teaser habis latihan untuk acara ini.

Mengajarkan Cyber Security

Minggu lalu saya diminta untuk memberikan presentasi tentang cyber crime (yang akhirnya saya buat lebih umum menjadi cyber security) kepada siswa SMP, SMA, guru-guru dan orang tua di Al Izhar Jakarta. Baiklah. Ini merupakan tantangan tersendiri karena biasanya pendengar presentasi saya adalah mahasiswa.

Beberapa hal utama yang saya sampaikan adalah tentang privasi dan hoax. Bagaimana kita harus menjaga privasi kita dan berbagai kemungkinan serangan terhadap pencurian data pribadi kita. Sementara tentang hoax adalah kita harus MAU mencari informasi dan banyak membaca. (Kata MAU memang sengaja saya tebalkan karena masalahnya bukan bisa atau tidak bisa melainkan mau atau tidak mau.)

Secara umum acaranya berjalan lancar. Sayangnya saya tidak banyak mengambil foto. Maklum, susah kan menjadi pembicara dan mengambil foto.

IMG_20180928_094643 kids
kids are always kids

Foto di atas adalah foto siswa SMP. Bagaimana kalau guru-gurunya berfoto? Sama saja. ha ha ha.

guru-al-izhar_0001

Semoga apa yang saya presentasikan dapat bermanfaat bagi semuanya.

Numerologi 4.0

Kalau kita perhatikan, saat ini ada banyak penggunakan istilah “4.0”. Dimulai dari “industry 4.0” kemudian melebar kemana-mana. Ada edukasi 4.0, pemerintahan 4.0, dan seterusnya. Pokoknya pakai “4.0” deh. Yang menjadi pertanyaan saya, mengapa angka “4.0” ini menjadi populer ya?

Di dalam tradisi China, angka 4 ini dianggap tidak bagus (tidak menguntungkan) karena sama dengan kata kematian (death). Biasanya angka 4 ini diloncati. Lihat saja bagaimana gedung-gedung – terutama hotel – yang tidak memiliki angka 4. Biasanya dari 1, 2, 3, terus 5, dan seterusnya.

Mungkin perlu kita langsung loncat ke “industry 5.0” saja agar menguntungkan?

Masalah Saya Adalah Kebanyakan Ide

Judulnya sengaja dibuat seperti itu. Ha ha ha. Iya, masalah saya adalah kebanyakan ide dan terbatasnya waktu. Akibatnya kebanyakan ide itu tidak dapat direalisasikan sekarang. Saat ini di kepala saya ada banyak ide dan bertambah terus. Pusing jadinya.

Sementara itu kebanyakan orang kelihatannya adalah tidak punya ide tapi punya banyak waktu. Hasilnya adalah banyak orang yang bengong, duduk tidak tahu mau mengerjakan apa. Kalau disuruh baru dia mulai bekerja. Setelah selesai yang ditugaskan, kembali dia duduk termenung. Pokoknya tidak proaktif, lah.

Ide mau nulis tentang ini saja sudah nyangkut di kepala sejak lama, tetapi masalahnya adalah belum sempat menuliskannya saja. Pas mau dituliskan, banyak detail yang sudah lupa lagi. Sementara itu sudah ada ide tulisan baru lagi.

Hayaaahhh…