Kuliah Luring (Offline) Lagi

Kemarin pertama kalinya saya melakukan perkuliahan secara luring (offline) lagi. Ini kuliah di MBA, SBM (Sekolah Bisnis dan Management), ITB dengan peserta 10 orang saja. Jadi hanya 10 orang dari seluruh kelas yang boleh hadir secara fisik. Sementara itu yang lainnya masih daring (online). Kelas dilakukan di tempat perkuliahan di gedung MBA ITB jalan Gelap Nyawang.

Sayang sekali saya lupa menampilkan setup kelas yang menurut saya keren banget karena ini gabungan antara online dan offline. Di kelas ada kamera dan internet – yang terhubung dengan Zoom. Di akhir kelas kami baru ingat untuk foto, maka ini adalah foto kami setelah kelas usai,

NVM CC63 – MBA ITB

Mahasiswa senang sekali bisa melakukan perkuliahan secara fisik setelah 2 tahun tidak ketemu. Bahkan ini lebih penting lagi karena mereka hanya kuliah 2 tahun. Jadi ini nyaris mereka tidak pernah ke kampus selama mengambil MBA. ha ha ha. Alhamdulillah mereka bisa merasakan kuliah fisik di kelas yang asyik.

Minggu depan akan dilakukan kelas luring lagi dengan 10 orang yang berbeda(?). Sebetulnya kelas dapat menampung 15 orang – dengan konfigurasi kursi yang berjauhan. Mari kita lihat minggu depan.

Ruang Kelas MBA, SBM, ITB – untuk mengajar hybrid (offline dan online)

Indonesia Darurat Humor

Baru-baru ini saya membaca “diskusi” (kalau bisa dibilang diskusi karena isinya hanya komentar-komentar baik yang pro dan kontra) di media sosial soal iklan dari Gosend. Gambar (foto) dari iklan Gosend ada di bawah ini.

Kemudian banyak orang yang marah-marah karena katanya ini merupakan penghinaan untuk harian KOMPAS. Komentar pro dan kontra pun bermunculan. Bagaimana pendapat Anda?

Kalau menurut saya – memangnya ada yang menanyakan opini saya? – parodi seperti di atas masih normal. Cukup lucu dan tidak menjelek-jelekkan harian Kompas. Bahkan kalau dibuat seperti ini artinya orang masih menganggap Kompas sebagai sebuah acuan. Masih relevan. Masih dominan. Kalau tidak, mungkin malah harian lain yang diambil. Artinya Kompas masih positif.

Kenapa sih kita ini sedikit-sedikit marah? Nampaknya “Indonesia Darurat Humor” itu memang benar adanya. Padahal dari dahulu orang Indonesia itu dikenal suka tertawa. Makanya model Cak Lontong itu kita sukai karena dia membuat kita tertawa. Membuat kita bahagia dan menjadi lebih sehat. Katanya tertawa itu bisa membuat kita sehat. Katanya lho. Jadi jangan sedikit-sedikit marah. Malah bikin kita sakit. Jangan buat kita menjadi kering humor.

Saya jadi ingat topik bahasan dari pelawak Amerika yang sedang tenar, Dave Chappelle. (Kebetulan saya juga penggemarnya.) Dia mengatakan bahwa semakin susah bagi pelawak untuk membuat lawakan. Sedikit-sedikit ada yang tersinggung. Padahal maksudnya melawak itu bukan mengejek tetapi mengajak orang untuk melihat dari sudat pandang yang lain. Isyu yang diangkat oleh Chappelle adalah masalah transgender (atau LGBT secara umum). Kenapa dia tidak boleh melawak soal itu? Kenapa orang jadi marah-marah. Sementara melawak soal kulit hitam tidak ada yang marah-marah. Padahal penjajahan yang dilakukan terhadap orang berkulihat hitam itu masih nyata. Nah.

Bagaimana komentar Anda?

Masih ngeblog …

Tadi pagi di halaman Facebook menemukan foto di bawah ini. Ini foto dari 10 tahun yang lalu. Pada masa itu masih banyak orang yang ngeblog. Kalau sekarang nampaknya sudah banyak yang berhenti ngeblog. Ha ha ha. Tidak terlalu menarik lagi. Banyak orang yang banting setir ke YouTube atau malah tidak melakukan apa-apa.

Saya masih ngeblog karena ini merupakan tantangan bagi diri saya sendiri. Meskipun sekarang saya lebih banyak membuat konten di YouTube (seperti sudah saya ceritakan di postingan lainnya), tetapi saya masih suka menulis atau corat-coret. Ternyata ngeblog sekarang itu lebih membutuhkan waktu – time consuming – dibandingkan ngevlog.

Judul dari tulisan di koran ini nampaknya juga sudah tidak relevan ya. Sekarang blog kurang berpengaruh. Atau malahan, tidak ada pengaruhnya. Ha ha ha. Namun bagi saya ini tidak penting karena saya ngeblog bukan untuk mencari pengaruh.

Tetap semangat!

Raja Dunia Siber

Akulah Raja … Dunia Siber
Raja dari dunia yang kucipta sendiri
Lengkap dengan istana dan mahkota

Kau adalah Ratu … Dunia Siber
Ratu dari dunia yang kau cipta sendiri
Lengkap dengan kebohongan yang kau cipta

Akulah Raja …
Kau adalah Ratu …
Dunia Siber
Kita penguasa dunia kita, sendiri-sendiri

Akulah Raja … Dunia Siber
Raja kebenaran dari semua pembenaran
Semua harus setuju dengan aku

Akulah raja yang paling tampan … (di dunia siber)
Kaulah ratu yang paling cantik … (di dunia siber)
Akulah raja yang paling kaya … (di dunia siber)
Kaulah ratu yang paling gaya … (di dunia siber)


Kita yang terbaik … di dunia siber

Perangkat Yang Terlalu Cerdas

Barusan menemukan gambar ini di internet. Bagi saya ini bukan sesuatu yang baru karena saya sudah cerita seperti ini dari dahulu, tetapi konteksnya Indonesia dan lebih beneran. Bukan isapan jempol

Kalau di Indonesia, kulkas (lemari es) bisa pesan apa saja. Misal susu habis, telur habis, maka dia langsung bisa pesan ke toko dan minta diantar via go-jek. Kulkas punya nomor handphone sendiri dan punya saldo go-pay sendiri. he he he. Ini bukan sesuatu yang terlalu sulit atau masa depan. Ini dapat dilakukan sekarang juga. Tinggal ada yang mau mengerjakannya saja.

Facebook, Instagram, WhatsApp Down

Kemarin ternyata Facebook dan perusahaan atau layanan lain yang juga menggunakan infrastruktur Facebook – seperti Instagram dan Whatsapp – down. Apa ceritanya? Berikut ini saya kumpulkan dahulu link-link terkait. Nanti saya akan tuliskan bahasannya – penjelasan saya – setelah saya membaca dan mencerna hal itu.

Ah, ternyata singkatnya begini. Server DNS (Domain Name System) dari Facebook.com menghilang sehingga ketika orang mencoba mengakses facebook, komputer / handphone tidak tahu harus mengakses ke nomor IP berapa. Ternyata menghilangnya DNS ini terjadi karena network Facebook, ASN-nya, dihapus. Ada traffic BGP yang menghapuskan (withdraw) routing ke network-nya Facebook sehingga akses ke DNS-nya ikut menghilang. Intinya itu. Penjelasan lebih lengkapnya dapat dilihat dari video yang saya buatkan di link (di bawah).

Link terkait:

Perbaharui Materi Kuliah?

Jawaban singkatnya adalah, maaf tidak sempat. Ha ha ha. Langsung to the point.

Baru saja saya selesai memberikan kuliah. Di beberapa slide – mungkin lebih tepatnya hampir di semua slide – ada perbaikan atau pembaharuan (update) yang harus saya lakukan. Karena kelas sedang berlangsung, maka saya catat itu di kertas. Kadang juga perbaikan saya catat di kepala saja. Diingat-ingat. Setelah selesai kuliah harusnya itu langsung diperbaiki, tetapi seringkali ada kesibukan lain yang harus dilakukan sehingga akhirnya perbaikan tidak terjadi juga. Hadoh.

Sekarang saya mencoba cara yang berbeda. Ketika ada yang harus diperbaiki, maka di kelas pun saya langsung update slide tersebut. Sambil berhenti sejenak, saya langsung perbaiki slidenya. Ternyata ini tidak terlalu mengganggu flow dari kelas. Hanya saja pebaikan yang dapat dilakukan adalah perbaikan yang sifatnya minor. Kalau perbaikannya cukup besar, misalnya mengubah diagram atau menambahkan diagram baru, ini belum saya coba. Rasanya ini akan membuat flow dari kelas terganggu. Jadi untuk yang ini masih belum dapat saya lakukan.

Jadi, jangan marah-marah dulu ke dosen yang materi kuliahnya itu-itu saja. Mungkin dia mengalami masalah yang sama dengan saya, tidak ada kesempatan untuk memperbaharui.

Lebih Banyak Buat Vlog

Akhir-akhir ini saya lebih banyak membuat vlog – video yang saya unggah ke YouTube – dibandingkan dengan membuat blog. Kenapa? Karena saya sudah menemukan workflow yang pas untuk saya.

Cara saya membuat vlog adalah dengan menggunakan aplikasi OBS (gratisan) di komputer untuk merekam videonya. Kamera yang saya gunakan juga hanya webcam, yang kualitasnya bagus (Logitech 925e). Setelah direkam, langsung saya unggah ke YouTube channel saya tanpa editing. Jadi prosesnya cepat sekali. Rekam antara 10 menit sampai dengan 15 menit, terus langsung unggah. Selesai.

Dahulu saya memiliki workflow yang lebih ribet. Awalnya saya menggunakan kamera DSLR yang harus difokuskan ke saya. Ini saya minta bantuan anak saya. Kalau anak saya lagi sibuk, saya menunggu dulu. Hasil video dari kamera DSLR tentu saja jauh lebih bagus dari hasil webcam, tetapi ternyata orang tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Mungkin karena konten saya lebih banyak ceritanya daripada melihat video saya. Suara saya rekam dengan menggunakan handphone. Keduanya – video dari DSLR dan audio dari handphone – harus saya gabungkan dengan menggunakan aplikasi Shotcut (gratisan juga dan tersedia di berbagai sistem operasi). Setelah itu saya render (membutuhkan waktu 30 menitan) dan hasilnya barus bisa diunggah ke YouTube. Dengan kata lain, prosesnya membutuhkan setidaknya waktu 1 jam sampai 2 jam. Lama. Ribet. Hasil tentu saja lebih bagus, tetapi lama. Ternyata waktu yang menentukan juga.

Menulis – ngeblog – ini juga bukan sebuah hal yang mudah. Untuk menulis hambatannya adalah dalam mengetikkan apa yang ada di kepala saya. Bottleneck di situ. Untuk membuat tulisan ini saja dibutuhkan setidaknya waktu 20 menit. Ini tulisan yang “nggak pakai mikir”. Kalau tulisan yang lebih berat dan membutuhkan link ke sana ke sini pasti membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Akibatnya waktu dan energi yang dikeluarkan mendekati membuat video dengan DSLR itu.

Kalau diurutkan waktu yang dibutuhkan untuk membuat konten ini dari yang paling cepat ke paling lama adalah; (1) video pakai OBS+webcam, (2) ngeblog, dan (3) video pakai DSLR.

Kalau diurutkan kualitas konten – menurut saya tentunya – maka urutannya terbalik dari yang di atas. Ternyata konten yang bagus masih repot membuatnya. Memang konsekuensinya demikian.

Jangan khawatir, saya akan tetap ngeblog. Hanya saja mungkin frekuensinya agak lebih rendah. Kecuali saya membuat tantangan kepada diri sendiri untuk membuat blog tiap hari. Jadi ada waktu 30 menit untuk menulis setiap hari. Hmmm… punyakah saya waktu seperti itu? Nah, itu pertanyaannya.

Donasi Kopi (part 5): Distribusi di Jogja bersama PT MAK

Berikut ini adalah video dokumentasi distribusi Donasi Kopi dengan bantuan donatur PT MAK (Sleman, Jogja). Informasi mengenai PT MAK dapat diperoleh dari web sitenya: https://www.mak-techno.com/id/

Video dokumentasi distribusinya berikut ini.

Terima kasih PT MAK. Semoga donasi kopi ini dapat diterima dengan baik oleh para Nakes. Semoga kita selalu diberi kesehatan. Bagi yang ingin berkontribusi, ditunggu.

Tantangan Diri: Ngevlog setiap hari selama 1 bulan

Seperti biasa, saya menantang! Yang ditantang ya diri sini. Ini adalah ciri seorang pemberani. Ha ha ha. Mungkin ini hanya mencari pembenaran, tetapi sesungguhnya ini adalah sesuatu yang berat. Sebelum menantang orang lain, tantanglah diri sendiri.

Kali ini saya menantang diri untuk membuat video YouTube (nge-vlog) setiap hari berturut-turut selama satu bulan. Nah. Sanggupkah?

Ada banyak masalah terkait dengan hal tersebut. Pertama, orang mempermasalahkan soal topik. Saya tidak. Kalau kita bicara 30 hari, maka harus memiliki setidaknya 30 topik. Ini bukan masalah bagi saya karena saya punya aplikasi – buatan sendiri tentunya – yang mengeluarkan (generate) topik baru setiap dijalankan. Nah. Bahkan setiap hari saya punya ide topik yang perlu dibahas. Jadi, ini bukan masalah.

Kedua adalah soal waktu. Ada banyak alasan orang untuk tidak menulis (ngeblog) atau membuat video (nge-vlog) dan “tidak ada waktu” adalah alasan yang cukup tinggi juga di urutannya. Memang membuat tulisan atau video yang bagus membutuhkan waktu. Nah, bagaimana kalau membuat tulisan / video yang tidak terlalu bagus saja? Kalau alasannya adalah karena kualitas, maka mari kita buat fokusnya ke kuantitas dulu. Kualitas kita tempatkan di urutan ke 17. Masih mau cari alasan lain?

Kembali ke tantangan saya tersebut – ngevlog selama sebulan – menurut saya, saya berhasil. Hanya ada 1 kali bolong yaitu kemarin. Ada alasannya tetapi itu sudah saya bahasa di vlog saya. Tuh kan, kegagalan saja bisa menjadi topik bahasan.

Tantangan berikutnya apa? Saya mau perpanjang tantangan ini. Meneruskan menjadi 2 bulan. Ha ha ha. Tadinya mau menantang diri untuk menjadikannya 1 tahun, tetapi itu merupakan tantangan yang terlalu berat. Naik jadi 2 bulan saja sudah seperti naik tangga. Steep. Bukan landai. Mari kita coba.

Semangat!

Donasi Kopi (part 3)

Berikut ini ada beberapa dokumentasi tentang pengirimkan kopi siap saji yang merupakan bagian dari inisiatif “Donasi Kopi Untuk Nakes” yang kami jalankan. Sebetulnya masih ada banyak foto-foto yang lain, tetapi ini semoga menjadi bagian dokumentasi singkat untuk menunjukkan apresiasi kami kepada para Nakes.

Donasi Kopi ke UPT. Puskesmas Puter
Kardus Donasi Kopi yang dikirimkan ke Sleman, Jogjakarta (PT MAK)

Terima kasih untuk partisipasi semuanya. Bagi rekan-rekan yang ingin ikut berpartisipasi, baik dalam menyumbang dana yang akan dijadikan kopi ataupun memberikan saran tempat untuk pengiriman kopi tersebut, silahkan lihat postingan saya sebelumnya di sini:

Harga Sebuah Komitmen

Jika Anda memiliki sebuah komitmen, katakanlah sebuah pekerjaan atau tanggungjawab, seberapa besarkan Anda menghargai itu? Seringkali memang uang menjadi sebuah tolok ukur sebuah tanggung jawab. Maka ada lawakan yang mengatakan “wani piro” (berani berapa).

Baru-baru ini, misalnya, saya diminta untuk menjadi seorang moderator (atau menjadi nara sumber) pada sebuah acara. Dijanjikan honor sekian juta (x juta atau kadang xy juta). Masalah saya adalah waktu yang diminta bersamaan dengan komitmen saya mengajar atau memberikan mentoring / bimbingan. Yang paling sering saya lakukan adalah menolak dengan sopan. Mohon maaf, saya sudah ada jadwal (mengajar, acara lain, atau apa lagi). Pernah juga kejadian saya tidak dapat mengajar karena komitmen untuk mengisi acara itu hadir sebelum jadwal mengajar ada. Jadi ya siapa duluan dia yang dapat.

Mungkin mahasiwa saya tidak dapat mengapresiasi bahwa untuk memberikan bimbingan atau mentoring kepada mereka sesungguhnya saya menolak kerjaan (singkat) sekian juta rupiah. Ha ha ha. Sampai sekarang pun mereka tidak akan tahu, kecuali kalau ada yang membaca ini. Blog ini sudah tidak terlalu populer sehingga saya yakin tidak ada yang baca. Ini hanya sekedar catatan di belakang layar.

Nah, kembali kepada pertanyaan awal, “berapa harga komitmen Anda”?

Donasi Kopi (part 2)

Seperti sudah dituliskan pada tulisan “Donasi Kopi”, sekarang mari kita dokumentasi perkembangannya. Kopi sudah diproduksi dan sekarang sudah didistribusikan. Berikut ini adalah dokumentasi cepat (sneak preview) dari distribusi kopi-kopi tersebut. Dokumentasi yang lebih baik (proper) sedang kami siapkan.

Kopi sudah diterima di RS Al Ihsan. Ini foto penyerahan secara simbolis. (Harus dituliskan siapa-siapa yang ada di foto ini. next update.)

Foto penerimaan box kopi dari Donasi Kopi secara simbolis.

Nakes di RS Mery sedang bersiap-siap menikmati kopi dari Kopi Donasi.

Melihat foto-foto di atas (dan masih banyak lagi foto yang kami terima – akan kami buatkan dokumentasi yang lebih proper), kami merasa bahagia dapat memberikan apresiasi kepada para nakes. Ini membuat kami dan para donatur ikut senang. Semoga usaha rekan-rekan sekalian mendapat gajaran yang jauh lebih baik. Semoga para nakes dilindungi kesehatannya.

Penerima Donasi Kopi yang sudah menerima adalah:

  • RS Al Ihsan
  • RS Mery Cileungsi

Secara khusus, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Protelindo sebagai salah satu donatur. Selain itu ada banyak donatur lainnya (yang tidak saya sebutkan karena saya belum meminta ijin dan ada banyak yang tidak mau disebutkan).

Bagi yang ingin ikut memberikan donasi dan juga memberikan informasi kemana sebaiknya Donasi Kopi diberikan, silahkan kontak saya melalui jalur pribadi. Berikut ini saya sampaikan juga posternya, agar tidak lupa. Jika Anda melakukan transfer, mohon konfirmasi kepada saya melalui jalur email ya.

Menjadi Matahari

Hanya memberi
Meski hanya sendiri

Tak boleh menaruh harapan
Agar orang paham akan

Karena tak semua orang mampu
Karena tak semua orang mau
Menjadi Matahari

Ketika hari gelap
Dan semua terlelap

Tak boleh berhenti
Meski sejenak

Karena engkau
Tetap harus
Menjadi Matahari

Suatu saat nanti
Ketika Yang Kuasa
Meminta kau untuk berhenti
Menjadi Matahari