Mengagumkan

Baru saja saya perhatikan tulisan di blog ini, ternyata ada tulisan seperti ini. Mengagumkan. ha ha ha.

Pinter ini orang yang buat tulisannya (atau yang menerjemahkannya). Jadi kalian pembaca blog ini adalah orang-orang yang mengagumkan. Keren! Bagaimana tidak, ketika orang lain tidak suka membaca dengan seksama, Anda masih menyukai membaca. Keren!

Terima kasih orang-orang keren.

Membaca

Dahulu salah satu pekerjaan yang kami lakukan adalah membantu perusahaan dalam melakukan rekrutmen pegawai baru. Membaca biografi calon pekerja kadang lucu juga. Salah satu kolom yang biasanya ditanyakan adalah hobi. Banyak orang yang menuliskan “membaca” menjadi salah satu hobi-nya. Benarkan mereka menyukai membaca?

Dalam bayangan saya, kalau yang namanya “membaca” itu adalah membaca buku. Bahkan buku yang dibacanyapun adalah buku-buku yang “berat” atau bermutu. Eh, ternyata sebagian besar kenyataannya berbeda dengan yang saya bayangkan. Apa lagi kalau yang bersangkutan merasa telah keren karena membaca buku tertentu, semakin menyakitkan faktanya. Ketika saya ajak diskusi tentang isi dari buku tersebut, gelagepan. Apalagi kalau saya tanya apakah buku yang dibacanya itu merupakan buku terjemahan atau buku aslinya (yang biasanya dalam bahasa Inggris), maka mereka tambah gelagepan.

Baiklah. Saya harus menerima bahwa membaca itu bukan kultur bangsa Indonesia. Terimalah itu. Seingat saya, saya pernah buat video (di YouTube channel saya) yang mengatakan lebih baik kita buat video saja. Soalnya budaya kita adalah budaya menonton. Ha ha ha. Buktikan bahwa saya salah.

Jadi, tidak usahlah gagah-gagahan menunjukkan bahwa Anda senang membaca seperti yang saya lakukan dalam tulisan ini. Hi hi hi.

Saya yakin tulisan ini jarang ada yang membaca! Tapi kalau yang ini karena memang tulisannya tidak terlalu menarik untuk dibaca. Lain masalah.

Karakter Busuk

Ada orang yang memang karakternya busuk. Bagaimana menyikapi hal ini? Bagi saya, umumnya saya hindari orang yang seperti ini. Mereka ini toxic. Khawatirnya mereka juga bisa membuat kita jadi busuk juga. Hindari. Aman.

Bagaimana jika orang lain tidak tahu bahwa mereka itu busuk? Ya biarkan saja. Soalnya tidak mungkin juga kita menjelek-jelekkan mereka. Kita jadi busuk seperti mereka juga.

Tapi kalau tidak kita beritahu, nanti orang-orang yang lugu dan tidak tahu mereka bisa jadi busuk juga. Benar juga ya? Dilema.

Marathon Pertama Saya

Sebetulnya sudah lama saya ingin mengikuti marathon, tetapi belum kejadian. Beberapa kali mau ikutan tetapi pas waktunya bentrok dengan acara saya lainnya. Kawan-kawan dan saudara-saudara saya banyak yang sudah mengikuti marathon. Mungkin ini juga menjadi semacam trend di lingkungan saya.

Mengapa saya berani mau ikutan marathon? Setidaknya yang 5k dulu lah. Alasannya adalah setiap minggu saya futsal 2 atau 3 kali. Setiap futsal saya menempuh antara 5 Km sampai dengan 8 Km. Itu kata Mi-band yang saya gunakan untuk melakukan tracking pergerakan saya. Jadi kalau “hanya” 5 Km, semestinya sangguplah. Meskipun ada bedanya. Kalau futsal, saya tidak dituntut untuk menyelesaikan jarak tersebut dalam satu satuan waktu tertentu. Jadi tadi 8 Km itu bisa terjadi dalam kurun waktu 2 jam. Kalau marathon, waktu sangat penting.

Saya sudah siap lah untuk marathon. Bahkan sudah sempat membeli sepatu untuk lari, meskipun tidak spesifik untuk marathon. Sepatu ini tadinya memang saya rencanakan untuk marthon. Tinggal menunggu waktunya. Jreng!

Dua minggu lalu saya ditawari untuk untuk ikutan virtual marathon. Virtual marathon ini karena sekarang masih masa pandemi COVID-19 sehingga acara rame-rame dihindari. Maka marathon-nya dilakukan sendiri-sendiri. Langsung saya oke-kan sambil bingung bagaimana caranya. Intinya saya diminta untuk melakukan lari marathon sendiri dan datanya nanti dikirimkan ke panitia. Sambil bingung, saya pasang aplikasi Strava.

Hari Jum’at kemarin, saya memutuskan untuk lari marathon setelah mencari tempat (lapangan) yang memungkinan. Sekarang sebagian besar lapangan ditutup. Setelah bertanya ke sana sini, saya putuskan untuk lari di Kiara Park.

Hari H-nya saya lari. Tempatnya lumayan sepi sehingga nyaman untuk berlari. Sambil berlari, kadang-kadang saya cek sudah berapa putaran saya berlari. Sudahkah 5 Km? Oh masih belum. Lari lagi. Terus sampai angka 5 muncul di handphone saya. Setelah selesai, saya berhenti dan melihat hasilnya. Barulah saya sadar bahwa konfigurasi Strava saya masih belum menggunakan “metric”. Jadi yang tertera itu bukan 5 Km, tetapi 5 mil (miles)! Hayah … Ternyata saya lari lebih dari 8 Km. Pantesan terasa capek banget. Ha ha ha.

Setelah itu tinggal memasukkan hasilnya ke situs web panitia. Bingungnya, data saya adalah data 8 Km bukan 5 Km. Jadi saya hitung perkiraan. Rata-rata larinya saya adalah 8 Km/jam. Saya larinya 1 jam. Jadi hitung demi hitung, untuk 5 Km saya lari 40 menit. Itu hasil perhitungan. Akhirnya saya masukkan data itu saja.

[Ini adalah foto Strava saya yang sudah terkonversi ke Km. ha ha ha.]

Demikianlah pengalaman marathon pertama saya.

Mahasiswa Terlalu Sibuk

Jika diperhatikan dengan lebih seksama, nampaknya mahasiswa sekarang terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk melakukan eksplorasi hal-hal lain di luar perkuliahan. Semoga kesibukannya ini terkait dengan perkuliahan. Biarpun dengan perkuliahan, menurut saya seharusnya mahasiswa menyempatkan diri untuk melakukan eksperimen-eksperimen yang mungkin dianggap kurang penting dibandingkan tugas kuliah. Masalahnya, kapan lagi mau coba-coba ini dan itu? Kalau sudah lulus? Bwahahaha. Kalau sudah lulus, tuntutannya adalah sudah pernah mencoba macam-macam.

Apakah kesibukan mahasiswa jaman sekarang lebih dari kesibukan dari mahasiswa jaman dahulu? Kok saya ragu. Semestinya sama saja. Jaman dahulu mahasiswa juga sibuk (dengan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen-dosennya). Mana jaman dahulu dosen-dosennya lebih killer dari jaman sekarang. Jaman sekarang sih dosen takut dengan institusinya. Dan institusi “takut” ke mahasiswa yang membayar. ha ha ha.

Saya berkali-kali mengajari mahasiswa agar lebih sedikit “nakal”, misalnya dengan membolos kelas formal dan pergi ke acara diskusi informal. mahasiswa banyak yang ketakutan. ha ha ha. Ini memang dosennya agak mbeling. ha ha ha.

Bagi para mahasiswa, belajarlah membagi waktu. Beri waktu untuk “belajar kehidupan” yang letaknya di luar perkuliahan.

Butuh Lebih Banyak Port USB

Bekerja di rumah ini membuat setup (konfigurasi) komputer menjadi lebih permanen. Saya menyambungkan banyak hal ke komputer saya. Ternyata port USB yang tersedia masih kurang. Berikut ini adalah beberapa hal yang membutuhkan koneksi USB.

  • Webcam (external camera). Bawaan dari Macbook sudah cukup bagus, tapi webcam saya kualitasnya jauh lebih bagus. Kadang juga saya membutuhkan ini untuk menyambungkan DSLR saya. Jadi ini sangat esensial.
  • External microphone. Yang ini kalau terpaksa saya masih dapat menggunakan bawaan dari Macbook. Kalau di desktop, harus pakai mikropon eksternal.
  • Tablet. Saya menggunakan tablet Wacom untuk corat-coret.
  • Ethernet. Saya menggunakan kabel ethernet untuk terhubung ke internet di rumah. Sebetulnya dapat menggunakan access point (AP), tetapi kadang AP-nya menghilang. Tidak reliable. Jadi untuk lebih handalnya saya menggunakan kabel ethernet.
  • External disk. Disk di Macbook saya sudah habis. Kalau saya ingin merekam sesuatu – misalnya merekam video pelajaran saya – maka saya harus menyimpan datanya di disk tambahan ini.
  • Soundcard. Ini sebetulnya tambahan lain kalau saya mau memasukkan suara dari sumber lain (gitar dan juga microphone), tapi yang ini tidak harus. Ini bisa menggunakan port bagian external microphone.
  • Handphone. Untuk transfer berkas. Ini tidak harus selalu terhubung tapi kadang saya membutuhkan untuk mengambil berkas yang besar (image, video) dari handphone.

Melihat dari daftar di atas, saya membutuhkan setidaknya 4 sampi dengan 7 port USB. Di Macbook saya hanya ada 2 type C USB. Sangat kurang. Apalagi salah satunya dibutuhkan untuk charger. Jadi sekarang harus bergantian penggunaannya. Untuk komputer desktop saya (Linux Mint), port USB nya ada 6 buah tetapi 3 sudah dipakai (keyboard, mouse, WiFi card). Pokoknya kurang.

Saya sekarang menggunakan USB port extender, tetapi sesungguhnya saya agak takut menggunakannya. Saya sudah menghabiskan dua perangkat seperti ini. Mereka rusak saja. Bahkan ketika yang pertama rusak, hard disk external saya ikut menjadi corrupted. Hadoh. Jadi saya agak ngeri.

Nampaknya saya harus membeli USB port extender yang bagus. Ada saran?

Hari Blogger Nasional

Kemarin, tanggal 27 Oktober, adalah Hari Blogger Nasional. Saya tidak pernah merayakan hari itu. Padahal saya masih tetap setia ngeblog. Sementara orang-orang yang mencanangkan hari itu, sudah berhenti ngeblog.

Ngeblog bagi saya adalah merupakan semua latihan yang saya butuhkan untuk mengasah diri sendiri. Jadi saya ngeblog bukan untuk mencari perhatian orang, tetapi untuk menantang diri. Pada awalnya tantangan saya – kepada diri saya sendiri – adalah apakah dapat membuat tulisan setiap hari. Tantangannya adalah mencari topik yang bagus untuk ditulis dan kemudian menuliskannya. Mencari topik bukan masalah karena saya sampai membuat sebuah program yang saya beri nama “topic generator”, program yang menampilkan topik yang berbeda setiap kali dijalankan. Menuliskan topik tersebut dengan baik merupakan tantangan terberat. Hasilnya ya sekedar ada tulisan. Yang penting, tantangan terjawab. Soal susahnya mencari waktu untuk ngeblog itu bukan tantangan karena bagi saya itu sudah sesuatu yang … given.

Sekarang tantangan ngeblog saya berbeda. Sekarang saya sudah mulai membuat video di YouTube. Walhasil, ada hal-hal yang tersedot ke sana. Yang itu masih membutuhkan usaha, seperti awal-awal saya ngeblog ini. Kalau tanaman, masih perlu disiangi. (Kok “siang” ya?) Masih kurang content. Tadinya saya berpikiran akan lebih mudah ngeblog karena saya dapat menuliskan apa yang sudah saya videokan. Ternyata mood untuk melakukan hal itu tidak ada. “Kan sudah saya sampaikan pesannya? Jadi kenapa pula saya harus menuliskan lagi.” Itu yang ada di kepala saya. Padahal kan audiens-nya juga berbeda. Ok, ok, ok.

Kembali ke Hari Blogger Nasional. Selamat kepada yang masih ngeblog. Selamat kepada diri sendiri. Ha!

Listrik dan Kerja Dari Rumah

Ternyata salah satu komponen utama dari kerja dari rumah (work from home) adalah listrik. Ini baru saja listrik di rumah saya mati. “Aliran”, kalau kata orang Sunda. ha ha ha. Padahal saya harus memberikan kuliah. Akibatnya saya berikan pesan (via handphone) bahwa kelas terpaksa ditiadakan dan mahasiswa diminta untuk mendiskusikan serta meneruskan tugas-tugas mereka.

Listrik dibutuhkan untuk menyalakan komputer dan akses internet di rumah saya. Basis saya masih menggunakan komputer desktop dan internet wired (menggunakan access point yang terhubung ke router dan penyedia jasa internet). Begitu listrik mati, maka semuanya menjadi tidak berfungsi. Bukankah ada notebook (untuk pengganti komputer desktop) dan handphone (untuk penganti akses internet)? Betul. Notebook nampaknya tidak menjadi masalah, namun akses internet via handphone yang menjadi masalah bagi saya. “Kebetulan” – meskipun rumah saya di daerah Bandung – lokas rumah saya di atas bukit yang terhalang oleh bukit lain sehingga sinyal operator seluler sering bermasalah di sini. Ini sudah tahunan seperti begini. Dulu ketika jaman 3G masih baru mulai pun kami mengundang beberapa teknisi dari operator seluler dan mereka menyerah. (Solusinya adalah mereka pasang BTS lagi di dekat sini, yang mana ini tidak memungkinkan karena biaya untuk memasang BTS tidak murah sementara pelanggan yang bermasalah kemungkinan hanya sedikit atau malah hanya saya saja.) Singkatnya sinyal operator seluler di tempat saya ini dipertanyakan.

Kembali ke topik, walhasil kelas tadi dibubarkan. Saya yakin mahasiswa bergembira-ria. ha ha ha. Ya, sekali-sekali lah memberikan kebahagiaan kepada mahasiswa.

Nampaknya saya harus mulai memikirkan backup plan.

Kalibrasi (IoT)

Sekarang banyak orang mengembangkan IoT. Salah satunya adalah untuk mengukur temperatur dan kelembaban. Masalanya, kebanyakan hanya mengambil kode (dari internet) dan kemudian menjalankannya tanpa melakukan kalibrasi. Apakah data yang kita gunakan sudah benar? Apakah kode yang kita gunakan sudah benar? (Dalam kode terdapat konversi dari data yang diterima oleh sensor ke temperatur dan kelembaban.)

Untuk mengetahui hal tersebut, saya membeli sensor hygrometer. Saya beli dua buah. Eh, ternyata keduanya juga tidak akur datanya. Data temperatur nyaris sama (31C), tetapi data kelembaban jauh berbeda (35% dan 41%). Mana yang benar? Saya juga meragukan kebenaran data tersebut karena perasaan saya temperatur saat menulis ini tidak panas. (Ini di Bandung di rumah saya.)

Sensor Hygrometer

Memang saya membeli sensor yang harganya murah. Ini hanya untuk percobaan. Nampaknya saya harus membeli sensor yang lebih akurat (dan lebih mahal).

Bagaimana dengan data dari sensor IoT? Saya menggunakan sensor DHT-22 yang kemudian saya hubungkan dengan perangkat Wemos D1 mini. Data kemudian saya kirimkan ke komputer. Berikut ini perbandingan data dari sensor Hygrometer dan sensor IoT. (Mohon maaf fotonya agak kabur.) Mana yang benar? Temperatur: 30 C (hygrometer), 27,8 (IoT). Kelembaban : 45% (hygrometer), 77,4% (IoT).

Lagi-lagi saya tidak tahu mana yang benar. Nampaknya saya harus membeli alat hygrometer yang lebih akurat untuk mastikan hasilnya.

Tadinya saya ingin membuat grafik seperti ini, memantau temperatur dan kelembaban di rumah saya. (Saya juga memiliki sensor yang lebih akurat.)

Tulisan ini untuk menunjukkan bahwa kita harus melakukan kalibrasi dalam pengukuran yang menggunakan IoT sekalipun. Jangan merasa bahwa kalau data dari IoT sudah pasti benar.

Mewawancara Kursi Kosong

Belakangan ini ramai dibicarakan soal wawancara Najwa dengan kursi kosong. Wah, saya tidak terlalu minat untuk urusan sensasi, tapi ini kemudian memicu saya untuk punya ide. Bagaimana kalau saya mewawancara diri saya sendiri? Hi hi hi. (Plot twist?)

Langsung saya mengumpulkan ide dan kemudian membuat video ini. Nah, saya sebetulnya ingin cerita bahasannya, tapi kok malah jadi spoiler ya? Tapi kan sebetulnya blog ini ditujukan untuk orang-orang yang lebih suka membaca. Semestinya tidak terlalu masalah. Tapi just in case saja. Untuk yang mau lihat videonya, jangan dibaca dulu tulisan di bawah ini. Tonton dulu videonya.

[baris kosong supaya tidak terlalu terlihat tulisan spoilernya untuk yang mau nonton videonya dulu]

… [baris kosong supaya tidak terlalu terlihat tulisan spoilernya untuk yang mau nonton videonya dulu] …

… [baris kosong supaya tidak terlalu terlihat tulisan soilernya untuk yang mau nonton videonya dulu] …

Nah. Sekarang baru akan saya bahas secara singkat tentang poin-poin yang ingin saya sampaikan di video itu.

Pekerjaan rumah (PR) dari wartawan. Banyak wartawan yang tidak mengerjakan PR-nya ketika akan mewawancara. Saya sering diwawancara. Sering banget! Banyak wartawan yang dia hanya menjalankan tugas yang diberikan secara ngasal. Asal diselesaikan saja checklist itu. Sebagai contoh, ketika mewawancara seseorang ya di-google dulu lah orang yang bersangkutan. Kalau sekarang kan gampang. Kalau dahulu gimana coba? Harus ke perpustakaan, tanya sana sini, dan seterusnya.

Untuk kasus saya, ya wartawannya setidaknya tahu latar belakangnya lah. Saya bekerja dimana (dosen ITB, misalnya) dan bidang keahlian saya apa (information security salah satunya). Beberapa kali kejadian ada wartawan yang tidak tahu siapa saya kemudian main wawancara saja. Kalau mau iseng, saya jawab dengan ngawur juga. ha ha ha. Ini menyambung kepada poin berikutnya.

Bertanya pada pakarnya. Jika Anda ingin mewawancara saya, ya tanyakan tentang hal-hal yang saya kompeten untuk menjawabnya. Kalau tanya apa saja ke saya, ya jawabannya juga apa saja. Sekarang ini banyak wartawan yang ngasal dalam mencari narasumbernya. Mereka asal ambil orang dan kemudian pendapatnya dianggap sebagai valid. Bahkan ada yang langsung memberi label “pakar”, atau “pengamat”. Matinya kepakaran!

Mencari sensasi. Banyak orang yang sekarang mencari sensasi untuk meningkatkan popularitas. Apa saja ditempuh. Termasuk yang tidak etis sekalipun. Tentu saja orang tahu mana yang mencari sensasi dan mana yang mencari kebenaran atau berkarya. (Sayangnya hal yang sensasi lebih banyak ditonton karena dianggap sebagai hiburan. Dari pada nonton video binatang yang lucu, lebih baik nonton sensasi itu dan kemudian ikut memberi komentar pula!) Marilah kita hargai yang berkarya sungguhan.

Menurut saya, hal-hal yang salah harus ditegur. Diluruskan. Kita kan ingin sama-sama meningkatkan kebudayaan kita. Meningkatkan intelektual kita juga. Tetapi tegurlah dengan santun. Semoga video saya tersebut dapat memberi pencerahan.

Film Yang Paling Sering Ditonton

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat dalam sebuah diskusi (atau lebih tepatnya adalah ngobrol-ngobrol). Tiba-tiba ada pertanyaan tentang “film apa yang paling sering kita tonton”. Wah, pertanyaan yang menarik dan agak susah saya jawab.

Untuk dunia musik, ada layanan yang melakukan pemantauan (tracking) tentang lagu yang kita dengarkan. Salah satu yang saya suka adalah last.fm. Layanan ini dapat menunjukkan lagu apa yang paling sering kita dengarkan, artis (musisi) siapa yang paling sering kita dengarkan, albumnya, dan statistik lainnya. Ada plugin last.fm untuk berbagai aplikasi pemutar lagu dan layanan (misal spotify) yang melakukan pemantauan ini. Yang seperti ini tidak ada untuk film.

Berikut ini beberapa film yang mungkin paling sering saya tonton. Saya gunakan kata mungkin karena ini yang teringat oleh saya. Film ini juga saya tonton beberapa kali di TV, bukan di bioskop. Untuk yang nonton di bioskop, rasanya saya belum pernah nonton film lebih dari sekali.

  1. Indiana Jones, “Temple of Doom”. Saya memang menyukai aktor Harrison Ford, tetapi alasan film ini kemungkinan yang paling sering saya tonton adalah karena beberapa kali film ini diputar di TV. Jadi secara tidak sengaja saya melihat ini di TV dan terus ditonton sampai habis. Rasanya memang pernah juga saya intentionally memutar film ini.
  2. Sleepless in Seattle. Mirip seperti alasan di atas, film ini juga beberapa kali diputar di TV. Jadi tertonton beberapa kali, tetapi saya juga memutar film ini beberapa kali. Lagi-lagi karena saya menyukai aktrisnya, Meg Ryan. (Selain film ini, film “You’ve Got Mail”, rasanya saya sukai juta. Namun saya kurang menyukai film “When Harry Met Sally”.)
  3. John Carter. Berbeda dengan yang di atas, saya memang memutar film ini secara mandiri. Bahkan beberapa hari yang lalu saya tonton lagi film ini karena dia ada di Disney+ Hotstar yang baru saya langganani. Awalnya saya menonton film ini adalah karena director-nya adalah Andrew Stanton dari Pixar. Jadi saya tertarik ke film ini bukan karena aktor atau aktrisnya. (Ternyata film ini terinspirasi oleh sebuah buku. Harus mencari bukunya.)
  4. Star Wars. Seri yang pertama-tama dibuat. Yang ini kemungkinan saya tonton karena film yang klasik. Ini juga pertama kalinya saya mengenal aktor Harrison Ford dan produser George Lucas. Di kemudian hari saya selalu mencoba menonton film yang ada keduanya.
  5. Ghost Rider. Lagi-lagi saya menonton film ini karena beberapa kali diputar di TV. (Nampaknya saya lebih sering menonton apa saja yang ada, bukan mencari sendiri ya?) Lagi-lagi juga karena saya menyukai aktor Nicholas Cage.
  6. Apa lagi ya? Kemungkinan ada banyak lagi (seperti film-film yang dibuat oleh Pixar), tetapi karena tidak ada aplikasi pencatat maka saya tidak tahu. Nampaknya saya harus melakukan pencatatan secara manual. (Ayo, ini kesempatan untuk membuat layanan pencatat dan plugin-nya.)

Jadi ini lah perkiraan film-film yang saya paling sering saya tonton. Untuk kasus saya, film saya tonton berulang karena ditampilkan di TV. Sekarang saya sudah berlangganan Netflix, Disney+ Hotstar (sempat pula berlangganan Amazon Prime dan Apple) sehingga modenya adalah saya yang harus memilih filmnya, bukan lagi bergantung kepada apa yang diputar di TV.

Diskusi Dilema Media Sosial (Senin Malam 21 September 2020)

Informasi tentang acara dadakan. Betul. Sebetulnya acara ini sudah ingin kami adakan kapan-kapan tetapi belum menemukan waktu yang “tepat”. Ternyata tidak ada waktu yang “tepat”. Jadi mumpung ada waktu, kami jreng-kan saja. Senin malam, 21 September 2020. Mungkin melalui Zoom dan YouTube. (Detail menyusul.)

Ada dua hal yang ingin disampaikan; (1) tentang topik bahasannya sendiri yaitu dilema media sosial, dan (2) adalah tentang group diskusi kami. Jadi kami memiliki group diskusi yang awalnya adalah mentoring entrepreneurship yang saya adakan secara rutin setiap Rabu siang. Banyak orang yang ingin tahu isinya seperti apa sih? Nah, ini saya ambilkan sebagian dari orang-orang yang sering terlibat dalam diskusinya (yang bisa ngalor ngidul tetapi bertopik).

Tentang topiknya, dilema media sosial. Media sosial sendiri dianggap sebagai salah satu emerging technology. Di negara lain, media sosial merupakan hal yang “baru”. Sementara itu di Indonesia, media sosial bukan barang baru lagi, tetapi kita belum paham efeknya. Lah, mau belajar kemana? Secara kita ini merupakan pionir pengguna (bukan pembuat) di bidang ini. Tidak ada tempat belajar untuk melihat efek sampingannya. Mungkin malah dapat disebut bahwa kita adalah kelinci percobaan bagi media sosial. (Dan kita tidak sadar bahwa kita adalah kelinci. Masih mending kelinci, bukan monyet ya? Ha ha ha.)

Topik efek negatif dari media sosial baru mencuat belakangan ini setelah para pengembang dan orang-orang yang terlibat di perusahaan media sosial itu angkat suara. Ternyata mereka sendiri mengalami kegalauan dalam produk atau servis yang mereka kembangkan. Bahkan ada yang merasa menyesal. Ada banyak tulisan dan buku yang menyarankan agar kita menghapus aplikasi media sosial kita.

Sebetulnya media sosial ini juga bukan tanpa jasa. Ada banyak jasanya. Masalahnya adalah apakah manfaatnya jauh lebih baik dari mudharatnya? Lah, apa saja sih efek negatifnya? Itu yang ingin kita diskusikan hari Senin malam ini.

Saya berharap agar banyak yang dapat mengangkat topik ini agar kita sadar (aware) terhadap situasi yang kita hadapi.

Be there or be square! Hadirlah!

Rekomendasi Video

Ada banyak bahan bacaan dan bahan tontonan di luar sana. Mana saja yang bagus? Dibutuhkan waktu dan usaha untuk memilah-milah. Nah, ini saya menemukan video yang bagus. Yang sangat disarankan untuk ditonton.

Video ini adalah kuliah terakhir dari Randy Pausch. Pasalnya, Randy mengidap kanker dan diberi waktu 3 sampai dengan 6 bulan lagi. Dia bukan orang yang pesimistik, maka dia membuat video ini untuk anaknya. Namun video kuliah ini sangat bermanfaat bagi banyak orang. Termasuk saya.

Bagi saya, video ini sangat menginspirasi. Banyak hal yang bersinggungan atau sejalan dengan prinsip hidup saya. Asyik. Ternyata saya tidak sendirian dalam “kegilaan” atau keanehan pilihan hidup.

Untuk tidak berpanjanglebar, mari kita saksikan videonya.

Permasalahan Sekolah dari Rumah (2)

Tulisan terdahulu (bagian 1) tentang akses dan materi (content) dapat dilihat pada tautan ini (https://rahard.wordpress.com/2020/08/25/permasalahan-sekolah-dari-rumah/). Pada bagian ini kita bahas satu masalah lagi, yaitu perangkat.

PERANGKAT

Ada perangkat yang dibutuhkan untuk akses ke internet. Perangkat ini dapat berupa handphone (yang dilengkapi dengan layanan internet, baik yang berlangganan via operator atau via WiFi). Perangkat dapat juga berupa perangkat khusus seperti Access Point, (WiFi) router, dan seterusnya. Untuk masyarakat umum, perangkat yang digunakan untuk ini biasanya adalah handphone.

Perangkat handphone umumnya cocok untuk dipakai oleh satu orang. Bagaimana untuk keluarga dengan dua anak dan orang tua yang bekerja? Maka seringkali perangkat akses handphone ini tidak cukup. Maka perangkat akses internet di rumah harus yang lebih baik. Untuk sementara ini ini katakanlah kita anggap handphone.

Untuk akses kepada layanan 3G, 4G, WiFi, ada banyak handphone yang harganya sudah terjangkau untuk orang kota. Yang perlu dicarikan adalah perangkat yang murah meriah untuk seluruh Indonesia.

TO DO: ketersediaan perangkat akses yang murah

Perangkat kedua adalah perangkat untuk mengerjakan tugas. Bagusnya ini adalah komputer atau laptop (notebook). (Untuk selanjutnya saya akan menggunakan istilah laptop saja.) Idealnya satu orang (satu anak, satu siswa) satu laptop. Apakah ini masuk akal? Untuk itu harus disediakan laptop dengan harga yang murah.

Alternatif dari laptop adalah tablet. Namun penggunaan tablet membutuhkan akses ke cloud untuk menyimpan data yang jumlah dan ukurannya banyak. Ini kembali menjadi masalah akses yang sudah dibahas pada tulisan sebelumnya.

TO DO: ketersediaan laptop yang murah

Terkait dengan perangkat ini adalah perangkat lunaknya (software). Ada banyak perangkat lunak yang dibutuhkan; untuk menulis (word processing), untuk menggambar (drawing, painting), dan seterusnya. Ada banyak perangkat lunak yang berbayar dan ada pula alternatifnya yang tidak berbayar (freeware, open source). Jika dahulu ini masalah, saat ini bukan masalah lagi. Hanya perlu dilakukan pendataan saja sehingga masyarakat tahu alternatif-alternatifnya.

TO DO: dibuat daftar perangkat lunak yang gratis atau murah

Kebanyakan Mengajar

Dalam satu semester biasanya saya mengajar 3 mata kuliah. Itu maksimal. Untuk kasus-kasus tertentu kadang bisa 4 mata kuliah. Nah, sekarang saya mengajar … (eng, ing, eng) … 6 mata kuliah! Gila!

Mengapa ini bisa terjadi? Saya berpikir keras.

Ah, baru kebayang. Biasanya mata kuliah dibuka oleh kampus setelah melakukan optimasi terhadap ketersediaan sumber daya, khususnya ruangan. Karena jumlah ruangan terbatas, maka jumlah mata kuliah yang dapat dilayani terbatas. Sekarang, gara-gara covid-19 ini, semua kuliah dilakukan secara daring (online). Maka batas ruang (dan waktu) hilang! Maka kampus dapat memberikan semua mata kuliah bersamaan. Terserah kepada dosen dan mahasiswanya saja.

Bodohnya, saya sebagai dosen mengiyakan saja. Maka terjadilah 6 mata kuliah itu. Hayah. Semester depan saya akan ngerem lagi ah.

Sebetulnya ini bisa saya atasi juga. Jika semua mata kuliah saya sudah tersedia secara elektronika, misalnya sudah saya rekam dalam bentuk video, maka kelas saya juga dapat saya ajarkan secara daring. Jadi saya dapat mengajar beberapa kelas secara paralel. Toh mahasiswa tinggal nonton video, membaca buku dan bahan bacaan lainnya (makalah, standar), dan mengerjakan tugas-tugas (quiz, pekerjaan rumah) yang juga sudah dapat dibuat secara elektronik. Artinya, batas waktu juga bisa saya jebol. Nah, sekarang masalah berpindah ke mahasiswa.

(Catatan: itulah sebabnya dosen dan guru, mari kita buat versi elektronik dari kuliah / kelas kita.)

Sulit bagi mahasiswa untuk mengambil beberapa mata kuliah secara paralel. Saat ini tidak mungkin. Suatu saat mungkin ditemukan cara untuk melakukannya. Maka pada saat itu, batas ruang dan waktu sudah bisa kita libas. Whoah!

Oh ya. Ini ada versi video dari tulisan ini.