Author Archives: Budi Rahardjo

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku

Wisata Kuliner Medan

Beberapa hari ini saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Medan kembali. Acara sesungguhnya adalah memberikan Security Awareness di Pertamina dan bercerita tentang (IT) entrepreneurship di Kampus USU. Kesempatan ini juga saya manfaatkan untuk melakukan wisata kuliner.

Medan memang terkenal dengan kulinernya. Waktu yang hanya 4 hari 3 malam ini tidak cukup sebenarnya, tetapi lumayanlah.

IMG_9245 kopi sanger
Kopi Sanger. Ini sebetulnya adalah kopi Aceh. Sanger itu katanya berasal dari “sama-sama ngerti”. Itu karena dulunya ada yang sering ke kedai kopi tertentu dan saking seringnya sang penjual sudah tahu (mengerti) apa yang diinginkan pelanggan tersebut.
IMG_9250 sate padang
Sate Padang. Yang ini dekat Waspada. Rasanya mantap sekali. Dagingnya enak dan bumbunya pas. Perut saya kurang kuat menghadapi yang pedas-pedas, yang ini ternyata masih sanggup. Selain daging ada juga lidah, pangkal lidah, dan usus. Waw.
IMG_9246 badak
Minuman Badak (sarsaparila). Kayaknya minuman root beer itu sebetulnya nyontek minuman Badak ini. hi hi hi.

Selainan makanan di atas masih ada makanan lain; misop, kerang (belum sate kerangnya), mie rebus, sate memeng. Wah berat badan langsung naik. Hadoh.


Peneliti, Industriawan, Pedagang, Investor, dan Pemerintah

Salah satu topik diskusi di kegiatan mentoring entrepreneurship mingguan saya kemarin adalah soal keterkaitan antara peneliti, industriawan, pedagang, investor, dan pemerintah. Sebetulnya awalnya dimulai dari pertanyaan mengapa banyak penelitian yang dilakukan di perguruan tinggi tidak menghasilkan apa-apa? Mengapa tidak ada (tidak banyak) hasil penelitian yang mendukung industri? Dan seterusnya.

Saya memiliki pandangan yang agak berbeda.

Tugas peneliti adalah meneliti. Persis seperti namanya. Dia tidak berkewajiban memasarkan hasil penelitian. Bahkan untuk membuat produk jadi pun masih bisa kita perdebatkan. Hasil dari penelitian dapat berbentuk karya ilmiah (makalah) atau paten. Hasil ilmiah ini kemudian dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk industriawan yang ingin membuat produk (atau layanan) berdasarkan hasil penelitian tersebut. Bahwa ada banyak hasil penelitian yang tidak terpublikasikan dengan baik, itu memang masalah lain dan memang ini menjadi tanggungjawab dari penelitian. Ini kita bahas lain kali ya.

Peneliti berada di menara gading (ivory tower). Mengawang-awang. Memang demikian. Kalau dilihat dari kasta (apakah masih ada?), mungkin peneliti berada di kasta Brahmana. (Benar?) Jadi urusan komersialiasi bukan menjadi perhatian mereka. Jangan disalahkan. Memang fungsinya demikian.

(Mengenai apakah topik penelitian harus terapan atau hanya teoretis, itu bahasan terpisah. Saya berpendapat, teoritispun harus tetap diakomodasi. Kemudian soal penelitian tidak harus selalu berhasil, bahkan kecenderungannya adalah gagal, juga kita bahas terpisah. Banyak sekali bahasannya ya?)

Peneliti biasanya berada di perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Banyak kasus (kalau banyak semestinya bukan kasus lagi ya?) produk atau layanan dikembangkan dari kampus (misal oleh mahasiswa) dan kampus tidak mendapatkan apa-apa. Menurut saya ini wajar saja. Mosok perguruan tinggi harus iri kepada mahasiswanya? Ini sama dengan orang tua yang iri kepada kesuksesan anaknya kemudian menuntut biaya kos-kosan dan makan kepada anaknya. ha ha ha. Sekarang banyak perguruan tinggi yang mencoba cari keuntungan dengan mencoba melakukan komersialisasi hasil penelitian. Menurut saya ini kurang pas.

Tugas industriawan yang mengembangkan produk untuk menjadi sebuah industri. Memang industriawan harus rajin-rajin melihat atau menyambangi perguruan tinggi untuk mendapatkan hasil penelitian yang menjadi basis dari produknya. Jangan berharap pihak perguruan tinggi yang akan menghubungi industriawan. Industriawan juga dapat melakukan penelitian sendiri. Jangan salah, perusahaan besar dapat menjadi penghasil penelitian juga. Contohnya adalah IBM. Lihat saja jumlah paten yang dihasilkan oleh IBM dengan jumlah peneliti yang tidak sedikit! Perguruan tinggi kalah oleh IBM dalam hal jumlah penelitiaannya. Sayangnya di Indonesia tidak banyak yang menjadi industriawan. Kebanyakan orang di Indonesia yang mengaku industriawan adalah pedagang.

Pedagang, sesuai dengan namanya, ya berdagang. Dia tidak harus terkait dengan hasil penelitian di Indonesia (lokal). Jika dapat membeli sebuah produk dengan harga yang murah di sebuah tempat, kemudian menjualnya di tempat lain (termasuk di Indonesia) dengan harga yang lebih mahal tentu akan dia lakukan. Tidak ada yang salah dari ini. Pedagang juga adalah pekerjaan yang terhormat. Hanya saja, kalau memang menjadi pedagang, ya jangan mengaku sebagai industriawan.

Investor adalah orang yang memberikan pendanaan dengan harapan terjadi imbal balik yang berlipat di kemudian hari. Investor berbeda dengan bank dalam hal risiko yang diambil. Investor lebih nekad. Gagal 9 dari 10 investasi merupakan hal yang biasa. Di Indonesia, institutionalized investors nampaknya masih jarang. (Adakah?)

Pemerintah tugasnya adalah mempermudah ini semua dengan membuat aturan dan membuat infrastruktur yang tidak menarik secara hitungan bisnis bagi swasta. Pemerintah tidak mendapatkan hasil secara langsung. Adalah salah kalau pemerintah  mengeluarkan uang 10 rupiah dan berharap dapat kembalian dari uang itu. Tidak. Uang yang dikeluarkannya akan hilang (menjadi program). Hasilnya adalah terjadinya iklim penelitian, industri, dan perdagangan yang lebih kondusif. Dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Nah, ini yang kemudian disalahkan menjadi korupsi. Kan menguntungkan pihak lain? Nah.

Masing-masing pihak menjalankan fungsinya masing-masing. Saat ini peneliti dituntut untuk mampu mengkomersialkan hasil penelitiannya. Salah besar! Ini sama dengan menuntut investor untuk menghasilkan karya ilmiah (yang notabene pekerjaan peneliti). Tidak pas.

Begitu. Semoga menjadi jelas. (Atau menjadi semakin ruwet?) Yang pasti, akan muncul banyak pertanyaan lain. Ini wajar.

(Yang belum disebut budayawan, olahragawan, pemain band, … eh apa lagi ya? Jreng!)


Tidak Perlu Membagi Materi Presentasi

Kegiatan yang paling sering saya lakukan adalah memberikan presentasi. Sebagai seorang dosen atau guru – formal atau informal – memang bercerita merupakan kegiatan utama. Dalam satu minggu kadang saya harus memberikan presentasi setiap hari. Hadoh.

Biasanya panitia atau penyelenggara acara meminta saya memberikan materi presentasi. Katanya untuk dibagikan kepada peserta. Sebetulnya menurut saya ini tidak perlu dilakukan. Memang ada peserta yang membaca atau mempelajari materi presentasi sebelum presentasi? Rasanya tidak ada. Kebanyakan peserta mengumpulkan materi presentasi untuk jaga-jaga saja. Kalau-kalau materi presentasi itu diperlukan. Padahal pada kenyataannya materi presentasi itu pun hanya menyemak. Menjadi tumpukan kertas yang terbuang percuma.

Untuk kasus perkuliahan, pembagian materi presentasi sebelum kuliah justru malah membahayakan. Mahasiswa malah kemudian mengabaikan isi kuliah karena merasa dapat membaca materi tersebut di lain waktu. Maksudnya pas lagi mau ujian dibaca lagi. he he he. Mereka jadi tidak memperhatikan dosen pas kuliah. Jadi, jangan bagikan materi kuliah sebelum kuliah.

Materi presentasi mungkin dibutuhkan oleh penyelenggara untuk memastikan bahwa materinya sesuai dengan topik dari presentasi. Itu saja yang mungkin alasan yang paling tepat.

Khusus untuk saya, ada masalah tambahan. Cara saya membuat materi presentasi berbeda dengan umumnya, yaitu saya hanya menampilkan kata kunci (keywords) saja. Bagi yang tidak hadir ke presentasi saya akan kebingungan dengan potongan kata-kata tersebut. Memang kunci utama dari presentasi adalah HADIR. Untuk yang tidak hadir, ya sebetulnya  yang dibutuhkan adalah makalah rinci. Bukan materi presentasi.

Jadi, kalau saya akan memberikan presentasi, jangan ditanya materi presentasinya ya. hi hi hi


Apresiasi dan Usaha

Seringkali saya diminta untuk mengajarkan ini dan itu. Atau memberikan presentasi tentang sebuah topik. Dengan senang hati saya melakukannya, tetapi pada waktu yang saya bisa. Maklum, saya kan super sibuk.

Sayangnya kenyataan tidak seindah yang diperkirakan. Kadang ketika saya memberi presentasi ini dan itu, yang hadir tidak banyak. Setelah itu yang tadinya minta diajarkan malah tidak datang. ha ha ha. Ini sih namanya tidak mengapresiasi. Apalagi terus minta materi presentasinya. wk wk wk. Bagi saya sendiri tidak menjadi masalah karena saya memang senang berbagi. Mau ada yang menerima atau tidak itu tidak menjadi pertimbangan bagi saya.

Saya melihat banyak orang yang kurang usaha. Maunya banyak, tapi usaha kurang. Malas. Mau melakukan sesuatu asal mudah. Asal sesuai dengan enaknya dia. Misalnya, waktunya yang sesuai dengan jam kosongnya dia. Padahal untuk mendapatkan sesuatu dibutuhkan usaha. Kadang kalau terpaksa harus bolos kuliahlah. Lucunya, untuk nonton pertandingan sepak bola yang jam 2 di pagi haripun dikejar sementara yang penting malah ditinggal tidur. wk wk wk.

Budaya “disuapi” juga merupakan tantangan yang berat. Ini berlawanan dengan budaya “usaha”. Itulah sebabnya banyak orang yang berada malah kalah semangat dengan yang pas-pasan. Maklum, kalau pas-pasan ya *terpaksa* harus berusaha. Kepepet itu motivator yang efektif. ha ha ha

Banyak yang merasa sudah berusaha. Padahal apa yang dia lakukan masih jauh dari usaha yang dilakukan oleh orang lain. Mana bisa dia menjadi lebih sukses. Kadang saya bertanya kepada mahasiswa, berapa jam dia tidur dalam satu hari. Kalau lebih lama dari saya, berarti dia memang kurang berusaha. Memang ini bukan ukuran utama, tetapi setidaknya menunjukkan berapa keras dia berusaha. Sebagai contoh, kadang untuk menuju tempat klien saya harus bangun jam 3 pagi (atau kurang) dan kemudian sudah harus menembus jalan pukul 3:30. Shalat Subuh pun terpaksa dilakukan di perjalanan. Namanya juga berusaha.

Konsistensi dalam melakukan usaha juga kadang kurang dijaga. Mau jadi hebat tetapi melakukannya kadang-kadang. Kalau sempat saja. Padahal konsistensi itu sangat penting. Bayangkan apabila jantung berhenti berdetak. Sebentaaaar saja. Dia harus konsisten berdetak apapun yang terjadi.

Nah … kalau tidak mau memberi apresiasi, tidak mau berusaha, ya jadi zombie saja. hi hi hi. Eh, jangan-jangan untuk menjadi zombie pun membutuhkan usaha yang luar biasa. Hadoh.


Selfie Atau Tidak?

Dahulu saya sering memotret diri sendiri. Tujuannya tidak jelas. Soalnya kalau motret orang lain gak bisa dan gak berani minta ijin. Banyak sudah memotret diri sendiri. Saya rasa banyak orang Indonesia yang seperti itu. Bertahun-tahun kemudian baru muncul istilah selfie.

Sekarang, yang namanya selfie bukan hal yang aneh. Bahkan ini sudah menjadi hal yang jamak. Mainstream.

Nah, karena saya kurang suka mainstream, akhirnya saya jadi jarang memotret diri lagi. Bahkan dipotret oleh orang lainpun juga jarang. Kalaupun ada potret sendiri juga saya simpan sendiri. Alasannya ya itu, anti-mainstream. Gak mau sama dengan orang lain.

Tapi kadang-kadang memang dibutuhkan selfie untuk promosi. Nah, foto bersama pak Bambang ini diambil kemarin di acara komunitas talenta dari Roemah Creative Management. Sebagian karya dari talenta ini dapat didownload di toko musik digital Indonesia: toko.insanmusic.com.

BR Bambang 0001

Acaranya di Grapari Telkomsel di jalan Ir. H. Juanda (Dago) Bandung. Karena kelaparan, akhirnya saya dan Aiep pindah ke cafe di dekat situ. Namanya Rock ‘N Rice. Nah, di sana baru potret selfie. Yaaah … jadi mainstream lagi dong.

IMG_9079 BR RnR 0001_01

Kata salah satu promotor digital marketing, jangan anti mainstream. Jadi, selfie atau tidakya? Nyruput kopi dulu ah.

IMG_20150815_211247 kopi 0001


Iming-iming Uang: Kasus Go-Jek

Berita yang hangat akhir-akhir ini adalah ada banyak orang yang ingin menjadi pengemudi (driver) Go-Jek (dan Grab Bike). Bahkan ada pemberitaan yang mengatakan ada sarjana yang melamar menjadi driver Go-Jek. Kemudian orang menyalahkan Go-Jek dan situasi saat ini. Lah?

Pertama, kenapa kok Go-Jek yang disalahkan? Bukankah mereka justru yang benar? Memanfaatkan teknologi yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup (bagi pengemudi ojek dan penumpangnya). Mereka yang harus diacungi jempol. Bukan disalahkan. Yang perlu disalahkan adalah kita-kita yang menyalahkan mereka. he he he. Ruwet bukan?

Kedua, banyak orang yang tergiur oleh cerita tentang penghasilan driver Go-Jek yang besar. Menurut saya ini ilusi. Bahkan ada banyak yang penghasilannya naik karena menjadi pengemudi Go-Jek itu sudah pasti. Namun ini bergantung kepada orangnya sendiri. Pendapatan banyak itu bukan karena pakai jaket dan helm Go-Jek. Itu seperti kita ingin pandai berbahasa Inggris dengan cara pakai jas dan dasi. he he he. Kalau tidak mau berusaha, ya bahasa Inggrisnya tetap belepotan.

Ketiga. Yang namanya bekerja itu tidak ada yang mudah. Dikiranya menjadi pengemudi ojek itu gampang. Padahal itu kerja keras juga. Ada panas dan hujan yang harus dilalui. Ada risiko keselamatan juga. Tidak mudah. Memang pekerjaan orang lain terlihat lebih mudah dari pekerjaan kita.

Apapun yang kita kerjakan, lakukan dengan sepenuh hati. Soal rejeki, itu sudah ada yang mengatur.


Kurang Bacaan Online Yang Menarik

Akhir-akhir ini saya merasa kekurangan bacaan online yang menarik. Bacaan online saya cari ketika saya tidak punya akses ke buku (konvensional).Ya terpaksa cari bacaan online.

Kalau dahulu, saya masih mengakses situs berita semacam detik.com dan sejenisnya. Sekarang tidak lagi. Ada banyak alasannya. Yang pertama adalah cara menampilkan berita di situs itu sekarang dipotong-potong jadi beberapa halaman. Mungkin ini untuk membuat traffic semu? Sebagai contoh, yang dahulunya dapat dibaca 1 halaman sekarang harus mengklik 3 atau 4 kali untuk membaca keseluruhan berita. Mungkin dengan cara begini di log tercatat 4 kali akses. Padahal ini semu.

Berita yang ada di situs-situs itu juga sekarang sering tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Salah mengutip. Atau penulisannya tidak menarik. Hambar. Data saja. Seperti tidak ada wartawan yang bagus saja. Maaf.

Media sosial juga dahulu lebih menarik karena orang menuliskan berbagai hal secara kreatif. Cara masing-masing. Kalau sekarang, kebanyakan hanya melakukan re-share, re-post, re-tweet, dan re-re lainnya. Sekali-sekali tidak mengapa, tetapi kalau sebagian besar orang melakukan itu menjadi membosankan dan mengesalkan, Tidak ada kreativitas lagi.

Ubak-ubek, ke sana, ke sini. Gak nemu juga. Akhirnya ya terpaksa ngeblog seperti. Biarpun keluh kesah, ini tetap orisinal. he he he. (Padahal sesungguhnya ini bertentangan dengan prinsip yang saya anut, yaitu menuliskan hal yang positif-positif.)


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.458 pengikut lainnya.