Author Archives: Budi Rahardjo

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku

Stand-up Comedy

Malam ini saya akan memulai eksperimen baru, yaitu mencoba melakukan lawakan. Menjadi stand-up comedian. hi hi hi. Ini bukan bohongan. Ini sungguhan lho.

Jadi ceritanya malam ini akan ada acara MBA CCE Night. Biasanya saya ikut mengisi dalam bentuk main band, tetapi malam ini kami tidak main (karena satu dan lain hal). Saya tetap berkomitmen untuk ikut berpartisipasi. Daripada main gitaran sendiri, saya pikir ini adalah momen yang tepat untuk mencoba menjadi stand-up comedian.

Bagi saya, stand-up comedy bukan hal yang baru. Saya sudah menyukainya sejak saya di Kanada tahun 1987-an. Bahkan, salah satu hero saya adalah David Letterman, seorang pembawa acara talk show yang sangat lucu. Gurunya dia, Johnny Carson, juga lucu. Ada banyak komedian yang saya ikuti. Beneran. Saya banyak belajar teknik presentasi dari para komedian ini. Jadi stand-up comedy sudah melekat hampir 30 tahunan. Sedemikian lama ya?

Pagi ini saya masih memikirkan apa yang akan saya ceritakan. hi hi hi.

vi-stand-up-comedy

Semuanya perlu direcanakan. Tidak ngasal dan tiba-tiba saja.

Salah satu kesulitan menulis lawakan adalah cerita yang ditulis sangat terkait dengan kultur. Jadi kalau kita mencoba melawak dengan kultur lain, akan sulit sekali. Saya sendiri terbiasa dengan bodoran Sunda dan Amerika. Ini kombinasi yang agak aneh. he he he. Jadi ini merupakan usaha yang luar biasa susah bagi saya. Tantangan tidak untuk dihindari.

Bring it on …

See you tonight.


Resensi Buku: The Snowden Files

Dua minggu lalu, saya dihubungi oleh seorang kawan. Katanya apakah saya bisa mereview sebuah buku. Soal baca buku – dan dikasih buku – tentu saja saya senang. Hanya saja saya belum pernah melakukan resensi buku di muka publik. Tapi, saya terima saya tantangan ini.

Buku yang diajukan adalah, The Snowden Files. Waw. Menarik. Ini buku terkait dengan teknologi dan security. Bidang saya. Semakin okelah. Kemon!

Buku saya terima sehari kemudian dan mulai saya baca dengan cepat. Akhir-akhir ini kecepatan baca saya menurut dengan drastis. Ini justru kesempatan untuk memaksa diri sendiri untuk lebih cepat dalam membaca.

DSC_3100 snowden 1000

Minggu lalu, hari Rabu pagi, acaranya dilakukan. Saya memberikan resensi buku saya. Sementara itu acaranya adalah tentang cybersecurity dan saya malah tidak bicara tentang itu. ha ha ha.

The Snowden Files bercerita tentang kasus Edward Snowden yang menjadi terkenal karena membocorkan rahasia dari NSA, salah satu agen keamanan di Amerika Serikat. NSA dikatakan menyadap negara-negara lain. Terkait dengan dokumen NSA itu ada banyak rahasia-rahasia negara lain. Maka ributlah dunia.

Sebetulnya sudah menjadi rahasia umum (artinya semua orang tahu) bahwa Amerika melakukan penyadapan ke seluruh dunia. Dokumen ini menunjukkan buktinya. Sah! Bahwa memang Amerika melakukan penyadapan terhadap seluruh dunia termasuk sekutunya dan partner dekatnya, Inggris. Seru. Ini partnernya sendiri lho. Termasuk yang juga disadap adalah pimpinan negara Jerman.

Yang membuat Snowden membocorkan dokumen-dokumen NSA ini sebetulnya bukan masalah penyadapan yang dilakukan Amerika terhadap negara lain, tetapi justru penyadapan yang dilakukan oleh Amerika terhadap warga negaranya. Ini merupakan tindakan yang tidak sah secara hukum di Amerika. Snowden sangat terusik dengan hal ini. Inilah yang membuat dia membocorkan dokumen-dokumen NSA yang berisiko tinggi kepada nyawanya.

Indonesia juga disebut secara singkat. Bahwa pak SBY, sebagai presiden saat itu, disadap melalui Australia. Ya begitulah. Ini sempat menjadi keributan di media Indonesia.

Yang menarik dari buku ini adalah cara menceritakannya. Tidak kering. Ceritanya seperti novel. Ini mengingatkan saya akan buku “Take Down: the pursuit of and capture of Kevin Mitnick, America’s Most Wanted Man“, yang bercerita tentang pengejaran hacker juga. Atau “The Cuckoo’s Egg: tracking a spy through the maze of computer espionage” karangan Clifford Stoll, yang menurut saya merupakan salah satu buku kesukaan saya.

Buku yang saya terima merupakan terjemahan. Biasanya saya paling sulit membaca buku terjemahan karena biasanya kualitasnya buruk. Terjemahan buku ini cukup baik sehingga saya bisa menyelesaikan bacaannya dalam waktu satu minggu.

Sangat direkomendasikan.


Tunjukkan Kodemu!

Minggu lalu, tepatnya hari Rabu 11 Mei 2016, saya mengikuti peluncuran kompetisi “IBM Linux Challenge 2016” di Balai Kota Jakarta. Acara ini sebetulnya merupakan kelanjutan dari kompetisi yang pernah dilakukan tahun lalu. Jadi, ini yang kedua.

Intinya ini adalah kompetisi pembuatan software yang berbasis open source. Adapun fokus dari aplikasinya adalah hal-hal yang terkait dengan smart city dan finansial daerah. Untuk yang smart city, ada banyak aplikasi yang bisa dikembangkan. Aplikasi yang bagus (pemenangnya) akan diberi kesempatan ditampilkan / digunakan di Jakarta Smart City. Sementara aplikasi finansial daerah digunakan untuk meningkatkan transaksi UMKM melalui e-commerce.

26929749021_91fcc41d86_o

Bagi saya, ini adalah ajang untuk mencari bibit-bibit dan kelompok pengembang software yang keren-keren di Indonesia. Untuk menunjukkan bahwa Indonesia (dan orang Indonesia ) juga jagoan di dunia IT. Ayo … tunjukkan bahwa kita bisa!


Tentang Toko Musik Digital

Saya akan berada di UNPAD pada tanggal 24 Mei 2016 ini untuk acara ENHARMONICS.

BR enharmonics.jpeg

Saya akan cerita tentang perjalan toko musik digital kami, Insan Music Store. Sebelum hadir, silahkan daftar dulu di toko musik kami. Silahkan coba download. Nanti kami tunjukkan cara pembeliannya dengan menggunakan Mandiri e-cash.

Jreng ah!


Kesibukan Minggu Ini

Kuliah sudah selesai. Saya mengira kesibukan saya akan berkurang. Eh, malah makin sibuk. Minggu ini ternyata saya super sibuk.

Beberapa presentasi yang saya lakukan minggu ini antara lain:

  • Bedah buku “The Snowden Files”. Saya menceritakan mengenai buku ini dan implikasinya terhadap Indonesia.
  • Launching “IBM Linux Challenge 2016“, yaitu kompetisi open source. Ayo daftar.
  • Presentasi tentang pemanfaatan tanda tangan digital untuk aplikasi yang diprakarsai oleh Kominfo

Nanti cerita masing-masing akan saya coba tuliskan.

Acara-acara tersebut berlangsung di Jakarta dan ada yang dimulai sangat pagi sekali. Artinya saya harus berangkat pagi sekali dari Bandung, menginap, dan kembali lagi ke Bandung. Berangkat dari Bandung pukul 3:30 pagi. Ugh.

Nah, sekarang tinggal capeknya.


Apakah Kita Bodoh?

Apakah orang Indonesia itu dianggap bodoh ya? Tidak cukup otaknya untuk berpikir sendiri sehingga harus dituntun. Patronized. Bahkan untuk hal-hal yang sederhana (trivial) sekalipun harus diberitahu.

Saya ambil contoh dalam cerita-cerita (film, sinetron, [entah apakah komik juga?]) di Indonesia. Misalnya ada seseorang yang menunggu lama sekali. Yang ditampilkan adalah seseorang yang berkata, “Duuuh. Saya sudah menunggu lama sekali”. Sementara itu kalau di luar negeri lain lagi. Untuk contoh yang sama – orang yang menunggu lama sekali – yang digambarkan adalah seseorang yang terdiam, di sekitarnya ada asbak dengan banyak puntung rokok. Atau di sekitarnya ada beberapa kaleng minuman atau piring yang menumpuk, banyak kertas diremas-remas berantakan, buku menumpuk, atau sejenisnya. Tidak perlu dikatakan “saya menunggu lama sekali”. Untuk contoh yang ini kita diajarkan untuk berpikir dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa orang tersebut sudah menunggu lama sekali.

Akibat dari pemikiran bawah orang lain itu bodoh, maka “mereka” (orang lain itu) harus diatur.

  • Internet harus diblokir karena “mereka” tidak dapat membedakan mana yang pantas dan tidak pantas.
  • Acara-acara digeruduk karena “mereka” tidak dapat membedakan acara yang baik dan benar.
  • Buku-buku, bacaan, diberangkus karena “mereka” tidak dapat berpikir dan mencerna mana yang baik/sesuai dan mana yang tidak. Mereka pasti akan terpengaruh. Mereka tidak cukup otaknya untuk memilah.
  • Acara yang berbeda keimanan digeruduk karena keimanan “mereka” masih lemah sehingga nanti pindah akidah.
  • dan seterusnya …

update.


Empati Kepada Sesama

Sebetulnya saya tidak ingin menulis apa yang akan saya tuliskan ini.  Pertama, saya tidak suka menceritakan hal-hal baik yang saya kerjakan karena saya khawatir ini akan menjadi riya. Kedua, saya kurang suka menuliskan hal-hal yang berbau mengajari. Who am I to tell you? Saya sama dengan kalian semua. I am not holier than thou. Saya tidak lebih suci dari Anda. Tetapi, saya pikir ada lebih banyak manfaat yang diperoleh dengan menceritakan ini. Sekalian ini juga untuk mengeluarkan uneg-uneg saya.

Tadi pagi ada tetangga yang meninggal. Saya tidak kenal. Tetapi, tetangga adalah tetangga. Maka ketika masjid sebelah memberitahukan akan ada shalat jenazah, saya ikutan. Sebetulnya tadinya ada perasaan enggan juga. Saya tidak kenal. Toh sudah ada orang lain yang melakukan shalat jenazah. Fardu kifayah sudah terpenuhi. Tetapi kok hati kecil merasa bersalah. Sebagai sesama manusia, sudah sepantasnya kita menghargai manusia lainnya. Bayangkan, kalau orang-orang sepemikiran saya semua – malas sekedar ikut shalat jenazah – maka ketidakpedulian ini akan semakin akut. Mana empati kita?

Dua baris lelaki dan satu baris perempuan yang ikut shalat jenazah. Kami mendoakanmu. Semoga nanti ketika waktunya, banyak orang yang mau menshalatkan kita.

Lepas shalat, keranda digotong ke pemakanan di atas. Tidak jauh dari tempat kami, kurang dari 1 Km, ada tempat pemakaman.

Lagi-lagi ada konflik. Sudah cukup saya ikut shalat jenazah. Saya tidak harus ikut mengantarkan ke liang lahat, bukan? Tapi, lagi-lagi saya merasa bersalah. Dia juga manusia. Mengapa tidak ikut mengantarkan? Toh, ada waktunya juga. Toh saya tidak sedang mengerjakan sesuatu yang super penting juga. Maka saya ikutlah dalam rombongan ke makam.

Dari orang-orang yang hadir, mungkin saya hanya kenal setengahnya. Ah, ini menunjukkan modernisasi – lepas hubungan dengan tetangga. Sebetulnya saya pun tidak ingin chit-chat dengan yang saya kenal. Saya juga tidak ingin menunjukkan diri bahwa saya hadir. Saya hanya sekedar berempati sesama manusia, mengantarkan ke liang lahat.

Saya tidak menyalahkan tetangga-tetangga lain yang tidak ikut. Mereka punya alasan masing-masing. Saya, tadi, tidak punya alasan untuk tidak ikut. Alasan saya tadi hanya malas saja. Ah.

Apa sebetulnya poin yang ingin saya sampaikan? Berempatilah! Tidak susah berempati. Syaratnya hanya sekedar MAU saja. Lepaskan ego kita. Apa yang kita hadapi bukanlah yang paling berat di dunia ini. Kita bukan siapa-siapa. Di tengah-tengah kemajuan jaman dan ketergantungan manusia pada teknologi yang membuat manusia menyendiri, berempati kepada sesama manusia menjadi sesuatu yang mulai sirna.

[Aku memohon ampun kepada Allah swt atas tulisan ini. Ya, Allah, jauhkan aku dari riya. Mohon maaf untuk yang tidak berkenan.]

 

 

 


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.766 pengikut lainnya