Industri 4.0

Sekarang sedang ramai dibicarakan tentang “industry 4.0”. Apa itu? Mengapa dia muncul? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Berikut ini adalah opini saya.

Pertama harus dipahami dahulu bahwa ada perbedaan antara “revolusi industri ke-4” (fourth industrial revolution) dan “industri 4.0”. Revolusi industri mencakup berbagai aspek (domain) kehidupan, sementara industri 4.0 hanya spesifik ke dalam industri-nya sendiri. Revolusi industri ke-4 menunjukkan integrasi antara dunia nyata dan dunia siber. Internet of Things (IoT) dengan berbagai sensornya merupakan contoh integrasi kedua dunia tersebut. Mudah-mudahan penjelasan singkat ini dapat dipahami. Nanti akan saya uraikan lebih dalam lagi jika dibutuhkan.

Menurut opini saya, istilah “industri 4.0” ini sebetulnya muncul dari kekalahan Jerman dalam bidang industri oleh Tiongkok (China). Perlu diingat bahwa jaman dahulu produk-produk buatan Tiongkok memiliki kualitas yang buruk, sementara produk buatan Jerman memiliki kualitas yang sangat baik. Namun sekarang, Tiongkok mampu memproduksi produk dengan tingkat kualitas yang super baik. Maka istilah “industry 4.0” dikoinkan oleh Jerman untuk menunjukkan hal lain dari hanya sekedar membuat produk yang baik saja.

Apakah sebuah instansi (perusahaan, industri) telah mengadopsi industri 4.0? Seberapa jauh tingkat adopsinya? (Ini akan saya perbaharui pada tulisan selanjutnya.)

Materi Presentasi

Banyak yang tidak tahu bahwa salah satu pekerjaan utama saya adalah memberikan presentasi. Jika tidak saya batasi, maka mungkin setiap hari kerjaan saya adalah memberikan presentasi dari satu seminar ke seminar berikutnya. Percayalah bahwa setiap minggu saya menolak beberapa tawaran untuk presentasi.

Mungkin bagi sebagian besar orang memberikan presentasi adalah kesempatan, tetapi bagi saya ini adalah kesempitan. ha ha ha.

Saya sudah melakukan presentasi ini sejak kapan ya? Mungkin sejak tahun 1998? Jadi kalau sekarang dihitung, sudah lebih dari 21 tahun saya memberikan presentasi. Kalau dalam satu tahun ada 50 minggu (pendekatan) dan setiap minggu saya memberikan 2 presentasi, maka dalam 1 tahun ada 100 presentasi. Dalam kurun 20 tahun ada 2000 presentasi!

Banyak juga pengelola acara (organizer) yang meminta materi presentasi saya di depan. Nampaknya mereka tidak kenal saya dan belum pernah datang ke acara presentasi saya sehingga mereka khawatir bahwa presentasi saya sama dengan presentasi orang-orang yang lain; membosankan, tidak fokus pada topik yang diberikan, dan hal-hal lainnya. Padahal kalau saja mereka mau melakukan sedikit “riset” (misal melihat web saya dan membaca CV saya) mereka akan tahu bahwa saya sudah banyak memberikan presentasi dan semuanya (?) bagus-bagus. Do a little home work, please.

Materi presentasi saya biasanya bukan handout. Bentuknya lebih ke arah “lessig-style”, yaitu kata kunci (keywords) saja. Akibatnya kalau hanya melihat materi presentasinya, maka Anda tidak akan tahu presentasi saya. You have to be there. Ini memang sengaja saya desain seperti ini. Jika materi presentasi saya persis dengan apa yang saya katakan, maka para pendengar (kalau di kelas adalah mahasiswa) tidak akan mendengarkan karena mereka akan bilang nanti akan saya baca di rumah. (Yang mana ini juga tidak bakal kejadian karena sudah ada kegiatan lain yang menunggu.) Dengan kata lain, kalau Anda meminta materi presentasi saya, ya percuma.

Berikutnya lagi adalah ada banyak “kejutan” dalam materi presentasi saya. Biasanya saya suka melawak dalam presentasi saya. Jika lawakan saya ini kemudian diberikan kepada peserta (bahkan dicetak) sebelum acaranya, maka lawakan saya menjadi tidak lucu lagi. Faktor “surprise”-nya tidak ada. Itulah sebabnya saya tidak dapat memberikan materi presentasi di depan.

Masih banyak lagi alasan saya untuk tidak memberikan materi presentasi di depan, tetapi tulisan ini sudah kepanjangan dan mungkin Anda sudah bosan. Jadi, kalau mau melihat (mendengarkan) saya presentasi ya harus datang. Saya tidak membagi materi presentasi.

Untuk para organizer di luar sana, silahkan resapi tulisan saya ini sebelum Anda mengundang saya menjadi pembicara.

Data BUKAN Minyak Terbaru

Banyak orang yang mengatakan bahwa “data is the new oil“. (Saya belum menemukan terjemahan yang pas sehingga judul dari tulisan ini seperti ini.) Alasan yang digunakan mereka adalah data dapat diperjualbelikan dan bahkan katanya harganya mahal. Itulah sebabnya banyak layanan (umumnya di internet) yang gratis dengan menukarkan dengan data pribadi kita.

Saya tidak sependapat dengan analogi data dengan minyak, karena bagi saya analogi yang lebih cocok adalah data sama dengan sampah. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan.

  • Data kita hasilkan secara rutin. Ini sama dengan kita menghasilkan sampah setiap hari. Mulai dari sampah makanan kita, sampai ke sampah dari pekerjaan kita sehari hari. Kita juga menghasilkan data setiap hari. Sebagai contoh sekarang hampir setiap handphone memiliki kamera, maka setiap orang memotret apa saja. Yang tidak penting-pentingpun dipotret. Demikian pula banyak orang yang ikut di dalam group (misal WA group) yang isinya chatting tidak penting. (Sekali-sekali lihat chat anak2 di bawah SMA. Chatnya lucu-lucu. Yang kadang-kadang hanya 1 huruf saja. “P”. Kemudian dibalas “T”. Kemudian dibalas “K”. Ini adalah data yang sama dengan sampah.)
  • Sampah juga dapat memiliki nilai (value). Misalnya, sampah plastik dapat didaur ulang menjadi plastik kembali. Ada harganya. Itulah sebabnya ada orang yang pekerjaannya adalah mengumpulkan plastik bekas minuman kemasan. Namun secara umum sampah tidak diminati orang. Sama dengan data yang kita hasilkan, mungkin saja setelah diolah dia akan memiliki nilai. (Catatan: menurut pendapat saya ini sudah berubah dari data menjadi informasi.) Namun secara umum data yang kita hasilkan juga tidak diminati oleh orang lain.
  • Kita pusing dengan sampah. Bagaimana mengolah limbah sampah? Saya pun pusing dengan data yang ada di komputer saya. Di depan saya ada 5 harddisk yang sudah saya copot dari komputer. (Di komputernya masih ada 2 disk lagi.) Di dalamnya banyak data yang mirip dengan sampah; berkas-berkas yang saya unduh dari internet, foto-foto jepretan saya, lagu-lagu, materi presentasi, tugas mahasiswa, dan seterusnya.

Selain hal-hal di atas, masih banyak poin lain yang menunjukkan bahwa data itu lebih mirip dengan sampah.

Saya ambil contoh. Saya memiliki daftar nama mahasiswa yang mengambil kuliah saya saat ini. Itu data. Apakah ada nilainya? Jangan cepat-cepat mengatakan iya. Jika memang data ini ada nilainya, maka apakah Anda mau membelinya dengan harga Rp. 5 juta? Kemungkinan besar, tidak. Bagaimana jika Rp. 500 ribu? Kemungkinan juga tidak. Kalau Rp. 50 ribu. Mulai Anda mikir. Kalau Rp. 5 ribu? Mungkin Anda berminat (karena gorenganpun harganya seperti itu.) Mungkin Anda berminat karena ingin menjukkan bahwa data itu ada harganya, tetapi jujur saja. Untuk apa data itu bagi Anda? Data tersebut tidak ada nilainya. Atau nilainya sangat kecil. Sama dengan sampah.

one man junk is another man’s treasure

Demikianlah pendapat saya, bahwa “Data is the new junk“.

Oh ya, ada versi video dari opini saya ini di YouTube channel saya.

Gara-gara Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi ternyata bikin saya pusing. Begini. Saya kan menulis cerita tentang “Jek dan Sar” (linknya nanti saya pasang di sini). Cerita ini terhenti cukup lama. Tahunan. Terus apa hubungannya dengan teknologi?

Dalam cerita “Jek dan Sar” itu mereka berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Nah, jaman sekarang siapa yang menggunakan SMS? Anak-anak milenial pasti akan tertawa sampai sakit perut kalau masih ada orang berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Tidak masuk akal. Hanya teks saja dan bayar pula!

Kalau cerita saya itu mau kekinian, maka semuanya harus saya tulis ulang dengan menggunakan WA/Telegram (atau apapun program messaging yang sedang populer saat ini). Bahkan akan lucu kalau Jek dan Sar tidak saling kirim foto lewat Instagram, misalnya. Nah lho.

Kalau cerita saya tulis dengan setingan lama – jama SMS itu – maka saya yang pusing karena saya harus terbang ke waktu jaman itu. Beban ada di saya. Meskipun ini mungkin adalah pilihan yang paling logis. Toh cerita-cerita yang mengambil setingan waktu jaman dahulu pun masih tetap mungkin. Lah Dilan saja mengambil setingan waktu tahun 1990-an. Berarti saya saja yang kurang kreatif. Ha ha ha.

Jadi bagaimana bagusnya?

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Ada banyak teknologi “baru” yang muncul. Mereka disebut “emerging technologies”. Tidak semuanya akan sukses. Akan ada yang muncul dan kemudian menghilang, tetapi ada yang muncul dan membuat perubahan yang dahsyat dalam kehidupan kita.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI – saya akan menggunakan singkatan AI dalam tulisan ini) merupakan salah satu teknologi yang akan membuat perubahan yang dahsyat. Sebetulnya AI ini bukan teknologi yang baru karena awalnya sudah dimulai pada tahun 1950-an. Yang membuat dia menjadi “baru” adalah karena adanya inovasi-inovasi di bidang lain – (mikro)elektronika, komputer, jaringan, storage, database, cloud computing – maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan oleh AI menjadi masalah yang nyata. Dahulu dia hanya dapat memecahkan masalah mainan (dolanan) saja.

Dampak yang ditimbulkan oleh AI mirip (atau lebih hebat?) dari dampak yang ditimbulkan oleh mekanisasi / otomatisasi. Pekerjaan-pekerjaan yang rutin dan membosankan akan digantikan oleh mesin yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan. Akibatnya lapangan pekerjaan yang dahulu menggunakan manusia akan tergerus. Akan ramai ini. Untuk poin ini saya tidak ingin membuatnya menjadi isyu yang keras karena nanti akan ada alergi kepada AI. Padahal kita harus menguasai AI sebelum AI menguasai kita atau AI produk dari negara lain yang menguasai kita.

Sejauh mana AI akan merasuk ke dalam kehidupan kita? Nampaknya saya harus membuat tulisan – atau video – yang lebih rinci lagi bahasannya. Mencari waktu …

Rajin Futsal

Saya termasuk yang rajin futsal. Terlalu rajin, bahkan. Seminggu saya futsal tiga kali; Senin, Rabu, dan Sabtu. Masing-masing itu waktunya 2 jam. Hal ini sudah saya lakukan selama belasan tahun.

Alasan utama saya rajin futsal adalah untuk kesehatan. Semakin berusia saya harus memaksakan diri berolahraga. Futsal ini salah satu olah raga yang cocok bagi saya karena dia olah raga rame-rame. Kalau olah raga sendirian, misal jalan atau lari di thread mill, jadi malas. Akhirnya berhenti berolahraga. Memang pemilihan jenis olahraganya ya cocok-cocokan. Saya cocok dengan futsal.

Banyak orang yang tidak berolahraga dan mencari banyak alasan; capek, jauh tempatnya, hujan, tidak punya uang, dan sejuta alasan lainnya. Kalau mau dicari, ya akan selalu ada alasannya. Memang bagian yang terberat bagi olah raga adalah memaksakan diri pergi ke tempat olah raganya.

Karena tujuannya adalah untuk kesehatan, maka dalam bermain futsal saya tidak mencari prestasi. Mau kalah atau menang, tidak penting itu. Yang penting adalah hadir dan bersemangat. Nah, soal semangat itu banyak anak muda yang kurang atau hilang semangat ketika kalah dalam bermain. Saya tidak. Kalau mau diadu, maka saya akan menang dalam hal semangat. Soalnya di aspek lain, skill misalnya, pastilah saya kalah dengan yang lebih muda. Tapi soal semangat, saya masih bisa menang. Ha ha ha. Jadi bisa dipastikan saya yang paling semangat di tim.

Mau sehat? Ya harus berusaha. Futsal adalah salah satu upaya saya untuk sehat.

Sudah Lama Ku Tak Menangis

Menangis. Seseorang dapat menangis karena kesedihannya. Orang dapat juga menangis karena bahagia. Menangis katanya juga merupakan obat.

Beruntungkah orang yang tak pernah menangis?

Bagi saya ada beberapa lagu yang membuat saya menangis. Menjadi mellow. Baru kali ini saya mendengarkan lagu dari Payung Teduh dengan serius. Eh, nemu lagu yang aransemennya bagus banget di YouTube. Mendengarkan lagu ini langsung saya menjadi menangis. Menangis karena berterimakasih atas banyak karunia yang saya dapati. (Interpretasi lirik yang berbeda.)

Di hari Jum’at ini, saya bersyukur kepada Allah swt yang telah berbaik hati kepada saya. Ya, Allah, terimalah cinta hambaMu ini.

Update: dan khotbah Jum’at kali ini pun membahas bahwa kita harus banyak-banyak bersyukur atas karunia yang kita terima. Lho, kok bisa pas banget. There’s no such thing as coincidence.

Update lagi: Jadi ingin melanjutkan cerpen Jek and Sar. hi hi hi. Jangan nagih saya soal yang ini ya.