Punten … Permisi …

Bangsa Indonesia dikenal sebagai sebagai bangsa yang penuh dengan sopan santun. Eh, ini masih ya? Atau ini jaman dahulu? Mungkin ini bukan hanya Indonesia saja ya? Katanya sih ini salah satu karakteristik orang “Timur”.

Tinggal di luar negeri dalam waktu yang cukup lama, saya melihat bahwa budaya sopan santun (basa basi?) ternyata tidak dimonopoli oleh bangsa Timur saja, tetapi juga oleh orang Barat juga. Di Kanada, orang sangat sopan santun. Kalau pagi-pagi ketemu orang – yang tidak kita kenalpun – pasti dia akan bilang “Good morning“. Tapi ini mungkin juga Kanada yang memang dikenal banyak sopan santunnya. Bahkan salah satu guyonannya, kalau di Kanada ada maling masuk rumah dan ketahuan oleh yang punya rumah maka sang maling akan ditegur, “I am sorry, maybe you are in the wrong house?” ha ha ha.

Kembali ke topik utama, soal sopan santun. Saya melihat anak muda sekarang mulai kehilangan karakter itu. Sebagai contoh, saya melihat banyak anak muda yang kalau jalan dia tidak peduli dengan sekitarnya. Kalau ada pintu yang kita bukakan dan kita pegang (budaya Barat nih), dia tidak mengucapkan terima kasih. Lewat aja. Excuse me? Kalau ada orang-orang pun dia lewat aja.

Saya membiasakan diri untuk sopan. Ketika melewati orang – tua atau muda – saya selalu berusaha untuk mengatakan “Punten” (ini bahasa Sunda yang artinya “Permisi”). Gesture seperti ini harus diajarkan kepada generasi muda (yang tua juga sih). Itulah sebabnya saya merasa perlu untuk menuliskan topik ini.

Sudahkah Anda mengatakan “Punten” (Permisi) hari ini?

Iklan

Kopi

Banyak yang mungkin belum percaya kalau saya ini penggemar kopi. Maklum, di blog ini saya jarang menuliskan soal kopi. Dahulu saya ragu untuk menulis tentang kopi karena saya tidak tahu apa yang akan saya tuliskan. (Padahal untuk topik lain juga kondisinya sama. ha!) Tapi akhirnya saya putuskan untuk menuliskan tentang kopi juga.

Di Facebook, saya sering menampilkan foto-foto tentang kopi. Jadinya banyak orang yang tahu saya suka kopi. Akibatnya, saya sering mendapatkan kopi. Pokoknya bervariasilah kopi yang saya terima. Berikut ini beberapa contoh foto kopi yang baru-baru ini saya terima.

DSC_0008 kopi_0001
Kopi RukunRakun

DSC_9119 kopi_0001//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Selamat menikmati kopi.

Merakit Kode Besar

Sudah lama saya tidak merakit (compile) kode yang cukup besar sehingga menghabiskan waktu yang cukup lama. Kemarin saya merakit kode Tensorflow dari source code karena paket yang sudah jadi tidak sempurna jalannya di notebook saya. Terpaksa harus merakit ulang.

Eh, ternyata proses kompilasi membutuhkan waktu yang lama. Setelah 3 jam tidak kunjung berhenti, akhirnya saya tinggal main futsal dahulu. Pulang main futsal baru selesai. Saya tidak tahu tepatnya kapan selesainya, tetapi berarti antara 3 sampai dengan 6 jam. Ajegilebusyet.

Terakhir saya melakukan proses kompilasi yang lama (seingat saya) adalah di awal tahun 90-an. Waktu itu saya merakit kernel Linux dari source code di komputer dengan prosesor 386SX berkecepatan 16 MHz. Memorinya waktu itu di bawa 2 MBytes. Jadul banget ya? Dibandingkan handphone saat ini, komputer saya waktu itu tidak ada apa-apanya.

Proses kompilasi kemarin dilakukan di notebook yang menggunakan prosesor i3 dengan memori hanya 2 GBytes. Notebooknya sampai tidak responsif saking kerja kerasnya dia. ha ha ha. Kasihan juga sih, tapi apa boleh buat. Itu yang saya miliki. Tidak boleh mengeluh. (Anak muda zaman now maunya harus menggunakan komputer yang high-end. Gak mau kerja kalau tidak menggunakan komputer yang bagus. hi3. Ini saya contohkan bahwa sayapun masih menggunakan komputer apa adanya.)

Alhamdulillah hasil perakitan berjalan. Coba kalau tidak jalan. Wah. Harus merakit jam-jaman lagi. Ugh. (Dahulu kalau salah konfigurasi, hasil perakitan kernel tidak jalan. Harus merakit ulang. Dapat dibayangkan kesabaran yang harus saya lalui.)

Selamat ngoprek.

Verifikasi NIK dan KK

Mumpung sedang ramai-ramainya dibahas tentang pendaftaran ulang nomor kartu telepon prabayar, mari kita diskusikan aspek teknis. Kesempatan untuk belajar “protokol”.

Ceritanya kita sebagai pengguna diminta untuk mengirimkan NIK dan KK melalui SMS ke 4444. Saya punya masalah dengan mengirimkan KK. Mengapa harus mengirimkan KK? Permasalahannya adalah operator jadi memiliki KK kita. Untuk apa? Seharusnya kita berikan informasi secukupnya saja. Sesedikit mungkin. Ini masalah privasi. Pertanyaannya adalah bagaimana cara operator dapat memastikan bahwa NIK yang kita kirimkan itu benar (terasosiasi dengan KK)?

Berikut ini adalah video yang saya buat (beberapa menit yang lalu). Sekalian nyoba nge-vlog agar kekinian. hi hi hi.

Selamat menikmati videonya. Semoga bisa menjadi sumber pembelajaran.

Update: Ini ada cuplikan dari berita. Di gerai bisa akses KK; diberikan data NIK, keluar KK-nya. Parah. Ini seharusnya tidak boleh karena data KK kemudian dapat dikumpulkan.

NIK KK

Update lagi: berikut ini adalah tampilan layar papan tulis (whiteboard) ketika saya mengajar network security di kelas.

P_20171108_084040 NIK KK//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

P_20171108_090635 NIK KK//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

P_20171108_092802 NIK KK//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Menjadi Blogger

Tanggal 27 Oktober kemarin adalah hari blogger nasional. Dampaknya apa ya? Soalnya banyak teman-teman blogger saya yang sudah tidak ngeblog lagi. Alasannya banyak, tetapi umumnya adalah alasan klasik, sibuk. hi hi hi.

Saya pun punya masalah dengan kesibukan. Edun lah sibuknya, tetapi tetap berusaha ngeblog karena ini merupakan salah satu cara saya untuk belajar menulis. Ide ada banyak, tetapi waktu yang tidak ada. Ini saja sudah gagal ngeblog beberapa hari (minggu) ke belakang. Semoga saya dapat lebih sering ngeblog lagi ah.

Jangan Menilai Dengan Kacamata Sendiri

Banyak orang – mungkin sebagian besar orang? – menilai atau mengukur orang lain dengan kacamatanya sendiri. Masuk akal sih. Habis, mau mengukur dengan apa? Hmm … Okelah, tetapi saya melihat ada banyak masalah dengan pendekatan ini.

Kalau saya menilai orang lain dengan kacamata saya, maka saya akan frustrasi sendiri karena kok jauh dari standar yang saya terapkan. Saya bukan seorang yang perfectionist, tetapi memang punya standar yang tinggi untuk berbagai hal. Sebagai contoh, kalau belajar ya saya belajar serius sekali. Serius di sini maksudnya bukan duduk di depan meja dan tidak peduli kepada hal lain, tetapi lebih ke menekuninya dengan hati. Maka saya kesal kalau melihat orang yang ngasal belajarnya. Tidak sesuai dengan standar saya.

Demikian pula saya adalah orang yang “multi dimensional” (for the lack of better words). Maksudnya saya menekuni berbagai bidang sekaligus; komputer, musik, olah raga, bisnis, entrepreneurship, pendidikan, kepemimpinan, dan seterusnya, dan seterusnya. Maka orang lain akan salah dalam menilai saya karena mereka hanya menilai dari satu dimensi saja. Sebagai contoh, yang tahunya saya di bidang pendidikan maka tahunya hanya saya sebagai dosen (banyak kuliah yang saya ajar dan saya sangat rajin dalam mengajar) dan peneliti (banyak penelitian saya lho – mahasiswa bimbingan saya juga banyak). Orang yang tahu kesibukan saya di bidang pendidikan tidak tahu kesibukan saya di bidang lain. Maka mereka akan tidak percaya kalau saya juga sibuk (dan berprestasi) di bidang olah raga, musik, bisnis, dst. dst. dst.

Inilah yang saya maksud dengan menilai orang lain dengan kacamata sendiri. Akan sulit menilai saya secara keseluruhan karena model yang ada di kebanyakan orang adalah satu dimensi.

Itulah sebabnya saya juga jarang (hampir tidak pernah?) menilai orang lain karena saya paham bahwa kacamata saya pasti tidak cocok untuk menilainya.

Minta Materi Presentasi?

Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima adalah permintaan materi presentasi (slide) dari berbagai presentasi saya. Maklum, saya (terlalu) sering memberi presentasi.

Sebetulnya tanpa diminta juga biasanya slide presentasi saya bagikan di slideshare atau di web pribadi saya. Kalau belum ada di sana biasanya adalah karena belum sempat melakukan upload saja. (Atau ada bagian dari materi presentasi yang perlu dihapus dulu, karena terlalu sensitif atau mengandung rahasia, sehingga membutuhkan usaha dan waktu untuk melakukannya. Lebih lama lagi.) Saya senang berbagi.

Iseng saja. Untuk yang sering minta materi presentasi, seberapa sering sih ada memberi materi presentasi ke orang lain (ke saya, misalnya)? hi hi hi. Sekedar ngecek saja. Jangan hanya sering meminta tapi jarang – atau bahkan tidak pernah – memberi.

Jadi kapan mau memberi materi presentasi?