Jangan Menilai Dengan Kacamata Sendiri

Banyak orang – mungkin sebagian besar orang? – menilai atau mengukur orang lain dengan kacamatanya sendiri. Masuk akal sih. Habis, mau mengukur dengan apa? Hmm … Okelah, tetapi saya melihat ada banyak masalah dengan pendekatan ini.

Kalau saya menilai orang lain dengan kacamata saya, maka saya akan frustrasi sendiri karena kok jauh dari standar yang saya terapkan. Saya bukan seorang yang perfectionist, tetapi memang punya standar yang tinggi untuk berbagai hal. Sebagai contoh, kalau belajar ya saya belajar serius sekali. Serius di sini maksudnya bukan duduk di depan meja dan tidak peduli kepada hal lain, tetapi lebih ke menekuninya dengan hati. Maka saya kesal kalau melihat orang yang ngasal belajarnya. Tidak sesuai dengan standar saya.

Demikian pula saya adalah orang yang “multi dimensional” (for the lack of better words). Maksudnya saya menekuni berbagai bidang sekaligus; komputer, musik, olah raga, bisnis, entrepreneurship, pendidikan, kepemimpinan, dan seterusnya, dan seterusnya. Maka orang lain akan salah dalam menilai saya karena mereka hanya menilai dari satu dimensi saja. Sebagai contoh, yang tahunya saya di bidang pendidikan maka tahunya hanya saya sebagai dosen (banyak kuliah yang saya ajar dan saya sangat rajin dalam mengajar) dan peneliti (banyak penelitian saya lho – mahasiswa bimbingan saya juga banyak). Orang yang tahu kesibukan saya di bidang pendidikan tidak tahu kesibukan saya di bidang lain. Maka mereka akan tidak percaya kalau saya juga sibuk (dan berprestasi) di bidang olah raga, musik, bisnis, dst. dst. dst.

Inilah yang saya maksud dengan menilai orang lain dengan kacamata sendiri. Akan sulit menilai saya secara keseluruhan karena model yang ada di kebanyakan orang adalah satu dimensi.

Itulah sebabnya saya juga jarang (hampir tidak pernah?) menilai orang lain karena saya paham bahwa kacamata saya pasti tidak cocok untuk menilainya.

Iklan

8 pemikiran pada “Jangan Menilai Dengan Kacamata Sendiri

  1. iya benar kadang kalau dipandang dari kacamata diri sendiri seseorang jauh dari yang selalu Kita terapkan….Tetapi itu kan tergantung dari Dia yang mengatur hidupnya……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s