Menghadapi Orang Kalah dan Marah

Kalah itu tidak menyenangkan. Tidak ada orang yang senang kalau kalah. Kalau kalah pasti kesel. Maunya marah-marah. Nah bagaimana menghadapi orang yang kalah dan marah ini?

Misalnya Anda bermain sepak bola. Tim Anda menang (dan tentunya tim satunya kalah). Apa yang Anda lakukan? Melakukan selebrasi sah-sah saja, tetapi kalau berlebihan? Priiiit. Kartu kuning.

Apa yang Anda lakukan melihat lawan Anda yang terduduk. Menangis. Bahkan marah?

Jika Anda berjalan ke depannya dan mengatakan “saya menang, kamu kalah”, apa yang akan terjadi? Berantemlah jadinya. Memang apa yang Anda katakan itu adalah fakta, tetapi ini bukanlah waktu yang tepat.

Jadi apa yang Anda lakukan? Berempati. Pahami bahwa lawan Anda sedang bersedih (dan bahkan marah). Rangkullah mereka. Bantulah mereka untuk melewati kegalauan ini. Give them comforts.

Sportif!


Iklan

Pentingnya Web KPU Bagi Kita Semua

Belakangan ini ada banyak opini, ajakan, tulisan yang salah. Ajakannya adalah untuk merusak web KPU. Wah ini salah sekali. Lebih salah dari salah.

Begini …

Pertama – dan yang paling utama – adalah hasil pemilihan umum yang resmi adalah hasil perhitungan secara manual. Titik. Itu dulu yang kita pegang. Hasil lain – apapun – tidak ada dasar hukumnya. Dahulu saya ingin agar data elektronik hasil pemilu dapat dianggap sah, tetapi landasan hukumnya tidak ada. Kami meneliti e-Voting. Sudah ada banyak mahasiswa S2 dan S3 saya yang meneliti di bidang ini. Namun secara hukum, untuk pemilu, ya sah adalah perhitungan manual.

Lantas apa hubungannya dengan web KPU? Kalau web KPU dirusak, ya tidak ada pengaruhnya. Lah yang dihitung adalah perhitungan manual. Iya, kertas yang kita coblos itu. Itu yang sahnya. Lha mbok data di web KPU mau diubah seperti apapun ya bakalan tidak pengaruh.

Kedua, justru web KPU itu kita butuhkan untuk memastikan bahwa KPU kerjanya benar. Kita dapat menguji apakah data yang ada di KPU sama dengan data yang ada di TPS kita. Kesalahan memasukkan data dapat terjadi. Perhatikan bahwa para petugas-petugas di lapangan bekerja keras, berjibaku menunaikan tugasnya. Bahkan ada yang bertugas lebih dari 24 jam. Kelelahan. Tentu saja ada kemungkinan salah menghitung atau salah melakukan data entry. Maka keberadaan web KPU dan kejelian mata kita untuk mendeteksi kesalahan dan melaporkannya kepada mereka. Itu akan menjadi umpan balik (feedback) bagi mereka untuk melakukan check & recheck.

Kalau web KPU dirusak, maka kita tidak punya kesempatan untuk ikut mengawasi. Upaya merusak web KPU itu menurut saya merupakan kejahatan kriminal yang harus dipidana. Maka menjaga web KPU merupakan tugas kita semua. Tugas seluruh warga Indonesia. Bagi yang melakukan pengrusakan, cabut saja kewarganegaraannya! Jika Anda melihat orang yang melakukan pengrusakan web KPU, tegur dan/atau laporkan ke Polisi. Sanggupkah kita melakukan tugas ini? Bersama-sama, kita pasti bisa! Mosok tidak bisa sih? Malu-maluin. Sini …

Khusus untuk Pemilu 2019, link kepada hasil perhitungan (sementara) ada link berikut ini. (Gunakan untuk memantau hasilnya ya. Jangan dirusak.)

https://pemilu2019.kpu.go.id/#/ppwp/hitung-suara/

sumber gambar


Marah atau Tertawa

Ini kejadiannya kemarin. Seperti biasa, Sabtu sore saya main futsal. Kemarin pun demikian. Saya berangkat seperti biasa. Sampai di tempat futsal, saya cari-cari sepatu saya. Ternyata lupa bawa. Hadoh. Kaos bawa, sepatu tidak. Kok bisa ya?

Bagaimana saya menyikapi kejadian seperti ini? Saya bisa marah, tapi bisa juga tertawa. Pilih mana? Saya pilih tertawa saja. HA HA HA. Saya menertawakan diri sendiri. Kenapa kok sampai lupa? ha ha ha. Maka saya pun kembali pulang. Entah kenapa – mungkin karena saya tertawa – maka lalu lintas pun terasa tidak ramai. Bolak balik – ke rumah dan ke tempat futsal lagi – ternyata super lancar. Belum pernah selancar ini. Sampai tempat futsal masih sebelum waktunya main. Whoa. Alam berkolaborasi dengan saya.

Ada banyak kejadian yang serupa yang disikapi banyak orang dengan marah-marah. Biasanya marah kepada orang lain, bukan kepada diri sendiri. Kejadian yang saya alami tadi, yang saya jadikan contoh, memang sangat mudah untuk ditertawakan. Ada banyak kejadian lain yang lebih sulit situasinya. Maka untuk memilih tertawa lebih susah, tapi bisa. Tentu saja ini menurut saya.

Jadi Anda pilih marah-marah atau tertawa?

Belajar Kalah

Kebanyakan orang tidak mau kalah. Atau lebih tepatnya tidak mau belajar menerima kekalahan. Maunya menang terus. Memang tidak ada orang yang senang kalau kalah, tetapi kalah adalah bagian dari kehidupan yang perlu dilalui juga.

Saya ambil contoh di lingkungan olah raga sekitar saya saja. Ketika kita bermain sepak bola atau futsal, maka kita ingin tim kita anggotanya yang hebat-hebat saja. Padahal ada anggota yang masih baru belajar bermain. Mereka kita singkirkan. Kita tidak mau mereka bagian dari tim kita. Alasannya adalah kemungkinan kalah akan sangat besar dengan keberadaan mereka. Untuk yang seperti ini, saya tidak terlalu mempermasalahkan anggota tim. Yang penting adalah bisa bermain bersama-sama. Mungkin ini karena tujuan saya adalah untuk mencari kesenangan, bukan mencari prestasi.

Contoh lain, begitu tim kita kalah – misal tim olah raga – maka pertandingan berikutnya ada yang tidak hadir. Sudah pasti kalah, mengapa perlu hadir? Mereka lupa bahwa ini adalah kegiatan bersama – team work. Bahwa kehadiran untuk mendukung acara itu lebih penting dari menang kalah. Begitu juga ketika sedang bermain dan kalah, maka patah semangatlah. Sementara itu justru saya tetap bersemangat bermain. Karena hanya semangatlah yang saya miliki.

Ketika kita pernah merasakan (sakitnya) kalah, maka ketika kita menang kita tidak sombong. Tidak jumawa. Berempati terhadap yang kalah. Bolehlah menunjukkan kesenangan, tetapi jangan berlebihan. Normal saja.

“You got to lose to know how you win”

(Aerosmith – Dream On)

Media Sosial Bukan Tempat Diskusi Serius

Perkembangan teknologi informasi menghasilkan produk (dan servis) yang luar biasa. Salah satu hasilnya adalah media sosial. Karena namanya ada kata “sosial”nya maka saya berasumsi bahwa itu adalah tempat untuk kita bersosialisasi. Salah satunya mungkin bisa jadi tempat untuk berdiskusi serius. Ternyata saya salah.

Media sosial ternyata tidak mampu untuk menjadi tempat diskusi secara serius. Coba saja kita bahas tentang Lapindo, misalnya. Ini salah satu topik berat. Pasti langsung sepi. Krik, krik, krik. Cari topik serius lainnya lagi, masalah pendidikan. Hasilnya juga bakalan sama. Sepi.

Kalau topiknya yang hahaha hihihi … langsung ramai.

Nampaknya memang media sosial itu seperti warung kopi, tempat ngobrol ngalor ngidul. Jangan berharap akan melakukan diskusi seperti seminar di kampus-kampus.

Tersadarlah saya. Apakah Anda masih pingsan?

Grab vs. Go-Jek

Akhir-akhir ini saya perhatikan lebih banyak pengendara Grab dibandingkan dengan Go-Jek. Ini saya lihat dari atribut yang mereka gunakan; helm dan jaketnya. Apa benar demikian? Apakah ini hanya terlihat di daerah yang saya lalui saja, yaitu antara Taman Pahlawan Bandung sampai ke ITB?

Akhirnya beberapa hari lalu saya mulai menghitung jumlah pengendara Grab dan Gojek. Hari pertama menghitung hasilnya adalah 26 pengendara Grab dan 12 pengendara Go-Jek. Hari berikutnya hampir sama juga. Grab ada sekitar dua kali lipat dibandingkan Go-Jek.

Dua hari yang lalu saya di Jakarta dan mencoba mencari Go-Jek untuk ke statsiun Gambir. Ternyata tidak ditemukan. Aplikasinya muter terus. Saya tidak punya Grab. Untungnya ada yang membantu saya dengan mencarikan Grab. Setelah 10 menit, dapatlah Grab.

Mengapa Grab lebih (terlihat) banyak? Kata orang, diskon Grab saat ini sedang gila-gilaan. Lebih banyak diskonnya dibandingkan dengan Go-Jek. Dengan kata lain, harganya lebih murah. Jadi itukah yang membuat saya melihat lebih banyak Grab dibandingkan Go-Jek? Apakah ini akan bertahan? Bagaimana di tempat Anda?


Kesulitan Kerja Remote: Disiplin

Kemajuan teknologi informasi membuat orang dapat bekerja dari jarak jauh. Remote worker. Seseorang tidak perlu berada secara fisik di kantor, tetapi dapat mengerjakan tugas-tugas kantor yang harus dikerjakan. Secara teknis, tidak ada masalah yang signifikan. Tentu saja ada hal rinci yang harus dikerjakan atau dibereskan, tetapi ini ada solusinya.

Yang menjadi masalah adalah etos kerja. Disiplin. Setelah saya perhatikan ternyata banyak orang (mungkin malah sebagian besar?) orang Indonesia sulit memiliki disiplin dalam bekerja. Jangankan bekerja dari jarak jauh. Bekerja secara fisik di kantor pun sudah memiliki masalah.

Salah satu ujian yang saya berikan (meskipun tidak secara eksplisit saya katakan bahwa ini ujian) adalah kehadiran di kantor untuk 3 bulan pertama. Biasanya untuk pekerja baru, mahasiswa kerja praktek / magang, dan sejenisnya, saya haruskan mereka hadir setiap hari ke kantor. Ini untuk mengajari tentang disiplin. Jika disiplin ini sudah ada, maka bekerja di tempat lain merupakan langkah selanjutnya.

Ternyata hanya untuk hadir secara rutinpun sudah menjadi masalah. Seminggu rajin, minggu-minggu berikutnya mulai berat. Bulan kedua mulai terlihat mana yang memiliki disiplin dan mana yang tidak / belum.

Jadi, saya masih belum yakin bahwa bekerja dari jarak jauh (remote worker) akan dapat dilakuan di Indonesia. Ini pendapat umum. Tentu saja ada yang bisa. Di tempat saya, ada banyak yang memang dapat bekerja secara remote.