Materi Presentasi

Dalam tulisan sebelumnya (“Minta Materi Presentasi“), saya menunjukkan banyaknya permintaan akan materi presentasi saya. Materi presentasi saya umumnya dapat diperoleh di berbagai tempat (slide share, web saya, dan panitia acara). Yang belum saya ceritakan adalah bahwa materi presentasi saya mungkin kurang bermanfaat jika dibaca saja tanpa hadir di acaranya. Mengapa demikian? Karena yang saya tampilkan dalam slide saya biasanya hanya poin utamanya tanpa ada pembahasan.

Saya menganut paham bahwa materi presentasi hanyalah pendukung dari sebuah presentasi. Hal yang utama adalah sang presenter sendiri. Apa yang dia ceritakan dan seterusnya. Jadi fokus dari sebuah presentasi adalah sang presenternya sendiri.

Akibat dari paham seperti ini, maka materi presentasi saya isinya hanya poin yang ingin saya sampaikan. Misalnya slide saya hanya berisi kata-kata “Sejarah Artificial Intelligence“. Itu saja. Pada presentasinya saya sesungguhnya, saya akan bercerita panjang lebar. Jika Anda hanya membaca slide saya itu saja tanpa berada di tempat presentasi maka Anda akan kehilangan banyak pemahaman dan makna yang ingin saya sampaikan.

Kalau ada slide yang hanya berisi tulisan “Sejarah Artificial Intelligence”, apa yang ada di kepala Anda? Apa yang dapat Anda peroleh dari slide itu?

Dengan kata lain, slide saya tanpa kehadiran di tempat presentasinya mungkin kurang bermanfaat. Ini seperti sebuah buku yang hanya berisi “Daftar Isi” saja. ha ha ha.

Begitu.

Iklan

Indonesia Darurat Menulis

(Hampir) setiap minggu, di kantor kami ada acara sesi berbagi dimana topik yang ditampilkan sangat bervariasi. Minggu lalu saya mengangkat topik “Menulis”. Ini adalah sedikit cerita tentang itu, meskipun judulnya agak sedikit bombastis.

menulisSebagai seorang dosen, salah satu pekerjaan saya adalah memeriksa tugas mahasiswa. Tugas yang saya berikan kebanyakan adalah membuat makalah. Menulis. Hasilnya? Sudah dapat ditebak, sangat tidak memuaskan. Ternyata mahasiswa Indonesia tidak dapat menulis! Hadoh.

Di luar kampus, saya terlibat dalam berbagai perusahaan (yang umumnya bernuansa teknologi). Lagi-lagi saya melihat sulitnya mencari sumber daya manusia yang dapat menulis. Padahal salah satu aspek utama di dalam perusahaan adalah adanya tulisan; antara lain berupa proposal, laporan pekerjaan, paten, dan seterusnya. Bahkan salah satu bottleneck di perusahaan kami adalah penulisan laporan.

Menulis itu pada dasarnya adalah menyampaikan gagasan kepada pembaca. Ada beberapa kata kunci di sana. Yang pertama adalah pembaca. Kita harus tahu siapa yang akan membaca tulisan kita. Untuk tulisan yang terkait dengan urusan akademik, pembacanya adalah peneliti lain atau dosen penguji. Untuk tulisan yang terkait dengan bisnis, pembacanya adalah calon klien (bohir). Untuk tulisan di majalah atau surat kabar, pembacanya adalah orang awan. Untuk tulisan dalam buku cerita anak-anak, pembacanya adalah anak-anak. Dan seterusnya.

Perbedaan pembaca inilah yang membuat tulisan kita juga berbeda-beda. Untuk tulisan yang akademik, adanya rumus matematik merupakan hal yang penting (dan menguntungkan bagi penulis). Sementara itu jika tulisan yang akan kita berikan ke surat kabar ternyata ada rumus matematiknya, kemungkinan besar akan ditolak.

Kata kunci kedua adalah gagasan. Apa yang ingin kita sampaikan? Seringkali ada banyak gagasan yang ingin dituangkan sekaligus. Hasilnya? Ya membingungkan. Batasi gagasan yang ingin kita sampaikan. Biasanya maksimal dalam satu tulisan ada tiga (3) gagasan. Lebih dari itu sebaiknya dipecah menjadi beberapa tulisan saja.

Kata kunci ketiga adalah menyampaikan. Bagaimana cara menyampaikannya lagi-lagi terkait dengan media yang digunakan oleh pembaca. Jika medianya adalah jurnal akademik, maka cara penyampaiannya juga sanga formal dan bahkan harus sesuai dengan standar yang ada. Seringkali mahasiswa tidak mengetahui hal ini. Ketika ditanya “mengapa format judul seperti itu” mereka tidak dapat menjawab. Kalaupun menjawab adalah karena perkiraan mereka atau karena melihat yang lain, tapi mau mencaritahu standar yang sesungguhnya digunakan.

Demikian pula ketika kita menulis di surat kabar, maka ada tata cara penyampaiannya. Ada batasan jumlah kata yang diperkenankan dalam satu artikel. Penggunaan bahasanya pun juga lebih luwes.

Menulis merupakan sebuah kemampuan (skill) yang harus dilatih. Dia harus dilatih secara rutin dan sering. Ketika kita memulai latihan menulis, pasti kualitasnya jelek. Namanya juga baru latihan. Sama seperti kalau kita mulai belajar naik sepeda. Tidak bisa langsung bisa. Ada jatuh bangunnya. Demikian pula dalam menulis. Maka salah satu pekerjaan rumah (PR) yang saya berikan kepada peserta kemarin (dan Anda juga) adalah berlatih menulis SETIAP HARI. (Terpaksa itu saya tulis dalam huruf besar dan cetak tebal.) Mari kita menulis satu paragraf setiap hari. Mari kita mulai dari kuantitas dahulu. Setelah itu tercapai, barulah kita bicara soal kualitas.

Ada satu hal lagi yang harus dibahas, yaitu penggunaan Bahasa Indonesa yang baik dan benar. Ah, ini sebaiknya menjadi topik yang terpisah. Sudah terlalu banyak gagasan yang ingin saya sampaikan. Nah.

Menulis Secara Rutin

Dalam bimbingan (mentoring) kemarin, saya mengingatkan kembali kepada mahasiswa mentoring saya untuk menulis secara rutin. Topik yang ditulis bebas saja dan formatnyapun juga bebas. Untuk yang ingin menulis thesis, disertasi, dan sejenisnya harus dibiasakan menulis yang agak formal karena bahasa tulisan buku-buku tersebut memang harus formal. Ada penggunaan kata-kata yang tidak lazim dalam buku tersebut.

Untuk yang sedang membuat usaha – start-up – maka topik tulisannya juga berbeda. Topik tulisannya lebih singkat tetapi dapat lebih informal. Media yang digunakannyapun sekarang lebih banyak menggunakan media sosial. Bahkan media seperti instagram dan twitter tidak cocok untuk tulisan yang panjang lebar. Tulisannya harus singkat, padat, dan mudah dipahami. Bahkan kadang harus lucu. Melanggar aturan bahasapun diperkenankan.

Blog merupakan media pertengahan. Dia dapat digunakan untuk hal yang formal maupun yang informal. Tulisan di blogpun dapat lebih panjang dari media sosial lainnya.

Yang menjadi masalah dalam hal menulis secara rutin adalah keteguhan. Kemauan. Seringkali yang dipermasalahkan adalah “apa yang mau ditulis?”. Nah, kalau ini adalah masalah kreativitas. Ini dapat dilatih. Cara paling gampang adalah melakukan brainstorming dengan menuliskan topik-topik di secarik kertas. Mosok tidak bisa menuliskan tiga topik? Pasti bisalah. Setelah itu, coba cari 10 topik. (Ini belum menuliskannya tetapi baru memilih topiknya saja. Mudah kan?) Tapi, ya itu dia, mau berlatih atau tidak.

Kalau alasan tidak ada waktu, itu sih alasan klasik. Itu alasan saya! Sudah saya klaim duluan. Anda tidak boleh pakai alasan itu. [meringis]

Tim FIFA 18 Murah Meriah

Seperti kebanyakan orang, saya juga menyukai game FIFA 18. Lagi-lagi seperti kebanyakan orang (?), saya tidak terlalu jago dalam memainkan pertandingannya. Kalahlah sama anak-anak, yang lebih paham menggunakan joystick. Sementara itu saya juga tidak punya banyak uang (uang beneran atau uang coin-nya FIFA) untuk dibelanjakan membeli pemain. Jadi pertanyaannya adalah bisakah kita membuat sebuah tim FIFA 18 yang murah meriah?

Jawaban singkatnya adalah BISA!

Sebelum ke detailnya, perlu saya jabarkan dulu yang saya maksudkan dengan “murah meriah”. Definisi saya adalah pemainnya memiliki harga tidak lebih dari 1000 koin.

Tentu saja ada banyak kemungkinan yang dapat kita peroleh karena harga pemain di FIFA 18 bervariasi dari mulai 150 sampai ratusan ribu (dan jutaan?). Kalau harga pemainnya kemurahan, maka kualitasnya kurang bagus dan nanti kita bisa frustasi sendiri memainkannya. Kalau harganya mahal, kita tidak punya uang. Jadi kita cari yang pertengahan.

Setelah batasan harga, batasan kedua yang saya gunakan adalah kecepatan (pace | PAC) dari pemain kita. Salah satu kelemahan dari FIFA 18 adalah kalau pemain kita lambat dalam berlari, tewaslah dia. Apapun kehebatan lainnya, kalau dia tidak bisa lari ya percuma. (Tentu saja ada pengecualian, tetapi umumnya begitu.) Maka salah satu kriteria saya adalah kalau bisa kecepatan berlari pemain adalah di atas 80. Yang paling asyik adalah kalau kecepatan larinya di atas 90.

Berikutnya lagi adalah masalah fisik. Sebetulnya ini boleh jadi tidak terlalu penting, tetapi jika pemain kita memiliki fisik yang gampang lelah maka dia harus cepat diganti. Akibatnya kita harus punya banyak pemain penggani. Mahal lagi. Belum lagi ada batasan 3 orang pengganti dalam satu pertandingan. Kalau lebih dari 3 pemain yang sudah lelah bagaimana? Tewaslah kita. Nah, kalau bisa fisiknya mendekati 80 lah.

Satu faktor lagi yang penting adalah chemistry. Kita boleh saja memiliki pemain yang hebat-hebat tetapi jika tidak memiliki chemistry yang baik nantinya bakalan sulit memainkannya. Banyak operan bola yang salah, tidak sampai, atau dipotong. Maklum pemainnya saling tidak mengerti. Soal chemistry nanti akan saya bahas lagi.

Hasilnya akhirnya adalah ini. Saya kan tuliskan pemainnya satu persatu.

fifa18-cheapplus

Sebelum sampai ke tim seperti itu, saya melalui “jalur lain” dulu, yaitu ke tim yang pemainnya lebih bagus tetapi chemistry sangat buruk. Maklum, pemain-pemain tersebut berasal dari negara yang berbeda dan liga yang berbeda. Sebagai contoh, penjaga gawang tadinya saya menggunakan Hradecky (83), tetapi dia tidak memiliki chemistry yang bagus dengan center back (CB) yang lainnya. Penjaga gawang lainnya yang saya miliki juga tidak memiliki kemungkinan chemistry yang baik dengan pemain lainnya, akhirnya saya pilih Gomes saja meskipun dia hanya level 80.

Akhirnya saya putuskan untuk mencoba menggunakan pemain-pemain dari Brazil semua. Saya korbankan pemain yang lebih bagus skill-nya untuk mendapatkan chemistry yang lebih baik (dan tetap menjaga batasan yang saya berikan di atas). Hasilnya tidak mengecewakan.

  • Penjaga Gawang (GK): Gomes (80)
  • LB: Dalbert (77)
  • CB:  Felipe (82)
  • CB: Diego Carlos (79)
  • RB: Michel Macedo (76)
  • LM: Taison (82)
  • CM: Fred (80)
  • CM: Allan (81)
  • RM: Felipe Anderson (RW/81)
  • ST: Adriano (75)
  • ST: Soares (79)

Selamat mencoba tim ini. Setelah itu, kita bisa tingkatkan kualitasnya dengan membeli pemain-pemain lain. Tentu saja setelah kita mendapat lebih banyak koin dari hasil bermain atau jual beli pemain.

Pembenaran 5 Detik

Sebenarnya yang kita cari dalam berdiskusi atau debat adalah pembenaran, bukan kebenaran. Kita mencari apa atau siapa yang dapat mendukung atau membenarkan pendapat kita. Kita mencari persetujuan.

Itu pula yang terjadi di media sosial. Kita mencari pembenaran atau persetujuan dari orang-orang dalam bentuk “like” (atau sejenisnya). Bagaimana orang bisa memberikan persetujuan dengan akal sehat kalau dia baru membaca (atau melihat) tulisan kita dan 5 detik kemudian menyatakan setuju dengan memberikan “like”? Coba cek, berapa waktu yang kita butuhkan untuk memberikan “like” di media sosial?

Jadi jangan dulu senang kalau banyak yang menyukai (like) tulisan atau foto Anda. Secara, 5 detik gitu lho.

Berita Yang Terlalu Wah

Coba perhatikan berita yang muncul di media massa konvesional; baik yang berbentuk cetak maupun online. (Online seperti detik.com sudah saya anggap sebagai media konvensional.) Berita yang ditampilkan umumnya terlalu wah. Yang saya maksudkan dengan “wah” di sini adalah terlalu dibesar-besarkan.

Bagaimana saya tahu ini? Saya tahu karena ada berita yang saya tahu aslinya dan yang ditampilkan terlalu wah. Misalnya, si Fulan jagoan ini dan itu. Padahal saya tahu si Fulan ini biasa-biasa saja. Saya duga si Fulan tidak berniat untuk menyombongkan diri atau membesar-besarkan. Medialah yang melakukannya. Berita lain yang sejenis adalah startup ini luar biasa. Padahal saya tahu ada banyak yang lebih hebat tetapi tidak muncul di media. Jangan salah, saya suka berita yang bagus. Good news. Tetapi yang tidak saya suka adalah berita yang tidak benar. Berita yang terlalu dibesar-besarkanpun menurut saya bukan berita benar.

Pada awalnya saya tidak terlalu peduli, tetapi kalau ini dibiarkan terus menerus maka apa jadinya dunia jurnalisme Indonesia? Apakah ini didorong oleh bisnis? Bahwa berita yang heboh lebih menarik sehingga lebih banyak dibaca dan akhirnya dapat dijual kepada pihak yang tertarik untuk pasang iklan. Uang yang berbicara. Parah.

Sekarang saya lebih suka dan lebih mengandalkan berita yang ditulis oleh orang bisa. Citizen journalism. Tadinya saya mengira bahwa media massa konvensional masih akan mendominasi. Setidaknya, mendominasi bahan bacaan saya. Ternyata sekarang tidak. Berita dari orang biasa memang masih harus dipertanyakan juga keabsahannya. Take it with a grain of salt, kata orang Barat. Sekarang berita dari media konvensionalpun tidak dapat diandalkan keabsahannya.

Artinya kita harus belajar untuk membedakan mana berita atau tulisan yang sesungguhnya dan mana yang sudah penuh dengan bumbu.

Ada MSG?

Memperhatikan Lingkungan

Dalam sebuah wawancaa saya ditanya mengenai bagaimana cara saya mendapatkan ide-ide atau memprediksi sebuah teknologi atau kesempatan bisnis. Jawaban singkat saya adalah banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Yang saya maksudkan banyak membaca adalah membaca apa saja. Untuk bidang teknologi saya sering membaca majalah IEEE dan mendengarkan ulasan teknologi di berbagai sumber berita. (Membaca di sini juga termasuk melihat dan mendengar.) Untuk yang melihat, saya jarang nonton TV Indonesia karena saya tidak mendapatkan nilai tambah. Coba sebutkan channel TV yang banyak membahas teknologi.

Untuk dunia bisnis saya senang menonton TV berita luar negeri. Biasanya sering sekali dibahas soal tenologi terbaru dan kemungkinan bisnisnya. Untuk bahan bacaan, lebih menarik membaca majalah bisnis ketimbang membaca koran Indonesia. Lagi-lagi, perhatikan koran Indonesia yang isinya berita negatif semua.

Ketika membaca, melihat, dan mendengar, saya mencoba memperhatikan ini utamanya. Kemudian saya mencoba mengarang, melihat jauh ke depan. Tidak perlu jauh-jauh melihatnya, melihat satu dua langkah ke depan saja. Ternyata kemampuan ini tidak banyak dilatih oleh banyak orang.

Perhatikan pengemudi atau pengendara motor di Indonesia ini. Kebanyakan – atau mungkin sebagian besar? – hanya melihat apa yang ada di depannya saja. Dia tidak mencoba melihat situasi di depan kendaraan yang ada di depan dia. Dengan kata lain, untuk melihat satu (atau dua ya?) langkah ke depan dia sudah tidak berminat. Maka kemampuan untuk memprediksi situasi di jalanpun rendah. Ketika kendaraan kita berhenti, maka klakson di belakang mulai berbunyi. Dia tidak melihat kenapa kita berhenti. Padahal di depan kita ada kendaraan lain yang juga berhenti. Dengan hanya sedikit usaha, dia bisa tahu. Analogi melihat ke depan dalam dunia teknologi dan bisnispun mirip seperti itu.

Nah, untuk saat ini saya melihat beberapa topik menarik seperti Blockchain, Internet of Things (IoT), dan Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning. Dari mana saya tahu ini? Ya dari banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.