Tim FIFA 18 Murah Meriah

Seperti kebanyakan orang, saya juga menyukai game FIFA 18. Lagi-lagi seperti kebanyakan orang (?), saya tidak terlalu jago dalam memainkan pertandingannya. Kalahlah sama anak-anak, yang lebih paham menggunakan joystick. Sementara itu saya juga tidak punya banyak uang (uang beneran atau uang coin-nya FIFA) untuk dibelanjakan membeli pemain. Jadi pertanyaannya adalah bisakah kita membuat sebuah tim FIFA 18 yang murah meriah?

Jawaban singkatnya adalah BISA!

Sebelum ke detailnya, perlu saya jabarkan dulu yang saya maksudkan dengan “murah meriah”. Definisi saya adalah pemainnya memiliki harga tidak lebih dari 1000 koin.

Tentu saja ada banyak kemungkinan yang dapat kita peroleh karena harga pemain di FIFA 18 bervariasi dari mulai 150 sampai ratusan ribu (dan jutaan?). Kalau harga pemainnya kemurahan, maka kualitasnya kurang bagus dan nanti kita bisa frustasi sendiri memainkannya. Kalau harganya mahal, kita tidak punya uang. Jadi kita cari yang pertengahan.

Setelah batasan harga, batasan kedua yang saya gunakan adalah kecepatan (pace | PAC) dari pemain kita. Salah satu kelemahan dari FIFA 18 adalah kalau pemain kita lambat dalam berlari, tewaslah dia. Apapun kehebatan lainnya, kalau dia tidak bisa lari ya percuma. (Tentu saja ada pengecualian, tetapi umumnya begitu.) Maka salah satu kriteria saya adalah kalau bisa kecepatan berlari pemain adalah di atas 80. Yang paling asyik adalah kalau kecepatan larinya di atas 90.

Berikutnya lagi adalah masalah fisik. Sebetulnya ini boleh jadi tidak terlalu penting, tetapi jika pemain kita memiliki fisik yang gampang lelah maka dia harus cepat diganti. Akibatnya kita harus punya banyak pemain penggani. Mahal lagi. Belum lagi ada batasan 3 orang pengganti dalam satu pertandingan. Kalau lebih dari 3 pemain yang sudah lelah bagaimana? Tewaslah kita. Nah, kalau bisa fisiknya mendekati 80 lah.

Satu faktor lagi yang penting adalah chemistry. Kita boleh saja memiliki pemain yang hebat-hebat tetapi jika tidak memiliki chemistry yang baik nantinya bakalan sulit memainkannya. Banyak operan bola yang salah, tidak sampai, atau dipotong. Maklum pemainnya saling tidak mengerti. Soal chemistry nanti akan saya bahas lagi.

Hasilnya akhirnya adalah ini. Saya kan tuliskan pemainnya satu persatu.

fifa18-cheapplus

Sebelum sampai ke tim seperti itu, saya melalui “jalur lain” dulu, yaitu ke tim yang pemainnya lebih bagus tetapi chemistry sangat buruk. Maklum, pemain-pemain tersebut berasal dari negara yang berbeda dan liga yang berbeda. Sebagai contoh, penjaga gawang tadinya saya menggunakan Hradecky (83), tetapi dia tidak memiliki chemistry yang bagus dengan center back (CB) yang lainnya. Penjaga gawang lainnya yang saya miliki juga tidak memiliki kemungkinan chemistry yang baik dengan pemain lainnya, akhirnya saya pilih Gomes saja meskipun dia hanya level 80.

Akhirnya saya putuskan untuk mencoba menggunakan pemain-pemain dari Brazil semua. Saya korbankan pemain yang lebih bagus skill-nya untuk mendapatkan chemistry yang lebih baik (dan tetap menjaga batasan yang saya berikan di atas). Hasilnya tidak mengecewakan.

  • Penjaga Gawang (GK): Gomes (80)
  • LB: Dalbert (77)
  • CB:  Felipe (82)
  • CB: Diego Carlos (79)
  • RB: Michel Macedo (76)
  • LM: Taison (82)
  • CM: Fred (80)
  • CM: Allan (81)
  • RM: Felipe Anderson (RW/81)
  • ST: Adriano (75)
  • ST: Soares (79)

Selamat mencoba tim ini. Setelah itu, kita bisa tingkatkan kualitasnya dengan membeli pemain-pemain lain. Tentu saja setelah kita mendapat lebih banyak koin dari hasil bermain atau jual beli pemain.

Iklan

Pembenaran 5 Detik

Sebenarnya yang kita cari dalam berdiskusi atau debat adalah pembenaran, bukan kebenaran. Kita mencari apa atau siapa yang dapat mendukung atau membenarkan pendapat kita. Kita mencari persetujuan.

Itu pula yang terjadi di media sosial. Kita mencari pembenaran atau persetujuan dari orang-orang dalam bentuk “like” (atau sejenisnya). Bagaimana orang bisa memberikan persetujuan dengan akal sehat kalau dia baru membaca (atau melihat) tulisan kita dan 5 detik kemudian menyatakan setuju dengan memberikan “like”? Coba cek, berapa waktu yang kita butuhkan untuk memberikan “like” di media sosial?

Jadi jangan dulu senang kalau banyak yang menyukai (like) tulisan atau foto Anda. Secara, 5 detik gitu lho.

Berita Yang Terlalu Wah

Coba perhatikan berita yang muncul di media massa konvesional; baik yang berbentuk cetak maupun online. (Online seperti detik.com sudah saya anggap sebagai media konvensional.) Berita yang ditampilkan umumnya terlalu wah. Yang saya maksudkan dengan “wah” di sini adalah terlalu dibesar-besarkan.

Bagaimana saya tahu ini? Saya tahu karena ada berita yang saya tahu aslinya dan yang ditampilkan terlalu wah. Misalnya, si Fulan jagoan ini dan itu. Padahal saya tahu si Fulan ini biasa-biasa saja. Saya duga si Fulan tidak berniat untuk menyombongkan diri atau membesar-besarkan. Medialah yang melakukannya. Berita lain yang sejenis adalah startup ini luar biasa. Padahal saya tahu ada banyak yang lebih hebat tetapi tidak muncul di media. Jangan salah, saya suka berita yang bagus. Good news. Tetapi yang tidak saya suka adalah berita yang tidak benar. Berita yang terlalu dibesar-besarkanpun menurut saya bukan berita benar.

Pada awalnya saya tidak terlalu peduli, tetapi kalau ini dibiarkan terus menerus maka apa jadinya dunia jurnalisme Indonesia? Apakah ini didorong oleh bisnis? Bahwa berita yang heboh lebih menarik sehingga lebih banyak dibaca dan akhirnya dapat dijual kepada pihak yang tertarik untuk pasang iklan. Uang yang berbicara. Parah.

Sekarang saya lebih suka dan lebih mengandalkan berita yang ditulis oleh orang bisa. Citizen journalism. Tadinya saya mengira bahwa media massa konvensional masih akan mendominasi. Setidaknya, mendominasi bahan bacaan saya. Ternyata sekarang tidak. Berita dari orang biasa memang masih harus dipertanyakan juga keabsahannya. Take it with a grain of salt, kata orang Barat. Sekarang berita dari media konvensionalpun tidak dapat diandalkan keabsahannya.

Artinya kita harus belajar untuk membedakan mana berita atau tulisan yang sesungguhnya dan mana yang sudah penuh dengan bumbu.

Ada MSG?

Memperhatikan Lingkungan

Dalam sebuah wawancaa saya ditanya mengenai bagaimana cara saya mendapatkan ide-ide atau memprediksi sebuah teknologi atau kesempatan bisnis. Jawaban singkat saya adalah banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Yang saya maksudkan banyak membaca adalah membaca apa saja. Untuk bidang teknologi saya sering membaca majalah IEEE dan mendengarkan ulasan teknologi di berbagai sumber berita. (Membaca di sini juga termasuk melihat dan mendengar.) Untuk yang melihat, saya jarang nonton TV Indonesia karena saya tidak mendapatkan nilai tambah. Coba sebutkan channel TV yang banyak membahas teknologi.

Untuk dunia bisnis saya senang menonton TV berita luar negeri. Biasanya sering sekali dibahas soal tenologi terbaru dan kemungkinan bisnisnya. Untuk bahan bacaan, lebih menarik membaca majalah bisnis ketimbang membaca koran Indonesia. Lagi-lagi, perhatikan koran Indonesia yang isinya berita negatif semua.

Ketika membaca, melihat, dan mendengar, saya mencoba memperhatikan ini utamanya. Kemudian saya mencoba mengarang, melihat jauh ke depan. Tidak perlu jauh-jauh melihatnya, melihat satu dua langkah ke depan saja. Ternyata kemampuan ini tidak banyak dilatih oleh banyak orang.

Perhatikan pengemudi atau pengendara motor di Indonesia ini. Kebanyakan – atau mungkin sebagian besar? – hanya melihat apa yang ada di depannya saja. Dia tidak mencoba melihat situasi di depan kendaraan yang ada di depan dia. Dengan kata lain, untuk melihat satu (atau dua ya?) langkah ke depan dia sudah tidak berminat. Maka kemampuan untuk memprediksi situasi di jalanpun rendah. Ketika kendaraan kita berhenti, maka klakson di belakang mulai berbunyi. Dia tidak melihat kenapa kita berhenti. Padahal di depan kita ada kendaraan lain yang juga berhenti. Dengan hanya sedikit usaha, dia bisa tahu. Analogi melihat ke depan dalam dunia teknologi dan bisnispun mirip seperti itu.

Nah, untuk saat ini saya melihat beberapa topik menarik seperti Blockchain, Internet of Things (IoT), dan Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning. Dari mana saya tahu ini? Ya dari banyak membaca dan memperhatikan lingkungan.

Harus Ada Manfaat

Surat kabar Pikiran Rakyat hari Minggu (18 Februari 2018) memuat wawancara dengan saya. Ini dia fotonya. (Halaman 16)

photo6073164107248413151

Topik wawancaranya bervariasi, tetapi utamanya dimulai dari seputar pemanfaatan media sosial. Contoh-contoh pertanyaannya antara lain adalah sejak kapan saya mengenal media sosial, media sosial apa saja yang saya gunakan, dan seterusnya. Tentang blog ini juga dibahas.

Satu point utama saya adalah apapun yang saya kerjakan harus memiliki manfaat. Blog ini juga harus memiliki manfaat. Kalau dia hanya menceritakan atau mencatatkan (log) kegiatan sehari-hari saya tanpa manfaat sih itu “kepo aja”. he he he. Untuk apa juga orang tahu ini itu yang terkait dengan saat. Tidak manfaat. Setiap topik yang dibahas dalam blog ini harus memiliki manfaat bagi pembacanya.

Mengutarakan manfaat juga tidak harus kaku dan serius. Nanti malah tidak sampai pesannya. Bagaimana caranya? Itu dia yang masih terus saya pelajari.

Jadi apa manfaat tulisan ini? Bahwa semua harus ada manfaatnya. Lah jadi mbulet begini. Rekursif.  hi hi hi.

Semangat: Karena Hanya Itu Yang Kumiliki

Saya senang bermain futsal dan sepak bola. Khususnya untuk futsal, saya boleh dibilang suka sekali. Secara rutin saya bermain futsal dua kali seminggu, masing-masing 2 jam. Ini sudah saya lakukan sejak … hmm … lupa berapa tahun yang lalu. (5? 7? 10? Lupa. Pokoknya sudah lama sekalilah.) Alasan saya tetap tekun berolahraga futsal ini adalah untuk menjaga kesehatan. Tetapi tulisan ini bukan tentang itu.

Ketika bermain futsal, biasanya saya bermain dengan yang usianya lebih muda dari saya. Bahkan seringkali usia mereka dikali dua pun masih lebih muda dari usia saya. ha ha ha. Namun dari cara bermain mereka ada perbedaan yang mendasar.

Saya sadar bahwa saya kalah skill dari banyak orang. Yang saya miliki hanya semangat (dan biasanya juga stamina). Yang SERING SEKALI (sampai pakai huruf besar dan bold) saya lihat adalah anak muda cepat sekali kehilangan semangat. Kalau bermain dan pada posisi kalah, lantas hilang semangatnya. Pernah suatu kali di sebuah pertandingan, tim saya ketinggalan 0-4 di babak pertama untuk kemudian memenangkan pertandingan dengan skor 8-5. Masalahnya ya itu, begitu mereka disamakan kedudukan langsung hilang semangat mereka. Bubar jalanlah.

Skill dan stamina sangat sulit menjaga. Apalagi dengan bertambahnya usia. Tetapi, semangat? Ini tidak ada batasan usia.

Semangat atau hilang semangat itu menular. Jika kita bersemangat, maka yang lain terbawa bersemangat juga. Seringkali saya belum main dan tim mainnya buruk sekali. Begitu saya masuk dan menjadi bagian dari penyerang, permainan tim kami menjadi bagus sekali. Bahkan sering saya ikut menghasilkan gol. (Saya sering masuk ke jajaran top scorer, yang saya sendiri tidak mengerti kenapa kok bisa.) Padahal – sekali lagi – soal skill saya kalah jauh dari lawan main dan kawan-kawan satu tim. Saya sendiri sebetulnya tidak menyadari hal ini sampai salah seorang anggota tim mengatakan ini. Oh iya ya.

Sementara itu seringkali jika ada anggota tim yang hilang semangat, klemar kelemer, maka pemain lain pun akhirnya menjadi tidak semangat. Permainan tim langsung menjadi buruk juga. Bahkan ada pemain yang kalau pada posisi kalah, langsung mutung.  Keluar. Bahkan pulang duluan. Mental pecundang!

Saya tahu, hanya semangat yang saya miliki. Semangat tidak membutuhkan modal apa-apa, hanya keinginan diri untuk bersemangat saja.

Hal ini juga ternyata berlaku di luar lapangan. Dalam kehidupanpun demikian. Bersemangatlah dalam hidup. Apapun situasinya, bersemangatlah.

Jokowi dan 2019

Sesekali saya menemukan tulisan atau pertanyaan tentang bagaimana kans Jokowi menjadi presiden kembali di tahun 2019. Jawabannya tentu saja bergantung kepada siapa yang ditanya. ha ha ha. Secara, Indonesia begitu lho. Menjawab tanpa data. Itu yang pertama. Yang kedua adalah, mengapa sih tahun 2019 diributkan? Ini saja baru masuk ke tahun 2018. Bukannya lebih baik memikirkan tahun 2018? Tapi baiklah. Saya akan coba membuat opini saya. Tentu saja opini ini datang dari pengamat yang bukan bergerak di bidang ilmu Politik. Take it with a grain of salt.

Kalau saya ditanya tentang peluang Jokowi terpilih kembali pada tahun 2019 dengan kondisi saat ini, maka jawaban saya adalah bakal gagal. (Sebelum saya dituduh ini dan itu, saya sampaikan dahulu bahwa saya termasuk yang mendukung Jokowi menjadi presiden. Nah.) Lho?

Mengapa kok tidak bisa terpilih kembali? Bukankah sekarang ada kemajuan di banyak hal, khususnya di bidang infrastruktur? Jawaban saya adalah justru itu masalahnya! Maksudnya bagaimana sih?

Begini, infrastruktur di banyak tempat di Indonesia ini – khususnya di luar pulau Jawa – banyak yang terabaikan. Sekarang ada banyak pembangunan di sana sini sehingga luar pulau Jawa tidak lagi “dianaktirikan”. (To Do: data dan statistik tentang berbagai pembangunan tersebut perlu ditautkan di sini.) Permasalahannya adalah pembangunan ini membutuhkan dana yang luar biasa. Pasti menyedot banyak kas negara. Akibatnya semua warga negara harus memikul biaya ini.

Masalahnya adalah tidak semua orang Indonesia – khususnya yang berada di pulau Jawa – mau berbagi dengan penduduk di luar pulau Jawa. Mereka akan memikirkan dirinya sendiri. Sebagai contoh, ada perbandingan tentang harga bensin sekarang dan beberapa tahun yang lalu. Jika kita melihat harga di pulau Jawa, maka bisa dilihat bahwa harga naik. Tetapi kalau dilihat harga di Papua, misalnya, akan terlihat turun. Bagi orang yang berada di pulau Jawa – yang vokal dan jumlahnya banyak – peduli amat dengan Papua. Harga apa lagi yang dapat diperbandingkan ya? [Ada beberapa meme yang sudah beredar. Seperti misalnya “penak jamanku toh?”]

Penduduk Indonesia masih terfokus di pulau Jawa. Pemilupun akan didominasi dari suara di pulau Jawa. Dimana-mana juga, tempat yang populasinya padatlah yang menentukan hasil pemilihan suara. Itulah sebabnya jika masalah persepsi ini tidak ditangani, maka kans Jokowi di 2019 akan kecil.

Subsidi dikurangi. Selain BBM, biaya listrik contohnya. Bagi masyarakat yang sudah biasa ngempeng,  ini merupakan pukulan. Mereka masih tetap ingin seperti bayi. Tidak ingin dewasa kalau dilihat dari soal subsidi ini. Maka persepsi semuanya menjadi mahal menjadi bertambah. Padahal mereka tidak melihat perbaikan infrastruktur dan kemudahan-kemudahan yang sekarang mereka peroleh. Growing up is never easy.

Intinya: persepsi masalah ekonomi yang dilihat oleh penduduk pulau Jawa.

Oh ya, sekalian untuk pak Jokowi. Jangan hanya bangun infrastuktur saja pak. Suprastruktur juga harus dibenahi. Tapi yang lebih penting adalah manusianya yang harus dibenahi. (Apakah “Revolusi Mental” masih berjalan?) Banyak inisiatif yang “merendahkan” kemampuan manusia Indonesia. Patronizing. Semua harus disuapi. Dan sejenisnya. Yang ini tentu saja lebih susah dibenahi daripada infrastruktur fisik. Tapi, masalah infrastruktur yang sulit juga bisa dibenahi mengapa yang ini juga tidak dicoba?

Kembali ke soal pembangunan infrastruktur, siapa “Bapak Pembangunan” Indonesia? Yep. Itulah sebabnyak banyak orang yang khawatir pak Jokowi akan menjadi “Bapak Pembangunan Kedua”. Seingat saya ada karikatur yang dibuat oleh Kompas atau Tempo ya yang menampilkan hal ini? (Karikatur yang sama sempat saya lihat di sebuah presentasi tentang politik Indonesia di sebuah seminar di Australia.)

[Tulisan ini sudah lama ingin saya buat tetapi selalu tidak jadi saya lakukan karena saya membutuhkan data yang lebih banyak. Namun data tersebut tidak kunjung saya cari. ha ha ha. Akibatnya tidak jadi ditulis terus. Lha kapan jadinya. Ya sudah. Saya buat versi ini dulu yang nanti akan saya perbaharui dengan data dan analisis yang lebih baik. Oh ya, ini bukan parodi. Ini opini. Just in case you are wondering.]