Membaca Isyarat

Kalau diperhatikan, nampaknya banyak orang yang tidak mampu membaca isyarat. Ada pesan yang tersurat (yang diutarakan atau ditulis secara langsung) dan ada pesan yang tersirat (yang tidak langsung tertulis).

Contoh ekstrimnya sih ketika kita berkendaraan. Kita sudah memberikan tanda belok ke kiri, eh ada saja kendaraan (biasanya motor) yang nyelonong dari kiri untuk jalan terus. Ya ampun. Apa dia tidak “membaca” isyarat tersebut? Ini yang sudah jelas-jelas terlihat. Padahal ada isyarat lain yang tidak dikatakan secara langsung, misalnya ketika kita memperlambat kendaraan. Ada sesuatu. Misal, ternyata di depan kita ada kendaraan lain yang lebih lambat sehingga kita juga harus memperlambat. Yang seperti ini lebih sukar untuk “dibaca”.

Apa penyebab ketidakmapuan membaca isyarat ini ya? Saya menduga ini terkait dengan pendidikan. Siswa terlalu banyak “disuapi” sehingga tidak berusaha untuk belajar sendiri. Semua tanda-tanda dikatakan secara langsung sehingga siswa tidak dapat mengembangkan naluri untuk membaca sendiri.

Pernah saya contohkan juga dalam tulisan di blog ini tentang perbedaan cara orang Indonesia dan orang Barat dalam bercerita. Untuk mengutarakan “menunggu lama sekali” dalam film, terlihat perbedaannya. Di film Indonesia, sang aktor akan berdiri dan berkata “aku menunggu lama sekali”. Sementara dalam film Barat, sang aktor tidak berkata-kata tetapi di depannya ada asbak dan setumpuk puntung rokok. (Meskipun sekarang akan berbeda karena rokok dianggap politically incorrect.) Ini hanya sebagai contoh saja. Mungkin karena dibiasakan seperti ini, maka orang Indonesia menjadi kurang mampu membaca isyarat.

Nah, yang lebih parah lagi adalah “membaca isyarat” dalam tulisan. Itulah sebabnya sering terjadi kesalahpahaman dan keributan di media sosial karena masalah ketidakmapuan membaca isyarat ini. Ada tulisan yang sebetulnya mengatakan “A”, tetapi menjadi dibaca “B”.  Yang sudah terlihat secara fisik saja sudah susah, apalagi yang hanya dalam bentuk tulisan. Emoticons dan emoji sedikit membantu, tetapi masih susah untuk menjabarkan makna sebenarnya.

Jadi harusnya bagaimana? Mungkin memang kita harus mengubah pelajaran yang ada dan teknik penyampaiannya. Wah, ini sih perjalanan panjang. Memang. Tidak ada jalan pintas untuk mengubah sebuah kebudayaan. Atau, kita mau tetap seperti ini?

Adil

Pernahkah engkau merasakan keadilan?

Jadi ceritanya saya melihat banyak orang yang berteriak-teriak tentang keadilan. Dalam hati saya bertanya, pernahkah mereka merasakan keadilan? Lupakan soal definisi keadilan dahulu. Gunakan nurani dahulu untuk mendefinisikannya. Jangan-jangan mereka belum pernah merasakan atau bahkan melihat keadilan.

Di Indonesia, banyak orang berebut di jalan. Demikian pula di berbagai layanan, ada banyak yang tidak ingin antri. Mengapa? Dugaan saya adalah karena mereka khawatir tidak mendapat giliran. Dengan kata lain, tidak mendapatkan keadilan. Jika mereka yakin bahwa ada keadilan, pasti mereka akan kebagian. Bahwa akan tiba datangnya giliran saya, maka saya bisa bersabar.

Kalau saya sudah menunggu, kemudian ada orang menyela dan malah dia yang dilayani dahulu, maka saya merasa tidak adil. Maka saya tidak akan membiarkan orang lain mendahului saya. Saya pun tidak akan memberikan mengalah atau memberikan giliran kepada orang lain, karena nantinya saya malah tidak mendapat giliran.

Dalam mengemudi, saya termasuk yang banyak mengalah. Memberi jalan bagi orang lain. Sering kali orang yang saya beri jalan malah bingung, karena biasanya orang lain tidak memberi jalan. Demikian pula saya sering ketawa (meringis lebih tepatnya) dengan orang yang “memberi lampu dim” untuk minta jalan. Apalagi yang berkali-kali memberi lampu dim itu. Seolah-olah berkata, “Awaaasss … saya mau jalan”. Ha ha ha. Tanpa diberi lampu pun saya sudah biasa memberi jalan. Anda / dia bukan lawan saya. Mengapa perlu dihalang-halangi? Toh saya akan mendapat giliran juga. Adil.

Keadilan justru lebih mudah dilihat di luar negeri. Di negeri yang sudah maju tentunya. Di negeri itu, kita akan mendapat keadilan sesuai dengan apa yang kita lakukan. Tidak perlu khawatir tidak kebagian.

Benar juga kata sebagian orang bahwa masalah yang ada ini mungkin dapat dipecahkan dengan piknik ke luar negeri. ha ha ha. Tentunya maksudnya belajar dari luar negeri. Ambil kebiasaan atau budaya baiknya. Jangan malah membawa kebiasaan buruk kita ke luar negeri. ha ha ha. Perhatikan bagaimana keadilan terjadi di sana.

Maka, mulailah terbayang apa yang disebut dengan “adil”.

Tidak Membalas Komentar

Secara umum, kebijakan saya di blog ini dari dahulu sampai sekarang masih tetap sama: “tidak membalas komentar“. Padahal kalau membalas komentar, maka akan lebih banyak interaksi dan lebih menarik. Nilai blognya lebih tinggi. Tetapi saya masih tetap bertahan dengan pakem itu. Mengapa?

Kalau saya membalas semua komentar, maka habis deh waktu saya hanya untuk membalas komentar-komentar. Banyak komentar yang dapat dibalas oleh pembaca lainnya. Ini juga untuk menunjukkan bahwa saya bukan serba tahu.

Tentu saja ada pengecualian. Ada komentar-komentar yang memang membutuhkan jawaban yang dapat bermanfaat bagi pembaca lainnya. Sementara itu belum ada orang yang menuliskan balasan itu. Nah, untuk hal-hal semacam ini biasanya saya membalas komentar.

Di lingkungan media sosial, hal ini lebih relevan lagi. Tidak semua komentar di media sosial pantas untuk ditanggapi. Ada orang yang menulis komentar secara sembarangan. Marah-marah pula. Kalau ditanggapi, tambah marah-marah. Apalagi kalau dia kita kritik. Banyak orang yang mengkritik, tetapi tidak mau (tidak siap) dikritik. ha ha ha. Tidak ada pelajaran positif yang dapat diambil dari hal ini. Lebih baik diamkan saja. Tidak usah ditanggapi komentarnya.

Oh ya, saya membaca (hampir) semua komentar di blog ini.

Hindari Kebiasaan Mencela

Salah satu biang keributan adalah mencela seseorang. Orang yang dicela tidak terima dan balik mencela. Cela-mencela. Akhirnya jadi baku hantam. Atau, setidaknya berkelahi di media sosial. Kebencian ini juga akhirnya terbawa ke dunia nyata.

Kalau dicari-cari, pasti setiap orang memiliki kelemahan dan kesalahan. Namanya juga manusia. Bukan malaikat. Maka apa hebatnya mencela? Kalau monyet bisa bicara, mungkin mereka akan menertawakan kita karena kebisaan kita hanya mencela. (Kalau pandai memanjat pohon, mungkin monyet akan kagum. he he he.)

Dari kebiasaan muncul kebudayaan. Akan sangat menyedihkan kalau yang dikenal orang dari budaya Indonesia adalah budaya mencela. Banyak bangsa yang menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Nah, kita mosok hanya menghasilkan kebudayaan mencela. Ini juga nanti tercatat lho seperti halnya kebudayaan bangsa jaman dahulu yang tercatat dalam artifak-artifak sejarah; prasasti, candi, dan bahkan dalam  landmark-landmark. Malu ah.

Hentikan kebiasaan mencela!

Kalau ada yang mencela atau mengajak kita mencela atau bahkan sekedar mengajak kita tertawa dalam celaannya, tinggalkan. Tidak lucu.

Masa Depan Industri Mikroelektronika

Menebak masa depan bukanlah hal yang mudah. Orang yang hebatpun sering salah dalam memprediksi. Saya sendiri pernah “beruntung” menebak masa depan beberapa teknologi dengan baik karena kebetulan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pula. (I was in the right place and the right time.) Sebuah keberuntungan.

Sebagai contoh, saya mengenal World Wide Web (WWW) sejak pertama kali dibuat oleh Tim Berners-Lee. Kebetulan pada saat itu saya harus bekerja menggunakan NeXT computer. Pada saat yang sama, di Swiss, Tim Berners-Lee juga menggunakan komputer NeXt untuk mengembangkan WWW-nya. Saya sempat katakan bahwa WWW memiliki masa depan yang cerah, tetapi orang-orang tidak percaya karena waktu itu sedang musimnya protokol / aplikasi “Gopher”. Untuk membuktikannya, saya membuat halaman tentang Indonesia yang pertama. (The Indonesian homepage.)

Hal yang sama juga terjadi dengan Linux. Pada masa itu saya membutuhkan sistem operasi UNIX untuk komputer di rumah. Di kampus / kantor saya menggunakan Sun Microsystem untuk pekerjaan dan penelitian saya. Di rumah saya hanya punya komputer berbasis Intel. UNIX yang ada saat itu adalah SCO UNIX yang mahal dan Minix (yang entah kenapa kurang sreg). Ternyata di Finlandia ada seorang mahasiswa yang sedang berusaha membuat sebuah sistem operasi yang mirip UNIX. Saya jadinya ikut ngoprek juga. Ternyata asyik. Saya ngajakin teman-teman buat perusahaan pendukung Linux, tetapi pada sibuk sekolah semua. Akhirnya kami tidang ngapa-ngapain. Muncullah RedHat.

Nah, saya punya perasaan yang sama tentang Internet of Things (IoT) ini. Ini adalah masa depan.

Ketika saya berbicara dengan orang-orang pembuat perangkat keras, manufakturing elektronika dan mikroelektronika, kebanyakan masih mengarah kepada produk SIM card (smartcard). Dapat dipahami karena pasar SIM card di Indonesia saja ada lebih dari 500 juta unit pertahunnya. Sebuah pasar yang sangat besar. Maka akan sangat sulit untuk membujuk mereka untuk berubah haluan.

Kalau kita perhatikan lebih lanjut perangkat IoT ini, tidak ada yang menggunakan SIM card. Komunikasi antar perangkat ini sekarang kebanyakan menggunakan WiFi. Ke depannya apakah akan tetap menggunakan WiFi? atau Bluetooh (BLE)? Zigbee? LoRa? Yang pasti nampaknya bukan yang berbasis seluler. (Halo perusahaan seluler. Siap-siap menurun.)

photo559633135318444158

Komponen utama dari IoT adalah “prosesor” dan “media komunikasi”. Kunci utamanya adalah harus murah. Sangat murah. Mereka tidak harus menggunakan prosesor yang paling hebat (secara komputasi), tetapi yang cukup bagus dan murah. Masalahnya, jumlah yang diproduksi ini skalanya adalah milyaran unit. Beda 10 sen saja sudah beda jauh biayanya.

Jadi prosesor jenis apa? Nah, itu kita belum tahu. Sama-sama mencari tahu. Bahkan perusahaan besar sekalipun, seperti Intel dan IBM, masih mencari-cari. Mari kita perhatikan perkembangannya.

[Hal lain yang terkait dengan software dan data akan kita bicarakan dalam topik terpisah. Kita masih mencari “killer application” untuk IoT sebagaimana adanya Visicalc (spreadsheet) untuk komputer dan SMS untuk handphone. Google-nya IoT?]

Serius Dalam Mengajar dan Membimbing

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada banyak dosen yang tidak serius dalam mengajar dan membimbing. Banyak orang yang menjadi dosen hanya untuk mendapatkan statusnya atau agar supaya dapat disekolahkan ke luar negeri melalui beasiswa. Setelah menjadi dosen tidak benar dalam mengajar dan membimbing karena memang alasannya menjadi dosen bukan itu.

Proses rekrutmen untuk menjadi dosen juga nampaknya kurang memperhatikan aspek passion dalam mengajar dan membimbing. Ada yang guyon bahwa mau memilih bagaimana, wong yang mendaftarkan jadi dosen adalah sisa-sisa yang tidak dapat pekerjaan di luar sana. Aduh. Mak jleb!

Saya tidak tahu apakah saya bagus dalam mengajar atau membimbing (karena yang dapat menilai adalah mahasiswanya), tetapi saya sangat serius dalam mengajar dan membimbing. Eh, setidaknya saya jauh lebih serius dari kolega-kolega saya.

Banyak dosen yang menelantarkan kuliahnya karena ada tawaran pekerjaan ini dan itu atau harus memberikan presentasi di sana dan di sini. Saya membatasi tawaran-tawaran seperti itu. (Ada BANYAK SEKALI.) Kalau tidak percaya, tanya kepada pihak-pihak yang terpaksa saya tolak undangan untuk berbicara di kampus-kampusnya. Mohon maaf. Bukannya saya tidak mau, tetapi jika saya harus pergi ke sana maka kuliah saya banyak bolongnya.

(Bagi yang ingin mengundang saya menjadi pembicara, keynote speaker, dan seterusnya, inilah alasan saya kenapa saya menolak undangan bapak dan ibu. Ini sebabnya saya juga tidak tertarik untuk menjadi pejabat di sana sini.)

Saya termasuk yang rajin memberikan kuliah. Biasanya sebelum mahasiswa hadir di kelas, saya sudah duluan ada di sana. Untuk kelas jam 7 pagi pun, saya yang nomor satu hadir. Ada banyak foto di facebook saya yang menunjukkan hal ini. ha ha ha. (Semester ini ada satu kelas yang saya telat terus hadirnya, karena saya harus kembali ke kantor untuk makan siang, shalat, meeting dan kembali lagi ke kelas. Jadinya terlambat terus. Maaaaappp.)

17758256_10154430056911526_3438788283222184741_o
hadir di kelas sebelum mahasiswa hadir. berbekal kopi

Konsisten dalam mengajar itu tidak mudah. Memberikan satu presentasi itu tidak susah. Yang susah itu hadir secara rutin dalam 15 kali pertemuan perkuliahan. Silahkan dicoba. Konsistensi itu susah. (Ada banyak orang yang baru sekali memberikan presentasi di sebuah seminar kemudian merasa bisa mengajar di perkuliahan. hi hi hi.)

Menjadi pembimbing juga sama saja. Banyak dosen yang tidak dapat ditemui oleh mahasiswa bimbingannya karena kesibukannya. Membimbing bagi mereka mungkin sebuah beban. Tugas yang terpaksa dilakukan. Makanya tidak serius dalam membimbing. Hasilnya adalah bimbingan yang acak adut ketika sidang.

Ada sebuah kasus mahasiswa maju sidang dengan kondisi penelitian yang kacau balau. Mengapa dia diijinkan oleh pembimbingnya untuk maju? Ternyata pembimbingnya sibuk sehingga menelantarkan mahasiswanya (sampai batas waktu). Sebagai pengobat rasa bersalahanya (karena jarang di tempat), maka mahasiswanya diijinkan maju sidang. Mau seperti apa dunia penelitian Indonesia kalau seperti ini kejadiannya?

Mahasiswa bimbingan saya banyak. Bukan karena saya gampang, tetapi karena saya ada di tempat untuk berdiskusi. Mahasiswa membutuhkan arahan dan diskusi (dalam thesis dan disertasi). Kadang saya kasihan lihat mahasiswa bimbingan saya yang harus bergantian bimbingan. Antri. Seperti ke dokter saja. Mau bagaimana lagi? Waktu yang ada pun terbatas. Namun saya selalu serius dalam membimbing.

Sering saya hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan dosen-dosen yang mengabaikan tugasnya. Ada yang rajin menjabat di sana sini. Ada yang hobbynya presentasi sana sini juga. hi hi hi. Saya bukan atasan mereka yang dapat menegur. Kalau saya tegur nanti gak terima. Orang Indonesia mana bisa terima kritikan. ha ha ha.

Oh ya, sebetulnya saya adalah seorang profesional yang super sibuk. Ada banyak tanggung jawab yang harus saya lakukan. Jadi sesungguhnya saya bukan dosen  yang hanya mengajar saja. Demikian sibuknya pun saya selalu memprioritaskan mengajar dan membimbing.

Semua yang saya lakukan ini tidak untuk mencari pujian. Tidak juga untuk mendapatka gaji yang lebih besar. (Kalau tahu status saya, mungkin terkejut. Ada masanya beberapa tahun saya mangajar tanpa digaji. ha ha ha. Saya membuktikan kepada diri sendiri bahwa rejeki itu sudah ada yang ngatur.) Tidak juga saya lakukan ini untuk mendapatkan penghargaan atau medali. (Sombongnya sih sudah terlalu banyak plakat di rumah. ha ha ha.)

Jadi saya melakukan ini semua untuk apa? Karena memang saya suka mengajar. Menjadi guru. Berbagi pengalaman di industri dan menyederhanakan masalah sehingga mahasiswa dapat menangani topik-topik mereka di kemudian hari. As simple as that.

Tahan Tiga Hari Sebelum Berbagi

Beberapa hari yang lalu (Senin, 27 Februari 2017) saya diminta untuk memberikan presentasi terkait dengan mindset anti-hoax. Saat ini hoax sudah merajalela sehingga perlu dilakukan sesuatu. Acaranya dilakukan di Unikom, Bandung.

Presentasi saya dimulai dengan definisi dari hoax. Apa ya? Hoax saya definisikan sebagai sesuatu yang tidak benar tetapi direkayasa seolah-oleh sebuah fakta. Hoax asalnya bisa hanya sekedar guyonan. Main-main. Namun oleh beberapa orang (yang tidak memiliki sense of humor?) dianggap sebagai serius dan kemudian bergulir. Namun ada juga yang memang merekayasa “fakta” palsu ini untuk kepentingan tertentu (biasanya ujung-ujungnya duit juga).

Ada kesulitan dari banyak orang untuk membedakan fakta, opini, dan hoax. Mari saya ambilkan beberapa contoh.

  • Fakta: Persib adalah klub sepak bola kota Bandung
  • Opini: Persib adalah klub sepak bola terhebat
  • Hoax: Persib pernah menjuarai Liga Sepak Bola Inggris

Contoh-contoh di atas memang mudah dikenali karena sangat jelas bedanya. Ada banyak hal yang sulit dibedakan.

16903271_10154326694056526_6889321425773985855_o
[sumber: koran Pikiran Rakyat]
Untuk mendeteksi hoax harus memiliki ilmu dan wawasan. Sebagai contoh, bagaimana kita tahu bahwa “Persib pernah menjuarai Liga Inggris” itu membutuhkan pengetahuan dimana letak Inggris selain mengetahui bahwa Persib itu klub sepak bola Bandung. Tanpa pengetahuan ini tentu saja akan sulit untuk menentukan ini fakta atau bukan.

Bagaimana cara untuk meningkatkan kemampuan ini? Dibutuhkan banyak membaca dan piknik. hi hi hi.

Setelah mengetahui itu hoax, maka terserah kepada kita apakah kita akan ikut menyebarkannya atau menghentikannya. Memang sulit sekali untuk tidak ikut berbagi (share) di dunia media sosial. Satu klik saja sudah bisa berbagi. Padahal sebelum membagikan berita, kita perlu cek dulu apakah itu fakta atau hoax.

Salah satu tips saya adalah “Tahan Tiga Hari Sebelum Berbagi”.

Bagaimana dengan penanganan hoax yang memang sengaja dibuat? Itu cerita lain kali ya.