Category Archives: Opini

Masih Soal Uber

Tadi seharusnya saya mengantar anak saya ke sebuah tempat, tetapi karena saya juga harus futsal maka kami mencari taksi. Puter-puter nggak ketemu taksi konvensional. Akhirnya kami berhenti dan memesan Uber.

Pulangnya anak saya juga mencari taksi konvensional tetapi lagi-lagi tidak ada. Dia kemudian memesan Uber lagi. Harganya kali ini 2,7x lebih mahal dari harga biasanya (karena peak hour?). Akhirnya yang dibayar menjadi Rp.70 ribu. Mungkin kalau naik taksi biasa hanya Rp. 40 ribu.

Banyak orang yang mengatakan bahwa kami menggunakan Uber karena murahnya. Bukan! Kami menggunakan Uber karena taksi konvensional tidak ada. Ini masalah kemudahan dan ketersediaan. Itu yang lebih utama menurut saya.


Tempat Koleksi Foto Online

Kehabisan disk melulu. Umumnya karena koleksi lagu dan foto. Nah, saya berniat untuk menghapus koleksi foto di komputer (disk) sendiri. Saya mau upload foto-foto saya ke tempat koleksi online (atau kalau terpaksa, disk online) kemudian saya HAPUS foto-foto itu dari disk saya.

Apakah langkah ini bijaksana?

Saya akan upload berkas-berkas foto tersebut ke beberapa tempat. Just in case. Khawatir kalau layanan tempat koleksi foto tersebut berubah atau malah tutup. Sementara ini saya mengandalkan layanan Google Photos dan Flickr. Ada juga sebagian yang saya upload ke Facebook. (Hanya kalau ke facebook, ukurannya jadi mengecil dan kualitasnya menjadi turun?) Memang yang saya cari adalah layanan yang gratisan. ha ha ha.

Apakah ada saran tempat upload foto lagi? Kalau bisa yang gratisan dan ukurannya bisa besar.


Mahasiswa Dan Anggota DPR

Di media sosial banyak yang mencemoohkan kinerja dan pekerjaan anggota DPR. Ada banyak guyonan yang menunjukkan anggota DPR sedang tidur, bolos hadir, dan seterusnya. Mahasiswapun banyak(?) yang mempertanyakan (anggota) DPR ini. Mau tahu kenyataan yang ada saat ini?

Menurut saya, mahasiswa saat ini tidak berbeda dengan anggota DPR!

Mahasiswa datang ke kelas untuk sekedar hadir. Memenuhi kuota kehadiran saja. Administratif.  Ada juga yang datang ke kelas dan kemudian tertidur. Yang bolos juga tidak sedikit kok. Kalau mahasiswa hadir di kelas dan ditanya, “ada pertanyaan?”, tidak ada yang menjawab. (Masih mending anggota DPR ada banyak yang bertanya.)

Lantas apa bedanya mahasiswa dengan anggota DPR?


Kurang Inisiatif dan Secukupnya Saja

Hasil ngobrol-ngobrol dengan sesama teman yang memiliki perusahaan dan juga dengan dosen-dosen, nampaknya ada benang merah dari SDM saat ini. Menurut saya ada dua hal yang sangat bermasalah, yaitu (1) kurang inisiatif, dan (2) bekerja (berusaha) secukupnya saja.

Anak-anak (SDM) sekarang kurang inisiatif. Untuk melakukan sesuatu harus disuruh. Bahkan disuruhnyapun harus rinci dan spesifik. Dalam presentasi sebuah studio animasi minggu lalu, dikatakan bahwa animator sekarang harus diberitahu detail. Tidak bisa lagi disuruh, misalnya, buat “si karakter itu memberi sesuatu ke lawannya”. Nah “memberi sesuatu” itu harus dijabarkan oleh kita, sang pemberi pemerintah. Mereka tidak bisa memiliki inisiatif sendiri menjabarkan itu.

Menurut saya hal ini disebabkan mereka takut salah. Takut kalau mengambil inisiatif ternyata bukan itu yang dimaksud. Padahal salah adalah biasa. Sistem pendidikan dan lingkungan terlalu menghukum orang yang salah jalan. Akibatnya orang takut untuk berinisiatif.

Masalah kedua adalah bekerja secukupnya saja. Kalau diberi tugas A, ya yang dikerjakan hanya A saja. Mereka tidak tertarik untuk mengerjakan A+ atau A, B, C, … dan seterusnya. Padahal justru prestasi itu dicapai ketika mereka bekerja melebihi dari yang diharapkan.

Hal ini mungkin disebabkan oleh hilangnya keingintahuan (curiousity). Entah ini karena malas atau karena mereka melihat orang lain (kawannya) tidak melakukan maka dia juga tidak melakukannya. Untuk apa lebih?

Cukup ah ngomel pagi-pagi ini.


Bagaimana Melakukan Multitasking

Banyak orang yang mengatakan bahwa multitasking – mengerjakan beberapa hal sekaligus – itu tidak baik. Mereka benar. Namun dalam kenyataannya ada orang yang melakukan multitasking karena satu dan lain hal. Saya melakukannya.

Bagaimana melakukan multitasking? Berikut ini adalah hal-hal yang penting untuk dipahami. Saya menemukan ada tigal (3) hal.

Pertama, turunkan harapan (expectation). Sebagai contoh, jika kita mengerjakan sesuatu dengan harapan mencapai 90% dari target, maka ketika kita multitasking hasil yang dapat dicapai mungkin turun menjadi 70%. Ini akan menjadi masalah bagi seseorang yang perfectionist. Penurunan hasil yang dicapai ini apakah bisa Anda terima? Bagi saya, ini lebih masuk akal. Mengerjakan tiga hal secara bersamaan dengan hasil masing-masing 70% lebih menarik daripada mengerjakan tiga hal secara serial dengan hasil 90%.

Kedua, skeduling atau pemilihan prioritas apa yang dilakukan berdasarkan urgency. Deadline mana yang paling dekat, itu yang dikerjakan dahulu. Yang didahulukan bukan yang penting (importance). Padahal seharusnya yang dikerjakan dahulu adalah yang penting. Skedul akan berubah dengan sangat cepat dan kadang-kadang chaos. he he he.

Ketiga, yang paling susah, carilah tangan kanan untuk menangani tugas-tugas. Dengan kata lagi, delegasi. Delegasikan pekerjaan. Susahnya adalah mencari orang yang dapat mengerjakan sesuai dengan harapan kita. Susah sekali. Ada pepatah yang mengatakan, “if you want to do it right, do it yourself“. Masalahnya, jika semua kita kerjakan maka kita tidak dapat melakukan task yang lainnya. Jadi mencari orang untuk mendelegasikan pekerjaan merupakan sesuatu yang penting.

Ada masalah lagi terkait dengan poin ketiga, yaitu biasanya kalau kita mendelegasikan sesuatu maka hasilnya juga hanya 70% dari harapan kita. Hadoh.

Nah, jika ketiga hal di atas dapat kita lakukan, maka multitasking dapat kita lakukan.


Agama Orang Lain

Kenapa ya kok banyak orang yang sibuk ngurusi agamanya orang lain? Asyik mencela, mencari-cari kesalahan, mengomentari agama orang lain. Kemudian kalau melihat simbol-simbol agama lain ketakutan. Seolah-olah keyakinannya bergantung kepada simbol-simbol agama lain. Demikian pula jika ada kegiatan agama lain, langsung defensif.

Padahal kalau sudah yakin dengan agamanya sendiri, hal-hal di atas tidak perlu dilakukan. Saya meyakini bahwa hidayah hanya datang dari Allah. Tetaplah teguh dan bersabar. Tidak perlu kita sibuk dengan mencela agama orang lain.


Aku Berbeda!

Entah sejak kapan – seingat saya, sejak kecil – saya memahami bahwa saya berbeda. (Tidak bosan-bosannya saya menggunakan kalimat ini untuk memulai tulisan karena masih banyak orang yang belum mengerti maksud saya.) Untuk itu saya tidak pernah membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Hasilnya, saya merasa bahagia saja. Mungkin ini juga terjadi karena saya tidak peduli. he he he.

Sebagian besar orang membandingkan dirinya dengan orang lain. Hasilnya ada dua kemungkinan. Pertama, menjadi minder karena orang lain terlihat lebih sukses. (Perlu saya tebalkan kata “terlihat” karena kenyataannya sering terbalik.) Kemungkinan lain adalah menjadi sombong atau arogan karena orang lain terlihat gagal.

Sebagian besar orang ingin menjadi orang lain dan ingin terlihat hebat di mata orang lain. Misalnya, ada tetangga yang sekolahnya tinggi maka dia ingin sekolahnya tinggi juga. Bukan karena ingin ilmunya, tetapi karena ingin dilihat tinggi. Ingin dibanding-bandingkan dengan orang lain. Ada yang menjadi pejabat, maka dia ingin menjadi pejabat juga. Ada yang kaya, maka dia ingin jadi kaya juga. Minder terus. Padahal, sesungguhnya dia tidak tahu yang dia inginkan.

Saya sendiri mendapat banyak tawaran untuk menjadi seperti orang lain. Dari mulai yang biasa sampai ke yang tingkatnya cukup tinggi. No thanks. Terima kasih. Tidak. Saya tidak mau itu. I know what I want and that’s not it. Saya berbeda bukan karena semata-mata ingin berbeda. Kebetulan yang saya inginkan dan cara saya mencapainya berbeda dengan mainstream.

Kasus yang saya hadapi karena berbeda ini banyak. Kebanyakan kasusnya kecil-kecil tapi di mata orang jadi besar. Sebagai contoh yang kecil, cara saya berpakaian. Saya berpakaian tidak serapih (baca: necis) orang-orang. Pakaian saya bersih. Tentu saja. (Untuk hal ini saya agak OCD. he he he.) Tetapi pakaian saya dianggap orang “tidak cocok” dengan status saya. Saya ke kampus pakai kaos, jeans, sepatu boots atau kets. Kalau pakai kemejapun biasanya tidak saya masukkan (tucked in), tetapi saya biarkan di luar. Nah, ini bikin gatel orang-orang di Indonesia sini karena katanya saya dosen dan S3. Harusnya pakai pakaian yang perlente. Bagi saya ini hal kecil, tetapi bagi orang ini masalah besar. Mungkin kalau saya kerja di Facebook ndak masalah karena si Mark juga pakaiannya seperti itu. ha ha ha. Poin saya adalah saya tidak tertarik untuk dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Mengenai “kesuksesan” orang lain, itu sebetulnya … ilusi. Saya jadi teringat lagu “Grand Illusion” dari band Styx. Silahkan cari liriknya dan pelajari. Di video yang saya sertakan ini juga ada introduction mengenai apa yang saya maksudkan. (Jangan-jangan tulisan ini sebetulnya hanya supaya saya bisa memposkan video ini. hi hi hi. Styx merupakan salah satu band kesukaan saya. Ini kesempatan untuk menuliskan sesuatu dengan link ke Styx.)


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.738 pengikut lainnya