Category Archives: Opini

Salah Dimengerti

Tanpa kehadiran fisik, dunia online sering menimbulkan perkelahian. Bukan kelahi fisik, tetapi tetap saja perkelahian. Pasalnya kita tidak mendapatkan umpan balik (feedback) atas apa yang kita sampaikan. Seringkali, apa yang kita tuliskan salah dimengerti.

Boleh jadi kita sudah berhati-hati dalam mencari kata-kata untuk menyampaikan opini atau isi hati kita. Tetap saja salah pengertian juga terjadi. Mungkin saja lawan bicara kita atau pembaca memang mencari-mencari kesalahan atau tidak mau mengerti. Sangat mungkin. Namun tetap saja kita harus lebih berhati-hati dalam menulis.

Inilah sebabnya saya sering geleng-geleng kepala, tidak mengerti, akan orang-orang yang demikian mudahnya menuliskan apa saja di dalam status atau time line di akun media sosialnya. Lagi pula, tidak semua harus dituliskan. Mari menahan diri untuk menuliskan yang tidak penting.

Mungkin juga itu salah kita-kita. Kenapa pula naik darah dengan melihat tulisan seseorang yang disampaikan tanpa berpikir panjang.

eh, jangan-jangan tulisan ini juga salah dimengerti. hadoh.


Tentang Kota Bandung

Sebetulnya saya ingin membuat tulisan yang lebih terstruktur tentang kota Bandung dilihat dari kacamata kreativitas. Pas hari Senin lalu sempat diskusi soal ini dengan mahasiswa yang sedang mengambil topik ini sebagai disertasi. Hari ini juga ada tulisan di web tentang orang yang tidak setuju Bandung sebagai kota kreatif. Kembali ke soal tulisan. Kalau mau buat tulisan yang bagus kayaknya lama dan bakalan terlupakan. Kalau begitu buat tulisan seadanya saja ya. he he he.

Bagi saya Bandung adalah kota yang kreatif. Eh, tapi kita harus sepakati dulu definisi dari “kreatif” dan “kota kreatif”. Saya sendiri belum punya definisinya. Jadi apa yang saya tulis ini boleh jadi ngawur.

Saya besar di Bandung. Sejak sebelum sekolah TK sekalipun. Wah, itu tahun berapa ya? Akhir 60-an mendekati 1970. (Now you know how old I am. Ouch.) Besar di Bandung saya melihat adanya jaman celana cut bray. Itu lho, “bell bottom”. Jalan Braga waktu itu adalah tempat yang keren. Bahkan sering lihat “Braga Stone“, seorang pemain kecapi yang sering memainkan lagu-lagu barat; Rolling Stones. Ada juga jalan Dago tempat mobil balapan dan zig-zag. (Kebetulan rumah kami dulu di Dago situ. Jadi tinggal nongkrong di depan rumah saja. he he he.) Bandung juga mengalami kampus (ITB) diduduki tentara. Depan rumah saya (dan SMA) nongkrong panser. Pokoknya “warna warni” dalam artian tidak membosankan.

Sekarang bagaimana? Sedikit banyak, Bandung masih menjadi tempat berkumpulnya orang-orang “kreatif” (baca: aneh? gila? he he he).

Soal musik. Ada banyak artis musik dari kota Bandung. (Meskipun sekarang surut ya?) Dahulu ada Harry Roesli yang nyleneh. Eh, kalau sekarang siapa? Burger Kill? Metal juga di Bandung – eh, Ujung Berung ding. Deketlah dengan Bandung. (Boleh juga didaftar musikus dari Bandung yang masih aktif ya.) Saya sudah lama tidak ke Auditorium RRI. Katanya sebetulnya kualitasnya sama seperti di Abbey Road (?). Seriously? Perlu dicoba nih mangung di sana. Kelompok penggemar musik Koes Plus di Bandung ada dan rajin kumpul-kumpul. Demikian pula keroncong. (Bahkan malam ini saya dapat undangan untuk kumpul-kumpul komunitas Dangdut. Seriously!)

Arts. Pernah ke tempatnya Nyoman Nuarte? Atau Selasar Sunaryo Art Space? Yang di kampus ITB juga ada, Galeri Soemardja. Atau yang lebih belum/tidak terkenal lagi? (Eh, tempatnya Aan itu namanya apa ya?) Itu soal tempatnya. Orang-orangnya juga banyak. Di ITB ada FSRD yang banyak menghasilkan seniman. (Kalau desainer, komikus, dll. itu masuk kategori seniman bukan ya?) Saya juga sering ketemu dengan seniman.

Teater. Nah, yang ini saya sudah lost contact. Sudah tidak mengikuti. Eh, Rumentang Siang masih ada acara? Yang saya tahu sih ada kawan yang rajin membina teater anak-anak muda. (Hallo, pak Bambang – Roemah Creative.) Dulu sih (SMA?) masih tertarik teater-teater-an lah. [Update: Tadi, sekitar 2 atau 3 jam yang lalu saya diskusi tentang kegiatan teater di seputaran Bandung. Ternyata masih ada. Ada pertemuan mingguan. Kalau pagelaran memang butuh waktu untuk menjadikannya. Lagi-lagi ada banyak kreativitas di sini yang tidak terlihat.]

Tradisional arts. Di dekat rumah saya, kelihatannya calung mau dihidupkan lagi. Tapi saya lihat masih kembang kempis nih. Hanya untuk 17-Agustusan saja. Mereka kayaknya belum banyak ditanggap di acara-acara. Kalau Angklung sih dekat sini. Jaipongan juga sudah jarang terdengar ya? di-banned kali ya. hi hi hi.

Software & Hardware. Ini juga bisa masuk ke kategori kreatif. Wah ini ada banyak. Ada banyak software & hardware house. Yang membuat handphone saja ada. Tempat kumpul anak-anak kecil untuk coding juga ada. (Lihat blog procodecg.) Secara rutin, seminggu sekali, kami juga kumpul-kumpul dalam acara CodeMeetUp(). Iya seminggu sekali. Edan gak? Di tempat lain paling-paling sebulan sekali. Itu pun gak gak banyak. Di Bandung ada!

Kuliner. Ha ha ha. Jangan tanya lah. Soal NAMA makanan saja di Bandung setiap minggu kayaknya ada yang baru. Belum soal resepnya. Kreatif-kreatif. Atau kadang aneh, menurut saya. Mosok ada mie+telor+keju+dll. Dan itu POPULER! Edan gak? Entah sekarang apa yang sedang ngetop. (Silahkan didaftar / dibuatkan list apa-apa yang menurut Anda sedang ngetrend di Bandung.) Yang selalu ngetop ya kopi Aroma, (berbagai tempat makan mie yang bisa bikin orang berantem saling mengatakan enak), cilok, batagor. Yang sempat ngetop; mak Icih (dan keripik2 lain), rainbow cake, brownies, keripik2, …

Fasihon. Bandung identik dengan “factory outlet”. Selalu ada desain yang baru dari kota Bandung. Baik yang bersifat “butik” ataupun “grosiran”. he he he. Bandung adalah Milan-nya daerah sini.

Oh ya, saya menjadi mentor dari beberapa calon entrepreneur yang bidangnya adalah kuliner dan fashion. Jadi saya tahu mereka kreatif! (Ini tadi pulang juga nenteng contoh makanan dari mahasiswa yang baru buka tempat makan. Makan siang tadi juga “sego njamoer”. Sementara saya sedang kerajingan “cold brew” coffee.) Kuliner dan fashion yang bikin Bandung menjadi tujuan wisata (dan menjadikan macetnya kota Bandung – ugh).

Tempat kumpul-kumpul orang Bandung yang aneh-aneh juga bermacam-macam. Ada BCCF (Bandung Creative City Forum), ada Common Room, dan masih banyak lagi. Sekarang sedang menjamu co-working places juga.

(Saya ingin menambahkan ITB. Eh, tapi apa hubungannya ITB dengan kreativitas? Ada banyak, tapi itu tulisan lain kali saja.)

Soal kotanya. Nah memang ada semacam hilang jati diri kota Bandung. Kalau dahulu, ada taste. Dulu pernah disebut Parisnya Java juga bukan karena ngasal. Tapi perlu diakui Bandung kemudian menjadi semrawut. Nah, sekarang sudah menuju ke “jalan yang benar”. Perlu waktu tentunya. Tapi coba saja sekarang datang ke Bandung. Asyik. Eh, jangan ding. Bikin macet kota Bandung saja.

[update]: Museum. Ini daftarnya. Yang paling sering dikunjungi oleh siswa-siswa dari luar kota sih yang museum Geologi.

Ada “pengamat” yang mengukur kreativitas sebuah kota dengan adanya arts building, theater, dan seterusnya. Kalau ukurannya *gedung* – physical building – dan infrastruktur fisik lainnya, boleh jadi memang Bandung kalah dengan kota-kota lain. Kalau ukurannya adalah orang dan aktivitasnya, Bandung tidak kalah. Kalau kata orang Sunda: loba nu garelo. he he he. Mungkin pengamat itu harus keluyuran di kota Bandung dulu. Jangan hanya tinggal di hotel saja. Punten ah.

Jadi, menurut saya Bandung masih dapat disebut kota kreatif.

[Di akhir tulisan biasanya ada tentang latar belakang sang penulis. Jadi saya tuliskan lagi ya latar belakang saya. Saya dibesarkan di Bandung dari sejak tahun … hmm berapa ya? 1965 atau 1966 begitu. Terus saya “kabur” sebentar (11 tahun) ke Kanada dan kembali ke Bandung. Kenapa ke Bandung? Just because I love Bandung so much.]

 


Pengalaman Naik Uber di Bandung

Awalnya ketika orang berbicara tentang Uber, saya tidak begitu tertarik. Alasannya, di Bandung saya umumnya menggunakan kendaraan sendiri. Biasanya bawaan saya banyak; tas yang sudah sangat berat (entah apa saja sih isinya), jaket, buku-buku untuk show and tell di kuliah, sepatu + tas isi peralatan futsal + bola (kalau hari futsal), gitar dan efek (kalau latihan band), dan seterusnya. Ini membuat saya susah untuk naik kendaraan orang lain atau taksi. Memang tidak selamanya bawaan saya itu sebanyak itu, tetapi umumnya memang seperti itu. Itu kalau di Bandung.

Kalau di Jakarta, saya juga belum tertarik menggunakan Uber karena kalau di Jakarta saya lebih sering naik ojek. Maklum, Jakarta macet. he he he. Dari Bandung ke Jakarta bawa mobil, sampai di Jakarta dilanjutkan naik ojek. Ojeknya pun saya belum pernah pakai Go-Jek. Langsung saja saya cari ojek yang mangkal.

Nah, barulah kejadian saya naik Uber. Ceritanya dua minggu yang lalu kami ada acara keluarga di daerah Kanayakan Dago. Hari Minggu itu pula ada acara pemilu Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) untuk daerah Jawa Barat yang dilakukan di kampus ITB. Kemudian saya juga harus latihan band untuk acara hari Sabtu kemarin. Maka berangkatlah saya dan keluarga naik mobil. Acara keluarga berlangsung sampai sore. Saya harus duluan ke kampus ITB. Nah, ini kesempatan saya mencoba Uber.

Aplikasi Uber sudah lama saya pasang di iPhone saya. Nekad saya jalankan. Pertama kali saya pakai aplikasi ini. Tahu gak ya kemana Uber ngejemputnya? Salah satu masalah pertama saya adalah ngeset tempat saya dijemput. Entah karena GPS-nya kurang akurat atau bagaimana, susah untuk memasukkan alamat rumah saudara ini. Akhirnya pakai yang sudah ada di Uber itu, yaitu asrama putri ITB yang dekat dengan rumah saudara ini. Klik saja. Baru selesai saya klik, sudah ada jawaban yang menuju tempat saya. Whoa. Cepat banget.

Satu hal yang membantu bagi saya dari aplikasi Uber ini adalah adanya estimasi kapan mobil Uber datang. Bahkan di aplikasinya dapat kita lihat posisi mobil Uber itu ada dimana. Seru juga ngelihat dia jalan. Hanya yang jadi masalah adalah GPS di iPhone saya sangat menyedot batre. Untungnya saya bawa power bank raksasa (30.000 mAh!) jadi langsung saya colok.

Tidak berapa lama, sekitar belasan menit, muncul aja mobil Uber. Avanza. Langsung saya masukkan bawaan saya (tas ransel, gitar, tas kamera). Langsung menuju kampus ITB. Hari itu macet luar biasa. Jadi saya bisa ngobrol-ngobrol dengan driver dari Uber. Orangnya baik sekali. Dia cerita bagaimana dia memulai jadi driver Uber full time. (Ini bisa jadi tulisan sendiri.) Sampai lah ITB setelah berjuang melawan kemacetan kota Bandung!

Sampai di kampus, saya langsung menuju Aula Barat untuk ikutan pemilu IA-ITB Jabar. Prosesnya lumayan lama. Katanya terjadi kekacauan pula. (Ini juga bisa jadi cerita tersendiri.) Singkatnya saya mau kabur ke studio BanDos untuk latihan band. Masih macet pula. Saya berencana naik ojek saja untuk menembus macet ini. Eh … hujan! Ya sudah, Uber lagi. hi hi hi. Ada alasan naik Uber.

Saya pesan Uber lagi. Wow cepat juga jawabannya. Kebetulan ternyata ada mobil Uber sekitar rumah sakit Boromeus. Lagi-lagi waktu yang dibutuhkan belasan menit. Ini karena macet. Mobilnya datang. Avanza juga. Menuju ke studio BanDos.

Selesai latihan BanDos, saya cek keluarga saya sudah pulang. Tadinya saya pikir bisa dijemput. Lagi-lagi pilih Uber saja. hi hi hi. Jadinya dalam satu hari ini, dari belum pernah pakai Uber jadi pakai 3 kali!

Hari Minggu, kemarin, saya pakai Uber lagi. Ceritanya kami mau nonton konser LCLR Plus di Sabuga. Khawatir macet, bingung mau makan dimana, dan seterusnya, kami putuskan naik Uber saja. Lokasi kami yang di Kabupaten tapi pas di samping Kotamadya sering masalah untuk pesanan taksi. Begitu dijalankan Uber, dia bilang 29 menit lagi datangnya. Wah lama juga ya. Berarti ada kemacetan. Eh, tiba-tiba informasinya berubah jadi 3 menit lagi! Hah! Ternyata Ubernya datang sangat cepat karena mungkin data GPS-nya dia kurang akurat. Dia baru saja mengantar orang ke kafe di daerah rumah kami. Surprised yang menyenangkan. Yang tadinya dikira 29 menit malah jadi hanya 2 atau 3 menit. hi hi hi. Ternyata cari Uber yang ke rumah kami cepat sekali.

Hanya masalahnya, lagi-lagi, saya tidak bisa set lokasi penjemputan. Entah kenapa kami tidak bisa memasukkan alamat rumah kami. Jadinya mengambil lokasi yang dekat rumah. Jadi driver Uber harus nanya dulu tepatnya kami dijemput dimana. (Ini sampai sekarang saya belum tahu ngesetnya gimana.)

Nah, pengalaman saya naik Uber adalah sebagai berikut. Pertama, saya suka dengan adanya estimasi kedatangan mobilnya. Saya bisa lihat secara hampir real-time dia ada dimana. Ini yang membedakan dengan taksi biasa. Seringkali kalau pesan taksi, saya tidak tahu dia bakal datang berapa menit lagi. Ada juga kejadian setelah nunggu lama, ditelepon taksinya sibuk semua. Hayah! Jadi pakai Uber ini lebih predictable.

Kedua, mobilnya bagus-bagus. Lebih bagus dari mobil saya. ha ha ha. Bersih. Driver-nya ramah-ramah. Bawa mobilnya juga enak. Pokoknya dari sisi ini, nyaman.

Di sisi negatifnya, aplikasinya kalau dijalankan terus boros batre. Apalagi iPhone saya batrenya sudah mulai masalah. Harus ganti handphone ini. Yang paling mengganggu adalah set lokasi penjemputan. Ini sampai sekarang saya belum tahu bagaimana ngesetnya karena selalu tidak ada di pilihan. Jadinya saya selalu harus set di lokasi terdekat dan saya ke luar ketika Uber sudah dekat.

Secara umum, Uber memberikan solusi kepada kami. Saya yang tadinya skeptik, mungkin malah jadi kesenangan nih naik Uber di Bandung. hi hi hi. Gawat…


Kebahagiaan Itu Adalah …

Di halaman facebook saya, secara iseng saya menampilkan status berikut:

Mengapa masih mengukur kebahagiaan atau kesuksesan dengan uang? Sudah banyak riset dan fakta yang menunjukkan bukan itu.

Dan tentu saja banyak yang berkomentar. Banyak orang yang masih merasa yakin bahwa uang adalah alat ukur kebahagiaan. Semakin banyak uang, semakin bahagia kita. Terjadilah komentar setuju dan tidak setuju. (Bagaimana pendapat Anda?)

Saya termasuk yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu bukan uang. Ada banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang, contoh keluarga. Sebagai contoh, maukah Anda punya banyak uang tetapi tidak memiliki keluarga? Contoh lain adalah kesehatan.

Bukannya uang tidak penting. Penting. Ada semacam batas (threshold) bahwa uang itu penting, tetapi setelah melewati batas itu maka uang menjadi tidak penting lagi. Batasnya ini yang berbeda-beda.

Sebetulnya mengapa saya mengangkat topik ini? Kebetulan saya sedang membaca buku “Happy City: Transforming Our Lives Through Urban Design” karangan Charles Montgomery. Ini terkait dengan kebahagiaan. Sekalian saya sertakan videonya di TEDx Vancouver.

Selain itu saya juga melihat penduduk kota Bandung yang tingkat kebahagiaannya menaik sejak walikota kami, pak Ridwan Kamil, membenahi kota Bandung. Ada banyak taman yang direnovasi kembali. Bagus-bagus. Lucu juga, alun-alun yang dulunya kumuh sekarang menjadi ramai lagi dengan hanya meletakkan karpet rumput sintetis (seperti yang biasa dipakai untuk lapangan futsal) di lapangannya. Sekarang itu menjadi tempat keluarga berkumpul dan berfoto.

Seperti kata Charles Montgomery, “happy = social”. Kebahagiaan itu adalah fungsi dari interaksi sosial.

Update: Link terkait


Mengukur Kekuatan Diri

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki kelebihan (kekuatan) dan kelemahan sendiri-sendiri. Berbeda. Itulah sebabnya kita akan sulit meniru orang lain. Kita harus menjadi diri kita sendiri.

Sebagai contoh, saya tahu ada orang yang jam tidurnya sangat sedikit. Mungkin 3 atau 4 jam sehari? Atau mungkin itu yang terlihat oleh saya ya? Sebetulnya boleh jadi dia juga tidur 6 sampai 8 jam sehari. Ah, tidak. Dia jarang tidur kok. Kalau saya tiru, bisa terkaparlah saya.

Sementara itu saya juga punya pola tidur (dan pola bekerja) yang berbeda juga. Yang ini kalau ditiru orang lain juga bisa jadi terkapar. he he he.

Contoh. Entah kenapa, biasanya saya ngeblog menjelang tengah malam. Seperti saat tulisan ini dibuat. Mungkin itu waktu saya kreatif? Atau mungkin juga karena sempatnya jam segitu. Sementara orang lain sudah terlelap dengan tidurnya. Kalau dibangunin untuk ngeblog, bisa-bisa kita dilempar sandal. he he he.

Dalam pola bekerja, saya seorang hyper-multi-tasker. Sementara itu saya sadar ada banyak orang yang single tasker. Atau ada yang mampu mengerjakan beberapa pekerjaan pada satu saat tetapi masih dalam skala dua atau tiga. Tidak apa-apa. Itu normal untuk mereka. Kalau coba-coba hyper-multi-tasking, bakalan bubar semua pekerjaan.

IMG_0003 coffee latte
[coffee latte menemani kerja]

Kembali ke poin saya, bahwa setiap orang harus mengukur kekuatan dirinya. Kemudian mengatakan TIDAK untuk hal-hal yang di luar kemampuannya. Ingat bahwa mengatakan TIDAK itu ternyata tidak mudah.

(Soal untuk belajar agar dapat lebih multi-tasking lain kali ya.)

Kenali diri Anda.


(Tulisan) Optimisme

Barusan tidak sengaja membaca berita ini. “Jokowi: Kita Perlu Tulisan yang Timbulkan Rasa Optimis“. Nah, ini adalah tema yang selalu saya bawakan di blog ini. Eh, jangan-jangan pak Jokowi baca blog ini. ha ha ha. Ke-GR-an.

Sebetulnya ada alasan saya mengambil tema positif dan optimis di blog ini. Salah satunya adalah karena saya anti-mainstream dan sebagian besar (hampir semua?) situs berita lebih suka memberitakan hal-hal yang negatif. Bad news sells. Demikian pula status orang kebanyakan isinya keluh kesah, umpatan, dan teman-temannya. Pokoknya yang negatiflah. Maka di sini adalah anti-nya.

Saya lebih banyak melihat acara tv yang positif; channel-channel dari BBC, National Geographic, dan sejenisnya. Mereka membuat kita menjadi lebih optimis dalam menghadapi dunia.

Nah, apakah dengan membaca ini Anda menjadi semakin optimis?


Prioritas Kerjaan

Saya termasuk orang yang multi-tasking. Malahan, hyper-multi-tasking person. Banyak kerjaan yang harus saya kerjaan pada satu saat. Tulisan ini juga diketik di sela-sela pekerjaan. Bagaimana saya memilih (prioritas) pekerjaan yang harus saya lakukan saat ini?

Apa yang saya lakukan sebetulnya ada teorinya, tetapi sesungguhnya saya tidak tahu teori itu. ha ha ha. Ternyata secara natural saya mengikuti teori itu.

Pada prinsipnya kita membagi mana pekerjaan yang “urgent” dan yang “tidak urgent”. Yang ini dikaitkan dengan waktu. Mana yang harus selesai sekarang juga dan mana yang “bisa agak sedikit molor”. Untuk memilah ini membutuhkan pengalaman juga karena semua pekerjaan maunya urgent. Semuanya harus selesai kemarin, bukan hari ini. he he he. Contoh hal yang urgen adalah misalnya naik transportasi umum yang ada jadwalnya dan di luar kendali kita. Lewat jadwal itu, ya lewat. Contoh lain adalah membuat materi presentasi untuk presentasi yang ada tanggalnya. Ya harus selesai sebelum presentasi dimulai. he he he.  Itu contoh sederhana. Selebihnya lebih susah dari itu karena sering abu-abu.

Kemudian kita mencari mana yang “penting” dan “tidak penting”. Yang ini berdasarkan isi / manfaat / content dari pekerjaan itu sendiri. Yan ini lebih susah lagi memilah-milahnya. Semua merasa penting. Aku penting. Aku juga lebih penting. Keplentingan

Setelah itu dimiliki, maka kita dapat menggambarkan keduanya dalam dua sumbu. Berikut ini adalah foto yang saya peroleh dari internet:

Urgent-vs-Important.indd

Nah urutan pekerjaan itu berdasarkan mana yang urgent dulu. Kalau dalam gambar di atas, yang nomor 1. Urgent dan Penting. Itu teorinya.

Repotnya adalah kita sering macet di situ saja. Tidak bergerak ke bagian nomor 2, “penting tapi tidak urgent”. Padahal, seperti namanya, mereka juga penting! Yang ini harus kita paksakan. Ambil sedikit-sedikit tugas (task) yang ada di nomor 2 itu. Curi-curi waktulah.

Begitu. Sekarang saya balik ke kerjaan lagi. Masih di nomor 1. Ugh.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.624 pengikut lainnya