Category Archives: Opini

Ke(Tidak)harusan Merespon Chat

Sekarang banyak orang yang terjebak dalam keharusan merespon pesan-pesan yang muncul di aplikasi chat (seperti WhatsApp / WA, Telegram, dan sejenisnya). Setiap ada pesan yang muncul di program chat tersebut, maka dia merasa harus merespon dengan segera. Kalau tidak merespon, maka dia merasa tidak enak dengan orang yang mengirimkan pesan tersebut. Akibatnya, orang yang banyak memiliki group di WA atau Telegram akan disibukkan dengan merespon pesan-pesan tersebut sehingga dia terlalu fokus kepada handphonenya. Tidak memperdulikan sekelilingnya di dunia nyata.

Aplikasi chat sebetulnya didesain untuk komunikasi asinkron. Maksudnya, pihak-pihak yang berkomunikasi TIDAK HARUS online pada saat yang sama. Ini berbeda dengan telepon, yang mana kedua belah pihak yang bertelepon harus ada pada saat yang sama. Yang ini disebut sinkron. Artinya, pengguna aplikasi chat tersebut tidak harus merespon dengan segera karena sesungguhnya dia asinkron.

Kalau dahulu sebelum ada aplikasi WA/Telegram itu kita sebenarnya sudah mempunyai SMS yang juga sifatnya asinkron. Tetapi karena SMS itu berbayar, maka pihak-pihak yang berkomunikasi sadar bahwa respon tidak harus segera dan harus dipikirkan dulu. Bayar soalnya. Respon harus singkat dan kalau bisa tidak banyak-banyak. Mahal. Sekarang aplikasi WA/Telegram dapat dianggap “gratis”, meskipun sesungguhnya kita bayar akses internetnya. Gratis ini karena dilihat bayarnya bukan dari jumlah pesan yang kita kirim atau terima. Akibatnya “tuntutan” menjawab segera dan banyak itu terasa ada. Kenapa kamu tidak membalas segera? Kan gratis.

Usul saya, kita harus menggunakan aplikasi WA/Telegram itu secara wajar saja. Jika perlu direspon segera, ya segera. Tetapi kebanyakan pesan di WA/Telegram – terutama di group-group yang tidak terlalu penting, yang hanya ngobrol ngalor ngidul – tidak perlu harus direspon segera. Tahan diri untuk berkomentar. Seperti di dunia nyata, Anda juga tidak perlu harus berkomentar (dan cerewet) untuk semua hal. Yang wajar-wajar saja. Secukupnya saja.

Berikan waktu yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan berinteraksi di dunia nyata.


Keamanan Aplikasi Pokemon Go

Saat ini aplikasi Pokemon Go sedang mendapat sorotan. Aplikasi ini membuat berbagai “kegaduhan” di berbagai negara. Pengguna atau pemain aplikasi Pokemon Go ini sering terlalu serius dalam berburu monster (Pokemon) sehingga melupakan berbagai aspek, termasuk keselamatan dirinya. Saya jadi ingat masa kecil bermain layang-layang dan berburu layangan yang putus ke jalan tanpa mengindahkan keselamatan diri. hi hi hi.

Di Indonesia sendiri aplikasi Pokemon Go ini belum diluncurkan secara resmi, tetapi ini tidak menghalangi orang-orang untuk mencari aplikasi dari tempat-tempat yang tidak resmi. Jumlah pemain Pokemon Go dari Indonesia ini belum diketahui secara resmi, tetapi jumlahnya pasti *BANYAK SEKALI*. (Sampai saya tulis dengan huruf besar dan bold. ha ha ha.)

Tulisan ini akan menyoroti masalah keamanan (security) dari aplikasi Pokemon Go karena saat ini mulai muncul berbagai isyu tentang keamanannya. Bahkan tadi saya mendengar berita tentang adanya larangan bagi Polisi & Tentara untuk menggunakan aplikasi Pokemon Go ini sehingga ada yang kena razia segala. Sebelum ini menjadi hal-hal yang terlalu berlebihan (kasihan yang terkena razia), nampaknya perlu saya buat tulisan ini. Jadi ini latar belakangnya.

Beberapa hal yang menjadi alasan keamanan aplikasi ini, antara lain:

  1. Aplikasi menggunakan GPS untuk mengetahui lokasi (koordinat) pengguna. Lokasi ini dikirimkan ke server untuk digunakan sebagai bagian dari permainannya. Dikhawatirkan pihak pengelola server menggunakan data ini untuk hal-hal yang tidak semestinya (surveillance, misalnya).
  2. Aplikasi mengunakan kamera untuk mengambil gambar (foto, video) tentang lokasi sebagai bagian dari permainan. Dikhawatirkan data ini (foto, video) dikirimkan ke pengelola untuk hal-hal yang negatif juga. Bagaimana jika lokasi kita merupakan tempat yang sangat sensitif (rahasia)?

Itu hal-hal yang muncul di berbagai diskusi. Sebetulnya ada hal-hal lain yang juga dikhawatirkan tetapi menurut saya hal ini belum tentu benar, misalnya

  1. Aplikasi digunakan oleh Pemerintah Amerika Serikat (dalam hal ini CIA) untuk memantau orang-orang Indonesia. Untuk hal ini, langsung saya tanggapi saja. Tidak benar! Atau, belum tentu benar. Jadi begini. Aplikasi Pokemon Go dijalankan oleh sebuah perusahaan swasta. Perusahaan ini sangat menghargai kerahasiaan data penggunanya. Umumnya perusahaan tidak suka menyerahkan data ini ke pemerintah. Meskipun mereka kadang menjual data ini untuk keperluan bisnis lainnya (iklan, misalnya). Jadi, secara umum, perusahaan Nintendo tidak bekerjasama dengan CIA. (Catatan: di sisi lain, pihak intelligence Amerika memang terkenal melakukan penyadapan-penyadapan terhadap perusahaan-perusahaan Amerika juga. Jadi boleh jadi terjadi penyadapan, tetapi ini biasanya tanpa sepengetahuan perusahaan sendiri. Jadi terjadi spy-and-contra-spy antara mereka. Adu kepintaran. Untuk hal ini, memang terjadi. Ada beberapa catatan saya yang saya diskusikan di kelas Security yang saya ajarkan di ITB.)
  2. Pokemon Go dikembangkan oleh orang yang anti Islam. Wah ini sudah kejauhan teori konspirasinya. Alasannya karena banyak Pokemon di masjid. Jawaban terhadap hal ini adalah database untuk penempatan Pokemon itu berasal dari data aplikasi Ingress yang dikembangkan oleh Niantic Labs, perusahaan yang membuat kedua aplikasi tersebut. (Silahkan gunakan Google untuk mencari “Pokemon Ingress”.) Kebetulan saja, masjid adalah tempat banyaknya orang berkumpul dan terdata di Ingress. Itu saja. Jadi tidak ada konspirasi di sini.

Mari kita ke permasalahan utamanya. Apakah aplikasi Pokemon Go ini aman atau berbahaya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut harus dilakukan penelitian yang lebih mendalam, tetapi saya dapat mengajukan analogi seperti ini. Aplikasi Pokemon Go memang menambahkan celah keamanan (security hole), tetapi saat ini pun Anda sudah memiliki security hole yang lebih besar. Jadi kalau Anda mempermasalahkan keamanan dari celah lubang udara, sementara pintu rumah Anda sendiri sudah terbuka lebar, ya kurang tepat. You already have bigger problems.

Apa saja “masalah-masalah” yang sudah ada tersebut? Ada banyak, contohnya:

  1. Ada banyak aplikasi lain yang menggunakan GPS. Di Indonesia ada aplikasi Waze, Google Maps, Nike+, Swarm, Instagram, Twitter, Facebook, Go-Jek, dan seterusnya. Jika penggunaan GPS dipermasalahkan, maka aplikasi-aplikasi tersebut sama statusnya. Bahkan mereka lebih “mengerikan” dalam hal memberikan data ke penyedia jasa aplikasi tersebut.
  2. Ada banyak aplikasi yang menggunakan kamera; instagram, facebook, path, dan seterusnya. Orang Indonesia terkenal dengan potret-memotret dengan handphone, selfie. Beberapa aplikasi tersebut juga sudah menggabungkan informasi dari GPS untuk menandai lokasi dimana foto diambil. Ini juga sama statusnya dengan aplikasi Pokemon Go.
  3. Anda menggunakan layanan publik seperti Gmail, Yahoo!, dan seterusnya. Maka ini juga dapat dianggap sebagai “masalah”. Mereka malah menyimpan data email Anda. Jika Anda (dan bahkan instansi Anda) menggunakan layanan email-email ini, malah ini justru lebih berbahaya daripada aplikasi Pokemon Go. (Perhatikan bahwa ada banyak instansi pemerintahan yang menggunakan layanan ini!)
  4. Ketika memasang aplikasi Pokemon Go, aplikasi diperkenankan mengakses akun Google (Gmail) Anda secara penuh. Ya ini tergantung kepercayaan Anda kepada pengelola aplikasi Pokemon Go.  Lagi pula, dari mana Anda tahu bahwa aplikasi tersebut tidak tersusupi oleh virus / malware? Kan Anda belum mendapatkan itu secara resmi. Nah lho

Solusi?

Untuk orang-orang yang bekerja di lingkungan tertentu yang membutuhkan keamanan (Militer, Polisi, Penegak Hukum, dst.) maka seharusnya mereka menggunakan handphone khusus; secure handphone. Untuk pekerja seperti itu, mereka tidak boleh menggunakan handphone yang dijual secara umum dan tidak boleh menggunakan aplikasi yang belum disertifikasi. (Sebetulnya kami sudah mampu mengembangkan secure handphone sendiri. Silahkan hubungi kami untuk informasi lebih lanjut. Saya tidak ingin beriklan di tulisan ini.) Saat ini saya juga sedang membimbing mahasiswa (level S3) yang meneliti tentang secure mobile phone dan aplikasinya. Saya juga sedang terlibat pembahasan tentang evaluasi keamanan handphone beserta aplikasinya. Tunggu tanggal mainnya untuk yang ini ya.

Oh ya, jika para pembaca belum mengetahui latar belakang saya, memang salah satu bidang yang saya geluti adalah security.

Untuk orang-orang biasa? Ya, anggap saja Pokemon Go sebagai pemainan yang tidak aman. Kalau memang tidak ada yang dirahasiakan di handphone Anda dan dalam kehidupan Anda, nikmati saja. Tapi sadar saja bahwa tidak ada perlindungan keamanan di sana. Sama seperti aplikasi-aplikasi lainnya, termasuk media sosial yang Anda gunakan (Facebook, Path, Instagram, Twitter, dan seterusnya).

Jadi, sudah berhasil menangkap berapa Pokemon?

[Update: Bonus. Untuk “menakut-nakuti”, silahkan lihat video berikut ini]


Kekang Keinginan Berbagi Berita Negatif

Baru saja melihat sebuah berita di salah satu media sosial (Facebook). Beritanya tentang seseorang yang tidak mau patuh terhadap peraturan penerbangan. Dia merasa berkuasa. Akhirnya terpaksa pesawat diturunkan dan yang bersangkutan diamankan. Kesal juga melihat orang model begini. Ada keinginan untuk menceritakan hal ini kepada orang lain. Ingin membuat orang ini menjadi “terkenal” (buruk) sehingga dia jera.

Setelah saya pikir-pikir, akhirnya saya batalkan untuk melakukan share. Untuk apa? Apa manfaatnya? Setelah saya bagi (share), apakah yang bersangkutan akan berubah? Belum tentu. Bahkan kemungkinan juga tidak berubah. Malah kemudian ada orang (gila) yang senang dia menjadi terkenal. Halah. Serius. Beneran.

Yang terjadi kalau kita membagi berita negatif adalah membuat orang baik-baik menjadi naik pitam juga. Naik darah. Marah-marah. Tensi! Artinya saya justru membuat orang baik menjadi kurang baik kondisinya. Padahal orang-orang baik ini tidak perlu harus ikut menderita atas berita negatif itu.

Ada banyak berita-berita negatif yang beredar. Tidak usah dicari pun ada banyak. Apalagi kalau kita cari, tambah banyak saja. Ini bikin gara-gara saja.

Jadi, lupakan saja berbagi berita negatif itu. Lebih banyak buruknya daripada manfaatnya.


Masih Disetir Media Konvensional

Adanya internet katanya akan menghasilkan citizen journalism. Internet akan memberdayakan individu. Kita tidak lagi disetir oleh media konvensional yang dimiliki oleh konglomerat media massa. Ternyata ini masih belum terjadi.

Ambil contoh topik-topik panas di media sosial. Topik-topik yang panas ini digulirkan dari media “konvensional” (tv, koran). Keributan, pro dan kontra, pengambilan sisi kemudian terjadi di media sosial. Namun kalau kita lihat, isyunya masih dimulai dari media konvensional.

Artinya? Dominasi media konvensional masih terlalu kuat. Apalagi untuk dilawan oleh sebuah blog. hi hi hi.


Debat Pembenaran

Melihat debat di media sosial, saya mengambil kesimpulan bahwa para pihak yang berdebat sesungguhnya tidak mencari kebenaran tetapi mencari pembenaran. Masing-masing sudah punya pendapat sendiri-sendiri (yang tidak mau diubah), kemudian mencari argumentasi yang mendukung pendapatnya. Mencari pembenaran.

Ambil contoh yang mendukung. Sembunyikan contoh yang tidak mendukung. Bahkan sekarang seringkali contoh atau argumentasi yang mendukungnya pun tidak diperiksa kebenarannya. Seakan, semakin banyak contoh, semakin benar. hi hi hi.

Ingin dilihat paling benar atau menang dalam perdebatan. Itu tujuannya. Lah, sudah salah.

Diskusi atau debat seperti itu tidak akan memiliki ujung karena yang dicari bukan kebenaran. Yang sama-sama niat untuk mencari kebenaran saja sudah susah untuk menemukannya, apalagi yang masing-masing niatnya bukan itu. Saran saya, untuk yang model debat seperti itu lebih baik tidak usah dilayani.

Atau mungkin masalahnya di medianya. Media sosial nampaknya belum cocok untuk menjadi media diskusi. Entah medianya yang perlu diperbaiki, atau orang-orang yang menggunakannya yang harus lebih banyak belajar untuk mengendalikan teknologi ini.


Membaca Itu Bukan Bekerja

Ada banyak orang yang berpendapat bahwa membaca itu bukan bekerja. Soalnya membaca itu tidak kelihatan hasilnya secara fisik. Kalau menebang pohon itu kelihatan hasilnya. Berarti menebang itu bekerja. Lah, kalau membaca?

Padahal dalam hal pekerjaan yang membutuhkan pemikiran biasanya dibutuhkan pengertian dan pemahaman. Keduanya diperoleh setelah melalui proses membaca (dan kemudian dilanjutkan dengan mencoba). Tanpa membaca, kita akan menjadi bodoh dan tidak dapat mencari solusi yang dibutuhkan dalam pekerjaan kita.

Yang paling repot adalah menjelaskan pekerjaan mahasiswa yang sedang mengambil S3 karena pekerjaan utama mereka adalah membaca dan menulis. Membacanya juga agak ekstrim, yaitu harus banyak sekali membaca. Ratusan makalah dan buku harus dibaca oleh seorang mahasiswa S3. Untuk membacanya saja sudah membutuhkan waktu, apalagi untuk mengerti atau memahami. Maka dari itu banyak orang yang tidak mengapresiasi kesulitan mahasiswa S3.Sesungguhnya membaca itu juga bekerja, tetapi dilakukan oleh otak. Mungkin karena otak juga tidak terlihat secara fisik, maka sulit menerima bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh otak sama pentingnya (bahkan sekarang lebih penting) daripada pekerjaan yang dilakukan oleh otot.Nah, kalau membaca status orang di Facebook atau Twitter itu bekerja juga atau bukan ya?


Adu Kemiskinan

Sekarang banyak orang yang menggunakan kemiskinan sebagai alasan; “kami rakyat kecil”, “kami orang miskin”, dan seterusnya. Seakan-akan kalau sudah miskin itu boleh melanggar hukum. Ini contohnya: karena saya tidak bisa buat garasi, maka mobil saya parkir di pinggir jalan (dan mengganggu lalu lintas, yang mana digunakan oleh orang yang lebih miskin – yang  tidak punya mobil). Apa “miskin”nya dari punya mobil ya?

Minta dikasihani. Itu intinya. Semakin miskin semakin harus dikasihani. Maka yang terjadi adalah adu kemiskinan. Bukan adu perjuangan.

Kemarin ada demo angkutan umum karena adanya peluncuran layanan bis gratis untuk siswa dan karyawan. Salah satu poster yang terpasang di angkot mengatakan bahwa mereka (angkot) ini adalah orang miskin, bis gratis ini menganggu pendapatan mereka. Mereka lupa bahwa orang yang dilayani oleh bis-bis ini ada banyak orang yang tidak punya kendaraan sendiri (sehingga harus naik bis itu). Apa harus diadu kemiskinan antar mereka?

Lihat juga pengamen yang memilih angkutan kota untuk meminta duit dari pengendara angkutan kota ini (yang mana duitnya cekak dulu). Aneh saja. Mosok minta ke orang yang sama-sama (atau malahan lebih) tidak punya uang. Adu kemiskinan lagi?

Kalau dilihat, malah orang yang betulan miskin tidak menggunakan alasan itu. Mereka lebih memiliki harga diri dan berjuang lebih keras. Sementara itu banyak orang yang merasa miskin.

Hadoh … Memalukan orang-orang yang menggunakan alasan kemiskinan ini.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.853 pengikut lainnya