Mengundang Saya Menjadi Pembicara

Ada banyak undangan yang meminta saya menjadi pembicara atau nara sumber di berbagai acara. (Hari ini saja saya menerima 5 permohonan sebagai pembicara.) Seringkali ini saya tolak. Ada banyak alasan. Saya akan coba urai satu persatu.

Sibuk. Super sibuk. Banyak orang yang mengenal saya dalam satu dimensi saja (dosen saja, information security expert saja, hardware / IoT expert, musician, futsal player, dan seterusnya). Padahal saya adalah orang yang multidimensi dengan kesibukan yang pol dan total commitment. Sebagai contoh, saya latihan futsal 3 sampai 4 kali seminggu. Manggung band sekitar sekali atau dua kali sebulan. Bimbingan mahasiswa saya resminya hanya belasan orang (karena dibatasi oleh kampus), meskipun realitasnya mendekati 30 orang! Itu yang dari kampus ITB saja. Belum lagi yang melakukan mentoring entrepreneurship (yang kadang hanya 1 orang, kadang 30 orang lagi).

Saya adalah orang yang serius dalam pekerjaan. Sebagai contoh, sebagai dosen, jadwal mengajar saya hampir penuh. Kemungkinan saya hanya satu kali tidak hadir. Sementara itu saya melihat banyak dosen yang seringkali menjadi pembicara di sana sini. Lantas kapan ngajarnya? Atau yang ngajar adalah asistennya.

Adalagi waktu-waktu tertentu yang mana saya harus menyediakan waktu

Alasan yang kedua adalah waktu yang tidak seimbang antara waktu yang digunakan untuk memberikan presentasi dan waktu untuk perjalanan. Sebagai contoh, kalau saya memberikan presentasi di Jakarta maka waktu presentasinya adalah 30 menit (atau maksimal 1 jam) sementara perjalanan ke Jakarta paling cepat dengan kereta api adalah 3,5 jam (bolak balik 7 jam). Itu juga belum waktu perjalanan dari rumah ke stasiun, menunggu di stasiun, dan seterusnya. Walhasil, untuk presentasi 30 menit di Jakarta saya kehilangan waktu 1 hari. Belum lagi kalau harus berangkat pagi sekali (sebelum Subuh) dan pulang malam hari sekali, maka hari besoknya saya sudah capek sehingga hari berikutnya juga tidak produktif. Dua hari hilang hanya untuk 30 menit presentasi.

Contoh di atas adalah untuk presentasi di Jakarta. Bagaimana presentasi di luar kota lainnya? Biasanya ada 1 hari perjalanan menuju kota yang bersangkutan, 1 hari habis untuk presentasi, dan sering kali harus menginap lagi maka tambah 1 hari lagi. Total waktu yang dihabiskan adalah 3 hari. Itu pergi tanpa jalan-jalan. Padahal menariknya travelling adalah jalan-jalannya. Dengan kata lain, kalau dihitung waktunya maka dia menjadi tidak efektif.

Lantas kalau saya memenuhi undangan menjadi pembicara itu, kapan saya mengajar? Kapan saya belajar? Kapan saya membuat materi presentasinya? Kapan saya mengerjakan hal=hal lainnya?

Jadi itulah sebabnya saya banyak menolak untuk menjadi pembicara atau nara sumber. Jadi kalau permohonan Anda saya tolak, Anda tahu alasannya.

Iklan

5 pemikiran pada “Mengundang Saya Menjadi Pembicara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s