Tag Archives: Teknologi Informasi

Terlalu Banyak Data

Kemarin nyobain handphone baru. Begitu dipasang, dia langsung mensinkronkan kontak dan email. Busyet dah. Langsung handphone saya menjadi lelet. Maklum, saya memiliki data email yang sangat banyak. Sehari mungkin bisa dapat sekitar 500 email.

Desain dari aplikasi sekarang belum memperhitungkan jumlah data yang besar. Dianggapnya email hanya 10 atau 20 atau bahkan 100 email. Lah email saya ada 20.000. Gimana caranya melihat di handphone? Apalagi kalau email-email itu mengandung attachment (misal, tugas mahasiswa). Kebayangkan langsung habisnya memori komputer saya.

Baru saja saya selesai menjadi juri dari lomba pengembangan aplikasi (software). Salah satu hal yang belum dilihat oleh para pengembang adalah skala dari data. Misalnya, ada yang mengembangkan visualisasi pelaporan dengan menampilkannya dalam bentuk peta (digabung dengan Google Map?). Data yang digunakan di bawah 10 buah. Visualisasi mudah. Lah kalau datanya ada 3000 buah bagimana? Layarnya penuh dengan pin yang 3000 buah itu. hi hi hi.

Minggu lalu saya membackup web site saya, yang berisi data kuliah dan tugas mahasiswa. Web saya saja sudah ada 6 GB. Hadoh. Memang sudah kebanyakan data nih.


Ke(tidak)amanan Perangkat Digital

Apakah benar perangkat digital – seperti handphone, tablet, notebook, dan teman-temannya – tidak aman? Kita mendengar berita tentang penyadapan handphone dari pejabat-pejabat Indonesia (dan dunia). Apakah sedemikian mudahnya disadap? Jawaban siangkatnya adalah “YA”.

Baru-baru ini kabel yang digunakan untuk men-charge dan transfer data iPhone saya rusak. Saya membeli kabel yang bukan asli, meskipun harganya masih mahal juga – 200 ribu rupaih. Beberapa minggu dia jalan, kemudian tiba-tiba tidak jalan. Si iPhone marah-marah dan mengatakan bahwa perangkat (kabel) saya tidak didukung oleh iPhone. Saya terpaksa beli lagi yang harganya 150 ribu rupiah. Lagi-lagi dia jalan untuk beberapa minggu dan kemudian tidka jalan lagi.

Bagaimana si iPhone tahu bahwa kabel saya ini kw, bukan asli? Cari info ke sana kemari, akhirnya tahu bahwa di kabel untuk men-charge iPhone itu ternyata ada sebuah chip. Kecil sekali bentuknya sehingga terlihat seperti colokan kabel USB biasa saja. Chip ini mengidentifikasi bahwa kabel itu resmi mendukung produk Apple atau tidak. Halah!

Link terkait:

Pikir-pikir, kalau sekarang dia bisa mengidentifikasikan perangkat maka apa yang menghalangi dia untuk mengirimkan data ke pihak lain? Katakanlah ke NSA di Amerika. Hadoh.

Kayaknya kita bisa buat charger yang ngambil data dari handphone yang menggunakan charger itu. Nah.


Indonesia Darurat Malware

Dunia digemparkan dengan munculnya virus Ebola di Afrika. Korban berjatuhan dan upaya untuk mengatasinya dikerahkan di seluruh dunia. Ini bukan masalah Afrika saja, tetapi juga masalah seluruh dunia.

Apa dampak virus Ebola ini bagi Afrika? Orang menjadi takut untuk berkunjung ke sana. Ada nilai ekonomis di sana.

Ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan. Akademisi melakukan penelitian. Pelaku bisnis mengembangkan produk yang dapat dibeli dengan harga murah. Pemerintah memberikan dukungan melalui berbagi cara. Semua bahu membahu.

Mari kita terbang ke dunia lain, ke dunia cyber Indonesia. Jutaan virus – malware (malicious software) – menginfeksi komputer dan perangkat digital milik orang Indonesia. Sudah menjadi korban, kita pun dituduh menyebarkan malware ini. (Ada banyak statistik tentang ini, tetapi saya tidak akan menuliskannya di sini. Rekan-rekan yang lain akan menceritakan hal ini.) Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tidak terlalu salah jika kita katakan saat ini “Indonesia Darurat Malware”.

Sama seperti di Afrika, ada dampak juga bagi Indonesia. Indonesia boleh jadi dapat dikenal sebagai tempat masalah di dunia cyber. Sumber penyakit. Maka Indonesia akan dihindari dari dunia transaksi elektronik. Orang akan ragu untuk berinvestasi ke Indonesia.

Apa yang sudah dan akan kita lakukan? Apakah kita akan berpangku tangan? Tentu saja TIDAK!

Hari ini, Selasa 5 Mei 2015, kita berkumpul di Gedung Telkom Japati Bandung untuk berembug. Akademisi, peneliti, praktisi, pelaku usaha, komunitas, dan pemerintah – kita semua – berkumpul. Sama dengan upaya penanganan virus Ebola tersebut, kita juga harus bergegas untuk mencari solusi baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Saya berharap tumbuh penelitian-penelitian tentang malware di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah, munculnya perusahaan anti virus (penanganan malware) di Indonesia yang dikembangkan oleh para entrepreneur muda. Ini semua membutuhkan dukungan dan keberpihakan dari pemerintah.

Semoga usaha kita ini bermanfaat, tidak hanya bagi Indonesia saja tetapi juga bagi seluruh dunia. Aaamiiin.


Masalah Dengan Anonimitas

Salah satu tema yang berulang dalam pertemuan masalah keamanan di Intelligent-Sec Asia 2015 kemarin adalah masalah anonimitas. Salah satu kesulitan terbesar dari penegak hukum adalah melacak pelaku kejahatan.

Penggunaan kartu telepon (simcard) prabayar  tanpa identitas merupakan salah satu masalah terbesar di Asia. Di Manila kemarin saya membeli simcard tanpa menunjukkan identitas sama sekali. Di Indonesia, seharusnya kita mendaftarkan identitas kita ketika kita mengaktifkan kartu telepon yang baru. Namun saya melihat banyak penjual kartu yang memasukkan data asal-asalan saja. Mosok ada nama orang “Mickey Mouse”. he he he.

Upaya penegakan hukum – baik dalam hal membuat aturannya (Undang-Undang?) sampai ke penerapan dan pemberian sanksi jika melanggar – terkait dengan masalah identitas pengguna handphone ini masih sulit. Di Filipina sana, peraturannya masih terganjal – atau diganjal? oleh industri telekomunikasi.

Secara teknis, pelacakan pelaku kejahatan dengan menggunakan handphone ini dapat dilakukan. Sebetulnya anonimitas ini tidak betul-betul anonim. Ada jejak-jejaknya. Namun, upaya untuk mendapatkan identitas ini tidak mudah. Kalau masalahnya serius dan membutuhkan pelacakan at all cost, identitas dapat ditemukan. Ini masalah efisiensi dan biaya saja.

Katanya setengah dari masalah keamanan ini dapat terpecahkan jika masalah anonimitas ini dapat terpecahkan. Nah.


Internetan di Manila

Akses internet sudah merupakan kebutuhan primer saya. hi hi hi. Jadi, kalau pergi ke sebuah tempat maka yang dicari adalah akses internet. Nah, minggu lalu saya harus ke Manila, Filipina. Bagaimana akses internet dan telepon di sana?

Kasak-kusuk sana sini, saya menjadi tahu bahwa dua operator seluler yang menyediakan layanan internet di Filipina adalah Smart dan Globe. Sesampainya di airport, saya langsung cari tempat jualan kartu SIM. Ada. Eh, saya ditawari kartu SIM dengan internetan Smart dengan harga 1000 pesos. 1 Peso itu sekitar Rp. 300,-. Jadinya itu Rp. 300 ribu. Wah, mahal banget. Rasanya saya baca-baca tidak segitu. Tidak jadi beli.

Setelah check-in ke hotel, saya mencari tahu tempat membeli SIM card. Katanya bisa dibeli di Seven Eleven. Maka pergilah saya ke sana.

Ternyata memang kartu SIM dijual di Seven Eleven. Hanya saja yang jualan di sana lebih familier dengan Globe tetapi yang ada Smart. Katanya itu juga untuk nano SIM. Saya coba lihat paketnya yang Smart itu. Harganya 100 pesos dan packaging-nya bisa untuk kartu biasa, mikro, dan nano. Kartunya bisa dipotong-potong sampai jadi nano simcard, tapi orisinalnya sih dalam ukuran yang biasa. Yang jualan tidak yakin. Ah, nekad saja saya beli. Toh harganya kalau dikurskan menjadi Rp. 30 ribu. Oke lah.

Saya pasang SIM card itu di handphone Android saya. Jalan! Yes! Isinya ada pulsa sebanyak 40 pesos (atau 50 ya? saya lupa). Nah mengaktifkan internetnya bagaimana? Di bungkusnya tidak ada instrukusi untuk internetan, tetapi saya ingat komentar beberapa rekan di twitter dan facebook saya bahwa kita bisa langganan “unlimitted”(?) internet untuk sehari dengan mengirimkan instruksi  “Unli 50″ via SMS ke “211”. Dia akan mengambil 50 pesos.

Di Seven Eleven itu juga ada mesin top-up, yang bentuknya seperti mesin ATM kecil. Saya ke mesin itu dan melakukan top-up sebanyak 60 pesos (18 ribu rupiah) dan membayarkan ke kasir. Maka pulsa saya cukup untuk berlangganan internet itu. Saya kirimkan “Unli 50″ ke “211”. Internet siap! Yes!

Besoknya saya harus kirimkan SMS itu lagi untuk mengaktifkan internet untuk hari itu. Dan seterusnya. Lumayanlah bisa internetan dengan relatif “murah” di Manila (Filipina).

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang mau internetan di Filipina.


Masalah Kejahatan Internet di Indonesia

Minggu ini saya diminta untuk memberikan presentasi mengenai “recent internet crimes in Indonesia”. Nah sekarang saya sedang mengumpulkan materi (poin-poin) untuk pembahasan itu. Isinya kira-kira:

  1. Internet threats in Indonesia;
  2. Case studies of internet crimes in Indonesia;
  3. Internet and terrorism in Indonesia.

Untuk poin pertama, saya akan mengambil data dari ID-CERT. Isinya terkait dengan statistik serangan dari / ke Indonesia. Kayaknya masih ada tuduhan bahwa Indonesia termasuk negara yang paling banyak menyerang Akamai. (Membutuhkan link2 dan data / statistik untuk ini.)

Untuk yang kedua, enaknya contoh kasus yang diangkat apa ya? Apakah kasus pembobolan internet banking yang baru-baru ini terjadi? Apa lagi ya yang menarik untuk diangkat?

Nah untuk poin ketiga, tentang terrorism, saya masih mikir. Kalau kasus dengan ISIS dan internet di Indonesia ada gak ya? Kalau keributan soal pemilihan presiden, anti aliran tertentu, penajaman perbedaan (agama, aliran, dll.) yang bertujuan untuk menghancurkan Indonesia dan sejenisnya apa mau dimasukkan ke sini saja? Kemudian ini dikaitkan dengan inisiatif pemerintah untuk memblokir situs-situs tertentu. Begitu?

Ini jadi semacam crowdsourcing gini … hi hi hi.


Belajar, Belajar, dan Belajar

Saya memang senang belajar. Apalagi kalau yang dipelajari tentang komputer. Wah, senang sekali belajarnya. Maklum, nerd.

Nah, minggu lalu saya belajar pemrograman bahasa Swift untuk iOS (itu lho, yang dipakai oleh iPhone, iPad, dan saudara-saudaranya). Bahasa Swift mirip dengan Objective-C dan ternyata masih bergerak spesifikasinya. Dukungan dari Xcode juga masih belum maksimal. Masih ada glitches di sana sini. hi hi hi. Tapi, secara keseluruhan sangat menarik. Bahkan saya ingin buat command-line twitter client dengan menggunakan Swift ini.

IMG_7810 BR swift 1000

Terlihat di foto atas, meskipun saya pusing tujuh keliling, saya tetap tertawa. Ha ha ha. Eh, jangan-jangan ini tertawanya orang gila ya? Tapi yang lain pun ikutan tertawa kok. Itu di depan saya, Andry Alamsyah, juga tertawa. Seriously, it was so much fun.

Belajar yang fun itu menyenangkan.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.430 pengikut lainnya.