Arsip Penulis: Budi Rahardjo

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku

Cerita Lebih Penting

Dalam sebuah diskusi ada seorang mahasiswa yang bertanya bagaimana menyikapi kelemahan infrastruktur IT di Indonesia sehingga sulit untuk mengembangkan aplikasi (dalam hal ini games) yang high quality (dari segi kualitas suara, gambar, dan sejenisnya). Dia mengatakan bahwa gara-gara infrastruktur yang kurang baguslah kita sulit untuk mengembangkan karya yang bagus. Sulit untuk mendapatkan pengguna atau penggemar.

Jawaban saya saya peroleh dari nara sumber adalah bahwa tidak benar kualitas itu menentukan kepopuleran. Bahwa yang penting adalah ceritanya. Contoh, kita tetap menonton film dari CD/DVD bajakan dengan kualitas yang rendah. Yang kita kejar adalah ceritanya. Tentu saja kalau kualitas gambar dan suaranya lebih bagus kita lebih suka, tetapi dengan kualitas yang seadanya pun kita tetap akan menonton. Saya setuju dengan pendapat ini.

Ini lebih menguatkan pendapat bahwa cerita itu lebih penting. Dan tentunya cara menceritakannya – how to tell the story – itu juga penting. Sayangnya ini tidak diajarkan di sekolah. Terpaksa kita harus belajar sendiri. Mari kita belajar untuk membuat cerita dan menceritakannya dengan menarik.


Tenggelam Dalam Langit

Saya suka memotret langit (the sky) karena mereka diam ketika dipotret sehingga memudahkan saya dalam memotret. Hasilnyapun dijamin bagus. Setidaknya lebih bagus dari potretan saya dengan obyek lainnya.

Sebetulnya ada alasan lain saya memotret langit, yaitu keindahannya. Saya merasa langit itu seperti lautan. Kita bisa tenggelam di dalamnya. Kalau tenggelam itu ke bawah, kalau ke langit apa namanya ya?

CIMG4796 tree sky 1000

CIMG4797 skies 1000

 

 


Harus Baca Buku

Bagaimana kita menjadi semakin lebih baik (pintar) di bidang kita? Salah satu caranya adalah dengan membaca buku. Masalahnya adalah membaca buku menjadi semakin kurang digemari. Apalagi dengan adanya internet yang membuat kita ingin cepat mengetahui tentang sesuatu topik dengan hanya membaca twitter. he he he. Mana bisa menjadi pakar dengan hanya membaca twitter.

Mengapa buku? Karena buku memungkinkan pembahasan yang mendalam. Apa yang kita baca di berita (news) atau artikel di internet – termasuk blog ini – biasanya hanya membahas kulitnya atau hanya membahas kesimpulannya saja. Bahasan yang lebih dalam atau bagaimana sang penulis sampai kepada kesimpulan tersebut tidak dapat (jarang sekali) dibahas dalam artikel online. Kalaupun dituliskan dalam blog, misalnya, kemungkinan tidak ada yang tertarik untuk membaca. Apakah Anda mau membaca tulisan di blog yang panjangnya 75 halaman (screen, layar)? he he he. Saya yakin jawabannya adalah tidak!

Menulis buku juga tidak mudah. Buku yang bagus maksudnya :)   . Sang penulis harus mengumpulkan data untuk isnya, merangkumkan, membuat analisis, dan memilih kata-kata yang pas agar menyenangkan untuk dibaca. Tidak seperti menulis di blog ini yang asal mangap. Eh, asal ketik. hi hi hi. Yakinlah bahwa menulis buku itu bukan sebuah pekerjaan yang main-main. Ini tercermin dalam produknya; buku.

Oleh sebab, maka, daripada itu, … membaca buku masih merupakan sebuah keharusan.

Buku apa yang sedang Anda baca? (Atau, buku apa yang terakhir Anda baca? Kapan?)


Kredibilitas Makalah

Ada mahasiswa yang bertanya apakah cukup menggunakan dua referensi di makalahnya. Wah. Hanya dua? Menurut saya ini kurang. Kesannya hanya menerjemahkan dari dua referensi tersebut.

Saya tidak tahu apakah kurangnya referensi ini karena memang topiknya demikian baru dan susah sehingga jarang (belum ada) orang yang menulis atau karena sang mahasiswa belum optimal (baca: malas) dalam mencari referensi. Jaman sebelum ada internet, kesulitan mencari referensi memang dapat dimengerti. Hanya tempat yang memiliki perpustakaan yang bagus saja yang tidak memiliki masalah. Kalau sekarang? Hampir semuanya dapat diakses melalui internet sehingga tidak ada alasan untuk tidak mendapatkan referensi. (Ada kasus-kasus tertentu, tetapi ini anomali.)

Kredibilitas dari sebuah makalah salah satunya ditentukan dengan referensi yang digunakannya. Memang jumlah bukanlah satu-satunya ukuran yang dapat digunakan. Biarpun jumlahnya banyak tetapi referensinya tidak bagus hasilnya juga tidak bagus. Hanya saja, kalau dua itu nampaknya masih kurang.


Salah Doa

Sebaiknya sebelum memulai sebuah pekerjaan, berdoa dulu. Maka, sebelum berangkat kerja atau ke sekolah, berdoa dulu. Mari …

ALLOHUMMA BAARIK LANAA FIIMAA ROZAQTANAA …

weeiiittsss … tunggu bentar. Salah! Itu salah doa euy … he he he


Tetap Kreatif

Sebuah poster tentang tetap kreatif muncul di pinterest; 29 ways to stay creative. Menarik juga.

Bagi saya, salah satu cara agar saya tetap kreatif adalah dengan ngeblog di tempat ini. Saya berusaha menulis *setiap hari*. Artinya saya ditantang untuk mencari sebuah topik setiap hari dan kemudian menuliskan sesuatu tentang topik itu. Harapannya topiknya yang menarik dan tulisannya menarik juga.

Kadang memang harapan ini belum menjadi kenyataan. hi hi hi. Yang penting sudah usaha. Oh ya, jangan lupa, tujuannya adalah tetap kreatifnya. Menarik atau tidak itu urusan ke-73.


Entrepreneur atau bukan

Ada perbedaan yang mendasar antara seorang entrepreneur (innovator? creator?) atau bukan. Entrepreneur akan mencoba merealisasikan ide, sementara yang bukan selalu mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Sangat gamblang sekali perbedaannya.

Suatu ketika saya melemparkan ide sebuah pekerjaan. (Ide tersebut sebetulnya bukan dari saya tetapi dari rekan saya. Dia sedang mencari orang yang sanggup merealisasikan idenya – dengan dibayar tentunya. Saya pikir idenya keren, hanya saja tim saya sedang overloaded.) Respon yang saya peroleh dari kebanyakan orang adalah alasan untuk tidak tertarik; ah ide itu kan sudah ada, kayaknya tidak bisa diimplementasikan, dan sejenisnya. Padahal tinggal dikerjakan dan ada duitnya pula. Terlihat mereka tidak antusias. Ya sudah. Percuma kalau saya ajak mereka untuk merealisasikan ide itu.

Salah satu “kehebatan” dari seorang entrepreneur adalah “kebodohan” dia bahwa apa yang akan dilakukan itu menurut para “pakar” tidak dapat dilakukan. Dan berkali-kali para “pakar” itu salah. Sebagai contoh, dulu para pakar mengatakan tidak mungkin membuat komputer lebih kecil karena ada banyak chips yang dibutuhkan untuk mengimplementasikannya. Steve Wozniak tidak tahu bahwa itu tidak bisa (kata para pakar) dan langsung membuatnya saja. Ternyata, bisa!


Serasa …

Terdengar suara knalpot motor di belakang mobilku. Gas dimainkan. Siapa sih orang ini. Coba kulihat di spion.

Seorang anak muda, tanpa helm, mengemudikan motornya. Sebuah motor berjenis “bebek” yang onderdilnya mulai dipreteli. Motor meliuk-liuk di antara mobil dan motor lainnya. Hmm… lebih baik kubiarkan motor ini lewat daripada menggores mobil.

Motor lewat. Dari belakang terlihat motor tidak memiliki plat nomor. Masih meliuk-liuk dengan badan dimiring-miringkan. Apa sih yang ada di kepalanya ya? Serasa pembalap? Seperti Valentino Rossi? Dengan kecepatan hanya 40 km/jam? Di jalan raya?

Hi hi hi. Lucu saja. Sayangnya kelucuan ini mungkin menjalar ke banyak anak muda. Duh …


Dukung Ridwan Kamil

Hari Minggu kemarin, saya menghadiri acara fund raising untuk Ridwan Kamil sebagai calon walikota Bandung. Sebetulnya sih kehadiran saya adalah dalam rangka untuk manggung dengan BanDos, seperti di postingan terakhir, tetapi kesempatan ini saya gunakan juga untuk mengenali apa yang ditawarkan oleh Ridwan Kamil.

CIMG4723 bandung juara 1000

Ridwan Kamil memberi presentasi mengenai program kerjanya dia. Menurut saya apa yang ditawarkan tidak muluk-muluk, dapat diimplementasikan, dan memang dibutuhkan oleh warga kota Bandung. Jalan yang rusak, berlubang, dan buruk kondisinya harus diperbaiki. Ridwan Kamil dan kawan-kawan juga tidak hanya janji-janji saja karena mereka sudah mengerjakan hal ini (perbaikan jalan). Kemudian mereka juga memperbaiki taman-taman yang dibutuhkan oleh anak-anak (dan tentunya juga orang tuanya) agar mereka ada tempat bermain. Dan masih banyak lainnya.

[Kalau ada rekan-rekan yang punya materi presentasinya, mohon diberitahu link-nya.]

Terus terang, saya adalah orang yang apatis terhadap pemilu-pemilu. Sama dengan banyak orang lainnya. Namun untuk kali ini, saya berpendapat bahwa Ridwan Kamil pantas untuk didukung. Kita sudah muak dipermalukan dengan kondisi Bandung. Untuk membuktikan dukungan, saya akan transfer uang ke rekening kampanye Ridwan Kamil. Semoga penduduk kota Bandung – dan juga bukan penduduk kota Bandung (misalnya rekan-rekan dari Jakarta yang sering datang ke Bandung dan kesal dengan jalan-jalan Bandung yang buruk) – ikut mendukung Ridwan Kamil.

Bandung, Juara … Juara … Juara … Juara …


Jreng!

Tadi siang sampai dengan sore, kami (BanDos) manggung di Lawang Wangi Creative Artspace dalam rangka ikut meramaikan acara fund raising bagi Ridwan Kamil sebagai calon walikota Bandung. Komentar saya mengenai Ridwan Kamil akan saya tuliskan secara terpisah ya. Cerita tentang manggungnya dulu aja.

Manggungnya cukup sukses. Tentu saja ini menurut saya. Saya lupa berapa lagu yang kami mainkan, 20-an gitu? Masih banyak lagu-lagu kami yang belum sempat dibawakan. Untuk acara ini saja kami sudah latihan sekitar 40 lagu :)

CIMG4710 guitars 1000

Satu hal yang perlu saya catat adalah musik kami cukup keras (loud) meskipun jenis musiknya adalah pop / funky. Mungkin ini disebabkan karena kami full band dengan banyak personel pemain band dan penyanyinya. Mungkin juga style kami yang lebih ke arah show di tempat terbuka bukan di ruangan cafe.  Berikutnya nampaknya kami harus juga memiliki versi akustikan.

Jreng!


Kesabaran Dalam Menulis

Saya nampaknya termasuk orang yang kurang sabar dalam menulis. Yang saya maksud dengan kesabaran di sini adalah kedalaman ketika kita menjabarkan sebuah obyek. Sebagai contoh, ketika menceritakan sebuah pohon maka saya akan menulis pohon jambu yang berada di depan rumah saya. Titik. Begitu saja. Saya tidak punya cukup kesabaran untuk menceritakan lebih lanjut mengenai pohon tersebut; apakah dia banyak buahnya, sudah berapa lama pohon tersebut tumbuh, atau bahkan saya tidak cukup sabar untuk menjelaskan bahwa jambu yang saya maksud adalah jambu air bukan jambu bol. he he he. Akibatnya tulisan saya menjadi terlalu singkat. Plot saja.

Mungkin saya termasuk yang kurang suka dengan cerita yang terlalu berbunga-bunga. Saya lebih suka mendapatkan inti dari alur ceritanya kemudian mengembangkan sendiri cerita itu dalam kepala saya. Mengkhayal. Itulah sebabnya saya lebih suka cerita yang tidak terlalu menyuapi pembacanya dengan rincian. Berikan pembaca secukupnya dan biarkan mereka mengkhayal. Itu yang terbaik menurut saya.

Namun saya sadar bahwa yang terbaik menurut saya bukan berarti yang terbaik menurut banyak orang. Maka dari itu seharusnya saya belajar untuk lebih sabar dalam menulis. Harus berlatih. (Mencari latihan menulis.)


eKTP rusak difotocopy? Ah yang bener …

Belakangan ini ada ribut-ribut soal eKTP. Katanya eKTP rusak kalau difotocopy. Aneh bagi saja. Alasannya apa? Apa yang merusak? Sinar dari mesin fotocopy? Gelombang magnetik? Tidak dijelaskan. Kalau fotocopy merusak, apa mesih fotocopy tidak berbahaya bagi kesehatan? Nah lho. Nanti apa eKTP tidak boleh discan, tidak boleh difoto pakai blitz, dan seterusnya. Banyak sekali isu palsu tentang ini.

Jika memang benar eKTP gampang rusak, maka desainnya demikian buruk! Mosok senggol dikit rusak. Padahal KTP kan harus reliable. Dia harus bisa dikantongi (dalam dompet, kantong yang lembab) atau ter-abuse (kena panas, dingin, dan seterusnya). Bayangkan, kartu-kartu lain (kartu bank) kok bisa tidak rusak? hi hi hi.

Kalau eKTP tidak dapat dicopy dalam artian di-cloning. Nah itu saya baru setuju. Harusnya demikian.

Bacaan lain:


Terkapar

Dua hari tidak sempat ngeblog. Alasannya sederhana, tewas terkapar. Sejak hari Senin saya sudah mulai sakit. Sendi=sendi terasa ngilu dan kemudian perut mulai diare. Ini berlangsung hari Selasa dan sampai hari ini.

Meskipun demikian saya masih tetap mencoba menyelesaikan tugas-tugas saya; mulai dari menguji mahasiswa sampai ke memberikan presentasi (motivasi) kepada generasi muda tentang entrepreneurship di bidang IT. Di sela-sela itu sebetulnya saya tidak bisa makan. Akhirnya lemas. Tidak sanggup untuk ngeblog.

Tadi saya ke dokter dan sudah diberi obat. Mudah-mudahan bisa segera sembuh. Sekarang mulai menjalankan tugas-tugas lagi. (Baru buka email.) Sayangnya mungkin hari ini belum cukup kuat untuk futsal. ihik.

Itu dulu saja. Sudah banyak yang ingin dituliskan tapi belum sempat.


Terus Berlari

aku berlari …
dan terus berlari

jika aku berhenti
penat akan datang
mendapati diriku
menghentikan diriku

aku harus terus berlari …


Cocok-cocokan Sepatu

Sepatu futsal saya sudah mulai tipis. Entah sudah berapa tahun umur sepatu ini. Akhirnya beberapa minggu yang lalu (dua bulan yang lalu?) saya membeli sepatu futsal yang baru. Kali ini saya beli yang bagusan merek Puma. Harganya pun lebih mahal dari sepatu sebelumnya.

Setelah saya beli saya belum sempat pakai secara ekstensif karena dipake anak saya. hi hi hi. Dua minggu yang lalu sempat saya coba sepatu ini. Enak juga pakainya, tetapi setelah selesai main futsal baru kerasa telapak kaki sakit karena ada blister (kapalan?). Hmm… nampaknya sepatu ini kurang cocok ya? Saya akan coba nanti. Atau saya harus beli sepatu lagi yang model lama?

Sepatu-sepatu futsal saya sebelumnya – mungkin sudah 3 set yang saya gunakan sampai rusak, maklum saya sudah main futsal cukup lama – adalah dari merek Diadora. Saya cocok dengan sepatu dari Diadora karena desainnya yang cocok dengan kaki saya dan harganya termasuk murah. Hanya memang dari segi desain dia tidak se-nge-jreng sepatu-sepatu lain. Dia ya seperti sepatu biasa saja. Tidak ada yang aneh. Mungkin ini juga yang membuat harganya tidak mahal, yang mana ini sebetulnya bagus untuk kantong saya. hi hi hi. Nampaknya saya harus beli sepatu Diadora lagi. (Alasan untuk beli sepatu futsal lagi.)

Sepatu memang cocok-cocokan. Harga mahal tidak jadi jaminan cocok.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.072 pengikut lainnya.