Author Archives: Budi Rahardjo

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku

Cita-cita Jadi Presiden

Sah sudah pak Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden Republik Indonesia dan pak Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Satu hal yang menarik bagi saya adalah peristiwa ini membuka mata kita bahwa siapapun dapat menjadi presiden. Pak Jokowi yang mengawali karirnya dari usaha mebel dapat menjadi presiden. Luar biasa.

Sekarang kita dapat berkata kepada anak-anak kita, kau bisa menjadi presiden.

Anak-anak di seluruh penjuru Indonesia dapat bercita-cita jadi presiden.

You can be anything you want to be, kid.

Ah betapa indahnya. Keep those dreams alive.

Soundtrack … “Jadi Presiden“.


Parodi Superhero (3)

Spiderman baru sampai kamarnya. Rebahan sebentar ah. Capek. Sambil rebahan dia melirik pintu. Eh, ada kertas di bawah pintu. Nampaknya disodorkan ketika dia sedang pergi.

Sambil malas-malas dia bangun dan mengambil kertas itu. Ternyata ini undangan untuk pemilihan presiden. Wah dapat juga undangan nyoblos. Tertera namanya, spiderman. Sebetulnya dia sedang mikir juga, darimana KPU tahu dia tinggal di sini? Tetapi karena dia sedang senang untuk ikutan pilpres ini, dia tidak peduli. Sebelum-sebelumnya dia termasuk yang golput. Kali ini dia gagal golput. hi hi hi.

Zzz … saking lelahnya, spiderman tertidur dengan menggenggam kertas itu di tangannya. Menggenggam sebuah harapan.

Pagi hari menjelang. Spiderman melemaskan ototnya dengan sedikit berolah raga di atas atap gedung. Hari yang baik. Hari yang membuat perubahan. Nyoblos hari ini. Yeah, yeah, yeah. Loncat sana, loncat sini.

Jam 10 pagi spiderman mulai berangkat menuju TPS yang tertera pada kertas panggilan nyoblos. Tidak jauh dari tempat tinggalnya. Bisa jalan santai saja. Tidak perlu heboh loncat dari satu gedung ke gedung lainnya. Melenggang dia berjalan.

Sepanjang jalan dia melihat orang-orang ceria. Mereka nampaknya menuju TPS masing-masing. Beberapa di antaranya melambaikan tangan. Spiderman melambaikan tangan lagi. Aura perayaan hadir.

Sesampainya di TPS, spiderman menyodorkan kertas panggilan yang dia bawa kepada petugas TPS. Petugas TPS melihat nama yang tertera. Tertegun. Spiderman sudah merasa gede rumangsa (ge-er) dulu. Pasti petugas sudah tahu siapa dia. Petugas mengerutkan dahinya.

“Ada masalah?”, tanya spiderman. Waswas.
“Nganu. Mas bawa identitas tidak?”, jawab petugas.

Spiderman tersentak. Baru kali ini dia ditanya identitasnya. Bukankah sudah jelas?

“Ini mas”, kata spiderman sambil menunjukkan baju pakaiannya dari kepala ke kaki. Berharap sang petugas dapat menerima identitasnya.

Petugas menggelengkan kepala. “Tidak bisa mas”.

“Lho, kenapa? Kan saya sudah jelas saya spiderman”, jawab spiderman.

“Dan mereka juga”, kata sang petugas sambil menunjuk tiga anak kecil yang berpakaian spiderman. Menari-nari sambil menunjuk-nunjuk spiderman. Nampaknya mereka diajak oleh orang tuanya ke TPS dengan memakai pakaian spiderman.

Spiderman pusing … Ngelu … memikirkan cara untuk membuktikan bahwa dia benar-benar spiderman. Tadinya terpikir untuk membuka kedoknya dan menunjukkan bahwa dia adalah Peter Parker, tapi nanti jadi ketahuan siapa dia. Lagi pula yang diundang untuk pemilu adalah spiderman, bukan Peter Parker. Kemudian dia punya ide.

“Mas, tapi mereka kan gak bisa begini”, kata spiderman sambil meloncat ke gedung. Menjulurkan tangannya. Jala keluar dari tangannya. Berayun dia dari satu gedung ke gedung yang lain. Yiiihaaa … Orang-orang bersorak sorai. Spiderman mendarat kembali ke depan petugas.

“Bagaimana mas?”

Petugas celingukan. Melihat ke orang-orang di sekitar dan saksi. Semuanya mengangguk. Persetujuan.

“Ok mas spiderman. Silahkan menunggu panggilan”

Spiderman pun bernafas lega. Yaaayyy. Kali ini aku tidak lagi golput. Jayalah negaraku.

[Seri parodi superhero: 1, 2, 3]


Kemenangan Itu …

Bagi saya, kemenangan itu sudah terjadi ketika saya mencoblos di pilpres kali ini. Saat itu juga. Yang saya maksud dengan kemenangan ini adalah kemenangan diri. Saya berubah dari tidak peduli menjadi peduli. Yang tadinya golput, sekarang memilih. Ada banyak alasannya, tetapi nampaknya semuanya bermuara kepada ketulusan hati dari para orang-orang. Bagi saya ini sebuah kemenangan.

Lepas memilih itu, sesungguhnya saya tidak terlalu mempermasalahkan capres mana yang akhirnya menang dan terpilih jadi presiden Republik Indonesia. Saya punya kecenderungan, tentunya, tetapi bagi saya masalah yang menang ini atau itu adalah ujian lain. Itu adalah ujian kejujuran sistem dan ditegakkannya keilmuan (sains). Itu tidak lagi bergantung kepada saya.

Jadi inget mas Sobur lagi yang mengatakan “bagi BR, semuanya adalah perayaan”. Ah, so true … hi hi hi


Kabar Gembira

Ada kabar gembira untuk Anda sekalian. Bukan, bukan ekstrak kulit manggis tetapi anak-anak muda Indonesia berkarya!

Salah satu karya yang sedang ramai diperbincangkan adalah karya kumpulan anak muda, yang dimotori oleh Ainun dan kawan-kawannya, kawalpemilu.org. Ini adalah situs yang mengambil data form C1 dari situs KPU dan melakukan konversi dari gambar hasil scan menjadi angka dan melakukan operasi penjumlahan hasil pilpres. Ini merupakan sebuah implementasi nyata dari open data, open government, dan memberdayakan warga (empowering people). Keren sekali.

Hal-hal seperti ini yang membuat saya kembali yakin akan masa depan Indonesia yang cerah. Hebat.

Untuk anak-anak muda seperti Ainun dan kawan-kawan, semoga tidak menjadi lupa diri, sombong, arogan, merasa serba tahu, dan sejenisnya. Tetap gunakan ilmu padi. Oh ya, jangan keseringan masuk berita juga sih. hi hi hi. Keep low profile. I know it’s hard to say no to all the spotlights, but you have to say no. Keep on creating master piece(s).

Oh ya, perlu juga kita apresiasi upaya-upaya yang dikerjakan oleh kelompok-kelompok lain seperti terlihat dalam daftar berikut (dari Kaskus). Keren! You guys rock!

Update: nambah lagi www.pilpres2014.org
The data is obtained by automatic crawling http://pilpres2014.kpu.go.id/ periodically and updated every 6-12 hours. This site is built on top of Windows Azure USA cloud technology and many open source technologies such as KnockoutJS, JQuery, .NET Framework, HTML5, GitHub, Visual Studio 2013, D3 Visualization.
The source-code is shared in Pilpres2014 GitHub under APACHE 2.0 license. Made by Indonesian Microsofties, Henry Tan, Ph.D in Comp Sci, held several patents, previously in Bing team, now working in Microsoft Research.


Internet di Jalan

Beberapa hari terakhir ini saya tidak ngeblog karena saya sedang di jalan. Bandung – Singapura – Jakarta – dan kembali ke Bandung lagi. Selama di perjalanan, selain tidak sempat ngeblog, akses internet juga sering sulit. Pas lagi mau ngeblog tidak punya akses internet. Pas ada akses internet, waktunya yang tidak sempat. Ampun deh.

Akses internet di Indonesia tidak perlu saya ceritakan ya? Soalnya kita sudah sama-sama tahu. Lambat. ha ha ha. Sebetulnya akses internet di Indonesia termasuk cukup baik kalau lagi baik. Maksudnya sinyal ada dan bandwidth juga ada. Harga akses internet di Indonesia termasuk cukup murah untuk akses yang biasa-biasa saja. Kalau untuk yang cepat, nah itu saya tidak tahu. Di Indonesia rata-rata saya gunakan paket internet yang 1 bulan, Rp. 50 ribu (ke bawah), dengan kuota 1 GB (meski kadang ada yang kasih lebih).

Akses internet di Singapura – kalau dilihat dari kacamata pengunjung – dapat dibilang cukup baik, meskipun lebih mahal dibandingkan di Indonesia. Awalnya saya tidak tahu bagaimana akses internet di Singapura. Di beberapa tempat, seperti di airport Changi, akses internet mudah dan berlimpah. Ada banyak terminal yang dapat kita gunakan secara gratis – meski dibatasi 15 menit. Toh kita bisa login lagi setelah 15 menit. Di tempat lain, nah ternyata tidak mudah. Saya mencoba berbagai macam kombinasi sampai akhirnya yang paling pas dengan saya adalah paket Starthub.

Ada dua jenis paket Starhub. Paket yang hanya data saja, Sing$ 18 dengan bandwidth yang besar tapi saya lupa berapa kuotanya (1 GB?). Dia dapat digunakan selama seminggu kalau tidak salah. Sayangnya paket yang itu tidak dapat digunakan untuk telepon / SMS. Padahal kadang saya butuh telepon dan SMS di Singapura. Maka saya ambil simcard perdana Starhub yang biasa. (Saya lupa harganya sekarang, rasanya agak mahal. Kalau dulu Sing$ 28.) Dengan paket itu kita dapat aktifkan akses internet seperti halnya dengan operator-operator seluler di Indonesia. Saya biasanya megaktifkan paket 1 GB, 7 hari, Sing$ 7. Kalau dikonversikan ke Indonesia, ini sama dengan paket 1 bulan di Indonesia. Tuh kan, internet di Indonesia sebetulnya murah. Hanya saja kalau di Singapura, internetnya cepat! Nah itu dia bedanya.

Indonesia: Murah, lambat, perioda aktif lama.
Singapura: Mahal, kenceng, perioda aktif lebih singkat.

Perbedaan lain lagi. Di Indonesia, biasanya di hotel akses internetnya gratis. Kalau di Singapura, akses internet di hotel itu biasanya berbayar dan mahal! (Untungnya kemarin kami dapat akses internet gratis di hotel.)

Begitulah observasi singkat saya.


Semangat Positif

Di tengah deru pertengkaran di media sosial mengenai pilpres, kita membutuhkan semangat positif. Aura negatif, permusuhan, sumah serapah, seharusnya sudah habis. Dan sekarang pun kita masih di bulan Ramadhan, yang seharusnya dapat menahan nafsu (amarah) kita.

Kemarin melihat seri “secret millionaire”, yaitu sebuah acara di mana seorang yang kaya raya (millionaire) menyaru sebagai orang biasa dan masuk ke daerah yang membutuhkan bantuan. Kebetulan yang saya tonton adalah versi Inggris. Eh, terhanya di Inggris sana masih banyak daerah yang terpuruk ya? Saya baru sadar. Ada daerah yang tingkat penganggurannya sangat tinggi. Kemiskinan melanda. Anak-anak muda berkeliaran tanpa tujuan. Hasilnya adalah kejahatan dan kekerasan.

Namun pada kondisi yang susah ini ternyata masih ditemukan orang-orang yang memiliki semangat positif. Mereka bekerja memperbaiki kondisi yang terpuruk ini. Mereka tidak tinggal diam. Padahal mereka-mereka ini bukan orang yang kaya. Bahkan ada yang miskin juga. Yang mereka miliki adalah semangat untuk membangun. Semangat positif. Nah, orang-orang seperti ini yang kita butuhkan. Orang-orang yang memberi inspirasi sehingga orang lain pun tertular semangat positif ini.

+ p + o + s + i + t + i + f +


Perang Informasi

Sebelumnya, saya ingin membuat tulisan tentang perang informasi (information war) tetapi agak kesulitan mencari contoh yang dekat dengan kita. Nah, sekarang ternyata banyak contoh yang hadir di hadapan kita. Event pemilihan presiden (pilpres) ini ternyata merupakan contoh yang paling nyata.

Pilpres kali ini diwarnai dengan kampanya negatif atau kampanye hitam. Informasi yang palsu dibuat dan disebarkan di internet. Informasi ini dapat berbentuk tulisan, gambar, dan bahkan video. Ada yang jenisnya hanya berupa lelucon, misleading, atau betul-betul informasi bohong yang dikarang khusus untuk menyesatkan pembaca. Ini dia salah satu contoh perang informasi.

Bahkan pada hari kemarin (9 Juli 2014), kita dibingungkan dengan hasil quick count yang berbeda dari berbagai lembaga survei. Mana yang benar?

Kita, sebagai pembaca, dibingkungkan dengan berbagai versi dari informasi. Seringkali sumbernya tidak jelas. Ada banyak yang menggunakan akun anonim. Ada juga yang informasinya “jelas”, dalam artian ada alamat web-nya, tetapi tidak jelas orangnya. Bagaimana kita menentukan kredibilitas sumber berita?

Ada juga yang berpendapat bahwa kalau sebuah “informasi” banyak disebarkan maka dia akan menjadi benar. he he he. Atau kalau halaman sebuah media sosial banyak diikuti (followed, liked) maka dia menjadi benar juga. Mungkin perlu kita coba membuat sebuah eksperimen. Katakanlah kita membuat sebuah informasi palsu, “Perang Diponegoro dimulai tahun 1801″, kemudian kita ramai-ramai menyimpan informasi tersebut di halaman internet kita masing-masing dan meneruskannya ke banyak orang. Apakah ini akan menjadi informasi yang dominan dan yang akan dipercaya oleh banyak orang (termasuk search engine)? Ini merupakan ide penelitian yang menarik. Yuk. [Hayo, ada yang masih ingat perang Diponegoro dari kapan sampai kapan?]

Nampaknya akan semakin banyak dibutuhkan orang teknis yang menguasai bidang forensic, orang sosial untuk memahami fenomena ini, dan orang hukum untuk mengatur dan menyelesaikan kasus-kasus ini.


Kuliah Entrepreneurship Menghasilkan Entrepreneur?

Dalam sebuah seminar tentang entrepreneurship ada sebuah komentar (dan pertanyaan) dari peserta. Dia mengajar kuliah entrepreneurship dan ternyata tidak banyak yang menjadi entrepreneur. Adakah kiat-kiat untuk meningkatkan jumlah lulusan yang menjadi entrepreneur?

Saya jadi teringat jaman dahuluuu … waktu saya masih kuliah S1 di ITB. Salah satu mata kuliah yang populer waktu itu adalah kuliah Agama Budha. Setahu saya, kawan-kawan yang mengambil kuliah tersebut bukan ingin mempelajari agama Budha tetapi karena potensi mendapatkan nilai “A”-nya sangat besar. Jadi mereka mengambil kuliah tersebut karena nilainya, bukan karena isinya. Saya menduga kuliah-kuliah yang lainpun sebagian besar dipilih karena ini. Termasuk kuliah sang penanya tersebut.

Saya banyak memberikan presentasi, kuliah, dan mentoring yang terkait dengan entrepreneurship. Memang terlihat sebagian besar hanya ingin mengetahui kuliahnya. Siapa tahu di kemudian hari mereka ingin menjadi entrepreneur. Yang langsung memang serius ingin menjadi entrepreneur saat itu juga nampaknya minoritas. Perkiraan saya kurang dari 10%. Ini hanya perkiraan saya saja ya karena saya belum mengumpulkan data sungguhan.

Ada yang mengatakan untuk menjadi entrepreneur tidak perlu harus kuliah-kuliahan. Langsung saja jadi entrepreneur. “Kuliah” diperoleh dari pengalaman. On the street. Pendapat ini ada benarnya, tetapi kalau kita mengetahui teorinya seharusnya potensi kegagalan dapat dikurangi. Saya sendiri termasuk yang menganut “kerjakan dahulu, baru cari teorinya”. hi hi hi. Perlu ditekankan bahwa saya tertarik mencari teori dari apa yang saya kerjakan sehingga dapat bereaksi dengan lebih baik (terhadap situasi yang dihadapi).

Saya jadi teringat ada orang yang merasa bahwa kuliah computer science / ilmu komputer / informatika itu tidak penting. Langsung saja belajar dari “idiot guide to programming” atau “programming xyz in 21 days”. hi hi hi. Iya sih kalau hanya sekedar membuat program sih bisa saja, tetapi begitu kita menghadapi sistem yang besar maka teori itu penting. Sama seperti membuat rumah. Kalau membuat rumah satu tingkat, ngasal aja juga bisa. Tapi kalau kita mau buat hotel 100 tingkat, yang ini harus punya ilmunya.

Kembali ke topik utama. Jadi bagaimana agar kuliah entrepreneurship dapat menghasilkan lebih banyak entrepreneur ya?


Internet Cepat Untuk Pendidikan

Tadi pagi saya memberikan presentasi tentang pemanfaatan teknologi informasi. Salah satu poin yang saya sampaikan adalah infrastruktur internet di Indonesia masih belum cepat dan belum merata. Pada acara tanya jawab ada yang bertanya, kalau internet cepat untuk pendidikan itu contohnya apa.

Salah satu situs favorit saya adalah TED.com. Situs ini berisi kumpulan video dari orang-orang yang kompeten di bidangnya dari seluruh dunia. Bidang-bidang yang ditampilkan di TED sangat bervariasi. Saya sendiri sering melihat di bagian pendidikan, desain, kepemimpinan (leadership), dan … banyak lagi. Karena situs ini berisi video, maka internet yang digunakan harus cukup cepat meskipun tidak harus super cepat. Saya sering kesulitan untuk mengakses situs ini dari layanan internet yang saya gunakan. Apalagi kalau saya akses dari handphone. hi hi hi. Sering saya akses TED dari kampus. Sayangnya di kampus ada quota jumlah data yang dapat didownload dalam satuan waktu. Kalau ini terlewati, biasanya ada surat cinta dari admin yang mengatakan bahwa saya mendownload terlalu banyak. hi hi hi.

TED.com ini hanya salah satu contoh situs yang terkait dengan pendidikan yang membutuhkan internet cepat. Oh ya, bahkan YouTube pun memiliki banyak video yang terkait dengan pendidikan. Sering saya diberikan (ditunjukkan) URL yang berisi tentang topik-topik tertentu. Misalnya ketika menjelaskan tentang sorting algorithms, ada video yang membandingkan berbagai jenis algoritma untuk mengurutkan data ini. Dengan melihat tampilan secara visual kita dapat memahami konsep yang dijelaskan dengan lebih baik.

Saya juga mulai mengumpulkan video kuliah yang saya buat sendiri. Beberapa tahun yang lalu sempat dibuatkan video kuliah security saya untuk kuliah jarak jauh. Seingat saya videonya adalah 8 DVD. Satu pertemuan menghasilkan 1 DVD. Nah kalau ini didownload dengan menggunakan internet yang lambat mungkin baru selesai harian. Padahal ini baru satu topik saja. Kalau kita mengambil beberapa mata kuliah, dapat dibayangkan kebutuhan internet kita.

Jadi internet yang cepat itu sebuah kebutuhan bagi pendidikan. Sama pentingnya dengan listrik. Mungkin seperti tidak nyambung ya, tetapi tanpa listrik sekarang sulit untuk menjalankan pendidikan. Silahkan coba kuliah tanpa menggunakan listrik :)

Nah, situs-situs pendidikan apa (yang membutuhkan internet cepat) yang biasanya Anda kunjungi?


Berapa Jam di Media Sosial?

Sebetulnya berapa jam waktu yang kita habiskan di media sosial, seperti facebook, twitter, dan sejenisnya? Saya merasa kebanyakan waktu saya terbuang ke sana. Apabila waktu tersebut kita gunakan untuk membaca buku, sudah berapa buku yang kita tamatkan?

Saya tidak mengatakan bahwa waktu yang kita gunakan di media sosial hilang dengan percuma. Eh, mungkin sebaiknya memang dikatakan ya? hi hi hi. Produktifitas kita turun gara-gara media sosial. Apalagi sekarang dengan adanya pemilihan presiden.

Eh, apakah ada aplikasi (mungkin plugin di browser) yang dapat mengukur waktu yang kita habiskan untuk situs-situs tertentu? Mungkin menarik untuk mendapatkan statistiknya ya.


Terinspirasi

Great leaders inspire action

Terus terang saya sedang terkesima melihat kreatifitas yang muncul dengan fenomena Jokowi. Banyak pendukung Jokowi yang membuat komik, lagu (original song), musik, video, games, dan banyak lagi. Keren-keren. Hebatnya adalah bukan satu atau dua orang, tetapi banyak orang.

Saya mencoba mengingat-ingat kapan terakhir ada tokoh yang begitu menginspirasi banyak orang secara positif? Saya juga ikut terinspirasi untuk berbuat baik. Tetap positif. Keren.


Fokus!

Salah satu topik diskusi pada mentoring kelas entrepreneurship beberapa hari yang lalu adalah soal fokus. Ketika menjalankan sebuah layanan atau mengembangkan sebuah produk, seringkali kita menemukan ide baru. Sayangnya ide baru itu kadang berbeda dengan layanan / produk yang sedang kita kembangkan. Contohnya, ketika kita sedang mengembangkan sebuah aplikasi, tiba-tiba ada tawaran untuk membuah desain web site. (Atau malah ekstrimnya, tawaran untuk usaha kuliner. Jauh amat bedanya.) Ide baru tersebut seringkali diiming-imingi dengan imbalan finansial yang lebih menarik. Jawaban terhadap ini adalah FOKUS!

Jika kita kehilangan fokus, maka layanan / produk yang sudah ada menjadi tertunda atau bahkan malah terbengkalai. Padahal boleh jadi layanan yang sudah ada ini yang ditunggu-tunggu oleh pengguna. Maka kita akan kehilangan pengguna dan kehilangan potensi bisnis.

Fokus, fokus, dan fokus.

Analoginya adalah seperti kita berada di Bandung dan ingin pergi ke Surabaya. Dalam usaha untuk menuju ke sana, tiba-tiba ada tawaran ke Thailand. Itu arahnya sudah berbeda sekali. Jika kita tidak fokus, maka Surabaya tidak akan pernah dapat kita capai.

Dalam sebuah layanan / produkpun kita masih punya masalah dengan fokus. Seringkali muncul ide baru dalam bentuk fitur. Fitur-fitur ini seringkali tidak esensial dan pasti akan membuat pengembangan menjadi terlambat. Kalau dalam pengembangan produk software, ini masalah dalam requirement yang terus bergerak. Hampir dapat diduga bahwa software tidak akan pernah jadi jika requirement terus berubah. Maka, katakan tidak untuk fitur. Itu dapat dijadikan untuk pertimbangan dalam versi berikutnya. Untuk saat ini, fokus kepada spesifikasi awal.


Ramadhan Sewaktu Kecil

Di depan rumah ada beberapa anak-anak sedang ngabuburit, istilah bahasa Sunda untuk menunggu berbuka puasa. Mereka ngobrol dan becanda. Sayangnya ngabuburit-nya di pinggir jalan sehingga agak khawatir keamanannya. Maklum di tempat kami sudah mulai susah ruang publik. Mereka akan berbuka puasa di masjid dekat rumah kami.

Saya mencoba mengingat-ingat Ramadhan sewaktu kecil dulu. Dulu waktu Ramadhan, saya ke masjid karena ada tugas mencatat khutbah Jum’at dan kuliah subuh. Seingat saya, kuliah subuh hari Sabtu dan Minggu di masjid Salman itu ramai dengan anak-anak seperti saya. Setelah mencatat, maka kami meminta tanda tangan penceramahnya. Atau kalau di Salman dulu dibagikan stiker yang bisa kami tempel di buku catatan sebagai tanda kehadiran. Nanti ketika masuk sekolah lagi, buku catatan tersebut dikumpulkan.

Bulan puasa juga banyak liburnya. Maka waktu itu banyak waktu saya habiskan untuk ke perpustakaan dekat rumah. Ada sebuah perpustakaan di depan Pasar Simpang (jalan Cisitu Baru?) yang dikelola oleh seorang nenek-nenek. Saya berlanganan di sana. Berbagai buku saya baca mulai dari komik (Yan Mintaraga, Teguh, dll.), Karl May, dan tentu saja Kho Ping Hoo. Tamat itu semua.  Harusnya yang dibaca Al Qur’an ya? Maklum, masih jaman jahiliyah. hi hi hi.

Bagaimana Ramadhanmu sewaktu kecil?


Susahnya Membaca Jurnal

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa pasca sarjana adalah membaca makalah dari jurnal. Terlebih ini terjadi pada level S3. Ada banyak masalah di sini.

Pertama, seringkali makalah itu tidak dapat dimengerti dalam satu kali baca. Penulis makalah seringkali dibatasi oleh jumlah halaman dari jurnal sehingga harus menjelaskan bagian-bagian yang penting saja. Ada banyak bagian rinci (detail) yang terpaksa dilewatkan. (Kelebihan halaman harus dibayar oleh penulis dan itu tidak murah!) Maka sang pembaca kadang kebingungan ketika membaca makalah itu. Ada bagian yang hilang. Dibutuhkan waktu untuk mengerti itu. Makalah harus dibaca berulang kali. (Padahal waktu terbatas.)

Kadang memang ada peneliti yang meskipun sangat cerdas tetapi tidak mahir menulis sehingga tulisannya membingungkan. Atau, memang kadang (meski jarang) ada yang menutup-nutupi penelitiannya (misalnya karena ada bagian yang sedang / akan dia patenkan).

Kedua, dalam membaca makalah tersebut, sang mahasiswa membacanya sendirian. Dalam topik penelitian S3, seringkali dia adalah satu-satunya yang meneliti tentang itu di lingkungannya. Mau tanya kepada siapa? Mau tanya kepada pembimbing atau promotorpun kadang mereka tidak memahami sedetail yang ingin dibahas. Jadi dia frustasi sendirian. Mahasiswa S3 yang lainnya pun demikian. Jadi ini adalah kumpulan mahasiswa yang frustasi. ha ha ha.

Lebih parahnya lagi banyak orang yang menganggap membaca itu mudah. Mereka tidak dapat mengerti mengapa mahasiswa S3 lama selesai sekolahnya. Kan hanya membaca? Memang seberapa susahnya membaca sih? hi hi hi. Maka pusinglah sang mahasiswa S3 menjelaskan ini kepada keluarganya, koleganya, tetangganya, bahwa membaca (makalah jurnal) itu tidak mudah. he he he. Semakin frustasi dia … Hadoh.


Memilih

rexgreymon tegas pilih2

ketika harus memilih …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.697 pengikut lainnya.