Author Archives: Budi Rahardjo

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku

(oleh) Orang Indonesia Saja

Ada desas desus bahwa perusahaan BUMN boleh dipimpin oleh orang asing. Apa ya alasan utamanya?

Apa maksudnya kalau ada orang asing yang hebat dan mau digaji murah, boleh jadi pimpinan BUMN? (Harus ada klausul “mau digaji murah” dong. hi hi hi.) Mengapa tidak boleh? Kan jadi manfaat bagi BUMN-nya sendiri. Ada barang bagus, murah. Nah.

Atau, maksudnya memang tidak ada orang Indonesia yang kompeten? Lah kan ada banyak CEO-CEO yang jagoan di Indonesia ini. Saya pernah lihat halaman muka sebuah majalah bisnis yang bertajuk CEO handal Indonesia. Ambil saja salah satu dari mereka. Atau, dikompetisikan. Lomba CEO, begitu?

Atau, mungkin kalau dipimpin orang Indonesia terlalu banyak campur tangan dari kanan-kiri (umumnya keluarga) dan akhirnya jadi canggung (pekewuh)? Jadinya KKN gitu? Kalau dipimpin orang asing kan dia bisa cuek aja. he he he.

Sekarang kita serius dulu.
Kalau menurut saya sih sebaiknya BUMN Indonesia dipimpin oleh orang Indonesia saja. Ya kalau memang orang-orang Indonesia masih bodoh, ya tidak apa-apa. Kita ambil yang paling tidak bodohlah. Jadi tempat latihan. hi hi hi.
</serius off – cengengesan kembali>

Ya ampun. Ini postingan isinya pertanyaan melulu (dan ha ha ha hi hi hi). Namanya juga nebak-nebak. Itulah. Kalau mau tahu alasan sesungguhnya, tanya saja deh ke sumbernya. Tulisan ini hanya untuk cengengesan. Sekali-sekalilah ada cengengesan di blog ini.


Peran Bahasa Indonesia

Barusan membaca secara singkat tentang penelitian terkait dengan bahasa, yaitu bahasa mana yang dominan di dunia internet ini. Tentu saja yang paling dominan adalah bahasa Inggris. Pertanyaannya adalah setelah bahasa Inggris, bahasa apa? Kalau kita ingin belajar bahasa kedua, sebaiknya bahasa apa? [Silahkan baca di sini.]

Yang sedihnya adalah ternyata Bahasa Indonesia tidak termasuk bahasa yang dianggap penting. Setidaknya untuk dunia tulis menulis. Padahal jumlah orang Indonesia yang menggunakan internet sangat besar. Dugaan saya, jumlahnya sudah lebih dari 100 juta orang. Namun memang saya dapat mengerti peran 100 juta orang ini sangat sedikit dalam hal menyebarkan ide melalui tulisan. Orang Indonesia memang jarang membuat tulisan. Eh, ada … status di facebook dan twitter. hi hi hi.

Tulisan orang Indonesia kebanyakan ada di media tertutup dalam grup-grup seperti di WhatsApp, Telegram, BBM, Line, BeeTalk dan seterusnya. Yang begini memang sering tidak masuk hitungan dalam hal komunikasi ide. Seharusnya lebih banyak yang menulis di blog, tapi …

Ya begitulah …


Internetan di Singapura

Ini cerita tentang Internetan di Singapura lagi. Apa cara yang paling mudah dan murah untukĀ  internetan di Singapura?

Cara saya adalah dengan membeli kartu Starhub kemudian mengaktifkan paket internetan seminggu, 1 GB, Sing $7. Sebetulnya ada paket lain yang kurang dari seminggu tetapi menurut saya lebih murah pakai yang ini. Yang lain itu jumlah datanya kurang. hi hi hi.

Mungkin pola memakai internet saya (dan anak saya) yang cukup boros sehingga ternyata paket 1 GB itu habis kurang dalam 3 hari. he he he. Nah, bodohnya saya adalah saya tidak memeriksa sisa kuotanya sehingga begitu habis kuota maka dia akan menggerogoti pulsa. Habislah pulsa saya. Sing$ 10 habis. Uhuk. (Sama seperti operator di Indonesia. Uhuk.) Coba kalau diperpanjang, kan hanya butuh Sing$ 7. Masih sisa. Akhirnya saya beli lagi top up (voucher) card. Harganya Sing$ 18. Ampun. Kelalaian yang menghabiskan duit.

Sekarang saya mau internetan dulu ya. Ini juga diketik masih dalam perjalanan.


Buku Dan Perjalanan

Ternyata salah satu cara yang efektif untuk membaca buku adalah dalam perjalanan. Ada banyak buku yang belum berhasil saya baca. Seringkali buku bagus di depannya, kemudian mulai membosankan. Akibatnya buku tersebut berhenti dibaca. Yang seperti ini ada banyak di koleksi saya. Bingung saya, bagaimana menyelesaikannya. Eh, apa memang perlu diselesaikan? Kadang memang harus diselesaikan. Hanya saja saya harus mencari motivasi untuk menyelesaikannya.

Perjalanan sering memiliki jeda. Menunggu pesawat, kereta api, dan transportasi umum lainnya memberikan kesempatan kepada kita untuk membaca. Tentu saja, jeda waktu ini dapat disisi dengan … tidur. ha ha ha. Di dalam kendaraan juga memungkinkan kita untuk membaca. Itulah sebabnya saya lebih suka naik kereta api dibandingkan dengan naik mobil. Di kereta api saya dapat membaca buku.

Tulisan ini juga ditulis pada saat jeda di perjalanan. Ini ditulis di hotel. Mau baca buku lagi ah.


Mengajari Untuk Menjadi Dinosaurus

Minggu lalu saya mengajari orang-orang di tempat saya tentang pemrograman bahasa BASIC. Iya, bahasa BASIC. Ini bahasa pemrograman yang saya pelajari jaman tahun 1980-an dulu. hi hi hi. Sekarang bahasa BASIC ini sudah tidak ada yang mengajarkan. Apa lagi ada banyak orang yang berpendapat bahwa “GOTO” itu sangat berbahaya. (GOTO is considered harmful.) Padahal bahasa BASIC itu memiliki GOTO dan sangat lazim digunakan. hi hi hi.

Minggu ini saya berencana mengajari penggunakan editor “vi“. Ini juga editor teks yang cukup kuno. Saya masih menggunakan editor ini di berbagai platform; Linux, Windows, Mac OS. Kemana-mana saya masih menggunakan vi. Enaknya adalah di setiap platform pasti ada vi. Vi juga adalah editor yang sangat powerful. Regular expression di dalam vi sangat bermanfaat ketika saya melakukan pemrograman. (Saya lagi mencari vi reference card yang bagus.) Apakah mengajari cara pemrograman dengan teknik-teknik lama ini bermanfaat?

IMG_6825 dinosaurus 1000Apakah mengajari menjadi dinosaurus itu jelek? Dinosaurus masih menarik lho. Ini buktinya. Dinosaurus sisa dari Pasar Seni ITB 2014 kemarin masih tetap menjadi tontonan yang menarik di kampus ITB lho. Banyak orang yang potret-potretan dan selfie di depan Dinosaurus ini.

Mari menjadi Dinosaurus …


4 Pertemuan Dalam 1 Hari

Judulnya seperti judul dari sebuah film ya? Tapi, ini memang yang terjadi hari ini. Hari ini saya mengikuti empat pertemuan (meeting). Meskipun semuanya berhubungan dengan teknologi informasi, tetapi topik-topiknya berbeda. Kepala ini cukup cenut-cenut juga mengikuti topik-topik tersebut.

Di tengah-tengah pertemuan tersebut saya sempat juga melakukan coding. hi hi hi. Ada sesuatu yang ingin saya coba, yaitu tentang Multi User Dungeon and Dragon (MUD). Yang ini ceritanya menyusul. Sekarang ceritanya masih tentang lelahnya saya mengikuti pertemuan tersebut.

Sekarang saya punya kesempatan untuk tarik nafas dulu. Phew. . . .


Perlukah Diatur Sampai Rinci?

Gegap gempita dunia media sosial membahas peraturan-peraturan pemerintah yang baru; tentang PNS, dilarang membuat acara di hotel, usulan sajian makanan untuk rapat (yang katanya disarankan singkong – memangnya salah gitu?), dan sampai ke jumlah undangan jika membuat acara kondangan. Tentu saja ada yang pro dan kontra dalam setiap aturan yang dibuat. Dalam diri saya sendiripun ada pro dan kontra. Hi hi hi.

Di satu sisi, saya mempertanyakan mengapa yang begini mesti diatur sih? Apakah manusia Indonesia memang harus diatur sampai se-rinci begitu? Okelah kalau urusannya terkait dengan perkantoran. Kalau urusan pribadi, kondangan misalnya, mengapa mesti diatur? Nah itu dia. Saya juga ikut bertanya-tanya.

Di sisi lain. Sekembalinya dari luar negeri, saya mengalami culture shock juga. Terbiasa dengan keteraturan di luar negeri, balik ke Indonesia rasanya banyak yang chaos. Lama kelamaan saya dapat mengerti bahwa ini adalah budaya Indonesia. Mengerti belum tentu setuju lho. Perbedaan budaya itu sulit untuk dikatakan baik dan buruknya. Satu kata yang dapat kita sepakati, yaitu “beda“. Jambu dengan ayam tentu saja berbeda. he he he.

Saya melihat Indonesia yang sekarang berbeda dengan Indonesia yang dahulu. Entah karena kehidupan yang keras, maka manusia Indonesia yang sekarang lebih kurang ber-empati dan lebih mementingkan dirinya sendiri. Sebagai contoh, di musim kering banyak daerah yang susah air. Ada saja orang yang nyuci mobil dengan selang air yang berlebihan. Ketika ditegur, dia tidak terima. Lah ini air-air saya sendiri dan saya juga bayar. Dia kehilangan empati. Dia tidak dapat melihat tetangganya yang kesulitan air. Hal serupa juga terjadi di tempat umum, seperti misalnya toilet umum. Air dibiarkan mengalir. Mentang-mentang dia bukan yang membayar, maka dia tidak peduli. Contoh lagi, makan yang tidak dihabiskan. Ngambil makanan banyak, tapi tidak dihabiskan. Seharusnya mengambil secukupnya saja. Banyak orang yang kesulitan makanan. Buang sampah suka-suka dia. Dan seterunya. Maka untuk hal-hal seperti ini, perlulah aturan. Terlihat aneh, tapi begitulah.

Aturan-aturan yang baru muncul ini terlihat seperti itu. Terlalu mengatur. Untuk kondisi saat ini, nampaknya memang perlu aturan-aturan seperti itu. Nanti kalau kita sudah lebih “sadar”, lebih berempati, maka aturan-aturan tersebut tidak diperlukan lagi.


Kegiatan Insan Music Store

Tadi pagi (Minggu, 7 Desember 2014), Insan Music Store hadir di Bandung Car Free Day. Kali ini suasananya agak mendung. Eh, ternyata malah ada *banyak* stand yang menampilkan senam sehingga sound systemnya saling bersahut-sahutan. Berisik. Namun kami juga akhirnya membuka stand juga.

IMG_6963 insan music store

Hari ini kami juga menandatangani kontrak dengan O2 (Observed Observer) di sana. Semoga kami bisa sukses bersama!

IMG_6969

Saya juga sempat berbincang-bicang dengan kang Yosef (lupa nama belakangnya atau institusinya). Kami ngobrol soal musik, kota Bandung, pendidikan, dan seterusnya. Kebetulan jenis musik yang kami sukai agak mirip-mirip. Dia juga banyak main musik, menjadi music director, producer, dan mengajar kesenian kepada banyak anak-anak. Karena kami juga berlatar belakang Bandung, jadi banyak hal juga yang nyambung. Mudah-mudahan ada kerjasama yang dapat kami lakukan.

Setiap minggu kami mendapatkan artis/band-band baru. Bagus bagus! Sabar ya. Satu persatu akan kami proses. Jreng!


Social Engineering

Tadi pagi saya memberikan presentasi tentang “social engineering” (rekayasa sosial). Apa itu seocial engineering?

Upaya-upaya atau kegiatanĀ  membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks keamanan informasi, social engineering ditujukan agar target membocorkan informasi rahasia (seperti misalnya password, PIN).

Target dari social engineering memang manusia. Ada tiga faktor dalam keamanan informasi; manusia, proses, dan teknologi. Aspek manusia seringkali merupakan aspek yang paling lemah dalam mata rantai pengamanan informasi,

Teknik-teknik yang digunakan dalam social engineering berbeda dengan teknik penyadapan data, misalnya. Untuk mengetahui password seseorang, kita dapat mengirimkan email yang mengatakan bahwa sistem email target sedang bermasalah sehingga target harus mengganti passwordnya. Ternyata banyak orang yang percaya terhadap email ini dan mengubah passwordnya sesuai dengan instruksi. Padahal instruksinya itu justru membocorkan passwordnya. Misalnya, target diminta untuk mengunjungi situs tertentu untuk mengubah passwodnya. Situs tertentu ini merupakan milik penyerang.

Cara lain yang juga dapat dilakukan adalah membuat berita-berita dengan topik yang sedang populer (trending topic). Target secara tidak sadar mengklik link tertentu yang mengantarkan mereka ke halaman yang berisi malware (malicious software). Tanpa mereka sadari, mereka memasang software trojan horse sehingga komputer mereka dapat dikendalikan dari jarak jauh,

Pencurian identitas (identity theft) juga merupakan salah satu teknik social engineering. Kalau di Indonesia, pencurian identitas ini banyak terjadi di Facebook. Apa yang dapat dilakukan setelah mendapatkan identitas seseorang? Yang lazim dilakukan penyerang adalah … meminta uang (berpura-pura ada yang sakit) atau meminta pulsa. hi hi hi.

Ada beberapa hal yang membuat manusia mudah diserang;

  • suka dipuji-puji – penyerang memulai dengan memuji-muji sehingga mendapat kepercayaan dari target;
  • sopan / sungkan / tidak tega / tidak ingin menyakiti orang – dimanfaatkan oleh penyerang yang tidak tahu malu dan mengeksploitasi “kelemahan” ini;
  • takut kepada atasan (authority) – penyarang berpura-pura jadi atasan (atau pihak yang berwenang) dan memberi instruksi tertentu.

Haus Tulisan Positif

Jika tulisan-tulisan positif yang ada di status facebook atau twitter dituliskan (disimpan) dalam blog, mungkin akan menjadi menarik. Akan ada lebih banyak lagi tulisan-tulisan yang positif.

Ngeblog juga tidak harus panjang-panjang. Satu atau dua kalimat saja juga sudah cukup. Bahkan kalau saya lihat di medium.com, model tulisannya malah yang pendek-pendek. Jadi tidak ada alasan bagi Anda untuk tidak menulis.

Satu hal yang menarik. Kalau di blog, kebanyakan tulisannya itu positif-positif, tetapi kalau di status facebook kenapa banyak yang negatif ya? hi hi hi.

Kalau judul tulisannya adalah “haus”, maka fotonya judulnya adalah “lapar”. Gak nyambung. Biar!

IMG_6943 snickers


Menjuri Di APICTA 2014

Beberapa hari ini saya menghilang dari blog karena super sibuk menjadi juri di APICTA 2014 yang diselenggarakan di Jakarta. Menjuri. he he he. Dari hari Kamis sampai Minggu, kami dikurung di hotel Harris Suite di FX.

IMG_6874 judgeSebetulnya ceritanya ada banyak, tetapi saya belum sempat menuliskannya dan sudah keburu banyak tugas lain yang harus diselesaikan. Ini juga baru sampai di kampus ITB, langsung dari stasiun kereta api.

Pada APICTA kali ini saya melihat kemajuan yang pesat dari peserta lain, misalnya dari Pakistan. Bagus-bagus. Sementara itu, yang dari Indonesia tertinggal cukup lumayan. Yang paling tertinggal adalah teknik presentasi dan bahasa Inggris dari peserta-peserta Indonesia. Peserta negara lain dengan percaya diri memberikan presentasinya. Para juri menjadi paham apa yang mereka sampaikan dan tentunya memberi nilai dengan baik. (Meskipun ada juga yang nilainya sangat buruk walaupun presentasinya baik. Kalau produknya buruk, ya tetap saja hasilnya buruk.)

Kembali ke soal teknik presentasi, nampaknya ini harus diajarkan kepada mahasiswa ya? Saya sebetulnya tanya ke coach (pelatih) dari tim Indonesia. Kata mereka, sebetulnya peserta Indonesia sudah di-coach, tetapi banyak yang tidak mau nurut kepada para coach itu rupanya. hi hi hi.

Lain kali lebih baik.

Oh btw, banyak peserta dan judge yang bilang saya judge yang menyenangkan karena selalu tersenyum dan murah nilai. hi hi hi

One more thing. Yang menarik dari acara APICTA adalah di acara pemberian award-nya, BandIT tampil. Jreng!


Super Macet

Baru kali ini saya melihat kemacetan Jakarta dari gedung tingkat tinggi. Ini jam 5 sore, haru Jum’at. Menyambut Friday night.

IMG_6879 macet 1000Sampai pukul 18:00 ternyata kemacetan bukannya menjadi berkurang tetapi malah menjadi semakin parah. Kami harus pergi dari FX Plasa ke tempat latihan band di ruko Permata Senayan, yang seharusnya tidak jauh dari situ.

Macetnya luar biasa sehingga taksi tidak ada. Jangankan taksi, ojek pun tidak ada. Hadoh. Akhirnya kami putuskan untuk jalan kaki. Mungkin ada 2 km kami berjalan kaki. Kalau tadi menunggu ojek atau bahkan taksi, boleh jadi kami masih harus menunggu dua jam lagi.

Tadi ketemu tamu yang berasal dari Brunei. Dia bilang, dia tidak mengerti ini. Memang di Brunei tidak ada kemacetan sih.

Setelah latihan band, kami kembali lagi ke FX plasa. Eh, jalan masih ramai juga. Ini sudah mendekati tengah malam. Di beberapa titik masih ada keramaian. Padat, tapi jalan. Sampai di FX, masih ramai juga. Oh ya, saya baru ingin ini Jum’at malam. Busyet. Inilah Jakarta.


Menjadi Juri APICTA Lagi

Dalam dua (atau tiga) hari ke depan saya bakalan disibukkan dengan tugas untuk menjadi juri di APICTA, Asia Pacific ICT Award. Acara ini merupakan lomba karya ICT di berbagai bidang untuk orang-orang di lingkungan Asia Pacific. Tahun lalu acara ini digelar di Brunei.

Ada beberapa kategori yang dilombakan dan dengan peserta yang bervariasi (ada dari pendidikan, penelitian, sampai ke startup). Lengkapnya saya tidak ingat. hi hi hi. Nanti sambil jalan saya perbaharui tulisan ini dengan daftarnya. Saya sendiri menjadi juri di dua bidang.

Nah, sekarang saya mau membaca manual untuk para juri dahulu. Iya, ada manualnya. hi hi hi.

Doakan agar acaranya lancar ya … jreng! Lho kok jreng?


Budaya Buang Sampah Sembarangan

Di Bandung, ada upaya untuk mengajari memungut sampah. Walikota Bandung, pak Ridwan Kamil, secara berkala di media sosial dan di dunia nyata mengajak masyarakat untuk memungut sampah. Menurut saya ini merupakan hal yang penting karena mengubah budaya tidak dapat terjadi secara instan. Upaya untuk mengubah ini harus dilakukan terus menerus. Salah satunya adalah harus diucapkan, ditampilkan, dan di-brain-wash. Ini butuh kesabaran.

Yang masih perlu juga adalah upaya untuk mengubah budaya buang sampahnya. Kalau membuangnya sudah benar, tidak perlu memungut. Buanglah sampah pada tempatnya. Bukan di selokan ya … he he he. Soalnya saya pernah nanya ke anak-anak (SD) di dekat rumah saya – “dimana buang sampah?” – jawabannya adalah … “di selokan”. Hadoh. Pingsan … Mereka harus diajari bahwa sampah harus dibuang di tempat sampah.


Manggung Di Pasar Seni

Hari ini Tanggal 23 November 2014, BanDos (Band Dosen ITB) manggung lagi di acara Pasar Seni ITB. Manggung kali ini penuh dengan perjuangan. Pertama, kami gagal melakukan checksound kemarin karena hujan! Checksound merupakan hal yang esensial dalam manggung. Ini dibutuhkan untuk mengetahui situasi, sound, setingan, dan seterusnya. Perangkat sound system (amplifier umumnya) dan suasana tempat berbeda sehingga konfigurasi dari amplifier dan efek gitar menjadi berbeda juga.

Masalah utama kali ini adalah panggung kami berada di ruang terbuka, di lapangan rumput Aula Timur ITB. Tanpa atap (tenda). November merupakan musim hujan di Bandung. Sebetulnya mungkin bukan hanya Bandung saja. Di tempat lain, November juga musim hujan. Kan ada lagu “November Rain”.Mari kita nyanyikan bersama.

Seperti sudah diduga, kemarin siang ketika kami ingin melakukan checksound, hujan turun. Tidak terlalu besar, tapi tetap saja hujan. Kami menunggu sampai hujan reda dan mulai setup perangkat. Pada saat yang sama sound system sedang dipasang. Nampaknya kami adalah band pertama yang akan melakukan checksound. Ya ampun.

IMGP0336 jarmadi 1000

[Pak Jarmadi sedang memasang perangkat]

Belum selesai pasang-pasang,eh, gerimis mulai turun lagi. Ugh. Terpaksa kami beberes perangkat. Ditunggu-tunggu, hujan tidak mereda juga. Akhirnya kami putuskan untuk tidak melakukan checksound. (Keesokan harinya kami baru tahu bahwa ada yang mencoba sound di malam harinya.)

IMGP0335 guitars 1000

[my guitar]

Hari H. Minggu pagi, kami sudah berada di tempat. Untung kami masih sempat untuk melakukan checksound secara sederhana, per alat saja. Masalahnya adalah acara sudah mau dimulai pagi itu sehingga kami tidak boleh melakukan checksound secara full. Terpaksa kami hanya sempat memasang alat dan memastikan keluar suaranya saja. Setelah itu kami pinggirkan alat dari panggung karena panggung akan digunakan oleh performance pertama yang mengambil semua panggung. Setelah itu band selanjutnya manggung.

Nah. Giliran kami manggung, kami bersiap-siap memasang alat kembail. Wah sudah mendung lagi. Begitu memperkenalkan para pemain, hujan turus. Hadoh! Kali ini hujannya cukup deras. Maka kami buru-buru menyelamatkan peralatan (keyboard, gitar, efek, colokan listrik) dari hujan. Pengelola sound system juga sibuk memasang plastik di atas amplifier, drums, dan semuanya. Derasnya hujan membuat kami khawatir ada yang korselet (short circuit). Pokoknya tegang saja. Kami sendiri menunggu di tenda belakang panggung yang ukurannya kecil dan padat dengan orang. Waduh. Untung akhirnya ada yang mematikan listrik dari genset sehingga kami mulai tenang.

Hujan berhenti. Kami menunggu sebentar. Setelah itu kami bersihkan air (lap-lap) di perangkat dan sedikit demi sedikit lagi kami naikkan listrik. Eh, baru mau mulai, gerimis lagi. Minggir lagi. Untung kali ini tidak terlalu lama dan tidak terlalu deras. Bahkan tiba-tiba super panas! Matahari mencorong. Saya dapat melihat uap keluar dari karpet di atas panggung. Sayangnya tidak bisa saya potret.

Cepat-cepat kami memasang alat kembali dan langsung jreng! Tanpa ba-bu. Minimal sekali persiapannya. Tapi menurut saya lumayan puas manggungnya. Given the condition, it was great!

Setelah selesai, kami buru-buru membereskan perangkat. Mendung lagi dan kemudian gerimis lagi. Ya ampun. Saya tidak tahu kondisi selanjutnya karena saya buru-buru membawa perangkat saya mengungsi ke lab.

Salah satu akar masalah dari manggung hari ini adalah panggung yang tanpa tenda / atap. Kami berdebat dengan panitia. Panitia tetap tidak mau pasang atap karena mempertahankan aspek artistik dari panggung. Hah!!! Artistik mengorbankan acara? Artistik dengan mengorbankan fungsi? Mungkin karena saya menggunakan kacamata orang teknis maka saya mempertanyakan ini. Seharusnya fungsi dan artistik harus menyatu. Produk dari Apple merupakan salah satu contoh bagaimana fungsi dan artistik yang menyatu. Menurut saya ini merupakan sebuah pelajaran. Lain kali harus diperhatikan situasi (hujan) dan antisipasi terhadap hal itu.

Anyway, lumayan puas manggung hari ini. Capek? Tentu saja. Kaos tadi basah karena sempat kehujanan dan juga keringatan (pas manggung). Phew … Sempat juga tercetus akan larisnya obat batuk dan kerokan. he he he. Semoga kita sehat selalu. Amiiinnn.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.929 pengikut lainnya.