Arsip Kategori: TI

Mengamati Pengaruh Jejaring Sosial

Banyak orang yang merasa bahwa jejaring sosial / media sosial (seperti facebook dan twitter) itu demikian hebatnya. Wow banget. Padahal sesungguhnya kita belum tahu seberapa besar dampaknya. Mari kita amati beberapa hal.

Beberapa kali diskusi dengan pakar jejaring sosial membuat saya lebih memahami bahwa media konvensional – seperti televisi, surat kabar, majalah – sesungguhnya masih yang paling mempengaruhi masyarakat. Orang-orang yang menggeluti bidang teknologi informasi (ICT) merasa bahwa jejaring sosial sudah sedemikian hebatnya sehingga mempengaruhi orang banyak. Ternyata belum terbukti. Kita masih membutuhkan data dan penelitian yang lebih lanjut untuk menyatakan hal ini.

Citizen journalism yang dianggap akan memiliki peran dan dampak yang mendalam belum terbukti. Topik-topik yang dibahas dalam media sosial (facebook, twitter) sesungguhnya masih dimotivasi (driven) dari topik yang diangkat oleh media konvensional. Masih mainstream juga. (Itulah sebabnya blog ini mengambil topik-topik yang tidak mainstream. Berbeda dengan yang ada di media konvensional.) Blog ini belum punya pengaruh yang signifikan. hi hi hi.

Jadi jangan dulu percaya bahwa jejaring sosial itu sangat berpengaruh dalam branding (untuk bisnis dan politik). Kemungkinan besar memang ada pengaruhnya, tetapi tidak sehebat yang diperkirakan oleh orang IT. Jangan terlalu percaya bahwa kalau sesuatu itu heboh di jejaring sosial berarti dia heboh di dunia sesungguhnya. Masih terlalu dini untuk mempercayai itu. Jadi biarlah ada tim sukses ini dan itu di dunia politik cyber. Mereka belum tentu punya pengaruh :)


Oleh-oleh Dari InnovFest 2014

Tulisan ini harus saya kerjakan secepatnya. Mumpung masih hangat dan tidak terdesak dengan kegiatan lain, yang boleh jadi prioritasnya tadinya rendah tetapi tiba-tiba menyundul.

Hari Senin saya berangkat ke Singapura untuk mengikuti InnovFest 2014, yang sub-judulnya kali ini adalah “Asian Innovations Going Global“. Saya belum pernah mengikuti kegiatan ini tahun-tahun sebelumnya sehingga belum tahu apa yang diharapkan. Tiba-tiba langsung diminta untuk menjadi salah satu pembicara. Saya sanggupi karena melihat topiknya, terkait dengan entrepreneurship dan teknologi, sangat menarik buat saya.

innovfest 2014 speaksers

IMG_4367 innovfest BR name tag 1000

Salah satu hal yang menarik adalah organizer susah memasukkan saya kepada kategori apa dan dari afiliasi apa. Biasanya di name tag dituliskan afiliasinya. Di name tag saya, kosong. hi hi hi. Ini nantinya saya jadikan sebagai salah satu poin di presentasi saya. Yeah! This is why Asia is in different category. You just cannot categorize Asia in a Western categorical system. aha.

Hari Senin malam ada acara reception untuk para pembicara dan sponsor dari acara. Acara dilakukan di National Museum. Saya sudah pernah ke sini sebelumnya hanya untuk melihat-lihat musium. Acara reception ini lebih banyak untuk networking, berkenalan dan saling tukar kartu nama. Tidak ada orang yang saya kenal di sana. Besoknya saya baru mengetahui siapa-siapa mereka. Dan ternyata mereka hebat-hebat.

Hari Selasa acara dibuka oleh CEO dari NUS Enterprise, Lily Chan. Kata pengantar (speech) yang diberikan bagus sekali. Bukan sekedar basa basi. Sayangnya tidak saya miliki. Kemudian ada presentasi yang sangat menarik, tentang desain nursing home. Keren juga! Setelah itu ada presentasi dari Ike Lee, seorang innovator (dan sekarang investor juga) dari Korea Selatan yang sukses di Amerika. Lucu banget karena bahasa Inggrisnya yang pas-pasan tapi dia sukses besar di Silicon Valley. Satu point yang dia sampaikan adalah bahwa sekarang yang disebut “global” adalah Asia. Kita berada di tempat yang benar. We are in the right place! Orang-orang Amerika berharap bisa hadir di sini. Sekarang adalah waktunya. Right Now. (Saya lantas keinget lagu Van Halen – Right Now. Jadi kepikiran kalau besok akan saya gunakan lagu ini sebagai soundtrack dari presentasi saya. hi hi hi.) Nah. Wah. Acara baru dimulai dan keren-keren materinya. Setelah itu ada coffee break dan acara dibagi menjadi dua sesi paralel.

Di luar ada pameran poster-poster (riset-riset dari perguruan tinggi; NUS, NTU, Politeknik, dll.) dan booth-booth startup yang dibiayai oleh NUS Enterprise. Oh ya, setiap peserta diberi “uang” yang kita investasikan di salah satu dari booth tersebut. Nantinya booth yang paling banyak mendapatkan investasi akan mendapatkan penghargaan. Orang yang invest juga (diundi) untuk mendapatkan hadiah. Kreatif juga idenya.

IMG_4421 uang innovfest 1000

Setelah coffee break saya masuk ke sesi “Start-Ups & Enterpreneurs: Stories of Local Successes: Homegrown Heroes’ Road to Singapore Exits“. Pada sesi ini dibahas tentang pengalaman tiga buah start-ups di Singapura. Mereka menceritakan awalnya sampai ke akhirnya mereka mendapat dana dengan cara dibeli oleh perusahaan yang lebih besar. Kelihatannya strategi keluar (exit strategy) dari start-up di Singapura adalah dibeli (diakusisi) oleh perusahaan lain. Belum ada cerita sukses perusahaan tersebut di pasar modal (via IPO). Besoknya saya mendapat data tambahan bahwa memang belum ada cerita sukses via IPO. Ini berbeda dengan di Amerika! Nah.

Minggu lalu saya berdiskusi dengan salah seorang investor dari Jepang. Dia berkata bahwa start up di Jepang dapat berjalan karena capital market-nya sudah disiapkan sebelumnya. Mereka harus melakukan perombakan (meniru Amerika?) sehingga memungkinkan untuk melakukan invetasi di perusahaan start up. Ah. Nampaknya dia benar. Indonesia belum siap untuk itu. Nampaknya bahkan Singapura juga belum siap. Itulah sebabnya exit strategy yang masuk akal kali ini hanya dibeli oleh perusahaan besar. Ini membutuhkan diskusi yang lebih panjang. Harus buat thread terpisah untuk ini.

Sesi selanjutnya saya mengikuti “Urbanisation and Future Cities“. Ceritanya lain kali ya. Intinya adalah desain kota masa depan (dengan permasalahan yang dihadapi dunia saat ini). Ada contoh kota yang dikembangkan oleh Singapura dan China. Keren.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pitching dari beberapa start-ups. Pitching pertama, sebetulnya dari segi visi dan ide bagus tetapi cara presentasinya salah. Saya bertanya, “what products are you making? It’s not clear to me“. Dia menjelaskan kemudian bertanya “Is it clear?” dan saya jawab “Not really“. Salah satu kesalahan start up adalah tidak tahu cara pitching. Jadi kesannya adalah wasting our time. Suatu saat saya harus ajari mereka caranya.

Hasil dari hari ini membuat saya berpikir bahwa materi presentasi saya untuk keesokan harinya harus saya ubah. Pivot, kalau istilah anak-anak sekarang. hi hi hi. Maka setelah acara celebration dinner malam itu saya asyik mengubah materi presentasi. Harus lebih jreng!

Oh ya, di acara dinner itu yang paling banyak dibicarakan adalah success story. Di Singapura yang lagi rame adalah bagaimana Zopim – sebuah start-up – baru saja dibeli oleh Zendesk sekitar $30 juta. Foundernya terlihat happy dan ketika diminta untuk memberikan presentasi agak mabok. hi hi hi. Tapi dia bercerita apa adanya tentang perjalanan start up-nya. Saya bisa mengatakan bahwa apa yang mereka lalui mirip dengan apa yang pernah saya lalui juga. hi hi hi. Kapan-kapan saya akan cerita tentang itu.

Besoknya saya memberikan materi presentasi saya tentang “A new dawn of technological innovation: Is the Sun Rising in the East?” Intinya adalah ini: apakah inovasi terjadi di Timur, di Asia (atau Asean lebih tepatnya)? Apakah inovasi hanya terjadi di dunia Barat? Jawaban saya adalah: YA! meskipun pada awalnya saya katakan Tidak. hi hi hi. Kemudian para peserta saya bawa naik roler coaster perjalanan saya mengembangkan start ups di Kanada. Gagal semua. Tetapi saya jelaskan bahwa di sana, kami mengembangkan teknologi. Bukan hanya me too – layanan yang nyontek yang sudah ada. Saya katakan bahwa di dunia Timur, kita pun harus mengembangkan teknologi yang khas untuk memecahkan masalah kita. Ada beberapa hambatan yang harus kita lalui. Pokoknya serulah presentasi saya. hi hi hi. Materi presentasi akan saya upload dan link-nya akan saya pasang di sini.

Setelah selesai presentasi banyak yang ngajak diskusi dengan saya, berbagai topik. Yang paling banyak adalah yang meminta bantuan untuk mendapatkan pengembang (developers, programmers) untuk mengimplementasikan ide-ide mereka. Whoa! Saya harus berpikir keras karena di Bandung ini ternyata kita juga masih kekurangan programmer.

Masih banyak yang ingin saya ceritakan di sini. Sudah kepanjangan. Nanti bosan. Harusnya saya buat ini menjadi beberapa seri. Naaahhh … Semoga bermanfaat.


Memilih Topik Start-up

Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah memilih topik (ide) start-up. Bagaimana memilihnya? Atau apakah start-up saya ini memiliki potensi? Jawaban saya adalah pilih topik yang sangat dekat dengan kita, yang memecahkan masalah kita. Dearest to our heart. Sesuatu yang kita pikirkan siang dan malam. Contohnya tadi ada yang konsultasi tentang produk untuk ngecek lemak susu sapi, maka pertanyaan saya adalah mengapa dia mengambil ide itu. Apakah keluarganya punya banyak sapi? Atau bagaimana? Bahwa sesuatu itu baik belum tentu jadi alasan untuk menjadikannya start-up.

Jika sesuatu itu memang merupakan masalah kita, maka mau dibayar atau tidak, kita tetap akan mencari solusi untuk masalah kita. Kebetulan solusi itu kita jadikan start-up. Begitu.


Apakah Perlu Inkubator Bisnis?

Ini saya baru pulang dari reception untuk para pembicara dan undangan dari luar negeri di acara Innovation Festival Asia yan diselenggarakan oleh NUS (National University Singapore). Acaranya makan malam dan networking, ngobrol cari teman baru. Salah satu pertanyaan yang bolak-balik muncul adalah apakah saya dari sebuah inkubator bisnis (startup)? Saya jawab tidak. Saya kemudian berpikir, apakah sebetulnya inkubator bisnis itu diperlukan?

Inkubator bisnis itu mengambil analogi inkubator untuk bayi. Ada bayi yang begitu lahir harus dimasukkan ke inkubator dahulu karena satu dan lain hal. Inkubator ini memperbesar peluang mereka untuk menghadapi dunia yang baru mereka masuki. Hal yang sama juga terjadi untuk bisnis. Ada bisnis yang harus melalui inkubator. Namun kita lupa bahwa sebetulnya kita berharap bahwa bayi-bayi yang lahir itu tidak harus melalui inkubator. Inkubator itu hanya kasus khusus saja. Bukan yang umum.

Saya mendapati ada kecenderungan startup ingin melalui proses masuk inkubator bisnis. Kalau kita lihat analoginya dengan bayi, kita tentunya tidak ingin bayi kita melalui proses inkubator jika memang tidak harus. Bukankah begitu? Mengapa kalau urusan bisnis kita justru ingin masuk ke inkubator? Aneh saja.


Teknologi Saham

Akhir-akhir ini saya berusaha banyak belajar tentang pemanfaatan teknologi informasi dalam urusan jual beli saham. Ternyata menarik juga. Banyak hal baru yang saya pelajari. Hal yang membuat saya menarik adalah pemanfaatan IT ini ternyata masih boleh dibilang “baru” juga. Mungkin sekitar akhir tahun 90-an (awal 2000-an) penggunaan IT ini baru mulai terlihat signifikan.

Yang juga menarik untuk saya adalah aspek kebaharuan yang muncul, seperti misalnya ada yang namanya algorithmic trading dan high frequency trading (HFT). Komputer digunakan secara ekstensif untuk memutuskan kapan jual dan beli saham. Karena ini dilakukan oleh komputer, dia dapat dilakukan secara otomatis tanpa interferensi manusia dan dalam kecepatan yang sangat tinggi. Hal-hal tersebut tidak dapat terjadi tanpa adanya teknologi informasi. Bagi yang tidak menggunakan teknologi informasi ada kemungkinan akan tertinggal.

Keuntungan yang mungkin tinggi ini dibarengi dengan risiko yang tinggi. High risk, high gain. Nah, bagaimana caranya membuat risiko sekecil mungkin. Itu adalah salah satu hal yang perlu diperhatikan. Maklum, kacamata saya adalah aspek keamanannya (security).


Ketika Spek Komputer Tidak Ditemukan

Penjaga toko komputer: Mau cari apa, pak?

Saya: Notebook, prosesor i5, RAM 4 GB. (Dalam hati saya berpikir bahwa spesifikasi komputer seperti ini semestinya mudah tersedia. Sebetulnya kebutuhannya sih prosesor i7 atau Xeon, memory minimal 8 GB dan desktop.)

Penjaga: Adanya netbook dengan prosesor Atom dan memori 256 MB, pak. Mau?

Saya: Wah nggak cukup itu.

Penjaga: Memangnya untuk apa pak kok sampai tidak cukup?

Saya: Untuk main Dota 2. (Padahal sebetulnya komputer itu akan digunakan untuk memproses data yang banyak, big data, dengan Javascript, Node.js, dan lain-lain yang membutuhkan komputasi cukup besar di komputer. Tapi nanti kalau disebutkan alasan sesungguhnya, sang penjaga mungkin gak ngeh.)

Penjaga: Adanya hanya netbook pak

Saya: Memangnya bisa dipake untuk keperluan saya?

Penjaga (ragi-ragu): Bisa pak, tapi harus penuh dengan kesabaran.

Saya: Wah mendingan main tetris saja kali ya? (Ngeloyor pergi.)

Kalau Anda, apakah Anda akan beli juga itu netbook? Cerita ini dapat juga dianalogikan dengan keberadaan partai politik dan calegnya. Mereka masih netbook dengan prosesor Atom.


Aplikasi Buatan Indonesia

Baru saja saya membaca berita ini, “Facebook dkk. Sedot Rp 19 triliun dari Indonesia“. Dikatakan bahwa Indonesia seharusnya membuat aplikasi seperti facebook dan kawan-kawan itu. Apakah jika sudah memiliki aplikasi buatan sendiri maka pengguna Facebook, Twitter, akan turun? Jawabannya adalah TIDAK.

Saat ini sudah banyak aplikasi serupa. Lihat saja Zohib yang punya aplikasi percobaan mirip – bahkan terlalu mirip – dengan facebook dan twitter. Penggunanya? Tidak banyak. Mengapa demikian? Ada banyak alasan. Contoh lain yang buatan Indonesia juga adalah Mindtalk. Yang ini penggunanya sudah lumayan banyak.

Pertama, sudah terlalu banyak teman dan keluarga kita di Facebook. Tidak mudah pindah dari sebuah layanan ke layanan lain. Namanya juga media sosial. Aspek sosialnya yang kental. Di mana yang lebih banyak kerumunannya maka di situlah orang semakin tertarik untuk bergabung.

Mendapatkan pengguna juga tidak mudah. Biaya marketing untuk mendapatkan pengguna itu tidak mudah. Apalagi kalau diinginkan pengguna yang menetap (sticky), bukan yang hanya sekedar daftar kemudian tidak pernah berkunjung lagi. Inilah sebabnya WhatsApp dibeli mahal, karena jumlah penggunanya banyak.

Kedua, orang Indonesia kelihatannya lebih menyukai buatan luar negeri daripada buatan Indonesia sendiri. Padahal ada banyak produk dan layanan yang buatan Indonesia jauh lebih baik kualitasnya. Mungkin kalau buatan Indonesia kurang keren ya? Ayo cintai buatan Indonesia. Yang ini masih merupakan pekerjaan rumah kita bersama.

Ketiga, penyedia layanan Indonesia sering kurang baik dalam melayani pelanggannya. Lambat, kurang responsif, defensif, dan hal-hal yang negatif lainnya. Padahal semestinya kita dapat memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan kita sendiri.

Jadi bagaimana? Masih mau pakai buatan Indonesia? Atau apakah memang perlu menggunakan buatan Indonesia? Atau mungkin kita tidak peduli? Selama kita bisa bayar, biarin saja. Mau buatan Indonesia atau luar negeri kek. Kan saya yang bayar. Hadoh.


Valuasi Perusahaan IT

Baru-baru ini banyak orang terperangah ketika Facebook membeli WhatsApp dengan nilai yang fantastis. Yang menarik adalah WhatsApp adalah layanan yang belum menghasilkan revenue besar. Penghasilannya dari mana? Bagaimana menilai perusahaan (layanan) seperti WhatsApp ini? Mulailah muncul spekulasi dan teori. Saya akan menawarkan pemahaman saya.

Salah satu upaya perusahaan untuk mendapatkan pelanggan (customer) adalah melakukan marketing. Ada biaya untuk melakukan itu. Ada “cost of acquiring customer“. Berapa besarnya ini? Ini masih menjadi perdebatan. Katakanlah biayanya adalah US$20 (atau ada yang mengatakan boleh jadi US$50), maka nilai sebuah layanan adalah jumlah pelanggan dikalikan dengan biaya tersebut. Jadi katakanlah saya punya sebuah layanan dengan 100 juta pelanggan, maka sebetulnya perusahaan saya memiliki nilai US$ 2 milyar. Ini kalau dilihat dari kacamata mendapatkan pelanggan.

Cara menilai seperti ini tentunya masih belum dapat diterima oleh semua pihak. Jumlah pelanggan tidak selalu berkorelasi dengan sales, revenue. Tentu saja. Dia baru dapat dikatakan sebagai potensi. Namun ini sudah menjadi sebuah value. Bahkan ada yang mengatakan bahwa “user is the new currency”. Nah.

Ada cara pandang lain mengenai valuasi dari perusahaan IT, tetapi itu untuk topik tulisan lain kali ya.


Mencoba Memahami Laporan Akamai

Secara berkala, Akamai mengeluarkan laporan mengenai layanan mereka. Salah satu bagian dari laporan mereka ini menyampaikan berapa besar serangan (attack) yang mereka terima. Akhir-akhir ini, laporan mereka menunjukkan bahwa banyak serangan berasal dari Indonesia. Secara umum, China merupakan peringkat pertama dan Indonesia merupakan peringkat kedua. Ini agak aneh menurut saya.

Mari kita amati laproan kwartal ketiga (Q3) dari 2013. Di sana ditunjukkan tabel ini.

Region % Attack Traffic Unique IP Addresses Avg. Connection Speed (Mbps) Peak Connection Speed (Mbps)
China 35% 115,336,684 2,9 11,3
India 1,9% 18,371,345 1,4 9,0
Indonesia 20% 5,804,419 1,5 9,7
Japan 0,8% 40,008,677 13,3 52,0
Malaysia 0,2% 2,137,032 3,2 24,9
Singapore 0,1% 1,566,346 7,8 50,1

Perhatikan bahwa jumlah serangan dari Indonesia adalah 20% dari total serangan. Ini sangat besar. Hanya China yang lebih besar (35%). Yang aneh adalah jumlah IP address yang menyerang dari Indonesia adalah hampir 6 juta saja. Bandingkan dengan yang lain. Untuk menghasilkan 35%, China membutuhkan 115 juta IP; hampir 20 kali Indonesia. India yang jumlah IP penyerangnya 3 kali kita pun hanya menghasilkan 1,9% serangan. Apa artinya?

  1. Serangan dari Indonesia lebih efektif? ha ha ha
  2. Penyerang itu berasal dari komputer-komputer yang terinfeksi malware dan sangat lambat untuk ditangani (jadi satu komputer menyerang lebih lama dibandingkan di negara lain).
  3. Penyerang dari Indonesia lebih berdedikasi? hi hi hi

Atau ada apa lagi ya? Nampaknya saya harus ketemu Akamai untuk klarifikasi hal ini.


Keamanan Industrial Control System

Dalam acara Cyber Intelligence Asia 2014 kemarin, salah satu topik yang dibahas adalah tentang kemanan (security) dari Industrial Control System (ICS). ICS adalah perangkat kendali (controller) di tempat-tempat seperti pabrik dan pembangkit listrik. Masalah keamanan dari ICS ini mulai muncul ketika ditemukannya malware Stuxnet yang menginfeksikan perangkat kendali dari Siemens. Menurut teori konspirasi, malware tersebut dibuat oleh Amerika untuk menyerang instalasi nuklir Iran. Begitu ceritanya.

Dalam diskusi kemarin dipahami bahwa ada banyak malware yang sebetulnya tidak ditargetkan kepada ICS tetapi menginfeksi ICS juga. Pasalnya, perangkat komputer di pabrik jarang diupdate (diupgrade). Untuk apa juga? Kalau peralatan berjalan dengan baik, mengapa perlu diutak-atik? Jangan-jangan kalau diupdate malah tidak jalan. Rugilah perusahaan. Jadi virus komputer yang sudah kuno pun bisa jadi masih dapat menginfeksikan peralatan di pabrik.

Hal lain yang perlu dipahami juga adalah mental atau cara pandang engineers di pabrik juga berbeda dengan di perusahaan (corporate). Di pabrik, tujuan utama adalah sistem hidup, berjalan, dan menghasilkan produk. Availability lebih utama dibandingkan confidentiality.

Begitulah kira-kira singkatnya tentang masalah keamanan ICS ini.


Screen Privacy Application

Saya sedang berada di sebuah seminar dan ingin membuka komputer tetapi saya khawatir orang-orang yang duduk di belakang saya dapat melihat apa yang ada di layar saya. Padahal saya mau buka email, menjawab email, membuat proposal, atau bahkan hanya facebook-an. he he he. Seriously, saya sebetulnya ingin memperbaiki materi presentasi saya (untuk besok). Kalau saya edit sekarang, nanti orang-orang bisa lihat dan mungkin mengganggu mereka.

Nampaknya dibutuhkan sebuah aplikasi yang membuat layar komputer (notebook) saya hanya dapat dilihat oleh saya sendiri; screen privacy application. Aplikasi pelindung layar komputer ini membuat layar kita menjadi acak atau gelap jika tidak dilihat dengan menggunakan kacamata tertentu, misalnya. Nah.

Saat ini karena belum saya miliki, maka saya membuka layar ini dan orang-orang di belakang saya bisa lihat saya sedang ngeblog. hi hi hi.


Linux: Nemo gagal, Nautilus bisa

Sudah lama tidak nulis tentang hal yang teknis. Kali ini mau nulis tentang Linux ah.

Ceritanya saya mau mem-backup beberapa berkas ke disk eksternal. Karena komputer bergerak saya adalah Macbook dengan Mac OS X, maka disk eksternal saya format dengan menggunakan file system HFSplus. Di Linux (Mint) saya pasang program yang dapat membaca dan menulis untuk file system HFSPLUS itu.

Keanehan muncul ketika saya ingin memindahkan berkas dari Linux ke disk tersebut. Katanya file system hanya dipasang read-only. Saya baca berbagai dokumentasi di internet. Katanya file system HFS yang digunakan jangan diset journaling. Saya memang spesifik tidak mengaktifkan fitur journaling ini ketika melakukan formatting disk di Mac OS X. Mestinya sudah ok.

Penasaran. Saya coba menggunakan terminal untuk menuliskan sesuatu di disk itu; “touch junk“. Eh, bisa. Artinya memang disk itu sudah dipasang baca tulis. Saya kemudian menduga ini masalah dengan file manager yang saya gunakan, Nemo. Akhirnya saya pasang file manager lain, Nautilus. Saya coba copy berkas tersebut. Bisa! Nah. Saya belum menemukan sumber masalahnya, kenapa-nya, tetapi setidaknya saya sudah dapat melakukan backup dengan Nautilus.

Semoga kalau ada yang punya masalah seperti yang saya jelaskan di atas dapat mengatasinya. Hidup Nautilus!

[Catatan tambahan: Saya belum mencoba untuk me-reboot komputer. Siapa tahu ada masalah dengan permission dari si Nemo yang menjadi betul lagi setelah di-reboot.]


Banyak-banyakan Follower?

Saat ini ada semacam fenomena untuk banyak-banyakan follower di twitter. Ini sebetulnya agak mengganggu saya. Memangnya kalau sudah banyak followernya itu kenapa? Apakah seseorang yang lebih banyak followernya itu dia lebih disukai oleh orang lain? Terkenal? Atau apa? Saya masih belum mengerti. Masalahnya, ada juga orang yang bloon tapi banyak followernya. Orang-orang mengikuti dia karena dia bloon (dan followernya juga bloon kali ya? he he he …. maaaappp).

Fenomena ini ditambah dengan permintaan untuk follow back (folback). Memangnya untuk apa saya follback Anda? he he he. Memangnya kita ingin berdiskusi atau bagaimana? Ataukah ada yang menarik dari perkataan Anda? Atau bagaimana? Itulah sebabnya saya hanya bisa tersenyum kecut menanggapi permintaan follow back ini. Maaf, tidak.

Mungkin dunia sudah berubah ya?  Sedih juga teknologi informasi menciptakan kultur yang superfisial ini. Superfisial menang!


Proposal Startup di Tahun 2000

Sedang bersih-bersih ruang kerja. Banyak dokumen-dokumen yang sudah pantas untuk dibuang. Eh, menemukan proposal untuk pembuatan perusahaan (startup) di tahun 2000. Proposal ini mengusulkan sebuah perusahaan yang mengembangkan aplikasi untuk handphone. Ingat, di tahun 2000, belum ada perusahaan yang mengembangkan aplikasi di handphone. Semua aplikasi yang ada di handphone sudah built-in dari pabriknya. Nah.

startup-proposal-2000-page1

startup-proposal-2000-page2

Sayangnya karena saya belum memiliki sumber daya yang memadai pada saat ini, maka startup yang itu tidak sempat saya buat. Kalau sekarang, perusahaan yang membuat aplikasi untuk mobil sudah banyak ya? Kalau sekarang, ide saya sudah lain lagi. hi hi hi.


Keysigning Party

Salah satu yang direncanakan pada kuliah saya tadi pagi adalah melakukan “keysigning party”. Setiap mahasiswa harus membuat pasangan kunci privat dan kunci publik. Kunci publik ini kemudian disimpan (upload) ke tempat tertentu. Kunci ini dapat “ditandatangani” oleh orang lain untuk meningkatkan keabsahannya. Jika saya menandatangani kunci tersebut, saya mengatakan bahwa kunci tersebut memang benar-benar diasosiasikan dengan orang ini. Demikian pula orang lain juga dapat menandatangani kunci publik saya untuk mengatakan bahwa memang kunci publik itu milik saya. Saling percaya ini menimbulkan kepercayaan yang disebut “web of trust”.

IMG_3954 keysign 1000

Foto di atas menunjukkan suasana kelas ketika melakukan keysigning ini. Hanya sayangnya network yang tersedia tidak mendukung untuk melakukan keysigning ini. Kami berada di belakang proxy yang membuat beberapa aplikasi (saya menggunakan GPG suite) sulit untuk melakukan proses keysigning ini. Sebetulnya bisa, tetapi manual dan laborious. he he he. Inginnya sih yang lebih otomatis. Lain kali kita akan mengadakan keysigning lagi ah.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.594 pengikut lainnya.