Tag Archives: food

Wisata Kuliner Medan

Beberapa hari ini saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Medan kembali. Acara sesungguhnya adalah memberikan Security Awareness di Pertamina dan bercerita tentang (IT) entrepreneurship di Kampus USU. Kesempatan ini juga saya manfaatkan untuk melakukan wisata kuliner.

Medan memang terkenal dengan kulinernya. Waktu yang hanya 4 hari 3 malam ini tidak cukup sebenarnya, tetapi lumayanlah.

IMG_9245 kopi sanger
Kopi Sanger. Ini sebetulnya adalah kopi Aceh. Sanger itu katanya berasal dari “sama-sama ngerti”. Itu karena dulunya ada yang sering ke kedai kopi tertentu dan saking seringnya sang penjual sudah tahu (mengerti) apa yang diinginkan pelanggan tersebut.
IMG_9250 sate padang
Sate Padang. Yang ini dekat Waspada. Rasanya mantap sekali. Dagingnya enak dan bumbunya pas. Perut saya kurang kuat menghadapi yang pedas-pedas, yang ini ternyata masih sanggup. Selain daging ada juga lidah, pangkal lidah, dan usus. Waw.
IMG_9246 badak
Minuman Badak (sarsaparila). Kayaknya minuman root beer itu sebetulnya nyontek minuman Badak ini. hi hi hi.

Selainan makanan di atas masih ada makanan lain; misop, kerang (belum sate kerangnya), mie rebus, sate memeng. Wah berat badan langsung naik. Hadoh.


Memotret Makanan

Beberapa hari yang lalu saya makan malam sambil rapat di sebuah restoran. Ketika makanan datang, maka saya mengeluarkan handphone untuk memotret makanan. Maka para peserta rapat pun tertawa.

Memotret makanan nampaknya sekarang sudah biasa dan malah menjadi bahan tertawaan. Padahal saya sebetulnya sudah memotret makanan dari sejak jaman … hmm … kapan ya. Lupa. Pokoknya sudah lama sekali. Di blog ini pun saya sering menampilkan foto makanan dengan judul “Mau”. Banyak orang yang mengira bahwa saya ikut-ikutan. Padahal orang yang ikut-ikutan saya. ha ha ha. Sok tahu. Eh, tapi ini sungguhan lho.

Nah ini contoh fotonya … Mau?

IMG_20150614_180103 ayam 1000

Alasan saya memotret makanan – dan juga langit (skies) – adalah karena mereka yang paling mudah dipotret. Mereka tidak bergerak dan terlihat menarik untuk dipotret. Saya belum berhasil memotret orang. Jadi alasan saya memotret makanan adalah karena mudah saja. Bukan karena gaya-gayaan. Malah jadi kelihatan bahwa kelas saya baru level makanan. he he he.

Nah … karena memotret makanan sudah menjadi mainsteam, padahal saya agak anti-mainstream, apa saya harus berhenti memotret makanan ya? Waduh.


Mau?

Sudah lama tidak posting foto-foto makanan. Saatnya … hi hi hi

IMG_8197 pumpikn soup 1000

Pumpkin Soup

IMG_8199 chicken grill 1000

Chicken Grill

IMG_8301 kopi gayo

Kopi Gayo


Nyobain Bebek Kaleyo

Kemarin saya diundang untuk mencoba makan bebak di rumah makan Bebek Kaleyo yang baru buka di Bandung. Saya sendiri bukan penggemar bebek. Beberapa kali nyoba makan bebek kok rasanya kurang pas. hi hi hi. Maka kali ini pun saya agak was-was. Tapi, dasar hobby makan … dijabanin juga.

Lokasi restoran Bebek Kaleyo yang di Bandung itu di jalan Pasir Kaliki, tepat di perempatan dengan jalan Pasteur. Dekat dengan flyover itu. Tempatnya ternyata bagus juga. Tempat parkirnya luas sekali. Tempatnya juga luas.

IMG_7460 bebek kaleyo parkir

Akhirnya saya pesan bebek keremes dengan nasi uduk. Kelihatannya menarik dan memang rasanya … ENAK! Saya bakalan kembali ke tempat ini lagi.

IMG_7459 bebek kaleyo

Oh ya, selain menu bebek masih ada menu-menu lainnya lagi. Saya nyoba dim sum-nya. Enak juga. Halah. Kayaknya makanan itu memang hanya dua; enak dan enak sekali.


Mau?

Sudah lama tidak pasang foto-foto makanan. Pasang lagi ah.

IMG_5963 ceplok 1000

telor ceplok

IMG_5957 ayam 1000

ayam padang

IMG_5949 sarapan 1000

sarapan di salah satu kopitiam di jakarta


Kopi

Ini jenis minuman yang sudah banyak dibahas di banyak tempat. Ada yang membahasnya secara serius, akademik, scientific. Ada juga yang menjadikannya sebagai subyek cerita fiksi. Potret tentang kopipun sangat banyak. Tulisan ini hanya menambahkan satu torehan saja. Tidak mengapa.

IMG_5478 tous les jours coffee 1000

Saya tidak ingat sejak kapan saya mulai menyukai kopi, dalam artian mengonsumi dengan jumlah yang banyak. Mungkin ketika saya sedang menyelesaikan S2 atau S3. Tidak ingat tepatnya, tetapi mungkin sekitar itu.

Apa yang menyebabkan saya memulai minum kopi juga tidak ingat. Rasanya awalnya adalah agar saya bisa tetap terjaga di pagi hari dan di (tengah) malam hari, mencoba menyelesaikan penelitian. Saya masih ingat pagi-pagi sekali harus mengambil kuliah matematika sehingga saya dan dua kawan bergantian membeli kopi (dan donat) untuk menghidupkan kita di kelas. Di tempat penelitian disediakan kopi gratis – bahkan gourmet coffee – meski harus menyeduh sendiri. Ya, masa-masa itulah saya mula merasa membutuhkan kopi.

Saya bukan maniak kopi, tetapi penikmat kopi biasa saja. Tidak hebat-hebat amat. Namun, alhamdulillah, saya mendapat banyak teman yang penggila kopi. Jadinya saya sering mendapat kopi yang enak-enak (meski enak menurut mereka kadang terlalu pahit bagi saya).

Sayangnya katanya saya tidak boleh banyak-banyak minum kopi. Asam urat. Waaah. Sedikit sih tidak apa-apa ya? Selain itu perut saya sering bermasalah dengan kopi. Jadi kopi yang saya minum tidak bisa sembarangan. Ada beberapa jenis kopi instan yang terlalu tajam untuk lambung saya. Kopi yang mahalpun belum tentu cocok. Nah lho. Ya cocok-cocokan sajalah.

Mari … sruuupuuuttt …


Mau?

IMG_5214 kerang 1000

IMG_5209 MG coffee 1000


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.457 pengikut lainnya.