Telo yang tidak Let

Ok, ok, ok. Sekarang semua orang sedang wabah “Om Telolet Om”. Bukan hanya di Indonesia saja, sampai ke luar negeri. Cadas sekali.

Saking banyaknya, sampai saya sebel. Saya buat saja meme seperti ini.

15541988_10154140729471526_8872625022606398657_n

Sebetulnya dari segi desain, seharusnya saya tulis “om telo …”. Sebelum Robin selesai mengucapkan katanya sudah keburu digampar Batman. Seharusnya begitu, tetapi saya teringat akan kata “telo”.

Jaman saya dahulu, kata “telo” digunakan sebagai kata yang agak sedikit makian tetapi berkesan akrab. Kamu telo. Gitu kira-kira. Jadi kalau saya buat “Om Telo …”, nanti dikira Robin sedang mencoba sok akrab atau memaki Batman. Bakalan digampar dua kali kalau begitu. he he he. Itu cerita soal design decision.

Sekarang jaman sudah berubah. Kalau saya sebut kata “telo”, pasti yang terbayang oleh anak sekarang adalah “telolet”. Maka kalau ada yang berkata “telo”, pasti akan dilanjutkan dengan “let”.

Okay? Gak pakai telolet ya …

Kaleng Tidak Menipu

Biasanya kalau melihat kaleng cookies, orang masih ragu-ragu. Isinya apa? Apakah betul-betul cookies atau sudah berganti menjadi rengginang. Atau bahkan isinya adalah jarum, benang, dan alat-alat untuk menjahit lainnya. hi hi hi.

Tadi saya buka kaleng ini.

P_20160804_171056-01

Alhamdulillah. Isinya masih cookies. (Meskipun hampir habis juga.) hi hi hi …

Kaleng tempat cookies ini memang klasik di Indonesia.

Topik Tulisan di Blog

Bolak-balik saya menuliskan tentang hal ini, (mencari) topik tulisan di blog. Tadi pagi ketika presentasi saya juga bercerita tentang program (skrip perl) yang saya buat untuk menghasilkan topik (topic generator). Sebetulnya program ini memilih secara random data topik yang saya simpan di dalam database. Jadi sesungguhnya topik-topik tersebut sudah saya buat duluan. ha ha ha.

Rencana saya adalah tiap hari melakukan brainstorming sendiri, mencari topik tulisan dan memasukkannya ke dalam database tersebut. Ternyata ini tidak kejadian. Update database tersebut mungkin saya lakukan beberapa bulan sekali dengan memasukkan beberapa topik sekaligus. Jadi sifatnya batch tidak rutin. Ini buruk.

Ada ide juga untuk membuat sistem yang online, mengajak Anda untuk memasukkan topik ke dalam database tersebut. Tidak susah membuat aplikasi online ini, tetapi ini membutuhkan waktu, yang mana saya justru waktu senggang ini yang tidak saya miliki. Nah, bagaimana jika Anda-Anda menyumbangkan topik-topik tersebut melalui komentar di tulisan ini saja? Jika ada 365 komentar usulan topik, maka itu topik-topik ini bisa digunakan untuk menulis blog selama satu tahun. ha ha ha.

Saya mulai dengan beberapa usulan topik untuk tulisan di blog Anda. Ini dia.

  1. Jika Anda menjadi seekor binatang, binatang apakah Anda? Ceritakan tentang mengapa Anda memilih binatang itu. (Ternyata untuk menjawab ini tidak gampang ya? Jangan-jangan gara-gara sulit untuk menjawab pertanyaan ini maka Anda tidak menulis di blog. ha ha ha. Harus buat topik yang lebih gampang.)
  2. Ceritakan salah satu pengalaman lucu atau aneh yang Anda alami ketika Anda masih sekolah SD. (Saya punya banyak cerita. Salah satunya adalah di SD saya dahulu, kami tiap hari upacara. Bukan hanya hari Senin saja, tapi betul-betul *TIAP HARI*. Tapi seingat saya, itu tidak masalah kok. Tidak menjadi sesuatu yang memberatkan. Hasilnya, kami lebih disiplin.)
  3. Ceritakan tentang salah satu kejadian yang memalukan bagi Anda. (Ini pasti banyak, tapi mosok hal-hal yang memalukan diceritakan di blog??? No way! Next topik! hi hi hi)
  4. … [nanti saya tambahkan lagi]

Nah, sekarang giliran Anda untuk menyumbangkan usulan topik-topik. Mari kita lihat apakah tulisan ini bisa meghasilkan komentar-komentar dengan total topik sampai 365 topik.

Ini Pokemon Ku

Sekarang sedang heboh aplikasi permainan Pokemon Go. Banyak sekali orang yang menggunakan aplikasi tersebut meskipun secara resmi belum beredar di Indonesia. Saya sendiri tadinya mau ikutan pasang dan main, tetapi kata anak saya jangan dulu. Nanti kalau banyak yang melanggar, Indonesia bisa diban sama mereka. Jadinya belum main.

Nah, mainan “Pokemon” yang selalu saya mainkan adalah ini … hi hi hi.

IMG_0890

Sebetulnya permainan ini namanya Onet. Pasti banyak yang sudah tahu ya? Mainnya adalah mencocokkan gambar yang sama bersebelahan. Kebetulan saja gambarnya adalah Pokemon. (Sebetulnya ada gambar yang lain, tetapi saya memilih yang Pokemon. Saya sudah bertahun-tahun memainkan permainan ini di iPad saya. hi hi hi.

Gak mau kalah, saya juga main “Pokemon” kok. Tapi bukan yang “Go”. hi hi hi.

Balada Dosen

Hari ini, Rabu, saya bisa leha-leha di rumah. Biasanya jam 7 saya sudah harus di kelas. Gara-gara gerhana matahari – bukan, ding, ini hari libur Nyepi – maka hari ini kampus diliburkan. Saya bisa leha-leha di rumah. (Sebetulnya nanti harus kerja juga.)

Kalau tidak ada kuliah, mahasiswa bersorak sorai.

Jangan bilang siapa-siapa ya. Ini rahasia kita-kita saja. Dosen juga sebetulnya senang kalau tidak mengajar. he he he.

HOREEE …

Besok?

Programmer kalau sedang membuat program (koding) sering lupa waktu. Untungnya ada badan yang sering mengingatkan bahwa sudah lelah. Waktunya untuk istirahat. Tapi ada juga programmer yang nekad tetap bekerja dengan menggunakan minuman supplemen.

Semalam saya mau melanjutkan koding, tapi saya lihat sudah jam 1 malam. Lanjutkan besok saja. Eh, bukannya ini sudah besok? Bingung.

Kalau jam 1 malam itu apa tepat disebut “jam 1 malam” atau “jam 1 pagi” ya? Kalau melihat gelapnya, bisa disebut malam. Tapi, kan sudah lewat dari jam 12 – tengah malam. Jadi mestinya bisa disebut juga pagi. hi hi hi.

Kalau bahasa Inggris, ini tidak membingungkan karena ada “AM” dan “PM”. Dalam kasus saya, itu jam “1 AM”. Kalau yang siang, namanya jam “1 PM”. Tidak ada jam “1 morning”. he he he.

Nah soal “besok” itu juga bisa kita persoalkan. Ukuran besok kan hari. Nah kalah jam “1:00 AM” kan sudah beda hari (dari waktu mulai, sebelum jam 00:AM). Jadi semestinya bukan “besok”. Mestinya, dilanjutkan nanti. Gitu saja ya. he he he.