Verifikasi NIK dan KK

Mumpung sedang ramai-ramainya dibahas tentang pendaftaran ulang nomor kartu telepon prabayar, mari kita diskusikan aspek teknis. Kesempatan untuk belajar “protokol”.

Ceritanya kita sebagai pengguna diminta untuk mengirimkan NIK dan KK melalui SMS ke 4444. Saya punya masalah dengan mengirimkan KK. Mengapa harus mengirimkan KK? Permasalahannya adalah operator jadi memiliki KK kita. Untuk apa? Seharusnya kita berikan informasi secukupnya saja. Sesedikit mungkin. Ini masalah privasi. Pertanyaannya adalah bagaimana cara operator dapat memastikan bahwa NIK yang kita kirimkan itu benar (terasosiasi dengan KK)?

Berikut ini adalah video yang saya buat (beberapa menit yang lalu). Sekalian nyoba nge-vlog agar kekinian. hi hi hi.

Selamat menikmati videonya. Semoga bisa menjadi sumber pembelajaran.

Update: Ini ada cuplikan dari berita. Di gerai bisa akses KK; diberikan data NIK, keluar KK-nya. Parah. Ini seharusnya tidak boleh karena data KK kemudian dapat dikumpulkan.

NIK KK

Update lagi: berikut ini adalah tampilan layar papan tulis (whiteboard) ketika saya mengajar network security di kelas.

P_20171108_084040 NIK KK//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

P_20171108_090635 NIK KK//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

P_20171108_092802 NIK KK//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Iklan

Ngoprek IoT

Kata IoT – Internet of Things – sedang ngetop sekarang. Dimana-mana saya melihat kata ini sebagai bagian dari seminar, kompetisi, startup, dan seterusnya. Pokoknya seru saja. Nah, sayapun tidak mau ketinggalan.

Saya mencoba menggunakan Arduino UNO dan board buatan DycodeX untuk kode IoT ini. (Sebetulnya saya punya banyak board lainnya, tapi itu untuk cerita terpisah.) Selain board ini saya juga menggunakan LED board buatan ProcodeCG. Berikut ini adalah beberapa video yang saya buat untuk menunjukkan demo / contoh kode dengan board-board di atas.

Dalam dunia hardware, IoT, salah satu cara memulai atau mencoba adalah membuat demo “blinking LED”. Kalau di dunia software, ini adalah “Hello World” versi hardware. Biasanya sih blinking LED-nya hanya satu LED. Kali ini saya mencoba menggunakan beberapa LED biar lebih seru.

Video di bawah ini menunjukkan demo Knight Rider, yaitu LED yang bergerak dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Nama ini diambil dari film seri Knight Rider (jaman dahulu dan versi barunya). Dalam film tersebut ada mobil cerdas yang bernama KITT. Kalau dia aktif, maka ada LED yang bergerak-gerak seperti ini.

Dalam video di bawah ini, saya membuat Knight Rider LED juga tetapi dengan menggunakan board Arduino UNO.

Video di bawah adalah demo untuk membuat LED seperti meter yang ada di radio (equalizer). Board yang digunakan adalah DycodeX ESpectro.

Oh ya, kode-kode untuk demo di atas dapat dilihat dan diunduh dari koleksi saya di github.com yaitu di: https://github.com/rahard/BRiot-stuff. Selamat ngoprek.

Handphone (bekas) Sebagai IoT?

Akhir-akhir ini topik Internet of Things (IoT) sedang naik daun. Berbagai acara saya lihat membahas topik ini. Apa itu IoT? Sederhananya adalah perangkat keras (hardware) kecil yang memiliki berbagai sensor (plus actuator) dan dapat dihubungkan dengan internet. Dengan IoT yang dipasangkan dengan kulkas, misalnya, kita dapat mengetahui status dari kulkas; hidup atau mati, berapa temperaturnya, dan suatu saat isi kulkasnya apa saja. he he he.

IoT itu bentuknya bermacam-macam, bisa dalam bentuk board Arduino sampai ke Raspberry Pi. Itu yang terkenal. Ada lagi yang mulai naik daun, $9 chip dari getchip. Saya sendiri punya beberapa benda ini. Yang ada di meja saya saat ini adalah Intel Galileo. Sore nanti saya dapat board dari Gizwits (webnya dalam bahasa China).

DSC_4519 0001

Setelah saya pikir-pikir, kenapa IoT tidak menggunakan handphone saja? Saat ini banyak handphone bekas yang sudah tidak terpakai karena dianggap kadaluwarsa. Di meja saya saja ada tiga handphone yang sudah tidak saya pakai lagi karena hanya bisa dipakai telepon dan SMS saja. hi hi hi. (Eh, yang satunya sudah smartphone tapi lambatnya luar biasa. Maklum hp lama.) Mereka menungu untuk dioprek.

DSC_4520 0001
Handphone bekas vs IoT board

Handphone memiliki kemampuan komputasi yang tidak kalah. Prosesornya bagus. Bahkan kalau dibandingkan dengan beberapa IoT devices saat ini, handphone komputasinya lebih bagus. Yang menjadi masalah hanya harga saja kan? Lah ini kan handphonenya sudah bekas.

Masalah utama adalah desain dari handphone ini sangat tertutup. Dia memang tidak didesain untuk dioprek. Jadi tidak ada bagian yang bisa dihubungkan dengan kabel ke sensor, misalnya. Input hanya bisa melalui USB (kalau ada) atau melalui port yang propriatary. Cara mengaksesnya pun rahasia. Jadi prinsipnya dia punya potensi untuk dioprek, hanya saja susah mengopreknya karena tidak terbuka.

Mungkin manufaktur hardware handphone bisa melihat ini sebagai celah untuk jualan produk yang sudah kadaluwarsa? Pabrik yang tadinya buat handphone, sekarang buat IoT. Jadi bisa muter lagi.

Sementara itu para hobbyist bisa mulai ngoprek. Gimana?

Aspek Kejutan Dalam Presentasi

Setiap sebelum memberikan presentasi, selalu saya diminta untuk memberikan materi presentasi. Bagi saya sebetulnya ini tidak masalah karena umumnya materi presentasi ini saya upload ke web saya (budi.rahardjo.id). Jadi saya tidak punya masalah berbagi materi. Yang saya punya masalah adalah membagikan meteri sebelum presentasi.

Membagikan materi sebelum presentasi mengurangi aspek kejutan (surprised) dalam presentasi. Ada hal yang lucu dan penting menjadi garing dan basi jika pendengar sudah melihat (membaca) materi presentasinya.

Jadi solusinya bagaimana? Solusinya adalah saya membuat dua versi presentasi. Versi singkat yang saya berikan ke panitia dan versi yang akan dipresentasikan (yang berisi kejutan-kejutan). he he he.

Semoga terkejut …

Pemanfaatan Virtual Reality Dalam Desain Mobil

Melanjutkan cerita tentang perjalanan saya ke tempat desain mobil Ford di Melbourne yang tertinggal, kali ini saya akan menceritakan tentang pemanfaatan virtual reality dalam desain mobil. Sesungguhnya mungkin ini alasan utama mengundang saya ke sana, karena bidang saya yang terkait dengan teknologi informasi.

Setelah melihat SYNC2, kami pindah ke ruangan demo pemanfaatan VR untuk mendesain mobil. Nama labnya adalah Ford’s Immersive Vehichle Environment (FIVE). Di situ seorang desainer (atau juga pembeli mobil) dapat menggunakan sebuah peralatan yang dipasang di kepala – head mounted display, yang dugaan saya adalah produk Occulus Rift. Setelah dipasang, maka dia akan seperti berada di sebuah ruangan dengan sebuah mobil.

Dalam contoh yang kami coba, kami seakan-akan menginspeksi sebuah mobil yang baru didesain. Kami dapat melihat dashboardnya, melihat ke sekeliling, bahkan kami dapat “turun dari mobil” dan menginspeksi bawah mobilnya. Kami juga mencoba membuka kap mesin dan melihat mesin dari mobil tersebut. Desain warna mobil juga dapat diganti. Jadi kita bisa melihat kalau warna mobilnya biru metalik dengan latar belakang sunset cocok tidak. (Lingkungan sekitar juga dapat diubah-ubah; mau perkotaan, pantai, dan seterusnya.) Keren kan. Sebelum mobil betul-betul dibuat, mereka dapat melakukan perubahan terhadap desain sehingga dapat menghemat biaya.

IMGP0148 FiVE 1000

Foto di atas menunjukkan situasi di labnya. Kami dapat melihat apa yang dilihat oleh sang pengguna melalui layar lebar yang terpasang di dinding. (Aris Harvenda sedang mencoba, sementara Indra dari Dapurpacu.com sedang mengamati.)

Dari sisi komputasi, karena semuanya dilakukan secara 3D dan real-time, pasti tinggi sekali. Saya tidak tahu berapa besar kemampuan komputasi yang mereka miliki. Setahu saya, lab ini juga terhubung dengan lab-lab lainnya. Entah apakah CPU dari berbagai mesin di lab lain juga digunakan secara bersama-sama atau mereka hanya menggunakan CPU yang ada di tempat itu saja.

Menggunakan VR itu butuh penyesuaian. Agak bingung awalnya. (Bahkan di video-video yang saya lihat di internet, penggunaan VR itu bisa bikin pusing penggunanya sampai jatuh.) Sayangnya saya hanya sempat mencoba sebentar karena harus bergantian dengan yang lainnya. Cukup puaslah melihat teknologi yang ada di Ford ini.

Ford SYNC2

Salah satu teknologi yang ditunjukkan pada kunjungan kami ke Ford Design Centre di Melbourne, Australia, beberapa waktu yang lalu adalah SYNC2. SYNC2 adalah teknologi in-car connectivity system, yang pada intinya adalah sistem untuk membantu mengelola berbagai informasi dengan lebih nyaman (dan aman).

Otak dari SYNC2 adalah sebuah perangkat yang biasanya menempati posisi car stereo di mobil kita. Ada layar 8 inci yang dilengkapi dengan touch screen untuk mengendalikan radio, handphone, temperatur, dan penunjuk jalan (peta, arah, dll.). Selain bisa dikomando dengan menggunakan touch screen itu, SYNC2 juga dapat menerima perintah melalui voice. Ketika kita mengemudikan kendaraan, kita bisa memerintahkan SYNC2 untuk menghidupkan radio dan memilih radio yang kita sukai. Atau dia juga dapat digunakan untuk menelepon seseorang, yang dalam hal ini SYNC2 berkomunikasi dengan handphone kita melalui bluetooth.

Tempat pengembangan ini dilakukan di sebuah rangka mobil yang lengkap (tapi tanpa mesin). Jadi kita bisa duduk di kursi pengemudi, nyetir, terus memberi komando ke SYNC2. Keren juga.

IMGP0132 sync2 1000

IMGP0133 sync2 1000

IMGP0134 sync2 1000

Ada yang mengatakan (siapa ya? apa Aris) bahwa orang Indonesia sering kesulitan dimengerti oleh voice recognition system jika mengatakan “zero”, “two”, … (lupa lagi). Mari kita coba. hi hi hi. Ternyata ketika salah satu dari kami mengatakan “two” memang  agak kesulitan dimengerti oleh sistem. hi hi hi.

IMGP0136 sync2 indra 1000

[Indra dari dapurpacu.com mencoba SYNC2]

Semoga bermanfaat.

Proses Mendesain Mobil

Pagi itu, Selasa 19 Agustus 2014, kami sudah berkumpul di lobby hotel Crown Metropol, Melbourne. Sekitar pukul 9:15 kami menaiki bis yang sudah disediakan menuju Ford Asia Pacific Product Development Centre, yang terletak masih di daerah Victoria. Hari ini kami akan dijelaskan proses mendesain mobil.

Acara pertama setelah sampai di sana adalah kami harus menyerahkan semua handphone  kami. Memang biasanya di tempat desain pengunjung dilarang membawa perangkat yang dapat membocorkan rahasia. Kamera juga hanya dapat digunakan di ruangan tertentu. Waaa. Padahal maksudnya ingin foto-foto juga di luar. Apa boleh buat. Handphone saya serahkan dan dimasukkan ke dalam kantong plastik yang diberi nama. Nanti pas break, handphone bisa diambil lagi.

Rombongan berisi jurnalis dari berbagai media otomotif (yang konvensional dan dotcom). Entah kalau saya masuk ke kategori apa ya? hi hi hi. Saya mungkin masuk ke kategori media teknologi? Rombongan terdiri dari wakil beberapa negara; Indonesia, Malaysia, India, Vietnam dan Thailand.

Setelah pembukaan, acara dimulai dengan penjelasan proses desain dari Ford Everest, sebuah kendaraan SUV (sport utility vehicle). Proses dimulai dari survei pasar, yaitu mencari tahu keinginan calon pembeli SUV. Mereka mencari kata-kata yang merepresentasikan SUV tersebut, misalnya “tough“, dan seterusnya.

IMGP0087 design 1000

Setelah dipahami karakter yang diinginkan oleh pasar, maka dibuatlah beberapa sketsa desain mobil yang memiliki karakter seperti yang dimaksudkan. Kalau saya sebut beberapa mungkin kebayangnya hanya sedikit. Beberapa di sini boleh jadi 200 desain yang berbeda. Banyak ya? Dari berbagai desain ini kemudian dipilih beberapa  untuk lebih diseriuskan. Sampai akhirnya pilihan mengerucut kepada sebuah desain.

IMGP0091 pilihan desain 1000

[berbagai pilihan desain]

Desain ini kemudian dibuat prototipenya dengan menggunakan clay (tanah liat? lempung?). Awalnya sih dibuat di atas styrofoam tetapi di atasnya kemudian ditambahkan clay tersebut. Untuk hal-hal yang membutuhkan desain yang rinci, seperti kaca spion, digunakan printer 3D. Seru juga melihat proses desainnya.

IMGP0119 clay 1000

[prototipe dengan clay. lihat ada bagian yang terbuat dari styrofoam di bawahnya]

Selain desain dari fisik atau bentuk mobilnya, pemilihan warna dan juga bahan yang akan digunakan untuk interior mendapat perhatian yang serius. Dijelaskan bagaimana mereka memilih warna dengan masukan dari pendapat berbagai pelanggan di seluruh dunia. Maklum, pasar mereka kan seluruh dunia. Mereka juga harus memprediksi bahwa warna itu masih akan tetap diminati beberapa tahun ke depan.

IMGP0105 warna 1000

[menjelaskan pemilihan warna]

Desain juga dibuat dengan menggunakan CAD tools. Ini digunakan untuk melakukan simulasi. Misalnya, bagaimana agar ketika jendela dibuka tidak ada suara throbbing. Atau juga simulasi untuk mengurangi air drag dan seterusnya. Pokoknya computing power mereka cukup besar juga. Seingat saya setara dengan 26000  CPU dan 95000 GB memori.

IMGP0112 simulasi 1000

[tools untuk melakukan simulasi]

Kesemuanya ini dilakukan dengan menggabungkan tiga tempat desain utama mereka; (1) Dearborn (Michigan, USA), (2) Koln (Jerman), dan (3) Melbourne (Australia). Selain tiga titik utama ini, masih ada beberapa kota lain yang terkait seperti misalnya kalau di Asia Pacific ada Chennai (India) dan Nanjing (China). Wah mana Indonesia ya? Ihik. Kita tidak masuk ke dalam radar mereka. Oh ya, sebagian dari desainernya anak muda yang berumur kurang dari 30 tahun!

IMGP0126 me suv 1000

[berpose dengan hasil desainnya, Ford Everest]

IMGP0129 aris indra 1000

[ Aris Harvenda (Otomotif Kompas) dan Indra Prabowo (Dapurpacu.com) sedang meliput]

Begitulah kira-kira sederhananya proses desain. Tentunya masih ada banyak hal lain yang tidak sempat dibahas. Besoknya kami menguji hasilnya di lapangan.

Wah sudah panjang tulisannya … Nanti akan saya sambung lagi dengan inovasi yang telah dikembangkan oleh Ford. Eh, salah satunya sudah saya ceritakan ya? Itu, yang tentang Cross Traffic Alert. Tulisan berikutnya akan tentang SYNC2 dan FiVE.